Thursday, September 24, 2015

NOVEL BIDADARI - BIDADARI SURGA - BAB 2



2

BULAN YANG TERBELAH

"HADIRIN yang kami hormati, tiba saatnya kita mengundang ke atas panggung, seseorang yang sudah kita tunggu-tunggu sejak tadi. Seseorang yang seolah-olah akan —maaf — membuat lima profesor sebelumnya terasa membosankan dan membuat mengantuk—"

Tertawa. Ruangan besar itu buncah oleh tawa.

".... Banyak sekali catatan hebat yang dimilikinya, tapi anehnya, meski banyak, sekarang kita sama sekali tak perlu menyebut satupun. Ah, bukan karena akan merepotkan membaca daftar super-panjang itu, tapi buat apa lagi, semua sudah hafal, bukan? Jadi buat siapapun di ruangan besar ini, siapapun di antara lima ratus peserta Simposium Fisika Intemasional ini yang tidak mengenal sosoknya. Yang, oh, betapa malangnya peserta itu—" Tertawa lagi.

"Buat peserta malang itu, saya akan memperkenalkan pembicara utama simposium kita hanya dengan memperlihatkan cover sebuah majalah: Science!" Dengan sedikit dramatis, moderator simposium fisika itu sengaja mengangkat tinggi-tinggi majatah yang dimaksud.

"Inilah jurnal ilmu-pengetahuan terkemuka di dunia. Yang memiliki reputasi paling hebat di antara sejenisnya. Lihatlah edisi bulan ini, edisi terbaru! Terpaksa menurunkan laporan tidak lazim, utuh sebanyak 49 halaman, hmm, itu bisa dibilang hampir seperempat tebal majalah ini.... Kenapa saya sebut tidak lazim? Karena laporan ini sungguh tak biasa bagi banyak ahli fisika yang kebanyakan sekuler. Apalagi untuk konsumsi publik di negara-negara Barat sana. Judul penelitiannya adalah: 'Pembuktian Tak Terbantahkan Bulan Yang Pernah Terbelah'. Kepala-kepala menyeruak. Berebut ingin melihat lebih jelas.

"Penelitian yang amat mengesankan, mengingat hari ini, ketika kehidupan sudah begitu tidak-pedulinya dengan fakta-fakta dalam agama, pembicara utama kita siang ini justru datang dengan sepuluh bukti bahwa bulan memang pernah terbelah 1.400 tahun silam dalam hasil penelitian mutakhirnya. Bukan main. Lengkap tak terbantahkan, sebagai salah satu mukjijat Nabi penutup jaman. Benar-benar terbelah dua seperti kalian sedang membelah semangka, bukan penampakan sihir, apalagi ilusi mata seperti yang dituduhkan dan dipahami banyak orang sejak dulu. Lantas setelah dibelah, dua potongan bulan tersebut disatukan kembali, seperti bulan yang biasa kita lihat sekarang. Itu benar-benar pernah terjadi!" Moderator itu berhenti sejenak. Membiarkan ruangan besar dipenuhi sensasi yang diinginkannya. Terpesona. Ingin tahu. Rasa kagum Sejenis itulah.

"Well, meski kalau dipikir-pikir sebenarnya pembuktian hebat atas bulan yang pernah terbelah itu tidak terlalu mengejutkan kita, bukan? Hanya soal waktu dia akan membuktikannya. Mengingat profesor muda kita adalah orang pertama di negeri ini yang berkali-kali menulis di jurnal paling prestisius dunia itu. Mendapat pengakuan dari berbagai institusi penelitian dunia, dan selalu konsisten berusaha membuktikan berbagai transkripsi dan sejarah religius dari sisi ilmiahnya...."
Muka-muka yang memadati ruang konvensi besar itu terlihat semakin bercahaya oleh antusiasme. Seperti anak kecil yang dijanjikan mainan baru. Atau seperti anak kecil yang melihat penuh rasa ingin tahu toples penuh gula-gula. Menunggu tak sabaran moderator yang terus ngoceh tentang fakta yang sebenamya mereka sudah tahu semua. Termasuk jurnal itu. Tadi pagi dibagikan gratis ke seluruh peserta.

