Tuesday, September 1, 2015

Ayat - Ayat Cinta - Bab 24









24. Tangis Aisha

Yang kulihat pertama kali adalah wajah Ismail ketika aku bangun. Kepalaku
ada di atas pahanya. Ia tersenyum padaku. Aku merasa haus sekali. Sejak kemarin
tenggorokanku belum terkena setetes air sama sekali.
“Aku haus sekali,” lirihku sambil menahan rasa sakit disekujur tubuhku.
“Hamada, ambilkan susu itu!” Kata Professor Abdul Rauf.
Hamada mengambil botol berisi susu dan meminumkan padaku. Aku
menenggak tiga teguk. “Sudah,” kataku.
“Minumlah lagi, biar tubuhmu segar!” paksa Ismail.
Aku menenggak tiga teguk lagi. “Sudah!” kataku.
“Apa yang mereka perlakukan terhadapmu?”
Dengan suara terbata aku menceritakan semua bentuk penyiksaan yang aku
terima sejak kemarin sampai tadi pagi. Juga perlakuan mereka yang keji atas
kemaluanku.
“Mereka sungguh biadab!” geram Ismail mendengar ceritaku.
“Mereka memang sangat biadab. Lebih biadab dari Iblis! Dan apa kau terima
masih belum seberapa dibandingkan para ulama yang disiksa habis-habisan tahun
enam puluhan. Bahkan ada dua orang ulama yang ditelanjangi dan dipaksa
melakukan perbuatan kaum nabi Luth. Tentu saja mereka tidak mau melakukan
perbuatan terkutuk itu. Akhirnya mereka berdua mati syahid jadi santapan anjing
ganas yang lapar.” Kisah Professor Abdul Rauf dengan suara bergetar.
Aku bergidik mendengarnya. Perlakuan mereka yang keji padaku terbayang
kembali. Membuat hatiku perih dan sakit sekali. Aku tak bisa membayangkan sakitnya
seorang perempuan diperkosa. Kehormatannya dinodai. Betapa sakitnya mereka.
Gilanya aku dituduh melakukan perbuatan bejat yang menyakitkan perempuan itu.
Perbuatan yang sangat kubenci dan kukutuk, tidak mungkin aku lakukan. Rasa gilu
dan sakit bergumul dalam hati bercampur marah, bertumpuk-tumpuk, mendera-dera,
menyesak-nyesak dalam dada.
“Sudahlah kita makan dulu. Alhamdulillah, ada sedikit rizki dari Allah Swt.!” kata
Professor Abdul Rauf.
Haj Rashed mengambil bungkusan dari pojok ruangan. Tiga roti isy yang
225
empuk dan lebar, satu ayam panggang digelar dan satu plastik apel. Aku bangkit
duduk perlahan.
“Apakah semewah ini jatah dari penjara?” tanyaku.
“Tak lama lagi kau akan tahu seperti apa jatah penjara,” sahut Hamada.
“Lebih layak untuk santapan binatang!” tukas Marwan.
Haj Rashed berkata:
“Yang kita makan ini adalah kiriman dari isteri Professor Abdul Rauf. Untuk bisa
memasukkan makanan ini ke penjara dia harus membayar seratus pound kepada
petugas. Kirimannya juga dirampas setengahnya. Aslinya adalah dua botol susu,
enam lembar roti Isy, dua buah ayam bakar dan dua kilo apel. Tapi para sipir itu minta
separo bagian. Tidak setiap saat keluarga kami boleh mengirim makanan. Satu bulan
hanya diizinkan dua kali saja. Makanan ini sudah datang sejak tadi pagi. Beberapa
menit setelah kamu dibawa keluar. Kami tidak mungkin makan tanpa menunggumu.
Kami yakin kau pasti sudah lapar. Wajahmu sedemikian pucatnya. Rasulullah tidak
mengizinkan perut kita kenyang sementara orang terdekat kita kelaparan.”
