Tuesday, October 27, 2015

UNFORGIVEN HERO - BAB 9


9


“Elena.” Rafael meraih lembut jemari Elena yang melangkah menjauh. “Tolong dengarkan aku dulu.”
Elena menatap Rafael dengan marah. “Kenapa kau harus membawaku  ke dalam situasi  ini Rafael?  Dia,  perempuan  itu tampak sekali sangat membenciku, dan sepertinya ingin menyingkirkanku. Dan dia tahu bahwa kita sudah menikah dan berbulan madu, tetapi dia tetap datang dan tidak mempedulikanku.”
“Aku  akan   mengusirnya.   Segera.   Sementara   itu   kita harus menahan diri.” Rafael merangkum jemari Elena dan mengecupnya, “Aku juga membenci kehadirannya, Elena, lebih benci darimu. Tetapi Luna perempuan yang kejam. Aku takut kalau kita tidak hati-hati melangkah, dia akan berbuat jahat kepadamu.”
Elena  mendesah  kemudian  menghela  napas  panjang, “Iya Rafael, maafkan aku, mungkin aku terlalu bingung dengan ini semua.”
“Aku yang harus meminta maaf karena menempatkanmu ke dalam situasi seperti ini.” Rafael merengkuh Elena ke dalam pelukannya, “Kita akan mengatasinya bersama. Oke?”
“Oke.”  Elena memejamkan  matanya dan  menempelkan pipinya ke dada Rafael yang hangat. Membiarkan lelaki itu membuainya.
Sementara itu di depan pintu kamar tamu yang terbuka di  lantai  dua.  Luna  berdiri  dan  menatap  ke  bawah. Pemandangan dua pasangan yang saling berpelukan mesra itu tampak jelas dari atas. Membakar hatinya, membuat matanya menyala penuh kebencian.
Elena…Aluna…Dua nama itu begitu mirip ketika diucapkan. Namanya sebenarnya Aluna, tetapi dia tidak sudi dipanggil dengan nama itu. Karena nama itu mengingatkannya dengan sebuah nama lain yang selalu membuat dadanya sakit ketika mendengarnya, “Elena”. Terlebih ketika Rafael, laki-laki yang  sepenuh  hati  ia  cintai  menyuarakan  nama  itu  ketika mereka  bersama.  Dan  kini  kebencian   itu  semakin membakarnya, ketika pada akhirnya ia bertemu dengan pemilik nama yang sangat ia benci itu.

Ҩ

Rafael  duduk dengan  gusar di ruang  kerjanya.  Elena tadi tertidur di ranjangnya, dan menolak bercinta dengannya. Kedatangan Luna telah merusak moodnya. Tentu saja, perempuan  mana  yang  tidak  rusak  moodnya  ketika menghadapi  bahwa  mantan  kekasih  suaminya  dengan  tidak tahu malu menyusul mereka di saat mereka sedang berbulan madu.
Tetapi Rafael tidak bisa bertindak gegabah. Luna perempuan pandai yang licik dan sedikit jahat ketika ingin mencapai tujuannya. Dia akan menggunakan segala cara untuk memperoleh  apa yang dia mau. Meskipun  itu harus melindas orang lain. Tadi, Luna sudah menyiratkan ancaman ketika mengatakan ‘nama Elena membuatnya terkenang akan masa- masa indahnya’
Rafael tahu persis apa maksud perkataan Luna. Dia menyiratkan bahwa dia akan memberitahu Elena bahwa Rafael sering menggunakan Luna ketika mereka bercinta, dengan memanggil dan menganggapnya sebagai Elena.
Dengan frustasi Rafael mengacak  rambutnya,  kenapa Luna   menyusul   kemari?   Dia   tidak   habis   pikir.   Hubungan mereka sudah berakhir. Rafael sudah mengakhiri hubungan mereka baik-baik dan waktu itu Luna tampak menerimanya dengan  baik pula. Apakah  pada saat itu Luna masih berpikir bahwa  Rafael  akan  kembali  kepadanya?  Dan  ketika  ternyata Rafael  menikah  dengan  Elena,  hal  itu  memicu  sifat  posesif perempuan itu?
Rafael harus mencari cara untuk menyingkirkan Luna dari pulau ini. Jauh-jauh dan tidak akan kembali lagi untuk mengacaukan hidupnya. Tetapi dia harus berhati-hati melakukannya.

