Monday, September 7, 2015

Celebrity Wedding - Bab 8

The Not At All Romantic Proposal

Revel tahu bahwa Ina tdk akan setuju begitu saja pada lamarannya ini, oleh karena itu dia
sudah mempersiapkan berbagai macam senjata untuk menyakinkannya.
"Saya tahu klo ini kedengaran agak gila, tp coba kmu dengar saya dulu." Revel melangkah
mendekati Ina yg mencoba mundur dan lututnya menabrak kursi yg ada di belakang,
membuatnya jatuh terduduk.
Melihat reaksi Ina, Revel menghentikan langkahnya. Dia tahu bahwa Ina tdk akan langsung
mengatakan "Iya" atas lamarannya, tetapi dia tdk menyangka bahwa Ina akan kelihatan
takut akan lamarannya. Entah kenapa, tetapi hal ini agak2 menyakiti egonya. Selama
beberapa detik dia mencoba menenangkan diri dan stelah yakin bahwa dia bisa mengontrol
rasa jengkel yg mulai terasa pada hatinya, Revel kemudian menatap Ina.
"Kmu nggak harus nikah sama saya betulan, ini cuma pura2 saja," ucapnya mencoba
terdengar meyakinkan.
Ina menatap wajah Revel yg sedang mencoba meyakinkannya. "Hah?" Adalah satu2nya kata
yg keluar dari mulutnya. Otaknya betul2 tdk bisa memproses ini semua. Semakin Revel
mencoba menjelaskan, semakin bingung dia dibuatnya.
"Cuma untuk meredakan gosip saya dgn Luna. Paling lama setahun, sampai single saya
launch dan tur 18kota saya selesai," lanjut Revel.
Ina hanya bisa menatapnya dgn mata terbelalak. Ini bukansaja kedengaran agak gila, sperti
yg Revel katakan, tetapi ini memang ide gila.
"I know that this is a lot ask, but I'm desperate. You're ny last resort." Spertinya Revel tdk
lagi memedulikan reaksi Ina sbelumnya karena kini dia sedang melangkah mendekatinya.
Ina masih terdiam seribu bahasa. Ini adalah lamaran paling aneh yg pernah dia dengar. Dia
bukanlah orang yg romantis, dia tdk mengharapkan laki2 yg melamarnya menerbangkannya
ke Paris dgn jet pribadi pada Hari Valentine, kemudian dibawah Menara Eiffel dan taburan
bintang berlutut di hadapannya sambil mempersembahkan sebuah cincin berlian empat
karat. Tidak, Ina bukanlah tipe wanita sperti itu, tetapi dia tetap seorang wanita, yg
mengharapkan setidak2nya laki2 yg melamarnya akan mengatakan bahwa dia
mencintainya. Itu sebabnya dia ingin menikah dengannya, bukan karena dia terdesak dan
tdk ada pilihan lain.
Ina menelan ludah sbelum bertanya,"knapa saya?"
"Karena kmu aman buat saa, jawab Revel yg kini sedang menarik sebuah kursi dan
mendudukkan dirinya di hadapan Ina.
"Aman?" Tanya Ina bingung.
"Kmu bukan seorang selebriti, kmu pintar, punya pekerjaan yg bagus, dan bukan dari dunia
entertainment, jadi wartawan nggak akan bisa mencecar kmu. Kmu juga kelihatannya
perempuan baik2. Yg nggak suka buat onar. Kmu masih single dan nggak punya pacar, jadi
nggak ada orang yg akan keberatan dgn usul saya. Kmu plain meskipun klo dikasih make-up
mungkin wajah kmu bisa kelihatan lebih menarik. Dan thanks for today, wartawan sudah
lihat kmu masuk ke rumah saya, jadi mereka nggak akan curiga dgn berita pernikahan kita.
Mama saya juga pikir klo kmu adalah kandidat yg tepat untuk mempertahankan image saya
sebagai orang yg bisa dipercaya masyarakat."
