Bab 7
Tell me all you’ve thrown away
Find out games you don’t wanna play
You are the only one that needs to know
Setengah jam kemudian Jana sudah ada di
dapur, mencoba membuat pancake. Tepat pukul
08.00 dia mendengar langkah menuruni
tangga dan tidak lama kemudian Erga muncul masih
mengenakan piamanya. Tapi wajahnya
kelihatan fresh, yang berarti dia sudah mencuci
muka dan menggosok gigi sebelum turun.
“Pagi, Sayang. Tidur nyenyak tadi
malam?” Tanya Jana sambil menunduk untuk mencium
kepala Erga.
“Pagi, Bunda,” balas Erga sebelum
berjalan menuju lemari es untuk mengeluarkan susu.
Jana memperhatikan gerakan Erga yang
sistematis. Kebiasaannya setiap hari Minggu adalah
mengeluarkan susu dari dalam lemari es,
meletakkannya di atas meja, kemudian mengambil
tiga gelas dari dalam lemari sebelum
meletakkannya di atas meja juga. Dan pagi ini tidak
terkecuali. Jana meletakkan pancake di
atas tiga piring, sebelum menghiasnya dengan buahbuahan.
Pisang sebagai mata dan mulut, sedangkan
stroberi sebagai hidung dan rambut.
Special untuk Raka, dia membuat tanduk
dengan dua potong stroberi, sesuai
permintaannya.
“Kalo kamu mau, hari ini kita bisa
berenang. Gimana?”
Wajah Erga langsung ceria mendengarnya
dan dia mengangguk antusias. Semenjak insiden
di rumah bowin, Jana mendapati bahwa
Erga dan Raka ternyata terobsesi dengan kolam
renang. Mungkin karena di sanalah mereka
bisa main air sampai puas tanpa kena omel
karena basah.
“Bunda?”
“Mmmhhh?”
“Bunda lagi sedih, ya?”
What? Kenapa Erga menanyakan hal ini?
Apa wajahnya sebegitu bengepnya? Mencoba
mengontrol kepanikannya, Jana memutuskan
menghindari menjawab pertanyaan itu,
memilih bertanya dengan suara setenang
mungkin, “Kenapa kamu Tanya begitu, Sayang?”
“Karena aku denger Bunda nangis tadi
malem,” ucap Erga dengan polosnya.
Dan Jana hampir saja menjatuhkan piring
yang baru saja diangkatnya. Mampus gue!!!
Gimana dia bisa denger gue nangis sih?
Gue udah nutupin muka pakai bantal. Apa yang
harus dia katakana sekarang? Dia tidak
mau berbohong, tapi dia juga tidak mau mengatakan
yang sebenarnya. Mungkin kalau dia
berdiam diri selama beberapa menit lagi, Erga akan
melupakan pertanyaan itu. Dia mnoleh dan
mendapati Erga sedang menatapnya penuh
ingin tahu, menunggu jawaban darinya.
CRAP!
Akhirnya dengan susah payah Jana
berusaha menjawabnya. ”Bunda…”
Kata-kata jana terpotong oleh kemunculan
Raka yang seperti badai. “Pagi, Bunda. Pagi Erga.
Waaahhh pancake, aku mau pancake. Bunda
kasih tanduk nggak ke pancake-ku? Oh ya,
Bunda, kemaren aku sama Erga main
Twister sama Mbah Uti. Terus Mbah sakit pinggang,
jadi mesti berhenti. Tapi Mbah janji
kita bisa main lagi hari ini. Kita bisa nggak ke rumah
Mbah hari ini untuk main Twister, Bunda?
Bunda, aku punya tebak-tebakan baru, mau
denger nggak?”
Tanpa menunggu jawaban darinya, Raka
langsung memulai tebak-tebakannya, dan Jana
tidak tahu apakah dia harus mengembuskan
napas lega karena terlepas dari menjawab
pertanyaan Erga atau menggeram pasrah
karena harus mendengarkan Raka, yang kalau
sudah ngomong nggak ada remnya.
Mereka baru saja memasuki rumah setelah
menghabiskan hamper seharian di kolam renang
ketika ponselnya berbunyi. Jana meminta
Raka dan Erga untuk segera membawa peralatan
renang mereka ke atas dan mandi sebelum
menjawab panggilan itu.
“Halo.”
“Jana?”
“Ya?”
“Ini Ben.”
