Saturday, August 15, 2015

Novel Dating With The Dark - Santhy Agatha Chapter 11

Novel Dating With The Dark - Santhy Agatha Chapter 11


Chapter 11
“Kenapa kau menggangguku, Sharon?” Christopher menatap marah ke arah Sharon yang sekarang berdiri di depannya, masih berpenampilan seksi, kali ini berpakaian serba hitam, rok mini hitam yang pendek dan atasan ketat senada. Perempuan ini bebas keluar masuk rumah Christopher karena seluruh penjaga mengira dia adalah orang kepercayaan Christopher. Tetapi mulai saat ini Christopher memutuskan bahwa Sharon hanya boleh masuk tanpa seizinnya, perempuan ini telah berani melanggar teritorial pribadinya dan mengganggunya.
Sharon sendiri menatap Christopher dengan tatapan mata merayu, dia tidak peduli dengan kegusaran di mata Christopher. Ketika dia datang tadi, salah seorang pengawal mengatakan bahwa Christopher sedang berada di kamar tempat dia menyekap Andrea. Perasaan cemburu langsung membakarnya, membuat kepalanya panas dan hampir gila ketika membayangkan apa yang dilakukan Christopher berduaan saja dengan Andrea di kamar.
Dia tidak boleh membiarkan mereka berdua berasyik masyuk di dalam kamar! Dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Christopher adalah miliknya dan Andrea harus menyingkir jauh-jauh. Dan kalau rencananya berhasil, sebentar lagi Andrea akan terpisah jauh dari Christopher.
“Aku tidak ingin kau bersama perempuan itu di dalam.” Sharon memajukan dagunya berani, “Kenapa kau menyibukkan dirimu dengannya Christopher, dia perempuan tidak tahu terimakasih, seharusnya kau membunuhnya saja. Tidakkah kau lebih memilih bersamaku? Aku akan memberikan segalanya untukmu, Christopher.”
Christopher langsung meradang melihat betapa tidak tahu dirinya Sharon. Dia menatap Sharon dengan pandangan jijik, memundurkan tubuhnya seolah perempuan itu adalah wabah,
“Aku tidak pernah punya pikiran sedikitpun untuk membuang waktuku bersamamu, Sharon. Seharusnya kau sadar ketika aku mengungkapkan hal itu dengan halus, tetapi rupanya isyarat halus tidak berguna bagimu dan aku harus memperlakukanmu dengan lebih kasar, maafkan aku harus mengatakan ini, tetapi kau harus berhenti bersikap menjijikkan dan menggangguku.”
Kata-kata kasar Christopher langsung membuat Sharon pucat pasi, dia membelalakkan mata, luka yang dalam tampak di sana, tetapi kemudian Sharon berhasil menguasai diri, dia malahan mendekati Christopher dan menyentuh lengan lelaki itu dengan menggoda,
“Christopher, jangan menipu dirimu seperti ini, aku tahu beberapa kali kau melirik bagian tubuhku yang seksi ini, aku tahu kau seorang lelaki yang penuh gairah, dan mengingat sekian lama kau tidak melakukannya, kau butuh pelampiasan, dan aku ada disini, sangat bersedia menjadi pelampiasanmu.”
Christopher menepiskan jemari Sharon dari lengannya, dan ketika perempuan itu terus mendekatkan tubuhnya, Christopher mencekal dagu Sharon dan merentangkan tangannya, mendorong perempuan itu menjauh serentangan tangan dengan jarinya masih mencengkeram dagu Sharon,
“Aku bukanlah hewan...” desis Christopher, “Yang melakukan seks hanya untuk melampiaskan birahinya. Dan meskipun aku sedang bergairah....” tatapan Christopher menelusuri tubuh Sharon dengan melecehkan, “Kau sudah jelas bukanlah perempuan yang kubayangkan untuk memuaskannya.”
Dengan kasar Christopher melepaskan dagu Sharon dan melangkah mundur, tatapannya penuh ancaman.
“Menjauhlah Sharon, sebelum aku melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal karena menggangguku.” Christopher tidak main-main dengan perkataannya, dia akan membunuh Sharon kalau itu diperlukan. Dan kemudian, setelah melemparkan pandangan jijik sekali lagi kepada Sharon, Christopher membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.
***

