Wednesday, October 21, 2015

DEVIL IN TH BLACK JEANS - ALIAZALEA - BAB 26



Bab 26
TRUTH

Jo memasuki rumah sakit dengan langkah berat. Kalau bukan karena revel, Dia mungkin akan berada di studio, Mengebuki drumnya habis habisan. Revel tentunya akan ngamuk kalau jo sampai memecahkan simbal atau bass drum, Tapi pada keadaannya saat ini, Dia rasa dia akan menyambut amukan itu yang setidak tidaknya akan mengalihkan perhatiannya untuk sementara waktu dari rasa sakit yang ada di hatinya. Untuk pertama kalinya dia menyesali karena tidak pernah menjadi seorang peminum seperti papa. Setidak tidaknya seorang peminum memiliki pilihan untuk menenggelamkan kesedihan dengan botol botol alkhohol.
"Mas, Sebelah sini." Suara blu menarik perhatian jo kepada adiknya yang sedang menuju meja informasi di sebelah kiri pintu masuk.
Jo melihat beberapa orang langsung berhenti melangkah dan menunjuk nunjuk kepada blu yang tidak menghiraukan mereka, sebelum kemudian menganga ketika melihatnya. Jo mengikuti adiknya dan tidak menghiraukan beberapa orang tidak dikenal yang memanggil menggil namanya. Dia bahkan tidak berhenti untuk memberikan senyuman atau lambaian tangan kepada mereka. Untuk hari ini dia tidak mau menjadi jo Brawijaya, Drummer kawakan Indonesia yang selalu rela dikejar kejar orang. Yang dia inginkan adalah menjadi jo, Laki laki yang sedang patah hati karena satu satunya wanita yang pernah membuatnya mengucapkan kata cinta, Sudah menolaknya mentah mentah untuk laki laki lain.
Dia seharusnya tidak pernah mengucapkan kata kata itu kepada dara. Dia sudah tahu dari dulu bahwa
tidak ada orang di dunia ini yang peduli dengannya, Yang mencintainya.... Kenapa dia bisa berpikir bahwa dara akan berbeda dari yang lainnya?
He is such an idiot karena sudah menumpahkan semua perasaannya kepada dara, Membuat dirinya lemah dan terbuka untuk menerima serangan. Untuk mendengar kata cinta diucapkannya dilemparkan kembali kepadanya seakan kata itu tidak berarti sama sekali.
Selama perjalanan menuju rumah sakit , Jo mencoba memikirkan apa kelebihan panji dari dirinya dan dia tidak bisa menemukan satu hal pun. Blu yang menyadari mood nya tentunya mengomentarinya.
" Mas kok diam aja sih dari tadi?” Tanya blu.
Jo hanya menoleh dan mencoba sedaya upaya untuk tersenyum sebelum berkata, “ sori, Mas lagi mikir sesuatu."
"Oh?lagi mikirin apa?"
"Mikirin tentang mas ingin membakar hidup hidup asisten kami itu" adalah yang ingin dikatakannya, Tapi tentu saja dia tidak bisa mengatakan itu kepada blu. Akhirnya dia hanya berkata, “ Nothing important." "Oh, Aku pikir mas lagi mikirin mbak dara, “ucap blu santai dan mengulurkan tangannya untuk menaikkan volume radio.
Kepala jo langsung menoleh ketika mendengar kata kata blu. “ Kenapa kamu pikir mas lagi mikirin dia?"
"I don't know, “ Jawab blu sambil mengangkat bahu." Mungkin karena meskipun tas mbak dara masih ada, Aku nggak bisa menemukannya di mana mana tadi malam waktu aku keluar untuk mengambil minum. Mungkin karena pintu kamar tidur Mas tertutup, Dan Goldie masih ada di ruang TV. Atau mungkin karena Mbak dara baru keluar rumah lewat tengah malam dan mas jo mengantarkannya pulang."
Selama beberapa menit jo tidak bisa berkata kata. Dia hanya bisa membuka dan menutup mulutnya bekali kali seperti ikan maskoki. Jo merasakan wajahnya mulai memerah dan dia harus mengalihkan perhatiannya dari tatapan blu.
