Thursday, August 20, 2015

A Romantic Story About Serena - Chapter 10









Vanessa sedang duduk di ruang tamu rumahnya, merenung.

Ada yang mengganjal di pikirannya, terus mengganggu. Sesuatu yang diketahuinya sejak dulu tapi di lupakannya.

Sesuatu tentang Serena, dia merasa dia seharusnya mengetahui sesuatu tentang gadis itu, tapi apa?

Apa itu Vanesa ? Bukankah kau merasa sudah pernah mengenal gadis itu sebelumnya? Sebelum gadis itu bekerja di perusahaan ini ? Bukankah gadis itu terasa begitu familiar?



Dengan  gelisah  Vanessa  berdiri,  melangkah  ke  depan  lemari  putih  yang terpajang rapi di ruang tamunya....

Sebenarnya dia punya firasat Serena berhubungan dengan masa lalunya, masa lalu yang ingin dilupakannya, karena terlalu pedih untuk diingatnya.

Kenangan tentang almarhum suaminya, Alfian.....

Dengan  gemetar  Vanesa  membuka  laci  lemari  putih  itu,  lalu  mengeluarkan sebuah kotak putih yang tidak pernah disentuhnya sejak dua tahun lalu.

Hati-hati dibukanya kotak itu dan dikeluarkannya isinya, sebuah map tebal berisi berkas-berkas.

Vanessa duduk, menarik napas panjang dan membuka map itu, isinya adalah kliping, potongan berita-berita tentang tragedi dua tahun lalu.

Tragedi kecelakaan beruntun di jalan tol yang menewaskan Alfian suaminya.

Saat itu, dalam kesedihannya, Vanessa mengumpulkan semua berita yang memuat tentang tragedi itu, menjadikannya satu di dalam satu map besar, memasukkannya   ke   kotak,   dan   menyimpannya,   menyimpannya   bersama segenap kepedihan yang dia rasakan.

Sekarang dia membuka lagi kotak kepedihan itu, hatinya terasa nyeri, tangannya gemetar ketika membuka halaman demi halaman. Potongan artikel itu.

Sampai kemudian dia menemukan apa yang dia cari.

Gambar sosok itu persis sama, meski terlihat muda, rapuh dan remuk redam, itu Serena yang sama, di gambar artikel itu, dia sedang menunduk mengenakan pakaian serba hitam di ruang tunggu sebuah rumah sakit,

SELURUH KELUARGA TEWAS MENJADI KORBAN TABRAKAN BERUNTUN



Begitu judul artikel itu,

Disitu dijelaskan bagaimana Serena kehilangan kedua orang tuanya dan ditinggalkan sebatang kara sendirian. Sedangkan tunangannya, seorang pengacara bernama Rafi Ardyansyah terbaring koma tak sadarkan diri.

Tunangan??? Koma???



Vanesa membaca artikel itu dengan teliti, lalu mengamati background rumah sakit pada gambar artikel Serena itu.

Dia tahu rumah sakit ini karena pernah praktek lapangan disana beberapa tahun lalu.

Dengan  segera  dia  menelephone  rumah  sakit  itu,  menggunakan  berbagai koneksi profesi dokternya   untuk memperoleh info dari dokter- dokter yang dikenalnya, Vanessa mencari informasi sebanyak-banyaknya,

dan pada akhirnya menemukan kebenaran.

Kebenaran  yang  pasti  akan  menyentuh  hati  siapapun  yang  mendengarnya. Bahkan matanyapun berkaca-kaca karena terharu.

Tiba-tiba Vanessa teringat akan kata-kata Freddy ketika mereka makan siang bersama tadi, mengenai rencana lelaki itu untuk memberi Serena pelajaran....Malam ini.....

Oh Tuhan!!

Dengan segera, seolah tersadarkan, Vanessa segera meraih dompet dan kunci mobilnya,

Dia  harus  mencegah  Freddy  melakukan  apapun  rencananya  untuk  memberi pelajaran pada Serena!!