Sharon mengelus dagunya yang memerah karena cengkeraman Christopher dengan marah, matanya membara karena sakit hati, dan benaknya dipenuhi kebencian kepada Andrea. Christopher telah menolaknya dengan kasar, tetapi Sharon tidak akan menyerah, dia yakin bahwa di dalam lubuk hatinya Christopher tertarik kepadanya, lelaki itu hanya sedang teralihkan perhatiannya karena kehadiran Andrea.
Andrea....
Dengan penuh kebencian, Sharon menatap ke arah pintu besar yang terkunci, tempat Andrea terkurung di dalamnya. Andrea adalah pengganggu. Satu-satunya halangan bagi Sharon untuk memiliki Christopher. Dan Andrea harus dilenyapkan!
***

“Saya mulai kuatir dengan keberadaan nona Sharon yang terlalu dekat.” Richard melirik ke arah layar-layar monitor yang menampilkan gambar-gambar dari kamera pengawas di rumah besar ini. Di salah satu layar tampak gambar di mana Sharon masih berdiri dengan seluruh tubuh menegang di depan pintu kamar Christopher, menatap penuh kebencian ke arah sana.
Christopher juga menatap ke arah layar itu dan mengedikkan bahunya,
“Aku sudah berusaha menyadarkannya bahwa obsesinya kepadaku adalah harapan yang sia-sia, tetapi rupanya dia terlalu bebal untuk menerima kenyataan.”
Richard menganggukkan kepalanya dan menatap tuannya cemas, “Dia bisa membahayakan seluruh rencana.”
“Maka suruh orang untuk mengawasinya, jangan sampai dia berencana sesuatu yang tidak kita ketahui.”
Richard menatap setuju, “Saya akan mengawasinya, saya berfirasat bahwa dia mempunyai rencana tidak baik.”
Kemudian, di tengah keheningan yang tercipta di antara Christopher dan Richard, suara telepon di meja itu berbunyi. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui nomor telepon itu, dan hanya berita pentinglah yang boleh di sampaikan melalui telepon itu.
“Ya.” Christopher menjawab telepon itu dengan singkat dan waspada.
“Tuan Christopher.”
Itu suara Katrin, salah satu anak buah Christopher, ahli menyamar dan memang sudah disiapkan sejak dini untuk menyusup ke agen pemerintah. Tidak pernah ada yang bisa menduga, bahwa Katrin adalah agen ganda, dan perempuan inilah yang menjadi kunci penting langkah Christopher sehingga bisa lebih maju daripada Eric.
“Apakah saluran yang kau pakai aman?” Christopher masih waspada.
“Aman, Tuan.” Suara Katrin merendah, “Saya rasa tuan harus bergerak sekarang, Eric malam ini mengadakan rapat koordinasi mendadak dengan semua agen, saya rasa dia telah mendapatkan petunjuk yang menghubungkan Mr. Demiris dengan Andrea, dia memerintahkan pengawasan atas semua properti yang disewa atas nama Mr. Demiris, yang saya tahu, tempat anda sekarang masuk di dalam list yang Eric bicarakan.”
Christopher mengernyitkan keningnya. Kenapa Eric bisa menghubungkan semuanya secepat itu? Dia pikir lelaki itu akan membutuhkan waktu lama untuk menghubungkan benang merahnya. Entah ini semua karena Eric tidak sebodoh yang Christopher pikirkan, atau karena ada pengkhianat di lingkup dalam Christopher... mata Christopher menyipit, mungkin saja firasat Richard benar, bahwa Sharon benar-benar telah melakukan sesuatu yang buruk.
“Ok. Siap. Terimakasih Katrin.” Lalu dia menutup teleponnya dan menatap Richard yang masih di sana, menatapnya ingin tahu.
“Keadaan darurat, jalankan rencana pembersihan.” Gumam Christopher tenang, yang ditanggapi dengan anggukan kepala Richard.
***

