Monday, September 7, 2015

ENDESOR - Bab 1

Laki-Laki Zenit dan Nadir

Kini lihatlah perbuatan Weh. Taikong Hamim, penggawa
masjid, sampai mengacung-acungkan tombak mimbar
pada khalayak yang silang sengketa.
"Tahu apa kalian soal hukum agama!
"Jangan mandikan mayatnya di masjid! Biar dia hangus
di neraka berdaki-daki!"
Andrea Hirata
Langit, kemudi, dan layar, itulah samar ingatku tentang Weh.
Tapi di sekolah lama Molten Bass Technisce School di Tanjong
Pandan, aku pernah melihat fotonya. Tak bohong orang bilang
bahwa dia bukan sembarang, karena Belanda hanya menerima
pribumi yang paling cerdas di sekolah calon petinggi
teknik kapal keruk timah itu. Foto kuno itu sudah buram.
Weh seorang pemuda yang gagah. la bergaya, berdiri condong
menumpukan tubuh kekarnya di atas pemukul kasti.
Namun, sesuatu yang menyayat tersembunyi dalam matanya.
Seringainya hambar, jauh, dan kesakitan. Weh mengawasi lekat
siapa pun yang mendekati fotonya. Aku menatapnya, lama,
lalu bisikan garau mendesis dari foto itu, "Engkau, laki-laki
zenit dan nadir...." Bulu tengkukku meruap, seseorang seakan
berdiri di belakangku, aku berbalik, sepi.
Mengapa Weh kesakitan?
Semula ia baik-baik saja, bahkan tempatnya terhormat
di kelas. Sampai penyakit nista merampok hidupnya. Ia kena
burut. Burut terkutuk yang meniup skrotum dan kelakilakiannya,
bengkak seperti balon sampai jalannya pengkor.
2
Jampi dan ramuan tak mempan. la atau sanak leluhurnya
pernah melangkahi Qur'an, kualat, tuduh orang kampung
tanpa perasaan. Hidup Weh disita malu. Semangat pemuda
penuh harapan itu tumbang. la keluar dari Technisce
School, mengasingkan diri, meninggalkan tunangannya.
Weh menjadi nelayan, tinggal di perahu.
EDENSOR
Aku masih kecil dan Weh sudah tua ketika kami bertemu.
Weh adalah sahabat masa kecil ayah ibuku. Puluhan tahun
ia telah hidup di perahu. Perkenalan kami terjadi gara-gara
aku disuruh ayahku mengantar beras dan knur untuknya.
Semula aku ragu mendekati perahunya. Laki-laki itu keluar
dari lubang palka, tubuhnya aneh. Ia tampak miris bertemu
manusia.
"Lemparkan!" hardiknya melihat benda-benda di tanganku.
Aku terkejut. Enak saja, tidak adil. Ayahku membawa
kebaikan untuknya dan ia sama sekali tak punya basa-basi.
Dia bisa menakuti siapa saja, bukan aku. Weh meradang,
aku bergeming.
"Keras kepala! Mirip sekali ibumu!"
Ia menibar pokok terunjam, merapatkan perahunya
ke pangkalan. Aku melompat dan berdiri tertegun di buritan.
Sampai aku pulang kami tak berkata-kata.
Esoknya, tak tahu apa yang menggerakkanku, aku
kembali ke pangkalan. Weh juga pasti tak tahu mengapa ia
3
kembali menibar pokok terunjam. la hilir mudik di depanku
lalu menghunus sebilah terampang dari punggungnya
sambil menunjuk gerinda di dekatku. Tanpa bicara, aku
meraih terampang itu, memutar gerinda, dan mengasah
lekak-lekuknya.
Aku masih tak tahu mengapa setiap hari aku mengunjungi
Weh. Yang kutahu, ketika melihat matanya yang bening
dan kesakitan, hatiku ngilu, ketika melihat jalannya
timpang karena burut mengisap air dalam tubuhnya, mengumpul
di selangkang, kubuang pandanganku karena hatiku
perih, dan ketika melihatnya tidur, memasrahkan tubuhnya
yang dikhianati nasib pada senyap sungai payau,
aku gelisah sepanjang malam. Akhir bulan aku memecahkan
tabungan pramukaku lalu bersepeda puluhan kilometer
ke Manggar demi satu tujuan: membeli radio saku untuk
Weh.
"Irama Semenanjung Pak Cik, programa RPM Malaysia.
Banyak pantun dan lagu cinta, pasti Pak Cik senang."
Weh menerima radio itu, meletakkannya di atas rak, dan
tak menyentuhnya selama seminggu.
Dua minggu berikutnya aku harus ke Tanjong Pandan
