Monday, September 7, 2015

Celebrity Wedding - Bab 9

The Family Of The Reluctant Bride

Seminggu kemudian Revel dan Ina menandatangani pre-nup mereka. Dalam pre-nup
tersebut, mereka menyetujui beberapa hal, sperti:
1. Mereka harus MENIKAH DALAM WAKTU 3BULAN dan harus tetap menikah hingga
setahun dari tanggal perjanjian ditandatangani.
2. Harus TINGGAL SATU ATAP SELAMA MENIKAH, dan karena apartemen Ina jelas2 lebih
kecil daripada rumah Revel, Ina harus mengalah dan pindah ke rumah Revel.
3. Mereka setuju PISAH KAMAR TIDUR.
4. TIDAK TERLIBAT AKTIVITAS SEKSUAL dgn satu sama lain atau orang lain.
5. (Stelah debat panjang lebar dgn Revel yg tdk mengerti knapa Ina masih mau bekerja
pada tempat yg jelas2 tdk menghargainya, dan Ina yg bingung knapa Revel peduli dgn
kesejahteraannya, akhirnya...) REVEL. SETUJU MENCARI KANTOR AKUNTAN PUBLIK
LAIN STELAH MEREKA MENIKAH (karena Ina tetap menolak berhenti kerja dari firm Pak
Sutomo).
6. Selama menikah, Revel harus MEMENUHI SEMUA PERMINTAAN FINANSIAL yg diajukan
Ina tanpa ada bantahan darinya.
7. Mereka setuju TIDAK MEMBEBERKAN RAHASA INI kepada siapapun (termasuk kepada
keluarga Ina), pun stelah masa perjanjian ini berakhir.
8. Ina setuju menjalankan tugasnya sebagai istri di muka umum dgm MENDAMPINGI
REVEL pada beberapa acara publik yg harus dia hadiri. Dan Revel setuju menjadi suami
yg baik dan mendampingi Ina pada acara keluarga.
9. MENJALANI KEHIDUPAN YG TERPISAH DI LUAR PERJANJIAN INI. Masing2 tdk boleh
mengatur kehidupan yg lainnya di luar dari yg sudah disetujui.
10. Sebagai kompromi, daripada Revel membayar Ina stiap bulan atas jasanya, REVEL AKAN
MENTRASFER 500JUTA KE ACCOUNT BANK INA pada akhir perjanjian mereka klo Ina
masih tetap berstatus sebagai istri Revel hingga saat itu.
Hanya segelintir orang yg tahu tentang penandatanganan perjanjian ini, mereka adalah
Revel dan Ina sendiri, pak Danung, ibu Davina, Jo (sebagai saksi dari pihak Revel), Tita
(dari pihak Ina), pak Siahaan (sebagai pengacara dari pihak Revel) dan Meinita ( dari
pihak Ina).
Pertama kali Tita, teman baiknya sewaktu kuliah di Amerika, menerima telpon dari Ina
yg memintanya untuk datang ke apartemennya karena ada urusan yg sangat penting
untuk dibahas beberapa hari yg lalu, Tita khawatir bahwa dia akan menerima berita yg
sangat parah sehingga wajahnya pucat ketika sampai di apartemen teman baiknya itu.
"Lo sakit kanker, ya?" Teriak Tita begitu Ina membuka pintu.
Ina hanya bisa menatap temannya sambil bengong. "Hah?"
Tita langsung memasuki apartemen tanpa permisi lagi. "Apa yg dokter bilang? Lo harus
pergi ke kak Mabel dan minta second opinion, lo pasti bisa sembuh. Kankernya belum
parah, kan? Sudah stadium brapa?"
Ina menutup pintu dan menatap Tita sambil mencoba menahan senyumnya. "Gue
nggak sakit kanker, Ta," ucapnya.
"Hah?! Betulan? Jangan main2 lo. Gue udah nyetir ngebut kesini, hampir saja kena
tilang polisi, belum lagi..."
"Gue mau lo jadi saksi tanda tangan pre-nup gue dgn Revel," potong Ina.