Di seberang sana, setelah menutup telepon, Katrin menghela napas panjang dan menatap ke arah ke kantor tempat Eric mengadakan rapat penting bersama semua agennya, dia tadi pamit dengan segera untuk meninggalkan meeting. Tidak ada satu agenpun yang curiga karena dia pergi keluar mendadak di tengah meeting, malahan semua agen tampak mencemaskannya dan menyuruhnya pulang dengan segera. Katrin memang telah menggunakan kepandaian beraktingnya untuk berpura-pura sakit dan izin meninggalkan meeting itu di tengah-tengah – di saat yang dia perkirakan sudah cukup untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Rupanya aktingnya berhasil, Katrin tersenyum mengingat ekspresi cemas di wajah teman-teman agennya, dan terutama di wajah Eric. Katrin senang Eric mencemaskannya.
Ketika Eric memulai rapat rahasia itu dan membeberkan seluruh informasi yang didapatkannya, Karin benar-benar terkejut dan bertanya-tanya bagaimana bisa Eric menemukan benang merah untuk mencari keberadaan Christopher.
Dia sudah mengawasi Eric dan memastikan semuanya, seharusnya tidak ada yang terlewat olehnya…
Tetapi sekarang sudah terlanjur terjadi. Katrin tahu dia harus memperingatkan Christopher, atasannya. Katrin tentu saja sangat setia kepada atasannya itu, karena meskipun kejam, Christopher selalu berlaku baik kepada semua anak buahnya. Meskipun sekarang kesetiaan Katrin sedikit ternoda oleh  perasaan pribadinya yang bertumbuh begitu saja kepada Eric.
Tetapi tidak masalah, bukankah dengan melakukan ini dia bisa melakukan yang dikatakan pepatah, sambil berenang minum air? Christopher bisa mendapatkan Andrea sesuai keingingannya, dan dengan begitu, akan memuluskan rencananya untuk…. mendapatkan Eric.
Benaknya tiba-tiba saja membayangkan wajah Eric dan kekecewaan yang akan terpatri di sana ketika dia datang dan menemukan bahwa dia sudah terlambat. Eric pasti akan kecewa.... tetapi mungkin hal itulah yang harus dialami oleh Eric.
Katrin tidak mau Eric menemukan Andrea, dia tidak mau Eric berada di dekat Andrea lagi. Selama ini perasaannya telah terpendam begitu lama, mencintai atasannya itu diam-diam, menahankan sakitnya ketika menyadari bahwa Eric mulai melibatkan perasaannya dalam misinya menyangkut Andrea. Katrin telah lama diam, tetapi sekarang dia tidak mau diam begitu saja. Andrea tidak boleh berada di dekat Eric. Andrea punya tempatnya sendiri, dan itu semua ada di bawah kekuasaan Tuan Christopher.
***

“Andrea.” Christopher setengah berbisik, sedikit mengguncang bahu Andrea yang tertidur, “Bangun Andrea.’
Andrea membuka matanya, membutuhkan waktu sejenak untuk mengumpulkan kesadarannya, dan ketika kesadarannya kembali dia terkesiap kaget mendapati Christopher membungkuk di depannya berselubung bayangan gelap yang membuatnya tampak seperti siluet yang menakutkan.
Dia hampir menjerit, tetapi Christopher menempatkan jemarinya di bibir Andrea,
“Stt...” Suaranya tajam, tegas dan tak terbantahkan, “Diam, jangan bersuara, kau akan ikut aku.”
“Aku tidak mau.” Andrea memekik, membuat Christopher langsung membekap mulutnya. Tetapi hal itu malahan membuat Andrea meronta-ronta, berusaha mengeluarkan suara jeritan protes. Dia tidak mau mengikuti kemauan lelaki ini, dia ingin pulang! Dia ingin lepas dari semua kepelikan ini dan kembali ke dalam kehidupan biasanya yang nyaman. Hidup tenangnya tanpa ada Christopher Agnelli di dalamnya!
Christopher sendiri merengut gusar karena Andrea terus menerus bergerak melawannya, dia menolehkan kepalanya ke arah Richard yang dia tahu ada di sana, berdiri dalam kegelapan menatapnya,
“Richard.” Christopher mengucapkan isyarat tanpa kata ke arah Richard, pelayan setianya itu langsung mendekat.
Sedetik kemudian, dengan ahli, Christopher menyentuh saraf di titik penting Andrea, membuatnya pingsan, tubuhnya langsung jatuh lemas, tenggelam dalam ketidaksadaran.
Christopher setengah menopang tubuh Andrea, lalu menatap Rochard yang berdiri di dekatnya.
“Siapkan dia. Aku sendiri akan bersiap-siap, ingat, tidak boleh ada seorangpun yang tahu tentang recana ini, kita harus sangat berhati-hati.”
Salah seorang anak buahnya yang disusupkan ke dalam kantor tempat Eric bekerja telah memberikan informasi rahasia barusan, bahwa Eric mulai mencurigai motivasi Mr. Demiris menjalin kerjasama dengan perusahaan yang kebetulan merupakan tempat Andrea bekerja. Dan saat ini dari hasil pencariannya, Eric telah berangkat bersama agen-agen paling kuatnya untuk datang dan mengawasi rumah ini.
Sebelum itu terjadi, Christopher harus membawa Andrea pergi dari rumah ini.
Sebelum pergi, Christopher menekan nomor Demiris, Meskipun pertemanan mereka bisa dikapatan sangat kompleks, lelaki itu adalah mentor sekaligus temannya yang setia, dan Christopher akan selalu bisa mengandalkannya dalam kondisi seperti ini.
“Ada apa Christopher?” Demiris mengangkat teleponnya, suaranya serak, seperti baru saja terbangun dari tidurnya.
“Aku membutuhkan bantuanmu lagi, Demiris.” Christopher mengucapkan serangkaian instruksi. Setelah selesai, dia menutup percakapan dan senyum tipis terkembang di bibirnya, membayangkan betapa gusarnya Eric nanti ketika Lelaki itu datang  ke rumah ini dan menyadari bahwa Christopher sudah selangkah lebih maju.
***