Freddy sudah salah paham, dan apapun yang dilakukan lelaki itu, dia pasti akan menyesal begitu mengetahui kenyataan yang sebenarnya!!

Vanessa harus mencegahnya sebelum terlambat!!

***

Tamu penting itu akhirnya pulang juga, beres sudah, semua berjalan sesuai keinginannya.

Damian mengacak rambutnya kesal,
Kalau begitu kenapa dia tidak merasa lega?? Kau tahu kenapa
Bisik suara hatinya,



Ah ya, aku tahu kenapa. Damian mengakuinya.

Serena.

Cukup  satu  nama  yang  mewakili  segalanya.  Satu  nama  yang  sedari  tadi menghantui pikirannya.

Dia masih marah pada Serena, marah besar. Tapi bahkan meskipun dia marah, dia tak ingin membuat Serena sedih dengan kemarahannya.

Sungguh ironis.

Damian tersenyum sinis, menertawakan dirinya sendiri.

Tanpa terasa , gadis itu, Serena telah menjadi harta yang begitu berharga untuknya.

Tidak pernah dia secemas itu untuk siapapun, seperti yang dia lakukan untuk
Serena kemarin malam,

Akuilah Damian, kau menyayangi gadis itu.

Suara hatinya menekannya lagi. Dan Damian tidak membantahnya, dia sudah terlalu lelah membantahnya.

Gadis itu dengan sifat polos, jujur dan kekanak-kanakannya telah menyentuh sisi hatinya yang tidak pernah diijinkan tersentuh oleh siapapun.

Ah ya, Serena pasti sudah menunggunya di ruangannya. Tamu penting yang datang   mendadak   ini   membuatnya   terpaksa   menghubungi   Freddy   agar menunggu di ruangannya kalau-kalau Serena datang.

Membayangkan   Serena   sedang   menunggunya   membuat   Damian   tergesa melangkah menaiki lift, menuju lantai pribadinya.

Dengan tenang dia membuka pintu ruangannya.

Pemandangan  di  depannya  adalah  pemandangan  yang  tidak  disangkanya sekaligus pemandangan yang paling tidak disukainya.

Freddy sedang berdiri menekan Serena ke tembok, memeluknya erat-erat dan menciumnya, tubuh Serena yang mungil tenggelam dalam pelukannya.



Ketika menyadari pintu terbuka, Freddy mengangkat kepalanya, dan menatap
Damian yang terpaku di pintu,  membeku seperti batu.

"Oh, hai Damian," Freddy tersenyum, mengusap bibirnya yang sedikit bengkak karena berciuman dengan kasar, "Aku menawar gadismu ini dengan harga beberapa juta, dan dia bersedia menemaniku selama beberapa jam, boleh kan?"

Serena yang masih berada dalam cengkeraman Freddy menjadi pucat pasi mendengar fitnah Freddy yang begitu kejam.

Damian tidak akan percaya kata-kata Freddy kan? Damian tidak akan percaya kan?

Tapi ekspresi Damian begitu susah dibaca, lelaki itu seperti membeku.

"Dan kau tahu Damian, kau memang benar- benar tidak rugi", Freddy menyambung, menyeringai menghina kepada Serena, "Ciumannya lumayan WOW"

"Tidak!!!", Serena akhirnya berhasil bersuara, mencoba membantah kata-kata
Damian, "Tidak!!! Ya Tuhan!! Damian!!!!"

Suara Serena berubah menjadi jeritan ketika dengan secepat kilat tanpa di duga- duga, Damian menerjang Freddy.

Menarik laki-laki itu dengan kasar dari Serena, lalu menyarangkan pukulan keras di rahang Freddy, kemudian di perutnya sampai Freddy terbungkuk-bungkuk menahan sakit,

Tetapi Damian masih belum puas. Dia menyarangkan lagi pukulan telak bertubi- tubi  ke  semua  bagian  tubuh  Freddy,  tanpa  memberi  Freddy  kesempatan melawan,

"Damian!!! Stop!! Kumohon!! Kau bisa membunuhnya!!", Serena berteriak panik ketika Damian menghajar Freddy seperti kesetanan.