".... Namanya terdaftar dalam 100 peneliti fisika paling berbakat di dunia. Dan tidak berlebihan jika mantan koleganya di Princenton University berandai-andai dia akan menjadi salah-satu kandidat kuat penerima nobel fisika beberapa tahun ke depan. Jadi buat peserta yang tidak sempat mengenalnya secara langsung, hari ini setelah enam bulan berusaha menculiknya dari jadwal laboratorium yang tidak masuk-akal, dari berbagai penelitian yang


serius, sistematis dan kaku... hari ini dengan bangga kami hadirkan sosok yang sebaliknya memiliki wajah dan kepribadian santun menyenangkan ini...." Gadis moderator itu tersenyum lebar, terlihat amat senang membuat seluruh peserta simposium menunggu tak sabaran kalimat-kalimat perkenalannya. Menikmati posisinya sebagai 'penguasa' jadwal acara.

"Ah-ya, soal wajah dan kepribadian yang santun menyenangkan? Kalian tahu, yang menarik ternyata bukan hanya wajah profesor ini yang terlihat santun menyenangkan. Well, di tengah kesibukannya sebagai peneliti, pakar, dan apalah namanya yang serba serius dan menuntut banyak waktu itu, profesor muda kita tetap hidup dengan segala romantisme bersama keluarga kecilnya. Lihatlah, hari ini dia datang dengan istrinya yang terlihat cantik, selamat siang Nyonya!" Muka-muka tertoleh. Penuh rasa ingin tahu. Mereka belum pernah melihat istri sang Profesor, meski dengan begitu banyak publisitas selama ini. Tersenyum. Wanita cantik berkerudung yang duduk di sebelah sang Profesor, baris kedua dari depan itu ikut balas tersenyum, layar LCD raksasa di depan plenary hall menayangkan paras cantiknya. Mengangguk anggun. Sedikit bersemu merah.

"Ada yang berminat mendengar kisah indah pertemuan mereka?" Moderator menyeringai lebar.
Hampir seluruh peserta simposium meski tertarik, menggdeng. Mereka jauh-jauh datang dari berbagai universitas ternama ke ruangan besar itu jelas-jelas ingin mendengarkan paparan mutakhir temuan fisika, bukan celoteh moderator.

"Baiklah karena kalian memaksa, maka dengan senang hati saya akan menceritakan bagian tersebut..."
Wajah-wajah terlipat. Gumam keberatan.

"Keluarga yang hebat meski tidak menyukai publisitas...."

"Masa kecil yang penuh perjuangan... kalian tahu, Profesor kita sudah membuat kincir air setinggi lima meter saat ia masih kanak-kanak...."
".... Perkenalan di kontes fisika, terpesona oleh kecantikan remaja... Profesor kita mengejar hingga ke Bandara, haha...."
Lima menit berlalu, peserta simposium mulai jengkel ".... Perkebunan strawberry yang indah...."
".... Masa kecil yang begitu mengesankan...."

Satu-dua peserta sengaja mulai berdehem (lebih keras).

".... Baik, baik." Akhirnya gadis di podium menyadari ruangan mulai gerah, tersenyum lebar tidak-sensitif, "Karena saya pikir kalian sedikit mulai tak-sabaran mendengar perkenalan yang sebenarnya amat penting dari saya, baiklah, hadirin, berikan sambutan yang paling meriah, inilah salah-satu profesor fisika termuda, ternama, yang pernah ada di negeri ini, profesor kebanggaan kita, Profesor Da-li-mun-te!"
Tepuk-tangan bak dikomando menggema bagai dengung lebah. Pemuda berumur 37 tahun itu tersenyum lebar.
Melepas genggaman mesra, berbisik lembut ke istrinya. Berdiri. Lantas melangkah sigap menuju podium. Dengan langkah panjang-panjang. Rambutnya tersisir rapi mengkilat. Matanya tajam memandang, Rahangnya kokoh. Eskpresi wajahnya meski santun menyenangkan seperti yang dibilang moderator cerewet itu, sebenamya terlihat keras mengiris, sisa gurat masa kecil yang tidak selalu beruntung.

Hari ini Profesor Dalimunte mengenakan kemeja krem. Rapi seperti biasa. Meski 'gelang karet' gaya anak muda di tangan kanan membuatnya terlihat lebih kasual, untuk tidak bilang sebenarnya sedikit tidak matching dengan busana rapinya. Gelang itu macam gelang karet yang bertulisan 'solidarity forever', 'united for all', 'long live friendship', yang sedang trend di anak muda.

