Saturday, September 26, 2015

NOVEL BIDADARI - BIDADARI SURGA - BAB 25


25
KAU TIDAK HARUS MENUNGGU

TETAPI DALIMUNTE kali ini memutuskan untuk bebal.

Dalimunte tidak mendengarkan kata-kata Kak Laisa. Dalimunte benar-benar membuat Cie Hui menunggu lama, terlalu lama malah. Tujuh tahun berlalu. Dan dia belum juga mengatakan perasaan itu. Meski hampir setiap pulang ke Lembah Lahambay, Cie Hui ikut serta. Bahkan gadis keturunan yang sekarang sudah berkerudung itu sudah dianggap Mamak menjadi anggota keluarga.

Lulus dari institut teknologi ternama itu, Dalimunte melanjutkan sekolah di universitas terbaik di Amerika. Mendapatkan beasiswa selama tiga tahun untuk menyelesaikan jenjang doktor ilmu fisikanya. Masa-masa itu bahkan Cie Hui lebih banyak lagi menghabiskan waktu di perkebunan strawberry. Menginap lama di sana. Ikut membantu Kak Laisa dan Mamak mengurus kebun. Dua tahun sejak pulang dari Amerika, dan memutuskan bekerja di laboratorium institut teknologi ternama, Dalimunte tetap tak kunjung mengatakan perasaannya. Cie Hui hanya bilang,

"Kami hanya teman biasa, Mak!" setiap kali Mamak atau Yashinta bertanya kapan. "Apa sebenarnya yang kau tunggu, Dali?"
Itu juga pertanyaan berkali-kali yang disampaikan Kak Laisa setiap dua bulan jadwal Dalimunte dan yang lain pulang ke lembah. Dan Dalimunte hanya diam, tidak menjawab.

Tentu saja Dalimunte amat menyukai Cie Hui. Cinta pertamanya. Tetapi urusan ini tidak mudah. Pelik. Dia sungguh tidak akan pernah bisa mengambil keputusan sepenting itu sebelum Kak Laisa menikah. Tabu sekali di lembah itu jika ada adik yang mendahului kakaknya menikah. Melintas. Akan menjadi gunjingan seumur hidup.
"Kau tidak harus menunggu aku, Dali!"

Laisa menggenggam erat lengan Dalimunte. Malam itu, malam yang kesekian mereka berdiri di lereng lembah, menatap bintang-gemintang. Di antara ribuan polybag strawberry. Malam itu, umur Kak Laisa sudah tiga puluh tiga tahun, Dalimunte dua puluh tujuh. Janji kehidupan yang lebih baik di luar lembah sudah sepenuhnya tiba. Dan kehidupan di lembah sendiri sudah jauh lebih baik dibandingkan masa kanak-kanak mereka.

Mereka selepas isya tadi, habis melakukan syukuran besar di rumah. Lulusnya Ikanuri dan Wibisana. Akhirnya, dua sigung nakal itu menyelesaikan kuliahnya. Warga kampung berkumpul. Tidak ada lagi wajah-wajah suram habis bekerja seharian, pakaian seadanya, dan semacam itu seperti mereka sering berkumpul di balai kampung dulu. Kehidupan di lembah jauh lebih baik sekarang.

"Kami lulus sarjana saja itu sudah menjadi keajaiban dunia ke delapan dan ke sembilan. Jadi jangan paksa kami untuk ambil S2 seperti Dalimunte — "
Ikanuri tertawa saat Kak Laisa menyuruh mereka melanjutkan sekolah lagi. Dan itu benar, beberapa minggu kemudian dari kelulusan universitas kota provinsi, dua sigung itu lebih memilih sibuk dengan hobi kecil mereka dulu. Membongkar-bongkar mesin mobil. Mereka sekarang punya bengkel besar di kota provinsi. Kak Laisa yang memberikan modal.
Sementara Yashinta benar-benar tumbuh menjadi gadis yang menawan. Cantik luar biasa. Umurnya sekarang dua puluh. Tahun kedua di jurusan Biologi universitas ibukota. Malam ini ia jug a pulang. Lihatlah, Yashinta, dengan rambut tergerai panjang, mata hitam indah dan tubuh tinggi semampai, terlihat seperti bidadari di rumah panggung itu. Amat kontras dengan Kak Laisa. Gadis itu juga tumbuh dengan pemahaman yang baik atas hidup. Mencintai kehidupan sekitar.Menghabiskan waktu dengan kegiatan mendaki gunung, menyelami lautan, konservasi alam. Setiap kali ia pulang, itu saja dengan berhari-hari menghabiskan waktu di hutan rimba dekat lembah. Menginventarisir satwa di dalamnya. Hasil jepretan kameranya sudah ribuan lembar. Yashinta amat atletis untuk urusan ini. Ia bahkan dua kali lebih atletis dibanding Kak Laisa.

"Kau tidak harus menunggu aku, Dali—"

Kak Laisa menghela nafas panjang. Mengulang kalimatnya. Memecah lenyap. Mendekap pinggang Dalimunte yang tiga jengkal lebih tinggi darinya.
Dalimunte hanya menunduk, menelan ludah. Bagaimanalah? Dulu Kak Laisa bahkan tega mempermalukan diri sendiri agar adik-adiknya tidak mendapat malu. Kak Laisa bekerja-keras di masa kecilnya demi adik-adiknya. Bagaimanalah dia sekarang sampai hati mendahului Kak Laisa? Justru mempermalukan Kak Laisa? Itu akan jadi aib besar di lembah. Belum menikah di usia tiga puluh tiga tahun saja cukup sudah membuat tetangga banyak bertanya, apalagi jika adik-adiknya melintas.

