Saturday, December 19, 2015

PEMBUNUH CAHAYA - BAB 1



Cintalah  yang  membuatku  mempertanyakanmu.  Seberapa jauhkah  kau akan  berkorban,  atas nama  cinta?


1


Pernikahan mereka luar biasa mewah dan sangat indah, sayangnya mama Leo tidak bisa hadir karena kata Leo, sang mama sedang berobat di luar negeri. Kondisi pernikahan mereka yang mendadak membuat mama Leo tidak bisa mengatur ulang jadwalnya. Tetapi kata Leo mamanya mengirim salam dan segera setelah pulang dari luar negeri, beliau akan menengok mereka berdua sambil membawa kado pernikahan.
Mereka memasuki kamar pengantin yang sudah didekorasi dengan mewah oleh dekorator terkenal, tentu saja bunganya dipasok oleh rumah kaca Saira. Beberapa merupakan sumbangan dari Andre sahabatnya yang sangat senang dengan pernikahan Saira. Andre memang sahabat dekat Saira, yang selalu membantunya kapanpun dia siap. Banyak yang mengira mereka berhubungan dekat, tetapi hanya Saira dan Andre yang tahu bahwa mereka tidak bisa lebih dari itu, Andre seorang gay dan dia tidak tertarik kepada perempuan.
Saira masih menyimpan rahasia itu sendiri, dia belum mengatakannya kepada Leo, semula dia masih ragu karena Andre sendiri yang membuatnya berjanji untuk tidak mengatakannya kepada siapapun. Lelaki itu masih malu dengan kenyataan dirinya dan tidak ingin siapapun tahu, kecuali Saira sahabatnya. Tetapi Saira mempertimbangkan untuk meminta izin Andre supaya dia bisa memberitahu Leo. Leo suaminya dan Saira yakin Leo tidak akan menghakimi Andre. Lagipula Leo beberapa kali  mempertanyakan kedekatannya dengan Andre dan tampak cemburu karenanya. Kalau Leo sudah tahu bahwa Andre adalah gay, mungkin lelaki itu akan tenang.
Setelah berganti pakaian dengan gaun tidur warna putih miliknya, Saira duduk dengan ragu di atas ranjang. Leo belum masuk daritadi karena masih banyak tamu di luar meskipun


waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Para tamu itu kebanyakan rekan kerja Leo. Saira tadi masuk duluan karena dia  kelelahan  sejak  pesta  mewah  tadi  pagi,  sedangkaLeo masih harus menemani tamu-tamunya demi kesopanan.
Sudah larut malam ketika Leo akhirnya masuk. Saira masih menunggu dengan terkantuk-kantuk duduk di tepi ranjang, dia mendongak ketika lelaki itu menutup pintu kamar pengantin mereka.
Semua sudah pulang?
Hening.
Leo  menatapnya  lama  sekali,  lalu  menjawab  singkat.
Sudah.”
Sekarang jantung Saira berdegup kencang, dia hanya berdua saja dengan suaminya sekarang. Saira tidak pernah berduaan di  kamar dengan lelaki manapun sebelumnya. Leo adalah lelaki pertamanya dalam segala hal. Dan malam ini mereka adalah suami istri. Pipi Saira merona, membayangkan bagaimana mereka akan melewatkan malam ini. Saira bagaimanapun juga menyimpan ketakutan kalau dia akan mengecewakan Leo yang sepertinya sudah bergitu dewasa dan berpengalaman dibanding dirinya. Selisih usia mereka delapan tahun, Saira baru dua puluh empat tahun, sedangkan Leo tigapuluh dua tahun. Orang bilang usia mereka berdua adalah usia yang pas untuk hidup berumah tangga.
Belum tidur?Leo masih berdiri di dekat meja rias, dan mulai melepas dasi, jasnya sendiri sudah disampirkan secara sembrono di kursi rias.
Saira  menggeleng, tersenyum  malu-malu, Belum,  aku menunggumu.”
Mata Leo tampak menajam, lelaki itu tampak begitu misterius di balik cahaya lampu kamar yang kuning temaram.
Seharusnya kau tidur duluan. Gumamnya dingin, lalu
melepas kemejanya dan melangkah masuk ke kamar mandi.
Saira masih tertegun, bingung akan perubahan nada suara Leo kepadanya. Lelaki itu tidak pernah berbicara dengan nada suara sedingin itu kepadanya. Apakah mungkin Leo lelah?


