Wednesday, September 30, 2015

SLEEP WITH THE DEVIL - SANTHY AGATHA - BAB 1


BAB 1

Suasana yang hingar bingar membuat Lana mengeryitkan matanya. Dia tidak suka suasana ramai dan menyesakkan seperti ini. Dia merindukan kamarnya, kamar tenang yang damai, tempat dia bisa duduk dan membaca sambil mendengarkan musik sayup-sayup.

Tapi musik yang sangat keras ini hampir melampaui batas toleransinya, ingin rasanya dia pergi dari tempat ini, tapi dia tidak bisa. Lelaki itu, lelaki jahat itu –
menurut sumber yang
dia dengar akan datang ke tempat ini beberapa saat lagi.

Lana mencoba menarik turun rok hitam pendeknya yang mulai terasa tidak nyaman. Seragam waitress ini amat sangat tidak nyaman, dengan belahan dada yang begitu rendah dan rok yang begitu pendek, Lana seperti dipaksa menyamar menjadi orang yang tidak dikenalnya. Tetapi bukankah itu memang tujuannya? Dia tidak ingin lelaki itu mengenalnya, meskipun hal itu sepertinya tidak perlu
ditakutkannya. Mereka hanya pernah bertemu satu kali, pada pertemuan singkat yang tak disengaja, saat lelaki itu menemui ayahnya di ruang kerjanya. Saat itu penampilan
Lana tidak seperti sekarang, rambutnya masih panjang dengan kacamata berbingkai tebal membingkai wajahnya, bajunya tertutup dan sopan, beda sekali dengan sekarang.

Lana mengernyitkan matanya lagi, Aku benar-benar berpenampilan seperti perempuan murahan, desahnya.

Suara berisik dari arah pintu masuk mengalihkan perhatian Lana, matanya mencari-cari dan itu dia! Lelaki itu ada di sana, dengan kedatangannya yang begitu heboh dikelilingi banyak sekali bodyguard berbadan kekar. Tanpa sadar Lana mendengus, yah karena dia lelaki jahat yang suka menyakiti orang, dia pasti punya banyak musuh yang ingin membunuhnya.

Dengan penasaran Lana menjinjitkan kakinya, berusaha
melihat dengan jelas sosok lelaki itu, Mikail Raveno. Sosok
yang ditakuti dalam dunia bisnis karena tidak segan-segan menggilas siapapun yang menghalangi jalannya. Siapapun yang berani melawan Mikail Raveno, akan berakhir dalam
tragedi. Seperti ayahnya, seperti seluruh keluarganya. Desah
Lana pahit.

Dulu keluarga Lana adalah keluarga berada, ayahnya adalah seorang pengusaha sukses di bidang konversi kelapa sawit. Kebun mereka ada berhektar-hektar di luar pulau, dan mereka sangat kaya. Bagi Lana keluarga mereka adalah keluarga bahagia, meskipun ibunya adalah wanita lemah
yang sakit-sakitan, tapi selain itu dia adalah ibu yang
sempurna.

Pikiran Lana menerawang di saat-saat bahagia itu, saat dia, ayahnya dan ibunya berkumpul bersama di meja makan, menyantap sarapan pagi bersama ayah dan ibunya yang
penuh cinta. Ayahnya akan bercerita tentang pengalamanpengalaman
dalam perjalanan bisnisnya, dan ibunya akan
menatap sang ayah dengan tatapan memuja. Semua terasa begitu bahagia, semua terasa begitu sempurna.

Sampai kemudian Mikail Raveno datang dalam kehidupan mereka. Mikail Raveno tertarik dengan perkembangan pesat bisnis ayah Lana dan berpikiran untuk menjalin suatu hubungan kerjasama. Pada awalnya, ayahnya tidak tertarik, dia sudah cukup puas dengan bisnis yang dijalankannya sendiri. Tapi Mikail tidak menyerah, dengan berbagai cara dia berusaha mendekati ayahnya. Dan entah kenapa
ayahnya akhirnya menyerah ke dalam kuasa Mikail Raveno,
ke dalam kuasa iblis kegelapan yang ketika mencengkeram tidak akan melepaskannya lagi.

Mikail menghancurkan keluarganya secara harfiah, entah kenapa kepemilikan ayahnya atas bisnis itu dimentahkan begitu saja, semuanya diambil oleh Mikail dan dikendalikan di bawah tangannya. Ayahnya tidak punya hak apa-apa lagi selain jatah bulanan untuknya dan keluarganya.

