Wednesday, September 30, 2015

PERJANJIAN HATI - SANTHY AGATHA - BAB 1


“Tak pernahkah kau mengerti? Hatiku ini sudah ada dalam genggamanmu,Lalu kau buang begitu saja.Begitu saja....”


1

Bahagianya ketika jatuh cinta.
Nessa tersenyum sambil membaringkan tubuhnya di kamar sepulang kuliahnya. Marcell baru saja mengantarnya pulang, tadi  mereka menghabiskan waktu  bersama sepulang kuliah, berburu buku-buku lama, menonton dan menikmati es krim sebagai penutupnya. Oh astaga. Hari ini sangat menyenangkan baginya. Meskipun Marcell tampak agak aneh dan murung tadi, tetapi Marcell bilang dia hanya sedang tak enak  badan  dan  berjanji  bahwa  sepulangnya nanti  dia  akan langsung beristirahat agar kondisinya pulih.
Nessa mencintai Marcell, sangat cinta. Mereka menjadi dekat begitu saja seolah sudah ditakdirkan untuk bersama. Dan Nessa tidak pernah menyangka mereka bisa seserius ini. Dulu dia menyangka Marcell sombong karena berasal dari keluarga kaya, tetapi ternyata tidak. Lelaki itu yang menyapanya duluan, bahkan sangat baik dan ketika pertama kali ke rumah Nessa, tidak ada sikap mencemooh atau pun menghina rumah mungil itu. Status Nessa yang berasal dari keluarga sederhana tampaknya tidak masalah bagi Marcell.
Mereka sudah merajut impian untuk masa depan. Menikah dan punya anak, lalu berbahagia untuk selamanya. Bahkan Marcell sudah menunjukkan keseriusannya dengan mengajaknya ke rumahnya, bertemu dengan ibunya.
Meskipun sikap ibunya tidak bisa dikatakan ramah... Nessa mengernyit, teringat betapa malunya dia ketika Ibu Marcell    menolak    untuk     membalas    jabatan    tangannya.


Setidaknya Marcell bilang bahwa ibunya memang galak kepada siapa saja, bukan hanya kepadanya.
Ponselnya berkedip-kedip. Nessa segera mengangkatnya  begitu  melihat  nama  Marcell  di  layar ponselnya, “Iya Marcell?
Aku baru saja sampai rumah.” Suara Marcell di seberang sana nampak berbeda, membuat Nessa bergumam dengan cemas.
“Kau tampaknya sakit... Syukurlah kau sudah sampai rumah... Istirahatlah ya, supaya besok kondisimu membaik.”
Hening... Seolah Marcell sedang mencari kata-kata.
Nessa…? Marcell bergumam ragu. Ya Marcell?
Bisakah besok kita bertemu di taman yang biasa? Besok aku tidak bisa datang kuliah, tetapi aku akan menunggumu di sana di sore hari. Kau menyusul ke sana ya.”
Taman  tempamereka  biasa  bertemu  itu  terletak dekat dari kampusnya, Nessa hanya perlu berjalan ke sana. Dia tersenyum sambil membayangkan bahwa mungkin Marcell punya rencana romantis untuknya, “Iya Marcell, aku akan datang besok.”
“Oke.” dan telepon pun ditutup di seberang sana. Membuat Nessa mengerutkan keningnya atas penutup yang dingin dari Marcell, biasanya mereka mengakhiri percakapan dengan kata-kata cinta yang lembut. Tetapi kemudian dia menghela napas, Marcell kan sedang sakit, jadi wajar saja kalau sikapnya terasa berbeda...
♥♥♥
Nessa menangis, sungguh-sungguh menangis mendengarkan alunan lagu itu dari pemutar musik miliknya. Hujan turun dengan derasnya di luar, tetapi sederas apapun hujan itu, tak akan bisa mengalahkan derasnya darah yang mengalir dari hatinya yang remuk redam, dihancurkan begitu saja oleh kekasihnya, tanpa ampun.