Jana yang sedang mencoba melepaskan
sandalnya tidak betul-betul memproses nama ini
dan bertanya, “Ben siapa?”
“Ben Barata, mantan pacar kamu di lowa
state yang ketemu tadi malam. Masih inget?”
Jana hampir saja jatuh terjerembap,
tersandung sandalnya sendiri saking kagetnya. Hal
pertama yang terlintas di kepalanya
adalah “Hah???!!!”, diikuti oleh “Dari mana dia dapet
nomor ini?” dan “DAMN, DAMN, DAMN!!!”
“Jan?”
“Dari mana kamu dapet nomor ini?”
“Oh, aku kenal orang, yang kenal orang,
yang kenal kamu.”
Meskipun seharusnya Jana ingin membunuh
orang yang telah memberikan nomornya
kepada Ben. Dia juga merasa “sedikit”
tersanjung karena Ben sudah bersusah payah
mendapatkan nomornya. Cuma sedikit. God,
dia betul-betul menyedihkan.
“Hey listen. Just wondering, sebagai
kenalan lama yang baru ketemu lagi, gimana kalo kita
keluar makan? Sekalian catch-up. Tadi
malam kita nggak sempat ngobrol banyak. Kamu
udah keburu kabur duluan.”
NO WAY! Ben sudah gila kalau dia pikir
Jana mau ngapa-ngapan dengannya. Jangankan
makan, berada di dalam satu ruangan
dengannya lagi saja Jana nggak mau.
Ben yang menganggap diamnya Jana sebagai
persetujuan melanjutkan, “Gimana kalo makan
siang? Sabtu depan mungkin kalo kamu
free? Kamu bisa bawa suami kamu. I would like to
meet the guy.”
KAMPREEETTT!!!! Semua ketakutannya
menjadi kenyataan. Dia seharusnya tidak pernah
menyebut-nyebutkan kata suami di hadapan
Ben. Punya suami saja nggak, gimana mau
bawa suami? Jana mulai panas-dingin
memikirkan cara terbaik untuk menolak.
“I don’t think that’s a good idea, Ben,”
ucap Jana akhirnya sambbil berjalan menuju sofa.
“Kenapa?”
“Aku nggak bisa… datang sama… suamiku.
Dia lagi ada… tugas di luar kota.”
Hah??!! Itu alasan datang darimana lagi?
Omel Jana dalam hati sambil mengempaskan
tubuhnya ke sofa dan menampar keningnya.
Dia menggali kubur lebih dalam lagi dengan
kebohongan ini.
“Ah,” ucap Ben.
Entah kenapa, dia merasa Ben sedang
menahan tawa dan ini membuatnya kesal. “Are you
laughing at me?”
“Tentu saja nggak.”
“Kamu kedengaran kayak lagi ngetawain
aku.”
“Sumpah…” Ben tidak bisa menyelesaikan
kalimatnya karena kini dia sedang tertawa
terbahak-bahak. Jana harus menjauhkan
ponselnya dari daun telinganya karena suara tawa
itu hampir membuatnya tuli saking
kerasnya.
“Kalo kamu nggak berhenti ketawa
sekarang juga, telepon aku tutup,” ancam Jana.
“Jan, tunggu… hahaha… tunggu…” Ben
menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Maaf,
bukan maksud aku ngetawain kamu. Tapi
sumpah, kamu harus lebih banyak belajar bohong.
Karena apa yang kamu katakana barusan
sama sekali nggak meyakinkan.”
“Aku nggak bohong!!!”
“Jan, kamu emang berbakat di banyak hal,
tapi ada satu hal yang nggak pernah bisa kamu
lakukan, yaitu bohong sama aku.”
“Oh baby, I’ve been lying to you for
years,” ucap Jana dalam hati, tapi yang diia katakana
hanya, “Well, aku udah banyak berubah,
Ben. Dan sekali lagi, terimakasih atas
undangannya, tapi sayangnya aku dan
suamiku nggak bisa hadir.”
“You wanna play this game, baby? Oke.
Siapa namanya?”
Jana mencoba mengusir kupu-kupu yang
mulai beterbangan di dalam perutnya mendengar
Ben memanggilnya “Baby” dan kembali
focus pada percakapannya dengan Ben. “Nama
siapa?” Tanyanya pura-pura nggak tahu.
