Saturday, August 15, 2015

Novel Dating With The Dark - Santhy Agatha Chapter 5

Novel Dating with the Dark - Santhy Agatha Chapter 5




“Andrea?” Eric bertanya pelan ketika Andrea tak juga menjawab, menyadarkan Andrea dari keterkejutannya. Dia bahkan sempat menjauhkan teleponnya dari telinganya, menatapnya dengan tidak percaya. Masih diingatnya jelas kata-kata kejam Eric ketika memutuskan telepon waktu itu, bahwa Eric tidak akan kembali dan bahwa dia tidak ingin Andrea menghubunginya lagi. Tetapi kenapa sekarang, lelaki itu berubah pikiran lagi dengan begitu cepat?

Jauh di dasar hatinya Andrea ingin memberikan kesempatan kepada lelaki itu, lelaki yang sempat dia pikir bisa membuatnya membuka hatinya, berbagi perasaan dalam kisah yang romantis. Tetapi perlakuan Eric kepadanya kemudian, yang dengan entengnya menyuruh Andrea menjauh, membuat Andrea ketakutan, ragu untuk memberi kesempatan.

Bagaimana jika nanti ketika Andrea memberi kesempatan, pada suatu waktu lelaki itu tiba-tiba berubah sikap tak jelas lagi dan menyuruh Andrea menjauh? Akan dihancurkan bagaimana lagi hati Andrea?
“Kenapa kau menghubungiku lagi Eric?” Suara Andrea bergetar ketika berusaha berkata-kata, “Bukankah kau sendiri yang bilang supaya aku tidak menghubungimu?” Kepahitan terdengar jelas di sana, manifestasi rasa sakit Andrea karena perlakuan Eric kepadanya.

Tentu saja Eric bisa membaca kepahitan di suara Andrea, dia menghela napas panjang,
“Maafkan aku... waktu itu aku kalut, aku benar-benar terhempas ketika menyadari bahwa kau...”Suara Eric terhenti mendadak, seperti mobil yang direm tiba-tiba hingga menimbulkan suara berdecit keras. Membuat Andrea mengerutkan keningnya,

“Ketika menyadari bahwa aku apa, Eric?”
Hening. Sepertinya Eric kehabisan kata-kata di seberang sana. Lelaki itu mendesah,

“Bukan... aku salah bicara. Mengertilah Andrea, aku hanya sedang kalut waktu itu... aku aku putus asa... tetapi sekarang setelah aku menelaah semuanya, aku sadar bahwa yang kuinginkan hanya satu, aku ingin bersama denganmu.”

Putus asa? Andrea mengerutkan keningnya, kenapa Eric terus-terusan bersikap misterius seperti ini? Entah firasat Andrea benar atau tidak, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan lelaki ini.

“Andrea... apakah kau mau memberiku kesempatan lagi? Setidaknya untuk menjelaskan?” Eric bergumam ketika tidak ada tanggapan dari Andrea.

