Saturday, August 22, 2015

A Romantic Story About Serena - Chapter 12





Suster Ana benar, Damian memang menyesal. Tidak perlu waktu lama, hanya selang satu jam dari kepergian Serena.

"Aku menerima kalian di sini hanya demi Vanessa," gumam Damian dingin, suasana hatinya benar-benar buruk saat itu.

Ketika sekertarisnya menelepon dan memberitahu bahwa Vanessa dan Freddy ada  di  ruangan  depan,  ingin  bertemu  dengannya,  Damian  hampir  saja mengamuk seketika itu juga. Dia sudah menegaskan pada sekertarisnya bahwa dia sedang tidak ingin diganggu. Tetapi Vanessa memaksa, dan seperti biasanya, paksaannya berhasil.

"Kami harus memberitahumu sesuatu yang penting." gumam Vanessa penuh tekad,  tidak  peduli  akan  tatapan  membunuh  yang  berkali-kali  dihujamkan Damian kepada Freddy yang hanya duduk diam tanpa suara di belakangnya.


"Damian," Vanessa mencoba menarik perhatian Damian yang terus menerus mempelototi Freddy. "Ada suatu fakta penting tentang Serena yang harus kau ketahui."

Damian langsung tertarik. Fakta apa lagi? Sebuah kebohongan lagi yang belum diceritakan kepadanya? Sebuah kepalsuan lagi yang akan menyulut kemarahannya?

Dia diam dan menunggu, bersiap-siap untuk meledak lagi, kepalanya terasa berdenyut dan mulai nyeri.

"Damian..." Vanessa mengernyit cemas ketika melihat Damian tampak kesakitan, "Kau tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa! Cepat selesaikan yang ingin kau katakan, dan bawa dia pergi dari ruangan ini!" Damian bahkan tidak mau repot-repot menyebut nama Freddy.

Vanessa menarik napas panjang.

"Kau...Kita...Mengambil kesimpulan yang salah tentang Serena." dengan cepat
Vanessa membentangkan artikel itu di meja Damian, "Baca ini."

Damian melirik artikel itu, semuala tidak tertarik, tetapi kemudian mengenali gambar di artikel itu sebagai Serena, lebih muda beberapa tahun, tapi dia tak mungkin salah.

"Apa yang.........Oh Tuhan!" baru separuh artikel yang dibacanya, tetapi dia pucat pasi. Dengan gemetar dia membaca artikel itu. Membacanya berulang- ulang kemudian, mencoba mencari kesalahan. Tapi kebenaran yang tertulis di sana tak terbantahkan lagi.

"Benar Damian, keluarga Serena, kedua orangtuanya terenggut pada kecelakaan yang sama di jalan tol, kecelakaan yang sama yang menewaskan Alfian", mata Vanessa berkaca-kaca ketika kenangan itu kembali.

"Oh Tuhan!" Damian berpegangan pada meja untuk menopang tubuhnya, Ini sebabnya Serena selama ini sebatang kara dan sendirian?

"Kedua  orang  tua  saya  sudah  meninggal  dunia,  saya  hidup  sendirian"  itu jawaban Serena waktu gadis itu terpaksa menumpang mobilnya di pagi yang hujan.


Lalu uang tiga ratus juta dan hutang puluhan jutanya di perusahaan itu..... Sekali lagi Damian mengernyit.

"Tunangannya,  Rafi,  masih  terbaring  koma  sejak  kecelakaan  itu.  Serena berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidupnya. Hutang-hutangnya di rumah sakit mungkin untuk membiayai biaya perawatan Rafi, dan hutangnya kepadamu tiga ratus juta mungkin karena gadis itu putus asa," Vanessa memandang Damian, dan tiba-tiba merasa kasihan, Damian tampak hancur berkeping-keping, "Aku menelepon rumah sakit tempat Rafi dirawat Damian, Rafi saat itu harus menjalani operasi pengangkatan ginjal karena salah satu ginjalnya rusak  akibat  obat-obatan  yang  terus  menerus.......biaya  operasi  itu  sangat mahal,  hampir  mencapai  tiga  atus  juta  rupiah...Mungkin  itu  alasan  Serena menjual dirinya padamu, gadis itu putus asa."

Damian memejamkan matanya, mengingat hari berhujan dimana Serena membuat penawaran gila itu padanya. Bagaimana mungkin dia dulu tak menyadarinya? Waktu itu Serena memang terlihat putus asa, panik dan putus asa.