Romeo menerima telepon mendadak dari Christopher barusan dan setuju untuk menyiapkan semuanya meskipun lebih cepat satu hari dari yang direncanakan.  Dia menutup teleponnya dan mulai menghubungi nomor yang sangat dihapalnya.
“Romeo.” Suara di seberang sana terdengar dalam, suara yang sangat dikenal oleh Romeo.
“Paman Rafael. Maafkan saya menelepon selarut ini.” Romeo merasa tidak enak, pasti dia telah mengganggu istirahat malam paman Rafael dan isterinya, tetapi dia harus melakukan pemberitahuan supaya tidak ada kesalahpahaman ke depannya,  “Tamu saya membutuhkan pulau itu sekarang, untuk ditempati malam ini.”
“Oke. Lakukan saja Romeo, pulau itu bebas digunakan selama musim ini, aku dan Elena belum berencana mengunjunginya lagi.”
“Terimakasih paman.” Setelah mengucapkan salam dan sedikit berbasa-basi, Romeo menutup pembicaraan, kemudian dia tercenung. Memikirkan tentang paman Rafael, sahabat ayahnya yang sangat baik hati itu.
Romeo mengernyit ketika bayangan akan tragedi yang menimpa keluarga Alexander terbersit di benaknya, dia sangat mengagumi kekuatan cinta Paman Rafael dan isterinya Elena sesudahnya yang mampu bergandengan tangan dengan kuat, dan menghadapi seluruh cobaan yang menguras emosi itu. Kalau saja Romeo yang berada di posisi paman Rafael, dia pasti tidak akan kuat...
Tiba-tiba saja seberkas pengetahuan melesat dan menusuk ingatan Romeo. Jantungnya langsung berdebar.
Oh Astaga... sepertinya dia telah menemukan jawaban dari rasa penasarannya selama ini.
Romeo menyentuh dagunya dengan dahi berkerut, berpikir dalam,
Tetapi apakah itu mungkin? Bukankah itu terlalu kebetulan?
***

