Saturday, August 15, 2015

Novel Dating With The Dark - Santhy Agatha Chapter 4



Chapter 4


Kau amat sangat mengingatkanku kepada seseorang.” Kalimat Romeo itu menggantung di udara, membuatAndrea mengerutkan keningnya.
Apakah maksud Romeo dia mirip seseorang yang dikenaloleh  Romeo?
“Mungkin itu hanya kebetulan.” Andrea menjawab, mencoba memberikansenyuman profesional meskipun dia gugup setengah mati.
Romeo mengamati Andrea lagi, lalu mengangkat bahunya, “Mungkin juga.”Gumamnya. Lalu menganggukkan kepalanya dengan sopan dan melangkah pergi.
Sementara itu Andrea menatap Romeo sampai menghilang di balik pintu, dantersenyum senang. Sharon pasti akan histeris kalau tahu bahwa Romeo menyapanya.
***

Dan benar. Sharon berteriak histeris ketika Andrea menceritakan sapaanRomeo yang terakhir tadi.
“Dia menyapamu? Dia benar-benar menyapamu?” Sharon berucap dengan nadatinggi, hingga Andrea harus menyenggolnya karena semua orang di kantin itumenolehkan kepalanya kepada mereka.
“Dia bilang aku amat sangat mengingatkannya kepada seseorang. “ Andreamerenung sambil menopang dagu, “Dan dia menekankan kepada kata ‘amat sangat’,bukan hanya biasa-biasa saja.”
“Mungkin kau mirip dengan mantan pacarnya.” Sharon mulai berimajinasi,“Mungkin dia kemudian memutuskan mendekatimu, dan dalam waktu enam bulan Romeodi sini kau bisa mengambil hatinya, bayangkan seorang staff biasa bisa merengkuh hati orang dengan jabatan paling tinggidi perusahaan, itu seperti kisah cinderella.”
“Dan kisah cinderella semacam itu kebanyakan sangat jarang  terjadi.” Sela Andrea cepat.
“Siapa bilang?” Sharon tersenyum penuh arti, “Sangat jarang belum tentutidak terjadi bukan? Apakah kau tahu siapakah Serena Marcuss, ibu dari Romeodan isteri dari Damian Marcuss? Dia dulu staffbiasa di perusahaan Damian, dan kemudian dia bisa menjadi isteri DamianMarcuss.”
“Dari kisah yang aku dengar, Damian Marcuss sangat mencintai isterinya,dia yang dulu seorang playboy langsung bertekuk lutut.” Andrea tersenyum, diaselalu senang membahas kisah percintaan bos mereka yang ada di kantor pusat,karena menurutnya kisah cinta itu luar biasa indahnya. Perkawinan merekaterbukti bertahan dengan kokoh dan menghasilkan dua anak yang luar biasa, Romeosalah satunya.
“Nah... mungin saja Romeo akan mengikuti jejak ayahnya, mencintaiperempuan biasa-biasa saja, alih-alih menikahi pacar-pacarnya yang model dandari kalangan jetset itu. Mungkinsaja kita bisa menjadi Serena berikutnya.”
“Jangan bermimpi.” Andrea tersenyum, “Romeo Marcuss luar biasatampannya, hingga hampir mendekati malaikat, hanya perempuan luar biasa yangbisa menjadi pasangannya.” Andrea memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan daripembahasan mereka tentang Romeo, karena kalau dibiarkan, Sharon yang antusiastidak akan berhenti, “Aku akan menelepon Eric.”
“Oh ya ampun, jadi belum kau lakukan?”
Andrea menghela napas panjang, “Belum. Tadi aku sibuk.” Andrea berkelit,membuat Sharon mencibir.
“Lakukan sekarang, sebelum kau berubah pikiran.” Perempuan itu laluberdiri, “Aku akan kembali ke ruangan, pak Jim sedang uring-uringan, bisa-bisaaku disemprot kalau tidak kembali ke kantor tepat waktu.”
Andrea mengangguk tetapi setelah Sharon berlalupun, dia masih menekuriponselnya dan memandanganya ragu.
Andrea merindukan Eric... dan jauh di dasar hatinya ada rasa sakitkarena menyadari bahwa Eric tidak merasa perlu untuk menghubunginya. Bukankahkalau dia ada di benak Eric, lelaki itu akan menghubunginya dan memberi kabar?
Haruskah dia menelepon Eric duluan?
Andrea menghela napas panjang, kemudian jemarinya memijit nomor ponselEric, nomor yang amat sangat dihapalnya karena beberapa kali dia mencobamenelepon tetapi kemudian menahan dirinya.
***

