Daftar Penulis

Sunday, September 6, 2015

Dirty Little Secret - Bab 7

Bab 7

Tell me all you’ve thrown away
Find out games you don’t wanna play
You are the only one that needs to know

Setengah jam kemudian Jana sudah ada di dapur, mencoba membuat pancake. Tepat pukul
08.00 dia mendengar langkah menuruni tangga dan tidak lama kemudian Erga muncul masih
mengenakan piamanya. Tapi wajahnya kelihatan fresh, yang berarti dia sudah mencuci
muka dan menggosok gigi sebelum turun.
“Pagi, Sayang. Tidur nyenyak tadi malam?” Tanya Jana sambil menunduk untuk mencium
kepala Erga.
“Pagi, Bunda,” balas Erga sebelum berjalan menuju lemari es untuk mengeluarkan susu.
Jana memperhatikan gerakan Erga yang sistematis. Kebiasaannya setiap hari Minggu adalah
mengeluarkan susu dari dalam lemari es, meletakkannya di atas meja, kemudian mengambil
tiga gelas dari dalam lemari sebelum meletakkannya di atas meja juga. Dan pagi ini tidak
terkecuali. Jana meletakkan pancake di atas tiga piring, sebelum menghiasnya dengan buahbuahan.
Pisang sebagai mata dan mulut, sedangkan stroberi sebagai hidung dan rambut.
Special untuk Raka, dia membuat tanduk dengan dua potong stroberi, sesuai
permintaannya.
“Kalo kamu mau, hari ini kita bisa berenang. Gimana?”
Wajah Erga langsung ceria mendengarnya dan dia mengangguk antusias. Semenjak insiden
di rumah bowin, Jana mendapati bahwa Erga dan Raka ternyata terobsesi dengan kolam
renang. Mungkin karena di sanalah mereka bisa main air sampai puas tanpa kena omel
karena basah.
“Bunda?”
“Mmmhhh?”
“Bunda lagi sedih, ya?”
What? Kenapa Erga menanyakan hal ini? Apa wajahnya sebegitu bengepnya? Mencoba
mengontrol kepanikannya, Jana memutuskan menghindari menjawab pertanyaan itu,
memilih bertanya dengan suara setenang mungkin, “Kenapa kamu Tanya begitu, Sayang?”
“Karena aku denger Bunda nangis tadi malem,” ucap Erga dengan polosnya.
Dan Jana hampir saja menjatuhkan piring yang baru saja diangkatnya. Mampus gue!!!
Gimana dia bisa denger gue nangis sih? Gue udah nutupin muka pakai bantal. Apa yang
harus dia katakana sekarang? Dia tidak mau berbohong, tapi dia juga tidak mau mengatakan
yang sebenarnya. Mungkin kalau dia berdiam diri selama beberapa menit lagi, Erga akan
melupakan pertanyaan itu. Dia mnoleh dan mendapati Erga sedang menatapnya penuh
ingin tahu, menunggu jawaban darinya. CRAP!
Akhirnya dengan susah payah Jana berusaha menjawabnya. ”Bunda…”
Kata-kata jana terpotong oleh kemunculan Raka yang seperti badai. “Pagi, Bunda. Pagi Erga.
Waaahhh pancake, aku mau pancake. Bunda kasih tanduk nggak ke pancake-ku? Oh ya,
Bunda, kemaren aku sama Erga main Twister sama Mbah Uti. Terus Mbah sakit pinggang,
jadi mesti berhenti. Tapi Mbah janji kita bisa main lagi hari ini. Kita bisa nggak ke rumah
Mbah hari ini untuk main Twister, Bunda? Bunda, aku punya tebak-tebakan baru, mau
denger nggak?”
Tanpa menunggu jawaban darinya, Raka langsung memulai tebak-tebakannya, dan Jana
tidak tahu apakah dia harus mengembuskan napas lega karena terlepas dari menjawab
pertanyaan Erga atau menggeram pasrah karena harus mendengarkan Raka, yang kalau
sudah ngomong nggak ada remnya.
Mereka baru saja memasuki rumah setelah menghabiskan hamper seharian di kolam renang
ketika ponselnya berbunyi. Jana meminta Raka dan Erga untuk segera membawa peralatan
renang mereka ke atas dan mandi sebelum menjawab panggilan itu.