Tita menatap Ina dgn bingung selama beberapa detik sbelum berkata, " Pre-nup? Sperti
pre-nuptial agreement gitu?"
Ina mengannguk. "Dan Revel yg lo maksdu itu Revel Darby?"
Sekali lagi Ina mengangguk dan Tita hanya bisa melongo beberapa saat. Ina lalu
menuntun Tita ke sofa dan menceritakan tentang penawaran Revel, knapa Revel
memilih dirinya, knapa dia bahkan mempertimbangkan penawaran ini dgn serius,
tentang perasaannya terhadap keluarganya yg tdk pernah menghormati keputusannya,
dan keinginan untuk menunjukkan bahwa dia bisa mengambil keputusan sendiri. Tita
awalnya kelihatan terkejut karena Ina tdk pernah bercerita kepadanya tentang Revel
sbelum ini, tp dia hanya mendengarkan dgn seksama tanpa interupsi.
"So here we are," Ina mengakhiri ceritanya. "Gimana, Ta?"
Tita terdiam selama beberapa saat. "Menurut gue ini rencana gila, In," ucapnya sambil
menatap ina sedalam2nya, mencoba mengerti situasinya.
Ina mengembuskan napas putus asa. Dia tdk tahu siapa lagi yg bisa dia mintakan tolong
klo Tita menolak menjadi saksi. Saksi perjanjian ini tdk boleh memiliki hubungan darah
dgnnya, dan Ina tdk mengenal banyak orang yg bisa dia percaya penuh.
"Kapan kita harus tanda tangan?" Tanya Tita.
"Secepatnya," balas Ina.
Tita masih kelihatan ragu beberapa menit, keningnya berkerut dan mulutnya tertutup
rapat, tetapi kemudian satu per satu otot2 pada wajahnya berkurang ketegangannya
dan Ina tahu bahwa Tita mengerti. "Oke. Gue bantu lo. Sudah waktunya keluarga lo
berhenti mengatur hidup lo," ucap Tita pasti.
Ina langsung loncat memeluk temannya dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.
"Oke, oke, stop dulu. Gue mau tanya sesuatu ke elo." Tita mencoba melepaskan diri dari
bear hug yg diberikan oleh Ina padanya.
Ina langsung melepaskannya dan duduk kembali di sofa.
"Apa lo yakin dgn keputusan lo ini? Lo tahu kan reputasi Revel itu sperti apa?"
"Bukannya lo suka sama revel?" Balas Ina dgn nada sedikit meledek mengingat bahwa
Tita slalu memuji bakat musik Revel.
"Gue suka sama dia sebagai musisi, bukan sebagai calon suami lo."
"Why?"
"Revel itu.. an overrated spoiled man-boy yg ngerasa bahwa dia punya hak untuk
memperlakukan perempuan like shit." Ina sudah siap membela revel, tp kemudian
stelah di pikir2 lagi kata2 Tita itu mengena sekali. Akhirnya Ina hanya diam saja dan Tita
melanjutkan, "Gue cuma nggak mau lo sakit hati nantinya gara2 Revel hanya karena lo
mau nunjukkin ke keluarga bahwa lo bisa ngambil keputusan sendiri."
"Gue nggak akan membiarkan Revel menyakiti gue. I promise," ucap Ina cepat.
"Are u sure about this?" Tanya Tita masih ragu.
"I'm sure."
Tita sekali lagi terdiam selama beberapa menit, sbelum akhirnya berkata dgn nada
pasrah, "Oke."
Dan seminggu stelah pre-nup ditandatangani, ina membawa revel menemui keluarganya.
Ina melirik cincin pertunangan dari Revel, yg dihiasi berlian 4karat berwarna pink, yg
sekarang melingkari jari manis tangan kirinya. Ina menarik napas dalam2 dan
mengembuskannya perlahan-lahan. Hari ini dia akan menghadapi "Judgment Day" dgn
membawa Revel menghadiri acara ultah papanya yg ke-75 Sabtu siang ini. Hari ini dia akan
menunjukkan kepada keluarganya bahwa dia tdk akan lagi tunduk dgn segala peraturan dan
perintah mereka. Dia akan menikahi Revel, tdk peduli bahwa keluarganya akan setuju atau
tdk. Toh dia adalah wanita dewasa yg mampu mengambil keputusannya sendiri.