Penjelasan Haj Rashed membuat diriku terharu. Bahwa diriku berada di
tengah-tengah orang baik. Mereka begitu perhatian padaku. Kami pun makan
bersama penuh nikmat dengan diselimuti rasa persaudaraan yang kuat. Setelah
makan dan minum beberapa teguk susu tubuhku terasa memiliki kekuatan kembali.
Tak lama setelah itu seorang sipir menggedor pintu dan dari jeruji atas ia
melemparkan enam roti isy kering. Ia melempar roti itu seperti melempar makanan
pada anjing. Isy itu melayang bertebaran. Ada yang mengenai muka Professor. Ada
yang jatuh di kaki Ismail dan ada yang masuk air yang menggenang di sebagian
lantai.
“Ini jubnahnya!”110 teriak sipir itu melempar bungkusan hitam.
Ismail memunguti isy itu dan mengumpulkannya. Yang jatuh ke genangan air
ia pisahkan. Ia mengambil selembar Isya yang sudah kering itu serta bungkusan
hitam dan menyerahkannya padaku.
“Inilah jatahnya. Sehari sekali. Coba kau lihat!” ujarnya padaku.
Aku pegang isy itu. Kering dan kaku. Kubuka plastik hitam, baunya sudah
110 Jubnah: keju putih seperti tahu.
226
tidak karuan.
“Tapi kita tetap harus menerimanya dengan sabar. Yang jatuh ke dalam
genangan air kotor itu pun suatu ketika ada gunanya. Dahulu baginda nabi dan para
sahabat pernah sampai makan rerumputan dan akar pepohonan,” lanjut Ismail.
Kembali aku teringat hari-hari indah bersama Aisha. Makan tidak pernah
kurang. Selama di Alexandria selalu di restoran hotel. Semua enak dan penuh gizi.
Dan tiba-tiba kini aku harus siap dengan makanan yang layaknya untuk tikus dan
kecoa. Aku masih merasakan Allah Maha Pemurah, makan pertama di penjara adalah
ayam panggang lengkap dengan sebutir apel merah yang segar.
Malam harinya kami tarawih. Kami mengatur sedemikian rupa agar kami tetap
bisa shalat tarawih berjamaah bersama. Haj Rashed minta satu juz dalam delapan
rakaat. Inilah untuk pertama kalinya aku jadi imam tarawih di Mesir. Dan di dalam
penjara. Setengah tiga kami bangun, tahajjud sebentar lalu sahur. Apalagi yang kami
makan kalau bukan jatah tadi siang. Aku hampir muntah tapi kutahan-tahan. Kulihat
Professor dan teman-teman lainnya makan dengan santai. Di pojok ruangan ada
ember plastik. Kami bergantian minum dari air yang ada di ember itu.
“Kita beruntung minum dari ember. Di kamar paling pojok sana tempat airnya
adalah kaleng bekas yang sudah karatan,” kata Hamada. Aku teringat Aisha,
bagaimanakah dia sekarang. Apakah juga sedang sahur, ataukah sedang menangis
sendirian. Aku sangat merindukannya.
* * *
Sampai hari ketiga ditahan, belum juga ada yang menjengukku. Meskipun
diinterogasi dan dipaksa seperti apapun aku tetap bersikukuh tidak mau mengakui
dakwaan itu. Aku tetap memilih membuktikan tidak bersalah di pengadilan.
Pengadilan pertama akan digelar tiga hari lagi. Aku cemas. Aku perlu pengacara dan
saksi yang membelaku bahwa aku tidak bersalah. Teman-teman satu rumah di
Hadayek Helwan. Kelurga Tuan Boutros. Nurul dan teman-temannya. Dan Syaikh
Ahmad. Mereka bisa menjadi saksi. Tapi bagaimana aku bisa menghubungi mereka.
