Saturday, September 26, 2015

NOVEL BIDADARI - BIDADARI SURGA - BAB I8


18
MEYIMPANNYA SENDIRIAN

YASHINTA mematut-matut di depan cermin.

Menyeringai sendiri. Tersenyum amat lebar. Lihat. Ayo lihat, Yash pagi ini mengenakan seragam merah-putih. Mamak membelikan dari kota kecamatan. Sebenarnya baju itu dibeli di pasar loak, baju bekas, tapi itu tidak penting. Yash juga tahu, kok. Hatinya sedang senang. Semalam berkali-kali terbangun. Pukul sepuluh, sebelas, dua belas, satu, dua, tiga, sampai Kak Laisa mendengus jengkel, karena setiap kali Yashinta terbangun, ia menarik-narik baju gombyor Kak Laisa, berisik bertanya jam berapa sekarang.

Menunggu pagi seperti menunggu waktu seribu bulan, tak sabaran. Maka saat akhirnya kokok ayam hutan akhimya terdengar dari kejauhan, Yashinta semangat langsung mandi di sungai. Ini hari pertama sekolahnya. Bukan main. Rasanya susah dijelaskan. Lihatlah muka imut Yashinta bersenandung riang. Memasukkan buku tipis ke dalam tas, pensil yang sudah diraut, penggaris bambu. Crayon 12 warna dari Kak Ikanuri dan Kak Wibisana. Lantas sudah duduk rapi di meja makan. Siap untuk sarapan.

Ikanuri dan Wibisana hanya nyengir melihat kelakuan Yashinta. Bagi mereka tingkah Yashinta mirip sekali dengan mahkluk planet lain. Mana ada coba penduduk bumi yang semangat seperti adiknya berangkat sekolah. Tapi Dalimunte tidak, dia tersenyum lebar, menyeringai membesarkan hati Yashinta, yang justru saat sudah siap berangkat bersama-sama malah gugup, mendadak sakit perut.
Panen bersama sebulan lalu sukses besar, Mamak Lainuri tak kurang dapat empat puluh kaleng padi. Setelah dipotong zakat, juga padi cadangan untuk lumbung kampung, juga delapan belas kaleng untuk persediaan beras mereka selama setahun, sisanya masih lumayan, yang seluruhnya dijual ke kota kecamatan. Ditambah tabungan Mamak dari menjual damar, rotan, gula aren, dan anyaman rotan selama ini, uangnya cukup sudah untuk membayar biaya sekolah Yashinta, Ikanuri, Wibisana dan Dalimunte. Tahun ini, Dalimunte duduk di kelas enam. Sementara Ikanuri dan Wibisana kelas empat. Itu berarti setahun lagi Mamak harus memikirkan kelanjutan sekolah Dalimunte. Sekolah lanjutan di kota kecamatan. Yang berarti akan lebih banyak lagi uang yang diperlukan.

Mamak meski terlihat biasa-biasa saja, tapi soal itu benar-benar penting baginya. Lepas panen, Mamak langsung menggarap lagi ladang mereka. Tidak ada istilah berleha-leha. Menanaminya dengan jagung. Lebih keras bekerja. Lebih lama menyadap damar di hutan. Begitu juga dengan Kak Laisa, tubuh gendut tapi gempalnya terlihat semakin hitam. Terlalu lama terpanggang terik matahari. Beruntung kehidupan di kampung jauh lebih baik sejak irigasi lima kincir air dibuat. Beruntung pula perangai Ikanuri dan Wibisana juga ikutan membaik sejak kasus itu. Meski masih sering membantah, masih sering melawan, masih sering kabur disuruh mengerjakan sesuatu, mereka jauh lebih menurut.

Ikanuri dan Wibisana mulai mengerti arti tanggung jawab. Tidak percuma Kak Laisa saban hari mengejar-ngejar mereka dengan sapu lidi teracung dan berteriak-teriak

"Kerja keras!" "Kerja keras!" "Kerja keras!" Dua sigung nakal itu sudah jarang bolos sekolah. Sudah rajin membantu Mamak di Ladang. Sekali dua malah tanpa disuruh pergi ke hutan mengumpulkan kayu bakar dan rotan. Kejadian di puncak Gunung Kendeng sedikit banyak membuat mereka sungkan dengan Kak Laisa. Lah, harimau saja ngeri lihat Kak Laisa melotot, apalagi mereka, kan? Ihhh.