Ingatannya melayang pada kejadian tadi sore yang berhujan, saat itu hanya ada dia dan Marcell, kekasihnya.
"Kita sudah tidak boleh bertemu lagi."
Nessa  mengernyit  dan  mendongak  menatap  Marcell yang lebih tinggi darinya, "Apa maksudmu?" dia benar-benar terkejut mendengar kata-kata Marcell itu. Tadi dia datang menemui Marcell dengan senyum dan bahagia, mengira bahwa dia akan mendapatkan kejutan romantis dari kekasihnya. Dia memang mendapatkan kejutan. Tetapi ini bukan kejutan romantis.
"Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi Nessa, maaf." "Kenapa Marcell?" Nessa  mulai  gemetaran, menyadari
bahwa semua ini benar-benar nyata.
"Kau tahu kenapa, aku sudah tidak kuat dengan desakan ibuku dan sebagainya, dia  tidak menyukaimu... Kau tahu dia kolot, dia berdarah biru dan dia ingin aku mendapatkan pasangan yang sederajat...Marcel menelan ludah, menatap Nessa dengan menyesal, Maafkan aku Nessa, aku menerima pertunangan dengan Susan. Selamat tinggal.
Hanya seperti itu, tanpa penjelasan apa-apa, tanpa pelukan perpisahan dan Marcell pergi meninggalkan Nessa dengan hati hancur.




Dua Tahun Kemudian.

♥♥♥


Suara bel di taman kanak-kanak yang indah itu berbunyi. Nessa segera mengatur agar semua murid-muridnya duduk dengan rapi dan berdoa. Sangat susah mengatur anak-anak TK yang  begitu  aktif  dan  tak  bisa  duduk diam itu,  tetapi Nessa senang, karena mereka adalah sekumpulan bocah tanpa dosa, yang penuh rasa ingin tahu dan kegembiraan murni dalam memandang dunia.
Selesai berdoa, anak-anak berjalan dengan rapi menyalami Nessa, lalu berhamburan menuju orang tua masing- masing yang sudah menunggu di luar. Nessa merapikan tas-nya ketika ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya.