Ketika Leo keluar dari kamar mandi, dia sudah  berganti memakai piyama hitam. Dia mengangkat alisnya ketika sudah berdiri di pinggir ranjang.
Minggir ke sana.” gumamnya kasar, membuat Saira bergegas naik ke atas ranjang dan bergeser ke ujung lainnya, dengan perasaan bingung dan was-was.
Lelalu naik ke  ranjang dan berbaring di  sana. Saira menoleh hendak bertanya, tetapi lelaki itu berbaring membelakanginya dengan nafas teratur seolah jatuh tertidur begitu saja.
Apakah lelaki itu tertidur? Kenapa dia bersikap begitu? Apakah Leo kelelahan? Ataukah lelaki itu marah kepadanya atas sesuatu yang tidak dia sadari? Mungkinkah Saira telah menyinggung Leo tanpa sadar? Tapi kapan? Kenapa?
Seluruh pertanyaan itu menggayuti benak Saira. Dia berbaring dengan mata nyalang, menatap punggung tegap Leo
Tetapi sepertinya pertanyaannya tidak akan terjawab malam ini. Leo tampaknya sudah tertidur pulas. Akhirnya dengan perasaannya yang berkecamuk bingung, Saira memaksakan dirinya memejamkan mata.
Malam pengantinnya berlalu dalam keheningan yang menyesakkan dada....
***
Pagi hari ketika Saira membuka mata, dia masih merasa bingung akan keberadaannya. Sejenak dia agak kaget berada di dalam kamar yang tidak dikenalinya, tetapi kemudian dia mengumpulkan ingatannya. Pernikahannya, rumah Leo...
Dengan gugup Saira menegakkan tubuhnya, mencari Leo tentu saja. Tetapi sebelah ranjangnya kosong. Leo sudah tidak ada.
Diliriknya jam dinding tak jauh darinya, sudah jam tujuh pagi.  Saira tidak pernah  bangun sesiang ini  sebelumnya, dia selalu bangun jam enam pagi, kemudian menuju rumah kaca dan merawat tanaman miliknya. Sekarang tanaman miliknya sedang dirawat dalam pengawasan Andre, lelaki  itu  katanya


ingin memberi kebebasan kepada Saira untuk berbulan madu sementara.
Dengan canggung Saira melangkah berdiri dari ranjang. Apakah Leo ada di luar untuk sarapan? Kenapa Leo tidak membangunkannya? Apakah lelaki itu tidak mau mengganggu tidurnya?
Saira melangkah ke kamar mandi dan mandi dengan air hangat untuk menyegarkan dirinya dan tubuhnya yang terasa penat setelah pesta kemarin. Setelah itu dia melangkah ke luar kamar Leo.
Suasana rumah Leo tampak lengang. Kamar Leo berada di lantai dua, dan tidak ada siapapun di situ. Dengan ragu Saira menuruni tangga melangkah turun, ada seorang pelayan di sana yang langsung membungkukkan tubuh hormat begitu melihatnya.
Dimana  suamiku? tanya  Saira  pelan,  masih  merasa
ragu mengklaim Leo sebagai suaminya.
Pelayan  itu  masih  membungkuhormat,  Tuan  Leo sudah berangkat sejak pagi tadi, Nyonya.”
Berangkat kemana? Saira mengernyitkan keningnya. Berangkat  bekerja.”  Jawab  pelayan  itu  singkat,  lalu
pamit untuk melanjutkan pekerjaannya di belakang.
Bekerja? Hari ini adalah hari pertama mereka resmi menikah dan Leo berangkat kerja? Sebegitu sibukkah suaminya sehingga tidak bisa libur setelah pernikahan mereka? Tidak adakah bulan madu seperti yang dilakukan orang-orang biasanya? Setahu Saira, kebanyakan orang memilih melewatkan waktu bersama dengan tidak bekerja, tidak perlu harus berlibur ke suatu tempat, bahkan dengan hanya bersama-sama di rumah itupun sudah cukup.
Sair mengir Le aka meluangkan   waktu   untuk mereka bisa bersantai berdua, apalagi mengingat hubungan mereka  yang  singkat  sebelum  menikah.  Tidakkah  Leo  ingin lebih banyak mengenalnya seperti Saira yang sangat ingin mengenal suaminya lebih dalam?