“Halo?” Suara Eric diseberang sana menohok kerinduan Andrea, “Andrea?”lanjut Eric ketika melihat nomor peneleponnya.
Andrea tanpa sadar menganggukkan kepalanya meskipun Eric tidak bisamelihatnya, “Ya ini aku. Kau.. kau lama tidak ada kabar, aku mencemaskanmu,bagaimana keadaanmu Eric?”
Hening agak lama, seakan Eric kehabisan kata-kata untuk menjawab.
“Aku baik-baik saja.” Suara Eric tertelan dalam dan tampak sedih,membuat Andrea cemas.
“Apakah saudaramu baik-baik saja? Bagaimana kondisinya?”
“Saudara?” dari nada suaranya, Andrea menduga Eric sedang mengernyitkankening di sana.
“Saudaramu... yang katanya sakit dan sedang kau tengok itu?” tanyaAndrea pelan, mencoba mengingatkan Eric, lelaki itu entah kenapa nada suaranyaterdengar enggan dan tidak fokus, apakah telepon Andrea mengganggunya?
“Oh itu...” Eric menghela napas panjang, “Saudaraku baik-baik saja.”
“Jadi dia sudah sembuh, syukurlah.” Andrea ikut-ikutan menarik napaspanjang, lega. “Jadi kapan kamu pulang?” jawaban atas pertanyaan itu amatsangat diinginkan oleh Andrea, dia ingin Eric pulang... dia merindukan lelakiitu. Kebersamaan mereka selama beberapa lama itu telah mengisi kekosongan dalamhidup Andrea dan dia menginginkannya kembali.
Tetapi sepertinya jawaban Eric tidak sesuai dengan keinginannya karenalagi-lagi, Eric memilih tidak menjawab dan menciptakan suasana hening di antaramereka.
“Eric?” Andrea memanggil, memastikan bahwa sambungan telepon merekabaik-baik saja.
Lagi. Terdengar Eric menghela napas panjang, lalu lelaki itu menjawab,sebuah jawaban yang menyambar Andrea dengan menyakitkan, bagaikan sambaranpetir yang tiba-tiba menyerangnya,
“Aku tidak akan kembali Andrea, tolong jangan menghubungiku lagi.”
Lalu telepon diputuskan. Lama Andrea termenung dengan ponsel ditelinganya, menyisakan bunyi tut..tut.. tut yang konstan, yang bahkan tidak disadarinya.
Aku tidak akan kembali, tolong jangan menghubungikulagi.... Aku tidak akan kembali tolong jangan menghubungiku lagi.... Aku tidakakan kembali...
Jawaban Eric itu terngiang-ngiang di benaknya, dan ketika akhirnyaAndrea bisa menerima maksudnya, bibir Andrea bergetar dan matanya berkaca-kaca.
Apakah ini maksudnya Eric telah mencampakkannya? Mungkinkah kedekatanmereka selama ini tidak ada artinya bagi Eric? Mungkinkah Andrea yang terlalumemiliki mimpi romantis tentang Eric?
Tak dapat ditahankannya, air mata mengalir di pipi Andrea, diameletakkan ponsel itu dan menggigit bibirnya.
Mungkin memang kisah cinta romantis bukanlah hal yang akan dialaminya.Mungkin Andrea akan selalu berakhir sendirian... tanpa siapapun yangmencintainya.
Andrea menggelengkkan kepalanya dan mengusap airmatanya. Disingkirkannyaseluruh pikiran yang menghancurkan hatinya itu. Tidak! Andrea tidak boleh menangis. Kalau memang bagi Eric diatidak berarti, Andrea tidak akan membuang-buang air matanya untuk lelaki itu!
***