"Selamat siang ibu guru, jemputan sudah datang."
Nessa tersenyum, menatap laki-laki yang berdiri di pintu ruang kelasnya dengan tatapan jahilnya, "Selamat siang juga, apa yang kau lakukan di sini siang-siang Ervan?" sambil meraih   tasnya,   Nessa   menghampiri  sang   adik   yang   telah tumbuh dewasa menjadi lelaki yang begitu tampan.
"Aku tidak sengaja lewat sini sepulang mengantar teman kampus dan menyadari bahwa aku lewat taman kanak- kanak tempat kakak mengajar, jadi kupikir ada  baiknya aku menjemput kakak daripada kakak harus naik angkot."
"Naik angkot sebenarnya juga tidak apa-apa.” Nessa berjalan menuju parkiran, diiringi oleh Ervan dan menghampiri mobil tua warna hitam, warisan dari almarhum ayah mereka yang sekarang dipakai oleh Ervan ke kampusnya.
Merek masu da Erva menjalankan   mobilnya keluar dari halaman Taman kanak-kanak itu.
"Aku ingin minta bantuan kakak." Ervan mengernyitkan keningnya sambil menatap ke arah jalanan yang ramai.
"Bantuan apa?" "Tentang Delina."
Nessa ingat tentang Delina. Perempuan itu adalah teman kuliah Ervan yang pernah diajak Ervan ke rumah beberapa hari yang lalu. Delina adalah perempuan cantik dan tentu saja anak dari orang kaya, pikir Nessa pahit, berusaha menahan goncangan masa lalu yang tiba-tiba menusuknya. Tentu saja dia anak orang kaya, Delina datang ke rumah mereka dengan mengendarai mobil sport keluaran terbaru yang harganya mungkin saja mencapai sepuluh kali lipat harga jual rumah mungil keluarga Nessa.
"Kenapa dengan Delina?" batin Nessa berteriak, dia sebenarnya tidak ingin Ervan berdekatan dengan Delina. Orang kaya selalu memandang rendah orang miskin. Itu fakta, itu pula yang dilakukan keluarga Marcell kepadanya dulu. Nessa hanya tidak mau Ervan mengalami kekecewaan seperti dirinya sesudahnya. Tetapi semua larangannya tertahan, dia tak tega mengatakan semua itu kepada adiknya yang sekarang sedang berbinar-binar matanya, mabuk kepayang kepada perempuan impiannya.
"Delina  dan  aku,  kami  saling  mencintai dan  berniat menjalin hubungan serius." Ervan mendesah, "Tetapi ada masalah dengan keluarganya.'
Nessa mengernyit. Pasti akan selalu ada masalah, ketika keluarga kaya menemukan anaknya berpacaran dengan keluarga miskin, pasti akan selalu ada masalah.
"Keluarganya mengundang kita dalam sebuah makan malam mewah di rumah mereka, pesta itu diadakan oleh kakak Delina, seorang pengusaha yang kaya  raya... Kakaknya, ingin bertemu  denganku  dan  aku...  Aku  agak  ngeri  karena  desas desus yang berkembang, kakaknya itu sangat kejam dan jahat." Ervan  menatap  Nessa  dengan  tatapan  memohonnya,  yang selalu berhasil digunakannya untuk meluluhkan hati kakaknya, "Kau mau menemaniku ke pesta itu kan ya?"
"Kenapa harus denganku?" Nessa merengut, mencoba berkelit.
"Karena kakaknya ingin bertemu dengan salah satu keluarga   kita ka kakakk satu-satunya,   ak ka tidak mungkin mengajak ibu, penyakit rematiknya parah dan tidak bisa keluar malam."
"Apa  yang  ingin  dilakukakakak  Delina?  Kenapa  dia ingin   bertemu   denga sala satu   keluarga   kita? Nessa menerka-nerka dan sebuah pikiran pahit berkecamuk di benaknya,  jangan-jangan si  kakak  itu  ingin  mencemooh dan menghina mereka di pesta itu?
"Yah... Aku adalah pacar Delina, kakaknya itu sangat protektif kepada Delina, mengingat sebelum-sebelumnya banyak lelaki yang mendekati Delina demi mengincar harta keluarga mereka, aku maklum kalau kakaknya ingin mengenal kita dan memastikan aku baik untuk Delina."
Tentu saja Ervan baik untuk Delina. Nessa mengernyit, dialah yang akan maju pertama kali kalau ada yang meragukan kebaikan hati Ervan. Mereka berdua adalah anak yang dibesarkan dari seorang ibu yang berjuang seorang diri karena suaminya telah meninggalkannya dengan dua anak yang masih kecil. Ibunya berjualan kue basah dan menitipkannya ke warung-warung. Nessa masih ingat ketika dia dan Ervan sepulang dari sekolah dasar membantu sang ibu menarik wadah-wadah titipan dari warung-warung tersebut sambil berjalan kaki.
Dan hidup dengan keprihatinan dan kesederhanaan telah membuat Nessa dan Ervan tumbuh menjadi pribadi yang bersahaja,   merek membantu   sang   ibu   dengan   bekerja sambilan untuk membiayai pendidikan. Akhirnya setelah Nessa lulus dan menjadi guru sebuah TK, Ervan mendapatkan beasiswa di sekolah teknik ternama di kotanya, dan kepandaiannya membuatnya mempunyai masa depan yang cukup cerah. Kepandaian otaknya, ketampanan fisiknya dan kebaikan hati Ervan membuat Nessa yakin bahwa adiknya adalah pasangan paling sempurna bagi siapapun.
♥♥♥
"Selamat datang." Delina menyambut Ervan dan Nessa dengan bahagia di pintu, pipinya bersemu merah dan matanya berbinar ketika melihat Ervan. Nessa mengamatinya dan mau tak mau tersenyum. Bagaimanapu jugaDelina  benar-benar tampak seperti perempuan yang baik dan sungguh-sungguh mencintai Ervan.
"Terima kasih kak Nessa mau menemani Ervan kemari,” dengan sopan dan ramah, Delina menyalami Nessa, "Mari silahkan masuk, pestanya sudah dimulai."
Pesta itu benar-benar pesta mewah yang elegan, yang memang  diperuntukkauntuk  kelas  atas.  Semuanya berpakaian indah dan syukurlah meski tidak mahal gaun hitam Nessa yang sederhana tampak begitu cantik dipakainya.
"Sendirian di sini?" seorang lelaki tiba-tiba sudah ada di sebelahnya dan menyapanya.
Nessa menoleh dan menemukan lelaki paling tampan yang pernah dilihatnya. Dengan rambut disisir rapi, dagu yang sudah  dicukur  bersih,  dan  pakaian  yang  sepertinya  dijahit


