Tuesday, September 29, 2015

SWEET ENEMY - SANTHY AGATHA - BAB 3


Mimpi adalah manifestasi dari kenangan yang terlupakan di masa lalu.


3

Tidurnya begitu lelap. Davin menggumam dalam hati. Duduk di tepi ranjang dan mengamati Keyna. Dan dia nampak begitu polos, seperti anak kecil. Lelaki itu lalu mengangkat alisnya dan mengalihkan pandangannya ke bagian bawah tubuhnya dengan kesal.

Kalau memang baginya Keyna seperti anak kecil, kenapa dia bisa terangsang seperti ini?

Davin menatap Keyna lagi dan menggeram kesal. Kesal pada dirinya sendiri. Terlalu berbahaya berada di sini. Dia takut lupa diri dan menyerang Keyna dalam tidurnya. Lalu menyesalinya. Dengan hati-hati, dilepaskannya pegangan jemari Keyna di jemarinya, dan berdiri dari ranjang. Dia lalu membungkuk untuk menyelimuti Keyna. Wajah Keyna begitu dekat dengannya, napasnya berembus ringan dan teratur. Dan Davin tidak dapat menahan diri. Dikecupnya bibir Keyna lembut. Sebelum kemudian melangkah pergi, meninggalkan kamar itu, meninggalkan Keyna yang masih tertidur pulas.

♠♠♠

Pagi harinya Keyna terbangun dengan kepala pening. Hujan sudah reda, tetapi masih menyisakan rintikannya yang membuat pagi hari ini gelap dan berkabut.

Setidaknya sudah tidak ada guntur...

Keyna terduduk dan menyadari selimutnya melorot ke pinggang. Dia meraih selimut itu dan menaikkannya lagi ke dadanya karena hawa dingin langsung menyengatnya. Selimut itu tadinya terpasang rapi di tubuhnya. Siapa yang telah menyelimutinya ketika tidur. Ingatan Keyna berputar, dan kemudian pipinya langsung terasa panas ketika mengingat kejadian kemarin malam, ketika dia menghambur ke dalam pelukan Davin tanpa malu.

Oh ya ampun! Dengan begitu saja dia memeluk Davin Jonathan yang sangat angkuh dan terkenal galak itu - meski sekarang Davin tidak pernah bersikap buruk padanya, tetap saja image itu melekat pada pembawaannya - Dan anehnya, Davin tidak menolaknya. Dia sangat ingat bahwa Davin membalas pelukannya, menenangkannya, membawanya kembali ke ranjang dengan lembut dan menemaninya sampai dia tertidur…

Kenapa Davin begitu baik kepadanya?

♠♠♠

“Kau takut dengan petir?” Sefrina menatap Keyna sambil tersenyum geli, dia lalu menyesap cangkir cokelatnya berusaha menyembunyikan tawanya, “Keyna, hanya anak kecil yang takut dengan petir.”

“Yah, aku sebenarnya malu dengan ketakutan tidak wajarku itu.” Keyna tersenyum sambil menatap perempuan cantik di depannya. Oh astaga, Sefrina memang benar-benar cantik. Kulitnya memang agak pucat, tetapi Sefrina pernah cerita bahwa dia menderita sakit yang lama sehingga harus terus di dalam rumah. “Sepertinya aku punya trauma masa lalu di waktu kecil.”

“Trauma apa?” Sefrina menyipitkan matanya dan meletakkan cangkirnya di meja. Mereka berdua sedang duduk di Garden Cafe pagi itu, kebetulan dosen memundurkan waktu kuliah agak siang karena ada acara wisuda, jadi sambil menunggu jam kuliah, Keyna mengajak Sefrina ke Garden Cafe yang biasa dia kunjungi setiap pagi… Sefrina ternyata penggemar kopi, katanya kopi bisa membuatnya lebih segar menghadapi hari.

“Entahlah…” Keyna berusaha mengingat-ingat, “Aku dulu sering bermimpi. Hujan badai, petir, dan teriakan-teriakan keras… Aku bersembunyi di lemari ketakutan…” Keyna menarik napas karena usahanya mengingat itu membuat kepalanya sakit, “Aku tidak tahu apakah itu mimpi atau kenyataan. yang pasti aku selalu mengasosiasikan hujan petir dengan rasa takut yang amat sangat.”

