Saturday, August 15, 2015

Novel Dating With The Dark - Santhy Agatha Chapter 13

Novel Dating With The Dark - Santhy Agatha Chapter 13








“Anda harus turun nona Andrea. Tuan Christopher ingin menemuianda untuk makan malam di bawah.” Richard memasuki kamar dan setengahmembungkukkan tubuhnya dengan formal kepada Andrea.
Andrea melemparkan tatapan gusar kepada lelaki itu, jadikarena itulah tiba-tiba saja tadi pelayan-pelayan datang dan membawakannya gauncantik berwarna biru muda yang lumayan formal ini. Andrea terpaksa memakainyakarena tidak ada gaun lain yang disediakan untuknya di ruangan ini.
“Aku tidak mau turun.” Gumam Andrea keras kepala, tidak maubegitu saja membiarkan lelaki itu mendapatkan keinginannya.
Richard menatap Andrea penuh spekulasi lalu mulaimengeluarkan pancingannya,
“Anda benar-benar tidak ingin keluar? Mungkin inisatu-satunya kesempatan anda untuk keluar dari kamar ini, apakah anda tidakmerasa bosan? Dan saya juga cemas, kalau anda menolak ajakan makan malam tuanChristopher, beliau akan memutuskan untuk mengurung anda terus-terusan di kamarini dan anda tidak punya kesempatan untuk keluar lagi.”
Lelaki tua ini ada benarnya juga. Andrea tercenung, dia bosanberada di dalam kamar terus-terusnan, ketika menyekapnya, Christopherbenar-benar kejam dan membiarkan Andrea benar-benar selalu berada di dalamkamar. Dan mungkin saja dengan keluar dari kamar ini, Andrea bisa mempelajaridimana sebenarnya dia berada.. Dia mendengar suara onbak, mereka berada di tepilaut. Hanya itu informasi yang Andrea punya.
Makan malam dengan Christopher mungkin tidak akanmerugikannya, hanya akan sedikit menginjak harga dirinya.
Andrea menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya,“Baiklah, aku akan pergi makan malam sesuai kemauan Tuanmu.”
***

Christopher tampak dingin dan formal duduk di kepala meja danmembisu, lelaki itu memakai pakaian hitam-hitam, tampak seperti pangeran kegelapanyang sedang muram.
“Duduk dan makanlah.” Christopher melambaikan jemarinya danpelayan yang siap sedia di situ langsung menarikkan kursi untuk Andrea,
Andrea duduk dan beberapa pelayan dari dapur langsung datangmembawa nampan, mangkuk mungil di depannya dibalikkan dan pelayan itumenuangkan sup berwarna jingga ke sana.
“Itu sup lobster, kuharap kau menyukainya.” Christophersedikit tersenyum tipis, lalu menyantap sup itu dalam keheningan. Mau tak mauAndrea mengambil sendok dan mencicipi sup itu, menyadari bahwa sup itu sangatenak dan perutnya berbunyi... dia rupanya sangat lapar.
Dengan malu dia melirik ke arah Christopher, bertanya-tanyaapakah lelaki itu mendengar suara perutnya tadi. Tetapi Christopher memasangwajah datar dan menyantap supnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Andrea menghela napas panjang dan melanjutkan menikmatisup-nya, beberapa kali dia mencuri pandang ke arah Christopher dan pipinyamemerah. Lelaki ini sudah menidurinya, astaga.... Andrea mengernyit dan tidakbisa menahan diri untuk mengutuki dirinya yang lemah karena begitu mudahnyalarut dalam rayuan Christopher. Tetapi Lelaki itu adalah lelaki yang sangatahli, dan Andrea hanyalah seorang perempuan yang tidak berpengalaman,
Andrea memutuskan dengan penuh tekad bahwa dia tidak akanjatuh lagi dalam pesona dan rayuan Christopher. Cukup sekali lelaki itumemperdayanya, mulai sekarang Andrea akan menguatkan diri. Christopher hanyabermimpi kalau mengira dia bisa memiliki Andrea lagi sesuai kemauannya.