“Kenapa kau lakukan itu?” atasannya bergumam, mengamati Eric yangmenutup pembicaraan dengan kasar. “Kau akan melukai hatinya.”
“Itu lebih baik.” Eric meringis, “Kurasa strategiku untuk mendekatinyasalah, aku lebih baik mengawasinya dari kejauhan.” Gumam Eric, menghela napaspanjang lalu duduk merosot di kursinya, di depan meja kerja atasannya.
Atasannya, yang selama ini selalu menjadi lawan bicaranya ditelepon-telepon misteriusnya mengangkat sebelah alisnya,
“Kau bilang dulu, itu adalah salah satu cara yang efektif....menjadiorang yang paling dekat dengannya akan membuatmu lebih mudah dengannya, tentusaja dengan catatan bahwa kau bersikap profesional dan tidak melibatkanperasaanmu.” Tatapan sang atasan berubah spekulatif, “Apakah kau telahmelanggar peraturan itu?”
Eric meremas rambutnya gusar, “Aku merasa aku mencintainya. Aku merasaakan ada harapan untuk kami, nanti ketika semua permasalahan sudahdibereskan.... tetapi berkas-berkas yang kau serahkan ini...” Eric mengernyitkepada berkas-berkas yang dihamparkan atasannya di mejanya. Atasannyamemanggilnya kemari karena berkas-berkas ini, hasil penyelidikan mereka yangterakhir dan mengungkap sesuatu yang sama sekali tidak terduga sebelumnya.
“Berkas-berkas ini merubah segalanya?” atasannya melanjutkan, menatapEric dengan menyesal, “Maafkan aku harus menghamparkan ini dihadapanmu.”
Eric menghela napas panjang, tampak kesakitan, “Tak apa... setidaknyaaku bisa mundur sebelum melangkah lebih jauh. Dan setidaknya, kita tahu artidari simbol sembilan lilin berwarna biru itu.” Sambil berusaha melupakan rasasakit hatinya, Eric memajukan tubuhnya dan menatap atasannya dengan serius,“Jadi seluruh rencana kita harus dirubah, sang pembunuh bagaimanapun juga akanmuncul.”
“Ya. Aku yakin dia akan mengambil Andrea pada akhirnya. Dan Andrea tidakboleh diambil, tidak sampai kita memastikan tentang dugaan kita. Tugasmu adalahselalu siap sampai saat itu terjadi, jangan sampai lengah.”
Eric tercenung. Dia tidak akan lengah. Meskipun sekarang hatinya terasasakit, sakit luar biasa, bahkan hanya dengan membayangkan Andrea dia merasadadanya diremas-remas menyakitkan. Eric bersumpah akan menyembuhkan hatinya itudan menjalankan  tugasnya tanpa perasaanlagi.
***

“Dia memang mengundurkan diri kemarin.” Sharon yang kebetulan bisamengakses data karyawan membelalakkan mata tak percaya dengan data yang ditemukannyadi komputernya. Andrea barusan menemuinya, dengan mata sembab meskipun tidakmenangis lagi. Dan dari cerita Andrea, hanya ada satu hal, Eric mencampakkanAndrea setelah memberinya harapan, dan itu adalah satu hal paling taktermaafkan yang pernah dilakukan laki-laki kepada seorang perempuan.
Andrea mengamati layar komputer Sharon, dan melihat nama Eric di sana.Mengundurkan diri dari kantor kemarin, dan efektif per tanggal satu.
Jadi itu maksudnya bahwa Eric tidak akan kembali? Bahwa lelaki itumeninggalkannya begitu saja, tanpa penjelasan?
“Kenapa dia melakukan ini kepadaku, Sharon?” suara Andrea bergetar,membuat Sharon mendengus karena sahabatnya dilukai.
“Karena dia lelaki bodoh dan pengecut.” Sharon bergumam ketus, “Janganhabiskan airmata dan hatimu untuk memikirkannya Andrea, hanya akan membuatmusakit.”
Andrea menghela napas panjang. Mudah memang untuk dikatakan, tetapibahkan sampai beberapa jam lalu, Andrea masih tersenyum ketika mengenangkebersamaannya dengan Eric, dan sekarang dia dihadapkan dengan kenyataan yangbisa dibilang amat sangat menghancurkan hatinya. Andrea bahkan tidakhenti-hentinya bertanya-tanya kenapa Eric melakukan itu kepadanya...
***