“Suami kamu. You know, laki-laki yang
udah kamu nikahi dan bangun di sebelah kamu tiap
pagi?”
“Stop being an ass, Ben.”
“Kamu masih belum jawab pertanyaan aku.”
Shit, shit, shit. Dia bahkan belum
memikirkan kebohongannya sampai sejauh ini. Jana
mencoba memikirkan sebuah nama, terserah
apa, yang penting nama.
“Namanya… Brrr…”
“Brrr? Itu nama apa kedinginan?” ledek
Ben.
“Kamu bisa diem nggak sih? Aku belum
selesai,” omel Jana.
“Oh, sori.”
“Namanya Brian… Simatupang.”
“Brian Simatupang?” Tanya Ben tidak
percaya.
“Ya, ada masalah?”
“Nggak ada sih. Cuma kamu tahu kan
simatupang itu kependekan dari apa?”
“Ini datang dari orang yang inisial
namanya BB? Kamu tahu kan BB itu singkatan dari apa?”
Tanpa jana sangka-sangka, Ben malah
ketawa. Dan entah kenapa, itu membuatnya ketawa
juga. Dan selama beberapa menit, itulah
yang mereka lakukan. Ketawa sama-sama. Jana
tidak ingat kapan terakhir dia tertawa lepas
seperti ini. Mungkin terakhir kali dia bersama
Ben sebelum pertengkaran mereka?
Kesadaran ini membuatnya berpikir bahwa mungkin
dia sudah mempermalukan Ben dengan
sedikit tidak adil selama ini. Peribahasa “Karena
nilai setitik rusak susu sebelanga” terlintas
di kepalanya. Dia menilai karakter Ben
berdasarkan satu hal buruk yang
dilakukannya, dia lupa sama sekali akan segala
kebaikannya selama beberapa bulan mereka
pacaran. Ben bukan saja pacar yang baik, tapi
juga teman baiknya. Dan sejujurnya, dia
merindukan kehadiran seorang teman di dalam
hidupnya.
“God, I miss you,” ucap Ben pelan
setelah tawa mereka reda.
Kata-kata Ben yang datang tiba-tiba itu
membuat Jana terdiam, namun dalam hati dia
membalas dengan, “I miss you too, Ben.”
Serius? Kamu Cuma kangen? Ayo, Jana,
ngaku aja, toh, nggak ada orang lain yang bisa
mendengar, suara hatinya berkata.
Aku serius. Aku Cuma kangen, balas sisi
rasional dirinya.
Liar, liar pants on fire.
“Fine. I still love him, okay? There,
are you happy now?
Pengakuan ini membuat Jana tersentak.
Dadanya sesak dan kepanikan mulai
menyelimutinya. No, no, no… ini sama
sekali nggak benar. Dia sudah mengunci cinta itu di
dalam boks, mengikat boks dengan rantai
dan menguburnya dalam-dalam di bawah tanah,
tidak pernah berniat membiarkannya
melihat sinar matahari lagi.
“Jan?”
Mendengar Ben mengucapkan namanya dengan
penuh harap, membuat kepanikannya
bertambah seratus kali lipat.
“I-I have to go, Ben. Ada yang harus
aku… I have to go.”
Dan Jana langsung memutuskan sambungan
itu. Kurang dari satu detik, teleponnya
berbunyi lagi, dan tanpa melirik layar,
dia langsung mematikannya. Oh my god, this is bad.
Really REALLY BAD.
***
Keesokan harinya ketika Jana berani
menghidupkan ponselnya lagi, ada sekitar dua puluh
missed call, sepuluh SMS, dan beberapa
voicemail. Sekitar 95 persennya datang dari nomor
yang sama, yang kini dia kenali sebagai
nomor Ben. Untuk beberapa detik Jana berdebat
dengan diri sendiri. Apa dia mau membaca
SMS-SMS atau mendengar semua voicemail ben?
Pada satu sisi, keingintahuan
menggelitiknya, tapi di sisi lain, dia takut pada apa yang akan
dia baca atau dengar. Delapan tahun yang
lalu ketika ben membombardir inbox e-mail-nya,
dia tidak pernah membaca satu pun.
Begitu melihat namanya, dia langsung men-delete-nya
dari inbox dan folder trash agar tidak
tergoda untuk membacanya di kemudian hari.