Isteriku, Aisha yang sangat kurindukan belum juga datang menjenguk. KBRI atau
PPMI belum juga tampak batang hidungnya. Aku sangat gelisah dan sedih. Aku kuatir
mereka tidak mau mengerti karena termakan oleh fitnah keji itu. Aku takut Aisha tidak
percaya padaku dan membenciku. Aku tak kuat memendam semua kegelisahan dan
kekuatiran ini. Akhirnya kuutarakan semuanya pada Profesor Abdul Rauf dan
227
teman-teman.
“Fahri, kau jangan kuatir. Aku yakin mereka semua sudah tahu dan sudah
bergerak. Cuma memang pihak kepolisian yang sengaja mengulur waktu agar kau
tidak segera bisa bertemu dengan mereka. Dulu, waktu aku ditangkap, satu bulan
keluargaku mencariku ingin bertemu tapi tidak bisa. Baru bulan kedua mereka
menemukanku. Isterimu mungkin sekarang sedang pontang-panting dipermainkan
para polisi tidak bertanggung jawab itu. Mungkin sudah sampai di kantor penjara ini.
Tapi pihak keamanan akan bilang sudah dipindah ke Tahrir. Nanti yang Tahrir akan
bilang dipindah ke Nasr City. Dan seterusnya. Begini saja nanti ibuku mau
menjengukku. Berikanlah nomor handphone isterimu, biar ibuku memberitahu dia
bahwa kau ada dipenjara ini,” kata Ismail memberi saran. Untung aku ingat nomor
handphone Aisha. Aku beritahu nomor itu pada Ismail sampai dia hafal betul. Dan
nanti ibunya akan menghafal nomor itu. Jika satu angka saja salah maka nasibku
akan semakin buruk.
* * *
Hari keempat.
Setelah menerima sarapan pagi dari sipir penjara berupa cambukan, pukulan
dan tamparan aku mendapat panggilan. Seorang sipir menggelandangku dengan
tergesa-gesa ke balai pengobatan penjara. Seorang dokter militer dan dua perawat
membersihkan muka dan beberapa bagian tubuhku yang luka. Penampilanku mereka
perbaiki sedemikian rupa. Lalu aku diajak ke sebuah ruangan. Di sana ada tiga sosok
menungguku, Paman Eqbal, Magdi penjaga apartemen kami dan seorang perempuan
bercadar yang aku yakin dia adalah Aisha. Begitu melihat sosokku perempuan
bercadar itu berhambur ke arahku. Ia memelukku erat-erat sambil menangis. Aku pun
menangis. Ia menatapku dalamdalam dan meraba wajahku dengan kedua tangannya
yang halus.
“Bagaimana keadaanmu, Fahri, Suamiku?”
“Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?”
Aisha menangis tersedu-sedu dalam pelukanku. “Apa dosa kita berdua Fahri
sampai kita harus menanggung cobaan seberat ini. Aku nyaris kehilangan sesuatu
yang paling berharga yang aku miliki kalau seandainya tidak diselamatkan oleh
Magdi. Kau harus berterima kasih padanya. Dia telah menyelamatkan kesucian
isterimu ini Fahri.” Aisha berkata sambil terisak-isak.
228
“Apa sebenarnya yang terjadi setelah hari itu?” tanyaku penasaran.
“Aku tak sanggup menceritakannya. Tanyakanlah pada Magdi?” jawab Aisha
dengan tetap memeluk erat diriku.
Kami lalu duduk. Kutanyakan apa yang terjadi pada Aisha pada Magdi. Dengan
tenang Magdi, polisi yang sering kujumpai shalat berjamaah di masjid dekat
apartemen itu bercerita:
“Sebelumnya maafkan diriku, aku tidak bisa membantumu saat kau ditangkap.