Ҩ

“Makanan ini enak sekali.” Luna sepertinya sudah berdandan habis-habisan untuk makan malam mereka. Gaun sutranya panjang dan berwarna keemasan, nampak membungkus tubuh indahnya dengan sempurna dan indah. “Mungkin aku harus membujuk kokimu supaya mau ikut denganku.”
“Alfred  tidak  akan  mau.  Baginya  pulau   ini  adalah rumahnya.”
Luna   tersenyum   sensual   kepada   Rafael,   “Ah,   kau seperti lupa bagaimana caraku membujuk dan merayu.. Rafael, mungkin  aku  harus  mencari  kesempatan  untuk mengingatkanmu kembali.”
Elena hampir tersedak mendengar rayuan yang diucapkan dengan gamblang  itu. Oh Astaga, apakah dia harus menghadapi itu setiap hari ketika Luna ada di sini? Dia merasakan sengatan perasaan aneh setiap Luna merayu Rafael entah dengan bahasa tubuhnya ataupun dengan kata-kata tersiratnya. Seperti sengatan perasaan marah yang membuat dadanya  panas.  Membuatnya  terdorong  untuk menyembunyikan  Rafael di balik punggungnya,  lalu menghadapi Luna dengan galak sambil berteriak ‘Rafael adalah Suamiku’.
Apakah dia merasa cemburu? Elena mengernyitkan keningnya sambil mengaduk-aduk makanan di piringnya. Oh astaga. Kalau benar dia cemburu berarti dia mempunyai perasaan lebih kepada Rafael. Apakah dia mencintai lelaki itu? Mungkin saja. Mungkin saja dia sudah mencintai lelaki itu tanpa sadar di saat-saat kebersamaan mereka yang menyenangkan, di saat-saat percintaan mereka yang penuh gairah sekaligus kelembutan. Mungkin saja Elena sudah mencintai Rafael.
“Kenapa kau tidak menyantap makananmu Elena?” Rafael berbisik lembut kepada Elena yang duduk di sisi kirinya, mengamati  isi  piring  Elena  yang  tetap  utuh  tidak  disentuh, hanya dimain-mainkan di piring.
“Aku sedikit tidak enak badan.” Elena tidak berbohong, tiba-tiba saja dia merasa pening.
Rafael langsung menyentuh dagunya, membuat Elena mendongak menatapnya, lalu mengamati wajah Elena dengan cemas, “Kau sakit sayang? Ada dokter di desa, aku akan memanggilkannya untukmu.”
“Tidak perlu.” Elena meringis, “Mungkin aku hanya perlu tidur lebih awal.”
“Aku  akan  mengantarmu.”   Rafael  hendak   beranjak sambil menghela Elena ketika Luna bergumam,
“Adyang  perlu  kubicarakan  denganmu  Rafael, penting. Setelah kau mengantaistrimu, aku menunggumu  di perpustakaan.”
Rafael  tidak  menjawab,  hanya mengucapkan  permisi dengan  sopan.  Lalu  membimbing  Elenke  kamar, meninggalkan Luna sendirian di ruang makan.

Ҩ

Rafael membaringkan Elena dengan lembut dan menyelimutinya,
“Kalau pusingmu tidak membaik, aku akan memanggil dokter.”
“Aku   cuma   perlu   tidur.”   Elena   tersenyum   lembut kepada Rafael.
Rafael duduk di tepi ranjang dan membalas senyuman lembut Elena, diusapnya  rambut di dahi Elena dengan penuh sayang, “Luna bisa tidak tertahankan kalau dia mau. Jangan sampai dia membuatmu sakit. Dia akan senang kalau berhasil melakukannya.” Dengan hati-hati dikecupnya dahi Elena, “Tidurlah sayang, semoga ketika kau bangun nanti,  pusingmu sudah hilang.”
“Mau   kemana?”   Elena   berseru   tanpa   sadar   ketika Rafael berdiri dan hendak menjauh dari ranjang. Rafael tersenyum meminta maaf,
“Aku akan ke perpustakaan. Aku ingin tahu apa yang ingin dibicarakan Luna, sehingga aku bisa tahu apa tujuannya datang ke sini, mungkin  aku bisa mengusirnya secara halus.” Jemari Rafael menyentuh ujung jari Elena dengan lembut, “Jangan cemas. Aku akan membereskan semuanya,”
Sepeninggal Rafael, Elena berbaring dengan mata nyalang semakin merasa pening. Tadi dia menahan diri sekuat tenaga untuk tidak berteriak dan mencegah Rafael pergi dari kamar ini. Jauh di dalam hatinya dia tidak mau Rafael pergi dan menemui perempuan cantik itu. Bagaimana kalau Rafael jatuh dalam godaan Luna? Perempuan itu begitu cantik, dan suasana perpustakaan di malam hari begitu intim.... dan mengingat betapa gigihnya Luna, tidak menutup kemungkinan perempuan itu akan berhasil merayu Rafael bukan?
Ingin sekali Elena menyusul ke perpustakaan, sekedar untuk memastikan,  atau mungkin  mencuri dengar. Tetapi dia menahan diri. Tidak. Dia harus mempercayai Rafael.