khusus untuknya, lelaki muda itu tampak seperti pangeran dari negeri dongeng.
"Tidak... Saya bersama pasangan saya." tiba-tiba Nessa merasa gugup. Penampilan lelaki itu dan aura yang dibawanya entah  kenapa  membuatnya merasa  gugup  dan  tiba-tiba  saja ingin melarikan diri.
"Oh? Benarkah? Sepertinya aku tidak melihatnya." lelaki itu menatap ke arah Nessa tajam meskipun bibirnya tersenyum, "Sungguh pasangan anda orang yang sangat ceroboh membiarkan perempuan cantik sendirian di sini."
Nessa mengernyitkan keningnya, "Maaf... Saya akan mencari pasangan saya."
Dengan  buru-buru  Nessa  membalikkan badannya  dan mencoba pergi, aura lelaki membuatnya gelisah tidak tertahankan lagi, cara lelaki itu menatapnya bagaikan harimau mengincar mangsanya.
"Nessa?"
Nessa  langsung  tertegun  mendengar  suara  itu,  suara yang dikenalnya, suara dari masa lalunya yang sudah bertahun- tahun berusaha dilupakannya. Suara Marcell.
Dengan gugup didongakkannya kepalanya, dan tertegun, itu  memang benar Marcell yang sama, hanya sekarang lebih tampan, lebih dewasa. Dan hati Nessa luar biasa sakitnya mengingat   kenangan   itu Ketik Marcel meninggalkannya begitu saja tanpa penjelasan apa-apa, karena dorongan keluarganya.
Nessa ingat sekali ketika itu ibu Marcell, seorang nyonya besar yang kaya raya tidak menyetujui hubungan Nessa dengan Marcell, karena Nessa hanyalah perempuan biasa, dari keluarga biasa, apalagi ibu Marcell sudah menyiapkan calon untuk Marcell, anak dari temannya, keturunan ningrat yang saat itu sedang   menyelesaikan   magisternya   di   Australia bernama Susan.
"Hai Marcell, apa kabar?" suara Nessa terdengar lemah, terlalu terkejut.