“Halo.”
“Jana?”
“Ya?”
“Ini Ben.”
Jana yang sedang mencoba melepaskan sandalnya tidak betul-betul memproses nama ini
dan bertanya, “Ben siapa?”
“Ben Barata, mantan pacar kamu di lowa state yang ketemu tadi malam. Masih inget?”
Jana hampir saja jatuh terjerembap, tersandung sandalnya sendiri saking kagetnya. Hal
pertama yang terlintas di kepalanya adalah “Hah???!!!”, diikuti oleh “Dari mana dia dapet
nomor ini?” dan “DAMN, DAMN, DAMN!!!”
“Jan?”
“Dari mana kamu dapet nomor ini?”
“Oh, aku kenal orang, yang kenal orang, yang kenal kamu.”
Meskipun seharusnya Jana ingin membunuh orang yang telah memberikan nomornya
kepada Ben. Dia juga merasa “sedikit” tersanjung karena Ben sudah bersusah payah
mendapatkan nomornya. Cuma sedikit. God, dia betul-betul menyedihkan.
“Hey listen. Just wondering, sebagai kenalan lama yang baru ketemu lagi, gimana kalo kita
keluar makan? Sekalian catch-up. Tadi malam kita nggak sempat ngobrol banyak. Kamu
udah keburu kabur duluan.”
NO WAY! Ben sudah gila kalau dia pikir Jana mau ngapa-ngapan dengannya. Jangankan
makan, berada di dalam satu ruangan dengannya lagi saja Jana nggak mau.
Ben yang menganggap diamnya Jana sebagai persetujuan melanjutkan, “Gimana kalo makan
siang? Sabtu depan mungkin kalo kamu free? Kamu bisa bawa suami kamu. I would like to
meet the guy.”
KAMPREEETTT!!!! Semua ketakutannya menjadi kenyataan. Dia seharusnya tidak pernah
menyebut-nyebutkan kata suami di hadapan Ben. Punya suami saja nggak, gimana mau
bawa suami? Jana mulai panas-dingin memikirkan cara terbaik untuk menolak.
“I don’t think that’s a good idea, Ben,” ucap Jana akhirnya sambbil berjalan menuju sofa.
“Kenapa?”
“Aku nggak bisa… datang sama… suamiku. Dia lagi ada… tugas di luar kota.”
Hah??!! Itu alasan datang darimana lagi? Omel Jana dalam hati sambil mengempaskan
tubuhnya ke sofa dan menampar keningnya. Dia menggali kubur lebih dalam lagi dengan
kebohongan ini.
“Ah,” ucap Ben.
Entah kenapa, dia merasa Ben sedang menahan tawa dan ini membuatnya kesal. “Are you
laughing at me?”
“Tentu saja nggak.”
“Kamu kedengaran kayak lagi ngetawain aku.”
“Sumpah…” Ben tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena kini dia sedang tertawa
terbahak-bahak. Jana harus menjauhkan ponselnya dari daun telinganya karena suara tawa
itu hampir membuatnya tuli saking kerasnya.
“Kalo kamu nggak berhenti ketawa sekarang juga, telepon aku tutup,” ancam Jana.
“Jan, tunggu… hahaha… tunggu…” Ben menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Maaf,
bukan maksud aku ngetawain kamu. Tapi sumpah, kamu harus lebih banyak belajar bohong.
Karena apa yang kamu katakana barusan sama sekali nggak meyakinkan.”
“Aku nggak bohong!!!”
“Jan, kamu emang berbakat di banyak hal, tapi ada satu hal yang nggak pernah bisa kamu
lakukan, yaitu bohong sama aku.”
“Oh baby, I’ve been lying to you for years,” ucap Jana dalam hati, tapi yang diia katakana
hanya, “Well, aku udah banyak berubah, Ben. Dan sekali lagi, terimakasih atas
undangannya, tapi sayangnya aku dan suamiku nggak bisa hadir.”
“You wanna play this game, baby? Oke. Siapa namanya?”
Jana mencoba mengusir kupu-kupu yang mulai beterbangan di dalam perutnya mendengar
Ben memanggilnya “Baby” dan kembali focus pada percakapannya dengan Ben. “Nama
siapa?” Tanyanya pura-pura nggak tahu.