Andrea merenung, lama, kemudian dia menghela napas panjang.
“Aku tidak tahu Eric, akan kupikirkan nanti.” Lalu Andrea memutus teleponnya tanpa menanti jawaban dari Eric, dan tiba-tiba merasa bersalah karena ada sebuah kepuasan kecil karena telah sedikit membalas sikap kasar yang dilakukan Eric ketika menutup teleponnya waktu itu.
Hanya jeda sedetik setelah Andrea memutus telepon, telepon itu berbunyi lagi. Andrea bahkan tidak melihat nomornya, dia langsung menjawabnya dengan jengkel.
“Sudah kubilang aku akan memikirkannya dulu! Jangan paksa aku memberikan jawaban sekarang.....”
Hening sejenak, lalu suara itu terdengar.
“Andrea?” Ada nada geli dari suara di seberang itu.
Andrea terperangah, mengenali suara yang dalam dan maskulin itu, dia menarik ponselnya dari telinga, dan melihat nomor yang berbeda di sana.
“Oh.. maafkan aku.. aku kira kau orang lain.” Jawab Andrea kemudian dengan rasa malu.
Christopher terkekeh di seberang sana, “Siapa? Mantan pacar yang ingin kembali?” tebaknya, masih dengan nada geli yang terselip di sana.
Pipi Andrea merah padam mendengar tebakan Christopher yang hampir tepat itu, dia berdehem untuk membuat suaranya terdengar meyakinkan.
“Itu bukan masalah.” Dia mengelak, “Mantelmu sudah selesai di laundry.”
“Terimakasih.” Lelaki itu menjawab cepat dengan sopan.
Andrea mengerutkan keningnya gugup, bingung harus berkata apa, “Apakah... apakah kau ingin aku mengantarkannya? Atau kau akan mengambilnya?”
“Aku akan mengambilnya.”jawab lelaki itu tenang.
Tiba-tiba Andrea merasa curiga, “Kau sudah tahu alamat rumahku, ya.” Lelaki itu bisa mengetahui nomor ponselnya tanpa dia memberitahunya, tidak menutup kemungkinan Christopher juga sudah tahu alamat rumahnya.
Christopher terkekeh, “Sudah kubilang aku punya banyak koneksi.”
Andrea mau tak mau tersenyum mendengar nada pongah dalam suara lelaki itu. Ini adalah jenis lelaki yang selalu mendapatkan apa yang dia mau. Andrea harus berhati-hati, Christopher Agnelli terlalu mempesona, dan Andrea tidak mau dengan mudahnya jatuh ke dalam pesona laki-laki, tanpa tahu apa yang dihadapinya. Sudah cukup dia bertindak bodoh dengan terlalu berharap kepada Eric kemarin. Andrea tidak akan mengulanginya lagi, karena bahkan keledai yang selalu dipandang sebagai mahluk yang dungu pun, tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
“Jadi bagaimana caraku mengembalikan mantel ini?” tanya Andrea kemudian.
Christopher tampak berpikir, “Aku tidak akan berkunjung ke rumahmu. Itu mungkin akan terasa tidak nyaman bagimu karena aku tahu kau perempuan yang tinggal sendirian, dan kau tidak terlalu mengenalku. Bagaimana kalau kita makan malam bersama?” Lelaki itu menyebut nama sebuah restoran mewah di pinggiran kota.
Andrea tercenung, meragu, apakah ini ajakan kencan? Ataukah hanya perlakukan sopan biasa? Apa yang harus dia lakukan?
“Hanya makan malam formal untuk menghormati pertemanan kita.” Christopher bergumam di sana, seolah mengerti keraguan Andrea, “Kuharap kau mau menerima undanganku. Anggap saja itu sebagai uang sewa mantelku.”
Candaan lelaki itu berhasil membuat Andrea tersenyum, “Baiklah, aku mau.” Mungkin ini memang kesempatan Andrea untuk bersantai dan berusaha melupakan Eric.
“Besok, kujemput jam tujuh malam. Terimakasih Andrea.” Dengan sopan Christopher menutup teleponnya.
***

Andrea sedang mengerjakan koreksian untuk klausul kontrak penting ketika dia melihat dari ujung matanya bahwa Romeo menghampirinya,
“Sibuk Andrea?” lelaki itu menyapa santai.
Andrea mendongakkan kepalanya, dan mendesah dalam hati. Meskipun sudah melihat Romeo berkali-kali, tetap saja dia terkesiap ketika menatap langsung ke mata biru yang indah itu. Lelaki ini terlalu tampan dan berbahaya, mahluk seperti ini seharusnya tidak dibiarkan berkeliaran dan memangsa gadis-gadis yang tidak berdaya.
“Saya mengerjakan pekerjaan seperti biasa.” Andrea mengernyitkan kening ketika menyadari bahwa Romeo seperti ingin menanyakan sesuatu, “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
Romeo menganggukkan kepalanya, “Setiap melihatmu, aku selalu berpikir kau sangat mirip seseorang...tetapi aku belum bisa menemukan kau mirip siapa.”
“Mungkin hanya kemiripan biasa, katanya di seluruh dunia ini kita punya sembilan kembaran dengan wajah yang sama.” Andrea tersenyum, mengamati Romeo yang tampak sangat penasaran.
Romeo menghela napas panjang, “Betul juga. Tetapi tetap saja mengganjal di benakku.” Dia mengerutkan keningnya, “Aku akan mencari tahu nanti.”
Lalu lelaki itu menganggukkan kepalanya dan melangkah pergi sementara Andrea hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menatap punggung Romeo yang berlalu.
***