Untungnya Ben berhenti mengganggunya di
kemudian hari. Untungnya Ben berhenti
mengganggunya setelah sekitar enam
bulan. Tapi kali ini Jana mendapati rasa ingin tahu
menang daripada rasa takut, dan dengan
jari-jari gemetaran dia membuka SMS pertama
yang dikirimkan oleh Ben kemarin, pukul
17.28.
Jan, kita belum selesai bicara. Nyalain
hp kamu!
SMS kedua datang pada pukul 17.35.
Jana, aku serius!!!
SMS ketiga pada pukul 17.50.
Just text me back when you get this. I
just want to talk to you.
Panik akan ketagihan membaca SMS-SMS Ben
yang lain, Jana langsung mematikan
ponselnya dan melemparnya ke dalam laci
meja kerja. Harinya sudah cukup sibuk tanpa
harus pusing memikirkan perasaannya
terhadap Ben.
api sepertinya Ben menolak menyerah
karena ketika kembali dari meeting siang itu, Jana
menemukan satu e-mail darinya. Sudah
lama dia tidak melihat nama Ben di dalam inboxnya,
sehingga dia menatap nama itu
lekat-lekat dan membacanya berkali-kali untuk
memastikan. E-mail itu dikirim sekitar
satu jam yang lalu. Jari-jarinya membeku di atas
mouse, sementara perdebatan hebat
tentang pro dan kontra untuk membuka e-mail itu
berputar-putar di dalam kepalanya.
Sepuluh menit kemudian dan mendapati diri masih
dalam posisi yang sama, Jana memutuskan
untuk berhenti menjadi pengecut dan membuka
e-mail itu.
Jan,
Waktu hp kamu mati hari Minggu, aku bisa
beralasan kalo itu emang kebiasaan kamu untuk
nggak mau diganggu pada akhir Minggu.
Tapi hp kamu masih mati sampe sekarang. Dan aku
nggak punya pilihan selain berpikir
bahwa kamu lagi menghindari aku.
Aku udah ninggalin banyak SMS dan
voicemail di hp kamu. I don’t know if you get any of
those, tapi utk jaga-jaga aja, aku kirim
e-mail ini. Aku mau ketemu kamu lagi. Satu jam
waktu kamu, itu aja yang aku minta untuk
bisa ketemu face-to-face.
Ini adalah usaha terakhir aku untuk
ngontak kamu secara baik-baik. Aku tunggu kabar dari
kamu sampe besok siang jam 12.00. kalo
kamu masih nyuekin aku juga, aku nggak punya
pilihan selain ngambil extreme measures.
Ben.
Setelah membaca e-mail itu sebanyak lima
kali, tidak percaya bahwa Ben memohon dan
mengancamnya dalam e-mail yang sama,
Jana menguburkan wajahnya pada kedua telapak
tangan. Ya Tuhan, dia mencari psikopat.
Laki-laki gila mana yang akan mengancam seorang
wanita untuk bertemu muka dengannya?
Kesal karena sudah diancam, Jana membalas email
itu.
Ben.
Aku nggak tertarik utk ketemu kamu lagi.
Jgn kontak aku lagi.
Jana.
Dan hanya untuk menunjukkan bahwa dia
tidak takut atas ancaman Ben, dia menyalakan
ponselnya. Hal pertama yang dia lakukan
adalah menghapus semua SMS dan voicemail yang
Ben kirim, kemudian memblok nomor itu.
Dan sebagai pencegahan saja, dia juga menandai
alamat e-mail Ben sebagai spam. Kalau
laki-laki itu berpikir bahwa dia bisa dengan
gampangnya membuat hidup Jana merana,
dia salah kaprah.
***
Ketika ben tidak menghubungi Jana
setelah percakapan telepon mereka, rasanya dia sudah
mau gila. Wanita itu sudah mematikan
satu-satunya saluran komunikasi yang dia miliki
untuk bisa menghubunginya. God, hidupnya
sudah seperti rentetan kejadian déjà vu from
hell yang tidak bisa dia hindari. Dia
mungkin akan bisa lebih tenang menghadapi situasi ini
kalau dia tahu kesalahannya, masalahnya
adalah dia betul-betul tidak tahu. Satu detik
mereka sedang ketawa sama-sama yang
membuatnya senang nggak ketolongan karena
sudah bisa membuat Jana ketawa. Alhasil
dia mengucapkan kata-kata yang dia pikir akan
membuat Jana senang. Detik selanjutnya
Jana sudah menutup telepon setelah
menggumamkan alasan nggak jelas.