“Suami kamu. You know, laki-laki yang udah kamu nikahi dan bangun di sebelah kamu tiap
pagi?”
“Stop being an ass, Ben.”
“Kamu masih belum jawab pertanyaan aku.”
Shit, shit, shit. Dia bahkan belum memikirkan kebohongannya sampai sejauh ini. Jana
mencoba memikirkan sebuah nama, terserah apa, yang penting nama.
“Namanya… Brrr…”
“Brrr? Itu nama apa kedinginan?” ledek Ben.
“Kamu bisa diem nggak sih? Aku belum selesai,” omel Jana.
“Oh, sori.”
“Namanya Brian… Simatupang.”
“Brian Simatupang?” Tanya Ben tidak percaya.
“Ya, ada masalah?”
“Nggak ada sih. Cuma kamu tahu kan simatupang itu kependekan dari apa?”
“Ini datang dari orang yang inisial namanya BB? Kamu tahu kan BB itu singkatan dari apa?”
Tanpa jana sangka-sangka, Ben malah ketawa. Dan entah kenapa, itu membuatnya ketawa
juga. Dan selama beberapa menit, itulah yang mereka lakukan. Ketawa sama-sama. Jana
tidak ingat kapan terakhir dia tertawa lepas seperti ini. Mungkin terakhir kali dia bersama
Ben sebelum pertengkaran mereka? Kesadaran ini membuatnya berpikir bahwa mungkin
dia sudah mempermalukan Ben dengan sedikit tidak adil selama ini. Peribahasa “Karena
nilai setitik rusak susu sebelanga” terlintas di kepalanya. Dia menilai karakter Ben
berdasarkan satu hal buruk yang dilakukannya, dia lupa sama sekali akan segala
kebaikannya selama beberapa bulan mereka pacaran. Ben bukan saja pacar yang baik, tapi
juga teman baiknya. Dan sejujurnya, dia merindukan kehadiran seorang teman di dalam
hidupnya.
“God, I miss you,” ucap Ben pelan setelah tawa mereka reda.
Kata-kata Ben yang datang tiba-tiba itu membuat Jana terdiam, namun dalam hati dia
membalas dengan, “I miss you too, Ben.”
Serius? Kamu Cuma kangen? Ayo, Jana, ngaku aja, toh, nggak ada orang lain yang bisa
mendengar, suara hatinya berkata.
Aku serius. Aku Cuma kangen, balas sisi rasional dirinya.
Liar, liar pants on fire.
“Fine. I still love him, okay? There, are you happy now?
Pengakuan ini membuat Jana tersentak. Dadanya sesak dan kepanikan mulai
menyelimutinya. No, no, no… ini sama sekali nggak benar. Dia sudah mengunci cinta itu di
dalam boks, mengikat boks dengan rantai dan menguburnya dalam-dalam di bawah tanah,
tidak pernah berniat membiarkannya melihat sinar matahari lagi.
“Jan?”
Mendengar Ben mengucapkan namanya dengan penuh harap, membuat kepanikannya
bertambah seratus kali lipat.
“I-I have to go, Ben. Ada yang harus aku… I have to go.”
Dan Jana langsung memutuskan sambungan itu. Kurang dari satu detik, teleponnya
berbunyi lagi, dan tanpa melirik layar, dia langsung mematikannya. Oh my god, this is bad.
Really REALLY BAD.
***
Keesokan harinya ketika Jana berani menghidupkan ponselnya lagi, ada sekitar dua puluh
missed call, sepuluh SMS, dan beberapa voicemail. Sekitar 95 persennya datang dari nomor
yang sama, yang kini dia kenali sebagai nomor Ben. Untuk beberapa detik Jana berdebat
dengan diri sendiri. Apa dia mau membaca SMS-SMS atau mendengar semua voicemail ben?
Pada satu sisi, keingintahuan menggelitiknya, tapi di sisi lain, dia takut pada apa yang akan
dia baca atau dengar. Delapan tahun yang lalu ketika ben membombardir inbox e-mail-nya,
dia tidak pernah membaca satu pun. Begitu melihat namanya, dia langsung men-delete-nya
dari inbox dan folder trash agar tidak tergoda untuk membacanya di kemudian hari.