Dan Leo juga berangkat bekerja tanpa berpamitan kepadanya. Saira masih bertanya-tanya akan sikap kasar dan dingin  Leo  semalam,  tetapi  pagi  ini  sikap  Leo  lebih membuatnya bertanya-tanya lagi.
Suami seperti apa yang meninggalkan pengantinnya setelah malam pertama mereka yang tidak tersentuh, hanya untuk pergi bekerja?
Saira diam termangu. Matanya menatap keindahan rumah dengan segala interior mewahnya yang bergaya minimalis itu dengan bingung. Rumah itu terasa sangat asing baginya, dan tiba-tiba saja, Leo juga terasa sangat asing baginya.
***
Bagaimana malam pertamamu?” Andre langsung bertanya dengan menggoda ketika Saira mengangkat teleponnya.
Saira tersenyum lembut, “Kami belum malam pertama.” Bisiknya, dia memang selalu jujur kepada Andre dalam hal apapun, dan kenyataan bahwa Andre adalah gay membuatnya semakin nyaman di dekat lelaki itu,
Apa? suara Andre di seberang sana tampak terkejut,
“Kalian belum melakukan malam pertama?
Meskipuada  di  seberang  telepon,  Saira  tersenyum malu-malu, “Kami terlalu lelah, kemarin sampai jam sepuluh malampun masih ada tamu-tamu yang berdatangan.
“Oh.” Andre tertawa, “Itulah resikonya menikah dengan seorang  bos  besar.”  CandanyaJangan  khawatir,  semuanya akan ditebus di saat bulan madu kalian.
Sepertinya tidak akan ada bulan madu. Saira membatin dalam hati, tiba-tiba merasa ragu.
Saira? Andre bertanya di seberang sana, sepertinya dia sedang menanyakan sesuatu. Tetapi karena sibuk dengan pikirannya, Saira tidak menanggapinya.
Eh.. iya..apa? gumam Saira gugup.
Ak tadi   bertanya,   kemana   rencana   kalia akan berbulan madu.”


Sejenak Saira bingung harus menjawab apa, dia lalu berdeham karena  gugup,  Eh...  aku  belum  tahu.”  Gumamnya pelan, Leo belum memberitahuku rencananya.”
Mungkin dia akan memberimu kejutan, Ada nada menggoda di suara Andre, Aku membayangkan dia akan membawamu ke pulau eksotis yang luar biasa indahnya, kabari aku ya Saira.”
Saira memaksakan senyum di suaranya, Pasti Andre.” Mereka  lalu  bercakap-cakap sebentar  mengenarumah  kaca Saira. Batin Saira sedikit tenang ketika Andre mengatakan dia menyewa temannya untuk menghandle tugas merawat rumah kaca Saira. Teman Andre itu dulu pernah melakukan hal yang sama ketika Saira sakit dan hasilnya memuaskan. Tanaman di rumah kacanya akan baik-baik saja.
Saira menghembuskan napasnya setelah mengakhiri percakapan mereka, masih bingung akan sikap Leo sejak semalam. Apakah mungkin seperti yang dikatakan oleh Andre, bahwa Leo ingin memberinya kejutan? Di film-film yang dilihatnya, orang-orang kadang bersikap aneh dan membingungkan ketika ingin    memberi kejutan. Misalnya memberikan kejutan ulang tahun, orang-orang berkomplot untu berpura-pur lupa   da tida memberikan   selamat, hingga membuat orang yang ulang tahun merasa sedih dan kecewa, lalu pada malam harinya mereka memberikan pesta ulang tahun kejutan yang membahagiakan, membuat kejutan mereka lebih bermakna.
Itukah yang sedang dilakukan oleh Leo? Apakah lelaki itu sedang memberikan kejutan untuknya?
***
Sampai dengan siang hari, Saira terus menghabiskan waktunya dengan kesepian di rumah itu. Dia sama sekali tidak menyangka inilah yang akan terjadi pada dirinya. Ditinggalkan bekerja, seorang diri di rumah satu hari setelah pernikahannya.
Dorongan  untuk  mengunjungi  rumah  kaca  dan melarikan kebosanannya dengan merawat tanamannya sangat kuat.  Tetapi  kalau  dia   ke  rumah  kaca,  Andre  pasti  akan