Marcell tersenyum miris. "Kabar baik Nessa, kau sendiri? Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik." tiba-tiba saja Nessa ingin menangis, kenapa dia harus bertemu Marcell di sini? Marcell adalah satu-satunya lelaki yang tidak ingin ditemuinya di dunia ini, "Dimana Susan?" tanya Nessa mencoba tegar.
"Ah, Susan..." Marcell tampak salah tingkah, "Dia ada di sana, sedang berbicara dengan temannya, eh Kami sudah bertunangan, tanggal pernikahan kami ditentukan 2 bulan lagi, segera setelah Susan mengurus kepindahannya dari Australia, aku harap kau mau datang."
Bagaimana mungkin Marcell tega mengucapkan kalimat menyakitkan   it tanpa   ras bersala sedikit   pun?   Tidak ingatkah  dia  betapa  dia  telah  menyakithati  Nessa  dengan begitu kejam, meninggalkannya tanpa perasaan? Membuat Nessa akhirnya tidak bisa mencintai lelaki lain...
"Aku... Aku tidak bisa berjanji... Aku..."
"Marcell, teman-temanku ingin berbicara denganmu, dear." perempuan cantik itu tiba-tiba datang dan mengglayuti lengan Marcell dengan manja, dia lalu menatap Nessa dan mengangkat alisnya, "Eh... Siapa ini?"
Marcell tampak gugup dan menelan ludah. "Ini Nessa, teman kuliahku dulu, kami sudah lama tak bertemu dan kebetulan bertemu di sini."
"Oh.” Susan menatap Nessa dari kepala sampai kaki dengan pandangan meremehkan, "Aku pernah dengar dari ibumu kalau kau dulu pernah punya kekasih bernama Nessa yang  kau  tinggalkan, hmmmm...."  Susan  tersenyum mencemooh, "Pantas saja kalau begitu, dia tidak selevel dengan kita, bukan begitu dear?"
Marcel tampak kehilangan kata-kata sedangkan Nessa berdiri dengan muka merah padam atas penghinaan terang- terangan yang diucapkan dengan lantang tersebut.
Sebelum mereka dapat berkata-kata, sosok pria tampan yang tadi menyapa Nessa tiba-tiba melangkah mendekat dan


mengamit lengan Nessa dengan mesra. "Kau tidak mengenalkan mereka kepadaku, sayang?"
Nessa mendongak, mengernyitkan alisnya sambil menatap lelaki tak dikenal itu, apa katanya tadi?
Tetapi kemudian perhatiannya teralihkan oleh wajah Susan dan Marcell dan memucat, "Kau mengenal Tuan Kevin, Nessa?" tanya Marcell seolah tak percaya.
Pria bernama Kevin itu semakin mendekatkan tubuhnya pada  tubuh Nessa, "Tentu saja, Nessa adalah kekasihku, dan sepertinya kalian mengenalku ya?"
"Keluarga kami menjalin hubungan bisnis dengan anda Tuan Kevin." kali ini Susan yang menyahut sambil tersenyum manis, "Sungguh suatu kehormatan bisa bertemu dan bercakap- cakap langsung dengan anda di sini."
Kevin ganti menatap Susan dengan pandangan mencemooh, "Hmmm... Kehormatan bagimu juga mungkin bisa berbicara dengan kekasihku yang luar biasa ini." lalu Kevin tersenyum pada Nessa, tidak mempedulikan muka Susan yang memerah karena jawaban kasarnya itu, "Ayo sayang kita pergi, masih banyak tamu-tamu penting yang harus kita temui."
Kemudian Kevin membalikkan tubuh Nessa, membawanya dalam gandengan lengannya, meninggalkan Marcell dan Susan yang berdiri dengan terhina di sana.
♥♥♥