Romeo tampaknya akan menerima kedatangan tamu penting mereka, DemirisParedesh di ruangannya. Kabar itu berhembus karena sejak pagi tadi di kantorterjadi kesibukan, banyak orang lalu lalang menyiapkan segala sesuatunya.
Yah. Andrea masih teringat lelaki tua itu, yang membawa serentetanpengawal pribadi berpakaian sama dengan wajah datar yang sama seperti robot.Kontrak dengan Demiris adalah kontrak yang paling sukses yang pernah dilakukanoleh cabang mereka, karena itulah kehadiran Demiris di kantor ini untuk menemuiRomeo sangatlah penting.
Mr. Hendrick, atasan langsung Andrea sendiri tampak begitu sibuk. Andreamelihat tubuh gempal lelaki bule itu mondar-mandir di dalam ruangannya,kadangkala sibuk menelepon seseorang, kadangkala tampak mencari-cari berkas.Sampai kemudian, lelaki itu keluar dari ruangannya,
“Andrea?” Lelaki itu memanggil, membuat Andrea seketika berdiri,
“Ya Sir?” karena bos-nya orangbule, Andrea selalu memanggilnya dengan ‘Sir’sebagai ganti dari kata ‘pak’.
“Kemari sebentar.”
Sambil merapikan roknya, Andrea melangkah dan memasuki ruangan Mr.Hendrick. Lelaki itu sudah duduk di balik mejanya dan mempersilahkan dudukketika Andrea berdiri di ambang pintu.
“Duduklah.” Mr. Hendrick masih tampak sibuk melihat berkas-berkasnya,lalu ketika Andrea sudah duduk dia menautkan jemarinya dan menopangkannya didagunya, “Kita kedatangan tamu penting hari ini...”
Andrea menganggukkan kepalanya, menunggu kelanjutan dari kalimat  Mr.Hendrick yang menggantung. Meskipun orangbule, Mr. Hendrick sangat fasih berbahasa indonesia karena dia telah tinggal diIndonesia lebih dari sepuluh tahun lamanya.
“Dan kau dulu yang bertugas menemui Mr. Demiris untuk penandatanganankontrak, jadi aku pikir aku akan membawamu menghadiri meeting penting nantisiang.”
Dia? Ikut ke meeting penting direksi?
“Baik Sir.” Andreamenganggukkan kepalanya gugup. Sementara itu Mr. Hendrick tampak puas,
“Oke kalau begitu, siapkan berkas-berkas yang berhubungan dengan kontrakkerjasama kita dengan Mr. Demiris, kita ke ruang meeting di lantai atas nanti jam dua siang.”
Andrea sekali lagi mengangguk patuh, lalu berdiri dan berpamitan,melangkah kembali keluar ruangan. Beberapa langkah sebelum mencapai pintu, Mr.Hendrick kembali memanggilnya, kali ini suaranya terdengar ragu-ragu,
“Andrea?”
Andrea menolehkan kepalanya dan membalikkan tubuhnya, “Ada apa Sir?
Atasannya itu menatapnya ingin tahu, “Apakah kau mengenal Mr. Demirissebelumnya? Atau kau ada koneksi dengannya?”
Andrea mengernyitkan keningnya, pertanyaan apa itu? Dia langsungmenggelengkan kepalanya,
“Tidak Sir, saya belum pernahbertemu dan mengenal Mr. Demiris sama sekali sebelum penandatanganan kontrakitu.”
Mr. Hendrick mengerutkan keningnya, membuat Andrea bingung, tetapi lalulelaki itu mengibaskan tangannya, “Oke kalau begitu, pergilah.”
Dan Andreapun melangkah pergi, meninggalkan ruangan lelaki itu.
Sepeninggal Andrea, Mr. Hendrick masih merenung bertanya-tanya dalambenaknya. Andrea tidak mengenal Mr. Demiris sebelumnya dan tampaknya memangtidak ada sesuatupun yang bisa membuat mereka terkoneksi.... tetapi masihdiingatnya dengan jelas waktu itu, Mr. Demiris jelas-jelas meminta secaraspesifik bahwa Andrea sendirianlah yang harus dikirimkan untuk penandatanganankontrak di cafe itu... itubenar-benar permintaan yang sangat aneh, tetapi mereka menurutinya karenaperjanjian dengan Mr. Demiris amat sangat penting. Dan sekarang, melalui pesankhususnya, Mr. Demiris mengatakan menginginkan Andrea hadir di dalam meeting mereka nanti...kenapa?
Mr. Hendrick merenung, berusaha memecahkan misteri itu, tetapi tetapsaja dia tidak menemukan jawabannya.
***