mengikuti ujian sekolah. Tak tahu mengapa, setiap hari di
Tanjong Pandan, aku merindukan Weh. Kembali dari Tanjong
Pandan aku bergegas ke pangkalan. Dekat perahu
Weh kudengar sayup lagu sendu. Aku menyelinap pelanpelan.
Weh tidur meringkuk sambil memeluk radio pemberianku.
Tak pernah kulihat wajahnya sedamai itu. Prog-
Andrea Hirata 4
rama RPM Malaysia mengalunkan "Kasih Tak Sampai",
kemerosok, timbul tenggelam. Aku menggenggam kuatkuat
bungkusan beras di tanganku, hatiku mengembang.
EDENSOR
Berminggu-minggu berikutnya aku bersusah payah membujuk
ayahku agar diizinkan berlayar bersama Weh.
"Tak ada orang yang bernyali ke Mentawai hanya dengan
menaikkan layar. Kautahu, Bujangku? Weh menyelami
teripang, empat puluh meter di dasar Lingga yang pekat, dengan
tabung udara dadanya saja. Hanya dia yang masih berani
ke Pulau Lanun. la tak peduli lagi dengan nyawanya."
Ayah memilih kata dengan teliti. la tak ingin aku terinspirasi
keberanian Weh yang gelap. Namun, semakin keras
Ayah melarangku, semakin kuat inginku. Ketika Ayah menyerah,
semalam suntuk tak dapat kupejamkan mataku.
Akhir pekan, pagi buta, kami bertolak ke tenggara.
Weh mengambil jalur pintas penuh bahaya. Perahu ia layarkan
melintasi lor-lor ganas Karimata. Di selat sempit itu,
Laut Jawa dari utara dan Laut Cina Selatan beradu, terjebak
dalam pusaran yang dahsyat. Aku melihat buih berlimpah-
limpah. Perahu bergoyang halus tapi cepat serupa
denting senar sitar, setiap benda gemeletar, paku-paku
yang mengikat papan berderak bak gemelutuk gigi, seolah
akan bingkas meledak. Perahu meluncur pelan dan waswas
dalam intaian maut, laksana melintas titian serambut terbelah
tujuh di atas neraka yang berkobar-kobar.
5
Terlepas dari daya isap pusaran air, Weh tersenyum
melihatku yang pucat karena telah memuntahkan seluruh
isi lambungku. Perahu terlontar memasuki perairan Kalimantan
di wilayah Tanjung Sambar. Tengah malam, Weh
menyalakan obor, merapal sebaris mantra, aku merinding
melihat gerakan-gerakan halus di bawah air. Ribuan kerisi
dan cumi-cumi menyerbu perahu. Sampai habis tenagaku
meraupnya. Mereka tersihir cahaya obor dan aku tertenung
kehebatan Weh.
Hari pertama bulan September, Weh mengajakku berburu
ikan hiu gergaji. Kami menghadang kawanan besar,
memotong jalur migrasi kafilahnya dari terumbu-terumbu
Belonna yang dingin di Tasmania menuju Kuala Trenggano
yang hangat. Semakin dekat, raksasa-raksasa kelabu itu ternyata
jauh lebih besar dari yang selalu kubayangkan. Mereka
adalah gajah di laut. Air bah bersimbah setiap kali mereka
mengempaskan dadanya yang dilekati teritip. Aku gemetar
mengokang tuas harpun dan membidik seekor hiu yang
lebih panjang dari perahu kami. Kuinjak pegas tuas, tempuling
yang ditambat seutas tali melesat dari larasnya, menikam
punggung hiu dan penguasa laut itu menggelinjang
berguling-guling seperti buaya mematahkan leher lembu.
Simpul tempuling dalam genggamku tersentak, aku terlempar
ke udara, melayang, lalu tertujam ke laut laksana peluru.
Weh terjun menyelamatkanku. la meraih tali tempuling,
aku menahannya. Aku tak rela melepaskan hiu besar itu. Ini
adalah perburuanku yang pertama, pertaruhan harga diri-
Andrea Hirata 6
ku. Aku terombang-ambing diseret hiu yang kalap. Weh
mencabut sundang di pinggangnya, dengan satu gerakan
tangkas, meski tertahan tekanan air. la menampas tali tempuling.
Aku terlonjak ke permukaan, kehabisan napas.
"Keras kepala!
"Keras kepala, seperti ibumu!
"Kau bisa tewas tak berguna!"
Weh menatapku tajam. Aku tahu ia membacaku. Kuangkat
wajahku, tak kusembunyikan siapa diriku.
Perburuan itu, pembuktian martabat itu, berakhir dengan
kesimpulan bahwa aku pantas diajak Weh mengelana