Mereka keluar dari rumah itu dalam kegelapan, dalam mobil hitam yang tidak kentara. Suarana sekitar perumahan mewah itu masih lengang. Christopher sendiri memangku Andrea yang masih pingsan dengan kepala di pangkuannya. Richard ada di kursi depan, duduk di sebelah supir.
Jemari Christopher mengelus dahi Andrea dengan lembut, kemudian menundukkan kepalanya dan mengecup dahi Andrea pelan. Sebentar lagi mereka tidak akan hidup dalam pelarian lagi. Hanya tinggal sebentar lagi, setelah semua dokumen siap dan Christopher bisa meninggalkan negara ini dan kembali ke italia.
Mobil-mobil lain yang juga berwarna hitam bergabung dari segala penjuru jalan, mobil-mobil itu dikendarai oleh pengawal dan orang-orang kepercayaan Christopher, meskipun begitu mereka tetap menjaga jarak agar iring-iringan mobil mereka tidak kentara.
Malam yang pekat dan jalanan yang sepi memudahkan perjalanan menuju bandara, ketika mobil berhenti, Richard melangkah keluar duluan dari mobil dan mengambil kursi roda lipat di bagasi, Christopher kemudian keluar, dan meletakkan Andrea dari gendongannya ke atas kursi roda, tubuh Andrea terkulai di sana, dan kemudian tanpa kata, Christopher mendorong Andrea memasuki lobby bandara diikuti oleh Richard dan orang-orangnya.
Mereka memasuki pintu samping, untuk area jet pribadi yang sudah menunggu di sana.
Di dekat landasan, Romeo telah menunggu, lelaki itu memakai mantel hitam yang tebal, karena angin begitu kencang berhembus, menggerakkan helaian-helaian rambutnya yang kecoklatan.
Lelaki itu melirik ke arah Andrea dan menatap Christopher, “Pesawat sudah menunggu, aku sudah mencoba membuat semuanya serahasia mungkin sehingga tidak terlacak.”
“Terimakasih.” Christopher menganggukkan kepalanya, “Kami akan berangkat sekarang.”
Mata Romeo tidak pernah lepas dari Andrea, “Kapan kau berencana berangkat ke Italia?”
“Segera setelah seluruh dokumen beres, aku sudah membuatnya lebih cepat dari yang direncanakan, mungkin dalam dua minggu lagi atau kurang.”
Romeo menarik napas panjang, “Aku harap aku bisa bertemu denganmu sebelumnya, ada yang ingin aku bicarakan, menyangkut Andrea.”
Mata Christopher langsung menyambar Romeo dengan waspada. Dua lelaki tampan itu saling bertatapan dalam kediaman yang penuh makna. Sampai akhirnya Christopher mengangkat bahunya,
“Silahkan Romeo.” Dia menepuk pundak sahabatnya itu, “Terimakasih atas bantuanmu, gerakanku agak terbatas di negara ini karena aku begitu berbeda dan mencolok di antara semuanya. Nanti kalau sudah di Italia, aku akan lebih leluasa karena berada di daerah kekuasaanku sendiri.” Matanya menatap serius ke arah Romeo, “Kapanpun kau nanti ke italia, kau bisa mencariku.”
Romeo terkekeh mendengar kata-kata Christopher, dia mengangkat alisnya penuh arti,
“Tetapi bagaimanapun juga, kau sudah terikat dengan negara ini, Christopher.” Gumamnya dalam tawa, menyimpan makna yang mendalam.
***

Aroma wangi yang khas, membuat Andrea menggeliatkan tubuhnya, dia mengerjapkan matanya dan entah kenapa seluruh badannya terasa sakit, seperti habis melakukan perjalanan panjang.
Dia berada di atas ranjang.... ingatan Andrea berusaha menelaah dan kemudian dia teringat betapa dia telah bergulat di atas ranjang mencoba melawan kehendak Christopher yang ingin membawanya ke suatu tempat. Dia ingat bahwa Christopher membekap mulutnya, tetapi setelah itu Andrea tidak ingat apa-apa lagi.
Jemarinya bergerak mengusap sprei di bawah tubuhnya dan Andrea menyadari bahwa kain sprei ini berbeda dengan yang bisanya. Andrea terkesiap dan membelalakkan matanya, mencoba menembus kegelapan yang melingkupi ruangan ini.
Ini bukan kamar tempat dia ditempatkan sebelumnya, ini kamar yang berbeda! Andrea terduduk dan menatap sekeliling, segera setelah matanya beradaptasi dengan kegelapan, dia bisa menatap sekeliling yang remang-remang.
Dia ada di mana lagi sekarang?
Andrea mulai panik, dia bangkit dari ranjang, samar-samar mendengar suara aneh di kejauhan, suara deburan ombak.....
Suara deburan ombak? Berarti Andrea ada di tepi pantai? Dekat dengan lautan?
Tiba-tiba saja terdengar suara klik pintu yang terbuka, Andrea terlompat kembali ke ranjang, menarik selimut sampai ke bahunya dan berbaring dengan tegang, berpura-pura tidur.
Napasnya terengah, tetapi Andrea berusaha mengaturnya agar terdengar teratur. Dia memutuskan untuk berpura-pura tidur dulu agar bisa mengukur keadaan.
Pintu terbuka dan kemudian terdengar ditutup lagi  dan dikunci. Langkah-langkah yang tenang mendekati ranjang, kemudian ranjang bergerak karena sosok itu duduk di tepinya, di dekat Andrea.
Apakah itu Christopher Agnelli?
Tanpa bisa ditahan, jantung Andrea mulai berdebar, dia ingin menahan debaran jantungnya itu, tetapi Andrea tidak bisa mengontrolnya, yang bisa dilakukannya hanyalah berdoa supaya sosok itu siapapun dia tidak menyadari bahwa Andrea sudah terjaga.
Jemari yang panjang dan kuat, tiba-tiba menelusuri pipi Andrea, begitu lembut, seperti perlakukan kepada sang kekasih. Tiba-tiba saja Andrea merasa nyaman, semakin nyaman ketika jemari itu mengusap dahinya, membelainya dengan penuh kasih sayang. Dia benar-benar menjadi rileks, debaran jantungnya merada berganti menjadi perasaan familiar yang menyenangkan....perasaan disayang dan dicintai.
Kemudian bibir yang hangat mengecup pipinya, lembut dan penuh sayang. Aroma jantan yang khas, kayu-kayuan bercampur dengan musk melingkupinya, dan sosok itu berbisik lembut,
“Andrea.... “
Debaran di dada Andrea kembali lagi mendengar suara itu, Itu adalah suara Christopher Agnelli. Dipenuhi oleh kerinduan yang mendalam berbalur dengan kesedihan yang tersembunyi. Kesedihan seorang kekasih yang telah sekian lama menahan rindu dan kesepian.
***