"Mas dan mbak dara hanya......" "Main catur?"Ledek blu.
Mau tidak mau jo terkekeh. Dia seharusnya tahu blu terlalu pintar untuk dibohongi
"Well, Not exactly, “ucap jo tersipu sipu. Man, Bagaimana mungkin dia membicarakan sex life nya dengan adiknya yang berumur enam belas tahun ini?
“ Aku harap mas setidak tidaknya pakai protection, “lanjut blu .
What?! Jo mencoba memutuskan apakah dia harus merasa bersyukur karena setidak tidaknya para guru SMA sudah mendidik murid murid mereka tentang safe sex, Atau khawatir bahwa mereka tahu tentang seks terlalu dini. " Apa kamu nggak terlalu kecil untuk bicara tentang seks?"
"Oh, Please..... Aku ini sudah enam belas tahun. Sekarang waktu yang tepat bagi para remaja dengan hormon mereka yang meledak ledak untuk tahu tentang seks dan segala tetekbengeknya. Aku malah lagi mikir mikir mau jadi advokat kampanye' Say no to sex' disekolah. Menurut mas gimana?"
Jo mendengus mencoba menahan tawa, Tapi gagal. Akhirnya dia melepaskan tawanya. Ah, Betapa dia mencintai adiknya yang bisa membuatnya tertawa ketika hatinya sedang hancur berkeping keping. "Menurut mas, Ide yang baik, Kamu mau terlibat dalam kampanye seperti itu. Mas dukung seratus persen. Penduduk indonesia sudah terlalu banyak, Kita nggak perlu menambahnya dengan anak di luar nikah yang hanya akan ditelantarkan orang tuanya."
Blu tersenyum senang, Lalu senyumnya perlahan laha menghilang, Diganti dengan tatapan khawatir. "So, What happened dengan mbak dara?"
Jo menarik napas dan akhirnya berkata, “ mas bilang bahwa mas cinta sama dia."
"Really? Ooohhh.... That is sooo..... Sweet, “ Teriak blu gembira sambil menemelkan tangannya di dada." Terus.... Terus... Mbak dara bilang apa?" Sambung blu semangat.
“ Dia bilang mas nggak akan bisa memberikan apa yang dia butuhkan. Dia menolak mas, “ Tandas jo.
Kini giliran blu yang kelihatan seperti ikan maskoki." What? No way. Are you serious? I thought... Tunggu sebentar. Ini nggak masuk akal sama sekali. Apa coba yang mas nggak punyai? Mas kan ganteng, Berpenghasilan tetap, Baik, Dan lucu lagi."
Jo hampir saja tertawa terbahak bahak melihat usaha blu membela harga dirinya.
"Yeah, Well... Sepertinya mbak dara memerlukan lebih dari itu semua." "Like what?"
"I don't know. Kamu kan perempuan, Begitu kamu bisa memikirkan apa itu, Let me know. Karena sampai sekarang mas masih bingung mikirin soal itu juga."
Mereka terdiam, Membiarkan suara lalu lintas dan iklan di radio mengisi kekosongan. Kemudian jo mendengar Rihanna menyanyikan tentang menemukan cinta" in a hopeless place."
Lagu itu betul betul menggambarkan kisah cintanya terhadap dara. Cinta yang sudah putus harapan dan membuat hatinya hancur berkeping keping. Jo langsung mengulurkan tangannya dan mematikan radio dengan sedikit ganas. Dari sudut matanya dia melihat blu sedang memperhatikannya dengan ingin tahu, Tapi tidak mengatakan apa apa.
Blu tidak berbicara lagi hingga bangunan rumah sakit sudah kelihatan." Apa mas mau akau menanyakan ke mbak dara?"
"Menanyakan apa?"
“ Tentang apa yang mbak dara perlukan dari mas, “ucap blu nggak sabar.
"No, no, no, mas nggak mau sama sekali kamu membicarakan hal ini dengan dia. Ditolak satu kali sudah cukup, Nggak perlu pakai dua kali."
