Monday, September 7, 2015

Celebrity Wedding - Part 21

The Much Needed Distance

Revel merayakan ultahnya beberapa hari sbelum turnya dimulai, dgn begitu acara ultah itu
digabungkan dgn acara syukuran turnya. Ina sempat bertanya padanya apa yg dia inginkan
untuh hadiah ultahnya, yg dijawab dgn tatapan sensual dari Revel. Ina tdk perlu jadi Sookie
Stackhouse untuk tahu apa yg diinginkannya, sesuatu yg dia tdk bisa berikan, setidaknya tdk
sekarang, atau bahkan mungkin selamanya. Kontrak mereka akan berakhir 6bulan lagi, dan
2bulan diantaranya Revel tdk akan ada di Jakarta dan Ina yakin bahwa selama 2bulan
mereka terpisah, Revel akan bisa mendapatkan pandangan baru tentang hubungan mereka.
Lain dgn pernikahan mereka, acara ultah ini dirayakan secara kecil2an. Hanya sekitar
50orang yg diundang ke acara tersebut. Om Danung dan Revel memotong tumpeng
bersama2, kemudian Revel diminta memotong kue ultahnya untuk dihidangkan sebagai
makanan penutup. Senyum simpul muncul pada sudut bibir Ina ketika melihat Revel
menyempatkan diri mengobrol dgn setiap tamu yg datang pada pesta ultahnya. Ina
mendengar suara tawa Revel yg sepertinya baru mendengar suatu lelucon dari salah satu
OB yg bekerja untuk MRAM. God, dia betul2 suka melihat wajah Revel klo sedang tertawa.
Sudut matanya akan berkerut dan matanya akan hilang sama sekali. Ina slalu menggoda
Revel dgn mengatakan bahwa dia tdk akan tahu klo orang sudah ngumpet klo dia sedang
tertawa, saking kecilnya matanya.
Yes, definitely, aku harus menjaga jarak dgn Revel untuk mencegah hal2 yg tdk diinginkan,
pikir Ina ketika menyadari bahwa dia sudah tertangkap basah oleh Revel ketika sedang
memandanginya dgn tatapan yg Ina yakin terlihat siap menelannya bulat2.
***
Revel dan timnya berangkat ke Medan hari Kamis pagi dan Ina tdk ikut mengantar. Malam
sebelumnya Revel mengetuk pintu kamarnya dan Ina mempersilahkannya masuk. Revel
memilih duduk di kursi sofa dan Ina diatas tempat tidur.
“Saya akan pergi selama sebulan lebih, tp kmu slalu bisa menghubungi saya melalui HP. Will
u be okay while I’m gone?”
Ina tersenyum dan membalas, “I’ll be fine.”
“Klo kmu perlu apa2 minta saja sama mbok Nami, Sita, atau bahkan mama saya.”
“Rev, I’ll be fine.”
Revel mengangguk mendengar nada peringatan Ina. Dia kemudian berdiri dan Ina
mengiringinya menuju pintu.
“While I’m gone, bisa tolong kmu betul2 pikirkan permintaan saya? Maybe, kmu bisa kasih
saya jawabannya waktu saya kembali dari tur?” tanya revel dgn penuh harap.
“We’ll se. Mungkin perasaan kmu terhadap saya akan berubah selama kmu tur ini dan siapa
tahu ternyata stelah kmu kembali dari tur, kmu sudah tdk menginginkan hal yg sama.”
“Not bloody likely. Klo saya sudah mengambil keputusan biasanya saya tdk akan
merubahnya.”
“You might.”
“No, I won’t,” jawab Revel tegas seraya meninggalkan kamar Ina.
