Saturday, September 26, 2015

NOVEL BIDADARI - BIDADARI SURGA - BAB 26


26 MELINTAS

WAKTU BERLALU. Dan urusan Dalimunte-Cie Hui berubah serius sekali. Jika Dalimunte bisa keukeuh bertahan menunggu Kak Laisa menikah bertahun-tahun lagi, tapi ada yang tidak bisa. Cie Hui.

Enam bulan selepas syukuran syukuran Ikanuri dan Wibisana, Cie Hui datang ke perkebunan strawberry sambil menangis. Bersimpuh di pangkuan Mamak dan Kak Laisa. Perjodohan. Keluarga Cie Hui di kota kecamatan memutuskan untuk menjodohkan Cie Hui dengan kerabat mereka di China.
Benar-benar rusuh perkebunan itu.
"Aku sudah bilang, Kak Lais.... Aku sudah bilang ke Dalimunte. Tapi, tapi ia tetap tidak bisa mengambil keputusan...."
Gadis manis berkerudung lembut itu menangis di pangkuan Kak Laisa.

"Ayah memaksaku menikah segera. Kak Lais tahu, di keluarga kami tidak ada anak gadis yang belum menikah hingga usiaku. Ayah memaksaku memilih.... Jika Dalimunte tidak ingin menikah denganku.... Jika Dalimunte tidak—" Cie Hui terisak mengadu.
Siang itu juga Kak Laisa menyuruh Dalimunte pulang ke Lembah Lahambay. Meneleponnya langsungke laboratorium,

"Kau naik pesawat pertama dari sana, DALI! Malam ini juga kau sudah harus tiba di perkebunan strawberry! KAU DENGAR?"
Sudah lama Kak Laisa tidak berkata setegas itu di hadapan adik-adiknya. Apalagi kepada Dalimunte yang sejak kecil menurut. Perintah itu juga menyebar ke yang lain. Karena Cie Hui sudah dianggap seperti anggota keluarga di rumah panggung itu, Yashinta juga ikut pulang dari kota provinsi. Juga Ikanuri dan Wibisana. Semua berkumpul.

Ruang depan yang dulunya dipakai Dalimunte, Ikanuri dan Wibisana tidur beralaskan tikar pandan itu senyap. Malam itu, hujan gerimis membasuh lembah. Dalimunte yang terakhir tiba di rumah, dan langsung diajak bicara. Yang lain sudah menunggu sejak sore tadi. Cie Hui masih menenangkan diri di kamar. Tadi sore, utusan keluarganya dari kota kecamatan memaksa pulang. Hanya karena Kak Laisa bilang,

"Semua akan baik-baik saja! Bilang ke Kokoh, tunggu hingga malam ini berakhir." Kerabat Cie Hui mengalah.
Mereka tertunduk. Pelan menghela nafas. Kak Laisa menatap wajah adik-adiknya satu persatu. Lamat-lamat.
"Kakak tidak pernah meminta kalian menunggu. Tidak pernah,"

Kak Laisa memecah senyap. Ini kali pertama mereka membicarakan masalah yang super-sensitif tersebut bersama-sama.
"Dalimunte, kau sudah dua puluh delapan. Wibisana hampir duapuluh enam, Ikanuri dua puluh lima, dan Yashinta dua puluh dua. Kalian sudah tumbuh begitu dewasa. Tampan dan cantik. Seperti yang Kakak impi-impikan, kalian tumbuh dan memiliki kesempatan lebih besar dibandingkan lembah ini. Tidak menghabiskan hidup hanya menjadi pencari kumbang dan damar di rimba"
Suara Kak Laisa bergetar, membuat yang lain semakin tertunduk.
Di luar gerimis mulai menderas. Suara bilur air hujan membasuh rumput, genteng, bebatuan terdengar sakral menyenangkan.
" Kalian sudah cukup umur untuk mengambil kesempatan berikutnya. Sudah lebih dari cukup umur untuk menikah. Apa lagi yang kalian tunggu? Dali, bahkan Kakak sudah bilang enam tahun lalu agar kau tidak membuat Cie Hui menunggu terlalu lama—"
Dalimunte menelan ludah.