memberondongnya dengan sejuta pertanyaan, dan Saira pasti tidak akan bisa menjawab, karena dia sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi.
Diliriknya ponselnya. Sepi, tiak ada kabar satupun. Dulu sebelum mereka berpisah, Leo selalu mengiriminya pesan- pesa penu perhatia kepadanya.   Bahka hanya   untuk sekedar mengucapkan selamat pagi, menanyakan apakah dia sudah makan, atau juga kadang memberikan info tentang apa yang dilakukannya.
Tetapi sekarang berbeda, tidak ada satupun pesan dari
Leo kepadanya, Apakah Leo sedang benar-benar sibuk?
Saira sungguh tergoda untuk menelepon Leo, tetapi dia takut siapa tahu akan mengganggu Leo yang sedang berada di tengah rapat penting.
Dengan pedih Saira menghela napas panjang. Dia harus keluar dari rumah ini, atau dia akan menjadi gila.
Dengan cepat dia berganti pakaian, meraih tasnya dan memanggil taxi.
“Garden Cafe. Gumamnya, menyebut tempat Saira biasanya menghabiskan waktu siangnya di sana. Secangkir teh hijau hangat mungkin bisa membantu menghapuskan kegalauannya.
***
Cafe  itu  sangat  cocok  dengan namanya, Garden Cafe, nuansa taman sangat kental mengelilingi areanya, semua serba hijau dan memantulkan suasana alam yang indah, dengan tanaman hijau yang menarik dipadu dengan bunga-bunga anggrek di setiap sudutnya. Efek tamannya semakin nyata karena seluruh dindingnya terbuat dari kaca, sehingga pengunjung bisa menatap pemandangan taman, merasakan kedamaian sambil menikmati makanan dan minumannya di dalam cafe. Dan Saira sungguh merasa bangga karena dia memiliki andil dalam keindahan cafe ini, seluruh tanaman yang ada di cafe ini, baik di taman maupun bunga-bungaan dekorasinya, semua berasal dari rumah kaca Saira.


Albert, sang pelayan setengah baya yang sudah sangat dikenalnya tersenyum ketika melihatnya datang,
Apa yang dilakukan pengantin baru di sini? tanyanya
menggoda, membuat Saira merasa malu.
Dia  mencoba  menggelak dari  pertanyaan Andre,  “Aku masih belum bisa melepaskan ketergantungan dari teh hijau di siang hari.” Gumamnya penuh canda, membuat Albert tergelak.
Pesanan akan segera diantar." gumamnya mengedipkan
mata, lalu melangkah pergi.
Tak lama kemudian lelaki itu kembali, mengantarkan secangkir teh hijau beraroma khas yang harum yang masih panas.Saira sangat menyukai harum aroma teh hijau ini, apalagi teh hijau dari Garden Cafe. Hampir setiap hari selama beberapa tahun terakhir ini, Saira selalu mampir untuk makan siang dan menikmati secangkir teh hijau.
Hanya andalah satu-satunya yang memesan teh panas, bahkan di saat suasana sedang panas.” Albert melirik ke luar yang sedang terik. Untunglah tanaman hijau melindungi sekeliling area cafe ini, membuat udaranya tetap segar.
Saira tertawa, “Kata orang, teh hijau mempunyai kemampuan menenangkan.
Yah, menenangkan orang yang sedang banyak pikiran.” Albert tersenyum, Yang pasti bukan untuk pengantin baru sepertimu Saira.” Lelaki itu  setengah berbisik, Tahukah kau apa yang selalu kupikirkan kalau menyajikan teh hijau ini?
Apa?”   Sair langsung   tertarik Percakapan   dengan Alber memang   selal menarik,   lelak it seola punya segudang pengalaman dan pengetahuan yang kadang-kadang bisa membuat Saira terpana,
Rahasia.”
Apa?”   Sair mengernyit   makin   dala mendengar
jawaban Albert,
Albert  tertawa  lagi,  Rahasia.  Setiap  memikirkateh hijau aku selalu memikirkan tentang rahasia.” Ditatapnya  Saira dengan serius, Kau tahu ketika sajian teh hijau yang dipadau