Dia mencoba menelepon balik, tapi tidak
diangkat, dan ketika dia mencoba untuk yang
kedua kali, ponsel Jana sudah dimatikan.
Dia mencoba semalaman utnuk meneleponnya,
tapi ponsel itu tetap mati. Semua
voicemail dan SMS-nya juga tidak ada yang dibalas. Dia
tidak percaya bahwa dia kehilangan Jana
lagi, ketika dia sudah begitu dekat dengannya.
WHAT THE HELL IS WRONG WITH ME??? Apa
dia tidak pernah bisa melakukan apa-apa
dengan benar kalau menyangkut Jana?
Kehabisan trik mendekati Jana, Ben menelepon
Eva.
“Ev, she turned off her phone,” teriak
Ben gemas begitu Eva mengangkat telepon.
Dari ujung saluran telepon Eva menjawab,
“who’s this?”
“Don’t play games with me. I’m not in
the mood, okay.”
“Apa susahnya sih kamu bilang halo dan
Tanya kabar aku dulu daripada langsung ngomelngomel
kayak begitu?”
Ben mendengus tidak sabar dan berkata,
“Fine. Halo, Eva, apa kabar?”
“Halo Ben. Dari terakhir kali kita
bicara, aku udah sempat bikin oatmeal cookies, antar Erik
ke play group, dan jalan-jalan ke mall. Kamu
sendiri kabarnya gimana?” balas Eva dengan
nada ramah yang super dibuat-buat.
“She turned off her phone.” Ben
mengulangi beritanya, tapi kali ini dengan nada lebih
tenang.
“Who?”
“Mother Theresa,” balas Ben yang sudah
mulai berteriak lagi.
Demi Tuhan, kalau Eva menjailinya sekali
lagi dengan pura-pura tidak tahu siapa yang
sedang dia bicarakan, dia akan
mendatangi rumah Eva dan mencekiknya.
“Mother Theresa? Dia bukannya udah
meninggal?” Tanya Eva sok bingung.
“Eva, I swear to god…”
“Oke, oke. Sori. Go ahead.”
“Barusan aku kirim e-mail ke dia, dan
tahu nggak balesannya apa?”
“Apa?”
Ben membacakan isi e-mail Jana sebelum
berkata, “God, that woman is driving me crazy.”
“Ya, I can see that,” ucap Eva sambil
cekikikan.
“Bisa nggak sih kamu nggak ngetawain aku?
Ini masalahnya serius, oke?”
“Ben, kamu ngomong apa di e-mail yang
kamu kirim sampe dia bilang begitu?”
Untuk memastikan Eva mengerti duduk
masalahnya, Ben tidak punya pilihan selain memulai
dengan menceritakan apa yang terjadi
kemarin sore. Tentang pembicaraan teleponnya
dengan Jana, yang hamper terasa
bersahabat; bahwa kini dia yakin seratus persen Jana
berbohong tentang memiliki suami, bahwa
Eva benar, dan Jana masih ada rasa
terhadapnya; bagaimana Jana langsung
mengambil langkah seribu ketika mendengarnya
mengatakan tiga kata itu; dan tentunya
e-mail-nya yang harus dia akui bukan ide terbaiknya.
“Terang aja dia kabur, Ben. Pertama-tama
kamu bilang kamu kangen sama dia, 24 jam
setelah kamu baru ketemu lagi setelah
selapan tahun berpisah. Kedua, kamu ngancam dia
untuk ketemu lagi sama kamu. In which
universe do you think this would ever work?”
Ben mendengarkan teguran Eva ini dalam
diam. Dia mulai bertanya-tanya apakah dia
sebaiknya melupakan semua ini dan balik
ke Chicago? Tidak ada wanita mana pun yang
pantas menguras semua emosi dan waktunya
seperti ini. Namun dia tahu itu tidak benar.
Karena dia tahu, untuk Jana, dia rela
melakukan apa saja.
Dengan keyakinan baru bahwa dia akan
berjuang sampai tetes darah penghabisan, Ben
berkata, “Ev, kamu ingat janji kamu
untuk ngelakuin apa aja untuk aku kalo aku pergi ke
acara amal sama kamu?”
“Ya?” Tanya Eva was-was.
“Good. I need you to do something for
me.”
No comments:
Post a Comment