“Sungguh aku iri padamu.” Sharon mengacung-acungkan sosis goreng yang di pegangnya ke arah Andrea, “Kau di sapa oleh Mr. Romeo, kau diajak makan malam oleh lelaki tampan yang menyelamatkanmu, hmmmm …seakan Tuhan menyediakan banyak penyembuh dari patah hatimu.” Sharon mengerutkan keningnya, “Aku bahkan belum punya pengganti dari patah hati terakhirku, sudah satu tahun sejak aku putus dengan pacar terakhirku dan bahkan tidak ada satu lelakipun yang mendekatiku.”
Andrea terkekeh, “ Romeo menyapaku bukan karena tertarik padaku, tapi karena dia merasa aku mirip dengan seseorang tetapi dia tidak bisa mengingatnya, dia terus-terusan mengatakan itu kepadaku.”
“Wah.” Sharon mengangkat alisnya, “Sepertinya dia penasaran.”
“Ya dia bilang itu mengganjal benaknya dan dia akan mencari tahu.” Andrea bertopang dagu, “Menurutmu aku mirip salah satu orang yang dikenalnya?”
“Aku dulu menebak kau mirip mantan pacarnya, tapi setelah dipikir-pikir, Romeo Marcus memang berganti pacar seperti berganti dasi, tidak ada yang membekas di benaknya, jadi seharusnya dia tidak merasa ada yang mengganjal di hatinya ketika dia tidak bisa mengingat siapa orang yang mirip denganmu.” Sharon memasukkan sosis goreng ke mulutnya dan mengunyahnya dengan bersemangat, “Mungkin kau mirip salah satu keluarganya, mungkin neneknya, atau bibinya.”
“Neneknya?” Andra membelalakkan matanya, menatap Sharon pura-pura tersinggung, membuat Sharon tertawa terkikik.
***