"Kenapa   ka membantuku?"  Nessa   berbisik  pela setelah mereka menjauh dari pasangan Marcell dan Susan.
Kevin tergelak dan kemudian melepaskan genggaman lengannya, "Aku melihat seorang perempuan yang hampir dipermalukan oleh kekasih yang dengki, dan aku merasa harus turun tangan untuk membantu." Kemudian lelaki itu mengulurkan tangannya,  "Kita  tidak  sempat  berkenalan tadi karena kau buru-buru kabur."
"Oh." pipi Nessa memerah, "Te...terima kasih atas bantuannya, aku..."
"Kakak?" kali ini suara Delina yang menyela. Kevin dan Nessa menoleh serentak, dan berhadapan dengan Delina yang sedang bersama Ervan.
Delina tersenyum ceria ketika melihat Nessa "Ah... Kulihat kakak sudah berkenalan dengan kak Nessa, kakaknya Ervan... Kak Nessa ini kakakku yang kuceritakan ingin berkenalan."
Sedikit terkejut atas informasi baru itu, Nessa melirik ke arah Kevin. Sekilas Nessa menyadari rona wajah Kevin yang hangat  berubah  menjadi  dingin.  Apakah  lelaki  itu  menjadi dingin ketika mengetahui bahwa Nessa adalah kakak Ervan? Nessa masih ingat cerita Ervan bahwa kakak Delina ini sangat mencurigai orang miskin sebagai pengincar harta mereka.
Apakah kisahnya bersama Marcell akan   terulang pada Ervan?   Dicemooh   da diremehkan   hany karen mereka berasal dari keluarga sederhana?
"Oh... Ini Ervan yang kau ceritakan itu?" Kevin berucap lambat-lambat dan kemudian membalas uluran tangan Ervan, setelah selesai berjabat tangan, dia menoleh lagi kepada Nessa, "Dan kau Nessa, kakaknya Ervan... Senang berkenalan denganmu." lelaki itu mengulurkan tangannya kepada Nessa, dan mau tak mau Nessa menerima uluran tangan itu.
Seketika Kevin menggenggam tangannya yang mungil itu dengan kuat dan dominan, seperti mengisyaratkan sesuatu.
"Well sepertinya   kit aka banya bertemu   nanti
Nessa," gumamnya penuh arti.
Nada   suaranya   ramah,   tetapi   enta kenapa   Nessa merasa ngeri. Membuat Nessa bertanya-tanya apa yang ada di benak Kevin sebenarnya.
Mereka berdiri berempat sambil mengamati pesta. Delina dan Ervan berpegangan tangan dengan penuh cinta, sementara Nessa  berdiri dengan canggung di  sebelah Kevin. Tiba-tiba musik lembut dansa dimainkan dan beberapa pasangan tampak turun ke lantai dansa, menikmati dansa romantis di antara kelap-kelip cahaya temaram dan suasana pesta yang elegan. Kevin    menoleh    ke    arah    Nessa    dan    memasang
senyumnya yang paling manis, Mau berdansa?
Nessa    tertegun,    lalu    menggelengkan    kepalanya,
Tidak... Saya tidak bisa berdansa, tolaknya cepat.
Tetapi  Kevin  menatapnya dengan  keras  kepala“Oh ayolah, aku akan mengajarimu. Lagipula kau tidak kasihan kepadakuaku  tidak  punya  pasangan  dansa.”  dan  sebelum Nessa  bisa  menolak,  lelaki  itu  sudah  menariknya  ke  lantai dansa.
Kevin  bohong.  Dia  bisa  memilih  banyak  pasangan dansa  kalau  mau,  dilihat  dari  banyaknya  mata  yang memandang Nessa dengan iri. Nessa begitu gugup ketika Kevin dengan tenang melingkarkan tangannya di pinggang Nessa dan meletakkan tangan Nessa di pundaknya. Lelaki itu membawa Nessa melangkahkan kaki dengan lembut, mengikuti irama.
Lihat,  gampang  kan? bisiknya  sambil  tersenyum,
menatap Nessa dengan matanya yang tajam.
Nessa   memalingkan   muk dengan   waja merah padam, tidak tahan ditatap seperti itu. Dia hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian memusatkan perhatiannya kepada gerakan dansa mereka.