"Kau tidak perlu menunggu Kakak.... Sungguh. Sama sekali tidak perlu. Kelahiran, kematian, jodoh semua sudah ditentukan. Masing-masing memiliki jadwal. Giliran—"
"Aku tidak akan menikah sebelum Kakak menikah." Dalimunte memotong, dengan suara pelan tertahan. "Kau tidak perlu menunggu Kakak Dali!"

Kak Laisa Berkata tegas. Menatap tajam Dalimunte. "Aku tidak akan menikah—"
"Dengarkan Kakak bicara, Dali!" Kak Laisa menatap tajam.

Dalimunte tertunduk dalam-dalam. Ikanuri dan Wibisana mengusap wajahnya. Yashinta memeluk Mamak, matanya mulai berair.
"Buat apa kau memikirkan apa yang dipikirkan orang atas pernikahan kau. Buat apa kau memikirkan apa yang dipikirkan orang atas Kakak-mu. Buat apa kau memikirkan kekhawatiran, rasa cemas, yang sejatinya mungkin tidak pernah ada. Hanya perasan-perasaan. Lihatlah, Kakak baik-baik saja."
Dalimunte menyeka ujung-ujung mata. Itulah masalahnya, semua terlihat baik-baik saja. Bahkan sejak kecil dulu Kak Laisa selalu berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan adik-adiknya. Memutuskan berhenti sekolah demi mereka sekolah. Bekerja keras. Dan semuanya tetap baik-baik saja.
"Jangan paksa Dali menikah.... Jangan paksa Dali...."

"Tidak ada yang memaksamu! TIDAK ADA! Tapi jika kau tetap keras kepala, kau akan kehilangan Cie Hui selamanya. Kau mencintainya, Cie Hui juga amat mencintai kau dan keluarga kita! Kau akan membuat semuanya binasa dengan segala kekeras-kepalaan dan omong-kosong melintas itu..." Kak Laisa berkata serak.
"Dali tidak akan menikah sebelum —" "Kau jangan membantah kakak, ALI!"

Suara Laisa yang meninggi tersedak diujungnya. Bergetar. Tubuhnya menggigil menahan sesak perasaan. Ya Allah, ia sungguh tidak pernah sampai hati membentak adik-adiknya,...

Yashinta sudah menangis sambil memeluk Mamak. Malam itu pembicaraan tersebut berakhir sia-sia.

Dalimunte tetap tak kuasa mengambil keputusan. Dia terlalu menghargai Kak Laisa. Mengalahkan akal sehat atas pendidikan hebat yang diterimanya selama ini Kak Laisa sudah melakukan banyak hal untuk mereka, jadi amat tidak adil jika dia mempermalukan Kak Laisa dengan melintas. Malam itu, saat hujan menderas, Cie Hui menangis menuruni anak tangga. Keluar dari kamamya. Berlari menerabas hujan. Amat mengharukan melihatnya. Sementara Dalimunte hanya tertunduk diam seribu bahasa. Ikanuri dan Wibisana mengantar Cie Hui pulang ke kota kecamatan. Tidak ada. Harapan itu benar-benar sirna. Perjodohan itu akan terjadi. Malam itu, di antara suara guntur menggelegar, Cie Hui kembali ke kota kecamatan membawa pusara hatinya. Menyisakan senyap di ruang depan rumah panggung.

Mamak akhirnya tak kuasa menahan tangis. Itu tangisan pertama sejak Babak dulu meninggal. Memeluk Kak Laisa dan Yashinta erat-erat. Mamak tahu. Tahu betapa Kak Laisa menanggung separuh beban keluarga ini sejak kecil. Menciumi wajah Kak Laisa (yang matanya juga berkaca-kaca).

NOVEL BIDADARI - BIDADARI SURGA - BAB 27

No comments:

Post a Comment