Karena mereka membawa surat penangkapan lengkap. Meskipun aku secara pribadi
tidak yakin akan kebenaran tuduhan yang digunakan sebagai alasan
penangkapanmu. Dan anggapanku ini agaknya benar. Satu hari setelah kau
ditangkap, sekitar jam sepuluh pagi polisi berkumis yang ikut menangkapmu itu
kembali datang. Ia minta izin mau bertanya sedikit pada Madame Aisha, isterimu. Aku
menanyakan surat izinnya. Dia bilang tidak bawa tapi ini tugas penting yang harus
dikerjakannya. Dia hanya akan bertanya beberapa hal pada Aisha, membutuhkan
waktu tak lebih dari sepuluh menit saja. Akhirnya kuizinkan dia naik. Namun aku dan
Hosam punya firasat tidak baik dan curiga dengan tindaktanduknya. Diam-diam kami
naik juga ke atas membuntutinya memakai lift satunya. Sampai di lantai 7 kami kaget
oleh teriakan Madame Aisha. Kami berdua langsung mendobrak pintu sekuat tenaga.
Dan kami melihat Si Kumis sedang mengejar Madame Aisha di ruang tamu hendak
memperkosanya. Seketika itu juga dia kami bekuk!”
Darahku mendidih, aku nyaris tidak bisa menguasai amarahku mendengar
cerita Magdi.
“Kurang ajar! Akan kucari dan kubunuh keparat itu!” teriakku dengan
mengepalkan tangan kuat-kuat. Bagiku kehormatan isteriku adalah segalagalanya,
jauh diatas kehormatan diriku sendiri. Kesucian isteriku sama dengan kesucian kitab
suci, tidak boleh ada seorang pun yang menodainya apalagi menginjak-injaknya.
Kesucian isteriku adalah nyawaku. Ketika ada orang yang berusaha menjamah
kesuciannya maka nyawaku akan kupertaruhkan untuk membelanya. Seandainya
aku punya seribu nyawa akan aku korbankan semuanya untuk menjaga kesucian
isteriku tercinta. Mati seribu kali lebih ringan bagiku daripada ada orang yang
menjamah kesuciannya. Malaikat maut pun akan aku hajar jika dia mencoba-coba
menodainya. Aku rela dijuluki apa saja untuk membela kesucian isteriku tercinta.
229
Insya Allah, kau tidak akan lagi bertemu dengannya!” kata Magdi sambil
tersenyum.
“Maksudmu?” tanyaku.
“Dia sedang diproses ke tiang gantungan. Dia terlalu bodoh. Dia salah
perhitungan. Dia mengira isterimu adalah orang Indonesia. Dan kau tentu tahu
banyak perempuan Indonesia diperkosa di mana-mana, di Saudi, di Singapura, di
Malaysia, di Hongkong, di Taiwan, juga beberapa kali di Mesir dan para
pemerkosanya tidak tersentuh hukum sama sekali. Diplomasi Indonesia sangat
lemah. Si Kumis itu beranggapan begitu. Dia merasa perbuatannya akan amanaman
saja sebab yang akan ia perkosa adalah perempuan Indonesia. Dia menganggap
kami berdua seperti penjaga apartemen biasa yang tidak akan berani mengusiknya.
Tapi dia keliru. Kami tidak akan membiarkan siapa pun berbuat jahat di apartemen
yang kami jaga. Dia langsung kami bekuk begitu tertangkap basah hendak melakukan
perbuatan jahat itu. Madame Aisha langsung mengontak Mr. Minnich, Atase Politik
Kedutaan Jerman. Kedutaan Jerman langsung mengontak kementerian luar negeri
meminta agar penjahat yang mencoba menyakiti warganya ditindak tegas sesuai
hukum yang berlaku di Mesir yaitu hukuman gantung. Si Kumis itu dalam tahanan
kami masih bisa tertawa karena ia yakin akan ada yang membebaskannya. Benar,
lima jam setelah itu ada perintah untuk membebaskannya. Namun belum sempat
kami bebaskan sudah ada perintah lagi untuk memprosesnya secara hukum. Yang
kami tahu Jerman mengancam akan mengopinikan di negaranya dan di Eropa bahwa
Mesir tidak aman jika polisi brengsek itu tidak ditindak tegas. Jerman juga
mengancam akan membatalkan beberapa kerjasama perdagangan dan perindustrian
dengan Mesir. Menurut Mr. Minnich keselamatan seorang warganya sama dengan
keselamatan presidennya. Tak ada pilihan bagi pemerintah Mesir kecuali menindak
tegas seorang oknum tidak bertanggung jawab itu. Tapi setelah kami selidiki agaknya
memang ada skenario jahat yang ingin menghancurkan dirimu dan keluargamu,
Fahri!” jawab Magdi.