Siang itu panas membakar lembah. Musim kemarau tiba di minggu-minggu puncaknya. Yashinta menyeka keringat di dahi tidak hanya sekali. Berjalan pelan-pelan mengiringi Ikanuri dan Wibisana. Daun pisang yang tadi diambilkan Dalimunte percuma, perjalanan pulang dari kampung atas tetap menyiksa wajah. Ini bulan ketiga sekolahnya. Sejauh ini ponten pelajarannya bagus-bagus. Yashinta jelas mewarisi ketekunan dan kecerdasan Dalimunte, bukan tabiat iseng bin kenakalan Ikanuri dan Wibisana.

Tiba di rumah panggung mereka menghabiskan makan siang yang telah disiapkan Kak Laisa sebelum berangkat ke ladang tadi pagi. Shalat dzhuhur (Dalimunte yang jadi imam), kemudian Dalimunte meneriaki Ikanuri dan Wibisana agar buruan menyusul Mamak. Yashinta sudah boleh ikut ke ladang sekarang. Meski kerjaannya di sana hanya belajar di bawah pondok, belajar membuat anyaman bambu, mengerjakan PR, apa saja.

"HUUUU! HUUUU!!"
"HUUUU!" Mamak membalas teriakan Dalimunte. Kempat adik-kakak itu menuruni lereng landai kebun. Di Lembah Lahambay, teriakan seperti itu lazim. Untuk saling memberitahu posisi. Dengan suara seperti pekikan burung.

Mamak melambaikan tangan dari kejauhan. Kak Laisa dan Mamak sedang membersihkan gulma di pojokan ladang. Batang jagung sudah setinggi kepala. Subur, dengan air yang terus mengalir. Mereka berempat berbelok, Mendekat

"Mak, tadi ada guru baru di sekolah, Yash—"
Yashinta yang pertama kali melapor. Menurunkan daun pisang di atas kepalanya.
"Siapa?" Mamak bertanya pendek, tanpa menoleh, tangannya tetap gesit menyiangi rumput di sela-sela batang jagung.
"Eh, siapa, Kak?" Yashinta nyengir, justru bertanya padii Ikanuri.

"Tahu, siapa—" Ikanuri melangkah tidak peduli, maksudnya dia memang tidak peduli dengan siapa guru baru tadi, bukan tidak peduli dengan pertanyaan Yashinta. Mengambil arit yang tergeletak di dekat Kak Laisa, ikut membantu.
"Ada yang KKN-"

"Eh, iya, KKN, Mak. Gurunya dari KKN." Yashinta, memotong kalimat Dalimunte, "KKN itu dari mana ya, Kak?"
Yashinta duduk menjeplak di sekitaran mereka. Teduh di bawah batang jagung, jadi ia tidak perlu sendirian di pondok yang terletak di tengah-tengah ladang. Menyeka keringat yang mengucur tambah deras. Gerah. Tubuhnya terlihat lekat. Mamak mengangguk, ia mengerti. Seminggu lalu Wak Burhan juga bilang soal itu. Katanya ada rombongan mahasiswa dari kota provinsi. Posko mahasiswa itu ada di kampung atas, tapi beberapa dari mereka juga akan melakukan beberapa proyek KKN di kampung bawah. Jarang-jarang ada pendatang dari kota di lembah itu. Dulu pernah ada Mahasiswa yang juga KKN, tapi program mereka kebanyakan hanya penyuluhan dan ceramah.

Dulu-dulunya juga pernah ada pejabat entah dari mana yang datang ke Lembah. Lebih tak jelas lagi apa gunanya mereka, hanya nanya-nanya, membawa kertas, entahlah. Tanpa sesuatu yang benar-benar bermanfaat bagi penduduk kampung.

"Ikanuri, Wibisana, menebas rumputnya yang benar!" Kak Laisa mendelik, menatap tajam Ikanuri dan Wibisana. "Sudah benar, kan?"

Ikanuri nyengir. Sejak tadi dia dan Wibisana tidak medengarkan percakapan. Asyik bermain-main dengan arit.
Kak Laisa melotot, benar apanya, kedua sigung nakal itu seperti membuat lajur-lajur di atas gulma. Sengaja membuat huruf nama-nama mereka, seperti bonsai berbentuk huruf di taman-taman. Membuat tulisan: Ika-Wibi Keren.

"Lagian biar nyeni, Kak! Artistik—" Wibisana tertawa.

Kak Laisa melotot, mengancam. Ikanuri dan Wibisana menelan ludah. Yaah, kan hanya bergurau, nanti-nanti bakal dipangkas juga semuanya. Nanti-nanti maksudnya minggu depan, atau setelah panen jagung. Dengan enggan dua sigung nakal itu membersihkan huruf-huruf nama mereka.
Yashinta asyik meneruskan anyaman rotannya. Ia sudah lancar.Sekali dua terdengar batuk. Keringat mengucur semakin deras dari dahinya. Musim kemarau ini entah sampai kapan. Biasanya tidak selama ini. Seminggu dua minggu, lazimnya diseling hujan deras yang sedikit mendinginkan lembah. Dua hari terakhir kenapa pula badannya terasa tidak enak. Tetapi Yashinta terlanjur asyik meneruskan anyamannya. Sambil sesekali memperhatikan Kak Laisa yang tangkas membersihkan gulma. Lihat, satu jam berlalu, luas gulma yang berhasil dibersihkan Kak Laisa, masih lebih banyak dibandingkan luas Kak Ikanuri dan Kak Wibisana dijumlahkan, dikalikan dua pula.