“Mungkin kau harus mencoba hipnotis untuk mengembalikan ingatanmu.”
 “Apa?”

Sefrina terkekeh, “Aku pernah melihatnya di film, ada seseorang yang begitu takut akan darah, dia lupa kenapa, sesuatu terjadi di masa kecilnya tetapi dia tidak bisa mengingatnya, seolah-olah otaknya membentengi ingatan itu dan hanya menyisakan trauma. Dia datang ke ahli hipnotis dan alam bawah sadarnya dibimbing untuk mengingat semuanya. dan hasilnya mengejutkan.” Sefrina tersenyum misterius,

“Mungkin kau harus mencobanya.”

“Mencoba menonton film itu? Atau mencoba datang ke ahli hipnotis?”

Sefrina tertawa lagi, “Dasar. Tentu saja ke ahli hipnotis, siapa tahu kau seperti tokoh di film itu, otakmu memblok ingatanmu, dan kau punya hal mengejutkan yang kau lupakan.”

“Oh ya, mungkin aku harus mencobanya. Setidaknya aku tidak harus menahan malu lagi kalau bertemu dengan Davin nanti.” tatapan Keyna menerawang dan pipinya memanas lagi mengingat kejadian semalam.

“Kenapa harus menahan malu kepada Davin?”

“Karena semalam aku melemparkan diri ke dalam pelukannya karena ketakutan.” Keyna mengusap pipinya, berusaha menghilangkan rasa panas di sana. “Tetapi setidaknya Davin berlaku baik padaku, dia menenangkanku dan menjagaku sampai aku tertidur. Mungkin itu ya rasanya memiliki seorang kakak lelaki.”

Ekspresi wajah Sefrina tak terbaca. Tetapi kemudian dia tersenyum lembut.“Iya Keyna, beruntung sekali dirimu.”

Pipi Keyna memerah, dia berusaha memusatkan pandangannya kepada oreo milkshake yang sangat menggiurkan di depannya, mencoba menghilangkan bayangkan bahwa dia memeluk Davin erat-erat.

“Aku  memang  sangat  beruntung,  karena  keluarga

Jonathan mau menanggungku dan memperlakukanku dengan baik.” Keyna menghela napas, “Karena itu aku akan berusaha sebaik-baiknya supaya tidak mengecewakan mereka.”

♠♠♠
Keyna berjalan sendirian di trotoar, tadi Sefrina sudah dijemput supir pribadinya dan mengajak Keyna menumpang mobilnya, tetapi Keyna menolak karena sebelum pulang dia ingin mengunjungi toko buku tua di sudut kota. Sekarang setelah berhasil membawa beberapa buku hasil buruannya, dia ingin segera pulang karena tanpa disadarinya, waktu sudah beranjak sore. Mama Davin, Nyonya Jonathan menyediakan supir dan mobil untuk mengantar jemput Keyna, tetapi Keyna menolak fasilitas itu dengan halus, selama ini Keyna selalu menggunakan bus untuk pulang dan dilanjutkan dengan jalan kaki. Keyna ingin segera sampai ke halte bus, dia tidak ingin ketinggalan bus, karena kalau sampai terlambat, dia harus menunggu bus berikutnya dua jam lagi. Itu berarti dia harus menunggu di halte sendirian sampai malam.

Tiba-tiba sebuah mobil berjalan lambat di sampingnya, semula Keyna tidak memperhatikan, tetapi ketika mobil itu semakin mengikutinya, Keyna menoleh dan menatap waspada. Mobil itu berwarna hitam legam, jenis mobil sport yang cukup bagus, dengan kacanya yang gelap.

Apakah ini penculikan? Mobil itu mirip mobil mafia-mafia di film. Kadang Keyna kesal dengan imaginasinya sendiri yang membuatnya ketakutan. Lalu kaca mobil itu terbuka sebelum Keyna sempat panik lebih jauh. Yang ada di balik kemudi adalah Jason. Lelaki yang memainkan biola waktu itu. Keyna tak akan pernah lupa wajahnya. Langkahnya langsung terhenti.

Jason ikut mematikan mobilnya dan tersenyum lembut, “Aku pikir aku tadi salah orang, ternyata kau benar-benar Keyna. Kenapa kau berjalan sendirian di sini Keyna?”

