Monday, September 7, 2015

Celebrity Wedding - Bab 13

The Long Awaited Wedding

Selama beberapa minggu stelah malam acara amal itu, Revel mencoba sebisa mungkin
menghindari Ina. Mereka memang masih muncul di beberapa acara publik lainnya stelah itu,
tapi Revel berusaha membawa Ina ke tengah keramaian agar dia tdk harus sendirian
dengannya. Dan kko ada situasi dimana mereka hanya berdua saja, dia mencoba menjaga
percakapan mereka agar tetap profesional. Dia toh tdk perlu tahu brand kopi kesukaannya,
warna favoritnya, ritual apa yg dia biasa lakukan sebelum tidur, kapan pertama kali dia
dicium oleh laki2, dan yg jelas dia tdk perlu tahu apakah Ina lebih suka menggosok gigi
sbelum mandi atau sesudah mandi. Tapi semakin dia menghabiskan waktu dgn Ina, smakin
banyak pertanyaan bersifat pribadi yg dia ingin tanyakan padanya, dan itu membuatnya
freak-out.
Selama ini orang slalu menyangka bahwa dia phobia dgn komitmen, oleh sebab itu dia
masih juga belum menikah, tp sbetulnya apa yg dia takutkan bagi dirinya adalah kehilangan
kontrol. Itu sebabnya dia tdk pernah mau memacari wanita yg sukses dan mandiri sperti Ina,
karena meskipun dia menyukai tipe wanita sperti ini, tetapi dia tdk bisa membiarkan dirinya
mencintai mereka. Kebanyakan wanita sperti ini sudah terlalu terbiasa hidup sendiri yg
penuh dgn rutinitas dan kontrol, sehingga mereka mengalami masalah dalam mencari
pasangan yg ideal karena mereka menolak mengompromi diri mereka untuk seorang laki2
yg akhirnya hanya akan mengontrol diri mereka. Dan inilah karakteristik yg dia hormati dari
seorang wanita, seseorang yg tdk malu2 mengeluarkan pendapat atau argumentasi klo dia
melihat sesuatu yg tdk pada tempatnya. Tapi melihat hubungan papa dan mamanya, Revel
tahu bahwa wanita jenis Ina akan membuatnya kehilangan kontrol akan kehidupannya
sbelum akhirnya meninggalkannya patah hati dan kecewa, seperti mama mengecewakan
papa.
Dia tdk pernah ada masalah menghindari berhadapan dgn wanita tipe Ina, karena slalu
mempunyai pilihan untuk memutuskan hubungan itu sbelum menjadi terlalu serius. Tapi
dgn Ina, dia stuck. Mereka akan segera menikah, yg brarti bahwa mereka akan tinggal
sama2, dimana dia akan bertemu dengannya stiap hari. Bayangan bahwa dia tdk bisa lagi
menghindari Ina stelah mereka menikah membuatnya panas dingin.
***
Bulan Juni pun tiba dan pernikahan paling menggemparkan Indonesia sepanjang tahun akan
dilaksanakan. 75% wanita di Indonesia siap untuk membunuh Ina semenjak pertunangan
mereka diumumkan pada bulan April, tp jumlah itu sekarang sudah naik menjadi 90%.
Seumur hidup Ina tdk pernah merasakan permusuhan blak2an dari orang2 yg bahkan tdk dia
kenal. Komentar yg dilemparkan oleh masyarakat tentangnya kebanyakan terdengar sinis
dan tdk bersahabat. Meskipun begitu, Ina tdk menyalahkan para pemberi komentar, karena
dari pandangan mereka, dia adalah wanita yg sudah merebut Revel dari mereka. Ina slalu
mengingatkan dirinya bahwa klo saja dia sudah pacaran dgn Revel lebih lama, maka
masyarakat mungkin tdk akan terlalu terkejut dan bisa menerimanya dgn tangan terbuka, tp
dia tahu bahwa itu tdk benar. Mereka tetap akan membencinya, tdk peduli apa yg dia
lakukan.