“Ada yang ingin kukatakan kepadamu.” Tiba-tiba Christopherbergumam, menatap Andrea dalam, mereka sudah menyelesaikan menyantap sup itu,dan para pelayan mengambil mangkuk-mangkuk kotor mereka. Sekarang adalah jedasebelum hidangan utama datang. “Andrea, mungkin kau merasa bingung selamaini... tetapi aku memang menyimpan rahasia tentangmu, rahasia yang kupikir akankusimpan dan menunggu sampai kau mengingatnya sendiri. Tetapi semalam kaumembiarkanku bercinta dengamu..” Christopher menatap Andrea dengan begituintens, membuat pipi Andrea memerah, “Dan kupikir, aku tidak bisa menunggulebih lama untuk mengungkapkan....”
“Kau bisa mengungkapkan apapun itu di penjara.”
Sebuah suara lantang tiba-tiba terdengar dari arah pintu,membuat Andrea dan Christopher menoleh bersamaan,
Andrea benar-benar terperanjat. Itu Eric. Lelaki itu berdiri,mengenakan pakaian hitam-hitam dan menodongkan pistol ke arah Christopher. Eric! Apakah Eric datang untukmenyelamatkannya?
***

“Eric!” Andrea terkesiap seketika berdiri dari tempatnyaduduk, menutup mulutnya karena kaget. Bagaimana Eric bisa sampai ke sini?Apakah memang benar Eric sedang mengusahakan segala cara untuk menolongnya? Dantubuh lelaki itu basah kuyup, air tampak menetes-netes dari tubuhnya. Apa yang dilakukan Eric? Apakah lelaki ituhabis berenang di laut?
Christopher sendiri dalam sekerjap mata tampak terkejutmelihat Eric tiba-tiba muncul di sana, tetapi kemudian topeng ekspresi datarnyamuncul dan menutupi semuanya, lelaki itu bahkan tersenyum sambil menatap Eric,
Well.....ternyataaku memang meremehkanmu, kau tidak sebodoh yang aku kira.”
Eric menatap Christopher dengan marah dan waspada. Lelaki iniadalah “Sang Pembunuh”. Tentu saja, penampilannya sangat gelap dan ada aurapekat yang melingkupinya, Eric cuma tidak menyangka bahwa “Sang Pembunuh”setampan ini. Dia pada mulanya berpikir bahwa “Sang Pembunuh” berwajah sangar,penuh tato atau apapun itu yang menunjukkan bahwa dia lelaki kasar dan jahat.Tetapi yang berdiri di depannya adalah sosok lelaki elegan dengan ketampanan bangsawanyang khas dan pakaian rapi dan mahal. Eric melirik ke arah Andrea, tiba-tibamerasa ragu. Kalau “Sang Pembunuh” memang menginginkan Andrea, akankah Andreamenerimanya secara sukarela? Benak Eric dipenuhi perasaan cemburu.
Tiba-tiba saja Christopher berdiri dan melangkah mendekat,membuat Eric semakin waspada dan mengacungkan pistolnya,
“Jangan mendekat! Atau aku akan menembakmu.”
“Atas dasar apa kau menembakku? Kau akan dituntut karenamenembak warga negara asing yang tidak bersalah.”
Eric mengernyitkan keningnya,
“kau adalah “Sang Pembunuh”, itu sudah cukup menjadi alasanuntukku.”
“Oh ya?” Christopher tersenyum mencemooh, “Apakah kau punyabuktinya?”
Eric terpekur. Lelaki ini sangat licin. Pasti dia masuk kenegara ini sebagai pengusaha. Dan ya. Memang Eric sama sekali tidak punya buktibahwa lelaki di depannya ini adalah “Sang Pembunuh”, dia menelan ludahnya, danmenatap Andrea sekilas lalu melemparkan tatapan menantang kepada Christopher,
“Kau menculik Andrea dengan paksa.”
“Aku tidak memaksanya. Andrea milikku, dan aku berhakmengambil apa yang menjadi milikku, kau tentu sudah tahu itu.” Tatapan mataChristopher tajam dan penuh arti, membuat napas Eric tersengal karena emosi,“Lagipula, semalam kami sudah saling memiliki, malam yang sangat indah danmemuaskan, benar begitu kan Andrea?” Christopher melirik penuh arti ke arahAndrea, sengaja membuat suaranya sensual hingga membuat Andrea benar-benarmerona.
Semula Eric tidak percaya akan kata-kata Christopher yangsepertinya sengaja digunakan untuk memprovokasinya, tetapi kemudian lelaki itumelihat ekspresi Andrea yang merah padam dan tidak mampu membantah. Darah Ericbergolak, dia marah luar biasa, kurang ajar! Lelaki itu telah menyentuhAndrea-nya!