Itu gelang pemberian Intan, putri sulungnya yang berumur sembilan tahun. Bertuliskan, 'Safe The Planet!' Minggu-minggu ini, Intan menjadi ketua panitia 'Earth Day' di sekolah.
Memaksa siapa saja mengenakan gelang itu. Satu gelang bernilai sumbangan 5.000 perak. Nanti uangnya buatbeli tong sampah yang bakal dikirim ke daerah-daerah korban bencana alam. Makanya Intan sibuk benar berpromosi. Termasuk ke Eyang Lainuri (malah seminggu lalu mengirimkan selusin gelang ke perkebunan strawberry buat tukang-tukang kebun); buat apa coba di pedalaman indah nan sederhana itu penduduknya pakai gelang? Ah, Intan memang keras kepala soal proyek "Safe The Planet" -nya, lihatlah satu gelang juga terpasang rapi di leher hamster belang miliknya, meski yang bayar lima ribu perak, ya Ummi.

Profesor Dalimunte memperbaiki speaker di atas podium. Pelan mengetuk-ngetuknya. Berdehem. Tepukan mereda. Peserta konvensi perlahan duduk kembali. Menatap antusias ke depan.

"Baik, pertama-tama, terima-kasih atas perkenalan yang hebat, panjang, dan superlengkapnya. Meski saya pikir kau agak berlebihan dengan menceritakan bagian romantisme pertemuan itu, Anne!"
Dalimunte menganggukan kepala kepada moderator, tersenyum,
"Tapi terima kasih atas sentuhan keluarganya: profesor muda kita tetap hidup dengan segala romantisme bersama keluarga kecilnya.... Anne, setidaknya dengan kalimat terakhir itu, kau membuatku terlihat sedikit lebih manusiawi. Bukan seperti daftar penelitian yang kulakukan sepanjang tahun: sistematis, serius, dan kaku. Ya, profesor fisika juga manusia biasa, bukan—"
Tertawa.
Ruangan besar itu ramai oleh tawa.

"Hadirin, sebelumnya maafkan saya untuk dua hal...." Profesor Dalimunte mengusap wajahnya yang sedikit berkeringat,
"Pertama karena saya hanya punya waktu lima belas menit untuk memenuhi segala keingintahuan kalian. Saya harap itu cukup setelah hampir enam bulan kalian menunggu kesempatan ini. Kalian tahu, ada banyak pekerjaan di laboratorium, belum lagi dengan segala tenggat waktunya. Di samping itu, kalian tahu persis, saya tidak terlalu menikmati dikelilingi puluhan wartawan dengan kameranya. Semua popularitas ini.... Jadi ijinkanlah saya untuk memulai langsung topik kita hari ini—"
Wajah-wajah terlihat semakin antusias. Tangan-tangan wibuk menggenggam pulpen bersiap mencatat. Takut benar ada fakta terucap yang terselip di ingatan dan lalai di catat takut benar terlihat sebagai orang paling bodoh dalam ruangan simposium fisika internasional tersebut. Ini lima belas menit yang penting.
".... Seperti yang telah kalian baca di jurnal tersebut bulan dibelah dua sudah menjadi fakta religius ratusan tahun silam. Salah-satu mukjijat Nabi penutup jaman. Ada banyak perdebatan, ada banyak penelitian yang justru mencoba membuktikan kalau itu semua keliru. Ternyata tidak. Keajaiban itu memang pernah terjadi! — Bagaimana mungkin ada satu potongan translasi religius yang keliru? Kitab suci keliru? Hadist yang salah? Sungguh lelucon yang tidak lucu. Itu tidak mungkin terjadi!"

Profesor Dalimunte dengan muka serius menunjuk slide gambar bulan terbelah dua di layar LCD raksasa depan ruangan.
"Tapi seperti yang saya bilang tadi, untuk kedua kalinya maafkan saya, karena hari ini saya memutuskan untuk tidak membicarakan penelitian yang sudah dimuat dengan baik oleh jurnal populer yang selama ini sekuler dan diskriminatif, 'Science'. Kalian bisa membaca sendiri seluruh buktinya di majalah tersebut, dan jika masih ada pertanyaan, kolega dan staf saya di laboratorium dengan senang hati membalas e-mail pertanyaan, pesan, ajakan diskusi, atau apapun dari kalian....Hari ini sesuai kesepakatan dengan panitia simposium lima menit setiba saya di sini, saya akan menyajikan pembuktian fakta religius penting lainnya. Bukan tentang bulan, tapi isu yang lebih besar. Lebih mendesak untuk disampaikan. Perubahan topik ini sebenarnya kabar baik bagi kalian, karena kalian akan menjadi orang pertama yang
mendengarkan progress penelitian terbaru kami: Badai Ekktromagnetik Antar Galaksi menjelang hari kiamat...."