Keluarga Lana jatuh miskin seketika. Rumah mewah mereka disita paksa, mereka harus pindah ke rumah mungil sederhana. Mereka berusaha memenuhi kebutuhan sendiri, tanpa pelayan-pelayan yang biasanya selalu siap sedia melayani kebutuhan mereka.

Lana kuat menanggung itu semua, tetapi ibunya tidak.
Ibunya dari kecil terbiasa bergelimang kekayaan, seperti putri raja. Sampai menikah dengan ayahnyapun, ayahnya terbiasa memperlakukannya seperti Ratu dengan banyak pelayan
yang mengelilinginya. Ibunya sudah hancur ketika dipaksa memasak sendiri dengan tangannya yang rapuh dan tidak
terampil itu – karena tidak pernah memasak seumur hidupnya. Dan makin hancur ketika mereka makin miskin, makin menderita. Akhirnya penderitaan itu tak tertanggungkan lagi bagi ibunya, dia mulai sakit-sakitan… semakin kurus, semakin sering menangis di malam-malam sepi. Lalu suatu pagi, ibunya meninggal begitu saja.

Lana masih ingat ketika dia berdiri di samping ayahnya yang membeku menatap wajah ibunya yang kurus dan pucat. Ekspresinya seperti tertidur, dan merasa sedih karena menyadari kenyataan bahwa ibunya mungkin lebih bahagia sekarang setelah meninggal dunia.
Sepeninggal ibunya, Ayahnya hancur. Hancur total. Dia mulai mabuk-mabukan, kadang berteriak-teriak dan menangis sendirian di malam-malam sepi. Hingga pada suatu hari, ayahnya mengendarai mobil mereka, satu-satunya harta
mereka yang masih tersisa, dan menabrakkan diri pada tembok pembatas jalan hingga mobil itu terguling beberapa kali. Ayahnya tewas seketika di tempat. Polisi mengatakan bahwa kandungan alkohol di darah ayahnya sangat tinggi, hingga dapat dikatakan, ayahnyalah yang membunuh dirinya sendiri.

Lana menjadi sebatang kara dan rasa dendam yang terpendam dalam hatinya makin menyeruak setelah
kematian kedua orang tuanya. Semua ini berakar dari Mikail Raveno. Sejak lelaki itu muncul di keluarganya, semuanya hancur dan musnah. Lana harus membalas dendam, dengan
cara apapun, untuk membalaskan kesedihan ibunya, dan kematian sia-sia ayahnya.

Sejak itu, dia menyelidiki semua hal tentang Mikail Raveno, di mana dia tinggal, bagaimana jadwalnya, apa
kesukaannya. Semua informasi itu dikumpulkannya baik-baik dan disusunnya. Ketika Lana mendapat informasi, bahwa
Mikail sering menghabiskan waktunya dengan kekasihkekasihnya di klub kelas atas ini, Klub Azalea. Tanpa pikir
panjang, Lana meninggalkan pekerjaannya sebagai guru di taman kanak-kanak, pindah dari tempat tinggalnya dan melamar sebagai waitress di sini.

Semua butuh pengorbanan, Lana menyadari bahwa pembalasan dendam butuh pengorbanan besar. Seperti
ketika dia harus berdandan sebagai wanita murahan dengan rok mini dan baju seksi. Kadang malam demi malam harus menahan diri dari siksaan kegaduhan dan hingar bingar musik, ataupun harus menahan hati karena banyaknya lelaki lelaki genit yang selalu berpikir bahwa dia wanita murahan yang bisa dibeli. Semua butuh pengorbanan, mahal
harganya. Tapi Lana merasa itu akan sebanding dengan kepuasan yang akan dia dapatkan nanti. Kepuasan untuk membunuh lelaki itu dalam siksaan menyakitkan, seperti yang dilakukan lelaki itu pada ayah dan ibunya.

Dia sudah mengoleskan racun yang tidak akan terdeteksi, di dasar gelas yang sudah disiapkan khusus untuk Mikail
Raveno malam ini. Mikail Raveno tidak mau menggunakan gelas yang sama dengan orang lain. Gelasnya ekslusif,
khusus hanya dipakai dirinya, dan tadi siang ketika berpurapura membersihkan bar, Lana menyelinap ke tempat
penyimpanan khusus itu dan mengoleskan racun yang tidak terdeteksi ke gelas tersebut. Seteguk saja minuman dari
gelas yg sudah diolesi racun itu ditelan oleh Mikail Raveno, maka seluruh dendamnya akan terbalaskan.