“Aku… Eh… Aku sedang menuju halte bus.”

“Menuju halte bus? Memangnya tidak ada mobil dan supir yang menjemputmu?” Jason mengerutkan kening, tampak tidak suka dengan ide Keyna berjalan sendirian dan pulang dengan naik bus.

Keyna tersenyum, “Bukan Jason, bukannya tidak ada, mama Jonathan menyediakannya untukku, tetapi aku menolaknya… Kupikir terlalu berlebihan kalau harus diantar jemput setiap hari.”

Jason mengangkat alisnya, “Tidak terlalu berlebihan, apalagi untuk seseorang yang sudah menjadi bagian dari keluarga Jonathan. Sangat berbahaya berjalan sendirian, karena banyak orang dengan pikiran negatif yang bisa saja memutuskan menculikmu demi uang.”

Kata-kata Jason membuat Keyna takut, dia menatap sekelilingnya dengan waspada, “Tetapi aku bukan bagian dari keluarga Jonathan…” gumamnya pelan, “Mereka tidak akan tertarik menculikku.”

Jason mengangkat bahunya, “Yah, siapa tahu. Banyak orang putus asa dan nekad di dunia ini.” lelaki itu membuka pintu mobilnya, “Ayo, aku akan mengantarmu pulang.”

Sejenak Keyna berdiri ragu. Dia teringat akan kata -kata Davin kemarin kepadanya, kalau dia harus berhati-hati dan jangan terlalu dekat kepada Jason, karena Jason adalah penghancur hati perempuan dan membenci perempuan. Tetapi dilihat dari manapun, dia pasti bukanlah tipe yang diincar oleh lelaki sekelas Jason, jadi tidak mungkin dia dijadikan target oleh lelaki itu. Lagipula Jason tampak baik dan tulus kepadanya, tidak apa-apa mungkin kalau dia ikut lelaki itu.

Setelah menghela nafas ragu untuk terakhir kalinya. Keyna melangkah masuk ke mobil Jason.

♠♠♠

“Kau duduk dengan begitu tegang. Tenanglah Keyna, aku tidak akan memakanmu.” Jason akhirnya bergumam dengan geli setelah beberapa lama mereka berdua dalam keheningan.

Keyna merasa begitu malu, apakah ketegangannya sangat terbaca? Dia dipenuhi kekhawatiran akibat peringatan Davin kemarin, padahal Jason sepertinya benar-benar berniat baik kepadanya.

“Maafkan aku,” gumam Keyna pelan, mengalihkan pandangannya ke arah jendela luar. Langit malam sudah makin menggelap, dan kemacetan di jalan raya membuatnya semakin terlambat pulang. Ponselnya mati karena kehabisan baterai dan dia tidak bisa menghubungi mansion. Tetapi sepertinya mansion juga tidak akan menunggunya pulang. Nyonya Jonathan sedang berada di luar negeri dan Keyna yakin Davin sedang sibuk dengan urusannya sendiri sehingga tidak memikirkan kepulangan Keyna.

“Aku mengerti kok. Suasana memang terasa canggung karena kita belum begitu kenal,” Jason terkekeh, “Dan mungkin kau mendengar tentang reputasi jelekku. Reputasiku memang jelek kepada beberapa perempuan, tetapi sepertinya berlebihan kalau aku dikatakan suka membuat patah hati perempuan. Aku menjalin hubungan dengan beberapa perempuan dan tidak berhasil. Itu saja.” perkataan Jason itu seolah menjawab semua pertanyaan yang ada di benak Keyna, meskipun Keyna bertanya-tanya dalam hatinya, Jason sahabat Davin bukan? Kalau begitu kenapa Davin memperingatkannya tentang Jason? Bukankah para sahabat biasanya saling mendukung?

“Aku tidak mempertanyakan reputasimu.” Keyna bergumam pelan, “Aku juga tidak takut kepadamu. Aku hanya cemas karena pulang terlambat.”

“Pulang terlambat bersamaku.” Jason tertawa geli, “Mari kita lihat bagaimana reaksi Davin.”

Davin tidak akan peduli, gumam Keyna dalam hati. Lagipula kenapa Davin harus peduli?