"Kmu siap?" Tanya Ina dgn agak gugup kepada Revel yg sedang mencoba memarkir paralel
mobilnya diantara dua Kijang.
"Iya, saya siap," jawab Revel pendek.
Ina melihat jejeran mobil yg diparkir di depan rumah orang tuanya. Dua sisi jalan sudah
penuh dgn mobil parkir. Acara ulang tahun ini memang tdk besar, hanya untuk keluarga,
kerabat dekat, dan teman2 orangtuanya saja. Tetapi seharusnya dia sudah tahu bahwa papa
dan mama memiliki banyak teman.
"Pokoknya kita cuma perlu ada disini selama 1jam saja. Stelah mengumumkan pertunangan
kita, kita bisa pulang." Ina mencoba tdk terdengar panik dan gagal sepenuhnya.
"Oke," balas Revel pendek.
"Keluarga saya besar dan berisik, jd kmu jgn jauh2 dari saya karena saya nggak bisa nolong
kmu klo kmu sampai dikeroyok sama mereka."
"Knapa mereka akan mengeroyok saya?"
"Karena ini adalah kali pertama saya bawa laki2 untuk ketemu mereka stelah 2tahun dan
karena kmu adalah Revelino Darby."
Ketika Revel mematikan mesin mobil, Ina segera membuka pintu stelah meraih kado yg
Revel... (koreksi) dia dan Revel beli untuk papa.
"Saya yakin banyak dari mereka kemungkinan nggak ngenalin saya," ucap Revel cuek ketika
dia sudah berdiri di samping Ina, menunggu hingga jalanan agak sedikit lengang dari mobil
yg berlalu-lalang.
"Bercanda kmu," balas Ina.
Revel hanya mengangkat bahunya dan tdk membalas kata2 Ina. Ketika tdk ada lagi mobil yg
melintas, tanpa disangka2, Revel langsung meraih kado yg digenggam oleh Ina dan
menggandengnya memasuki rumah orangtuanya.
Revel tdk tahu apa yg akan dia hadapi ketika mereka memasuki rumah orangtua Ina. Dia
berpikir akan mendengar suara anak2 kecil berteriak2 dan percakapan banyak orang pada
saat g bersamaan. Tetapi ketika mereka melangkah ke dalam ruangan yg kelihatan sperti
ruang tamu berukuran superbesar, beberapa mata langsung mengarah kepada mereka dan
perlahan2 percakapan mereda, hingga sunyi senyap. Di dalam genggamannya, Ina meremas
tangannya dan ketika Revel melirik, dia melihat bahwa Ina kelihatan sedikit panik.
Seberapapun Revel tdk menyukai mamanya, dia tdk pernah kelihatan sperti seseorang yg
siap disembelih ketika akan bertemu dgn keluarganya. Apa yg telah dilakukan oleh keluarga
Ina padanya sehingga membuatnya sebegini tdk nyaman dgn dirinya sendiri? Dan tiba2
Revel merasa bahwa dia harus berusaha sebisa mungkin melindungi Ina, apa pun yg terjadi.
"Daripada kita berdiri disini sperti tamu nggak diundang, gimana klo kmu ngenalin saya ke
orangtua kmu," bisik Revel.
Kemudian dia mendengar suara berat menyebut nama Ina dan perhatian semua orang
beralih kepada seorang laki2 dgn rambut yg sudah putih semua berjalan ke arah mereka dgn
bantuan sebuah tongkat.
"Papa," ucap Ina dan labgsung bergegas menuju orang tua itu.
Tanpa ragu2 Revel langsung mengikutinya.
"Selamat ulang tahun, Pap." Ina memeluk dan mencium pipi papanya sbelum kemudian
memperkenalkan Revel.
"Pap, ini Revel... pacarku." Suara Ina terdengae sperti tikus terjepit ketika mengatakannya.