"Freddy bercerita bahwa Serena hilang seharian di hari minggu dan kalian mencarinya kemana-mana," Vanessa mengedikkan bahunya pada Freddy yang hanya diam dan menundukkan kepalanya, "Itu hari di mana operasi Rafi dilaksanakan."

Sebuah hantaman lagi yang menerjang Damian. Dia mengernyit, rasanya berat sekali ketika dia sudah berpegang teguh pada suatu keyakinan bergitu lama tapi kemudian dihancurkan begitu saja.

Serena gadis baik-baik. Dia bukan gadis bermoral rendah seperti dugaannya selama ini. Pantas saja waktu itu dia masih perawan. Keperawanan yang seharusnya untuk tunangan yang dicintainya dikorbankannya. Damian langsung disengat rasa cemburu yang tajam. Serena pasti begitu mencintai tunangannya kalau sampai berjuang mati-matian seperti itu.

"Kecelakaan  itu  terjadi  hanya  beberapa  hari  sebelum  pernikahan  mereka Damian,"  Vanessa menoleh  secara  terang-terangan  kepada  Freddy,  "Biarkan Freddy yang menjelaskan sisanya kepadamu."

Damian  menoleh  kepada  Freddy  dengan  muram,  masih  terbayang  adegan ciuman waktu itu di matanya. Dan kemarahannya langsung membara, kalau begitu kenapa Serena ada di pelukan Freddy dan Freddy bilang Serena rela menjual diri padanya?


"Waktu itu semua sudah kurencanakan, Damian," gumam Freddy pelan seolah bisa  membaca  pikiran  Damian,  lalu  mengernyit  ketika  menerima  tatapan menusuk itu lagi, "Aku.... Waktu aku mendampingimu mencari Serena yang menghilang waktu itu, aku melihat betapa emosionalnya dirimu, itu menggangguku karena kau berubah, tidak seperti biasanya, aku berpikir Serena telah menimbulkan pengaruh buruk padamu.....Jadi aku mengambil keputusan.....aku merekayasa semuanya.....Ciuman itu adalah paksaan dariku....Serena sama sekali tidak sukarela, dia menolakku sekuat tenaga. Dia memanggil namamu..."

Damian langsung merangsek maju dengan marah, tanpa diduga. Langsung meraih kerah kemeja Freddy. Tak peduli tubuh Freddy yang memar dan lebam akan kesakitan menerima sentuhan seringan apapun.

"Brengsek kau Freddy!!! Brengsek kau!!! Aku mempercayaimu!!" Damian menggeram di antara ke dua giginya, "Kau tahu malam itu aku memperlakukannya sebagi pelacur rendahan??! Aku memperkosanya!!!!"

"Damian,  tenanglah  dulu",  gumam  Vanessa  hati-hati,  berusaha  membuat Damian melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Freddy, "Kau menyakiti Freddy, tidakkah kau sadar kau sudah cukup menyakitinya kemarin? Lepaskan dia Damian", bujuknya lembut.

Damian bergeming, sejenak seolah-olah akan menghajar Freddy, tapi kemudian dia melepaskan lelaki itu dengan kasar.

"Harusnya kubunuh saja kau sekalian!", desisnya geram sambil mengacak rambutnya,

Lalu sebuah pertanyaan merasuk di benaknya.

"Kenapa harus Serena yang menanggung seluruh biaya perawatan Rafi? Kenapa bukan keluarga Rafi?"

"Rafi tidak punya keluarga." Freddy yang menyahut setelah berhasil meredakan napasnya yang terengah karena perlakuan kasar Damian tadi, "Dia pengacara juga, kebetulan aku mengenalnya", suaranya tertelan melihat tatapan bermusuhan Damian, tapi dia bertekad melanjutkan, " Sebenarnya aku   tidak begitu mengenalnya, tetapi Rafi cukup terkenal di kalangan profesi kami karena reputasi baiknya, aku... Eh... Melakukan penyelidikan singkat tadi dan mendapati bahwa Rafi dibesarkan di panti asuhan, dia sebatang kara....karena itulah kabar setelah kecelakaan yang menimpanya menjadi simpang siur, dia menghilang begitu saja dan gosip yang beredar mengatakan   Rafi sudah meninggal, tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya Rafi masih hidup dan ada dalam kondidi


koma", Freddy menatap Damian sungguh-sungguh, "Aku menyesal dan aku meminta maaf Damian. Aku memang bodoh dan gegabah, aku juga menyesal setengah mati"

Damian tercenung. Lama tidak mengatakan apa-apa. Sejenak ruangan itu begitu hening.