Matahari mulai tenggelam di balik Gunung Kendeng, Mamak menyuruh Dalimunte memberesi perlengkapan. Menyimpannya di pondok. Saatnya pulang. Kak Laisa membantu berbenah-benah. Menggendong keranjang berisikan sayur-mayur. Mereka berjalan beriringan. Lembah itu hening. Langit terlihat merah. Angin bertiup pelan, menyenangkan. Rombongan burung layang-layang terbang pulang ke sarang. Kelelawar mengepak-ngepakkan sayap bersiap memulai ritual malamnya.
Yashinta berkali-kali batuk lagi.
"Kau baik-baik saja, Yash?" Kak Laisa bertanya.
Yashinta mengangguk, sambil berusaha mensejajari langkah Kak Laisa.

"Kenapa Kak Lais tidak bilang?" Dalimunte menangis, tersendat, jemari tangannya gemetar mengusap bibir perempuan umur empat puluh tiga tahun yang terbaring lemah di atas ranjang. Ada bercak darah di sana. Keluar bersama dahak,

"Tidak. Tidak boleh ada yang menangis, Dali...." Kak Laisa berkata pelan, nafasnya sedikit tersengal,
"Kau anak lelaki. Di keluarga ini anak lelaki tidak boleh menangis"

"Tapi kenapa Kak Lais menyimpannya sendirian.... Kenapa Kak Laisa tidak bilang kalau selama ini sakit? Ya Allah, selama itu. Bahkan Kak Lais menyimpan semuanya sendirian selama ini.... Sejak kami kecil, sejak kami masih nakal suka membantah—"

Dalimunte tergugu.

Mamak ikut menyeka sudut matanya. Cie hui, mendekap Intan yang entah mengapa juga ikut tertunduk. Intan menggigit bibir. Bingung. Cemas. Ia keliru, ternyata Wak Laisa sakitnya tidak sekadar mencret-mencret. Aduh, kalau kelihatannya sudah begini itu artinya serius sekali. Lihat, Wak Laisa batuk lagi, terus ada darah pula keluar dari bibirnya.

"Ingat kata Kakak dulu saat kau berangkat sekolah di kota provinsi, tidak ada yang boleh menangis, kau akan menemukan tempat-tempat baru, teman-teman baru, kau akan belajar banyak.... Hei, tidak ada yang boleh menangis dengan semua kabar baik itu. Juga hari ini....
Lihatlah, kau amat membanggakan Kakak—"
Kak Laisa terbatuk pelan. Dahak sekali lagi keluar bersama darah.
Dalimunte menyeka darah itu dengan jemarinnya. Semakin tergugu. Bagaimana mungkin dia tidak akan menangis? Lihatlah, seseorang yang amat dihargai sepanjang hidupnya berbaring lemah di hadapannya, tetap sama seperti dulu. Memberikan perlindungan. Memberikan janji-janji yang selalu ditunaikan. Mengubur cita-citanya sendiri demi adik-adiknya. Bahkan hingga saat ini, ketika tubuhnya terlihat amat lemah, Kak Laisa tetap berusaha tersenyum menyuruhnya tidakk menangis.

"Kak Lais selalu menyimpannya sendirian, demi kami.... Kak Lais selalu mengalah, demi kami—" Kalimat Dalimunte terhenti, dia tak kuasa melanjutkan hanya bisa mencium jemari tangan yang terkulai lemah itu. Berbagai kenangan masa lalu berdesing memenuhi kepalanya. "Kak Lais bekerja sepanjang hari membantu Mamak demi kami, Kak Lais mempermalukan diri demi kami, Kak Lais bahkan menerobos hujan deras, tidak peduli dingin, jemari tangan menggigil demi kami..."
Dalimunte tidak bisa menahan lagi perasaannya. Dulu saja, waktu kecil ia sudah mengerti. "Dali…, tidak ada yang boleh menangis—"
"Ta-pi, tapi Dali tidak tahan lagi. Dali tidak tahan—" "Kemarilah, anakku...."
Mamak berbisik lirih dari belakang. Dalimunte memeluk pinggang Mamak.