Kamis malam ketika Ina pulang dari kantor dan tdk menemukan Revel menunggunya sperti
biasanya, dia merasa sedikit kesepian. Dia merindukan Revel. Suara tawanya,
kehangatannya, leluconnya, wajahnya.. Ina merindukan kehadirannya. Dia tdk menyangka
bahwa dia akan merasa sperti ini, dan perasaan itu betul2 mengejutkannya. Dengan
perginya Revel, Ina mendapatkan ritual baru, yaitu menunggu telpon dari Revel. Setiap kali
Revel akan naik pentas, dia slalu menelepon Ina terlebih dahulu. Mereka akan mengobrol
selama 5menit dan Ina akan mengatakan bahwa konsernya akan sukses. Revel juga akan
meneleponnya lagi stelah selesai konser untuk mengatakan bahwa semuanya berjalan
lancar. Ina memasukkan jadwal tur Revel ke dalam Blackberry-nya agar dia slalu tahu
dimana Revel, bukan karena dia posesif terhadap Revel tp karena inilah satu2nya cara agar
bisa merasa dekat dgn Revel selama dia pergi.
Stelah berita heboh tentang video Luna dan bayinya di Youtube pada bulan Juli, sekali lagi
Luna menghilang dari peredaran. Ian memperkirakan bahwa luna mungkin sedang mencoba
membesarkan bayinya di Jerman. Sebagai warga negara Jerman dia tentunya memiliki hak
untuk tinggal di negara itu tanpa batasan waktu. Ina bertanya2 apakah Dhani akan maju ke
publik dan mengakui bayi Luna sebagai miliknya. Kini image Revel sudah betul2 berubah di
mata masyarakat. Mereka kini kembali memuji Revel, mulai dari penjualan single-nya yg
lebih dari sukses, sehingga kehidupan rumah tangganya dgn Ina adem ayem. Dan Revel juga
sudah membuang kebiasaan buruknya untuk berkonfrontasi dgn wartawan, sehingga media
betul2 tdk memiliki dasar melakukan bad publicity.
***
Ketika bulan Oktober tiba, Ina sudah tdk tahan lagi tinggal di rumah Revel tanpa ada Revel di
dalamnya. Setiap sudut rumah itu mengingatkan Ina akan Revel. Kursi di meja makan
tempat dia biasa duduk, kolam renang tempat dia biasa berenang, studio tempatnya
bekerja, berbotol2 Evian di dalam lemari es, bahkan ketiga mobilnya yg diparkir di garasi.
Para pembantu mulai menyadari bahwa dia kini tidur di kamar Revel karena mereka
menemukan seprai tempat tidur itu kusut setiap pagi dan tempat tidur Ina masih tetap rapi.
Beberapa kali Ina mempertimbangkan untuk mengambil cuti dari pekerjaannya dan
mengunjungi Revel, yg pada saat itu sudah berada di Kalimantan, tp dia tdk mau
mengganggu konsentrasi Revel ketika dia sedang bekerja. Lagi pula dia tdk tahu apakah
Revel akan senang melihatnya muncul dgn tiba2 tanpa sepengetahuannya, toh Revel tdk
pernah mengundangnya untuk turut serta dalam turnya.
Seminggu kemudian Ina memutuskan pindah ke rumah ibu Davina untuk sementara waktu
sampai Revel kembali dari turnya. Dia memilih rumah mama Revel karena apartemennya
masih disewakan, dan karena orangtuanya, kak Mabel, dan kak Kania akan curiga klo dia
menginap di rumah mereka. Ina hanay memberitahu mbok Nami tentang keberadaannya
klo2 ada emergency. Dia juga memintanya untuk tdk memberitahu Revel tentang
kepindahan sementaranya, karena klo Revel bertanya2 tentang alasannya, maka Ina harus
menjelaskan, dan itu adalah hal terakhir yg ingin dilakukannya saat ini. Meskkipun ibu
Davina awalnya menolak perpindahan ini tetapi atas ancaman Ina bahwa dia akan pindah ke
hotel klo tdk diperbolehkan tinggal di situ, ibu Davina menyerah. Entah gosip apa yg akan
tersebar klo menantunya ditemukan menginap di hotel selama Revel pergi tur.
Ina baru saja bisa mulai menikmati proses Detox Revelnya stelah beberapa hari berada di
rumah ibu mertuanya, ketika telpon rumah berbunyi pada Sabtu siang. Ibu Davina terdengar
cukup tenang ketika menjawabnya, tp stiap detiknya nadanya semakin terburu2 dan Ina
menangkap nama Revel disebut2. Kemudian telpon itu ditutup dan Ina mendengar langkah
ibu Davina mendekat. “Kmu sebaiknya menyiapkan penjelasan kmu karena Revel sedang
dalam perjalanan kesini,” ucapnya.
“Lho, kok dia ada di Jakarta? Dia seharusnya konser di Gorontalo besok. Apa ada masalah?”
balas Ina sambil meloncat berdiri dari kursi taman yg didudukinya.
“Tentu saja ada masalah. Dia pulang ke rumahnya untuk ketemu dgn istrinya yg ternyata
sudah minggat ke rumah mamanya. Dia mungkin menyangka kmu sedang ngambek.”
Ina memerhatikan wajah ibu Davina dan membutuhkan beberapa detik untuk mengenali
ekspresi itu. Ibu Davina kelihatan takut. Ina tdk percaya ini. Ibu paling menyeramkan yg dia
pernah temui sepanjang hidupnya, pada detik ini, takut pada anaknya. Setelah rasa
terkesimanya luntur, Ina sadar bahwa... Oh, my God.. Revel akan datang dan ini adalah
pertama kalinya mereka akan bertemu muka setelah 5minggu dan dia kelihatan berantakan
dgn pakaian rumahnya. Tanpa permisi lagi Ina langsung ngacir ke lantai atas untuk mencuci
muka,mengganti pakaiannya dgn celana capri dari bahan khakis dan kaus putih. Dia
kemudian menyisiri rambutnya hingga rapi. Dia sedang mempertimbangkan apakah dia mau
mengoleskan lipgloss pada bibirnya ketika mendengar suara mobil. Ina mengintip dari
jendela kamarnya yg terletak dilantai atas dan melihat Revel turun dari Range Rover-nya.
Dari langkahnya Ina tahu bahwa mood-nya tdk baik.
Ina langsung ngacir ke pintu untuk menyambutnya. Dia tdk peduli seberapa marah Revel
padanya, yg penting dia sudah kembali, dan dgn begitu Ina bisa melepas rindunya dgn
memeluknya seerat2nya selama 5menit penuh. Dia baru saja mau menuruni tangga ketika
dia melihat Revel yg dgn langkahnya yg besar2 sedang menaiki anak tangga tiga sekaligus.
Ketika Revel menyadari bahwa Ina ada dihadapannya, langkahnya tersandung, tp kemudian
dia menghampiri Ina dgn cepat, dan Ina terpaku pada tempatnya, menunggu hingga Revel
mencapainya.
“Hei, Rev,” ucap Ina sambil tersenyum ragu.
Kemudian semuanya berlangsung dgn cepat sehingga Ina tdk bisa berpikir lagi, dia hanya
bisa melakukannya. Revel mendorongnya ke dinding dan tanpa menunggu reaksi dari Ina,
langsung menciumnya habis2an. Ciumannya terasa rough dan demanding sehingga Ina
kalang kabut mengikutinya. Revel kemudian menarik tubuh Ina kedalam pelukannya dgn
tangan kanannya seakan2 Ina adalah boneka, sedangkan tangan kirinya memegang
belakang kepala Ina, membantalinya agar tdk membentur dinding sementara dia melakukan
serangannya. Ina tdk protes sama sekali karena dia dapat merasakan apa yg dirasakan Revel
saat itu. Mereka sama2 meluapkan kerinduan mereka akan satu sama lain dgn satu2nya
cara yg mereka tahu. Kata2, pelukan, dan ciuman di pipi tdk akan cukup.
Revel mengangkat bibirnya dari bibir Ina dan berkata, “I miss you,” diantara napasnya yg
memburu.
Ina tdk bisa melihat wajah Revel yg kini sedang menciumi pelipis dan keningnya berkali2. “I
miss you too,” balas Ina sambil tersenyum.
Kata2 Ina membuat Revel berhenti menciumnya dan menatap wajahnya. Wajah Revel
kelihatan terkejut dan tdk percaya. “You do?” tanyanya.
Ina mengangguk memberikannya kepastian dan spertinya itu saja konfirmasi yg dia perlukan
sebelum menciumi Ina lagi, tp kini ciumannya lebih lembut dan tdk terlalu terburu2. Dan itu
justru membuat Ina meleleh. Dia melingkarkan kedua tangannya pada leher Revel dan
menikmati apa yg diberikan Revel padanya. Ina baru ingat keberadaan mereka ketika dia
mendengar suara seseorang berdeham beberapa kali. Buru2 dia menarik kedua lengannya
dari leher Revel, tp Revel terlihat tdk peduli karena dia masih menciumi Ina sperti besok
akan kiamat. Dia baru berhenti stelah mendengar suara mamanya.
“Revelino Darby! Mama tdk membesarkan kmu untuk berkelakuan sperti kaum barbar. Kmu
sebaiknya bawa istri kmu ke tempat yg lebih private klo kmu memang ingin melakukan
apapun itu yg kmu sudah rencanakan waktu masuk ke rumah ini tanpa permisi.”
Dgn sangat tdk rela, Revel melepaskan Ina yg mencoba manarik napas ke dalam paru2nya.
Puas melihat mata Ina yg masih sedikit tdk fokus stelah ciyumannya, Revel kemudian
memutar tubuhnya menghadap mamanya. “Hei, mam,” ucapnya santai.
Ibu Davina mengangkat alisnya sbelum berjalan menuruni tangga sambil geleng2 kepala dan
menghilang dari pandangan mereka.
“Rev..,” ucap Ina memulai penjelasannya.
“Kmu bisa jelaskan knapa kmu minggat sementara saya menanggalkan setiap helai pakaian
yg menempel pada tubuh kmu. Dimana kamar tidur kmu?”
Revel sudah menarik Ina melangkah ke lantai atas. “Wait.. wait.. Rev, apa kmu sudah gila?
Ini rumah mama kmu.” Ina mencoba menyadarkan Revel yg spertinya sudah melewati batas
kesabarannya.
“So?”
“Ini nggak sopan,” desis Ina.
Ina terkejut ketika sekali lagi Revel mendorongnya ke dinding. “Jadi kmu nggak keberatan
tidur dgn saya sekarang, kmu hanya keberatan dgn lokasinya?”
Ina hanya bisa menatap Revel selama beberapa detik mencoba mencerna kata2 itu,
sementara dia mengontrol keinginannya untuk menarik Revel ke dalam kamar tidurnya dan
memintanya melakukan apa saja yg mau dia lakukan padanya, tp kemudian dia berhasil
mengatasi kebingungannya dan menganguk. Revel melepaskannya.
“Oke, saya akan bawa kmu pulang ke rumah kita, tp kmu harus janji sama saya bahwa kmu
tdk akan berubah pikiran selama perjalanan kesana,” ucapnya.
“Janji,” jawab Ina.
***
Meskipun Ina berjanji bahwa dia tdk akan mengubah pikirannya, tp Revel tdk mau
mengambil resiko. Oleh sebab itu dia membawa mobilnya sudah sperti orang gila dan
melanggar hampir stiap peraturan lalu lintas. Dia bersyukur bahwa tdk ada polisi sama
sekali. Dia mengetukkan jari2nya pada setir menunggu hingga pintu gerbang terbuka
sebelum tancap gas dan berhenti di depan rumah dgn ban berdencit diatas batu kerikil. Dia
tdk memedulikan tatapan bingung mbok Nami dan menggeret Ina bersamanya menuju
lantai atas.
“Kamar kmu apa kamar saya?” tanya Revel.
“Errr..<” ucap Ina ragu.
“Kamar saya. Ada alasannya knapa saya membeli tempat tidur ukuran King,” potong Revel.
“Rev, soal kamar kmu..”
“Jangan khawatir, kmu adalah perempuan pertama yg tidur diatas tempat tidur itu. Saya tdk
pernah membawa perempuan pulang ke rumah untuk seks.”
Ina hanya menganga mendengar pernyataan ini. Kenyataan bahwa Revel akan lebih
berpengalaman daripada dirinya membuatnya ragu. Sbelum Ina bisa mengemukakan apa yg
dipikirkannya, Revel sudah mendorongnya masuk ke dalam kamar tidurnya, menutup pintu
dan menguncinya sbelum menghadapnya.
Revel mengambil 2langkah lebar menujunya dan Ina mundur.
“Rev, tunggu sebentar. Ada sesuatu yg saya perlu bicarakan dgn kmu.”
“Saya tdk peduli alasannya, tp saya sudah maafin keminggatan kmu.” Revel tdk memdulikan
bahasa tubuh Ina yg mencoba menjauhinya. Dia meraih lengan Ina bagian atas dan
mendorongnya ke arah tempat tidur.
Ina jatuh terduduk diatas tempat tidur sambil berteriak, “Wait.. wait..”
Revel yg sedang dalam proses menanggalkan sabuknya stengah melemparkan kausnya ke
lantai, berhenti dan menatapnya. “Sumpah Ina, klo kmu menolak saya sekarang, saya cekik
kmu.”
Mau tdk mau Ina terkikik. “No, no, no.. saya nggak menolak kmu. Pada detik ini saya rasa
saya nggak akan sanggup menolak kmu.”
Revel menghembuskan napasnya dan melanjutkan proses penanggalan pakaiannya. Stelah
dia tdk mengenakan sehelai pakaianpun, dia menatap Ina yg masih berpakaian lengkap dan
sedang menarik tatapannya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya sbelum tersenyum
simpul.
“Kmu knapa ngelihatin saya kayak gitu? Kayak kmu nggak pernah ngeliat laki2 telanjang saja
sebelumnya,” komentar Revel sambil berjalan kearah tempat tidur.
Ina menarik tubuhnya ketengah tempat tidur, menjauhi Revel. “Kmu yg pertama buat saya,”
ucap Ina.
Kata2 itu menghentikan Revel yg sedang naik keatas tempat tidur.
“Itu yg sudah saya coba katakan dari tadi, tp aksi striptease kmu mengalihkan perhatian
saya.”
Revel terdiam, dari wajahnya Ina bisa membaca bahwa dia masih ingin melanjutkan
rencananya, tp dia kelihatan ragu dan sedikit khawatir. Pada detik itu In atahu bahwa dia tdk
perlu khawatir akan perlakuan Revel padanya. Dia tahu bahwa Revel tdk akan bisa
menyakitinya dlm situasi apapun juga. Ina bangkit dan mendekatinya.
Ina menyentuh pipi Revel dan berkata, “Rev, I’ll be fine. Saya tahu kmu akan menjaga saya
selama saya melalui proses ini. I trust you.”
“Ina, dalam situasi saya yg sekarang, saya nggak yakin saya bisa gentle dgn kmu. Saya bisa
secara nggak sengaja menyakiti kmu.” Revel terdengar putus asa.
Ina meletakkan kedua tangannya pada wajah Revel dan berkata, “I trust you,” dgn penuh
keyakinan.
Ina emncium sudut bibir Revel untuk meyakinkannya. Awalnya Revel masih ragu, tp Ina tahu
bahwa dia sudah menang ketika Revel mulai menciumnya balik sementara kedua tangannya
mulai menanggalkan pakaian yg dikenakan Ina. Dan selama 2jam ke depan Ina dapat
merasakan apa artinya dipuja oleh laki2.
***
“Are you okay?” tanya Revel stelah dia puas mengeksplorasi tubuh Ina dan membuatnya
berteriak berkali2.
“I’m okay.” Suara Ina terdengar sedikit teredam karena kepalanya beristirahat pada dada
Revel.
Matahari sudah akan terbenam, tp mereka menolak meninggalkan kamar itu. Dia
seharusnya tahu bahwa dibawah sikap seriusnya Ina menyimpan energi yg bahkan bisa
menghidupkan kota Jakarta selama sebulan. Revel tdk menyesali keputusannya untuk
bersabar hingga Ina betul2 siap, karena Ina memang worth the wait. Ina sangat responsif
dibawah sentuhannya dan dia tdk malu2 memberitahu Revel apa yg diinginkannya. Dia tdk
tahu apakah Ina merasakannya, tp Revel merasakan pergerakan kosmik, seakan2 bumi,
bulan, bintang, dan matahari, bergerak pada saat yg bersamaan, mendukung kebersamaan
mereka. Ini bukan hanya seks biasa. Ini seks yg melibatkan hati dan perasaan dan ini adalah
seks terbaik yg pernah dia alami sepanjang hidupnya. Gosh... he can’t wait to do it again.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia betul2 kehilangan kontrol dan bukannya takut,
yg dia rasakan adalah kebebasan. Ina dgn tubuh mungilnya dan otaknya yg brilian telah
membebaskannya dari segala beban yg telah memberatkan hatinya.
Selama sebulan lebih tur ke kota2 dimana dia tdk mengenal siapa2 selain kru turnya, Revel
banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar hotel, sendirian. Kesendirianya itu
membantunya berpikir tentang hubungannya dgn mamanya dan dgn Ina. Dia kini menyadari
bahwa Ina benar, bahwa dia memang harus memaafkan mamanya agar bisa melanjutkan
hidupnya. Selama ini dia memang sudah mencoba memperbaiki hubungan itu, tetapi dia
belum betul2 siap berbicara dgn mama dan menyelesaikan masalah mereka. Stelah
mengambil keputusan untuk betul2 berbicara dgn mamanya sekembalinya ke Jakarta,
pikirannya kemudian beralih kepada Ina.
Dia mulai merasa bahwa ada sesuatu yg salah dgn dirinya 2hari stelah turnya dimulai.
Awalnya dia menyalahkannya pada kenyataan bahwa dia harus membiasakan diri dgn
kehidupan tur lagi, tp dia tahu bahwa itu bukan sebabnya ketika dia mulai mencari2 alasan
hanya untuk menelpon Ina di luar jadwal yg sudah ditetapkan. Dia hanya mau mendengar
suaranya yg slalu ceria stiap kali menerima telponnya. Revel menolak mengakui bahwa dia
memerlukan Ina untuk mengisi hari2nya dan karena dia tdk tahu bagaimana
mengungkapkan perasaannya, akhirnya dia jadi moody. Om Danung yg sudah tdk tahan
melihat tingkah laku Revel yg mulai menurunkan semangat timnya, memerintahkan Revel
agar pulang ke Jakarta.
Dia yg sudah membayangkan wajah Ina ketika melihatnya muncul tiba2, hanya
mendapatkan mbok Nami yg mengatakan bahwa Ina tinggal dgn mamanya semenjak
seminggu belakangan ini. Dan itu membuatnya marah besar. Segala macam skenario
bermunculan dikepalanya. Dia berusaha mengingat2 apakah dia sudah menyinggung hati
Ina sehingga dia pergi meninggalkannya, tp stelah beberapa menit dia tdk bisa menemukan
alasan knapa Ina berlaku sperti itu, Revel merasa ingin mencekiknya. Tp ketika dia melihat
Ina, semua kemarahannya sirna, yg tersisa hanya keinginan untuk menyatukan partikel2
atom yg tersisa yg ada pada dirinya dgn Ina.
Pergerakan pada tubuh Ina membangunkannya dari lamunan. “Sori ya,” ucap Revel.
“Untuk apa?” tanya Ina.
“Saya takut sudah menyakiti kmu,” jelas Revel.
Revel mendengar Ina terkikik dan dia menopang tubuhnya dgn sikunyadan menatap Ina.
Perempuan satu ini memang betul2 tahu cara menginjak2 egonya. Dia sedang menunjukkan
sisi sensitifnya dgn mengatakan konsekuensi tindakan mereka dan Ina malah
menertawakannya. “Ada yg lucu?” tanyanya.
“Kmu,” balas Ina dan menggulingkan tubuhnya ke atas kasur sambil tertawa terbahak2.
“Apa sih yg lucu?”
“Kmu,” jawab Ina diantara tawanya.
“Well, excuse me klo saya mencoba menjadi laki2 yg sensitif.”
Ina terdiam dan menatap Revel, tp kemudian dia meledak tertawa lagi. Merasa tersinggung
Revel bergerak meninggalkan tempat tidur, tp Ina menariknya.
“Kmu marah ya?”
“Nggak,” ucap Revel yg bersusah payah mencoba menyembunyikan nada ngambeknya.
Ina tersenyum. “makasih ya atas perhatiannya,” ucap Ina dan mengecup kening Revel yg
langsung salting.
Untuk menyembunyikan wajahnya yg sudah memerah sperti tomat, Revel perlahan2
memandangi sekelilingnya dan menyadari bahwa ada sesuatu yg beda dgn kamar itu. Dia
baru sadar bahwa TV plasmanya hilang, selain itu desain kamar juga sedikit berbeda.
Sofanya hilang dan digantikan dgn sofa yg tadinya berada di kamar tidur Ina. Perlahan2
Revel turun dari tempat tidur dan tanpa mempedulikan kebugilannya, dia berjalan dan
menyalakan lampu kamar.
“In, kita lagi berada di dalam kamar tidur saya kan?”
Ina mengangguk. “Memangnya knapa?”
“TV dan sofa saya hilang, dan... tunggu sbentar.. itu seprai saya, ya?” ucap Revel sambil
menunjuk tempat tidurnya.
“TV kmu saya pindahkan ke kamar tamu karena saya nggak bisa tidur klo ada TV didepan
saya. Sofa kmu saya tukar dgn sofa saya karena sofa saya lebih nyaman untuk baca buku.
Dan ini adalah seprai kmu, karena baunya sperti kmu.”
“Wait a second.. have you sleeping in my room?”
“Yes, selama beberapa minggu sbelum akhirnya saya memutuskan untuk pindah ke rumah
mama kmu.”
Revel memandangi Ina dgn tatapa serius tapi tentu saja Ina tdk bisa menganggapnya serius
ketika dia berdiri naked dihadapannya, bertolak pinggang sekalipun. Revel berjalan menuju
laci, mengambil underware baru dan mengenakannya. Ina muncul dihadapannya, sudah
mengenakan celana dalam dan kaus, tanpa bra.
“Saya Cuma lagi kangen sama kmu waktu itu, dan satu2nya tempat yg bisa membuat saya
merasa dekat dgn kmu adalah kamar tidur kmu, tp ternyata tidur di kamar ini malah justru
membuat saya semakin kangen sama kmu, itu sebabnya saya meginap di rumah mama kmu.
Saya minta maaf klo saya sudah memasuki teritori kmu tanpa izin. Saya akan kembalikan
barang2 kmu..”
Revel mendiamkan Ina dgn ciumannya, stelah dia bisa meyakinkan Ina bahwa dia tdk marah,
dia mengangkat kepalanya, “Saya mau kmu tidur disini stiap malam dgn saya. Saya mau
berbagi segalanya dgn kmu.”
“Really?” tanya Ina ragu.
“Most definitely,” balas Revel, mencium ujung hidung Ina.
Ina terkikik dan menbiarkan Revel menciumi wajahnya. “Kosongkan jadwal kmu untuk bulan
November,” pinta Revel.
“Why?”
“Karena Nyonya Darby.. suamimu akan membawa kmu pergi honeymoon.”
Ina mengerutkan keningnya. “Yea.. klo kmu nggak keberatan saya lebih suka dipanggil Ina.
Nyonya Darby terdengar sperti mama kmu.”
Revel tertawa terbahak2. Kemudian, “I can’t believe I’m saying this, tp kmu mengingatkan
saya padanya.”
Oke, that just sound wrong. “Errr.. Rev, klo ini cara kmu untuk menggida saya supaya mau
tidur dgn kmu lagi, saya usulkan kmu ganti taktik,” balas Ina.
Revel tertawa lagi. Dia mengangkat tangannya, menyentuh wajah Ina yg sedikit kemerahan
karena kesan beard burn darinya. Dia tdk akan pernah bisa berhenti menyentuhnya. “Kmu
pernah tanya saya apakah kmu tipe perempuan yg saya suka.”
“Ya...”
“Saya slalu suka wanita yg mandiri, percaya diri, dan tahu apa yg dia mau. Kmu memiliki
semua karakteristik itu. Mama saya juga. Selama ini saya slalu menghindari wanita jenis kmu
karena saya melihat apa yg sudah mama lakukan kepada papa. Mama sudah mematahkan
hati papa, bahkan tanpa mengedipkan matanya. Waktu papa meninggal, saya berjanji
bahwa saya tdk akan berakhir sepertinya.”
Wajah Ina kelihatan serius mendengarnya menumpahkan seluruh isi hatinya. Revel tdk
pernah mengungkapkan hal ini kepada siapa2, bahkan tdk kepada mamanya.
“Saya berusaha menjaga jarak dgn kmu. Saya bilang kepada diri saya bahwa kmu nggak baik
untuk saya, bahwa kmu akan melakukan hal yg sama kepada saya, sperti yg mama sudah
lakukan kepada papa. Saya nggak bisa ambil resiko.”
Ina menolehkan kepalanya dan mencium telapak tangan Revel yg membelai pipinya.
Meskipun gerakan itu simple dan Revel yakin bahwa Ina melakukannya karena reflek, tp dia
bisa merasakan bulu tengkuknya berdiri. Pada detik itu dia menyadari bahwa dia sudah
jatuh cinta pada Ina. Dia tdk tahu kapan perasaan ini bermula, mungkin smenjak dia
melihatnya dgn blus hijaunya, atau mungkin ketika Ina membalas ciumannya didalam
studio. Namun dia tdk peduli lagi, yg dia tahu adalah bahwa saat ini, detik ini, dia mencintai
Ina dan bahwa dia tak akan bisa berhenti mencintainya sampai kapanpun.
“Saya nggak tahu apa kmu nantinya akan merasa bosan pada saya, menginjak2 ego saya,
dan meninggalkan saya klo saya sudah tdk menghasilkan uang lagi, tp sejak saat ini.. saya
nggak peduli. Sekarang saya mengerti knapa papa tetap mencintai mama, tdk peduli apa yg
sudah mama lakukan padanya. Untuk bisa hidup dgn wanita yg kita inginkan, walaupun
hanya sbentar saja, akan lebih baik daripada menghabiskan kehidupan kita dgn wanita yg
tdk berarti apa2 bagi kita.”
Ketika Revel selesai dgn deklarasi cintanya, atau setidak2nya sedekat2nya dia mampu
mengucapkannya tanpa betul2 mengucapkan kata “I love you”, mata Ina sudah berkaca2.
“Woman, you better not be crying now,” ucap Revel dan Ina tersedak diantara tawa dan
tangisannya. Sbelum Revel sadar apa yg sedang terjadi Ina sudah memeluknya dgn erat,
seakan2 dia tdk akan melepaskannya hingga sepuluh tahun lagi.
“I love you,” bisik Ina.
Selama beberapa detik Revel tdk bisa bernapas, apalagi berkata2. Ada banyak wanita yg
mengatakan “I love you” padanya sepanjang 33tahun hidupnya, tp tdk satu pun dari mereka
yg bisa membuatnya merasa sebahagia ini karena mendengar 3kata itu.

“Me too, babe. Me too.” Balas Revel


Celebrity Wedding - Part 22

No comments:

Post a Comment