Berita tentang pernikahan mereka sudah tersebar dimana2 smenjak mereka
mengumumkannya April lalu. Terkadang berita itu penuh dgn fakta, contohnya informasi
tentang nama kedua mempelai dan lokasi pernikahan mereka, tetapi banyak juga berita yg
mengada2, sperti ketika satu tabloid melaporkan bahwa ada konfrontasi antara Luna dan
Inara karena memperebutkan Revel, sesuatu g jelas2 tdk pernah terjadi karena Luna bahkan
tdk ada di Jakarta sepanjang bulan menjelang pernikahan. Awalnya Ina merasa agak sedikit
terganggu dgn semua berita tdk benar ini, tetapi Revel mengajarkannya satu trik yg ampuh,
yaitu tdk menghiraukan semua berita yg tdk benar itu.
Dari semua orang yg mendengar berita pertunangan mereka, yg paling shock tentulah
orang2 kantor Ina. Terutama Marko yg awalnya merasa sangat tersinggung karena Ina tdk
pernah menceritakan apa2 tentang Revel padanya. Karena tdk bisa menceritakan apa yg
sbenarnya terjadi, Ina harus mengarang cerita bahwa pak Danung-lah yg memintanya
menyimpan rahasia ini sampai Revel siap untuk mengumumkannya kepada publik. Ina
bersyukur bahwa Marko kelihatan bisa menerima penjelasan itu. Dalam hati Ina meminta
maaf kepada pak Danung karena sudah menyalahgunakan namanya. Marko tdk
menyinggung2 soal Luna dan bayinya. Memang Eli dan Sandra tdk bisa menahan diri untuk
berceloteh ke semua orang yg mau mendengarnya begitu tahu Revel bukan ayah bayi Luna.
Untung saja Ina berhasil mengontrol keadaan sbelum mereka mengatakan bahwa Dhani-lah
ayah bayinya Luna. Ina bersyukur bahwa semua staf di kantornya diwajibkan
menandatangani surat perjanjian non-disclosure ketika mereka dipekerjakan, yg
menyatakan bahwa mereka tdk boleh membeberkan informasi apapun tentang klien2
mereka kepada publik, karena klo tdk, Ina yakin bahwa perusahaan mereka pasti akan
sering kena tuntut.
Tentu saja semua koleganya ingin tahu bagaimana hubungannya dgn Revel akan berdampak
kepada status Revel sebagai klien. Ina berpikir bahwa pak Sutomo akan memecatnya karena
sudah melanggar etika bisnis, tp ternyata ketika Ina sampai di kantor hari Senin pagi, beliau
hanya memeluk Ina dgn hangat dan mengucapkan selamat padanya. Ketika Ina berusaha
minta maaf padanya dgn mengatakan bahwa Revel kemungkinan besar harus mencari
kantor akuntan publik lain stelah mereka menikah, pak Sutomo hanya berkata, "Klien slalu
datang dan pergi, tp kmu, nah, kmu nggak ada gantiny." Selain itu beliau bahkan
memperbolehkan Ina membantu transisi Revel, ibu Davinan dan MRAM ke perusahaan
akuntan publik lain bulan depan. Untuk pertama kalinya stelah beberapa tahun belakangan
ini, Ina merasa dihargai oleh bosnya.
***
Acara ijab dijalankan cukup private dgn hanya dihadiri oleh keluarga. Selama ijab Ina tdk
bisa menatap Revel sama sekali. Dia takut klo dia melakukannya maka semua orang akan
bisa melihat kebohongan dari semua ini. Ijab berlalu dan akhirnya Ina bisa beristirahat
sbentar sbelum resepsi pernikahannya yg akan dilangsukan pukul 7malam. Dia menatap
pantulan wajahnya pada cermin di salah satu kamar tidur di rumah Revel yg sudah disulap
menjadi kamar pengantin. Kamar itu terletak di ujung koridor panjang, persis 180derajat
dari kamar tidur Revel. Ketika ibu Davina memperlihatkan kamar ini padanya, Ina langsung
jatuh cinta pada suasananya. Susunan kamar itu sama persis dgn kamar Revel, tetapi kamar
ini kelihatan lebih hangat dgn nuansa putih dan biru muda. Pada satu dinding Ina melihat
sejejeran foto hitam putih di dalam bingkai warna hitam yg tertata dgn rapi. Ina baru
menyadari beberapa menit kemudian bahwa anak laki2 yg ada pada stiap foto adalah Revel.