Hah?! Ternyata ibu Davina sama gilanya dgn anaknya, atau bahkan lebih gila lagi.
"Yang jelas kmu bukan tipe saya, jadi nggak akan ada kemungkinan saya jatuh cinta beneran
sama kmu. Itu sebabnya kmu aman buat saya," Revel mengakhiri argumentasinya.
Revel merasa sperti laki2 paling tdk punya perasaan stelah mengatakan hal ini. Perempuan
mana yg mau menikahi seorang laki2 yg sudah menghinanya blak2an sperti ini? Belum lagi
karena itu tdk spenuhnya benar. Ina memang plain, tetapi Revel sudah tdk bisa menafikan
lagi bahwa dia tertarik dgn Ina. Ada sesuatu dari diri wanita ini yg membuatnya pensaran.
Jarang sekali ada wanita yg bisa membuatnya bertanya2 tentang apa yg akan dilakukannya
slanjutnya. Kebanyakan wanita menyangka bahwa mereka misterius, tp Revel bisa melihat
diri mereka sbenarnya hanya dalam hitungan detik, tp Ina.... dia membuat Revel ingin
mengenalnya lebih jauh. Intinya, dia mengatakn apa yg baru dia katakan karena melihat
bahwa Ina kelihatan semakin takut akan lamrannya dan dia sudah kehabisan cara untuk
meyakinkannya.
Ina tdk tahu apakah dia harus lebih tersinggung karena Revel berasumsi bahwa dia tdk
punya pacar atau bahwa dia plain dan bukan tipenya? Akhirnya Ina memutuskan untuk
berlaku dewasa dan menyatakan fakta yg lebih penting daripada apa yg sudah dikatakan
Revel.
"Kmu sadar kan klo saya ini akuntan kmu dan saya bisa kehilangan pekerjaan saya klo saya
menerima lamaran kmu?"
"Yep, saya sudah mempertimbangkan itu semua," jawab Revel. Dalam hati Revel tertawa
ketika mendengar balasan dari Ina. Perempuan satu ini memang tdk bisa ditebak.
"Jadi kmu nggak peduli saya jadi jobless klo saya terima lamaran kamu?"
Memang dalam dunia konsultasi tdk ada peraturan tertulis yg menyatakan bahwa seorang
konsultan tdk bisa menikahi kliennya, tetapi hampir semua konsultan di seluruh dunia
memegang kode etik ini, termasuk Ina. Lumrahnya, seorang auditor tdk seharusnya bekerja
di firm yg mewakilkan suami/istrinya, supaya objektivitas dalam menjalankan tugas sebagai
konsultan tetap terjaga.
"I hate to lose you as a consultant, karena kmu kerjanya memang bagus, tp saya lebih
terdesak untuk cari istri."
Ina terdiam, mencoba mencerna kata2 Revel. Diamnya Ina disalahartikan sebagai
persetujuan oleh Revel.
"Jadi kmu setuju dgn lamaran saya, kan?"
"Saya tdk menyetujui apa pun juga sbelum kmu menjawab pertanyaan saya. "Ina
menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menyilang kakinya, dan melipat kedua
tangannya di depan dada. Kini Ina sudah tdk bingung lagi, dia sadar betul akan apa yg
diminta Revel darinya dan dia sama sekali tdk terhibur dgn lelucon ini.
Revel mengernyitkan dahinya. "Look, saya mengerti klo kmu upset dgn proposal saya ini..."
"Upset? Saya nggak upset," potong Ina dgn nada tersinggung. Memangnya Revel pikir dia
siapa? Apa dia pikir karena dia adalah laki2 paling seksi se-Indonesia maka dia berhak
mengatakan semua hal yg dia baru katakan padanya tanpa membuatnya tersinggung? Tentu
saja Ina tersinggung.
Revel sedang berusaha menahan senyum melihat reaksi Ina. Untuk pertama kalinya dia bisa
melihat Ina kehilangan sopan santunnya. Wajah dan lehernya memerah karena marah dan
Revel tahu bahwa pasti ada yg salah dgn dirinya karena yg dia ingin lakukan pada saat itu
adalah mencium gadis itu, semua bagian tubuhnya yg kini berwarna merah.