“ Tapi....."
"Nggak pakai tapi tapi. Janji kamu nggaka kan ngomong apa apa ke mbak dara." “ Tapi aku cuma mau bantu."
“ Janji sama mas, Blu, “ Geram jo.
"Fine. Aku nggak akan ngomong apa apa ke mbak dara, “ gerutu blu sambil menyedekapkan tangannya dan cemberut.
Mereka tidak berbicara lagi sampai mereka melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Jo berhenti di meja
informasi, Mencoba mencari tahu di mana ina dirawat. Sekitar sejam yang lalu ketika sedang menunggu di depan gerbang sekolah blu, Jo menelepon revel untuk menanyakan dia mana sobatnya itu berada, Revel


memeberitahu jo bahwa dia sedang dirumah sakit karena air ketuban ina sudah pecah. Begitu blu masuk ke dalam mobil, Jo langsung menuju rumah sakit. Revel hanya memberitahukan rumah sakit tempat ina dirawat, Tapi saking paniknya tidak memberitahukan lokasi persisnya sebelum meutup telepon.
Mata mbak mbak di meja resepsionis sudah hampir meloncat keluar ketika melihat jo, Dan jo menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Hari ini dia betul betul tidak menikmati dipelototi oleh para wanita seolah dia hanyalah sepotong daging dengan wajah ganteng yang tidak memiliki perasaan. Tanpa perlu menanyakan identitasnya, Petugas resepsionis itu langsung memberikan informasi tentang lokasi ina. Jo segera menggandeng setengah memeluk blu dan lari menuju lift setelah mengucapkan terima kasih. Dari sudut matanya dia melihat beberapa orang sudah mulai mengikuti mereka.
Apa orang orang ini tahu bahwa revel juga ada di rumah sakit? Mungkin kalau mereka tahu itu, Merekaakan mengalihkan perhatian kepada revel. No, jo tidak akan melakukan hal sejahat itu kepada sobatnya yang dia yakini sudah cukup pusing memikirkan kelahiran anak pertamanya tanpa perlu lagi perhatian khalayak ramai. Ketika pintu lift terbuka di hadapannyA, jo langsung masuk dan untungnya pintu lift langsung tertutup sebeluma ada yang bisa mengikuti mereka.
Jo menemukan revel di ruang tunggu sedang mondar mandir dengan wajah pucat. Dia tidak pernah melihat sobatnya seperti ini dan itu membuatnya melupakan masalahnya sendiri untuk sementara waktu. Jo memanggil revel dan sobatnya itu kelihatan agak terkejut ketika melihatnya.
"Hey, Man, Are you okay?" Tanya jo ketika dia sudah berdiri di hadapan revel.
"Yeah, Just freaking out a little bit, “ ucap revel dan melarikan tangannya pada rambutnya." Thanks for coming, “ lanjutnya sambil tersenyum kepada blu.
Ketika mendengar itu jo tahu bahwa revel memang betul betul menghargai kehadirannya dan blu.
"So, Ina di dalam?" Tanya jo sambil mendudukkan dirinya di salah satu sofa yang tersedia di ruang tunggu yang kosong itu.
Revel mengikutinya sebelum mengangguk, Tapi tidak mengatakan apa apa. Matanya penuh kekhawatiran. “ Bukannya elo seharusnya ada di dalam selama dia kontraksi gitu?"Ledek jo.
“ Gue nggak bisa...." Revel berhenti, Seakan mengalamai masalah mengekspresika perasaannya dan sekali lagi melarikan tangannya pada rambutnya.
“ Gue nggak tega ngelihat dia kaya gitu, “ucap revel akhirnya. "Suster di dalam nyuruh gue keluar karena bikin ina panik."
Jo terkekeh dan harus berhenti ketika melihat tatapan revel padanya. Dia mengangkat kedua tangannya tanda menyerah dan mengucapkan kata maaf.
“ God, What was I thinking, Getting her pregnant. She's in so much pain right now because of me, “ bisik revel sambil menguburkan wajahnya pada kedua telapak tangannya.