dengan melati datang kepadamu, aromanya sangat khas dan menakjubkan, membuatmu tergoda dan bahkan bisa membayangkan rasanya,  sebelum  kau  mencincipinya. Tetapi kemudian ketika kau menyesapnya, kau pasti akan mengernyit, merasakan pahitnya yang menerpa lidahmu. Setelah itu ketika kau menyesapnya lagi dan lagi, barulah kau bisa menemukan keindahan citarasanya yang berpadu. Teh hijau selalu penuh rahasia, dia tidak seperti aroma yang ditampilkannya, bahkan menyediakan kepahitan pada kontak pertama. Kau harus selalu sedikit demi sedikit menyibak lapisan demi lapisan rasanya hingga menemukan kenikmatan sejati di dalam minuman ini.”
Wow. Sairterpesona mendengar penjelasan Albert, Aku  tidak  pernah  memandang  teh  hijau  seperti  itu sebelumnya. Bagiku dia hanyalah minuman yang enak dan membuatku ketagihan. Saira tergelak, Luar biasa memang pemikiranmu, Albert.”
Albert terkekeh, Kadang atasan saya bilang bahwa pikiran saya terlalu rumit.” Lelaki itu melirik ke belakang, Tetapi sekarang atasan saya sama sekali tidak pernah memprotes cara berpikir saja, sejak dia menikah. Dia terlalu sibuk berbahagia, menghabiskan waktu dengan istrinya. Semua pengantin baru sepertinya tidak pernah tahan menjauhkan diri satu sama lain. Albert mengedipkan sebelah matanya sebelum melangkah mundur, Silahkan nikmati teh hijaumu, Saira.”
Sementar it Sair tertegu mendengar   kata-kata Andre bahwa semua pengantin baru tidak pernah tahan menjauhkan diri satu sama lain.
Diliriknya ponselnya yang masih sepi dalam keheningan. Saira menghela napas panjang, tiba-tiba merasakan firasat buruk yang menggayuti hatinya.
***
Pada  akhirnya  Saira  tidak  tahauntuk  tidak mengunjungi Andre, dia  berdiri di  rumahnya yang  sekaligus menjadi kantor mereka dengan ragu. Rumah Andre sendiri persis menempel di sebelah rumah Saira, jadi lelaki itu sering sekali bolak-balik antara kantor ke rumahnya, yang ditinggalinya bersama ibunya dan dua adik perempuannya.


Hubungan Andre dan Saira sangat dekat, lebih dari sahabat, menyerupai adik dan kakak. Keluarga Andre juga sangat menyayanginya. Ketika ibunya meninggal, otomatis keluarga Andre mengangkat dirinya menjadi anak angkat tidak resmi.
Ibu  Andre selalu berharap lebih akan hubungan Saira dengan Andre, maklum ia tidak tahu jati diri yang disembunyikan Andre sebagai seorang gay. Berkali-kali dia menyinggung betapa senangnya jika mempunyai menantu seperti Saira. Tetapi kemudian ketika Saira merencanakan pernikahannya dengan Leo, dia akhirnya menerima kenyataan bahwa  mereka  memang  tidak  ditakdirkan  melebihi  sahabat. Dan bahkan kemudian ibu Andrelah yang bersemangat membantu persiapan pernikahan Saira, membuat Saira terharu karena Ibu Andre bertindak seperti ibu kandungnya.
Apa yang kau lakukan di sini? suara di belakangnya
membuat Saira berjingkat karena kaget.
Saira  menoleh  dan  melihat  Andre  berdiri  di belakangnya, lelaki itu sepertinya tadi keluar untuk membeli makanan, karena ada kantong plastik berlogo fast food di tangannya. Saira melirik makanan yang dibawa Andre dan mencibir.
“Kau akan mati muda kena serangan jantung kalau tiap
hari mengkonsumsi fast food semacam itu.” Gumamnya,
Andre tergelak lalu memutar bola matanya untuk mengejek pendapat Saira. Dia melangkah mendahului Saira memasuki bagian depan rumah Saira yang sudah dialih fungsikan menjadi kantor mereka.
“Kenapa kau di sini?    Bukankah kau seharusnya menghabiskan hari yang indah bersama suamimu?
Saira menjawab asal untuk mengihindari kecurigaan Andre, Leo ada urusan pekerjaan sebentar di kantornya, jadi aku memutuskan untuk kemari dan menengok rumah kacaku.”
Bekerja di hari pertama setelah pernikahan?” Suara Andre meninggi,Sungguh keterlaluan.Lelaki itu menggeleng- gelengkan kepalanya dengan dramatis.