Ҩ

“Sekarang  kita tinggal  berdua  saja.”  Luna tersenyum menggoda dan menghempaskan dirinya di sofa empuk di perpustakaan itu, dia lalu menyilangkan kakinya dengan menantang, “Duduklah Rafael, terasa aneh kalau kita berbicara berjauhan begini.” ajaknya kepada Rafael yang dari tadi berdiri sambil bersandar di meja kerjanya di ujung ruangan. Wajah Rafael tampak dingin, tidak menanggapi ajakan Luna. “Kenapa kau kemari Luna, apa tujuanmu?”
“Apakah   tidak   boleh?   Aku   merindukanmu   Rafael, merindukan saat-saat kita bersama.”
“Aku sudah beristri dan sekarang sedang berbulan madu. Kurasa itu sudah cukup jelas untukmu.”
‘Kau sudah beristri atau tidak, sama sekali tidak ada pengaruhnya untukku. Aku tetap bersedia menjadi kekasihmu. Tempatmu   melampiaskan   gairahmu.”   Suara   Luna   menjadi serak dan sensual, seperti ajakan untuk bercinta Rafael  menyipitkan  matanya.  Wajah  tampannya nampak mengeras, menahan amarah.
“Aku tidak  butuh kekasih  karena  aku sudah beristri.
Aku sudah punya tempat untuk melampiaskan gairahku.”
Kata-kata Rafael itu langsung menggores hati Luna, membuatnya terbakar cemuru yang luar biasa. Tetapi tentu saja perempuan  itu  tidak  membiarkan  Rafael melihatnya.  Dia lalu berdiri   dan   mendekati   Rafael,   mereka   berhadap-hadapan dengan begitu dekatnya,
“Aku bisa lebih hebat dari perempuan manapun menyangkut  soal seks. Kau juga mengakuinya  kan? Bertahun lamanya  kau  tidak  bisa  melepaskan  diri  dariku,  kau  selalu datang kepadaku ketika kau bergairah, dan aku yakin, perempuan seperti dia tidak akan bisa menyaingiku.”
Rafael memalingkan mukanya dengan jijik. Elena memang tidak bisa dibandingkan dengan Luna. Bukan karena teknik di ranjangnya. Tetapi karena Elena telah berhasil memuaskan Rafael, secara fisik, dan secara batin. Itu yang tidak dapat dilakukan oleh Luna, dan karena itulah Rafael meninggalkannya.
Ketika Rafael kembali menatap Luna, pandangannya begitu dingin, “Jangan ganggu Elena, atau aku akan membuatmu menyesal.” Luna  memundurkan  langkahnya,  mengenali kemarahan menakutkan dalam diri Rafael. “Diakah perempuan yang selalu kau panggil ketika bercinta denganku?” Suara Luna mulai goyah, tidak bisa lagi menutupi emosinya.
Rafael menatap Luna dengan tajam. “Ya.”
Sebuah tamparan keras langsung mendarat di pipi Rafael. Tamparan dari Luna, begitu kerasnya sampai membuat pipi   Rafael   terasa   panas.   Tetapi   dia  diam   dan   membeku, menatap  Luna tanpa ekspresi.  Mungkin  dia pantas menerima tamparan ini.
Mata Luna berkaca-kaca, kebencian dan kemarahan meluap dari dalam dirinya, ketika dia berbicara, suaranya gemetar, “Padahal aku mencintaimu....” Luna mulai terisak, “Dan aku  menahan  kepedihan  ketika  kau  memanggil  nama wanita lain  setiap  bercinta  denganku.  Aku  bertahan....  tetapi  kau... kau....  kau  sungguh  lelaki yang  tidak  punya  hati!“  Luna tidak dapat  melanjutkan  kata-katanya  lagi.  Dia  membalikkan tubuhnya dan setengah berlari pergi.
Sementara  itu Rafael membeku  beberapa  lama setelah Luna pergi. Kemudian jemarinya mengusap bekas tamparan di pipinya.
Oh Astaga. Luna mencintainya?