"Ini kamar main Revel waktu dia masih kecil. Dia bisa main disini sampai ber jam2. Entah
main dgn mobil2an, perang2an, masak2an..." Ibu Davina tdk menyelesaikan kalimatnya,
hilang dalam memorinya sendiri.
"Revel suka main masak2an?" tanya Ina, mencoba tdk tertawa terbahak2.
"Oh ya. Dia minta papanya ngebeliin dia Easy Bake Oven waktu dia umur 10tahun dan slama
sebulan dia nggak berhenti bikin chocolate chip cookies sampai akhirnya semua orang di
rumah ini nggak pernah mau lihat kue itu lagi." Ibu Davina tertawa terkekeh2 ketika
menceritakan tentang keantikan anaknya, tp kemudian wajahnya menjadi sendu ketika
melanjutkan kisahnya.
"Revel itu anaknya pendiam dan suka menyendiri. Dia nggak punya banyak teman karena
saya terlalu strick dgn dia soal urusan pergaulan. Waktu saya dan papanya cerai, dia smakin
menarik diri dari dunia luar. Saya tahu perceraian itu betul2 memengaruhi dia yg memang
lebih dekat sama papanya, tp harus tinggal dgn saya. Di mata Revel, papanya adalah..
Superman... yg bisa melakukan apa saja. Tapi saya... dia nggak pernah suka sama saya. Dia
hormat dgn saya karena saya ibunya, tp dia nggak pernah betul2 sayang sama saya. Nggak
sperti dia menyayangi papanya."
Ibu Davina terus membelakangi Ina selama mengatakan ini semua. Dia memilih memandang
ke luar jendela, bukan karena dia ingin berlaku tdk sopan terhadap Ina, tetapi karena dia tdk
mau Ina melihat betapa susah baginya membagi cerita ini dgn orang lain. Meskipun begitu,
Ina bisa membaca perasaan ibu Davina hanya dgn memerhatikan perubahan postur
tubuhnya yg smakin membungkuk, seakan2 dia sedang mengangkat beban berat. Klo saja
ibu Davina adalah wanita tipe yg bisa dipeluk, Ina mungkin sudah melakukannya, tp dia tahu
bahwa calon ibu mertuanya ini hanya menginginkan seseorang untuk mendengar curahan
hatinya, itu saja. Dan Ina mencoba sebisa mungkin menjadi pendengar yg baik.
"Hubungan saya dgn Revel sedikit membaik sewaktu dia pulang dari Amerika. Dia belajar
menoleransi saya, tp kemudian papanya sakit sbelum meninggal setahun kemudian. Revel
nggak pernah maafin saya yg nggak mau rujuk sama papanya, bahkan waktu beliau sakit.
Saya jauh lebih muda waktu itu, jd ego saya masih selangit. Setelah bertahun2 cerai, saya
masih dendam dgn mantan suami yg sudah menceraikan saya. Dan dgn begitu, saya sudah
menghancurkan hati Revel."
Ibu Davina memutar tubuhnya dan perlahan2 berjalan kearah Ina yg berdiri di tengah
ruangan. Beliau berhenti sekitar stengah meter di depan Ina dan berkata, " Saya percaya
sama kmu. Saya percaya kmu bisa jagain Revel. So, please tr to keep half of his heart intact,
because I've broken the other half a long time ago." Ina belum sempat berkata apa2 ketika
ibu Davina sudah menghilang dari kamar itu.