“Akan kubunuh kau!” Eric menarik pelatuknya dan sedetikkemudian dengan kecepatan yang luar biasa, Christopher tiba-tiba sudah meloncatdan menerjang Eric. Lalu Christopher berhasil merenggut pistol itu dari tanganEric sebelum lelaki itu sempat menembakkannya, dan melemparkannya jauh di luarjangkauan. Dua lelaki itu bergulat dengan kerasnya. Yang satu menghajar yanglain bergantian.
Sementara Andrea hanya berdiri kaku shock dan tidak bisabergerak melihat perkelahian yang brutal dan panas itu.
Tetapi rupanya, keahlian bela diri Christopher dengan tangankosong memang lebih unggul. Dia mencekal lengan Eric dari belakang, wajah Ericsudah lebam-lebam dan bibirnya berdarah, sementara rambut Christopher yangbiasanya rapi, berantakan dengan sedikit darah di ujung bibirnya.
Andrea menatap ke arah dua laki-laki itu dan membelalakkanmata. Tangan Christopher dengan sangat ahli, memposisikan gerakan berbahaya,mencengkeram leher Eric, tatapan matanya begitu kejam hingga matanya nyarishitam. Lelaki itu memegang leher Eric yang tak berdaya dengan ahli, dia bisa mematahkanleher Eric dalam sekejap dan mencabut nyawanya, sedikit saja gerakan dari Eric,maka nyawanya akan melayang.
“Berani-beraninya kau kemari dan mencoba mengambilperempuanku!” Christopher mendesis marah, “Ucapkan doa terakhirmu karena akuakan membunuhmu.”
Eric memejamkan matanya, tahu bahwa kematian sudah begitudekat dengannya.
Tetapi kemudian terdengar suara tembakan yang begitu kencang.Dan kemudian Eric terlepas dari cengkeraman Christopher.
Eric membuka matanya, bingung, dan kemudian membelalakkanmatanya kaget. Andrea sedang memegang pistolnya yang tadi terlempar, perempuanitu terengah-engah, tatapan matanya ketakutan di cekam teror, dan ketika Ericmenoleh ke belakang, dia melihat Christopher terhuyung ke belakang sambilmemegang dadanya.
Dadanya itu bersimbah darah, membuat wajah Christopher pucatpasi. Lelaki itu bahkan tidak mempedulikan Eric, dia menatap Andrea, yang masihmenodongkan pistol di tangannya, dan ekspresi wajahnya begitu sedih, sedih luarbiasa, hingga membuat siapapun yang melihatnya akan merasa seperti diremasjantungnya.
“Kau.... menembakku Andrea? Sayangku?.....” Kemudian tubuhChristopher rubuh di lantai tak sadarkan diri.
Andrea masih terpana akan apa yang dilakukannya, matanyananar menatap tubuh Christopher yang tergeletak tengkurap di lantai. Tiba-tibasaja air matanya mengalir. Kenapa dia menangis? Andrea mengusap air matanya,bingung. Tadi dia melihat Eric hampir di bunuh dan dengan impulsif dia langsungmengambil pistol yang tergeletak di lantai itu dan menembakkannya ke arahChristopher ..... dia sudah membunuh Christopher?
Eric mendengar suara berderap menuju ruang makan itu, parapengawal Christopher sudah berdatangan, mereka pasti tadi diperintahkan untukmenjauh dan menjaga privasi makan malam Christopher dan Andrea, tetapi sekarangmereka pasti sadar ada yang tidak beres ketika mendengar suara ledakan pistoldi udara.Eric harus membawa Andrea pergi dari sini secepat mungkin sebelum parapengawal Christopher datang!
Dengan sigap, Eric menarik lengan Andrea yang masih terpaku,dia mengambil pistol di genggaman tangan Andrea dan kemudian mencekal lenganAndrea, setengah menyeret perempuan itu,
“Ayo! Kita harus pergi dari sini!”
Andrea mau tak mau mengikuti langkah Eric, kepalanya masihmenoleh ke belakang, ke sosok lelaki berpakaian hitam-hitam yang terbaringtertelungkup tak berdaya.
Apakah Christophermati....?
Angin laut yang dingin menerpa wajah Andrea, ketika Ericmenyeretnya sambil berlari kencang. Para pengawal Christopher tentunya sekarangsudah tahu bahwa ada penyusup dan Andrea melarikan diri. Mereka sedang dikejar!