♠♠♠

Sepertinya Davin memang peduli. Itu yang ada di benak Keyna ketika melangkah turun dari mobil Jason dan menemukan Davin bersandar di pilar teras mansion itu. Gaya tubuhnya tampak santai, tetapi tidak bisa menipu. Tatapannya terasa membakar.

Lelaki itu marah. Batin Keyna dalam hati.

“Darimana saja kau Keyna?” suara Davin berdesis lirih. “Dan kenapa ponselmu mati?”

Keyna menatap Davin penuh rasa bersalah, lelaki itu memperlakukannya seperti ayah memarahi anaknya yang masih kecil. Keyna bukan anak kecil lagi bukan? Seharusnya Davin tidak memperlakukannya seperti itu.

“Aku… Tadi pulang kuliah aku bersama Sefrina, lalu aku mampir ke toko buku di sudut kota sampai lupa waktu… Aku… Aku terlambat pulang jadi…”
 “Dan bagaimana kau bisa pulang bersama Jason?” Davin mengangkat alisnya mengamati Jason yang menyusul dengan tanpa rasa bersalah di belakang Keyna.

“Eh… Aku bertemu Jason di…”

“Sudahlah Davin. Keyna tidak harus diintimidasi seperti itu. Tadi aku kebetulan berpapasan di jalan dengannya, jadi aku menawarkan untuk mengantarnya pulang karena hari sudah malam. Itu saja.”

Tatapan Davin tampak tajam kepada Jason, “Di antara sejuta kesempatan setiap detiknya, dan kau kebetulan bertemu Keyna?”

Jason mengangkat bahunya, “Mau bagaimana lagi? memang begitu kejadiannya. Ya kan Keyna?”

Keyna menatap Davin dan Jason berganti-ganti dengan gugup, lalu menganggukkan kepalanya. “Ya… Memang begitu kejadiannya.”

Davin menghela napas kesal, “Lain kali kalau kau pulang terlambat, telepon aku. Mengerti?”

Keyna sebenarnya ingin membantah. Davin tampak begitu arogan dan memaksakan kehendaknya, dan Keyna tidak suka diperlakukan seperti itu. Tetapi kemudian dia mengurungkan niatnya. Lelaki di depannya ini tampak begitu marah, entah kenapa. Seakan-akan sudah siap meledak kalau dipancing. Keyna pikir lebih baik dia diam dan membiarkan Davin mereda dengan sendirinya.

“Mengerti, Keyna?”

“Mengerti Davin.” jawab Keyna datar kemudian setengah terpaksa. Davin tentu saja mengetahui nada terpaksa itu, tetapi dia tidak mempedulikannya. Lelaki itu melemparkan tatapan memperingatkan kepada Jason yang hanya tersenyum datar dan melangkah pergi keruangan santai tempat biasanya dia duduk kalau sedang datang ke rumah ini.

Setelah Jason menghilang, Davin menatap Keyna memperingatkan.“Bukankah aku sudah memperingatkanmu supaya menjauhi Jason?”

“Aku tidak pernah berusaha mendekati Jason, kami bertemu dan dia mengantarku pulang. Kenapa kau membesar-besarkan masalah ini Davin?” gumam Keyna agak keras, lalu menatap Davin marah, “Ah. Sudahlah.” Keyna membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Davin yang tercenung sambil menatap punggung Keyna.

Davin sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan Keyna. Kenapa melihat Jason mengantarkan Keyna pulang terasa sangat mengganggunya?

Sambil menghela napas panjang, dia melangkah ke ruangan santai menyusul Jason.

♠♠♠

“Jangan dia Jason.” Davin membanting tubuhnya di sofa dan menyesap minuman di gelas kristal bening yang dipegangnya, dia tampak begitu frustrasi.

Jason yang sedari tadi duduk sambil membaca buku di sofa seberangnya mengangkat kepalanya. “Apa?”

“Jangan. Jangan Keyna.”

Jason terkekeh dan meletakkan buku di tangannya, lalu menyandarkan tubuhnya di sofa, “Apa yang membuatmu berpikir kalau aku sedang mengincarnya?”

“Tatapanmu. Kau tidak melepaskannya dari pandanganmu.”

Jason mengusap rambutnya pelan dan menatap Davin penuh spekulasi, “Lalu kenapa kau melarangku?”

“Karena,” Davin menghela nafasnya frustrasi. “Karena aku sudah berjanji akan menjaganya. Dia adalah satu-satunya gadis yang tak akan kubiarkan untuk kau hancurkan.”