Eric mengawasi rumah mewah yang tampak lengang itu, sepertinya tidak ada sesuatupun yang aneh di sana, dia mengernyitkan keningnya. Tetapi dia berfirasat bahwa ada sesuatu di sini, dan frasatnya kadang kala tidak bisa disepelekan.
Sudah hampir empat jam, dari jam empat pagi dia mengawasi, dan dia mulai merasa lelah. Tetapi kemudian, duduknya tegak dan waspada, begitupun agen-agen yang berada di mobil lain yang diparkir di sisi lain dengan tak kentara. Dilihatnya sebuah mobil mewah berwarna hitam meluncur memasuki gerbang rumah itu. Mobil mewah itu tak sendiri, di belakangnya ada serombongan mobil lain yang mengikuti pelan.
Sepertinya itu Mr. Demiris, lelaki itu memang terkenal suka membawa banyak pengawal kemana-mana. Sepertinya di usianya yang semakin tua, Mr. Demiris mulai paranoid dengan keselamatan hidupnya.
Tanpa sadar Eric mencibir, buat apa hidup kaya kalau kemudian hanya dikejar oleh ketakutan?
Mobil itu memasuki gerbang diikuti mobil pengawalnya, lalu pintu gerbang tertutup dan suasana menjadi hening. Eric menunggu lama, tetapi kemudian dia memutuskan, mereka tak bisa menunggu terus-terusan seperti ini, mereka harus berbuat sesuatu.
Dia menelepon atasannya, mengkonfirmasikan persetujuan untuk mengunjungi Mr. Demiris dengan berbagai alasan. Mr. Demiris adalah warga negara asing, tindakan apapun yang sekiranya menyinggung dan tidak terbukti, bisa menimbulkan permasalahan internasional pada akhirnya. Eric harus benar-benar berhat-hati dalam melangkah. Atasannya pada akhirnya menyetujui langkah Eric, hal itu membuat Eric menghela napas lega.
Setelah menutup teleponnya, Eric menoleh kepada Katrin yang dari tadi duduk di sebelahnya di dalam mobil itu.
“Bagaimana keadaanmu, Katrin? Sakitmu sudah baikan?” Eric teringat Katrin tampak begitu sakit ketika izin untuk meninggalkan rapat penting mereka kemarin, “Seharusnya kau tidak perlu masuk.”
“Aku sudah baikan, sudah minum obat.” Katrin tersenyum, dia diinstruksikan untuk selalu mengawasi Eric, jadi pagi-pagi sekali dia datang dan memaksa Eric untuk ikut mengawasi, semula lelaki itu menolak mentah-mentah dan menyuruh Katrin untuk pulang dan beristirahat, tetapi untunglah Katrin berhasil meyakinkan lelaki itu bahwa dia sudah baikan.
“Lain kali jangan memaksakan dirimu, Oke? Kondisi tubuh kita yang paling penting, apalagi sebagai seorang agen kita harus siap sedia untuk menghadapi apapun yang mungkin terjadi.” Eric tersenyum, dia sudah beberapa lama bersama Katrin yang menjadi anak buahnya, meskipun bertubuh mungkil dan wajahnya terlalu cantik, Katrin ternyata merupakan salah satu anak buahnya yang paling kompeten dalam melaksanakan tugas. Pekerjaan mereka sudah membuat mereka begitu dekat, Eric menyayangi Katrin tentu saja, perempuan itu sudah seperti adiknya sendiri.
Di lain pihak, Katrin merasa dadanya mengembang hangat penuh rasa bahagia akibat perhatian dan kelembutan yang diberikan Eric kepadanya, benaknya berkelana membayangkan, seandainya Eric menjadi kekasihnya, dia tentu akan dihujani dengan lebih banyak perhatian dan kelembutan.
Karin menghela napas panjang, matanya bersinar penuh tekad. Semua hal dalam benaknya itu, membuatnya semakin bertekad untuk menjauhkan Eric dari segala sesuatu yang berhubungan dengan Andrea.
Eric sendiri masih mengawasi rumah besar itu beberapa lama, lalu dia mengambil keputusan,
“Oke. Sepertinya sudah saatnya. Kita akan mengunjungi Mr. Demiris sekarang.”
Tanpa menanti tanggapan Katrin, Eric melajukan mobilnya dan mendekati pintu gerbang yang tinggi itu, di depan sana ada dua orang berpakaian khas pengawal Mr. Demiris, jas hitam dan wajah datar tanpa emosi.
“Ada yang bisa saya bantu?” salah seorang pengawal sedikit menundukkan tubuhnya dan mengawasi Eric yang membuka jendela mobilnya dan duduk di balik kemudi.
Eric menunjukkan lencana agen pemerintahnya dan menatap pengawal itu dengan tatapan tegas.
“Aku tahu tuanmu ada di sini. Ini urusan pemerintahan. Katakan aku ingin bertemu dengannya.”
Pengawal itu terdiam lama dan mengawasi Eric dalam-dalam, kemudian dia melempar pandang kepada rekannya yang langsung menelepon untuk menghubungi bagian dalam rumah.  Sejenak kemudian, pengawal itu menganggukkan kepala kepada rekan pengawalnya, lelaki itu langsung bergerak memencet tombol, dan pintu gerbang itupun terbukalah. Eric melajukan mobilnya memasuki rumah mewah itu.
***