Slide bergerak cepat. Sekarang memunculkan sebuah translasi kitab suci. Wajah-wajah dalam ruang besar nampaknya tidak terlalu keberatan dengan perubahan topik yang mendadak tersebut. Buru-buru mencoret judul catatan di atas kertas.

Profesor Dalimunte tersenyum lebar menatap sekitar dengan rileks. Lima ratus undangan. Lima ratus ahli fisika dari berbagai penjuru dunia. Meski tidak terlalu menyukai publisitas, dia amat terlatih untuk urusan mengendalikan massa seperti ini. Dulu dia belajar dari guru terbaiknya.
"Pernahkah dari kita bertanya tentang detail kabar tanda-tanda hari akhir? Hari kiamat? Membacanya? Mendengamya? Pasti pernah. Dan setidaknya bagi siapapun yang masih mempercayai janji hari akhir tersebut, maka tidak peduli dari kitab suci agama manapun, berita-berita tersebut boleh dibilang mirip satu sama lain... Ahya, maaf, saya tidak akan membahas soal mirip tidaknya, itu urusan pakar, ahli agama yang relevan. Biar mereka yang menjelaskan kalau sebenarnya kabar tersebut bersumber dari satu muasal. Penelitian fisika terbaru kami hanya bertujuan memaparkan fakta ilmiahnya—"

"Salah satu berita yang membuat kita tercengang adalah kabar peperangan besar, yang dikenal beberapa agama lain dengan sebutan Armageddon. Pertempuran hebat. Penyerbuan. Penguasaan wilayah.... Menarik. Amat menarik. Karena salah satu diantara kita mungkin pernah melipat dahi, bagaimana mungkin begitu banyak sumber dalam berbagai riwayat sahih terpercaya justru menyebutkan peperangan besar itu akan dilakukan dengan pedang, dengan tangan? Jika kalian berkesempatan membaca, maka akan menemukan berbagai translasi religius menulis begitu. Pertempuran satu lawan satu.... Nah, pertanyaan bodohnya adalah: lantas di mana teknologi nuklir hari ini? Di mana senjata pemusnah massal? Satelit? Senjata kimia? Bioteknologi?

"Bagi semua yang pemah mendengar cerita tentang tanda-tanda akhir jaman, bukankah seolah-olah masa itu kembali ke masa-masa pertempuran konvensional? Berita tentang ulat-ulat yang dikirimkan dari langit? Keluarnya dua pasukan jahat yang menghabiskan seluruh air sungai yang mereka lewati? Pepohonan yang menyembunyikan bangsa Yahudi— maaf jika ini terlalu detail—"

Dalimunte tersenyum, tapi heberapa peserta simposium yang datang dari sekutu negara bersangkutan tidak terlalu berkeberatan dengan kalimat itu, lebih asyik melihat layar LCD raksasa di depan.

"Kita semua tahu, translasi itu sama sekali tidak menyinggung soal senjata-senjata pemusnah massal. Nuklir misalnya! Ingat kasus Nagasaki dan Hiroshima, perang dunia ke-2. Dua kali tembak, selesai sudah! Bagaimana mungkin di akhir jaman nanti orang-orang seolah lupa menggunakan teknologi hebat itu? Apalagi hari kiamat mungkin baru terjadi ratusan tahun, atau ribuan tahun lagi. Kita tidak bisa membayangkan akan secanggih apa teknologi senjata saat itu? Jadi jika benar-benar terjadi Armageddon, apa susahnya melepas dua tiga rudal berhulu nuklir jutaan kiloton ke daerah musuh? Selesai sudah. Atau jangan-jangan dua tiga ratus tahun ke depan manusia malah sudah bisa membuat koloni pertama di Mars! Jangan-jangan maksud peperangan tersebut adalah peperangan antar planet. Jangan-jangan Ya'juj dan Ma'juj yang dikurung di suatu tempat oleh Dzulkarnen itu, yang hingga hari ini kita tidak tahu di mana lokasi tembok penjaranya justru datang dari planet lain. Masuk akal bukan—"

"Tetapi ternyata tidak. Terlepas dari bagaimana menafsirkan berbagai translasi religius ini, sepertinya kemungkinan-kemungkinan yang saya sebutkan tadi amat berlebihan, sejauh ini belum ada buktinya. Kabar peperangan besar tersebut sepertinya memang akan sesederhana itu. Benar-benar sesederhana itu. Saya menyimpulkan demikian: sesederhana itu... Maka, pertanyaannya jika semua teknologi senjata tadi tidak digunakan saat pertempuran akhir jaman, lantas ke manakah ilmu pengetahuan yang telah diakumulasi beratus-ratus tahun oleh
manusia? Apakah seolah-olah kemajuan ilmu pengetahuan seperti siklus naik turun? Apakah ketika hari kiamat tiba, peradaban manusia justru sedang kembali ke titik apaadanya?" Dalimunte diam sejenak. Menatap seluruh ruangan.