samudra. Ada gunanya tak kulepaskan hiu gergaji itu. Kami
beranjak pulang.
Di tengah perjalanan kembali, Weh menghampiriku.
"Ikal, malam ini, engkaulah nakhoda," tantangnya.
Aku terpana. Laut, hanya laut dan riak gelombang, delapan
penjuru angin, sejauh pandang. Bagaimana aku akan
membawa perahu kecil ini pulang?
"Kalau salah arah, kita akan terdampar di Teluk Hauraki,
Selandia Baru, mati kering seperti ikan asin."
Aku mereka-reka arah, tanpa kompas, tak dapat kubuat
keputusan apa pun. Weh bersungut-sungut, menikmati saat
berkuasa karena ilmunya. Ia diam sampai aku menyerah.
Sejurus kemudian, ia menunjuk ke arah yang jauh,
nun di sana, empat kerlip bintang trapesium perlahan
menjelma di horizon.
"Rasi belantik....
7 EDENSOR
"Itulah timur...."
Aku kagum. Perlahan kuputar gagang kemudi. Sekarang
barat daya jelas bagiku. Ke sanalah tujuanku. Sepanjang
malam aku menatap belantik. Rasi itu bergerak pelan
seakan meniti langit karena bumi berputar. Columbus telah
lama tahu pengetahuan ini, maka ia berani bertaruh
bumi ini bulat. Tengah malam, trapesium belantik terpancang
tepat di atas kepalaku, kubelokkan perahu ke timur
laut. Weh berkisah.
"Tahukah engkau, Ikal...?
"Langit adalah kitab yang terbentang...."
Perahu menyusur gugusan pulau.
"Sejak masa Azoikum, ketika kehidupan belum muncul,
langit telah mencatat semua kejadian di muka bumi...."
Dedaunan trembesi yang merunduk memagari tepian
delta, pukat yang centang-perenang, tonggak-tonggak tambak
yang diabaikan, laut sepi pasang malam, dan kecipuk
anak-anak buaya muara, tepekur menyimaknya.
"Semburat awan-awan tipis itu ...."
Weh menuding langit utara. Berjuta serpih putih terapung-
apung seperti telah dihalau tenaga dahsyat, punggung
gemawan berkilau membias cahaya rembulan.
"Adalah ekor puting beliung yang sepanjang hari ini
menyapu Selat Gaspar...."
Dramatis.
"Awan-awan sisik di tenggara sana mengabarkan sebentar
lagi telur-telur ikan belanak akan menetas ...."
Andrea Hirata 8
Aku terpesona.
"Angin ini, semilir angin ini! Ikal! Dapatkah kaurasakan?"
Weh bersidekap, kedinginan.
"Ini bukan Angin Selatan! Ini Angin Timur!
"Artinya, kemarau akan panjang tahun ini."
Weh bangkit.
"Tampakkah olehmu lingkaran itu?"
Weh menunjuk berjuta bintang, tak kasat olehku lingkaran
itu karena tersembunyi di antara gemerlap miliaran
benda langit. la menarik sebatang kayu bakar dan melukis
langit. Bara kayu bakar melingkar
merah. Aku mengikuti lukisannya.
Perlahan, seperti menyimak
gambar tiga dimensi,
sebentuk lingkaran merekah.
la membagi lingkaran
menjadi dua belas iris. Ajaib!
Di setiap puncak jejarinya
tampak bintang yang lebih gemerlap
dari sekitarnya. Dipatrinya
simbol-simbol aneh dalam setiap iris lingkarannya, berulang-
ulang, sehingga dapat kugambar dalam kepalaku.
Pada setiap simbol Weh bersabda, "Keseimbangan,
perawan, Leo sang singa, matahari pertama musim panas,
bintang kastor, musim menyemai benih ...."
Mendebarkan! Langit adalah kitab yang terbentang, kata
Weh. Laki-laki uzur ini memiliki indra keenam untuk
9 EDENSOR
membagi lapisan langit menjadi halaman-halaman ilmu.
Aku mengerti, itulah konstelasi zodiak!
Pada iris kesepuluh ia berpaling padaku.
"Anak Muda, dirimu, lelaki Oktober. Sambaran api
Mars dan arus dingin Pluto akan menjebakmu ...."
Napasku tercekat.
"Engkau, laki-laki zenit dan
nadir...."
Aku terkesiap. Malam
itu, ingin kujadikan malam
puisi-puisi Lucretius
tentang jagat angkasa, galaksi
andromeda, dan nebula-
nebula triangulum.
Tak 'kan kukejar Weh dengan
pertanyaan-pertanyaan praktis
untuk menerjemahkan kalimatnya yang bersayap-sayap.
Malam itu terlalu agung untuk memohon petunjuk pedoman