"Damian, mungkin lebih baik kita melepaskan Serena, sudah cukup berat beban yang dia  tanggung,"  gumam Vanessa pelan  memecah keheningan.  Lalu  dia berubah ragu-ragu dan berhati-hati dengan reaksi Damian, "mengenai hutang- hutang Serena baik kepadamu dan kepada perusahaan, aku bersedia menggantinya."

"Tidak."

"Tidak?" Vanessa mengernyit mendengar gumaman pelan Damian itu.

"Tidak akan kulepaskan. Aku tidak peduli dengan uang itu. Serena tidak akan kulepaskan."

"Damian!!", Vanessa mengernyit jengkel. "Hentikan! Kau tidak tahu betapa banyak  penderitaan  yang  ditanggung  Serena  selama  ini!  tidak  bisakah  kita biarkan dia tenang bersama tunangannya? Lagipula kau bisa mencari wanita lain untuk memuaskanmu bukan? Kau bisa mendapatkan pengganti Serena dalam beberapa menit!"

Damian mengusap wajahnya, tampak begitu menderita, "Tidak, aku tidak bisa Vanessa." erangnya parau.
Mata Vanessa melebar melihat ekspresi Damian, tidak pernah sebelumnya Vanessa melihat Damian begitu penuh emosi. Apakah ini berarti Damian benar- benar mencintai Serena?

"Dia punya tunangan Damian, jangan lupa, semua yang dilakukannya adalah demi menyelamatkan Rafi."
Kebenaran itu menyakiti hati Damian, sengatan cemburu itu kembali melukainya. "Kalau begitu aku akan membuatnya memilihku," mata Damian penuh tekad,
"Dimana alamat rumah sakitnya?"

***





"Dimana ruangan tempat perawatan Rafi Ardyansyah?" Damian berdiri di depan resepsionis.

Resepsionis itu mendongak dan ternganga. Terpesona melihat penampilan dan ketampanan Damian.

"Ruangan perawatan Rafi Ardyansyah?" Damian mengulang jengkel karena resepsionis itu hanya menatapnya seperti orang bodoh.

"Oh....Untuk Rafi...Anda...Anda mungkin harus menemui Suster Ana dulu, beliau suster kepala penanggung jawabnya."

"Dimana?" gumam Damian tak sabar. "Lantai tiga, ruangan perawat nomor dua."
Tanpa basa-basi Damian meninggalkan resepsionis yang masih ternganga itu. Pintu itu tertutup rapat dan Damian mengetukknya.
"Masuk" sebuah suara yang tegas terdengar dari dalam. Damian masuk dan langsung berhadapan dengan suster Ana.
Suster Ana langsung menyadari siapa yang berdiri di hadapannya. Dia tidak mungkin salah mengenali.

Penggambaran Serena sangat akurat. Lelaki ini memang benar-benar luar biasa tampan dengan keangkuhan yang sudah seperti satu paket dengan auranya.

"Apakah anda akhirnya berhasil menemukan kebenaran?" gumam suster Ana langsung tanpa basa-basi.

Damian mengernyit mendengar sapaan pertama suster Ana yang sama sekali tidak diduganya. Tapi dia lalu teringat telelepon di tengah malam yang tanpa sengaja dia angkat. Penelepon itu mengatakan dirinya adalah suster Ana...

"Ya," Damian mengakuinya pelan, "Anda sudah tahu semuanya?"

"Semuanya, dan pertama, sebelum anda menghina Serena lagi. Saya akan jelaskan kepada anda, semalam Serena datang kepada saya, dengan kondisi mengenaskan. Mental dan fisik yang rapuh, dan dia bilang ingin melepaskan diri


dari anda, menurut saya itu wajar mengingat perlakuan anda padanya," Suster Ana menatap Damian dengan pandangan mencela yang terang-terangan hingga wajah Damian merona, "Uang yang dia pakai untuk melunasi anda, itu adalah uang pinjaman dari saya dan beberapa staff rumah sakit lain, bukan uang hasil menjual dirinya kepada lelaki lain seperti apa yang anda tuduhkan kepadanya tadi pagi."