Revel mendengar beberapa orang menarik napas terkejut ketika mendengar pernyataan ini,
dan memecahkan keheningan dgn mulai berbicara pada saat yg bersamaan. Diantara
keramaian,Revel menyadari bahwa papanya Ina sedang menatapnya, tetapi beliau tdk
berkata apa2.
"Selamat ulang tahun, Oom." Revel menyodorkan tangannya dgn pasti kepada papanya Ina
yg menyalaminya dgn agak ragu. Kemudian, "Ini kado dari kami berdua. Ina bilang oom
fansnya Presiden John F. Kennedy. Ini biografinya," lanjutnya sambil mempersembahkan
kado itu.
Calon bapak mertuanya ini langsung mengistirahatkan tongkat yg di genggamannya pada
pahanya dan meraih kado itu. "Saya memang fans beratnya Kennedy," ucapnya dgn suara g
terdengar serak sperti seseorang yg terlalu banyak merokok. Kemudian beliau meraih
kacamata baca dari saku kemejanya. Setelah memasang kacamata, beliau menarik pita
merah yg mengikat buku hard cover itu dan membuka2 halamannya yg penuh dgn foto2
Presiden Kennedy.
Revel mengalihkan perhatianna kepada Ina yg sedang tersenyum padanya dan Revel
menyalahkan hal ini kepada refleks, dia langsung menarik Ina dalam pelukannya.
"Terima kasih, ya." Kata2 papa Ina menarik perhatian Revel dari wajah Ina.
"Ina, kmu kenalin pacar kmu ini ke mama, dia ada di halaman belakang," ucapnya sbelum
kemudian perlahan2 berjalan menuju sekumpulan orang tua yg kemungkinan besar adalah
teman2nya.
Mereka baru saja akan beranjak mencari mam Ina ketika orang yg dicari muncul dgn langkah
yg sedikit tergesa2, rupanya seseorang telah memberitahunya tentang kedatangan Revel.
"Eeeehhhh... ada tamu selebriti rupanya," ucapnya dgn keras sambil berjalan menuju Revel.
Telingan Revel mungkin salah, tp dia bersumpah bahwa dia mendengar Ina menggeram,
"Oh, dear God, kill me now."
****
Mereka memang berencana hanya akan berada di acara ini selama 1jam saja, tetapi
ternyata 1jam berlanjut ke 2jam, kemudian 3jam, dan tanpa disadari Revel dan Ina, tamu2
sudah mulai berpamitan dan jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Selama 1jam pertama
Revel dibawa keliling ole Ina untuk diperkenalkan kepada anggota keluarganya. Tentu saja
Ina mulai dgn mengenalkannya kepada keluarga dekatnya. Kemudian Revel dikenalkan
kepada bukde, pakde, om , tante, dan sepupu2 Ina sbelum dia bisa ingat nama mereka, dia
sudah digeret oleh Gaby, keponakan Ina yg ternyata fans beratnya, yg dgn bangganya
memperkenalkannya kepada sepupu2nya.
Pada akhir jam pertama revel bisa menyimpulkan bahwa Ina tdk mengada-ada ketika
berkata bahwa keluarganya besar dan berisik. Mama Ina adalah nomor dua dari tujuh
bersaudara. Ditambah dgn anak2 mereka yg merupakan para sepupu Ina dan anak2 dari
para sepupu ini, rumah itu sudah sperti Woostock ramainya. Bagi seseorang yg merupakan
anak tunggal dan kedua orang tuanya yg berasal dr dua kaka-beradik saja, jumlah anggota
keluarga Ina membuat Revel agak2 terkesima.
Jam kedua dilalui Revel untuk melayani mereka yg ingin minta tanda tangan, foto bareng,
bahkan mencium dan memeluknya, tp kebanyakan dari mereka hanya menatapnya ingin
tahu dari kejauhan. Belum ada yg mengeroyoknya, tp itu mungkin karena Ina sudah
membisikkan ultimatum kepada keluarganya agar tdk melakukannya. Semakin lama dia
dikelilingi oleh keluarga besar yg menerimanya dgn tangan terbuka ini, semakin dia lupa

bahwa kehadirannya disini adalah hanya pura2 saja.


No comments:

Post a Comment