hidup yang oportunistik kepada seorang pembaca
langit yang adiluhung.
Angin meniup layar, perahu menusuk kabut. Dini hari,
tampak sayup setangkup wujud diselimuti halimun hanyut.
Apakah pulau itu tujuanku?
Tiga ekor elang gugok melesat diam-diam. Aku tahu,
predator itu ingin menyerbu kawanan pipit yang baru bangun
di sabana Genting Apit. Darah akan bersimbah di
bilah-bilah ilalang. Aku yakin, daratan itulah tujuanku,
Andrea Hirata 10
Belitong. Aku berdiri di hidung haluan seperti Admiral
Hook. Aku telah menjadi seorang navigator alam. Weh-lah
guru yang mengajariku mengeja bintang. Sulit kugambarkan
perasaanku. Aku pulang dari tengah samudra dengan
membaca langit. Weh telah membuatku, untuk pertama
kalinya, merasa menjadi seorang laki-laki.
11 EDENSOR
Berat sekali ketika harus kembali kutinggalkan Weh dua
minggu untuk ujian sekolah ke Tanjong Pandan. Menghadapi
kertas ujian, pikiranku tak dapat kualihkan dari rencana
kami berlayar ke Mentawai untuk melihat penduduknya
melukis tubuh dengan tinta daun. Pulangnya, kami
akan memburu gurita.
Turun dari bus reyot, tak sempat aku pulang ke rumah,
aku langsung ke pangkalan. Namun, kulihat perahu
Weh limbung, layaknya bahtera tak bertuan. Penambatnya
terseret lunglai. Lampu badai masih menyala. Layarnya bergulung.
Di ujungnya terjuntai sepasang kaki yang pucat.
Hatiku dingin. Aku melompat ke sungai, berenang menuju
perahu. Tubuh Weh terbungkus lilitan layar, berayunayun.
Laki-laki pembaca langit itu telah mati, mati meragan
menggantung dirinya sendiri di tiang layar. Penyakit yang
tak tertanggungkan telah merobohkan benteng terakhir semangatnya,
benteng terakhir itu adalah aku.
Tubuhku menggigil waktu membuka jalinan tali rami
yang menjerat lehernya. Kupeluk tubuh Weh, wajahnya
yang tua, keras, dan biru terkulai di lenganku. Di sakunya
masih mendesis lagu-lagu cinta orang Melayu dari programa
radio RPM Malaysia. Aku berteriak-teriak, tapi suaraku
surut diisap sunyi semenanjung, serak ditingkah riak ombak,
lindap ditelan angin, terhalau ke Laut Cina Selatan.
Usungan digotong. Pemikulnya menggerutu. Seperti
hidup mereka yang terbuang, kuburan para pembunuh diri
itu pun dipisahkan, dikucilkan nun di sana, dekat rawa-rawa
nifah, tempat gulma bergumpal-gumpal disarangi biawak.
Aku diam terpancang seperti nisan-nisan kayu sekunyit yang
didesaki ilalang. Orang Melayu bekerja keras sepanjang
hidup, membanting tulang-belulang, berkeringat darah, berlumur
cobaan berat, siapa yang menyerah tak dapat tempat
di hati mereka. Hanya aku sendiri yang tersedan. Lututku
lemas melihat Weh dicampakkan ke dalam lubang, diuruk
sekenanya, ditancapi gagang pacul yang tadi patah waktu
menggali liang lahatnya, lalu ditinggalkan begitu saja.
Pesan terakhir Weh, zenit dan nadir, seperti akar ilalang
yang menusuk-nusuk kakiku, menikam hatiku. Nanti, harus
kujelajah separuh dunia, berkelana di atas tanah-tanah
asing yang dijanjikan mimpi-mimpi, akan kutemui perempuan
yang membuat hatiku kelu karena cinta, karena rindu
yang menyiksa, untuk memahami kalimah misterius
itu. Di kuburan usang, di antara nisan para pendusta agama
itu, aku sadar aku telah belajar mencintai hidupku dari
orang yang membenci hidupnya, dan Weh adalah orang
pertama yang mengajariku mengenali diriku sendiri.
Andrea Hirata 12

Endesor - Bab 2

1 comment:

  1. Terima kasih sudah mengunggah buku ini. Bukan menyetujui ada copy paste isi buku, karena jauh jarak antara sidoarjo dan kazan, aku belum bisa membeli fisik buku ini. Jika ada waktu senggang mari berdiskusi di https://hab070790.wordpress.com/ sekali lagi terima kasih Bokumania.

    ReplyDelete