Sebuah kebenaran lagi. Lebih keras daripada tamparan di pipi, lidah Damian terasa kelu.

"Saya ingin bertemu Serena" gumam Damian akhirnya. Suster Ana mengangkat alisnya.
"Untuk apa? Ketika hubungan hutang piutang itu lunas. Tidak ada lagi perlunya kalian bertemu, lagi pula saya tidak yakin Serena bersedia menemui anda."

"Tidak  ada  hubungannya  dengan  uang!  Saya  tidak  peduli  dengan  uang!!!" Damian hampir berteriak, lalu berdehem berusaha meredekan emosinya, "Saya harus  bertemu  dengan  Serena,  meminta  maaf,  saya  tahu  selama  ini  saya salah...."

"Anda bisa menyampaikan permintaan maaf anda melalui saya" sela Suster Ana tegas.

Damian mengernyit,

"Saya  mohon.....Saya  harus  bertemu  dengan  Serena,  saya  butuh  bertemu dengan Serena."

Suster  Ana  mengamati  lelaki  yang  berdiri  di  hadapannya.  Lelaki  ini  terlalu tampan, terlalu kaya sehingga wajar dia tampak begitu arogan. Tapi sekarang Damian tampak begitu menderita, dan dia rela memohon agar bisa bertemu Serena. Suster Ana menarik napas, ketika sebuah kesimpulan muncul di benaknya.

Lelaki ini sedang jatuh cinta.

Bagaimana mungkin dia menolak permintaan Damian? Kalau saja Damian hanya lelaki sombong yang menginginkan bayaran setimpal atas apa yang diberikannya kepada Serena, suster Ana akan mengusirnya tanpa ragu. Tapi Damian yang ada di depannya ini tampak begitu kesakitan menanggung rasa bersalah, tampak remuk redam di dera perasaannya sendiri. Lelaki ini sama menderitanya dengan Serena. Bagaimana mungkin Suster Ana tega mengusirnya?



"Tapi tolong jangan menyakiti Serena lagi jika kalian bertemu nanti, jangan memaksanya....." mata Suster Ana melembut membayangkan Serena, "sudah cukup beban yang ditanggung anak itu."

"Saya berjanji." Damian menjawab yakin.

Sekilas suster Ana mencuri pandang ke arah Damian. Dan tersenyum ketika mendapati ekspresi Damian ikut melembut karena membayangkan Serena.

Ah Serena, Lelaki ini benar-benar sedang jatuh cinta.......

***

Ruangan itu hening terletak di lorong paling ujung. Dan Serena hanya berdiri di depan ruang perawatan sambil menatap melalui jendela kaca lebar yang membatasinya dengan Rafi, saat ini bukan jam besuk dan Serena tidak boleh masuk.

Pikiran Serena terasa berat, dia tidak punya pekerjaan sekarang. Suster Ana dan yang lain-lain bilang akan membantu, tetapi Serena tidak mungkin menggantungkan  hidupnya pada  bantuan orang  lain  terus menerus,  apalagi dengan biaya perawatan Rafi yang begitu mahal yang harus ditanggungnya setiap bulannya.....

Dengan sedih Serena menatap Rafi, lelaki itu masih terbaring dalam kedamaian yang sama, begitu pucat, hanya bunyi mesin-mesin penunjang kehidupan itulah yang menunjukkan kalau masih ada harapan hidup yang tersimpan di sana.

Serena mengusap air mata di sudut matanya.

Ah Rafi..... Sampai kapan kau tertidur begini? Aku merindukanmu kau tahu. Aku membutuhkanmu. Saat ini aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri, aku takut jika kau tidak segera bangun nanti aku akan......

Saat itulah Damian masuk, diantarkan oleh Suster Ana di belakangnya. Perasaan sedih yang aneh menyeruak di dada Damian ketika dia melihat Serena menatap Rafi yang terbaring di balik kaca dengan tatapan sendu.

"Serena...." Damian bergumam pelan, mendadak dikuasai keinginan yang dalam untuk mengalihkan perhatian Serena dari Rafi.


Suaranya seperti menyentakkan Serena hingga gadis itu menoleh kaget. Wajahnya langsung pucat pasi, tidak menduga bahwa Damian akan muncul di sini, matanya menatap Suster Ana meminta pertolongan.