“Maksudmu?”
“Aku sudah bertemu Syaikh Ahmad. Beliau meyakinkan padaku bahwa kau
tidak mungkin melakukan hal itu. Selama tiga hari kemarin di samping menangani
kasus Si Kumis, aku dan Eqbal berusaha mencari di mana kau berada. Si Kumis
bilang di serahkan ke penjara Tahrir. Pihak Tahrir bilang sudah dibawa ke Nasr City.
Nasr City bilang sudah diambil Abbasea. Pihak Abbasea bilang sudah dibawa lagi ke
230
Tahrir. Ada orang yang cukup punya kuasa yang mendalangi semua ini, kemungkinan
dia seorang oknum dari Keamanan Negara, sampai aku nyaris tidak berdaya dan para
polisi itu juga takut memberikan keterangan jelas mengenai keberadaanmu. Pihak
Kedutaan Indonesia juga alot di Tahrir. Untung tadi pagi Aisha mendapat telpon dari
seorang perempuan yang mengatakan anaknya satu sel denganmu. Dan kami
langsung meluncur kemari. Kasus Aisha sudah beres, kau tinggal menunggu kabar
penjahat itu digantung. Sekarang tinggal masalahmu. Masalah yang tidak mudah.
Coba ceritakanlah padaku bagaimana sebenarnya yang terjadi sampai kau dituduh
memperkosa gadis bernama Noura itu?”
Aku lalu menjelaskan semua yang terjadi malam itu, dimulai dari kabar
kelulusanku, makan ayam panggang di Sutuh bersama teman-teman, jeritan Noura,
minta tolong Maria, sampai menitipkan Noura pada Nurul di Masakin Utsman. Juga
aku ceritakan sepucuk surat cinta dan ucapan terima kasih dari Noura.
“Di mana surat itu sekarang?”
“Aku berikan pada Syaikh Ahmad.”
Seorang polisi memberi tahu waktu berkunjung telah habis. Aisha memberikan
bungkusan berisi makanan. Dia mengajakku ke pojok ruangan. Di sana dia membuka
cadarnya sehingga aku bisa menatap wajahnya. Dia menangis dan tampak sedih.
Aku mencium pipinya. “Jaga diri baik-baik, jaga kesehatanmu dan kandunganmu,
teruslah berdoa dan mendekatkan diri pada Allah agar semua masalah ini dapat
teratasi. Aku sangat mencintaimu, isteriku.”
Aisha terisak, “Aku juga sangat mencintaimu. Kau besarkanlah jiwamu
suamiku, aku berada disampingmu. Aku tidak akan termakan tuduhan jahat itu. Aku
yakin akan kesucianmu. Kalau seandainya kau mengizinkan aku ingin dipenjara
bersamamu agar aku bisa menyediakan sahur dan buka untukmu.”
“Kau jangan berpikir seperti itu. Kau tenangkanlah pikiranmu. Yakinlah
semuanya akan selesai dengan baik. Banyak orang baik yang akan membantu kita.
Sekarang yang harus kau prioritaskan adalah perhatianmu pada kandunganmu.
Sekarang kau tinggal di mana? Apa sendirian di Zamalek?”
“Tidak. Sejak kejadian itu aku tinggal bersama bibi Sarah dan paman Eqbal.”
“Bagus. Kau akan lebih tenang di sana.”
Aisha kembali memasang cadarnya. Paman Eqbal dan Magdi mendekati kami.
231
Mereka pamitan. Aku merangkul paman Eqbal dan minta doanya. Juga merangkul
Magdi dan mengucapkan banyak terima kasih padanya. Mereka lalu keluar. Aku
beranjak mengambil bungkusan besar berisi makanan. Tiba-tiba Magdi kembali.