Blu yang duduk berdekatan dengan mereka mengangkat alisnya, Bingung melihat produsernya yang biasanya super cool, Hari ini tidak menggambarkan kata itu sama sekali. Jo hanya tersenyum kepada blu yang memutuskan untuk mengeluarkan iPod dan sebuah buku pelajaran dari dalam tas sekolahnya. Semenit kemudian dia sudah tenggelam di dalam dunianya sendiri.
"I'm sure she'II be fine. Ina itu lebih kuat daripada yang elo pikir, “ Jo mencoba menenangkaN.
Dan usahanya sepertinya berhasil karena revel mengangkat kepalanya dan menatapnya. “ Gue sebaiknya nelepon keluarganya. gue nggak mau mereka harus mendengar ini dari media. Mereka akan mencincang gue kalau mereka tahu media tahu lebih dulu tentang ini daripada mereka, “ucap revel dan mengeluarkan HPnya.
Mendengar itu jo meringis dan revel menaikkan alisnya penuh tanda tanya.
“ Kemungkinan besar mereka sudah tahu karena tadi banyak orang yang negliat gue dan blu di bawah waktu gue minta informasi tentang ina."
Dan revel menyumpah sambil meluncurkan jempolnya pada layar iPod nya. Ketika dia melakukannyA, jo menyadarkan tubuhnya pada sofa.
"You look like hell, By the way, “ komentar revel yang kini sedang memasukan HP nya kembali ke kantong celananya.


Jo membuka matanya, Dia bahkan tidak sadar bahwa dia sudah tertidur. Sambil mencoba mengusir kantuk dan memfokuskan tatapanya pada sobatnya, Dia berkata, “ Dude, I am in hell."
Dara menyerahkan surat pengunduran dirinya pada hari pertama dia kembali bekerja setelah cutinya dan dia tidak melihat jo sama sekali selama dua minggu ke depan. Bahkan tidak ketika dia harus menjemput tante poppy dari bandara atau ketika dia membantu blu membereskan barang barangnya untuk dipindahkan dari rumah o kerumah tante poppy. Blu kelihatan agak dingin terhadapny, Dan tidak tahu kenapa. Awalnya dara berpikir blu tahu sesuatu tentang apa yang terjadi di antara dirinya dan jo, Tapi dia membuang jauh jauh dugaan itu ketika sadar bahwa blu adalah orang terkahir yang akan diceritai jo tentang apa yang terjadi di antara mereka.
Dara tahu bahwa dia tidak ada urusan untuk ingin berbicara atau bertemu jo lagi, tidak setelah apa yang sudah dia katakan kepada lelaki itu terakhir kali mereka bertemu. Meskipun begitu, Itu tidak menghentikannya dari menginginkannya untuk bertamu, Setidak tidaknya sekali saja sebelum kontrak kerjanya berakhir. Dia ingin memastikan jo baik baik saja. Namun pada hari terakhir dia harus bekerjA, jo masih tidak kelihatan.
Dara sedang duduk di sofa, Sendirian, Pada pesta perpisahannya setelah Sita permisi ke toilet ketika tante poppy meghampirinya. Harus diakuinya bahwa dia menyukai tante poppy yang menurutnya superrileks dan sangat terbuka sebagai orang tua, Berbeda sekali dengan jo superketat. Hanya ada tiga batasan yang diberikan tante poppy kepada blu, Yaitu jangan pernah menyentuh narkobA, jangan mencoba seks bebas, Dan harus menelepon kalau dia mau pulang lewat jam malam.
"Lagi nyariin siapa, Dara?" Tanya tante poppy ketika sadar dara sedang celingkukan.
"Nggak nyariin siapa siapa, “ Jawab dara cepat.
Tante poppy tersenyum dan duduk di sebelah dara." Dia berangkat ke phuket tadi malam." "Siapa yang ke phuket?” Tanya dara.
“ Jo, “ jawab tante poppy pendek dan dengan susah payah dara mencoba untuk tidak menganga.
“ Bagaimana... Dari mana...." Dara tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
“ Blu cerita ke saya tentang hubungan kamu dengan jo selama saya nggak ada. I've been kicking my self because I messed it. I would have love to see that."