Mereka berjalan menyusuri pertokoan itu, Andrea dan Sharon memutuskan untuk ke pusat perbelanjaan dan membeli sebuah gaun. Karena Andrea tidak punya gaun untuk makan malamnya dengan Christopher nanti malam. Gaun terbagusnya menyimpan kenangan tidak menyenangkan, karena gaun itulah yang Andrea pakai untuk makan malam bersama Eric, makan malam pertama yang menyenangkan, yang membuat Andrea terpesona kepada Eric. Andrea tidak mau mengenakan gaun itu lagi, dan kemudian terkungkung dalam kesedihan dan kekecewaan.
Sharon mengusulkan agar mereka mampir ke pusat perbelanjaan sepulang kerja, untuk memilih gaun yang sederhana tetapi elegan, dan Andrea menyetujuinya, mengingat selain gaun satu-satunya yang tidak mau di pakainya itu, di lemarinya hanya ada kemeja formal untuk bekerja dan rok kantoran, serta berbagai macam t-shirt santai dan celana jeans.
“Bagaimana kalau gaun kuning itu?” Sharon menunjuk ke arah gaun berwarna kuning cerah yang dipajang di etalase.
Andrea melirik dan mengerutkan keningnya, “Entahlah, itu tampak terlalu cerah untuk dipakai makan malam.... dan warnanya kurasa mengingatkanku pada tweety.” Tweety adalah tokoh kartun berupa burung kecil berwarna kuning cerah.
Sharon tertawa, “Seharusnya kau lebih berani, pilihlah warna-warna cerah dan lupakan warna-warna gelap yang penakut itu.” Matanya menoleh ke barisan gaun-gaun di etalase, kemudian dia menunjuk lagi, “Yang itu?”
Kali ini pilihan Sharon tidak salah, mata Andrea membelalak terpesona pada gaun itu. Sebuah gaun sederhana, satu potongan, dengan kerah berbentuk V dan aksen lipatan sederhana tapi elegan yang membungkus bagian dadanya. Bagian bawahnya melebar dan jatuh dengan indahnya sampai ke mata kaki, warna gaun itu lebih tepat disebut dengan warna magenta..... tampak amat sangat indah tergantung di sana.
“Mudah-mudahan harganya tidak mahal.” Andrea melirik jam tangannya, sudah jam setengah enam sore. Andrea berharap harga gaun itu cocok dan dia bisa membelinya lalu pulang untuk bersiap-siap. Christopher bilang akan menjemputnya jam tujuh malam.
“Ayo kita tanyakan.” Sharon mendahului Andrea memasuki butik itu.
Ternyata Andrea beruntung, gaun itu didiskon dengan harga yang cukup bagi dompetnya. Andrea mencoba gaun itu dan terpana melihat betapa cocoknya gaun itu dengan dirinya. Kulit Andrea yang indah dengan warna zaitun keemasan tampak berpadu dengan warna gaun itu.
Sharon bahkan menatap Andrea dengan tatapan kagum dan penuh pujian.
“Siapapun yang makan malam denganmu, dia akan tergila-gila, kau sangat cantik Andrea.”
Pipi Andrea memerah, “Ini hanya makan malam formal, aku tidak bermaksud membuat siapapun tergila-gila.”
Sharon terkekeh, “Yah siapa tahu, kadang kita tidak pernah menduga hati kita akan terkait kepada siapa bukan? Kuharap Eric melihat penampilanmu saat ini, dia akan menyesal pastinya.”
Eric. Hati Andrea terasa pedih ketika nama itu disebut, lelaki itu belum menghubunginya lagi, mungkin dia sedang memberi waktu Andrea untuk berpikir. Tetapi Andrea masih merasa sakit hati untuk memikirkan akan bertemu dengan Eric lagi, dia menggelengkan kepalanya untuk membuang pikiran tentang Eric di benaknya, kemudian menghela napas panjang,
“Ayo kita bayar gaun ini.” Gumamnya penuh semangat, menatap dirinya sendiri di cermin.
***

“Ini jas anda tuan.” Richard, pelayan pribadi Christopher yang berwajah datar menghamparkan jas Christopher di ranjang.
Christopher yang baru keluar dari kamar mandi menganggukkan kepalanya, lelaki itu sudah memakai celana jas dan kemeja warna hitam. Penampilannya luar biasa bahkan sebelum dia mengenakan setelan jas-nya.
Richard mengamati Christopher dan bergumam, “Saya harap malam ini sukses.”
Christopher tersenyum miris, “Aku harap juga begitu.”
Nona Andrea pasti akan terpesona kepada majikannya ini. Richard tidak sabar menunggu waktu dimana Christopher akan mengambil nona Andrea, dia berpikir bahwa majikannya ini sudah menunggu terlalu lama.
“Apakah anda akan mengambilnya sekarang?”
Christopher yang sedang mengancingkan manset kemejanya dan meraih jasnya menoleh dan menatap Richard sambil mengangkat alisnya,
“Apa maksudmu?”
Richard berdehem, “Nona Andrea.”
Mata Christopher berkilat, “Aku akan mengambilnya saat dirasa sudah perlu, Richard.”
“Saya takut anda akan terlambat.” Gumam Richard hati-hati.
Christopher terkekeh dan menggelengkan kepalanya, “Aku tidak akan terlambat, percayalah Richard, aku tidak akan lengah sedikitpun.”
Kemudian lelaki itu melangkah keluar, meninggalkan Richard yang menatap punggung majikannya itu berlalu. Richard merasa cemas. Sangat cemas, karena ini menyangkut Andrea, perempuan satu-satunya yang membuat majikannya gagal melaksanakan tugasnya. Andrea benar-benar membuat Christopher mempertaruhkan reputasinya. Dan menurut Richard, Christopher harus segera mengambil Andrea sebelum terlambat.
***