"Dia datang disini untuk berbicara Serena, dan dia sudah berjanji tidak akan melakukan atau mengatakan sesuatu yang akan menyakitimu," gumam Suster Ana lembut, menyadari kegelisahan yang dirasakan Serena, dia lalu mengamit lengan Serena, "Mari, kuantar kalian ke ruanganku di mana kalian bisa berbicara dengan tenang, aku akan meninggalkan kalian di sana."

Seperti  kerbau yang di cocok hidungnya, Serena hanya mengikuti  ketika di tuntun ke ruangan Suster Ana, sedangkan Damian hanya mengikuti di belakang dalam diam.

Ruangan tetap hening lima menit kemudian ketika suster Ana menutup pintu ruangan dari luar.

"Aku minta maaf." gumam Damian dengan lembut akhirnya. Serena bersedekap, seolah ingin melindungi dirinya.
"Ya...Sudah di maafkan...Sekarang...Sekarang bisakah kau pergi?" Serena mulai menahan tangisnya. Damian telah benar-benar melukai hatinya, kehadiran lelaki itu sekarang, berdiri di depannya, menatapnya dengan begitu lembut, benar- benar membuat emosinya bergejolak.

"Aku tidak tahu tentang semua ini Serena, baru tadi Vanessa mengungkapkan kebenaran di depanku. Aku tidak tahu. Tidakkah itu bisa membuat semuanya sedikit  dimaklumi?" sambung Damian pelan. "Selama ini aku salah paham, aku berpikiran buruk tentangmu dan semakin memupuknya dari hari ke hari. Itu... Itu  juga  menyiksaku,  antara  dorongan  untuk  menyayangimu  atau menghukummu karena jauh dilubuk hatiku aku mengira aku hanya dimanfaatkan," Damian mengerjapkan matanya pedih, "Kalau aku tahu tentang semua ini, segalanya akan berbeda Serena."

Serena memejamkan matanya. Mau tak mau permintaan maaf Damian yang begitu  tulus  itu  mulai  menyentuh  hatinya.  Damian  memang  tidak  bisa disalahkan. Dia tidak tahu. Lagipula apa yang harus dipikirkan Damian tentang gadis yang melemparkan diri padanya demi uang selain bahwa gadis itu adalah pelacur?

"Aku...Aku mengerti....tidak apa-apa, pilihanku juga untuk tidak mengatakan ini semua kepadamu," suara Serena terdengar serak. "Dan apapun konsekuensinya aku sudah bersedia menanggungnya....Jadi kita impas."



Damian menatap Serena sedih.

"Serena.... Aku...." Damian mengulurkan tangan hendak meraih Serena, tapi lalu tertegun ketika Serena mundur seperti ketakutan.

Kesadaran itu menghancurkan Damian, kesadaran bahwa Serena takut dengan sentuhannya, mungkin akibat kekasarannya semalam.

Damian mengusap rambutnya dengan kasar.

"Aku..... Mungkin semua sudah terlambat. Tapi aku harus mengatakannya.....Aku mencintaimu Serena, mungkin kau bertanya-tanya kenapa. Tapi aku juga tidak bisa  menjawabnya.  Aku  juga  baru  menyadarinya.  Itu  terjadi  begitu  saja," Damian menatap Serena yang hanya termangu dengan wajah pucat pasi, "Tapi sekarang itu tak penting lagi bukan? Kesalahanku tidak bisa di maafkan semudah itu. Dosaku terlalu besar."

Dengan ragu Damian melangkah ke arah pintu, terdiam sejenak.

"Semua hutangmu anggap saja sudah lunas. Aku tidak akan menuntut apapun darimu,   aku   akan   menjauh   darimu   dan   kau   tidak   perlu   takut   harus menghadapiku lagi. kau bebas sebebas-bebasnya. Dan kalau kau masih mau bekerja di perusahaanku. Aku akan sangat senang....Tapi aku tidak akan memaksa. Aku sudah terlalu sering memaksakan kehendakku padamu. Sekarang tidak akan lagi," punggung Damian tampak tegang, "Selamat tinggal Serena." gumamnya pelan sebelum membuka handle pintu.

Serena termangu menatap punggung yang begitu tegang itu. Pernyataan cinta Damian begitu mengejutkannya hingga dia tidak bisa mengatakan apa-apa, memang Damian telah menyakitinya, tapi ada saat saat dimana Damian berhasil membuat hatinya terasa hangat. Dan kalau dipikir-pikir, selama kebersamaan mereka  itu.  Tidak  pernah  sekalipun  Damian  menyakitinya  dengan  sengaja, kecuali saat kemarahan menguasainya kemarin.