***
Ina mengembuskan napasnya mengingat percakapan itu. How did I get into this mess in the
first place? pikirnya. Setahun yg lalu dia adalah seorang wanita sukses yg memiliki rencana
hidup, tp kemudian dia bertemu dgn Revel dan smenjak itu hidupnya jd jungkir-balik. Ina
mengalihkan perhatiannya pada jarinya yg kini dilingkari oleh cincin emas polos dan hatinya
terasa berat. Stelah percakapan dgn ibu Davina, dia kini memandang Revel dgn kacamata
baru. Dan apa yg dia lihat membuatnya ingin menjadi temannya, menjadi seorang
pendengar klo dia perlu curhat, memberikan pelukan klo dia sedang sedih, dan menepuk
punggungnya klo dia memerlukan dukungan. Ina sudah mencoba beberapa kali untuk betul2
memahami laki2 ini dan terkadang dia sukses menembus baju baja yg dikenakannya, tp
stiap kali Ina pikir bahwa dia sudah membuat suatu kemajuan, tiba2 Revel akan menarik diri
dan meninggalkan Ina kebingungan dgn reaksina. Dia sedang merenungi ini ketika terdengar
ketukan halus pada pintu kamar.
"Come on in," teriak Ina.
Pintu terbuka dan Revel melongokkan kepalanya. "Hei, saya cuma mau cek bahwa kmu
baik2 saja," ucapnya.
Ina memutar tubuhnya menghadap pintu sambil tersenyum ketika menyadari apa yg sedang
dilakukan Revel, dia mencoba memastikan bahwa Ina tdk kabur sbelum resepsi. "I'm fine,"
balas Ina.
Kemudian diluar sangkaan Ina, Revel melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu
di belakangnya. Hal ini membuat Ina terkejut karena selama berminggu2 Revel spertinya
mencoba menghindarinya sperti dia adalah seorang pesakit kusta. Revel sudah melepaskan
jas dan dasi yg dia kenakan beberapa jam yg lalu saat ijab, kini dia hanya mengenakan
celana hitam dan kemeja putih, yg 3kancing paling atas sudah ditanggalkan dan lengan
kemeja yg dilipat hingga ke siku.
"Kamar ini kelihatan lain," ucapnya sambil memerhatikan sekelilingnya.
"Mama kmu yg dekorasi .. dgn sedikit input dari saya," jawab Ina sambil ikut menatap
sekeliling kamarnya.
"Apa input dari kmu?"
"Saya minta supaya foto2 kmu nggak diturunkan." Ina menunjuk dinding tempat foto2 itu
berada.
Revel berjalan menuju dinding itu dan selama beberapa menit dia terdiam, memerhatikan
foto2 itu satu per satu. Perlahan2 Ina berjalan mendekati Revel.
"Ini foto kmu waktu umur brapa sih?" tanya Ina sambil menunjuk kepada sebuah foto yg
memperlihatkan Revel sedang duduk diatas sepeda roda empat. Ina melihat reaksi tubuh
Revel yg jd sedikit kaku ketika mendengar suaranya. Khawatir bahwa dia sudah berdiri
terlalu dekat, Ina mengambil dua langkah menjauhinya.
"Mmmhhh.. itu wakti saya umur 5tahun. Papa baru beliin saya sepeda pertama saya.
Selama berbulan2 saya nggak mau lepas dari sepeda itu."
Ina mengangguk. "Klo yg ini?" Ina menunjuk kepada satu foto lagi dimana Revel sedang
nyengir sambil menunjuk kepada gigi ompongnya.
"Hehehe.. itu waktu saya baru kehilangan gigi saya karena jatuh dari sepeda itu. Bukannya
nangis, saya malah bangga dgn keompongan saya." Revel tertawa terkekeh2 dan suara
tawanya menjangkiti Ina.
"Gosh, saya ternyata gendut bgt ya waktu kecil," ucap Revel.
Ina tertawa ketika mendengar komentar ini. "Tapi kmu jd malah lucu karena gendut," balas
Ina yg mendapat tatapan aneh dari Revel.
"Saya serius. Menurut saya anak kecil itu biasanya memang lebih lucu klo gendut. Soalnya
kita bisa ngelitikin perutnya yg buncit," sambung Ina.
"Apa kmu memiliki pendapat yg sama tentang orang dewasa?"
"Errr, probably not." Dan mereka sama2 tertawa.