***

Mikail Raveno merasa muram malam ini. Entah kenapa, dia sedang ingin menghajar seseorang, atau kalau perlu, membunuh seseorang. Malam ini dia datang ke klub bukan untuk bersenang-senang, tetapi untuk mencari masalah. Dengan dikelilingi para bodyguard yang selalu siap menjaganya, meskipun sebenarnya tidak perlu, karena Mikail menguasai beberapa keahlian bela diri. Tetapi ketika kau punya uang banyak, memang lebih baik jika kau membiarkan orang lain melakukan segala sesuatunya untukmu.

Pemilik Klub sendiri yang menyambutnya. Tentu saja, mengingat betapa besar hutangnya kepada Mikail. Dengan tergopoh-gopoh lelaki gendut itu menggiringnya ke kursi VIP terbaik.
“Anda bisa memilih siapapun untuk menemani Anda,”

gumam si pemilik Klub dengan nada menjilat.

Mikail menatap ke sekeliling dengan tak berminat, menatap semua perempuan di sana yang hampir-hampir seperti
semut mengelilinginya, dengan tatapan berharap untuk
dipilih. Terlalu murahan, gumamnya dalam hati. Semua manusia di dunia ini murahan dan penjilat.

Mikail memutuskan tidak memilih siapapun, ketika tatapan matanya terpaku pada perempuan itu. Perempuan yang
tampak salah tempat di klub malam mewah ini. Mengenakan baju luar biasa seksi, tetapi tampak tidak nyaman di dalamnya.

Tanpa sadar seulas senyum jahat muncul di bibirnya, “Aku mau dia,” gumamnya sambil menunjuk perempuan itu.
***

“Aku mau dia.”

Kalimat itu diucapkan dengan nada malas yang tenang,
tetapi gaungnya terdengar ke seluruh ruangan. Entah kenapa suasana hiruk pikuk itu menjadi hening. Dan Lana
merasakan semua tatapan tertuju padanya. Pada dirinya
yang sedang bersandar di meja bar, sibuk dengan pikirannya
sendiri.

Dengan gugup Lana menegakkan tubuhnya, berusaha
membalas tatapan mata semua orang, lalu matanya terpaku pada mata itu. Mata cokelat pucat sehingga nyaris bening, menyebabkan pupil matanya tampak begitu hitam dan tajam.
“Cepat kesana. Dia menginginkanmu,” sang bartender yang

berdiri di belakangnya berbisik kepadanya, seolah takut
kalau Lana tidak cepat-cepat menuruti keinginan Mikail, akan berakibat fatal.

Lana mengernyit pada Mikail, mencoba menantang mata
laki-laki itu, yang masih menatapnya dengan begitu tajam tanpa ekspresi.

“Apakah… apakah..” Lana berdehem karena suaranya begitu serak, “Apakah Anda ingin dibawakan minuman?”

Mikail hanya menatapnya beberapa saat yang menegangkan, lalu menganggukkan kepalanya.

“Bawakan satu, minumanku yang biasa”

Secepat kilat sang bartender meracik minuman kesukaan Mikail, minuman yang biasa. Tangan Lana gemetar ketika menerima nampan minuman itu. Sedikit lagi Lana….., gumamnya mencoba menyemangati dirinya sendiri. Sedikit lagi semua dendammu akan terbalaskan…… sedikit lagi….

Lana mengucapkan kata-kata itu bagaikan doa, dengan langkah gemetar dia mendekati Mikail yang duduk bagaikan sang raja, menunggunya.

Diletakkannya gelas itu di meja depan Mikail,

Semoga kau lekas meminumnya dan lekas mati. Doa Lana dalam hati.

Tetapi sepertinya Tuhan masih menginginkan Mikail hidup, karena lelaki itu terlihat tidak tertarik untuk menyentuh minumannya.


Matanya malahan tertuju pada Lana dan memandangnya tajam.

“Duduk.” Mikail menjentikkan jarinya. Melirik tempat di sebelahnya.

Sekujur tubuh Lana mengejang menerima perintah yang begitu arogan. Tanpa sadar matanya memancarkan
kebencian, siapa lelaki ini berani-beraninya memerintahnya seperti ini?