Eric membawa Andrea melewati semak-semak tinggi di bagianujung pantai berbatu karang, yang jarang dilewati. Sebelum ke pulau ini, Erictelah mempelajari strukturnya dan tahu bahwa bagian di lokasi yang berbatu inikemungkinan besar akan lepas dari pengawasan karena strukturnya tidak memungkinkanuntuk melabuhkan perahu boat.
Tetapi Eric tidak habis akal, dia menambatkan jangkar keciluntuk boatnya yang ditinggalkannya sedikit ke tengah laut, di sudut yang gelap.Lalu dia berenang menuju pulau naik diam-diam ke daratan dalam kegelapan. Caraitu rupanya berhasil membuatnya sampai ke pulau tanpa ketahuan oleh siapapunbahkan hingga lolos bisa memasuki rumah. Sebenarnya Eric sendiri tidakmenyangka dia bisa memasuki pulau itu semudah ini. Tetapi entah kenapa,penjagaan di pulau itu cukup sepi, hanya ada satu atau dia orang di depan.Rupanya lokasi pulau yang cukup terpencil membuat “Sang Pembunuh” lengah danmengendorkan penjagaannya.
Eric menatap ke arah langit yang gelap pekat, dia beruntungkarena hari ini tepat saat malam tidak berbulan, sehingga kesempatan Eric untuktidak ketahuan sangat besar.
Mereka berdua berdiri di tepi pantai, Eric menatap Andreadalam-dalam dengan penuh tekad. Perempuan itu menangis, apakah dia menangisiChristopher?
“Tahan napasmu. Kita akan berenang.” Sebelum Andrea sempatmenjawab, Eric menarik perempuan itu masuk ke air laut, dia berenang dibelakang Andrea, menghela perempuan itu ke arah perahu boat yang sudahmenunggu, lalu menaiki perahu boat itu dan mengangkat Andrea dari lautan naikbersamanya.
Eric memejamkan matanya dan menghela napas panjang. Diamelirik ke arah pulau, ada cahaya senter begitu banyak yang di pancarkan darisana. Para pengawal Christopher sedang mencari mereka ke seluruh bagian pulau.Eric harus membawa Andrea pergi dari sini sebelum mereka menyadarikeberadaannya dan Andrea.
Eric menyalakan mesin perahu boatnya, suara mesinnya tertelanoleh deburan ombak yang kencang. Dia melajukan perahunya memutar arah, menjauhipulau itu.
Lelaki itu melirik Andrea yang meringkuk di sudut perahu dankemudian mengernyitkan keningnya. Dia lalu meraih ponselnya dan meneleponatasannya,
“Aku sudah menyelamatkan Andrea. Dia ada bersamaku sekarang.”Gumamnya cepat.
Atasannya tampak terkesiap di seberang sana,
Apa? Bagaimanabisa? Kapan? Eric! Kau tidak bergeraksendiri tanpa koordinasi bukan?!”
“Itu tidak penting.” Eric mengeraskan suaranya, berusahamengalahkan suara deburan ombak dan perahu boat yang memenuhi udara. Diamelirik dengan cemas ke belakang, ada nyala lampu berkelap-kelip yang mendekatdi kejauhan. Sepertinya ada beberapa perahu boat yang mengejar mereka,jantungnya berdebar, dia harus cepat dan hati-hati, sekarang Andrea sudahbersamanya, Eric akan berusaha sekuat tenaga supaya mereka tidak bisamengejarnya, “Aku akan mendarat di pulau dewata sebentar lagi, siapkan pesawatuntuk membawa kami pulang di landasan yang biasa.”
Tanpa menunggu jawaban atasannya, Eric menutup telepon lalumelajukan perahu boatnya sekencang mungkin.
***

Sharon terlambat datang, dia menyaksikan detik terakhir itu,detik dimana Andrea yang bodoh itu mengacungkan pistolnya ke arah dadaChristopher dan menembaknya. Sharon begitu marah ketika melihat tubuhChristopher rubuh di lantai.
Kekasihnya... lelaki pujaannya, dan perempuan bodoh itumenembaknya begitu saja!
Ketika para pengawal Christopher datang, Sharonmenyembunyikan dirinya di kegelapan, dia tidak boleh ketahuan berada di sini.Tadi dia datang ke pulau ini menumpang perahu salah satu penduduk yang tidaktahu apa-apa dan mengatakan bahwa dia adalah tamu dan kekasih dari Christopher.Penduduk itu biasanya mengambil bahan makanan ke seberang setiap harinya, dandia percaya akan perkataan Sharon mengingat betapa ‘wah’ nya penampilan Sharonwaktu itu.