“Tidak saya sangkaakan menerima tamu di sini, ada apa gerangan?” Mr. Demiris, lelaki tua dengan rambut yang sudah berwarna putih itu melangkah menuruni tangga dan menyambut Eric yang berdiri waspada  bersebelahan dengan Katrin yang mendampinginya.
“Saya hanya melakukan pengecekan seperti biasa, Mr. Demiris.” Eric berusaha tampak datar, mengimbangi sikap ramah Mr. Demiris. Lelaki ini tampak santai dan tidak menyembunyikan sesuatu, apakah firasat Eric yang salah?
“Saya belum berkenalan dengan anda.” Mr. Demiris tampak fasih berbahasa indonesia meskipun logatnya terdengar sedikit aneh, lelaki itu mengelurkan tangannya kepada Eric yang langsung dibalas Eric dengan tegas,
“Saya Eric, dan ini rekan saya, Katrin.” Eric mengedikkan bahunya ke arah Katrin yang berdiri diam sambil melipat tangannya, “Seperti yang saya katakan tadi, saya adalah agen pemerintah yang khusus mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan pertahanan negara, menyangkut hubungan luar negeri.” Eric menatap Mr. Demiris dalam-dalam, “Saya hanya melakukan pengecekan rutin.”
Mr. Demris mengangkat alisnya, “Pengecekan tentang apa?”
“Kami biasanya mendata properti setiap warga asing di negara ini secara berkala. Kami menemukan kejanggalan bahwa anda menyewa dua rumah besar secara bersamaan dan hanya menempati salah satunya, agen saya melapor bahwa rumah yang ini tidak dilaporkan sebagai kediaman tetap anda, anda menempati rumah lainnya di lokasi yang lain.”
Mr. Demiris tiba-tiba saja terkekeh, membuat Eric menatap bingung dan jengkel atas reaksi tak terduga dari lelaki ini,
“Maafkan saya, bukan maksud saya tertawa.” Mr. Demiris masih saja tersenyum lebar, “Saya hanya sedikit kagum betapa rincinya penelitian yang kalian lakukan kepada saya.” Lelaki itu lalu menatap ke arah salah seorang pengawalnya yang berdiri di dekat tangga, “Panggilkan Calista kemari, biarkan kami menjawab pertanyaan tuan Eric ini. Sehingga dia tidak bertanya-tanya lagi.”
Pengawal itu mengangguk dan melangkah menaiki tangga, menghilang di ujung atas, sementara itu Eric mengerutkan keningnya, Calista? Siapa yang dimaksud dengan Calista?
***