Ketika Lana termenung, seorang waitress lain dengan gugup mendorongnya supaya duduk, menuruti permintaan Mikail. Sehingga dengan terpaksa Lana duduk di sebelah Mikail.

“Siapa namamu?” , Mikail menatap tajam ke arah Lana, sama sekali tidak melirik gelas minuman di mejanya.
Lana sudah siap dengan pertanyaan ini, nama samarannya, “Sara.” Jawabnya kaku
Mikail mengernyit menatapnya dengan seksama, lalu jemari
panjang itu tiba-tiba terulur dan menarik dagu Lana mendekat, supaya dia bisa mengamati wajah Lana dengan cermat,

“Aku tidak pernah melihat wajahmu sebelumnya di sini” “Eh… dia… dia pegawai baru kami, tuan Mikail, maafkan
ketidaksopanannya, saya belum pernah mengajarinya
bagaimana membawakan minuman untuk tamu sepenting
Anda,” sang pemilik klub menyela dengan gugup. Wajahnya tampak cemas melihat Lana melayani tamu pentingnya
dengan setengah hati. Dengan pandangan memarahi dia memperingatkan Lana, “Ayo Sara perkenalkan dirimu kepada tuan Mikail, tuan Mikail telah memilihmu untuk menjadi pelayan minumannya. Itu merupakan suatu kehormatan untukmu, harusnya kau berterima kasih”

Perintah itu membuat Lana menegakkan dagunya dengan angkuh,

“Saya sudah memperkenalkan diri saya, dan saya sudah membawakan minuman untuk tuan Mikail yang terhormat, karena itu saya akan pergi,” jawab Lana ketus, sambil
beranjak dari tempat duduknya, toh misinya sudah tercapai. Gelas minuman beracun itu sudah ada di meja Mikail, dan sebentar lagi Mikail akan mati karena sesak napas.

Tetapi sebelum Lana sempat berdiri, Mikail meraih jemarinya dan menariknya kencang, supaya terduduk lagi. Kali ini di pangkuan Mikail.
“Apa… apaaan….,” Suaranya terhenti ketika bibir yang keras dan dingin itu tiba-tiba melumat bibirnya. Lana memberontak
ketika menyadari bahwa Mikail sedang memagut bibirnya dengan ciuman yang basah dan panas.

Ciuman itu sungguh tak sopan karena bibir dingin Mikail tanpa permisi langsung memagut bibirnya, melumatnya tanpa ditahan-tahan. Lidahnya langsung menyeruak masuk merasakan keseluruhan diri Lana, menghisapnya, menikmatinya, dan menggilasnya tanpa ampun.

Sekujur tubuh Lana terasa terbakar, panas karena amarah
dan demam kerena gairah. Lelaki ini sudah jelas-jelas sangat ahli ketika mencumbu perempuan, sehingga Lana yang
belum berpengalamanpun terbawa oleh gairahnya,
mengalahkan kebenciannya. Tetapi pikiran bahwa lelaki ini telah memanfaatkan begitu banyak wanita demi memuaskan
rasa arogan dan kekuasaannya membuat Lana merasa muak. Dan tiba-tiba muncul kekuatan dari dalam dirinya untuk mendorong laki-laki itu menjauh dan menamparnya sekuat tenaga.

Plakk!!!

Suasana di klub itu menjadi sangat hening. Luar biasa hening. Bahkan musik yang hiruk pikuk itupun terhenti karena semua orang berhenti melakukan aktivitasnya dan menatap ke arah Lana, yang berdiri dengan terengah-engah
berhadapan dengan Mikail yang membatu duduk di sofa VIPnya.


Sedetik kemudian, sebuah tangan kasar mencengkeram lengan Lana. Begitu menyakitkan hingga membuat Lana menjerit,

“Kurang ajar kau !! berani-beraninya memukul Tuan Mikail,” teriak sebuah suara berat dan kasar. Lana menoleh dan mendapati dirinya ditelikung oleh lelaki berbadan besar yang sepertinya salah satu bodyguard Mikail.