Mereka berkumpul di sekeliling meja meetingyang sangat besar itu, menunggu kedatangan Mr. Demiris yang sedang disambutoleh Romeo di lobby. Andrea duduk di sebelah Mr. Hendrick dan bertanya-tanya,apakah Mr. Demiris yang eksentrik itu akan datang membawa sepasukan pengawalnyalagi? Sama seperti ketika di cafe waktu itu?
Pertanyaan Andrea langsung terjawab ketika pintu itu terbuka dan Romeomasuk bersama Mr. Demiris. Dan... seperti yang dibayangkan oleh Andrea,beberapa pengawalnya, kali ini hanya sekitar delapan orang, tidak sebanyakketika di pertemuan cafe waktu itu, dengan pakaian yang sama persis danekspresi datar yang sama, masuk dan mengikuti di belakangnya.
Semua anggota meeting itusaling melempar pandangan kaget karena lelaki itu membawa begitu banyak pengawal,sementara Andrea mengamati roman muka Romeo yang tampak setengah geli.
Romeo dan Demiris akhirnya duduk di kepala meja,
“Senang kita semua bisa berkumpul di sini, jadi mari kita mulai meetingnya.” Romeo membuka meeting hari ini dan mulailah pembahasanke hal-hal yang teknis menyangkut keputusan strategis perusahaan. Andrea semulabisa mengikuti, tapi lama-lama pembahasan berada di luar hal-hal yangdikuasainya dalam pekerjaannya sebagai staff,dia mencuri-curi pandang ke arah Mr.Demiris, tetapi lelaki itu bersikap seolahtidak mengenalinya. Dalam hatinya Andrea merasa cemas kalau-kalau Mr. Hendrickmenganggap bahwa kehadirannya di ruang meetingadalah hal yang sia-sia.
Andrea mencoba berkonsentrasi mengikuti pembicaraan tingkat tinggi itu,tetapi kemudian dia merasa dirinya sedang diawasi. Salah satu pengawal itu mengawasinya!
Andrea memberanikan diri untuk menatap ke arah pengawal Mr. Demiris, danseketika dia terkesiap, untunglah dia berhasil menahan diri tepat padawaktunya.
Salah satu pengawal Mr. Demiris itu adalah penolong misteriusnya dimalam itu.....
Andrea membelalakkan matanya mengamati lelaki itu, dan lelaki iturupanya juga mengenali Andrea, seulas senyum muncul di bibirnya, dan diamengedipkan matanya... mengedipkanmatanya!
Sekarang di tempat terang Andrea bisa mengamati lelaki itu sepenuhnya,dan ternyata meskipun sama-sama berwajah dingin seperti pengawal yang lainnya,penolong misteriusnya tampak berbeda, dia begitu tampan dengan rambutnya yangdibiarkan menyentuh kerah, dan mata cokelatnya yang gelap. Wajahnya begituklasik seperti lukisan dewa-dewa Yunani di masa dulu....
Lelaki itu tersenyum, menyadari sepenuhnya kalau Andrea mengamatinya danmengagumi ketampanannya, dia menganggukkan kepalanya kepada Andrea dan tatapanmatanya seperti sebuah janji. Andrea tiba-tiba teringat kalau mantel lelaki itumasih ada di rumahnya. Dalam hatinya dia berjanji kalau dia akan menanyakannama lelaki itu nanti dan bagaimana cara menghubunginya, karena dia harusmengembalikan mantel lelaki itu.
Sambil melempar senyum gugup, Andrea membalas anggukan kepala lelakiitu, lalu mengalihkan pandangan, berusaha berkonsentrasi kepada pembahasan meeting yang sedang berlangsung itu.Tetapi kali ini rasanya luar biasa sulitnya, karena dia menyadari ada mata yangsedang mengawasinya tanpa malu-malu, mata penolong misteriusnya itu.
Meeting itu terasa begitu lama, hingga akhirnya Romeo menutup pembahasan.Mereka sudah menentukan langkah strategis untuk proyek berikutnya dan akanmelaksanakan trial di lapangan dulusebelum memutuskan sistem mana yang dianggap paling baik.
Romeo bersalaman dengan Mr. Demiris, lalu lelaki itu mengucapkan salamdan berpamitan kepada semuanya. Dan kemudian lelaki itu pergi diikuti olehpengawal-pengawalnya.
Andrea panik. Dia harus mengejar penolong misteriusnya itu, tetapi saatini Mr. Hendrick atasannya belum juga beranjak pergi, dia masih membahasbeberapa masalah dengan Romeo, amat sangat tidak sopan kalau Andrea berdiriduluan. Tetapi kalau Andrea tidak segera pergi dia akan kehilangan jejakpenolong misteriusnya itu.
Lama Andrea menunggu, tetapi Mr. Hendrick tidak juga beranjak berdiri.Akhirnya Andrea nekat,
“Mr. Hendrick.” Jantungnya berdebar karena menyela percakapan atasannyadengan pemimpin tertinggi mereka. “Saya...eh...saya perlu ke belakang.”
Mr. Hendrick menganggukkan kepalanya, sementara Andrea merasa Romeomengawasinya dengan tatapan mata tajam.