Sharon melihat Richard memeriksa Christopher, wajahnya tampakmuram, lelaki tua itu lalu memberi isyarat kepada para pengawal untukmengangkat tubuh Christopher yang lunglai. Bekas ceceran darah tertinggal dilantai tempat Christopher terbaring, membuat dada Sharon sakit. Dia bahkantidak bisa menyentuh dan memeluk kekasihnya itu di saat seperti ini.
Air mata mengalir di mata Sharon, air mata kemarahan,kesedihan yang bercampur dendam membara. Dia akan menemukan cara untuk keluardari pulau ini segera, dan dia akan mengejar Andrea.
Andrea harus menerima pembalasan setimpal karena telahmenembak Christopher. Sharon akanmembunuh Andrea!
***

“Kau tidak apa-apa?” Eric membungkus tubuh basah Andreadengan selimut, dia membawa Andrea ke rumahnya. Tubuh Andrea masih gemetardengan tatapan mata kosong, perempuan itu shock.
Setelah mendarat di pulau dewata, Eric membawa Andrea kelandasan milik pemerintah, sebuah tempat rahasia yang digunakan untuk keperluandarurat jika misi mereka mengharuskan mereka melarikan diri dengan cepat.Atasannya ternyata menanggapi dengan cepat laporan Eric, karena sebuah pesaratpribadi berlogo pemerintah sudah menunggu mereka di landasan. Eric membawaAndrea menaiki pesawat itu, dan mereka langsung di bawa pulang. Sepanjangperjalanan, atasannya menelepon, meminta Eric mempertimbangkan untuk membawaAndrea ke lokasi perlindungan yang tersedia, tetapi Eric bersikeras untukmembawa Andrea ke rumahnya. Rumahnya adalah tempat yang paling aman karena Ericpaling mengenal seluk beluk rumahnya, juga setiap titik dalam pengamanannya.Lagipula Eric tidak mau menyembunyikan Andrea. Kalau memang Christophermengejar dan ingin mengambil Andrea, maka mereka harus berhadapan secarajantan. Kalau tidak, dia akan terpaksa membawa Andrea terus menerus dalampelarian. Atasannya akhirnya menyetujui kekeras kepalaan Eric, dengan berathati tentunya, dia lalu mengatakan akan mengirim agen-agennya untuk menyusuldan menjaga rumah Eric.
 Mereka menempuhperjalanan kembali ke kota ini dalam kebisuan. Sekarang sudah hampir satu jamsudah berlalu setelah mereka pulang, dan kondisi Andrea masih tetap sepertiitu. Eric sendiri telah menghubungi anak buahnya, dan mereka telah menerimainstruksi dari atasan langsung Eric untuk segera datang ke rumah Eric danmelakukan penjagaan ketat. Saat ini mereka semua sedang dalam perjalanan.
Andrea menatap ke arah Eric, berusaha memfokuskanpandangannya, tetapi air mata malahan mengalir deras dari matanya, bibirnyabergetar,
“Aku... aku membunuhnya...”
Eric menghela napas panjang, memeluk Andrea dengan lembut,
“Kau menyelamatkan nyawaku sayang, terimakasih ya.”
Tubuh Andrea lunglai dalam pelukan Eric, membiarkan lelakiitu membelai rambutnya. Andrea sendiri merasa begitu bingung akan perasaan yangberkecamuk di benaknya, masih teringat jelas ekspresi wajah Christopher tadisebelum dia rubuh ke lantai. Kesedihannya itu... seakan-akan merenggut jiwaAndrea membuatnya ingin menangis meraung-raung tetapi tidak tahu kenapa...
Ponsel Eric tiba-tiba berbunyi, Eric mengerutkan keningnyadan mengangkatnya,
“Sharon.” Sapanya ketika mengetahui siapa yang meneleponnya.
Eric tidak tahu kalau Sharon sekarang sudah sampai di bandarakota ini, dan sedang menunggu taxi untuk menuju ke tempat tinggal Eric.
“Eric.” Sharon membuat suara secemas mungkin, “Aku mendengardari pak Jimmy atasanku bahwa Romeo sedang bergegas ke pulau Rafael Alexander,ada tamunya yang tertembak, aku cemas sekali Eric, kau kan tahu aku mendugabahwa Andrea ada di pulau itu.. aku cemas kalau Andrea yang tertembak.” Sharonmengarang dan berakting dengan lancarnya, bagaimanapun juga, itu adalahkeahliannya, bahkan supaya lebih meyakinkan, perempuan itu mulai terisak-isak,membuat Eric di seberang kehabisan kata-kata.