Lengan lelaki itu yang besar dan kuat menahannya sampai tangannya terasa kaku dan sakit. Tapi Lana tidak menyerah, dia meronta sekuat tenaga, mencakar, dan menggigit lengan yang tetap terasa sekeras batu itu. Napasnya terengahengah dan wajahnya merah padam menahan amarah dan
rasa malu karena sebagai perempuan kekuatannya begitu tak berdaya menahan dominasi kekuatan laki-laki.
“Lepaskan dia,” suara dingin Mikail terdengar di keheningan. Orang-orang masih diam menunggu, memusatkan perhatian
kepada apa yang akan dilakukan lelaki yang terkenal luar biasa kejam itu pada perempuan yang berani menamparnya.


Seketika itu juga, bodyguard Mikail yang berbadan kekar melepaskan Lana, membuatnya hampir terjatuh karena kelelahan meronta-ronta.

Mereka berdiri berhadap-hadapan di bawah tatapan mata banyak orang yang menanti. Mikail masih berdiri dengan wajah dingin tak berekspresi sambil mengusap pipinya, bekas tamparan Lana.

“Berapa hargamu?,” suara Mikail terdengar tenang dan dingin,

Mata Lana membelalak, harga?? Apa yang dibicarakan lelaki ini? Matanya melirik ke gelas minuman Mikail yang sudah diracuninya di meja. Semuanya berantakan, serunya
menahan kekesalan pada dirinya sendiri. Semua gara-gara
dia tidak bisa menahan kebenciannya. Seharusnya ketika Mikail melecehkannya dia bisa menahan diri dan berpurapura menjadi perempuan gampangan, seharusnya dia mau
berkorban menahan perasaannya. Setidaknya ketika dia menurut, Mikail mungkin akan merasa senang dan lengah,
lalu meminum minumannya itu dan mati. Tetapi sekarang
semua sudah terlambat, Mikail tampak tidak tertarik lagi pada minumannya dan tertarik sepenuhnya kepada Lana. Lagipula
Lana tidak bisa berpura-pura menyukai Mikail, kebenciannya terlalu dalam pada lelaki itu.

Donita, primadona di bar ini mendekati Mikail dengan tatapan merayu. Dialah yang biasanya dipilih Mikail untuk menemani lelaki itu minum ketika Mikail berkunjung, dan sekarang hatinya dipenuhi kecemburuan karena Mikail tampak begitu tertarik kepada anak baru itu. Padahal kalau dilihat dari kecantikannya, anak baru itu jauh lebih jelek daripada dirinya, “Sudahlah Mikail,” Donita menyentuhkan tangannya di kerah baju Mikail, “Perempuan jelek itu tidak akan bisa

memuaskanmu, lebih baik biarkan aku yang menemani,,,,, aduhhh!!!

Donita mengaduh karena Mikail merenggut tangannya yang meraba kerah baju Mikail. Jemari Mikail mencengkeramnya dengan kekuatan tak ditahan-tahan lagi, menyakitinya hingga terasa menusuk ke tulang,

“Menyingkir,” gumam Mikail dengan tatapan membunuh pada Donita, lalu menghempaskan tangan Donita dengan kasar sehingga tubuh Donita terdorong menjauh. Sambil meringis menahan nyeri dan kesakitan Donita lekas-lekas menjauh.

“Nah,”
Mikail memusatkan mata dinginnya kembali ke Lana,

“Katakan berapa hargamu, dan aku akan membayarnya”

***

Aku harus memiliki perempuan ini.

Mikail memutuskan dalam hati. Aku harus memilikinya segera.

Tuhan tahu dia sudah berusaha menyelamatkan perempuan
ini. Tetapi entah kenapa perempuan satu ini memiliki tekad yang kuat untuk mencelakainya, hingga lupa bahwa dia
sudah menantang lelaki paling berbahaya.

Mata Mikail melirik gelas yang diletakkan Lana di mejanya,
dia tahu kalau dia diracuni. Lana terlalu tidak berpengalaman dalam usaha pertamanya membunuh orang. Tangannya
gemetaran dan matanya gugup, berkali-kali melirik ke gelas minuman itu. Dan juga nama palsu yang menggelikan itu.Lana bahkan tidak menyadari bahwa penyamarannya sudah terbongkar dari awal.

Sebenarnya tadi Mikail memutuskan untuk menertawakan Lana diam-diam, dengan pura-pura akan meminum minuman beracun itu. Tapi bibir ranum itu, dan penampilan Lana yang luar biasa seksi memunculkan sisi iblis dalam dirinya, sisi Iblis yang kehausan.

Mungkin sudah waktunya perempuan yang satu ini menerima pelajaran atas kenekatannya.