Sekarang ketika Serena menatap punggung Damian, yang tampak begitu tegang sekaligus rapuh. Sebuah perasaan hangat menyeruak ke dalam hatinya, sebuah perasaan yang bertumbuh pelan tanpa dia sadari.

"Damian,"  Serena  bergumam  pelan,  tapi  cukup  untuk  membuat  Damian membatu di tempat. Tetapi lelaki itu tidak menoleh, hanya berdiri di sana. Membeku seperti patung.


"Damian."  kali  ini  Serena  mengulang  lagi,  lebih  lembut  sehingga  Damian menoleh menatap Serena.

Entah karena mata Serena yang menatapnya penuh kelembutan, Entah karena Damian pada akhirnya sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi. Serena tidak tahu, yang pasti ekspresi Damian berubah seketika.

Dia  membalikkan  tubuh.  Menatap  Serena  ragu-ragu.  Dan  ketika  dilihatnya Serena membuka lengan menyambutnya, Damian mengerang. Kemudian melangkah tergesa ke arah Serena, tersandung-sandung menghampiri Serena.

Sejenak mereka berdiri berhadapan. Lalu Damian jatuh berlutut dan memeluk pinggang Serena, membenamkan wajahnya di perut Serena. Napasnya tersengal menahan perasaan.

Dengan lembut Serena memeluk dan mengelus rambut Damian.

"Aku mencintaimu," Damian berbisik dengan suara parau, wajahnya masih terbenam di perut Serena, "entah sejak kapan aku mencintaimu. Mungkin sejak pertama kali aku melihatmu, aku...." napas Damian tersengal, "Aku mungkin manusia paling kejam, paling jahat...tapi aku...Aku tidak....."

"Damian," sekali lagi Serena berbisik lembut. Damian mendongakkan wajahnya dan menatap Serena, wajah Serena penuh air mata, dan tiba-tiba mata Damian terasa panas.

"Jangan menangis," Tiba-tiba Damian berdiri dan merengkuh Serena ke dalam pelukannya, memeluknya erat-erat, "Jangan menangis lagi, aku bersumpah tidak akan pernah membiarkanmu menangis lagi."

Serena memeluk Damian erat-erat. Permintaan maaf Damian dan kelembutan sikapnya meluluhkan hatinya, menumbuhkan perasaan baru di dalam hatinya, mereka telah begitu dekat selama ini, kedekatan yang dipaksakan, tetapi mau tak mau telah membuka pembatas yang selama ini ada di hati Serena.

Lama mereka berpelukan, dalam keheningan. Serena menumpahkan tangisnya di pelukan Damian dan lelaki itu memeluk Serena erat-erat, membenamkan wajahnya di rambut Serena.

Setelah tangis Serena mereda, Damian mengangkat dagu Serena agar menghadap ke arahnya, mengusap air mata di pipi Serena dengan lembut.

"Pulanglah bersamaku, kembalilah bersamaku Serena, bukan karena uang tiga ratus juta itu. Aku ingin kau melupakan masalah hutang itu, aku ingin kau


bersamaku karena kemauanmu sendiri. Pulanglah bersamaku Serena, kita mulai lagi semuanya dari awal....Dan jika...Dan jika...." Damian menarik napas, menahan perasaannya, "Jika kau memang belum mencintaiku, aku akan menunggu. Bahkan aku tidak akan menyentuhmu kalau kau tidak mau, aku tidak akan memaksakan kehendakku, kau bisa tenang. Aku... Aku hanya ingin kau ada di tempat dimana aku bisa melihatmu setiap hari."

Serena menatap Damian, dan melihat ketulusan di sana, melihat cinta di sana yang tidak di tahan-tahan lagi.

Dia baru membuka mulutnya untuk menjawab ketika pintu ruangan itu terbuka. Suster Ana membuka pintu, terlalu panik dan terengah-engah untuk merasa malu ketika menemukan Damian dan Serena sedang berpelukan.

"Serena!!!"  Suster  Ana  berusaha  menormalkan  nafasnya,  dia  tadi  setengah berlari ke sini, "Cepat!!! Cepat ikuti aku ke ruang perawatan!!!! Rafi sadar!!! Dia terbangun dari komanya!!!!!"



 A Romantic Story About Serena - Chapter 13

No comments:

Post a Comment