"See what?"
“ Jo....in love...with you, “ucap tante poppy dan dia terkekeh.
Mata dara langsung melebar mendengar kata kata tante poppy. Pertama karena dia tidak menyangka blu tahu akan itu, Kedua bahwa blu menceritakannya ke tante poppy, Ketiga karena tante poppy sekarang sedang membicarakannya dengannya.
Oh! Siapa lagi yang tahu tentang ini?
"Omong omong, Saya mengerti kenapa kamu menolak dia. Kamu sudah punya tunangan yang akan kamu nikahi sebulan lagi. Lagi pula, Hal ini mungkin bisa jadi pelajaran bagi jo bahwa nggak semua wanita mau sama dia."
Dara mengerutkan keningnya, Tidak mengerti arah pembicaraan tante poppy.
“ Kamu mungkin nggak tahu ini, Tapi jo adalah orang paling insecure yang saya tahu. Kamu seharusnya lihat dia waktu masih belasan tahun. Saya nggak pernah liat anak laki laki yang bagitu menyendiri dan tertutup. Dia seperti membangun benteng di sekelilingnya, mencoba menghalangi orang untuk mendekat. That really broken my heart, Melihat dia s eperti itu. Saya belum sempat melakukan apa apa untuk membantunya sebelum papanya mengirimnya ke Singapura. Kami hilang kontak selama hampir sepuluh tahun, Sampai papanya meninggal dan jo terpaksa kembali ke jakarta."
Dara hanya berdiam diri, Karena dia tahu tante poppy masih jauh dari kata selesai.
“ Di surut wasiat papanya memintanya untuk menjaga blu, Dan di luar dugaan saya, Dia menerima tanggung jawab itu. Sampai hari ini saya suka bertanya tanya kenapa dia melakukannya. Dia nggak perlu melakukannya, Karena tuhan tahu dia nggak berutang apa apa kepada saya dan blu. Tapi harus saya akui bahwa saya berterima kasih akan kehadiran jo, Karena blu setidak tidaknya memiliki figur seorang laki laki di dalam kehidupannya. Jo memang jauh dari kata perfect, Tapi dia berusaha sebisa mungkin untuk blu.


Selama bebrapa tahun inilah saya jadi lebih mengenal anak tiri saya itu."
Tatapan tante poppy kelihatan menjauh secara fisik beliau memang masih berada di sampaing dara, Tapi pikirannya sudah tenggelam ke masa lalu.
“ Ternyata segala insecurities yang dia miliki waktu remaja justru semakin parah setelah dia dewasa. Entah gimana dia mendapatkan ide di kepalanya bahwa nggak ada orang yang peduli pada dia. Bahwa nggak ada orang yang mencintainya, Tidak peduli beberapa banyak orang di sekitanya yang mengantakan sebaliknya."
Tante poppy menggeleng dengan sedih sebelum menambahkan, “ saya menyalahkan kepada almarhum suami saya dan ekspektasinya yang terlalu tinggi terhadap jo tanpa menghabiskan banyak waktu dengan anaknya sendiri dan membantunya mencapai ekspektasi tersebut. Yang jo nggak tahu adalah bahwa papanya betul betul bangga padanya, Meskipun suami saya lebih baik memotong lidahnya sendiri daripada mengatakannya di depan jo. Dia betul betul kecewa ketika jo menolaknya untuk membiayai kuliahnya, Lebih memilih pergi ke jerman karena kuliahnya gratis."
Di dalam kepalanya dara mengatakan" Ooo." Selama ini dia memang selalu bertanya tanya kenapa jo memilih jerman dari pada negri lain untuk menekuni musik. Kini dia tahu jawabannya.
"Papa jo selalu berpendapat bahwa anak laki laki harus dikerasin, Nggak boleh di manja, Karena kalau di manja nggak aka jadi apa apa. Alhasil beliau mendidik jo seperti bangga sparta mendidik anak mereka, Sangat keras dan terkesan tidak peduli."