Eric mengerutkan keningnya lagi dan berpikir, Sharonsetahunya adalah sahabat Andrea yang paling dekat, dan tentu saja perempuan itusangat mencemaskan Andrea. Eric tidak tega mendengar perempuan itu menangisterisak-isak, mungkin tidak masalah kalau dia memberitahukan keberadaan Andreadi rumahnya, dia bisa meredakan kecemasan Sharon dan mungkin kehadiran Sharonbisa menenangkan Andrea.
“Sharon... aku tidak bisa menjelaskan semuanya secaraterperinci... tetapi Andrea... Andrea sekarang berada di sini di rumahku,bersamaku.”
“Benarkah?” Sharon terpekik, “Biarkan aku bicara dengannyaEric, biarkan aku tahu dia baik-baik saja.”
“Andrea sedang tidak bisa bicara.” Eric melirik ke arahAndrea yang masih meringkuk dan terisak-isak di sofa, “Mungkin kau bisa kerumahku saja?” Eric memberitahukan alamat rumahnya kepada Sharon.
Gotcha! Sharon menyeringai lebar. Jantungnyaberdegup penuh antisipasi ketika taxinya datang, Sharon memberikan alamat rumahEric kepada supir, dan dia duduk dengan tidak sabar menunggu taxi sampai ketujuan.
Tunggulah Andrea,dewi pembalasan akan datang dan membunuhmu!
***

Eric menuangkan secangkir kopi kental hitam dari mesinpembuat kopinya. Aroma harum langsung menguar ke udara, memenuhi ruangan. Diamelirik ke arah Andrea, perempuan itu tadi menangis histeris, kondisinya sangatkebingungan sehingga Eric berpikir dia harus membawa Andrea ke psikiater,kejadian tadi mungkin terlalu mengguncang jiwanya.
Suara mobi terdengar di depan rumahnya, membuat Eric segeramengintip ke luar dengan waspada, dia mendesah ketika melihat Sharon yang turundari taxi itu,
Sebelum Sharon mengetuk pintu, Eric sudah membuka pintunyadan menyambut Sharon.
“Di mana Andrea?” Sharon melongok ke dalam berusaha mencari,Eric memiringkan tubuhnya, membiarkan Sharon masuk,
“Di Sofa, dia tertidur setelah menangis lama.”
Sharon menatap Eric dengan bingung,
“Sebenarnya apa yang terjadi Eric?”
“Aku tidak bisa menjelaskannya kepadamu sekarang.” Ericbergumam tegas, “Aku hanya berharap kau bisa menghibur Andrea.”
“Tentu saja.” Sharon tersenyum, matanya melirik ke arahAndrea yang tidur meringkuk di sofa, dia mengguncang bahu Andrea lembut,
“Andrea...?” Sharon berbisik, memanggil nama Andrea. TubuhAndrea terguncang dan dia menolehkan kepalanya, matanya mengerjap, seolah tidakyakin.
“Sharon?” bisiknya lemah, mengusap matanya
“Ini aku Andrea, kau baik-baik saja?”
Andrea langsung menangis lagi ketika melihat wajah sahabatnyaitu, dia langsung memeluk Sharon,
“Aku membunuh Christopher... aku...” suara Andrea tenggelamdi dalam tangis sementara Sharon memeluknya mencoba menghibur Andrea yanghisteris.
Sementara itu Eric menatap mereka berdua dan mengangkatbahunya,
“Aku akan membuatkan kopi...” gumamnya membalikkan tubuh kearah dapur.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba saja Eric tertegun oleh rasanyeri dan panas yang menembus punggungnya, dia menoleh dan terkejut mendapatiSharon berdiri di belakangnya dengan senyum bengis, tangan Sharon memegangpisau, dan pisau itu sekarang menancap di punggungnya, berlumuran darah. Darahnya!
Eric hendak membuka mulutnya ketika pandangan matanya mulaiberkunang-kunang, masih di dengarnya suara tawa terkikik Sharon.
“Rasakan itu dasar agen bodoh! Berani-beraninya kau mengganguChristopher, kekasihku!!”
Christopher adalahkekasih Sharon?