“Kalau aku tidak mempedulikan peringatanmu?” nada suara Jason tampak tenang dan tidak terpengaruh oleh tatapan Davin yang menajam, seolah ingin membunuhnya.

“Maka kau akan berhadapan denganku.”

Jason tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kenapa kau ini Davin, sebelumnya kau tidak peduli dengan sepak terjangku dengan siapapun. Dan tentang Keyna, dulu kau membencinya dan ingin mengusirnya. Lalu tiba-tiba saja kau membawanya kembali ke rumah ini dan bertingkah seperti malaikat penjaganya.”

 “Sebenarnya itu bukan urusanmu.”

“Ah ya.” Jason tersenyum santai, “Itu memang bukan urusanku… Tetapi setidaknya bisa menjadi pertimbanganku untuk tidak mengincar Keyna.”

“Dia bukan tipemu.”

“Aku tidak punya tipe khusus. Kau sudah berteman denganku sejak lama, kau pasti tahu kalau aku tidak pilih-pilih.”

Davin mengacak rambutnya kesal, “Kau sahabatku. Dan aku tidak suka harus bertentangan denganmu. Tetapi Keyna adalah pengecualian. Kau tidak boleh mengganggunya, kau dengar itu? Dan kalau kau bertanya-tanya kenapa, itu adalah karena aku punya hutang yang sangat besar kepadanya.”

“Hutang?” Jason mengerutkan keningnya, ekspresinya tidak lagi bercanda. “Bagaimana mungkin seorang Davin Jonathan mempunya hutang kepada gadis biasa seperti Keyna?”

“Bukan hutang uang. Aku berhutang nyawa kepada Keyna, ah bukan… Kepada ayah Keyna.”

“Apa maksudmu?”

“Kau seorang pemain biola profesional, mungkin kau pernah mendengar namanya, Robert Samuel? Itu nama panggungnya dulu kalau tidak salah.”

Jason mengetuk-ngetukkan jemarinya, tampak berfikir. “Ah, ya… Aku ingat… Robert Samuel adalah pemain biola yang sangat hebat dulu. Guru-guru musik kami menyebutnya jenius. Terakhir dia menerima tawaran yang sangat menarik di Austria. Tetapi entah kenapa ternyata dia batal mengambil tawaran itu lalu menghilang begitu saja. Sejak itu dia tak pernah muncul seolah-olah ditelan bumi.” Jason terkekeh, “Guru biolaku adalah salah satu penggemarnya, dia selalu mengulang-ngulang kisah tentang Robert Samuel yang jenius dan betapa sayangnya karena dia menghilang. Sebuah kehilangan besar di dunia musik klasik, katanya.”

“Dia menghilang karena dia tidak bisa bermain biola lagi.”

“Apa? Kenapa kabar itu tidak pernah terdengar?” Jason menatap Davin tajam, “Dan darimana kau tahu?”

“Karena aku yang menyebabkan dia tidak bisa bermain biola lagi. Lelaki itu menyelamatkanku dari penculikan waktu aku masih kecil, dan melukai tangannya. Luka itu mengenai saraf pentingnya dan dia tidak bisa bermain biola lagi.” Davin mengatupkan kedua jemarinya di bawah dagu, “Dan dia mempunyai seorang puteri.”

Jason mengamati ekspresi Davin lalu wajahnya memucat ketika menemukan kebenaran di depannya.

“Keyna…? Apakah maksudmu, putri dari Robert Samuel adalah Keyna?”

“Ya.” Davin mendesah, “Orangtuaku berusaha mencari-cari Robert, dan mereka menemukannya memiliki seorang putri, hidup dalam kemiskinan. Putri dari Robert Samuel adalah

Keyna.” Davin menatap Jason letih, “Sekarang kau tahu kenapa aku harus menjaga Keyna.”

Jason menatap Davin dalam-dalam, “Dan apakah Keyna tahu kisah ini?”

“Tidak.” Davin mengangkat bahu. “Aku tidak ingin dia tahu. Mama sudah ingin memberitahu Keyna, tetapi aku melarangnya.”

“Kenapa?”

Karena dia pasti akan langsung membenciku. Itulah yang dipikirkan Davin pertama kali. Tetapi dia menatap Jason dengan pandangan tanpa ekspresi.