“Sst..Fahri ceritakan padaku kau diinterogasi bagaimana?”
Aku menceritakan semuanya. Paksaan untuk mengakui perbuatan itu dan aku
bersikukuh tidak mau mengakuinya.
“Keputusan yang tepat sekali. Sebab jika kau mengaku dan menandatangani
berkas pengakuan maka sangat sulit diselamatkan. Aku dan Eqbal akan mencari
pengacara yang baik untukmu. Kapan sidangnya?”
“Tiga hari lagi.”
“Siksaan apa yang kau terima selama tiga hari ini?”
Aku menceritakan semuanya. Termasuk kekurangajaran Si Kumis
mempermainkan kemaluanku. Juga siksaan setiap pagi.
“Tapi kumohon kau jangan ceritakan siksaan-siksaan ini pada Aisha atau
paman Eqbal mereka akan sedih. Biarlah nanti kuceritakan sendiri setelah keluar dari
penjara ini.”
“Yang kau terima itu masih termasuk ringan. Jangan kuatir. Sakit hatimu pada
Si Kumis itu biar teman-temanku yang nanti membalasnya. Dia memang polisi kurang
ajar. Aku akan mencoba berbicara pada kepala penjara ini. Dan makanan ini, jika
dirampas sama sipir penjara nanti bilang. Terus ciri-ciri sipir itu bagaimana? Aku akan
mengurusnya. Sudah ya satu hari sebelum sidang, insya Allah aku dan pengacara
yang akan membelamu akan datang kemari. Aku pamit dulu. Selamat beribadah oh
ya ada salam dari Syaikh Abdurrahim Hasuna, imam masjid kita. Beliau ikut berbela
sungkawa atas musibah yang menimpamu dan beliau akan ikut serta mendoakanmu.”
“Terima kasih atas segalanya Magdi, salam balik untuk beliau.”
Magdi pergi. Aku kembali ke sel. Aku beritahu mereka apa yang terjadi. Mereka
semua ikut senang dan berdoa semoga aku cepat bebas dari penjara ini. Bisa kembali
belajar dan pulang ke Indonesia mengamalkan ilmu yang kudapat di bumi para nabi
ini. Ismail membuka bungkusan besar yang kubawa. Ia heran bagaimana aku bisa
membawa makanan sebanyak itu. Kujelaskan semuanya.
Alhamdulillah, di dunia ini masih ada polisi baik seperti Magdi,” gumam Ismail.
232
“Dia SLTA di ma’had Al Azhar Damanhur,” sahutku.
“Pantas.”
“Tapi Si Noura, gadis itu juga ma’had Al Azhar, kenapa dia bisa berbuat sejahat
itu?” heranku.
“Aku yakin itu bukan semata-mata kemauan Noura. Setidaknya ada sesuatu
yang menekannya. Puteriku yang nomor tiga juga di Al Azhar, dan dia sangat jujur,”
tukas Haj Rashed.
Belum puas kami berbincang terdengar langkah sepatu bot dan pintu kami
digedor.
“Tahanan 879!” teriaknya seperti anjing menyalak.
“Ya!” jawabku dengan suara keras.
“Ayo ikut!”
Aku dibawa ke ruang penerimaan tamu. Di sana sudah ada Staf Konsuler KBRI
dan Ketua PPMI. Keduanya memelukku erat-erat. Mereka berdua ingin tahu
sebenarnya apa yang terjadi denganku. Aku ceritakan kronologis penangkapanku dan
dakwaan yang dialamatkan kepadaku. Staf konsuler berjanji akan membantu sekuat
tenaga membebaskan aku dengan upaya diplomatis, meskipun dengan nada yang
agak pesimis,
“Tahun 1995 pernah ada mahasiswa kita yang mengalami nasib mirip
denganmu. Dia naik lift. Di dalam lift ada anak kecil Mesir. Entah kenapa anak kecil itu
menangis. Anak kecil itu melapor pada kedua orang tuanya takut pada mahasiswa
kita itu. Orang tuanya melapor pada polisi menuduh mahasiswa kita mencoba
mencabuli anaknya. Padahal mahasiswa kita tidak berbuat demikian, dia hanya
menyapanya dan mengajaknya bicara seperti kalau bertemu dengan anakanak di
Indonesia. Polisi lebih percaya pada pengaduan orang tua anak itu. Orang Mesir jika
sudah menyinggung kehormatan perempuan sangat sensitif. Menyiul perempuan
berjalan saja bisa ditangkap polisi jika perempuan itu merasa terhina dan tidak terima.