Hampir jam tujuh malam ketika Andrea memasang gelang emas dengan hiasan kristal itu di pergelangan tangannya. Gelang itu ada di kotak perhiasannya dan Andrea tidak ingat kapan dia membelinya, gelang itu ada begitu saja di sana, hingga Andrea berpikir itu adalah salah satu benda warisan peninggalan ibunya yang telah meninggal yang disimpan ayahnya.
Andrea menatap dirinya sendiri di cermin dan menghela napas panjang. Tiba-tiba dia merasa sangat gugup. Aura Christopher mampu membuatnya begitu gugup dan salah tingkah, bahkan hanya dengan membayangkannya.
Christopher lelaki yang berbahaya tentu saja, Andrea mengerutkan keningnya, menyadari bahwa lelaki itu bekerja sebagai pengawal Mr. Demiris yang banyak musuhnya. Tentu saja pekerjaan Christopher juga berbahaya.
Dia pasti pandai berkelahi. Andrea menarik kesimpulan. Teringat akan sikap kejam Christopher ketika mengancam gerombolan berandalan yang mengganggu Andrea waktu itu. Kalau saja waktu itu pemimpin gerombolan dan seluruh anggotanya itu memutuskan untuk menantang, mungkin Christopher akan mampu menghadapi mereka semua seorang diri.
Lelaki itu bukan lelaki yang biasa-biasa saja seperti lelaki impiannya. Andrea menginginkan kisah romantis yang biasa-biasa saja, dengan lelaki biasa, pekerja kantoran seperti dirinya. Lalu mereka akan menikah dan hidup berumah tangga seperti orang kebanyakan. Sesederhana itulah mimpi Andrea.
Suara bel di pintu mengalihkan lamunan Andrea tentang Christopher, dia  menghela napas panjang sekali lagi untuk menenangkan dirinya, lalu melangkah ke arah pintu, mengintip dari lubang intip di atas pintunya dan membuka pintu itu ketika melihat bahwa Christopherlah yang berdiri di sana.
Christopher berdiri di sana dengan setelan jas malam yang sangat maskulin, dengan rambut yang disisir rapi ke belakang, penampilannya malam ini luar biasa. Membuat Andrea terpana.
Sementara itu, Christopher sendiri tampak kagum akan penampilan Andrea,
“Cantik.” Bisiknya serak, penuh rahasia. Lelaki itu lalu mengedikkan bahunya ke arah mobil hitam yang sudah menunggu di tepi jalan, “Mari kita berangkat.”
“Tunggu sebentar.” Andrea berbalik dan mengambil mantel Christopher yang sudah disiapkannya, lelaki itu tidak berkata apa-apa, hanya menerimanya sambil mengangkat alis, lalu mengehelanya menuju ke mobil.
***