Ҩ

“Dia    bilang    dia   mencintaiku.”    Rafael    menelepon Victoria dengan frustasi sesudahnya.
Victoria   mendesah   di   seberang   sana.   “Pantas   dia berani mengejarmu sampai ke sana.” suaranya lalu berubah serius, “Kau tidak bisa membiarkannya tetap di sana Rafael, kau harus menyuruhnya pergi dari pulau itu.”
“Bagaimana  caranya?  Aku  tidak  mungkin  menyuruh orang menyeretnya dan melemparkannya ke perahu boat.” Victoria  tercenung.  Lama.  “Aku  juga  bingung bagaimana caranya. Mungkin kau harus memintanya baik-baik untuk pergi.”
“Dia baru saja menangis dan berlari meninggalkanku karena patah hati, lalu keesokan harinya aku mengatakan padanya bahwa dia harus pergi? Aku akan jadi lelaki tak berperasaan kalau melakukannya.”
‘Pikirkan   Elena   kak,   kau   akan   menjadi   lelaki   tak berperasaan kalau kau membiarkan Luna tetap di sana.”
Rafael  tercenung.  Elena.  Dia  tahu  persis  kehadiran Luna  di  sana  amat  sangat  menyakitkan  hati  Elena.  Victoria benar, kalau Luna terus ada di rumah ini. Apa yang sudah dibangunnya bersama Elena bisa hancur pelan-pelan. Dia harus menyuruh Luna pergi dari rumah ini. Besok.

Ҩ

“Apakah  kau  baik-baik  saja?”  Rafael  menemui  Luna yang sedang sarapan sendirian di ruang makan keesokan paginya. Elena masih tidur, dan Rafael tidak mau membangunkannya karena istrinya itu tampak sangat lelap.
“Aku baik-baik saja.” Luna tampak lebih memilih buah- buahan untuk sarapannya, dia sedang menyuapkan sebutir cherry berwarna merah pekat ke dalam mulutnya.
“Mengenai kemarin, aku ingin meminta maaf. Aku tidak pernah tahu kalau kau mencintaiku. Kalau saja aku tahu, aku tidak akan melakukan apa yang kulakukan dulu kepadamu. “
“Sekarang kau tahu dan itu tidak mengubah apapun bukan?” Luna tersenyum sedih, “Aku memang bodoh, berpikir bahwa aku masih mempunyai harapan.”
Rafael menghela napas, “Aku sungguh minta maaf kepadamu.   Mungkin   kau   harus   meninggalkan   rumah   ini segera.”
Luna menatap Rafael tajam, “Kau mengusirku Rafael?”
”Aku harus melakukannya, Maaf. Tetapi kau tidak bisa tinggal di sini lebih lama. Aku sedang berbulan madu, dan kehadiran seorang mantan kekasih sungguh tidak bisa diterima. Aku harap kau mengerti.”
Luna menatap Rafael dengan pahit, “Dia, Elena, istrimu itu, sudah kau cintai sejak lama bukan?”
Rafael menganggukkan kepalanya. “Ya,”
“Apakah dia tahu betapa beruntungnya dia? Dicintai olehmu sejak lama?”
Rafael menggelengkan kepala, “Tidak dia tidak tahu, tetapi itu tidak masalah. Aku sudah memilikinya sekarang.”
Luna menatap Rafael dalam-dalam, lalu tersenyum sedih dan mengangkat bahunya, “Kurasa memang sudah tidak ada gunanya aku ada di sini. Aku akan mengemasi barang- barangku dan pergi siang nanti.” Dengan cepat dia beranjak meninggalkan Rafael dan suara langkahnya terdengar menaiki tangga, menuju kamar tamu. Beberapa detik kemudian, Rafael yang masih ada di ruang makan, dikejutkan oleh suara pekikan diikuti suara jatuh berdebam. Dengan segera dia melangkah ke arah tangga, Di sana Luna duduk dengan wajah meringis kesakitan.  Para  pelayan  mengerubunginya,  Luna mendongakkan  wajahnya dan menatap  Rafael kesakitan, “Tolong Rafael... sepertinya kakiku terkilir,”