Untungnya Ben berhenti mengganggunya di kemudian hari. Untungnya Ben berhenti
mengganggunya setelah sekitar enam bulan. Tapi kali ini Jana mendapati rasa ingin tahu
menang daripada rasa takut, dan dengan jari-jari gemetaran dia membuka SMS pertama
yang dikirimkan oleh Ben kemarin, pukul 17.28.
Jan, kita belum selesai bicara. Nyalain hp kamu!
SMS kedua datang pada pukul 17.35.
Jana, aku serius!!!
SMS ketiga pada pukul 17.50.
Just text me back when you get this. I just want to talk to you.
Panik akan ketagihan membaca SMS-SMS Ben yang lain, Jana langsung mematikan
ponselnya dan melemparnya ke dalam laci meja kerja. Harinya sudah cukup sibuk tanpa
harus pusing memikirkan perasaannya terhadap Ben.
api sepertinya Ben menolak menyerah karena ketika kembali dari meeting siang itu, Jana
menemukan satu e-mail darinya. Sudah lama dia tidak melihat nama Ben di dalam inboxnya,
sehingga dia menatap nama itu lekat-lekat dan membacanya berkali-kali untuk
memastikan. E-mail itu dikirim sekitar satu jam yang lalu. Jari-jarinya membeku di atas
mouse, sementara perdebatan hebat tentang pro dan kontra untuk membuka e-mail itu
berputar-putar di dalam kepalanya. Sepuluh menit kemudian dan mendapati diri masih
dalam posisi yang sama, Jana memutuskan untuk berhenti menjadi pengecut dan membuka
e-mail itu.
Jan,
Waktu hp kamu mati hari Minggu, aku bisa beralasan kalo itu emang kebiasaan kamu untuk
nggak mau diganggu pada akhir Minggu. Tapi hp kamu masih mati sampe sekarang. Dan aku
nggak punya pilihan selain berpikir bahwa kamu lagi menghindari aku.
Aku udah ninggalin banyak SMS dan voicemail di hp kamu. I don’t know if you get any of
those, tapi utk jaga-jaga aja, aku kirim e-mail ini. Aku mau ketemu kamu lagi. Satu jam
waktu kamu, itu aja yang aku minta untuk bisa ketemu face-to-face.
Ini adalah usaha terakhir aku untuk ngontak kamu secara baik-baik. Aku tunggu kabar dari
kamu sampe besok siang jam 12.00. kalo kamu masih nyuekin aku juga, aku nggak punya
pilihan selain ngambil extreme measures.
Ben.
Setelah membaca e-mail itu sebanyak lima kali, tidak percaya bahwa Ben memohon dan
mengancamnya dalam e-mail yang sama, Jana menguburkan wajahnya pada kedua telapak
tangan. Ya Tuhan, dia mencari psikopat. Laki-laki gila mana yang akan mengancam seorang
wanita untuk bertemu muka dengannya? Kesal karena sudah diancam, Jana membalas email
itu.
Ben.
Aku nggak tertarik utk ketemu kamu lagi. Jgn kontak aku lagi.
Jana.
Dan hanya untuk menunjukkan bahwa dia tidak takut atas ancaman Ben, dia menyalakan
ponselnya. Hal pertama yang dia lakukan adalah menghapus semua SMS dan voicemail yang
Ben kirim, kemudian memblok nomor itu. Dan sebagai pencegahan saja, dia juga menandai
alamat e-mail Ben sebagai spam. Kalau laki-laki itu berpikir bahwa dia bisa dengan
gampangnya membuat hidup Jana merana, dia salah kaprah.
***
Ketika ben tidak menghubungi Jana setelah percakapan telepon mereka, rasanya dia sudah
mau gila. Wanita itu sudah mematikan satu-satunya saluran komunikasi yang dia miliki
untuk bisa menghubunginya. God, hidupnya sudah seperti rentetan kejadian déjà vu from
hell yang tidak bisa dia hindari. Dia mungkin akan bisa lebih tenang menghadapi situasi ini
kalau dia tahu kesalahannya, masalahnya adalah dia betul-betul tidak tahu. Satu detik
mereka sedang ketawa sama-sama yang membuatnya senang nggak ketolongan karena
sudah bisa membuat Jana ketawa. Alhasil dia mengucapkan kata-kata yang dia pikir akan
membuat Jana senang. Detik selanjutnya Jana sudah menutup telepon setelah
menggumamkan alasan nggak jelas.