Mereka sudah memasuki area kantor, dan Andre meletakkan kantong plastik yang dibawanya ke meja. Dia menarik makanannya dan memakannya dengan nikmat, diliriknya Saira yang memandang ngeri pada pesanan makanan Andre.
Mau? Andre menyodorkan makanannya, menggoda Saira, tahu persis bahwa Saira adalah maniak makanan yang sehat dan pasti akan menolaknya.
Dan seperti dugaannya, Saira menggelengkan kepalanya.
Aku sedang bingung.”
Andre menatapnya dan mengernyit, Bingung kenapa?Tentang   Leo.”   Pipi   Sair memerah Dia...semalam
sikapnya aneh..
Andre  tertawa“Kebanyakan pengantin  baru  memang suka  bersikap  aneh,  Saira....Mungkin  nanti  kau  akan menemukan banyak hal baru dari suamimu. Sesuatu yang tidak pernah kau duga sebelumnya, tetapi memang itulah asyiknya perkawinan.
Saira    mencibir,    Seperti    kau    sudah    ahli    dalam
perkawinan saja.”
Andre tertawa, melahap makanannya dengan nikmat. Aku memang belum pernah mengalami perkawinan, dan mungkin tidak akan pernah. Wajahnya tampak sedih, tetapi dengan cepat dia mengubah ekspresinya menjadi ceria, Tetapi aku  banyak  membaca  dan  mencari  tahu,  kau  bisa  datang padaku kalau kau ada masalah dengan perkawinanmu.”
Mereka tergelak bersama meskipun ada sedikit perasaan trenyuh di benak Saira. Andre sama sekali tidak berpenampilan seperti gay, dia tidak lembut atau bersikap seperti perempuan. Tubuhnya gagah dan penampilannya jantan seperti lelaki kebanyakan. Saira tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya Andre harus berpura-pura dan mengingkari jati dirinya, apalagi mengingat bahwa ibu Andre sering sekali mendesak anak lelaki satu-satunya itu untuk segera menikah.
Berbicara tentang ibu Andre, Saira teringat akan ibunya, ibunya yang cantik dan begitu lembut. Yang selalu Saira kenang


dari ibunya adalah aroma wangi bunga yang menyelubunginya, hasil dari seharian menghabiskan waktunya di rumah kaca. Ah seandainya ibunya ada di sini, menghadiri pernikahannya, dia pasti akan sangat bahagia. Tetapi Saira meyakini dalam hatinya bahwa ibunya pasti berbahagia di atas sana, melihatnya pada akhirnya menemukan lelaki yang menjaganya.
***
Dari  mana  saja  kau? suara  dingin  Leo  menyambut
Saira di ruang tamu, membuat Saira mengernyitkan keningnya.
Dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dengan gugup,Eh..  karena tidak ada pekerjaan, aku.. aku memutuskan untuk ke rumah kaca.”
“Ke rumah kaca? Tatapan Leo menjadi tajam. Menemui
Andre?
“Iya, dan juga menengok rumah kacaku, Andre mempercayakan perawatannya kepada seseorang, jadi aku mampir untuk mengevaluasi hasil...’
Tidak bisakah kau melepaskan rumah kaca dan Andre dari pikiranmu? Aku muak kalau kau selalu menyebut- nyebutnya di rumah ini. Kalau kau memang mau menjadi istri yang baik, fokuslah pada rumah ini, pada keluarga ini, bukan hanya melulu mengurusi rumah kaca itu! dengan ketus Leo melangkah  meninggalkan  Saira  yang  terperangah  kaget   di ruang tamu.
Saira merasakan hatinya mencelos seperti diremas, matanya terasa panas, tetapi dia menahannya. Seumur hidupnya, tidak pernah ada orang yang memarahinya dengan seketus  itu.  Apakah  Leo  cemburkepada  Andre  dan  juga kepada rumah kacanya?

Hati Saira meragu, tetapi... sepertinya dulu Leo sama sekali tidak keberatan akan itu semua?


PEMBUNUH CAHAYA - BAB 2

2 comments: