Wednesday, August 19, 2015

A Romantic Sroty About Serena - Chapter 1



Kenapa dia harus repot-repot menyuruhku menemuinya sendiri hanya untuk
mengambil payung? Dia kan bisa menyuruh office boy untuk mengembalikannya, atau jika dia tak sempat, dia kan bisa menyuruh sekertarisnya untuk mengurus payung itu. Apalagi Serena tahu bosnya itu sangat sibuk,

Gosip yang terdengar mengatakan Mr.Damian adalah workaholic sejati yang menghabiskan waktu 20 jam sehari untuk bekerja.

Atau, kenapa tidak dia buang saja payung itu? Toh aku juga tak akan berani menagihnya,  pikir  Serena  sambil  mengerutkan  kening  di  dalam  lift  yang mengarah ke lantai 14, lantai khusus CEO mereka. Ini kali kedua dia ke ruangan ini,  sungguh  tak  disangka,  dua  tahun bekerja  disini  dia  hampir  tak pernah bertatapan langsung dengan sang pemimpin tertinggi yang diagung-agungkan itu,  tetapi  sekarang,  dua  hari  berturut-turut  dia  dipanggil  menghadap  Mr. Damian.

Lift terbuka dan dia dihadapkan pada ruang tunggu yang nyaman dan mewah. Sekertaris yang sama, wanita setengah baya yang terlihat kaku dan efisien itu menatap Serena dengan skeptis, sepertinya dia juga bertanya-tanya kenapa pegawai rendahan macam ini sampai dua kali dipanggil menghadap langsung ke sang CEO, padahal setahunya Mr.Damian hanya berkomunikasi dengan anggota direksi, manajer dan kepala bagian unit perusahaannya, itupun lewat meeting resmi perusahaan dan  melalui seleksi janji temu yang rumit.

"Mr. Damian sudah ada di dalam, beliau sudah menunggu anda, saya sudah menginformasikan kedatangan anda lewat intercom dan beliau mempersilahkan anda langsung masuk", gumam sekertaris itu dingin.

***

Damian baru saja menyelesaikan meeting penting dan dengan segera kembali ke  ruangannya.  Mengingat  alasan  yang  membuat  dia  begitu  terburu-buru kembali, membuatnya mengerutkan dahi, dia sudah menelpon atasan Serena tadi pagi, menjelaskan alasan keterlambatan gadis itu. Dan atasan Serena begitu kegirangan karena teleponnya, hingga seolah-olah tak peduli lagi kenapa Serena sampai terlambat.

Yah mungkin setidaknya gadis itu akan berterimakasih padaku,...atau malah jengkel? Damian tersenyum sinis, menilik sifat gadis itu, sepertinya Serena akan tambah jengkel dengannya.


Setelah dengan serius mempelajari berkas-berkas yang diantarkan bagian personalia padanya, Damian termenung.

Gadis itu tidak bohong, kedua orang tuanya memang telah meninggal, dan alamat tempat tinggalnya memang terdaftar sebagai rumah kost, bahkan gadis itu tidak mengisi nama saudara atau kerabat dekat yang bisa dihubungi,

'Saya tinggal sendirian', begitu ucapnya tadi. Apakah gadis itu benar-benar sebatang kara seperti ceritanya. Kalau dia tanpa keluarga dan hanya tinggal di kamar kost, untuk apa dia meminjam uang sebesar 40 juta ke perusahaan yang harus dilunasi dengan memotong gajinya selama bertahun-tahun?

Apakah dia sakit? Memikirkan kemungkinan itu, Dada Damian langsung merasa nyeri,

Tidak! Putusnya setelah termenung sejenak, gadis itu sehat, kalau tidak dia pasti tidak akan lolos seleksi test kesehatan yang sangat ketat untuk masuk ke perusahaan ini.

Kalau begitu, dia pasti gadis yang suka menghambur-hamburkan uang, Damian menyimpulkan. Yeah, segalanya akan menjadi lebih mudah. Damian rela memberikan uang sebanyak yang Serena mau asal Serena mau melayaninya.

Ia sangat kaya, dan memiliki gadis seperti Serena yang benar-benar memacu hasratnya memang layak diberi sedikit pengorbanan.

Lamunannya terhenti ketika intercom   berbunyi memberitahukan kedatangan
Serena.

Damian menunggu penuh antisipasi, seperti seekor singa yang menanti mangsanya, Dia punya penawaran bagus, dan jika gadis itu seperti yang diduganya, Serena pasti tak akan mampu menolaknya.

***

"Kata Pak Edwin anda memanggil saya untuk mengambil payung saya yang tadi tertinggal", gumam Serena sopan ketika Damian mempersilahkannya duduk.

Damian tidak menjawab hingga Serena menatap Damian bingung, lelaki itu sedang menatapnya dalam seolah sedang berkonsentrasi pada sesuatu tetapi pikirannya seolah tak ada di situ.

"Mr. Damian?",



Lelaki itu mengerjap.

"Oh!  Payung"  gumamnya  seolah  baru  teringat  akan  hal  itu,  "ada  di  meja sekertarisku, kau bisa memintanya padanya",

Lalu   kenapa   sang   CEO   ini,   yang   katanya   sangat   sibuk   menyuruhku menghadapnya? Serena mengerutkan kening,

Ketika Mr. Damian sepertinya tidak akan berkata apa-apa lagi, Serena segera bangkit dari kursinya,

"Kalau begitu saya akan segera mengambilnya, terimakasih sudah merepotkan anda, permisi Mr. Damian", gumamnya setengah berbalik,

"Tunggu Serena",

Suara lelaki itu terdengar lembut, dan dengan enggan Serena membalikkan tubuh,

Lelaki  itu  ternyata  sudah  bangkit  dari  kursinya,  memutari  meja  dan  berdiri berhadap-hadapan dengan Serena,

"Aku meralat ucapanku tadi pagi",gumamnya misterius. Serena mengerutkan keningnya,
"Tentang...?"

"Tentang kau bukan tipeku dan aku tidak mungkin tertarik padamu, sebenarnya selama ini aku memperhatikanmu karena tak tahu kenapa, kau membuatku sangat bergairah",

Mulut Serena ternganga dan dia tak mampu berkata-kata, pernyataan itu begitu mengagetkan bagaikan petir di siang bolong.

"Aku ingin kau menjadi kekasihku,...mmm...,bukan kekasih,...apa ya istilahnya di
Indonesia? Wanita simpanan?",

Damian  tampak  sangat  bersemangat  dengan  tawarannya  sehingga  tidak memperhatikan ekspresi shock Serena,

"Kau hanya perlu melayaniku di ranjang, memuaskan aku", Suaranya menjadi rendah dan merayu, "Dan kau tak perlu kuatir akan rugi, kau tahu aku kekasih


yang murah hati, aku akan membelikanmu apartemen mewah sehingga kau bisa pindah dari tempat kost kecilmu itu, dengan begitu aku bisa leluasa mengunjungimu setiap malam, dan aku akan menanggung biaya kehidupanmu, apapun yang kau inginkan akan kuberikan, mobil mewah, perhiasan mahal ,baju- baju rancangan disainer terkenal, perawatan di salon terkemuka, aku tahu kau menyukainya Serena karena gaya hidupmu sepertinya sangat mahal sampai- sampai kau harus berhutang puluhan juta pada perusahaan. Bahkan mungkin kalau  kau  bisa  menyenangkanku,  hutangmu  itu  akan  kulunasi.  Bagaimana Serena? Aku akan memenuhi semua permintaanmu dan kau hanya harus ada saat aku membutuhkanmu",

Ketika Mr. Damian akhirnya mengakhiri pidatonya, Serena sudah begitu pucat sampai tak bisa berkata-kata. Tawaran itu memang amat sangat menggoda, apabila ditawarkan pada pelacur atau wanita yang tidak punya harga diri!!! tapi lelaki itu menawarkan kepadanya??! Kepadanya!! Berani-Beraninya lelaki itu! Berani-beraninya dia merendahkannya sampai seperti ini!,

"Kenapa kau diam saja? Kau tak perlu sok malu-malu atau sok suci, aku tahu wanita seperti apa kamu dibalik sikapmu yang sok menjunjung moralitas...."

PLAAAKKK!!!

Tamparan itu begitu keras sampai kepala Damian terlempar ke belakang, suara tamparan itu menggema di ruangan yang luas itu,

"Berani-beraninya anda!!,”, napas Serena terengah-engah, “Berani-beraninya anda menawarkan sesuatu yang begitu menjijikkan kepada saya!! Anda pikir saya wanita macam apa?? Anda benar-benar sesuai dengan apa yang saya pikirkan, lelaki tak bermoral, bejat, menjijikkan dan...", suara Serena terhenti melihat ekspresi Damian.

"Menjijikkan katamu?", jika tadi Damian tak marah karena tamparan Serena, sekarang dia benar-benar marah,"jika menurutmu aku menjijikkan...",

Lelaki itu mengepalkan kedua tangannya sampai buku-buku jarinya memutih, "Jika menurutmu aku menjijikkan..."

Entah bagaimana Serena mengetahui kapan kendali diri lelaki itu lepas, dengan panik dan takut Serena setengah berlari menuju pintu,

Tapi terlambat, Damian bergerak secepat kilat menerjangnya, Serena berhasil membuka pintu sedikit ketika dengan kasar Damian mendorongnya kembali tertutup.


Lelaki itu menghimpitnya dipintu, desah napas mereka bersahutan, yang satu ketakutan, yang lain bergairah,

"Le…. lepaskan saya!!!, atau saya akan berteriak dan menuntut anda atas pelecehan..."

Damian tak peduli, lagipula ruangan itu kedap suara.

Dengan gerakan impulsif, dibaliknya tubuh Serena, bibir Damian mencari-cari bibir Serena, tubuhnya makin menekan Serena ke pintu,

Serena menggelengkan kepala menghindar dengan membabi buta hingga bibir Damian hanya menempel di rahangnya, dia mencoba meronta melepaskan diri tapi  tubuh  Damian  menghimpitnya  ke  pintu  dan  tangannya  mencengkeram kedua tangan Serena di kiri dan kanan kepalanya.

Mereka  bergulat  beberapa  saat,  tetapi  Damian  tak  mau  menyerah  dari perlawanan Serena. Sampai kemudian ketika Serena membuka mulut untuk berteriak, Damian memagut bibir itu.

Ciuman itu dari awal sudah sangat sensual karena bibir mereka terbuka, Damian melumat bibir Serena seolah sudah tak ada lagi hari esok. Mulutnya sangat liar dan lapar mengecap, melumat dan menikmati bibir Serena yang selembut madu.

Serena terpana merasakan ciuman yang sangat intim ini, yang baru pertama kali dirasakannya. Dan hal itu memberi kesempatan Damian untuk mencium semakin dalam, seluruh tubuhnya menempel ditubuh Serena, makin mendorong Serena ke pintu, setelah menjelajahi dan mencicipi seluruh rasa bibir Serena, lidah Damian mulai mencecap dan mencoba-coba mulai membelai masuk ke dalam bibir Serena.

Serena mengerang mencoba menolak, dia tidak pernah berciuman seperti itu! Tapi  Damian  begitu  lembut  dan  begitu  lidahnya  masuk  ciumannya  menjadi makin bergairah,lidahnya menjelajah masuk, menikmati seluruh rasa dan manisnya mulut Serena, Damian mengerang dalam ciumannya, oh ya Tuhan nikmat sekali! Erangnya dalam hati, dan gairahnya naik begitu cepat bagaikan roket, Gadis itu terasa begitu nikmat, begitu manis dan menggairahkan, sekujur tubuh Damian menginginkan gadis itu, sangat menginginkannya! Tangannya merayap naik dan menyelinap di antara jari Serena sehingga Jari-jari mereka saling bertautan, Damian mencengkeramnya erat-erat seolah itu pegangannya untuk hidup.

Sejenak Serena merasakan matanya gelap, semua ini begitu aneh dan mengejutkan, dan ciuman ini begitu asing dan tak terduga, rasa ciuman ini...Ya


Tuhan , Rafi tidak pernah menciumnya dengan cara sekurang ajar ini, Rafi...Ya
Tuhan!!

Serena mengerahkan segenap kekuatan dan seluruh kendali dirinya untuk melepaskan bibirnya dari pagutan Damian, Mulut Damian yang lapar masih mencari-cari, masih memagutnya sekali lagi, Serena mendorongnya kuat kuat hingga bibir mereka terlepas.

Suasana Ruangan itu begitu hening, hanya desah napas memburu bersahutan, Serena bahkan tak tahu itu napas siapa. Damian masih mencengkeram kedua tangannya di sisi kepalanya, Bibirnya begitu dekat dengan bibir Serena, hingga napasnya yang panas menyatu dengan napas Serena. Mata Damian tampak berkabut, tapi ketika menatap mata Serena sinarnya begitu tajam,

"Kau menikmatinya kan? Aku merasakan dari bibirmu yang melembut ketika lidahku melumatmu, kau bisa berbohong dengan kata-kata, tapi tubuhmu tak bisa berbohong....",

Dengan tiba-tiba Serena mendorong Damian hingga mundur beberapa langkah, ditatapnya Damian dengan mata marah menyala-nyala,

"Dasar  bajingan!!,  kau  bermimpi  kalau  aku  menginginkanmu,  kau  tak  akan pernah bisa menyentuh tubuhku lagi!!, kau begitu menjijikkan!!!"

Suara Serena semakin serak karena menahan tangis,...jangan..., jangan! Kau tak boleh  menangis Serena!  Nanti  dia  akan  semakin  merendahkanmu!  Desisnya dalam hati.

Damian memandang Serena dengan pandangan tajam merendahkan,

"Saat ini kau boleh menghina dan menolakku, tapi aku yakin, nanti kau akan datang padaku, merangkak dan memohon agar aku mau menerimamu."

"Lebih baik aku mati!!"

Serena setengah berteriak ketika buru-buru melangkah keluar dan membanting pintu di belakangnya.

Sang sekertaris memandangnya sambil mengerutkan kening, dan Serena yakin saat itu penampilannya patut dipertanyakan, rambutnya kusut masai dan mukanya merah padam dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.


Tapi Serena tak peduli lagi, yang dia inginkan hanya menjauh secepatnya dari tempat terkutuk itu! Dengan langkah berderap, Serena memasuki lift meninggalkan ruangan itu.

***

Damian mengusap mulutnya yang terasa panas, dia merasa sedikit bodoh, karena bertindak begitu impulsif di kantor, di mana banyak orang bisa menyebarkan gosip.

Damian menarik napas dalam-dalam dan berusaha menghilangkan getaran di tubuhnya. Ciuman tadi terasa begitu nikmat, sudah lama sekali Damian tidak merasakan ciuman yang begitu membakar gairahnya sampai ke tulang sunsum.

Hanya sebuah ciuman dan dia terbakar, Damian mengernyit, tidak begitu menyukai kenyataan itu. Selama ini dia dikenal sebagai kekasih yang sangat ahli di ranjang, selalu mampu mengendalikan pasangannya dan tidak pernah lepas kendali.

Dan sekarang, dia lepas kendali, semudah itu. Titik.

Masih mengernyit Damian menghempaskan tubuhnya ke kursi.

Tapi jika gadis itu seperti yang kupikirkan, kenapa dia semarah itu? Seharusnya gadis itu bahagia bukan kepalang atas tawaran yang dia berikan. Apakah dia salah? Dan apakah dia telah menyinggung gadis itu?

Tidak! Dengan cepat Damian menyingkirkan keragu-raguannya. Semua gadis sama saja, Damian tidak pernah salah, Beri gadis-gadis itu kemewahan dan dia akan takluk padamu.

Mungkin tawarannya masih kurang bagi Serena, Damian mungkin harus menambahkan akomodasi penuh jalan-jalan keliling eropa misalnya.

Atau mungkin, Serena hanya mencoba jual mahal. Wajah Damian menggelap mengingat kata hinaan Serena barusan, Menjijikkan katanya ??

"Lihat saja Serena, Setelah kau menyadari betapa banyaknya yang bisa kuberi padamu, kau akan datang merangkak padaku dan aku yang akan mempermalukanmu", sumpah Damian dalam hati.

***







Chapter 2

1 comment:

  1. Ini part yg hilang diwp,ga ada ya sist.soalnya di wp part 5 awal nya sama sprti diblog ini

    ReplyDelete