“Karena aku ingin menjaga supaya hubungan kami tetap seperti ini. Aku akan menjaganya dengan sepantasnya. Kau tahu, bisa saja begitu Keyna mengetahui bahwa kami mempunyai hutang budi kepadanya. Dia akan meminta lebih dan memanfaatkan kekayaan kami. Yah, aku tidak menuduh Keyna mata duitan. Tetapi hati orang siapa yang tahu?” Davin merasa mulutnya pahit mengucapkan kebohongan dan penghinaan kepada Keyna. Tetapi di tahannya perasaannya. Jason tidak boleh tahu kalau Davin sangat takut dibenci oleh Keyna.

Jason menghela napas, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Well, tidak kupungkiri, kisahmu ini sangat mengejutkan.” dia memasang ekspresi kosongnya yang biasa. “Jangan khawatir kawan, kisahmu ini sudah pasti membuatku mengurungkan niat untuk merayu Keyna. Kau tidak usah khawatir.”

♠♠♠

Mimpi itu datang lagi. Keyna tahu kalau dia sedang bermimpi. Teriakan-teriakan keras, pertengkaran dan adu mulut panas terdengar di luar kamar, diselingi dengan hujan badai dan kilatan petir lengkap dengan suara guntur yang memekakkan telinga. Membuat Keyna merasa sangat ketakutan, dia masih kecil di mimpi itu, mungkin empat tahun, duduk di lantai sambil menutupi telinganya, memejamkan matanya. Mencoba tidak mendengarkan teriakan-teriakan itu.

Siapa yang berteriak-teriak itu? Kenapa? dimana ayahnya?

Lalu sebuah tangan meraihnya, lembut. Keyna kecil tersentak dan berseru ketakutan. “Sttt… Jangan takut ini aku.” Keyna kecil mengenali aroma itu, aroma menenangkan yang sangat akrab. Dan suara itu juga terdengar akrab. “Mereka akan berhenti bertengkar nanti. Sini biar kupeluk dirimu dan kunyanyikan lagu untukmu.”

Yang memeluknya adalah seorang anak lelaki. Lebih tua darinya. Tidak dikenalnya tetapi terasa akrab. Akrab tetapi dia tidak dapat mengingatnya. Kenapa dia tidak dapat mengingatnya?

Anak lelaki itu bernyanyi, suaranya terdengar lembut. Dia bernyanyi untuk mengalihkan perhatian Keyna dari suara petir yang menggelegar di luar, mengalihkan Keyna dari suara teriakan-teriakan pertengkaran di luar.

Lambat laun Keyna hanya mendengarkan suara nyanyian anak lelaki kecil itu. Tidak ada lagi suara guntur, tidak ada lagi suara teriakan pertengkaran. Kamar itu terasa begitu damai…
Hanya ada Keyna dan anak lelaki kecil itu…

Keyna terbangun kemudian, dengan tubuh basah kuyup dan napas terengah-engah. Mimpi itu sudah lama tidak datang. Dan sekarang datang lagi menghantuinya. Mimpi yang sama, kamar yang sama, anak lelaki yang sama…


Kenapa?



SWEET ENEMY - SANTHY AGATHA - BAB 4

1 comment:

  1. Karna Di ERTIGAPOKER Sedang ada HOT PROMO loh!
    Bonus Deposit Member Baru 100.000
    Bonus Deposit 5% (klaim 1 kali / hari)
    Bonus Referral 15% (berlaku untuk selamanya
    Bonus Deposit Go-Pay 10% tanpa batas
    Bonus Deposit Pulsa 10.000 minimal deposit 200.000
    Rollingan Mingguan 0.5% (setiap hari Kamis

    ERTIGA POKER
    ERTIGA
    POKER ONLINE INDONESIA
    POKER ONLINE TERPERCAYA
    BANDAR POKER
    BANDAR POKER ONLINE
    BANDAR POKER TERBESAR
    SITUS POKER ONLINE
    POKER ONLINE


    ceritahiburandewasa

    MULUSNYA BODY ATASANKU TANTE SISKA
    KENIKMATAN BERCINTA DENGAN ISTRI TETANGGA
    CERITA SEX TERBARU JANDA MASIH HOT

    ReplyDelete