Ina melihat wajah Revel yg spertinya sedang menertawakannya, dan dia menahan diri agar
tdk menggerutu.
"Saya bisa mencari kantor konsultan lain klo kmu memang bersikeras tetap bekerja stelah
menikah dgn saya, meskipun saya nggak lihat alasan yg tepat knapa kmu mau melakukan ini.
Saya sudah rencana membayar kmu stiap bulan selama kmu menikah dgn saya. Selain itu,
saya akan memberi kamu apa saja yg kmu minta," jelas Revel.
"Okay, let me get this straight. Kmu akan membayar saya karena menikah dgn kmu?" Ucap
Ina perlahan-lahan.
"Plus apa saja yg kmu mau. You just name it and it's your," jelas Revel.
"Well, that sounds like prostituting to me," balas Ina.
"No, no, no.. Ini sama sekali bukan pelacuran. Kmu nggak perlu have sex dgn saya sama
sekali untuk semua keuntungan yg kmu akan dapat dari hubungan kmu dgn saya."
"Apa kita akan tidur satu kamar?" Tanya Ina.
"Nggak satu kamar, tp kita harus tinggal satu atap."
"Yang brarti di rumah kmu ini?"
"Iya, itu akan lebih gampang buat saya."
"Waktu kmu merencanakan ini semua, apa kmu bahkan pertimbangkan bahwa saya suka
dgn pekerjaan saya yg sekarang?"
"Oh, come on, gimana bisa kmu menyukai pekerjaan yg maksa kmu kerja pada akhir minggu,
yg membuat kmu terlambat ke acara ultah keponakan kmu, dan yg bikin kmu jadi masih
single sampai sekarang?"
Revel meraih tangan Ina sbelum dia bisa bereaksi dan menggenggamnya erat. Dan dgn
tatapan dalam yg bahkan bisa mencairkan gunung es di Kutub Utara dia berkata, "Look, klo
kmu bisa bantu saya untuk yg satu ini, saya akan utang budi sama kmu seumur hidup saya.
So please, tolong saya."
Sesebal2nya Ina pada cowok ini, dia tdk bisa mengabaikan tatapan penuh keputusasaannya
itu.
"Kmu yakin nggak ada orang lain yg bisa kmu nikahi? Gimana dgn teman2 selebriti kmu?
Pasti banyak dari mereka yg mau nikah kontrak sama kmu." Ina masih berusaha mencari
solusi lain untuk menyelesaikan dilema yg dihadapi Revel ini agar tdk melibatkan dirinya.
"Saya nggak mau nikah sama orang dari dunia entertainment, nanti akan mengundang lebih
banyak gosip. Lagi pula, urusan perceraiannya bisa messy nantinya."
"Gimana dgn teman2 nonselebriti kmu?"
"Nggak ada yg masih mau bicara dgn saya. Saya sudah membuat banyak perempuan pissedoff."
"Knapa mesti nikah, knapa nggak dating saja?"
"Klo cuma dating, bakalan kelihatan bohongnya. Tp klo nikah kan ada suratnya dan pestanya
yg akan diliput sama media, jd keliatan lebih meyakinkan buat masyarakat. Mereka perlu
percaya klo saya ini laki2 baik2 dan dgn saya menikahi kmu, itu semua bisa tercapai. I mean,
klo saya memang seburuk sperti yg sudah digambarkan media, wanita baik2 sperti kmu
nggak mungkin akan mau menikahi saya, kan?"
Sejenak Ina mempertimbangkan jawaban revel ini. "Klo saya bantu kmu soal ini, apa
untungnya buat saya?"
"Sperti yg sudah saya bilang, kmu akan dapat uang dari saa dan..."
"Kmu nggak bisa beli saya dgn uang kmu," potong Ina garang. Ina menarik tangannya dr
genggaman revel dan kembali pada posisi sbelumnya dgn melipat kedua tangannya di depan
dada.