"Ini papa kmu ya?" tanya Ina sambil menunjuk kepada sebuah foto Revel yg sudah lebih
besar daripada di foto yg lain. Dia mengenakan seragam kiper pemain sepak bola dan
sedang berdiri memegang sebuah bola. Seorang laki2 yg mirip sekali dgn Revel, cuma
mungkin lebih tua daripada Revel sekarang, berdiri disampingnya sambil mengistirahatkan
salah satu lengannya pada bahu Revel. Mereka berdua tersenyum lebar.
"Iya," jawab Revel dan Ina bersyukur bahwa dia mau membicarakan tentang papanya.
Selama hampir setahun dia mengenalnya, Revel tdk pernah menyinggung papanya sama
sekali.
"Itu waktu saya SMP kelas tiga, papa datang untuk nonton pertandingan sepak bola saya."
"Oh, saya nggak tahu klo kmu atlet sekolah. Apa tim kmu menang hari itu?"
Revel tertawa mendengar komentar ini dan Ina menatapnya dgn bingung. "Biar saya kasih
tau kmu hasil permainan itu. Kami kalah 5-1 dari mereka."
"Hah?! Koq bisa?" Bahkan Ina yg bukan fans sepak bola tahu bahwa ini skor kekalahan yg
sangat parah.
"Papa dan mama saya baru bilang klo mereka akan bercerai sekitar seminggu sbelum saya
bertanding. Alhasil saya nggak bisa konsentrasi waktu latihan, apalagi pertandingan."
Kali ini Ina tdk bisa menahan diri lagi dan dia langsung memeluk Revel, tdk peduli bahwa
pria itu tdk memeluknya balik. Revel adalah suaminya dan kesedihan yg Revel rasakan juga
dapat dia rasakan. Stelah beberapa menit Ina melepaskannya dan menatapnya.
"Why did you do that?" tanya Revel. Mendengar nadanya, Ina menyangka bahwa dia sudah
marah, tp ketika Ina menatap matanya, dia melihat bahwa Revel hanya terkejut.
"I don't know, I just thought you might need a hug," balas Ina kemudian menunggu ketika
Revel akan meledak dan mengatakan bahwa dia bukanlah seorang laki2 cengeng, tp ledakan
itu tdk pernah datang.
Revel menatap Ina, wanita yang hari ini resmi menjadi istrinya dgn sedikit terkesima.
Bagaimana Ina slalu melakukan ini dia tdk tahu, tp stiap kali dia dekat dengannya, dia bisa
membuatnya menurunkan perisainya dan sbelum dia sadar apa yg sedang terjadi, dia sudah
membeberkan sesuatu yg tdk pernah dia ceritakan pada orang lain. Knapa Revel melakukan
ini kepada dirinya sendiri, memasuki kamar Ina padahal dia tahu bahwa Ina sendirian di
kamar ini, dia tdk tahu. Menyadari bahwa dia sudah melakukan kesalahan dgn memasuki
kamar Ina, dia mencoba melarikan diri secepat mungkin. Tapi usahanya gagal karena pada
detik itu terdengar suara ketukan pada pintu kamar dan sbelum Revel bisa bergerak, pintu
itu sudah terbuka dan kak Kania melongokkan kepalanya. Dia kelihatan terkejut melihat
Revel berada di dalam kamar itu bersama adiknya.
"Eh, kakak nggak tahu klo kmu ada disini," ucapnya pada Revel, kemudian, "tp baguslah,
kakak perlu bicara dgn kalian berdua. Ini penting," ucapnya dan memasuki kamar tanpa
permisi lagi.
Revel da Ina langsung menatap satu sama lain dgn sedikit bingung dan curiga, tp kemudian
Revel mengirimkan telepati melalui tatapannya yg mengatakan, "Apa kira2 yg kakak kmu
mau omongin?"
Ina membalas dgn telepati juga yg berkata, "I have no idea."
Kania memerhatikan interaksi pengantin baru yg ada dihadapannya ini dan dia tahu bahwa
mereka sedang berkomunikasi satu sama lain tanpa mengeluarkan suara, sesuatu yg
biasanya hanya bisa dilakukan oleh 2orang yg sudah mengenal satu sama lain selama
bertahun2. Oleh sebab itu dia cukup terkejut ketika melihat ini pada Revel dan Ina.
Spertinya dia sudah salah perhitungan tentang dalamnya chemistry yg mereka miliki.