Ketika  tanpa  sengaja  Nessa  memutarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, matanya bertabrakan dengan mata Marcell, lelaki itu sedang berdansa dengan Susan yang sekarang berada dalam posisi membelakangi Nessa, membuat Marcell leluasa menatap Nessa.
Ada sesuatu di tatapan mata Marcell itu, sesuatu yang mirip dengan penyesalan dan kepedihan... Membuat dada Nessa terasa  sesak.  Dia  memalingkakepala,  dan  mencoba  untuk tidak menoleh ke arah Marcell lagi.
♥♥♥
Seperti  biasa  Nessa  melangkakeluar  kelas  setelah memastikan semua muridnya benar-benar pulang dalam jemputan keluarga mereka.
Taman kanak-kanak itu tampak lengang dan sepi. Yah biasanya yang membuat ramai adalah kehadiran murid-murid kecilnya yang berceloteh riang kesana kemari. Sekarang tinggal guru-guru yang sibuk merapikan barang-barang mereka di ruang guru.
Nessa mendesah dan mengambil tasnya lalu melangkah ke lorong TK itu, entah kenapa sejak pesta itu batinnya kembali terasa  sakit,  sakit  hati  yang  telah  coba  dilupakannya begitu lama. Sakit hati karena kepedihan ketika Marcell meninggalkannya dengan kejam, kini semua itu kembali lagi.
Mungkin ini semua karena di pesta itu dia bertemu kembali secara langsung dengan Marcell, melihat langsung bagaimana   Marcel suda melupakannya   da berbahagia dengan tunangannya.
Pernikahan mereka dua bulan lagi...
Tiba-tiba saja batin Nessa berdenyut dan terasa sakit. Kenapa hatinya sakit? Apakah dia masih menyimpan cinta itu kepada  Marcell?  Bahkan  setelah  dia  dicampakkan dan dikhianati sedemikian rupa?
"Hati-hati, nanti kau tersandung."
Suara maskulin itu tiba-tiba muncul, tak disangka- sangkanya. Begitu mengejutkan hingga Nessa mengeluarkan suara  pekikakaget.  Dia  mendongak ke  arah  suara  itu  dan menemukan Kevin,  kakak  Delina,  sedang  bersandar di  tiang lorong taman kanak-kanak itu, masih mengenakan setelan jas kantornya yang elegan.
"Kenapa anda ada di sini?" tiba-tiba Nessa merasa waspada.
Kevin  tersenyum misterius.  "Ada  yang ingin kusampaikan kepadamu, kalau kau tidak sibuk."
"Darimana anda tahu tempat saya bekerja?" kali ini perasaan Nessa di dominasi oleh rasa curiga, jangan-jangan lelaki ini sudah membayar orang untuk menyelidiki Ervan dan keluarganya.
Kevin  terkekemelihat tatapan  curiga  Nessa,  "Jangan menatapku seperti itu, aktidak mengambil informasi lewat jalan belakang." dengan elegan dia mengangkat bahunya, "Aku mendapat informasi dari Delina bahwa kau bekerja di sini, dia sering bercerita tentang Ervan dan tentang kau."
"Oh." Nessa tercenung, "Apa yang ingin anda sampaikan kepada saya?"
Mendengar pertanyaan Nessa, tatapan Kevin berubah serius,   "Mungkin kau bisa ikut aku ke suatu tempat untuk membicarakannya?'
Alarm peringatan langsung berbunyi di benak Nessa, mengingatkannya. Entah kenapa, meskipun tersenyum ramah, aura Kevin tampak mendominasi dan menyimpan sesuatu yang misterius. Nessa tidak mau pergi kemanapun dengan lelaki itu. "Kalau memang bisa kenapa tidak kita bicarakan di sini saja?"

Kevin menatap tajam, kemudian sekilas tampak geli melihat ketakutan Nessa yang berusaha disembunyikannya dengan  baik.    "Oke  kalau  begitu,  meskipuaku  sebenarnya ingin membicarakannya di tempat yang lebih pribadi.” Tatapannya   berubah   seriu da dala sekejap   auranya berubah  dingin,  "BeginNona  Nessa, aku  ingin  menawarkan sejumlah uang kepada keluargamu supaya kalian semua menjauhi Delina."


PERJANJIAN HATI - SANTHY AGATHA - BAB 2