“Aku tahu kau sudah bangun.” Suara Christopher dalam, sedikit geli, membuat Andrea terkesiap dan tiba-tiba merasa malu karena ketahuan. Pipinya merona merah, untunglah mereka berada di kegelapan sehingga Christopher tidak akan bisa melihat Andrea merona.
Dengan pelan Andrea membuka matanya, menemukan sosok lelaki tampan itu duduk di tepi ranjangnya. Ruangan ini gelap, dan Andrea masih sedikit pusing karena tertidur entah berapa lama. Tetapi dalam kegelapan itupun dia menyadari betapa bayang-bayang bukannya membuat sosok Christopher menjadi menakutkan melainkan malah mempertegas garis wajahnya menjadi begitu tampan.
Christopher lelaki yang sangat tampan tentu saja, meskipun gelap, Andrea bisa membayangkan lelaki itu sedang menatapnya dengan mata cokelatnya yang dalam. Tiba-tiba benaknya berkelana mengingat perasaan terpesonanya ketika pertama kali bertemu dengan Christopher di jalanan yang gelap itu, saat lelaki itu menyelamatkannya dari gangguan para berandalan. Saat itu Andrea terpesona, pun ketika dia menemukan Christopher adalah pengawal Mr. Demiris..... dan sampai saat makan malam mereka yang menyenangkan, Andrea masih terpesona.
Tiba-tiba benaknya bertanya-tanya. Seandainya saja keadaan berbeda, seandainya saja Christopher bukanlah pembunuh menakutkan yang diyakininya dikirim untuk membunuh ayahnya dan dirinya, bisakah Andrea jatuh cinta kepada Christopher?
Andrea memejamkan matanya atas pengetahuan yang mendalam yang diakui oleh hatinya, tetapi ditolak oleh otaknya.
Ya.... Dia bisa mencintai lelaki ini, seandainya keadaan berbeda...
Perasaan itu menakutkannya, membuat Andrea beringsut menjauh dari tepi ranjang dan menatap Christopher dengan waspada,
“Apakah kau akan memaksakan kehendakmu kepadaku?” Mata Andrea berputar ke sekeliling ruangan, mencari jalan menyelamatkan diri, atau setidaknya mencari alat perlindungan yang mungkin bisa digunakan untuk melindungi dirinya dari pemaksaan kehendak yang mungkin akan dilakukan oleh Chrsitopher.
Sementara itu Christopher hanya diam, ketika dia berbicara suaranya terdengar geli,
“Apakah kau ingin aku melakukannya?”
“Tidak! Tentu saja Tidak!” Andrea langsung berteriak waspada, ketakutan. Lelaki ini tampaknya kejam dan suka bermain-main dengan korbannya sebelum melahapnya, Andrea harus berhati-hati.
“Percuma melawan Andrea, kau bahkan sudah menjadi milikku tanpa kau menyadarinya.” Christopher menegakkan punggungnya dengan tegas, “Dan aku akan membuatmu menyadarinya, sekarang, di sini,  tidak akan ada lagi yang bisa menghentikanku.” Christopher mendekat, membuat Andrea panik. Tetapi kemudian ponsel di saku lelaki itu berbunyi, membuat wajahnya mengerut marah karena terganggu, ekspresinya berubah ketika melihat siapa yang menelepon,
“Ya?” diangkatnya telepon itu, menunggu kabar yang sudah di antisipasinya.
 
 




Novel Dating With The Dark - Santhy Agatha Chapter 12

No comments:

Post a Comment