Revel menghembuskan napasnya putus asa. "Saya sebetulnya mau bilang... sbelum kmu
memotong saya, bahwa you'll have me as your husband."
Tunggu sebentar, apa dia baru saja mengatakan apa yg dia baru katakan? This arrogant son
of a bitch dan ina menarik napas panjang sbelum dia memulai omelannya.
"Saya ini akuntan dgn sertifikasi taraf internasional, lulusan Amerika dari universitas
berkaliber tinggi dgn suma cum laude, saya adalah junior partner termuda di perusahaan
akuntan publik ternama di Jakarta, dan gaji saya mencapai delapan digit stiap bulannya. Dan
meskipun bukan material Miss Universe, tp saya cukup menarik. Intinya, saya bisa
mendapatkan laki2 mana saja untuk jadi suami saya, apa yg membuat kmu berpikir bahwa
saya mau kmu sebagai suami kmu?"
Ina melihat Revel akan memotong, tp dia lanjut dgn omelannya. "Kmu memang artis yg
cukup digemari sama kaum wanita apalagi mereka yg masih di bawah umur," Ina sengaja
menghina Revel dan melihatnya meringis ketika mendengar ini, tp dia tdk peduli.
"Tapi saya, sebagai wanita dewasa, nggak pernah tertarik dgn laki2 yg saya akin bahkan
nggak bisa membedakan antara debit dan kredit. Belum lagi dgn reputasi kelakuan kasar
kmu terhadap wartawan, salah2 kmu ternyata suka memukul wanita juga. Intinya, jadi laki2
jangan kege-eran dan mikir klo dia adalah anugerah terindah yg pernah terlahir di bumi ini,
dan bahwa semua wanita mau kmu. Karena saya nggak tertarik sama sekali sama kmu."
Ina akhirnya kehabisan argumentasi dan dia berhenti menarik napas. Selama beberapa
menit revel hanya menatapnya dgn mulut ternganga, matanya yg hitam itu menyiratkan
keterkejutan dan sesuatu yg terlihat sperti... rasa hormat? Nggak mungkin. Bagaimana laki2
ini bisa hormat kepadanya stelah dia pada dasarnya sudah menginjak2 egonya.
Revel sbetulnya ingin tertawa terbahak2 karena Ina meragukan emampuan otaknya. Dia
memang kuliah jurusan musik, tp sesuatu yg kebanyakan orang tdk tahu adalah bahwa dia
lulus dgn 2ijazah, yaitu music composition dgn IPK 3.4 dan Finance dgn IPK 3.8. Advisor-nya
di Carnegie Melon sempat geleng2 kepala kepala ketika mendengar petisinya untuk
mengambil dua jurusan yg tdk ada sangkut pautnya satu sama lain, tetapi beliau akhirnya
setuju dan membiarkan Revel melakukannya. Intinya, Revel tahu persis bedanya antara
debit dan kredit dan segala hal lainnya yg berhubungan dgn manajemen keuangan.
"Oke, saya terima argumentasi kmu, saya cuma mau membetulkan satu hal saja. Saya
yakinkan ke kmu bahwa segala tindakan kasar saya hanya tertuju kepada orang yg kurang
ajar terhadap saya dan orang2 terdekat saya. Saya tdk akan pernah memukul wanita
betapapun menyebalkannya mereka."
Ina tahu bahwa Revel mengatakan yg sebenernya. Dia tdk kelihatan sperti tipe laki2 yg akan
menyakiti seseorang yg jelas2 lebih lemah daripada dirinya.
"Apakah anak yg dikandung Luna itu anak kmu?" Tanya Ina untuk memastikan apa yg dia
dengar beberapa jam yg lalu.
Ada senyum simpul pada sudut bibir Revel sbelum dia berkata, "Bukan. itu bukan anak saya.
Itu anaknya Dhani, vokalis band The Rocket. Saya bukan tipe laki2 yg akan menelantarkan
anak sendiri. Klo anaknya Luna adalah anak saya, saya sudah pasti menikahi Luna dr
kemarin2. Sayangnya tdk semua laki2 memiliki pendapat yg sama."
Dan sekali lagi Ina harus percaya akan kata2 Revel karena dia betul2 terlihat tulus ketika
mengatakannya.
"Boleh saya tanya satu hal ke kmu?" Tanya Revel stelah beberapa lama.
Melihat Ina mengangguk, Revel melanjutkan, "Apa kmu berniat menikah?"
"Of course."
"Kapan trakhir kali kmu punya pacar?"
"Apa hubungannya sejarah dating saya dgn ini semua?"
"Jawab saja pertanyaan saya."
"Saya putus dgn pacar saya hampir 2tahun yg lalu."
"Knapa kmu putus dgn pacar kmu?"
"Keluarga saya nggak setuju."
"Knapa mereka nggak setuju?"
"Mereka bilang dia..." Ina berhenti ketika menyadari bahwa dia hampir saja menceritakan
sejarah hidupnya kepada orang asing.
"You know what, this is none of your business," ucap Ina dan berdiri. Revel menarik
pergelangan tangannya dan memaksanya kembali duduk.
"Tell me," ucap Revel pendek sambil melepaskan tangan Ina.
Ina menggeleng. "Kmu lebih baik cek apa pizzanya sudah sampai." Ina mencoba mengganti
topik pembicaraan.
"Dia gay, ya?" Tekan Revel.
"Ganang bukan gay," balas ina mencoba membela mantan pacarnya yg dianggap kurang
"laki-laki" oleh Mana, entah apa maksudnya.
"Pengangguran?"
"Nggaklah."
"But ugly?"
"Nggak! Oke?! Ganang, sperti juga pacar2 saya sebelumnya, nggak gay, dia nggak
pengangguran, dia sama sekali nggak jelek. Masalahnya adalah pada keluarga saya. Menurut
mama, saya bisa dapat laki2 yg lebih baik," teriak Ina akhirnya.
Dengan berteriak sperti ini Ina menyadari betapa frustasinya dia pada keluarganya,
terutama mamanya yg slalu mencoba mangatur hidupnya. Dari dulu, sampai sekarang,
mama slalu mencoba mengatur semuanya, mulai dari ekstrakurikuler hingga jurusan yg
harus dia ambil, dari universitas yg harus dia pilih, hingga perusahaan tempatnya bekerja,
dan sterusnya. Ina tdk akan membiarkan satu orang lagi mengatur hidupnya.
"This conversation is over," ucap Ina sbelum berdiri dgn cepat dan bergegas menuju pintu.
Revel mencoba meraih tangannya, tp kali ini Ina lebih cepat. Sbelum Revel bisa bereaksi Ina
sudah mencapai pintu. Ketika dia memutar gagang pintu revel berkata, "Definisikan laki2 yg
lebih baik." Kata2 itu membuat Ina tertegun.
"It's a simple question, Ina" Ina terpekik ketika mendengar kata2 itu tepat di belakang
telinga kanannya.
Dia bisa merasakan suhu tubuh Revel yg kini berada sangat dekat dgn punggungnya. Oh!
Bisa nggak sih laki2 satu ini meninggalkannya sendiri? Ina menarik gagang pintu, mencoba
keluar, tp Revel mendorong pintu itu hingga terbanting tertutup sbelum menyandarkan
telapak tangannya tepat di sbelah wajah Ina. Tingkah laku Revel yg sengaja mencoba
mengintimidasinya dgn ukuran tubuhnya membuat Ina melangkah mundur dan
punggungnya bertabrakan dgn dada Revel. Dalam proses memutar tubuhnya,
keseimbangannya goyah. Revel mencoba menjaga keseimbangan Ina dgn memeluk
pinggangnya dan menyandarkan punggung Ina lebih rapat pada dadanya, dan pikiran Ina
langsung blank. Ina hanya bisa merasakan detak jantungnya sendiri yg melonjak2 tdk
keruan.