“Oke Andrea, kau boleh sekalian kembali ke ruanganmu, terimakasih ataskehadiranmu.”
Seketika itu juga, sambil berpamitan tergesa, Andrea pergi danmeninggalkan ruangan meeting itu, tentu saja dia tidak kembali ke ruangannya,melainkan menuju lift dan cepat-cepat menuju lobby, berharap rombongan Mr.Demiris belum pergi dari kantor itu.
Ketika sampai di lobby, dada Andrea langsung dipenuhi kekecewaan ketikamenyadari suasana lobby yang lengang, rombongan Mr. Demiris sudah tidak ada.
“Mencari siapa Andrea?” Tina, resepsionis kantor yang ramah itumenyapanya. Kebetulan Andrea mengenal Tina karena mereka sering satu bus dalamperjalanan pulang.
Andrea menatap keluar kantor dengan gugup, “Apakah rombongan Mr. Demirissudah pergi?”
Tina menganggukkan kepalanya, “Mereka baru saja pergi.” Senyumnya tampaktakjub, “Aku bertanya-tanya apakah Mr. Demiris itu punya begitu banyak musuksampai-sampai dia merasa perlu untuk membawa pengawal sebanyak itu.”
Tina masih berkata-kata selanjutnya, tetapi Andrea sudah tidakmendengarkannya lagi, batinnya dipenuhi dengan kekecewaan... Rombongan Mr.Demiris sudah pergi... dan penolong misteriusnya juga sudah pergi. Andreamungkin membutuhkan keajaiban untuk bisa bertemu dengan lelaki itu lagi... ataumungkinkah lelaki itu akan menghubunginya nanti? Toh dia sudah tahu kalauAndrea bekerja di kantor ini bukan? Andrea mencoba menghibur dirinya, tetapitetap saja kesadaran bahwa begitu kecil kemungkinan untuk mengenal penolongmisteriusnya membuatnya merasa kecewa. Setelah bergumam kepada Tina bahwa diaakan kembali ke ruangannya, Andrea berjalan lunglai ke arah lift.
“Kuharap kau kemari untuk mengejarku.” Suara lelaki itu membuat Andreahampir terlompat kaget. Dia memekik dan menolehkan kepalanya, dan langsungmenatap penolong misteriusnya, entah sudah berapa lama lelaki itu berdiri disana.
Lelaki itu sangat tinggi, seperti yang diingat oleh Andrea, dan lebihtampan ketika dilihat dari dekat. Tiba-tiba pipi Andrea memerah, dia tidak tahusudah berapa lama lelaki itu berdiri di sana, pasti dia melihat kalau Andreamengejarnya dengan panik tadi.
“Ya... aku...aku mencarimu, mantelmu...” napas Andrea tiba-tiba terengahentah kenapa, “Mantelmu masih ada di aku.”
Lelaki itu terkekeh, kemudian mengulurkan tangannya.
“Betapa tidak sopannya aku karena tidak mengenalkan diri waktu itu, akuChistoper Agnelli.”
Itu nama Italia. Andrea pernah mendengar salah satu keluarga pentingitalia yang terkenal dengan nama itu. Apakah Christopher salah satu diantaranya, ataukah kesamaan nama itu hanyalah kebetulan saja?
“Andrea.” Andrea membalas uluran tangan Christopher dan kemudianmerasakan lelaki itu meremas jemarinya dengan lembut, baru kemudianmelepaskannya.
“Sungguh perjumpaan yang tidak disangka, butuh waktu lama untukmeyakinkan diri bahwa kau adalah perempuan yang kutolong waktu itu. Bagaimanakeadaanmu?, kuharap perjalanan pulangmu waktu itu lancar.” Christopherberbohong dengan lancarnya sementara matanya melahap keseluruhan diri Andreadengan penuh minat. Untungnya dia berhasil menyembunyikan tatapannya itudibalik ekspresi wajah datar dan tak terbaca.
“Iya... aku sungguh-sungguh tak menyangka.” Andrea melepas senyumnya,tiba-tiba merasa takjub akan kebetulan itu, “Aku sangka aku tidak akan pernahbertemu denganmu lagi.”
Christopher membalas senyumnya dengan senyuman tipis dan tak terbaca,“Kurasa kita akan sering bertemu nantinya, Andrea.” Lalu lelaki itu melirik jamtangannya, “Aku harus pergi.”
“Eh?” Andrea menatap Christopher yang sudah setengah membalikkantubuhnya dengan bingung, “Tapi... tapi aku tidak tahu cara menghubungimu, akuharus mengembalikan mantelmu.”
Lelaki itu menatap Andrea dengan tatapan misterius, “Aku yang akanmenghubungimu nanti.”
“Tapi aku belum memberimu nomor kontakku?”
Wajah lelaki itu sebelum membalikkan tubuhnya tampak penuh rahasia,
“Tenang saja, aku punya banyak koneksi. Sementara itu, usahakan janganlagi menunggu kendaraan umum sendirian malam-malam.”
Dan kemudian lelaki itu melangkah pergi keluar lobby, masuk ke dalam mobil hitam legam yang sudah menunggunya disana.
Sementara itu Andrea masih berdiri di sana, menatap hingga mobil ituhilang dari pandangan.
***