***

Lana tertegun marah mendengar pelecehan Mikail atas
dirinya. Berapa harganya? Hah! Dia pikir dia raja yang bisa membeli apa saja yang dia mau?

Lelaki iblis ini harus diajari, bahwa meskipun banyak perempuan yang bertekuk lutut di kakinya dan memohonmohon untuk dimilikinya, ada perempuan yang tidak sudi
disentuh olehnya.

Dengan marah Lana mendongakkan dagunya menantang
MIkail,

“Saya lebih memilih mati daripada menjual diri kepada Anda,”

gumamnya kasar

Suara di seluruh klub itu langsung dipenuhi dengungan gelisah menanti rekasi Mikail.

Tidak disangka-sangka Mikail tersenyum. Lalu melirik ke arah bodyguardnya,“Tidak ada sesuatupun yang bisa menolak kalau aku ingin memilikinya,” gumamnya datar dan memberikan isyarat

tangannya kepada para bodyguardnya.

Semuanya berlangsung cepat; Lana tidak sempat lari ataupun panik, karena tiba-tiba bodyguard Mikail yang berbadan paling besar, merenggutnya kasar, mengangkatnya, lalu membantingnya di pundaknya seperti sekarung beras

Sekejap dipenuhi rasa pusing karena posisi kepalanya dibalik mendadak, Lana tersadar bahwa dia sudah diangkat keluar
dari klub itu. Sekuat tenaga Lana mencoba memberontak. Tangannya memukul-mukul punggung bodyguard itu dan kakinya menendang-nendang keras sambil berteriak-teriak menahan marah dan frustasi.

Tetapi tubuh bodyguard itu sekeras batu, tidak bereaksi atas pemberontakan Lana.

Percuma meminta tolong, karena Lana yakin tidak akan ada yang berani menolongnya. Semua pengunjung klub yang pengecut itu hanya menatap kejadian di depan mereka dengan muka bodohnya. Sang pemilik klub masih
memandang takjub Mikail yang melenggang dengan santai meninggalkan ruangan dengan Lana yang meronta-ronta dan menjerit-jerit dalam gendongan bodyguardnya.

***

Sesampainya di tempat parkir Lana diturunkan. Sedetik setelah dia diturunkan, Lana berlari sekuat tenaga berusaha menjauh. Tetapi baru beberapa langkah, tangan sekeras
batu itu menangkapnya lagi Lana meronta tapi tak bisa berontak, dengan frustasi dia menggigit sekuat tenaga tangan yang mendekapnya itu.
Sang bodyguard mengaduh sambil mengumpat-umpat, sedangkan Mikail hanya menatap kegaduhan di depannya sambil terkekeh geli.

Lana mencoba berontak, menggigit, dan menendang sampai kelelahan. Dia menatap Mikail terengah-engah dengan pandangan penuh kebencian, masih dalam cengkeraman
kuat tangan bodyguard Mikail.

Mikail membalas tatapannya dengan senyum manis yang jahat,

“Kalau kau berjanji mau bersikap baik, mungkin aku akan menawarimu tempat yang nyaman, di sebelahku di dalam mobil”
“Mati saja kau!,” sembur Lana penuh kemarahan. Mikail terkekeh lagi,
“Oke, kau yang minta,” dengan isyarat anggukan kepala,

Mikail memberi perintah pada para bodyguardnya, “Masukkan dia ke bagasi”
***




2 comments:

  1. Karna Di ERTIGAPOKER Sedang ada HOT PROMO loh!
    Bonus Deposit Member Baru 100.000
    Bonus Deposit 5% (klaim 1 kali / hari)
    Bonus Referral 15% (berlaku untuk selamanya
    Bonus Deposit Go-Pay 10% tanpa batas
    Bonus Deposit Pulsa 10.000 minimal deposit 200.000
    Rollingan Mingguan 0.5% (setiap hari Kamis

    ERTIGA POKER
    ERTIGA
    POKER ONLINE INDONESIA
    POKER ONLINE TERPERCAYA
    BANDAR POKER
    BANDAR POKER ONLINE
    BANDAR POKER TERBESAR
    SITUS POKER ONLINE
    POKER ONLINE


    ceritahiburandewasa

    MULUSNYA BODY ATASANKU TANTE SISKA
    KENIKMATAN BERCINTA DENGAN ISTRI TETANGGA
    CERITA SEX TERBARU JANDA MASIH HOT

    ReplyDelete