Ҩ

Suara ribut-ribut di luar membuat Elena terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih pening, tetapi dia ingin tahu. Dengan pelan dia melangkah terhuyung-huyung ke pintu, ingin mencari tahu apa yang terjadi.
Pemandangan di depannya sungguh tidak menyenangkan.  Membuat  jantungnya  serasa di remas  hingga nyeri. Dari kamarnya di bagian atas, dia bisa melihat jelas ke bawah. Di sana tampak Rafael sedang memijat dan mengelus kaki Luna yang terduduk kesakitan. Sepertinya kaki Luna terkilir....  tetapi kenapa Rafael  harus  memijit  kakinya  dengan cara yang intim seperti itu?
Lalu Rafael berdiri, setengah membungkuk dan dengan lembut merengkuh Luna ke dalam pelukannya dan dengan gerakan  cepat mengangkat  Luna dan  menggendongnya.  Luna tampak sangat menikmati keintiman itu, dia melingkarkan lengannya di leher Rafael dan menyandarkan kepalanya di dada Rafael.
Rafael hanya ingin menolong Luna. Dia kan sedang terkilir? Kenapa dia harus cemburu? Tidak seharusnya dia merasa cemburu.
Elena langsung  menyembunyikan  dirinya kembali ke kamar, ketika Rafael melangkah menaiki tangga sambil menggendong   Luna,   menuju   ke   kamar   tamu.   Tetapi   dia memang cemburu. Pemandangan itu membuatnya marah, membuatnya tidak rela, membuatnya ingin mengatakan bahwa Rafael adalah miliknya.
Tidak bisa dipungkiri... Elena sudah jatuh cinta kepada Rafael Alexander....

Ҩ

“Sebenarnya dia sudah mau pergi hari ini, tetapi dia jatuh dari tangga dan terkilir, kini dia baru bisa pergi setelah dia bisa berjalan. Aku tidak mungkin mengusirnya  sekarang.” Rafael menjelaskan  ketika Elena bergabung  di ruang sarapan setengah jam kemudian. “Maafkan aku Elena atas situasi yang makin buruk ini.”
Elena menyesap kopinya dan mencoba tersenyum kepada  Rafael,  “Tidak  apa-apa  Rafael,  lagipula  sangat  tidak sopan mengusir tamu yang sedang sakit.”
Rafael menatap Elena tajam, seolah ingin   mengupas hatinya, “Dia tidak akan mengganggu lagi. Aku sudah mengatakan kepadanya kalau aku mencintaimu. Dan dia tidak bisa mengharapkan apapun dariku.”
Dan  akupun  juga  mencintaimu  Rafael...  Elena bergumam dalam hati tentu saja, dia masih tidak berani mengungkapkannya,  takut  akan  reaksi  Rafael  nantinya. Dadanya terasa sesak dan campur aduk, sehingga dia memilih menyimpannya dulu, dan mengungkapkannya nanti, kalau dia sudah lebih yakin.