Akhirnya mahasiswa kita itu dipenjara beberapa bulan. Ia dikeluarkan dari Al Azhar
dan dideportasi. Ia tidak dihukum gantung karena setelah divisum anak kecil itu
memang tidak apa-apa. Bayangkan, hanya karena mengajak bicara anak kecil di
dalam lift, mahasiswa kita dipenjara. Dan pihak KBRI tidak bisa berbuat apa-apa.
Akhirnya mahasiswa kita itu harus keluar dari Mesir. Sekarang ia belajar di Turki.
233
Bahkan ikut membantu staf KBRI di sana. Juga menjadi pemandu travel bagi orang
Indonesia yang melancong ke Turki yang biasanya satu paket dengan umrah. Di sana
dia malah kaya dan makmur sekarang. Untuk kasusmu ini, kita akan berusaha sekuat
tenaga. Tapi kita tidak bisa menjamin keberhasilannya.”
Kata-kata staf konsuler KBRI itu membuat hatiku ciut. Aku tiba-tiba ingin jadi
warga negara Amerika saja. Jika aku warga negara Amerika pasti polisi Mesir tidak
berani berbuat macam-macam. Menyentuh kulitku saja mereka tidak akan berani
apalagi mengancam hukuman gantung. Jika aku jadi warga negara Amerika, mungkin
seandainya benar-benar memperkosa pun, tetap selamat. Sebab presiden Amerika
akan ikut bicara membela warganya seperti ketika Clinton membela warganya yang
dicambuk di Singapura. Lain Amerika lain Indonesia. Apa yang dibela oleh presiden
Indonesia kalau bukan jabatan dan perutnya sendiri? Mana mungkin dia mendengar
rintihan dan rasa sakitku dicambuk tiap pagi dan membeku kedinginan di bawah tanah
dalam musim dingin yang membuat tulang ngilu? Apalagi diriku yang jauh di Mesir.
Sedangkan ribuan gadis Indonesia dijual, dirobek-robek kehormatannya dan
diperlakukan seperti binatang di Singapura saja presiden diam saja? Kapan dalam
sejarahnya ada Presiden Indonesia membela rakyatnya? Kecuali Soekarno di zaman
mempertahankan kemerdekaan.
“Kalau kami, apa yang bisa kami bantu menurut Mas Fahri?” kata Ketua PPMI.
Pertama, aku ingin dukungan seluruh teman-teman dari Indonesia. Demi Allah
yang mengetahui apa yang tersembunyi di langit dan di bumi, aku tidak melakukan
perbuatan yang dituduhkan kepadaku itu. Aku ingin dukungan moral dari
teman-teman semua. Tolong disosialisasikan kisah yang sebenarnya. Orang satu
rumah denganku dan Nurul tahu akan hal itu. Jika nanti ada wartawan Mesir
mewawancarai tolong opinikan yang baik mengenai diriku, tolong! Juga temanteman
yang jadi koresponden media massa di tanah air tolong kisahkan yang sebenarnya
jangan yang malah menimbulkan interpretasi yang macam-macam. Kedua, kepada
PPMI dan KBRI mohon kerjasama dengan pengacaraku nanti. Sekarang isteriku dan
seorang polisi Mesir yang baik sedang mencari pengacara untuk membelaku. Tolong
bantu mereka. Ketiga, mohon doa teman-teman Indonesia semuanya, ketika sahur,
ketika tarawih, ketika shalat malam. Doakan aku selamat dari ujian berat ini. Itu saja
harapanku saat ini.” Jelasku dengan sedikit terisak, sebab masalah yang aku hadapi
sangat serius. Nyawaku sedang terancam. Staf KBRI dan Ketua PPMI berjanji akan
memenuhi keinginanku itu. Aku mengucapkan terima kasih atas kunjungan mereka.