“Jadi kau ditolong oleh salah satu pengawal Mr. Demiris? Sungguhkebetulan yang menyenangkan. Apakah dia tampan?” Sharon langsung bertanyasambil mengunyah kentang gorengnya. Mereka memutuskan untun menonton filmsepulang kerja tadi karena Sharon ingin mendengarkan seluruh cerita tentangRomeo yang tampan, tetapi kemudian Andrea mengalihkan pembicaraannya dan mulaimembahas tentang Christopher Agnelli.
“Dia sangat tampan, dan menyimpan aura misterius.” Andrea menghela napaspanjang, “Aku bersyukur lelaki itu kebetulan berada di sana waktu itu.Gerombolan berandal itu, sangat menakutkan, bahkan pemimpinnya sempatmencengkeram pergelangan tanganku dengan kasar, menimbulkan memar sesudahnya.”Andrea menunjukkan bekas memar yang sudah memudar itu.
Sharon ikut begidik membayangkan apa yang dialami oleh Andrea,“Besok-besok kalau kau sedang lembur pulang malam, telepon aku, dengan senanghati aku akan menemanimu, toh tidak ada yang bisa kulakukan di apartemenkusendirian.”
Sharon memang tinggal sendirian di kota ini, dalam sebuah apartemen, diasepertinya kesepian karena katanya kedua orangtua dan seluruh keluarganyaberada jauh di luar pulau, Andrea sendiri adalah sahabatnya yang paling dekat,dan karena Andrea juga sebatang kara di dunia ini, mereka sering melewatkan waktubersama-sama.
“Yah, dan aku belum mengembalikan mantelnya, tetapi dia bilang akanmenghubungiku nanti.” Andrea melamun, mengingat adegannya tadi siang denganChristopher, sang penolong misteriusnya.
Sharon langsung terkekeh, “Jangan-jangan mantel itu dijadikannya alasanuntuk mengubungimu dan mengenalmu lebih dekat.”
Andrea menggelengkan kepalanya, “Itu tidak mungkin. Lagipula lelakiseperti dia tidak akan melirikku.”
“Kau terlalu memandang rendah dirimu sendiri, kau itu cantik Andrea,hanya saja kau tidak pernah menyadarinya.”
“Tetapi sepertinya tidak ada minat lebih darinya untukku, kurasa diahanya menginginkan mantelnya kembali.” Andrea menghela napas panjang, “Lagipulaaku tidak tertarik dengan lelaki manapun setelah kejadian dengan Eric.”
Sharon langsung menatap prihatin akan wajah Andrea yang muram, dia ikutmenghela napas panjang,
“Aku ikut menyesal tentang Eric, tetapi lelaki seperti dia yangmembuangmu begitu saja tanpa penjelasan tidak pantas dipikirkan, Andrea, kauhanya akan membuang-buang waktumu.”
Andrea menganggukkan kepalanya, “Aku mencoba kuat, tetapi sepertinyatidak semudah itu.” Mata Andrea tampak sedih ketika kesakitan yangditahankannya itu seolah menekan dadanya, “Tetapi aku akan berusaha. Apa yangdilakukan Eric kepadaku sangat kejam. Dan dia memang tidak layak untukdipikirkan.”
Bicara memang mudah. Andrea membatin dalam hatinya. Tetapi jauh di dalamjiwanya, masih menangis pedih. Pedih karena Eric menghancurkan hatinya begitusaja setelah melambungkannya sedemikian tingginya.”
***