Eric mengernyit ketika merasakan kesadarannya makin tenggelamakibat rasa sakit yang amat sangat di punggungnya, dia tersengal, berusahamencari pegangan tapi terlambat! Tubuhnya rubuh di karpet, penuh darah. Sharonmembungkuk dan mencabut pisau itu dari punggung Eric, dan mengacung-acungkanpisau yang penuh darah itu kepada Andrea
Andrea yang menatap seluruh adegan itu dari sofa memekikkaget, dia terpaku di tempat duduknya, matanya membelalak menatap Sharon yangmemegang pisau berlumuran darah, dan kemudian berpaling ke tubuh Eric yangsekarang terkulai di karpet.
“Sharon?” Andrea menatap Sharon dan kemudian baru menyadariperbedaan yang ditemukannya di dalam penampilan Sharon itu. Sharonberpenampilan lebih mencolok dan menggoda... benarkah ini Sharon yang sama?
Sharon sendiri menatap Andrea dan tersenyum keji,
“Aku akan membunuhmu Andrea...”
“Sharon?” Andrea bergumam gugup, beringsut dari kursinyaketakutan ketika Sharon melangkah semakin mendekat. “Sharon? Ada apa?’
“Ada apa?” Sharon mulai tertawa, “Seharusnya kau sadarAndrea, bahwa aku tidak pernah benar-benar menjadi temanmu. Aku mau mendekatimuatas perintah Christopher.”
Apa?? Andrea berteriak dalam hati, kesadarannyakembali ketika menerima tatapan membunuh dari Sharon. Jadi selama ini Sharonhanya menyamar? Apakah Christopher yang mengirim Sharon kemari untukmembunuhnya?
“Kau perempuan yang tidak tahu terimakasih, Christopherbegitu baik, begitu tampan dan dia harus terikat padamu, perempuan lemah yangsama sekali tidak berharga.”
“Terikat padaku?” Andrea sama sekali tidak mengerti maksudperkataan Sharon, apakah Sharon mengira Andrea mengikat Christopher karena diaadalah satu-satunya korban yang gagal dibunuh oleh Christopher?
“Kau masih tidak ingat ya.” Sharon tertawa cekikikan, tawayang aneh karena matanya bersinar kejam, “Betapa menyedihkannya kau Andrea, akuberani bertaruh bahwa kau akan menyesal setengah mati kalau kau ingat. Dasarperempuan bodoh, demi membela lelaki yang tak berguna itu kau malahan menembaksuamimu sendiri!”
Menembak suaminya? Tetapi Andrea menembak Christopher... apamaksud Sharon dengan suaminya?
“Ya Perempuan bodoh. Itulah kenapa Christopher tidak bisamelepaskanmu, itulah kenapa Christopher begitu terikat kepadamu. Kau adalahisterinya! Isteri yang tidak tahu terimakasih karena melupakan suaminya begitusaja! Kau tak pantas untuk Christopher, aku akan membunuhmu!”
Dengan gerakan cepat, Sharon menyerbu Andrea, dengan pisauberdarah masih teracung di tangannya. Andrea melompat menghindar, melompatisofa itu sehingga sofa itu jatuh terguling bersamanya, menimpa kepalanya dalambenturan yang cukup keras.
Kepala Andrea berputar-putar benaknya melayang. IsteriChristopher...? Dia isteri Christopher? Bagaimana bisa? Kenangannya kembalikepada makan malam mereka dahulu, ketika melihat cincin emas yang melingkar dijari Christopher...

“Apakah.... apakahkau sudah menikah?” Andrea akhirnya menyuarakan pertanyaan di benaknya, matanyamelirik sekilas lagi ke arah cincin di jemari Christopher.
Christophermengikuti arah pandangan Andrea ke cincinnya dan tersenyum miris,
“Maksudmu cincinini?” Christopher menatap Andrea dalam-dalam, “Dulu aku pernah menikah.”

Dulu aku pernahmenikah... apakah maksudChristoper, dia menikah dengan Andrea? Tetapi kapan? Bagaimana bisa? KenapaAndrea sama sekali tidak mengingatnya?
Tiba-tiba Andrea merasa cairan panas mengalir dari dahinya kematanya, dia mengambil cairan itu dengan jemarinya dan menatapnya. Cairan ituberwarna merah, itu darah... kepalanyaberdarah! Menyadari itu Andrea merasa pandangannya mulai berkunang-kunang,kesadarannya semakin lama semakin hilang...