Restoran itu sangat indah dan bergaya, membuat Andrea merenung, mau tak mau pikirannya melayang kepada Eric, waktu mereka makan malam dulu, Eric juga membawanya ke sebuah restoran yang indah. Andrea tidak menyangka bahwa hanya dalam beberapa waktu, ada dua lelaki menawan yang mengajaknya makan malam. Meskipun lelaki yang satu sudah menyakiti hatinya, dan lelaki yang ini terlalu berbahaya untuk diharapkan.
“Apakah kau senang dengan suasananya?” Christopher yang duduk di depan Andrea tersenyum samar, mereka memesan makanan pembuka dan duduk menunggu, alunan biola terdengar samar-samar dari sudut, menambah syahdunya suasana.
“Senang sekali. Terimakasih.” Andrea menatap mata gelap Christopher dan tiba-tiba merasa tenggelam di dalamnya. Ada sesuatu di sana, sebuah pesan yang tak tersampaikan, seolah-olah menunggu Andrea menyadarinya.
Makan malam benar-benar berlangsung formal seperti yang dikatakan oleh Christopher. Lelaki itu lebih banyak diam hanya mengatakan hal-hal penting, dan kemudian menikmati makanannya. Andrea sendiri tidak keberatan, suasana restoran ini begitu indahnya dan dia senang memandang sekeliling sambil menikmati alunan musik yang indah.
“Apakah kau memiliki orang istimewa sekarang ini?”
Christopher bertanya tiba-tiba membuat Andrea yang sedang menyuapkan makanannya tertegun.
“Orang istimewa?” Andrea bergumam seperti orang bodoh meskipun dia tahu persis apa maksudChristopher.
Lelaki itu tersenyum, ada sedikit sinar di matanya,
“Ya, Orang istimewa, kau tahu, semacam kekasih atau calon suami mungkin?”
Andrea tertawa, “Mungkin dalam beberapa waktu yang lalu, tetapi tidak untuk saat ini.”
“Maksudmu?”
Mata Andrea tampak sedih, dia menimbang-nimbang, ragu apakah harus berbagi kepada lelaki yang satu ini, bagaimanapun juga dia tidak terlalu mengenal Christopher bukan?
“Aku hanya sedang patah hati.” Akhirnya Andrea bergumam, dengan makna tersirat, tidak mau menjelaskan lebih.
Christopher sepertinya mengerti, lelaki itu tidak mengejar lagi,
“Dia pria yang bodoh.” Gumamnya tenang, lalu menyesap anggurnya.
Andrea hanya menganggukkan kepalanya samar, mencoba menghindari pembicaraan tentang Eric di meja ini. Tetapi kemudian tanpa sengaja matanya menatap ke arah cincin emas polos yang mencolok di jari manis Christopher. Entah kenapa dia melewatkannya, padahal cincin itu sangat mencolok melingkari jemari Christopher yang begitu maskulin.
Dan entah kenapa pemikiran bahwa cincin itu berarti Christopher sudah termiliki oleh seseorang membuatnya sedikit merasakan perasaan sesak di dadanya,
“Apakah.... apakah kau sudah menikah?” Andrea akhirnya menyuarakan pertanyaan di benaknya, matanya melirik sekilas lagi ke arah cincin di jemari Christopher.
Christopher mengikuti arah pandangan Andrea ke cincinnya dan tersenyum miris,
“Maksudmu cincin ini?” Christopher menatap Andrea dalam-dalam, “Dulu aku pernah menikah.”
Dulu’ dan ‘pernah’. Andrea mencatat dalam hati. Apakah itu berarti dia sudah tidak menikah lagi sekarang, mungkin sudah bercerai... atau isterinya meninggal dunia?
Christopher sepertinya melihat rasa penasaran di mata Andrea, dia terkekeh,
“Aku tidak mau membahasnya di sini, sama seperti kau yang tidak mau membahas tentang patah hatimu.” Gumamnya tenang, “Yang pasti aku bisa menjamin bahwa tidak akan ada yang terlukai atau patah hati ataupun pelanggaran aturan ketika aku makan malam denganmu saat ini.”
Mungkin isterinya meninggal dunia, dan lelaki ini masih sangat mencintainya. Jadi untuk mengenangnya dia masih mengenakan cincin pernikahan itu.
Andrea merasa kagum, kalau benar itu yang terjadi, Andrea benar-benar kagum akan cinta Christopher yang ditujukan kepada isterinya itu.
“Dia pasti perempuan yang beruntung.” Andrea bergumam  pelan tersenyum ketika Christopher membalas senyumannya,
“Yah begitulah.” Mata Christopher meredup, “Dulu aku juga lelaki yang beruntung.”
Dulu’. Sekali lagi Andrea mencatat pemilihan kata yang menunjukkan waktu masa lampau itu dalam kalimat Christopher.
Lelaki ini adalah lelaki yang masih mencintai sosok yang telah tiada, masih berjuang mengobati hati, gumamnya menarik kesimpulan. Well, mungkin makan malam mereka berdua bisa menjadi selingan pengobat hati bagi mereka. Andrea tak menampik, dia sangat menikmati makan malam ini. Dan dia sangat bersyukur bahwa dia menerima ajakan makan malam dari Christopher.
***