Andrea pulang ke rumah mungilnya dan langsung melangkah menuju dapur.Dia menatap mantel hitam milik Christopher yang tergantung rapi di sana, dekatmesin cuci, tadi dia sudah menitip untuk mengirimkan mantel itu ke laundry kepada tukang bersih-bersih rumahnyayang datang berkunjung secara rutin seminggu sekali.
Rupanya mantel itu sudah selesai dilaundrydan sekarang tergantung dengan manis di sana. Andrea mendekatinya dan entahkenapa dia tidak bisa menahan diri untuk menelusurkan jarinya ke mantel itu.
Sayangnya proses laundry telahmenghilangkan aroma kayu-kayuan dan musk yang melingkupi mantel itu. Bergantidengan aroma pengharum pakaian dengan nuansabunga-bungaan.
Lalu seperti sudah diatur waktunya, ponsel Andrea berbunyi, diamengernyit ketika mendapati nomor asing di sana. Andrea biasanya tidak pernahmengangkat nomor asing yang meneleponnya, tetapi dia mengingat kalauChristopher mengatakan akan menghubunginya. Andrea tidak tahu apa yang terjadidengan dirinya, dia masih patah hati karena perlakukan Eric kepadanya, tetapiChristopher bagaimanapun juga seperti menebarkan aura magnet yang memaksapikiran Andrea tertuju kepadanya. Apakah itu memang karena Andrea tertarikkepada Christopher sejak lelaki itu menyelamatkannya, ataukah hanya karena pelariannyaakan sakit hatinya kepada Eric, Andrea tidak tahu.
Dengan penuh antisipasi Andrea mengangkat ponselnya, “Halo?”
“Andrea?” itu suara Eric, “Maafkan aku. Aku harap kau masih mau bertemudenganku, aku ingin menjelaskan semuanya.”
Jemari Andrea  yang  memegang ponselnya gemetaran.
Eric!Kenapa Eric menghubunginya lagi?




Novel Dating With The Dark - Santhy Agatha Chapter 5

1 comment:

  1. Hi there mates, how is all, and what you would like to say concerning this
    article, in my view its truly awesome in favor of me.

    Look at my web-site; 대구오피

    ReplyDelete