Akhirnya bukannya langsung mengemukakan apa yg dia ingin katakan, Kania mondar mandir
beberapa kali di depan Ina dan Revel yg kini duduk di sofa di kaki tempat tidur, tanpa
mengeluarkan suara. Ina hanya menatapnya bingungu dan menunggu. Ketika 5menit
kemudian kakaknya masih belum juga menyatakan tujuannya Ina menegurnya.
"Kak, tadi kakak bilang ada yg penting yg perlu dibicarakan?"
Kania berhenti mondar mandir dan menatap Ina dgn ragu sbelum akhirnya berkata, "You
know I love you, right?"
"I know," jawab Ina sedikit bingung.
"Dan kmu tahu kan klo kmu slalu bisa datang ke kakak kapan saja klo kmu ada masalah?"
"Iyaaaa..." balas Ina yg kini mulai curiga dgn tujuan kedatangan kakaknya.
"Karena apapun juga yg kmu kerjakan, bahkan klo itu melanggar hukum, kakak akan tetap
mendukung kmu."
"Okay, thanks... I guess.."
"So, apa ada sesuatu yg kmu mau share sama kakak?" Ketika mengatakan ini Kania menatap
Revel yg mendelik ketika sadar bahwa kakak iparnya sedang menatapnya penuh curiga.
"Sesuatu sperti apa?" tanya Ina, mencoba menyelamatkan Revel dgn memasang wajah tidak
bersalah, padahal dalam hati dia sudah mulai waswas bahwa kak Kania tahu sesuatu
tentang status pernikahannya dgn Revel.
Kania menatap adiknya tdk percaya karena untuk pertama kalinya dia mendapatinya sedang
berbohong dan Ina tdk pernah berbohong. "Gimana klo kita mulai dgn kmu baru ketemu
Revel pertama bulan Agustus, mulai pacaran bulan Februari, tahu2 bulan Maret kmu
ngenalin dia ke keluarga kmu sebagai tunangan kmu, laki2 yg selama ini disebut sebagai the
most eligible bachelor di seluruh Indonesia karena nggak pernah menunjukkan keinginan
untuk menikah, yg 3bulan sbelumnya masih pacaran sama perempuan lain, dan yg sebulan
sbelumnya terkena gosip yg nyaris menghancurkan kariernya." Kania menunjuk kepada
Revel ketika mengatakan ini. Kemudian dia mengalihkan perhatiannya kepada Ina dan
berkata, " Dan kmu bukan tipe orang yg bersedia menikah dan hidup selama2nya dgn laki2
yg kmu baru pacari selama sebulan."
Kania berhenti sejenak untuk membaca ekspresi Ina dan Revel, ketika dia melihat bahwa
dua2nya masih menunjukkan wajah tdk bersalah, dia menambahkan, "Apa kalian akan
membuat kakak menyebutkan satu per satu hal yg membuat pernikahan kalian ini aneh?"
Kania mendengus ketika Ina dan Revel masih tdk mau mengaku. "Fine, spertinya kakak
sudah buang waktu berbicara dgn kalian berdua," ucapnya kesal dan berjalan menuju pintu.
Tapi ketika tinggal satu langkah lagi, dia memutar tubuhnya dan berkata, "Revel, kakak
cuma mau kmu tahu apa yg kmu sudah katakan sehingga Ina melakukan apa yg dia sedang
lakukan sekarang, tp kakak cuma mau kmu tahu bahwa Ina datang dari keluarga besar yg
mencintainya, dan kami tdk akan segan2 untuk membuat kmu sengsara klo kmu menyakiti
Ina. Paham?!"
Ina sudah siap protes ketika dia mendengar Revel berkata, " Paham, kak. Saya sudah janji
untuk menjaga Ina, dan saya akan tepati janji saya."
Kak Kania menatap Revel dari ujung hidupnya dan Ina mengangguk, tanda bahwa dia
menerima janji Revel sbelum keluar kamar, meninggalkan Ina yg mencoba meminta maaf kepada Revel atas tingkah laku kakaknya.


Celebrity Wedding - Bab 14

No comments:

Post a Comment