Dan terus menghajarnya, terus tanpa henti tidak peduli Freddy sudah terkulai tanpa memberikan perlawanan. Aura membunuh memancar dari mata Damian, menakutkan.

"Damian!!!",  Serena  menjerit  sekuat  tenaga,  berusaha  mengembalikan  akal sehat lelaki itu.


Kali ini berhasil, Damian berhenti. Matanya nyalang, napasnya terengah-engah.

Sedangkan kondisi Freddy sungguh mengenaskan, lelaki itu berbaring tak berdaya, wajahnya penuh darah, mungkin hidungnya patah. Dan sepertinya dia tidak sadarkan diri.

"Astaga."

sebuah suara tercekat yang berasal dari pintu membuat Serena dan Damian menoleh bersamaan, Vanessa berdiri di sana, pucat pasi.

Seolah disadarkan, Damian langsung berdiri, menghampiri Serena dengan bara kemarahan yang membuat Serena beringsut menjauh.

Lelaki itu tidak peduli, dengan kasar dia menarik lengan Serena, setengah menyeretnya keluar ruangan.

"Sakit Damian", Serena merintih karena perlakuan kasar Damian, tetapi lelaki itu tidak peduli, seolah tidak mendengar apa yang diserukan Serena.

Vanessa berusaha menghentikan langkah Damian,

"Damian, kau harus mendengar penjelasanku, semua ini......"

"Diam!!!", teriakan Damian yang menggelegar membuat suara Vanessa tertelan kembali," Kau urus saja bajingan disana itu sebelum dia mati kehabisan darah!! Dan begitu dia sadar, katakan padanya bahwa dia dipecat!!"

Damian menggeram marah sambil menyeret Serena menaiki lift. meninggalkan Vanessa yang masih berdiri terpaku, bingung.
***

"Damian! Semua yang Freddy katakan itu bohong!", Serena berusaha menjelaskan ketika mereka sampai di apartemen, dan lelaki itu masih menggelandangnya dengan kasar.

Tubuh Serena dihempaskan dengan sangat kasar ke tempat tidur.

"Dia  bohong  Damian...",  Serena  tersengal,  putus  asa  mencoba  meyakinkan
Damian.


"Freddy tidak pernah berbohong padaku", jawab Damian datar, tangannya bergerak membuka kancing bajunya.

"Dia bohong...Percayalah", air mata mulai mengalir di sudut mata Serena. "Tidak ada untungnya baginya berbohong padaku."
"Ada!!!", jerit Serena, "Dia membenciku, dia ingin menyingkirkanku...."

"Wah...Kau pikir kau seberharga itu? Kau tidak lebih dari pelacur kecil dengan tampilan tanpa dosa....Berapa dia membayarmu untuk sebuah ciuman hah?! Sepuluh juta?? Dua puluh juta?? Kau pikir kau bisa mendapatkan uang keuntungan dari kami berdua ya??"

"Kumohon Damian, kau tahu dia berbohong....Kumohon...Kumohon...Percayalah padaku...", Serena mulai panik ketika Damian melepas kemejanya, "Ke... Kenapa kau melepas pakaianmu?"

Dengan  takut  Serena  beringsut  di  ranjang  mencoba  sejauh  mungkin  dari
Damian.

"Yah...Aku sudah pernah bilang kan?", lelaki itu tersenyum kejam sambil mulai melepas  ikat  pinggangnya,  tatapan  matanya  tak  lepas  dari  Serena  yang meringkuk ketakutan seperti sekor mangsa yang menghadapi predator kejam.

"Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur!", desis Damian penuh penghinaan.






1 comment:


  1. Hi there, after reading this remarkable paragraph i am
    too happy to share my experience here with colleagues. 오피사이트


    ReplyDelete