"Kau sudah cukup umur Dali. Punya pekerjaan hebat di ibukota. Cie Hui amat menyukaimu. Kau tahu, selama ini ia bahkan lebih banyak menghabiskan waktu di sini dibandingkan di rumah orang tuanya di kota kecamatan, bukan?" Tertawa.

Dalimunte ikut tertawa kecil. Semerbak wangi perkebunan di malam hari menyergap ujung hidung. Malam sudah amat larut. Pukul dua pagi. Dia selalu menemani Kak Laisa menghabiskan malam setiap kali pulang ke lembah. Menatap pemandangan lembah yang indah. Dulu waktu mereka kecil, Kak Laisa juga suka melakukannya. Dan Dalimunte tahu persis itu.

Dulu Kak Laisa menghabiskan malam dengan berpikir tentang sekolah adik-adiknya. Bagaimana mencari uang agar adik-adiknya tidak putus sekolah. Membantu Mamak yang setiap hari terpanggang matahari di ladang. Sekarang? Dalimunte menghela nafas pelan, Kak Laisa tidak pernah sekalipun mendapat bagian untuk merasakan bahagia dalam hidupnya. Apa yang sekarang Kak Laisa pikirkan? Usianya? Kesendiriannya?
"Berjanjilah kau tidak akan membuat Cie Hui menunggu lebih lama lagi. Berjanjilah, Dali—" Suara Kak Laisa kembali memecah sepi.Dalimunte hanya menatap senyap hamparan kebun strawberry. Urung menanyakan hal penting tersebut.

Mobil jemputan kedua tiba di Lembah Lahambay. Juwita dan Delima berteriak-teriak ribut saat turun. Bertengkar soal sepeda BMX mereka. Ummi mereka berdua menghela nafas, berusaha melerai. Kehabisan akal. Gara-garanya sepele, mereka bertengkar soal sepeda siapa yang duluan harus diturunkan. Tetangga yang sedang berkumpul di beranda rumah panggung berkerumun, ikut bingung mencari solusinya.
"Lihat, lihat, Bak Wo Jogar turunkan dua-duanya serempak. Satu-dua-tiga-..."
Bang Jogar tertawa, tangan kekarnya mengangkat kedua sepeda itu sekaligus dari atas mobil, ikut berseru meningkahi seruan kedua sigung kecil tersebut. "Nah, adil, kan?"

Juwita dan Delima hanya nyengir. Bilang terima kasih (setelah dicubit Ummi masing-masing). Mendorong masuk sepeda mereka ke garasi, sebelah rumah.
Mereka lagi-lagi berisik saat naik ke rumah panggung. Ribut soal siapa yang duluan salaman dengan Eyang Lainuri dan Wawak Laisa. Saling dorong saat masuk kamar. Tidak mempedulikan tatapan tetangga yang sedang mengaji yasin. Tetapi dua sigung kecil itu seketika terdiam saat melihat ke dalam kamar. Melihat infus, belalai, dan peralatan medis
lainnya.

Menelan ludah. Benar-benar terdiam.
Juwita dan Delima malah takut-takut melangkah masuk. Menatap sekitar penuh tanda-tanya. Aduh, kenapa jadi begini? Kalau begini mana ada coba acara keliling perkebunan pakai sepeda BMX. Balapan dengan Wawak Laisa? Lupa dengan pertengkaran mereka barusan. Siapa yang lebih dulu menyalami Wak Laisa?
Wak Laisa sedang tidur.

Jatuh tertidur saat Dalimunte menceritakan penelitian Elektromagnetik Antar Galaksi satu jam lalu. Ia awalnya berusaha mendengarkan dengan sungguh-sungguh, berusaha untuk mengerti apa yang sedang dijelaskan Dalimunte, tapi fisiknya semakin lemah, konsentrasinya menghilang, Laisa akhirnya jatuh tertidur.
Sementara Cie Hui memijat kaki Mamak yang juga rebahan di kursi panjang dekat ranjang. Mamak juga lelah setelah hampir seminggu senantiasa terjaga menemani Kak Laisa. Intan masih duduk di atas ranjang, sebelah Wak Laisa. Menatap wajah wawak-nya yang meski pucat pasi, begitu tenang dalam tidumya.
Dalimunte menyalami Jasmine dan Wulan. Menyilahkan mereka mendekat ke ranjang besar tersebut. Bang Jogar menyuruh beberapa pemuda tanggung membawa plastik tambahan masuk. Dokter memeriksa ulang panel panel peralatan. Suster menyiapkan beberapa suntikan dan obat.
"Apakah Kak Lais akan baik-baik saja?" Wulan sambll mendekap kepala Juwita (yang mendadak alim) bertanya lirih.
"Aku tidak tahu—" Dalimunte menelan ludah.

"Apakah Kak Lais akan baik-baik saja?" Jasmine mengulang pertanyaan serupa. Lebih lirih. Menggigit bibir.
Dalimunte menggeleng. Hening sejenak.

"Ikanuri dan Wibisana sudah di Paris, tadi sempat telepon—" Dalimunte mengangguk. Memberikan kursi.


Sementara Intan pelan melambaikan tangannya ke Juwita dan Delima agar mendekat, duduk bertiga di atas ranjang besar Wak Laisa. Ketiga gadis kecil itu, malam ini untuk pertama kalinya rukun. Mana pernah coba Intan mau memberikan posisi duduk ke adik-adiknya, selama ini yang ada juga Intan galak mengusir mereka jauh-jauh!



NOVEL BIDADARI - BIDADARI SURGA - BAB 26

No comments:

Post a Comment