"Apa kmu akan menjawab pertanyaan saya?" Bisikan Revel mengaktifkan otak Ina kembali.
Spertinya Revel memang berniat memaksanya untuk menyetujui rencananya, dan dia ingat
akan rasa jengkelnya. Ina memutar tubuhnya menatap Revel. Entah apa yg Revel lihat pada
tatapan mata itu, tetapi dia langsung melepaskan pinggang Ina.
"Yg kayak kmu. Saya nggak tahu knapa, tp mama saya cinta mati sama kmu. Bahkan dgn
reputasi kmu yg semakin menurun sekarang, dia tetap ngebelain kmu," ucap Ina. "Dia bilang
kmu punya potensi untuk jadi suami ya baik," tambahnya.
Oke,itu semua tdk benar, dia bahkan tdk pernah membahas tentang Revel dgn mamanya, tp
toh Revel tdk tahu tentang itu. Ina menunggu detik dimana Revel akan lari tungganglanggang
dgn jawaban itu. Tdk ada laki2, yg jelas2 takut stengah mati dgn komitmen, klo
dilihat dari jumlah wanita yg gigit jari karena gagal menjadi Mrs. Revelino Darrby, mau
menikahi perempuan dgn mama yg mengharapkan hal yg paling ditakutinya itu. Dan
spertinya rencana itu berhasil karena untuk beberapa detik Revel hanya bisa menatapnya
sperti dia alien, sbelum kemudian mengambil beberapa langkah mundur dgn sedikit
sempoyongan. Hah! Biar dia tahu rasa, ucap Ina dalam hati dgn penuh kemenangan.
Tapi rasa kemenangan itu langsung punah ketika revel mulai mengatur ekspresi wajahnya
dan sambil tersenyum simpul dia berkata, "All the more season bagi kmu untuk menikah
dgn saya. Mama kmu jelas2 sudah setuju dgn saya."
WHATTTTTTTTTT?! Laki-laki gila.
"Tapi... Tapi..." Ina mencoba mencari alasan untuk menolak Revel tp tdk satu ide pun
muncul. Ina sadar bahwa dia baru saja menggali kuburnya sendiri. SHIIITTTT!
"Apa kmu mau keluarga kmu terus mengatur hidup kmu?"
"Ya nggaklah, tapi.."
"Saya jd curiga, jangan2 alasan knapa kmu masih single sampai sekarang adalah karena ada
yg salah dgn kmu."
Whait a second, apa laki2 kurang waras ini sedang menghinanya? Ina tdk pernah
membiarkan siapapun menghinanya, dan jelas2 dia tdk akan membiarkan seorang selebriti
yg sok populer, arrogant as hell, dan tdk tahu sopan santun ini melakukannya. Tapi...
Bagaimana klo pernikahan ini ternyata adalah solusi yg dia sudah tunggu2 selama ini agar
bisa menunjukkan kepada keluarganya bahwa dia tdk memerlukan keluarganya untuk
mengambil keputusan, bahwa dia bisa mengambil keputusan sendiri? Dan Revel memang
menggambarkan segala sesuatunya tentang laki2 sempurna. Pekerjaan mapan,check; punya
rumah sendiri, check; penampilan lumayan menarik, check; uang seabrek, triple check. Yg
paling penting adalah bahwa Revel jelas2 memiliki cukup kepercayaan diri untuk tdk ngacir
begitu menerima tatapan sangar dari keluarga Ina.
"Oke," ucap Ina akhirnya dgn penuh tantangan.
"Oke apa?" Revel terdengar terkejut ketika menanyakan ini.
"Oke saya akan menikahi kmu, tp kmu harus janji bahwa keluarga saya tdk akan pernah tahu
tentang ini. Setahu mereka kmu menikahi saya karena kmu memang sudah cinta mati dgn
saya. Selain itu, saya juga mau pre-up. Itu syarat saya, apa kmu setuju?"

"Setuju," balas revel dgn pasti.


No comments:

Post a Comment