Sementara itu Sharon berdiri dengan napas terengah, menatapAndrea yang terkulai dengan sebagian tubuh tertindih sofa yang terbalik,
Ini adalah pembunuhan yang mudah. Seharusnya Sharonmelakukannya dari dulu, mengusir pengganggu ini, melenyapkan Andrea dari mukabumi ini, Selamanya!
Tangannya teracung mengambil ancang-ancang untuk menancapkanpisaunya sedalam mungkin ke punggung Andrea yang tak berdaya....
Lalu suara tembakan itu terdengar, langsung menembus punggungSharon tepat masuk ke jantungnya, hingga tubuh perempuan itu tersentak, diamenoleh ke belakang dan membelalakkan matanya kaget, tidak menyangka bahwadirinya akan tertembak
Katrin berdiri di sana, dengan beberapa agen. Dialah yangmenembak Sharon.
“Ka....” Sharon mengenai Katrin sebagai salah satu anak buahChristopher yang disusupkan ke kantor pemerintah tempat Eric berada, dia hendakmenyebut nama Katrin, tetapi lidahnya kelu, sekujur tubuhnya kaku dan matirasa, kesadarannya makin lama-makin hilang.
“Semua sudah selesai, Sharon.” Katrin bergumam, menatapdingin tubuh Sharon yang langsung tumbang dan kehilangan nyawa.
Beberapa agen langsung memeriksa Sharon, memastikan bahwa diabenar-benar mati. Sementara itu Katrin langsung berlari ke arah Eric yang terkulaibersimbah darah di karpet, dia memeriksa nadinya dan memejamkan matanya penuhsyukur, Eric masih hidup, Syukurlah... untunglah Katrin datang tepat waktu.Richard meneleponnya tadi, menginformasikan bahwa Andrea dibawa kabur,Christopher tertembak, dan para pengawal kehilangan jejak di pulau dewata.Beberapa saat setelahnya, atasannya menelepon meminta mereka semua bersiap kerumah Eric untuk melakukan penjagaan karena Eric sudah mendapatkan Andrea.Katrin langsung menghubungi Richard untuk melaporkan perkembangan terbaru itu,lalu dia  bergerak dengan beberapa agen,mendatangi rumah Eric untuk melaksanakan tugas, meskipun dia membawa misipribadinya : Andrea tidak boleh bersama Eric, demi kebaikannya, Andrea haruskembali kepada Christopher.
Sayangnya Katrin melupakan Sharon, wanita psyco yang sudahmenjadi rahasia umum begitu tergila-gila kepada Christopher. Katrin tidakmenyangka Sharon akan senekat itu mengejar Andrea, dan melukai Eric.
Katrin menatap ke arah Eric. Darah Eric sangat banyak, nyawaEric masih terancam karena dia kehilangan banyak darah. Katrin memandangparamedis yang menyusul di belakangnya dan memandang dengan cemas ketika merekamemeriksa Eric, kemudian mengangkut tubuh Eric untuk dibawa ke ambulans,
Katrin menolehkan kepalanya menatap Andrea yang juga pingsandan sedang diperiksa oleh paramedis.
Dia menghela napas panjang. Andrea harus baik-baik saja,karena dia adalah isteri dari tuan Christopher, tuan besarnya.
***

Christopher yang baru saja sadarkan diri, duduk di atas ranjangputih itu, menatap tajam ke arah Richard yang sedang menerima telepon dariKatrin. Richard tampak bercakap-cakap dengan serius, kemudian dia menutupteleponnya dan menatap majikannya,
“Semuanya beres.”
Christopher memejamkan matanya, merasakan kelegaan yang amatsangat membanjiri tubuhnya.
Semalaman dia tidak sadarkan diri karena pistol yang menembusdadanya. Peluru itu hanya beberapa inci dari bagian vital tubuhnya, melesetsedikit saja dan mungkin Christopher tidak akan bisa diselamatkan, sekarangpeluru itu sudah dikeluarkan.
Andrea menembaknyauntuk menyelamatkan Eric. Jantung Christopher terasa berdenyut rasa sedih bercampurcemburu menggelegak dalam jiwanya. Andrea... isterinya yang telah melupakannya sejak kecelakaan itu.
Tidakkah dia tahu betapa Christopher mencintainya? BetapaChristopher rela melakukan segalanya demi perempuan itu?


Novel Dating With The Dark - Santhy Agatha Chapter 14

No comments:

Post a Comment