Mengesankan melihatnya membanjiri peserta simposium dengan berbagai pertanyaan, entah lima ratus peserta itu mengerti atau tidak. Terus menyajikan dengan cepat berbagai slide, termasuk pertanda dari berbagai kitab suci lainnya. Beberapa peserta simposium yang tidak terlalu mengerti transkripsi religius yang terpampang di layar raksasa LCD menandai besar-besar catatannya (berjanji dalam hati: nanti akan dicari tahu penjelasannya). Sama seperti dengan beberapa peserta yang tidak tahu, lupa, atau malah sama sekali tidak mengerti tentang mukjijat bulan terbelah oleh Nabi penutup jaman di majalah 'Science' sebelumnya.

Ruangan besar simposium fisika itu lengang, hanya suara pulpen menggores kertas yang terdengar.
"Apakah seolah-olah kemajuan ilmu pengetahuan seperti siklus naik turun? Hadirin, jawabannya adalah: Ya! Jika kita ibaratkan, maka peradaban manusia persis seperti roda. Terus berrputar. Naik turun. Mengikuti siklusnya. Ada suatu masa, ketika kemajuan ilmu pengetahuan mencapai puncaknya, manusia menguasai teknologi-teknologi hebat, lantas entah oleh apa, mungkin karena peperangan, bencana alam, atau karena entahlah, di masa-masa berikutnya kembali meluncur ke titik terendahnya.... Jika kita ingin berpikir sejenak, siapa bilang ribuan tahun silam manusia masih primitif? Masih boddoh? Tidak mengenal teknologi telepon selular? Internet? Penerbangan ke bulan, dan sebagainya?

"Ingat, disadari atau tidak, ada fakta religius yang tertulis indah di kitab suci: Salah seorang sahabat Nabi Sulaiman, maksud saya Solomon buat hadirin yang mengenalnya dengan nama itu. Saya garis bawahi, saat itu, seorang manusia, pernah bisa memindahkan dalam sekejap sepotong kursi dari satu titik ke titik lainnya yang berjarak ratusan kilometer sebelum mata sempat berkedip! Seorang manusia. Spektakuler! Anda tidak akan pernah menemukan kemampuan teknologi sehebat itu hari ini! Belum. Kita yang amat bangga dengan kemajuan peradaban, bahkan tidak bisa memindahkan fisik sebutir telur dengan apapun itu wahana dan caranya, kecuali di film-film, yang aktornya lantas seolah-olah ketinggalan kaki, tangan, atau telinga—" Dalimunte menyeringai.

Ruangan itu sejenak ramai oleh tawa.
".... Kita sejauh ini hanya bisa bangga dengan kode binari. Transfer data. Jaringan telekomunikasi. Internet dan sebagainya, Tapi tidak untuk teknologi memindahkan fisik sebuah benda. Lantas, bagaimana mungkin kita tidak mewarisi teknologi hebat sahabat Nabi Sulaiman tersebut setelah ribuan tahun berlalu? Bagaimana mungkin tidak ada penjelasannya dan kita sekadar mempercayai kalau itu kondisi luar biasa. Karomah. Keajaiban. Bukankah kepercayaan itu sebuah rasionalitas ilmiah? Seperti halnya bulan yang terbelah. Tentu saja ada penjelasan masuk akal atas transfer fisik kursi tersebut, harus ada penjelasan ilmiahnya, kita saja yang belum tahu. Atau mungkin tidak akan pemah tahu. Nah, masalahnya kenapa kita tidak mewarisi penjelasan penting tersebut? Jawabannya, mungkin saja karena peradaban, kemajuan teknologi itu persis seperti siklus naik turun. Masa-masa silam, masa-masa itu, manusia pernah menguasai berbagai teknologi hebat tersebut, malah mungkin pernah memiliki rumus sederhana seperti rumus phytagoras untuk menjelaskan bagaimana memindahkan kursi ke tempat lain. A kuadrat sama dengan B kuadrat plus C kuadrat. Tapi entah oleh apa ilmu pengetahuan itu kemudian musnah. Seperti roda yang berputar, peradaban manusia kembali lagi ke titik terendahnya....Analog dengan hal itu, dan akan dibuktikan dengan serangkaian penelitian ilmiah kami, jadi sama sekali tidak mengherankan jika saat dunia menjelang masa senjanya, kita juga akan kehilangan senjata-senjata hebat yang ada sekarang dalam pertempuran besar itu. Dan dunia kembali ke peperangan dengan tangan, dengan pedang. Peperangan konvensional. Itu benar-benar masuk akal. Itu sesuai dengan kabar dari berbagai translasi religius ini....Maka pertanyaan pentingnya sekarang adalah: oleh apa? Oleh apa kita akan kehilangan ilmu pengetahuan dan berbagai teknologi canggih tersebut? Kemana menguapnya akumulasi ilmu pengetahuan yang hebat itu? Inilah poin terpenting penelitian Badai Etektromagnetik Antar Galaksi yang akan menghantam planet ini sebelum hari kiamat. Yang membuat berbagai peralatan elektronik, listrik, dan kemajuan teknologi lainnya seolah 'membeku', tidak berfungsi lagi. Mati—"