Tante poppy mendesah panjang sebelum menoleh, “ itu sebabnya ketika jo dengan rela menunjukkan rasa cinta dan mengucapkan kata cintanya kepada kamu adalah sesuatu yang sangat penting untuk saya, Blu, Dan semua orang yang peduli pada jo, Karena itu betul betul langka."
Mata dara membelalak, Dan seperti membaca pikiran dara. Tante poppy melanjutkan." Kamu sekarang mungkin berpikir bahwa semua ini hanya bullshit, Karena jo selalu menunjukkan bahwa dia tidak bermasalah gonta ganti wanita secepat dia mengganti pakaian. Well, Saya bukan psikologi, Jadi ini mungkin perasaan saya saja, Tapi satu satunya penjelasan yang saya bisa kasih ke kamu kenapa dia begitu adalah karena dia sedang mencoba mencari orang yang bisa mencintainya. Bukan jo sang selebritis, Tapi jo, Laki laki dengan masa kecil yang berantakan dan masalah emosi yang berjibun. Sayangnya selam ini sepertinya dia mencarinya di tempat yang slaha."
Dara tidak perlu menjadi seorang genius untuk tahu bahwa tante poppy sedang mengatakan bahwa beliau mengatagorikan dara ke dalam" tempat yang salah, “ dan entah kenapa itu membuatnya ingin membantahnya. Sesuatu yang tidak bisa dia lakukan kalau dia masih berniat menikahi panji. Akhirnya
Akhirnya dara hanya bisa bertanya, “ apa ada yang bisa saya lakukan untuk jo?"
Dia baru menyadari bagaimana pertanyaan ini mungkin terkesan tidak pada tempatnya ketika dia melihat senyuman yang diberikan tante poppy padanya. Senyuman itu penuh pengertian, Kekecewaan, Dan sedikit kesedihan. Kemudian beliau menggeleng.
“ Jo hanya perlu waktu untuk menerima keadaan ini. Kita semua harus mengalami patah hati untuk betul betul mengerti arti cinta, Kan? Saya hanya bisa berdoa semoga sesuatu hari dia bisa menemukan seseorang yang bisa mencintainya sedalam dia mencintai orang tersebut."
Dara merasa seperti ada orang baru saja melayangkan kapak ke dadanya. Mengoyok dadanya dengan paksa dan mengeluarkan jantung serta hatinya kemudian membakarnya, Sementara dirinya menonton selama semua itu berlangsung. Dia tidak bisa bernapas, Tatapannya mulai berkunaang kunang dan hatinya remuk. Remuk untuk jo, Juga untuk dirinya yang sudah melepaskan jo.
I'm an idiot, I'm an idiot, I'm an Idiot.
"Saya rasa itu sebabnya dia harus keluar dari jakarta untuk sementara waktu."
Kata kata tante poppy, Yang sama sekali tidak sadar akan efek dari kata katanya, Menyadarkan dara." Berapa lama jo akan berada di phuket?" Tanya dara dengan susah payah.
“ Bisa sehari, Seminggu, Atau sebulan, Tergantung pada...."
"Pada apa?"
Tante poppy tidak sempat menjawab pertanyaan dara ketika Sita muncul kembali dan menarik dara dari sofa. Selama sisa acara itu dara mencoba berbicara lagi dengan tante poppy, Tapi tahu tahu acara sudah berakhir dan tante poppy mengatakan bahwa mereka akan bertemu lagi pada hari pernikahan dara lalu menghilang bersama blu.
Malam itu dara pulang dengan perasaan berat. Pikirannya penuh dengan kata kata tante poppy dan pikirannya sendiri. Dia mempertimbangkan untuk menelepon jo. Dia sudah hampir menekan tombol" call" ketika dia mengurungkan niatnya. Dia nggak bisa berbicara dengan jo sekarang. Dia harus meluruskan kepalanya terlebih dahulu. Untuk mempertimbangkan segala skenario dan kensekuensi sebelum dai bisa mengambil keputusannya



DEVIL IN TH BLACK JEANS - ALIAZALEA - BAB 26

No comments:

Post a Comment