“Terimakasih atas makan malam yang sangat menyenangkan.” Andrea bergumam penuh rasa terimakasih yang tulus ketika lelaki itu mengantarkannya sampai ke teras rumahnya.
Christopher hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata. Matanya menatap dalam, membuat Andrea merasa gugup.
“Kalau begitu ... aku masuk dulu.” Andrea membalikkan tubuhnya setelah menganggukkan kepala salah tingkah.
“Andrea.” Christopher tiba-tiba memanggilnya, jemarinya yang kuat memegang pergelangan tangan Andrea dan sedikit menariknya, membuat Andrea menolehkan kepalanya,
“Apa.....”
Suara Andrea terhenti ketika Christopher tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan menariknya ke dalam pelukannya. Sebelah jemari Christopher yang bebas menarik kepala Andrea sehingga tertengadah, dan seketika itu juga, bibirnya melumat bibir Andrea dengan penuh gairah.
Andrea terkesiap, tak percaya akan diperlakukan seintim itu. Ini benar-benar hal yang tidak diduganya... apalagi Christopher bersikap begitu formal dan sopan sepanjang acara makan malam mereka.
Bibir Christopher terasa keras sekaligus hangat, melumerkan bibinya, Andrea merasakan gelenyar kecil yang menjalarinya setiap Christopher mencecap bibirnya dan menikmatinya. Salah satu lengan Andrea masih ada di dalam genggaman Christopher, lengan itu sekarang lunglai tak berdaya, pasrah dalam pesona gairah Christopher.
Kemudian lidah lelaki itu tiba-tiba menelusup dengan berani memasuki mulut Andrea, mencicipinya pelan-pelan, tetapi kemudian menelusuri seluruh mulutnya tanpa ampun, seakan lelaki itu benar-benar ingin menikmati setiap rasa bibir dan mulut Andrea.
Ciuman itu luar biasa intimnya karena mereka melakukannya dengan mulut terbuka. Dan Andrea..... sejauh yang bisa diingatnya, dia tidak pernah merasakan sedekat ini dengan lelaki manapun sebelumnya, tetapi entah kenapa, dalam pelukan dan lumatan Christopher, dia merasa.... pas. Rasanya seperti pulang ke rumah, rumah yang sudah lama tak pernah dikunjunginya, tetapi selalu dirindukannya, jauh di dalam hatinya.
Lama kemudian, Christopher melepaskan ciumannya, tatapannya berkilat penuh gairah, berapi-api melahap seluruh diri Andrea,
“Aku merasakannya sejak aku melihatmu.” Bisiknya dengan suara serak. ”Gairah yang meluap dan tak terhankan, membuatku lupa diri.” Matanya menelusuri bibir Andrea yang terasa panas akibat ciumannya yang membara, jemarinya menelusuri lengan Andrea dengan sensual. “Aku menginginkanmu Andrea, dan aku akan memilikimu.”
Sejenak Andrea terpaku. Klaim dominan lelaki itu yang diucapkan dengan begitu angkuh, bagaikan air es yang mengguyur kepalanya. Lelaki ini sepertinya hanya menganggapnya sebagai piala. Dia hanya terlarik kepada Andrea secara fisik, tanpa hati. Seharusnya Andrea menyadarinya sejak awal! Hanya itulah yang diincar oleh sebagaian besar laki-laki!
Dengan tatapan marah, Andrea membalas tatapan Christopher, mendongakkan dagunya tak kalah angkuh dan bergumam keras kepala.
“Kau tidak akan mendapatkanku Christopher kalau memang hanya kebutuhan fisik yang kau inginkan. Aku bukan perempuan murahan!” Seolah ingin melampiaskan kemarahannya, Andrea mengusap bibirnya bekas ciuman Christopher dengan punggung tangannya. Lalu dia membalikkan badannya dan masuk ke rumah, menutup pintunya dengan kasar, tepat di depan wajah Christopher.
Suara yang kemudian didengarnya, adalah suara tawa tertahan Christopher yang makin menjauh. Sialan! Lelaki itu menertawakannya! Apakah dia menganggap ketersinggungan Andrea atas sikap arogannya sebagai lelucon?
***