Senyap. Hanya tangis tertahan di ruangan itu. Dokter perkebunan yang sejak sebulan lalu merawat Kak Laisa menatap dengan mata berkaca-kaca. Intan ikutan menyeka pipinya. Ia tidak tahu kenapa ikut menangis. Ia sedih, sedih sekali melihat Wak Laisa yang kuat menggendongnya naik turun cadas sungai, sekarang pucat pasi, bergerak saja susah di atas ranjang. Mamak mengusap rambut Dalimunte, berbisik menenangkan. Wajah keriput berumur enam puluh tahun itu terlihat amat sendu. Ia-lah yang paling tahu urusan ini. Sejak tiga puluh tahun silam. Sejak Laisa mulai mengerti arti tanggung-jawab.

Umur Laisa saat itu sebelas tahun. Kelas empat Umur Dalimunte tujuh tahun. Sudah setahun Dalimunte tertunda sekolah karena Mamak tidak punya uang. Mamak ingat sekali. Hari itu. Pagi itu. Laisa mendekatinya dari belakang. Pukul empat shubuh. Saat Mamak sibuk memasak gula enau. Saat yang lain masih tertidur lelap.
"Biar. Biar Lais yang berhenti sekolah, Mak..."

Putri sulungnya tersenyum tulus, menatap dengan mata bercahaya. "Kau harus terus sekolah, Lais!"
Mamak menatap tajam Laisa.

Menggeleng, "Lais tahu Mamak tidak punya cukup uang untuk membeli seragam baru Dali. Biar Lais yang berhenti sekolah. Lagipula Lais anak perempuan. Buat apa Lais sekolah
tinggi-tinggi. Biarlah Dalimunte yang sekolah. Lais membantu Mamak mencari uang saja. Dengan begitu nanti Ikanuri dan Wibisana juga bisa sekolah.... Juga Yashinta...."

Putri sulungnya menyentuh lengannya. Menatap dengan yakin dan mengerti benar apa yang telah dikatakannya.
Mulai shubuh itu, Mamak tahu persis satu hal. Laisa yang bersumpah membuat adik-adiknya sekolah menjadikan sumpah itu seperti prasasti di hatinya. Tidak. Laisa tidak pernah menyesali keputusannya. Tidak mengeluh. Ia melakukannya dengan tulus. Sepanjang hari terpanggang terik matahari di ladang. Bangun jam empat membantu memasak gula aren. Menganyam rotan hingga larut malam. Tidak henti, sepanjang tahun. Mengajari adik-adiknya tentang disiplin. Mandiri. Kerja keras. Sejak kematian Babak diterkam harimau, Mamak sungguh tidak akan kuasa membesarkan anak-anaknya tanpa bantuan putri sulungnya, Laisa. Semua kesulitan hidup masa kecil itu. Laisa membantunya melaluinya dengan wajah bergeming. Wajah yang tidak banyak mengeluh.
Wajah yang sekarang terlihat amat lelah....

Terbaring lemah karena kanker paru-paru stadium IV. Penyakit yang disimpannya sendiri sejak sepuluh tahun silam. Karena ia tidak ingin merepotkan adik-adiknya. Bagi Laisa, yang berhak merepotkan itu adik-adiknya, bukan dia. Setiap kali kunjungan dua bulanan, Laisa tetap riang menyambut anak-anak. Tertawa mengajak mereka melakukan banyak hal. Itu pula yang membuatnya bisa bertahan selama ini. Sepuluh tahun kanker itu seolah tak kuasa menggerogoti fisiknya.

Sayangnya, satu bulan yang lalu, seluruh energi dari penerimaan jiwa atas pilihan hidup yang hebat itu berakhir sudah. Kalah. Fisiknya tidak kuasa lagi, kanker itu sudah menjalar ke mana-mana. Meski semangat hidupnya masih tinggi, meski dengan semua spirit itu, tubuhnya tidak kuasa lagi bertahan. Maka didatangkanlah dokter dari kota provinsi (yang juga sepuluh tahun terakhir diam-diam merawatnya, hanya Mamak yang tahu). Juga peralatan medis, juga perawat-perawat Kak Laisa satu bulan terakhir bertahan tidak memberitahu adik-adiknya hingga tadi pagi. Satu bulan terbaring tidak berdaya. Setelah Mamak membujuknya. Akhirnya pesan 203 karakter itu terkirimkan. Ketika ia merasa waktunya sudah tiba.

Tugasnya hampir usai.
Wajah yang sekarang terlihat amat lelah.

Meski tetap berusaha tersenyum didepan adiknya. Wajah yang menatap Dalimunte yang sedang memeluk pinggang Mamak, Dalimunte yang menangis—


NOVEL BIDADARI - BIDADARI SURGA - BAB I9

No comments:

Post a Comment