234
Mereka minta maaf terlambat tapi itu karena pihak kepolisian Mesir yang membuat
urusan berbelitbelit.
Sesedih apapun, kunjungan KBRI dan PPMI menambah kekuatan dalam diri.
Kedatangan mereka berdua seolah berisi dorongan moral dari seluruh saudara
setanah air di Indonesia. Di negeri orang, orang satu tanah air yang berlainan
pulaupun menjadi seperti saudara sendiri. Apalagi yang satu pulau. Satu propinsi.
Satu kabupaten. Satu kecamatan. Aku merasa diperhatikan oleh dua ribu lima ratus
lebih mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir. Rasa cintaku pada mereka semakin
membulat, juga pada segenap saudara di KBRI.
* * *
Satu hari menjelang sidang Aisha, paman Eqbal, dan Magdi datang
membawa seorang pengacara bernama Amru. Dia menginginkan diriku menceritakan
semua hal yang kira berkaitan dengan masalah yang sedang aku hadapi. Aku
menceritakan semuanya dari kejadian ribut malam itu sampai berita terakhir dari
Syaikh Ahmad bahwa Noura telah menemukan orang tuanya yang asli setelah melalui
test DNA. Amru dan Magdi akan membantu sekuat tenaga untuk membebaskan aku
dari segala tuduhan itu. Semua saksi dan bukti yang kira-kira bisa membela diriku
akan dia gunakan. Amru juga mengingatkan diriku agar dalam sidang besok bersikap
tenang dan tidak terpancing emosi. Sebab jaksa penuntut akan menggunakan teror
kata-kata dan psikologis untuk melemahkan diriku dan menjebakku. Aku mungkin
akan sangat dihina oleh kepandaiannya bersilat lidah dan berargumentasi tapi aku
tidak boleh terbawa oleh irama permainannya. Kemungkinan besar besok adalah
sidang untuk mendengarkan pengakuan Noura dan pengakuanku. Serta teror
investigasi dengan perkataan dan pertanyaan di depan sidang. Aku mengucapkan
terima kasih atas segala bantuannya. Amru tersenyum.
“Meski berliku, aku yakin kebenaran akan menang. Apa pun yang terjadi pada
akhirnya kebenaran akan menang. Jangan kuatir, Saudaraku. Nanti malam
perbanyaklah shalat dan memohon pertolongan kepada Allah.” Kata Amru
mengingatkan. Mereka pamitan. Seperti saat mengunjungi sebelumnya sebelum
pergi, Aisha mengajakku ke pojok ruangan. Dia membuka cadarnya agar aku dapat
melihat wajahnya. Kami berangkulan dalam tangis.
“Fahri, kuatkanlah dirimu. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau kehilangan
dirimu. Aku tak ingin bayiku ini lahir tanpa dirimu disisiku.” Isak Aisha yang membuat
235
hatiku bagai diremas-remas. Aku merasa langit-langit ruangan itu basah, dan
dinding-dindingnya melelehkan air mata. Kuusap air matanya dengan ujung jilbabnya,
pelan kubisikkan padanya sebuah harapan:
Sayang, tancapkan dalam hati
walau tak kini
esok insya Allah terjadi
kita akan bulan madu lagi berkali kali lebih indah dari yang telah kita lalui
apalagi di sorga nanti walau tak kini esok insya Allah terjadi selama cinta kita
tak pernah mati selama iman masih terpatri dalam diri
236



Ayat - Ayat Cinta - Bab 25

No comments:

Post a Comment