“Kenapa kau tidak mau menceritakan tentang kencanmu?” Sharon terus menerus berusaha membujuk Andrea untuk menceritakan kencannya dengan Christopher semalam. Tetapi Andrea menolak untuk bersuara, bayangan akan ciuman Christopher dan kemudian klaim angkuh lelaki itu sesudahnya terasa sangat mengganggunya. Dia ingin melupakan semua itu, sungguh.
Tetapi semalam dia tidur dengan tubuh terasa panas, setiap teringat akan ciuman Christopher... bagaimana lelaki itu melumat bibirnya, bagaimana lidahnya...
Astaga. Andrea mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Sepertinya dia telah berubah menjadi perempuan mesum, hanya dengan satu kali ciuman.
Lelaki itu benar-benar berbahaya, Andrea seharusnya sudah tahu dari awal, dan dia bermain api karena mencoba. Tetapi itu semua karena Christopher menyebarkan daya tarik yang tidak bisa Andrea tolak, membuat Andrea seperti ngengat yang tertarik pada cahaya lilin, dan kemudian tanpa sadar membakar dirinya sendiri sampai hangus.
“Andrea.” Sharon mulai merajuk, “Ayolah, cerita padaku, kau tahu bukan aku sangat penasaran. Apakah kencannya sukses? Apakah dia merayumu?”
Andrea menghela napas panjang, menyerah untuk memberikan jawabannya kepada Sharon.
“Kencannya menyenangkan, kami makan malam di sebuah restoran mewah... makanannya enak. Kemudian ketika dia mengantarkanku pulang, dia menciumku setelah kami mengucapkan selamat tinggal di teras.”
“Dia menciummu?” Sharon berteriak begitu kencang, hingga beberapa orang yang berada di ruangan itu menoleh, membuat pipi Andrea memerah karena malu.
“Jangan keras-keras.” Andrea berbisik malu, “Ya dia menciumku.”
“Berarti dia memang merayumu!” Ada kilat aneh di mata Sharon, tetapi kemudian ekspresi Sharon berubah girang, “Wow Andrea kau sangat beruntung, dari ceritamu, Christopher sangat tampan dan dia menciummu! Itu berarti dia mungkin punya perasaan lebih kepadamu.”
Andrea menggelengkan kepalanya, berusaha memadamkan antusiasme Sharon.
“Tidak. Dia mungkin menyukaiku, tetapi bukan menyangkut perasaan. Dia hanya menyukaiku secara seksual, hanya fisik belaka.”
Sharon menatap Andrea seolah Andrea aneh, “Bukankah itu bagus? Banyak pasangan bahagia yang dimulai dari ketertarikan fisik.”
“Tetapi dia arogan, dia bilang dia menginginkanku, dan dia akan memilikiku.” Sela Andrea berusaha menjelaskan kemarahannya kepada Christopher.
“Wow.” Reaksi Sharon benar-benar di luar harapannya, “Luar biasa, benar-benar lelaki impian, aku memimpikan ada lelaki yang mengucapkan hal seperti itu padaku, dengan dominan. Pasti akan terdengar seksi dan menggetarkan.”
“Itu sama saja merendahkan perempuan.” Andrea mencibir, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat cara pandang Sharon, “Aku tidak mau memberi kesempatan pada lelaki yang menganggap perempuan hanya sebagai piala dan pemuas nafsu.”
Ya. Andrea sudah memutuskan. Tidak ada kesempatan untuk Christopher. Meski hatinya bergetar karena lelaki itu, bukan berarti dia akan tunduk di bawah kekuasaannya seperti perempuan dimabuk cinta yang murahan.
***

Ketika Andrea sampai di depan rumahnya, dia tertegun karena menemukan Eric berdiri di sana. Mereka bertatapan. Dan meskipun kemarahan serta kekecewaan masih memenuhi benak Andrea, dia menahankannya. Matanya menelusuri lelaki itu dan menyimpulkan bahwa Eric tampak lebih kurus.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Andrea bergumam datar, kesakitan masih tercermin di matanya. Hatinya masih terluka dan berusaha menyembuhkan diri, Andrea tidak siap ketika harus menghadapi Eric secara langsung seperti ini….
  



Novel Dating with the Dark - Santhy Agatha Chapter 6


1 comment:

  1. Very good article! We will be linking to this great
    content on our site. Keep up the good writing.

    Feel free to visit my page - 오피사이트

    ReplyDelete