Dalimunte sengaja berhenti mendadak. Sejenak. Tersenyum. Meraih gelas besar di hadapannya. Meminum seteguk - dua teguk. Membasahi kerongkongannya. Membiarkan rasa haus ingin tahu menggantung di langit-langit ruangan.

Tapi entah kenapa, saat semua peserta bersiap menunggu gagasan hebat, jawaban atas pertanyaan itu, menunggu penjelasan apa yang akan disampaikan profesor muda di depan mereka. Saat Dalimunte telah meletakkan kembali gelasnya. Kembali menunjuk slide yang terpampang di layar LCD raksasa. Bersiap menjelaskan progress penelitiannya. Dalimunte malah mendadak terdiam. Pelan menurunkan kembali tangannya yang memegang pointer layar LCD.
Telepon genggam di saku celananya mendadak bergetar. "Maaf, sebentar—"
Dalimunte tersenyum tanggung ke peserta simposium. Siapa? Menelan ludah. Ini ganjil sekali. Dia punya dua telepon genggam. Satu untuk urusan kampus, lab dan lain-lain, yang lazimnya dinonaktifkan dalam situasi simposium seperti ini. Satu lagi untuk urusan keluarga, yang selalu stand-by apapun alasannya. Hanya ada enam orang yang tahu nomor telepon genggam urusan keluarganya. Siapa?

Keliru. Bukan dari siapa tepatnya pertanyaan Dalimunte barusan. Namun: ada apa? Apa yang sedang terjadi? Wajah Dalimunte seketika mengeras, cemas.
Sedikit terburu-buru meraih telepon genggam. SMS. Kenapa harus dengan SMS? Jika penting bukankah bisa langsung menelepon? Itu berarti Mamak Lainuri yang mengirimkan. Mamak tak pandai benar berbicara lewat HP, selalu merasa aneh. Setetah terdiam sejenak menatap layar HP, Dalimunte gemetar menekan tombol open. SMS itu terbuka. Gagap membaca kalimatnya. Menggigit bibir. Menyeka dahi yang berkeringat. Terdiam lagi satu detik. Dua detik. Lima detik. Lantas dengan suara amat lemah berkata pendek di depan speaker.

"Maaf. Cukup sampai di sini— "

Kalimat yang membuat seluruh ruangan simposium itu riuh. Seketika.
Gaduh. Seruan-seruan kecewa. Dalimunte sudah turun dari podium. Tidak peduli kalau Anne, si moderator yang cerewet buru-buru bangkit dari kursinya, mendekat, coba bertanya apa yang sedang terjadi. Tidak peduli beberapa koleganya juga ikut mendekat, ingin tahu. Tidak peduli dengung suara lebah. Apalagi kilau blitz kamera wartawan yang sejak tadi rakus membungkus tubuhnya. Tidak peduli. Dalam hitungan detik Dalimunte sudah menggenggam tangan istrinya yang berkerudung biru. Berbisik dengan suara bergetar. Lantas melangkah keluar dari ruangan. Bergegas.


Meninggalkan berlarik tanya dari lima ratus peserta simposium internasional fisika itu. Bagaimana dengan gelombang elektromagnetik tadi?


No comments:

Post a Comment