Dia mencoba menelepon balik, tapi tidak diangkat, dan ketika dia mencoba untuk yang
kedua kali, ponsel Jana sudah dimatikan. Dia mencoba semalaman utnuk meneleponnya,
tapi ponsel itu tetap mati. Semua voicemail dan SMS-nya juga tidak ada yang dibalas. Dia
tidak percaya bahwa dia kehilangan Jana lagi, ketika dia sudah begitu dekat dengannya.
WHAT THE HELL IS WRONG WITH ME??? Apa dia tidak pernah bisa melakukan apa-apa
dengan benar kalau menyangkut Jana?
Kehabisan trik mendekati Jana, Ben menelepon Eva.
“Ev, she turned off her phone,” teriak Ben gemas begitu Eva mengangkat telepon.
Dari ujung saluran telepon Eva menjawab, “who’s this?”
“Don’t play games with me. I’m not in the mood, okay.”
“Apa susahnya sih kamu bilang halo dan Tanya kabar aku dulu daripada langsung ngomelngomel
kayak begitu?”
Ben mendengus tidak sabar dan berkata, “Fine. Halo, Eva, apa kabar?”
“Halo Ben. Dari terakhir kali kita bicara, aku udah sempat bikin oatmeal cookies, antar Erik
ke play group, dan jalan-jalan ke mall. Kamu sendiri kabarnya gimana?” balas Eva dengan
nada ramah yang super dibuat-buat.
“She turned off her phone.” Ben mengulangi beritanya, tapi kali ini dengan nada lebih
tenang.
“Who?”
“Mother Theresa,” balas Ben yang sudah mulai berteriak lagi.
Demi Tuhan, kalau Eva menjailinya sekali lagi dengan pura-pura tidak tahu siapa yang
sedang dia bicarakan, dia akan mendatangi rumah Eva dan mencekiknya.
“Mother Theresa? Dia bukannya udah meninggal?” Tanya Eva sok bingung.
“Eva, I swear to god…”
“Oke, oke. Sori. Go ahead.”
“Barusan aku kirim e-mail ke dia, dan tahu nggak balesannya apa?”
“Apa?”
Ben membacakan isi e-mail Jana sebelum berkata, “God, that woman is driving me crazy.”
“Ya, I can see that,” ucap Eva sambil cekikikan.
“Bisa nggak sih kamu nggak ngetawain aku? Ini masalahnya serius, oke?”
“Ben, kamu ngomong apa di e-mail yang kamu kirim sampe dia bilang begitu?”
Untuk memastikan Eva mengerti duduk masalahnya, Ben tidak punya pilihan selain memulai
dengan menceritakan apa yang terjadi kemarin sore. Tentang pembicaraan teleponnya
dengan Jana, yang hamper terasa bersahabat; bahwa kini dia yakin seratus persen Jana
berbohong tentang memiliki suami, bahwa Eva benar, dan Jana masih ada rasa
terhadapnya; bagaimana Jana langsung mengambil langkah seribu ketika mendengarnya
mengatakan tiga kata itu; dan tentunya e-mail-nya yang harus dia akui bukan ide terbaiknya.
“Terang aja dia kabur, Ben. Pertama-tama kamu bilang kamu kangen sama dia, 24 jam
setelah kamu baru ketemu lagi setelah selapan tahun berpisah. Kedua, kamu ngancam dia
untuk ketemu lagi sama kamu. In which universe do you think this would ever work?”
Ben mendengarkan teguran Eva ini dalam diam. Dia mulai bertanya-tanya apakah dia
sebaiknya melupakan semua ini dan balik ke Chicago? Tidak ada wanita mana pun yang
pantas menguras semua emosi dan waktunya seperti ini. Namun dia tahu itu tidak benar.
Karena dia tahu, untuk Jana, dia rela melakukan apa saja.
Dengan keyakinan baru bahwa dia akan berjuang sampai tetes darah penghabisan, Ben
berkata, “Ev, kamu ingat janji kamu untuk ngelakuin apa aja untuk aku kalo aku pergi ke
acara amal sama kamu?”
“Ya?” Tanya Eva was-was.

“Good. I need you to do something for me.”


No comments:

Post a Comment