Ҩ

“Maafkan aku tidak ada pagi tadi ketika kau jatuh, ini obat dari dokter  untuk diminum kalau nyeri di kakimu  tidak tertahankan.” Elena meletakkan obat itu di meja di samping ranjang Luna. Melirik sedikit kepada kaki Luna yang sudah dibebat dengan perban elastis berwarna cokelat, tiba-tiba bertanya-tanya dalam hati. Apakah Luna sengaja menjatuhkan dirinya di tangga, agar terluka atau terkilir sehingga kepergiannya dari rumah ini tertunda? Ah tidak! Elena mengerjapkan  mata,  mencoba  menghilangkan  pemikiran negatif itu. Dia tidak boleh berburuk sangka kepada perempuan ini.
“Kalau kau butuh apa-apa, bunyikan saja bel, pelayan akan datang, Istirahatlah, aku pergi dulu.” Elena melangkah meninggalkan  kamar itu. Sementara Luna dari tadi diam saja dan tidak menjawab pertanyaannya.
“Kau pasti sangat bahagia kalau tahu.”
Suara Luna yang dingin membuat Elena menghentikan langkahnya, dia sudah sampai di ambang pintu.
“Tahu tentang apa?”
Luna mencibir dan menatapnya benci, “Tahu bahwa Rafael  sudah mencintaimu  sejak  lama.  Kau  sangat  beruntung tapi kau bodoh karena tidak menyadarinya. Dan aku membencimu karenanya.”
Elena mengernyitkan keningnya, “Bagaimana mungkin Rafael mencintaiku sejak lama?” bukankah mereka baru berkenalan, dan ketika Rafael menjalin hubungan dengan Luna, Elena belum kenal Rafael? Air mata tiba-tiba mengalir di sudut mata Luna yang indah, membasahi pipinya, “Dulu setiap dia bercinta denganku, dia selalu memanggil namamu. ‘Elena’... begitu bisiknya, dengan lembut dan penuh perasaan cinta.... dia tidak pernah memanggil namaku dengan lembut... tidak pernah satu kalipun dia memanggil namaku seperti itu!!” tangis Luna pecah dan dia terisak-isak,  “Aku  membencimu  karena  itu! Aku sangat  benci kepadamu!”
Elena  menatap  bingung  ke arah  Luna  yang  tersedu- sedu. Bingung akan perkataan Luna, tetapi sepertinya perempuan itu terlalu histeris untuk menjelaskan lebih lanjut. Sambil menghela napas, Elena melangkah pergi meninggalkan kamar tamu.

Ҩ

Edo  menemukan  informasi  itu  begitu  saja.  Dia menelusuri semua petunjuk yang ada. Dan kemudian menemukan potongan berita dari softcopy arsip koran di perpustakaan nasional. Berita kecelakaan itu, antara Rafael Alexander, putra milyuner kaya yang menikahi wanita Spanyol. Kecelakaan itu menewaskan seorang supir taksi tua yang kebetulan melintas. Menjadi korban tak berdosa yang tewas karena kemungkinan Rafael mengebut sambil mabuk bersama teman-temannya dan menerobos lampu merah.
Apakah ini Rafael Alexander... Mr. Alex yang sama? Edo masih merasa tidak  yakin.  Mr. Alex adalah lelaki jenius  yang tampak begitu kompeten dan dingin. Edo selalu berpikir bahwa masa muda lelaki itu dihabiskan untuk belajar dan bersekolah tanpa henti.... Tetapi ini... berkendara sambil mengebut, mabuk dan  ugal-ugalan  menerobos  lampu  merah,  dan  menewaskan satu  orang  pula,  sungguh  perbuatan  tak  bertanggung  jawab. Jauh sekali dari cerminan Mr. Alex yang dikenalnya.
Tetapi artikel ini tak mungkin salah. Meskipun jarang disebut dan seolah memang disembunyikan. Mr. Alex jelas-jelas putra dari milyuner Alexander itu.... Rafael Alexander di artikel ini sudah pasti sama dengan Mr. Alex atasannya itu. Edo melanjutkan membaca artikel itu dengan teliti, dikatakan bahwa permasalahan kemudian diselesaikan secara kekeluargaan. Rafael Alexander tidak pernah dibawa ke pengadilan. Dan keluarga supir taksi yang miskin itu juga tidak pernah dikabarkan lagi.
Edo mencari-cari artikel lain bertanggal sama yang membahas kecelakaan itu, dan menemukan artikel lain yang membahas  keluarga si supir taksi. Dia tertegun, lalu matanya membelalak kaget. Foto yang sedang berduka di artikel itu... meskipun masih belia dan begitu muda, itu sudah pasti adalah Elena. Edo menelusuri artikel itu dan menahan napas ketika menemukan kalimat yang menerangkan bahwa supir taksi itu meninggalkan   seorang   putri   tunggal   bernama   Elena   dan seorang isteri.
Benaknya langsung menghubungkan semua benang merah itu. Jadi begitu rupanya. Semua ini sudah direncanakan oleh Mr. Alex. Semua yang berhubungan dengan Elena sudah diatur oleh lelaki itu, tanpa sepengetahuan Elena pastinya. Edo yakin Elena tidak tahu apa-apa  tentang hal ini.

Dengan  bergegas  dia  melangkah  pergi,  benaknya dipenuhi tekad yang kuat untuk segera menemui Elena nanti ketika dia   bisa menjangkaunya. Akan dikatakannya kepada Elena, bahwa perempuan itu sudah menikahi pembunuh ayahnya....

No comments:

Post a Comment