Tuesday, October 13, 2015

SLEEP WITH THE DEVIL - SANTHY AGATHA - BAB 13



BAB 13

Lana mundur dengan tidak nyaman. Membiarkan Mikail Raveno masuk ke rumahnya sama seperti membiarkan iblis menguasai kehidupannya. Tetapi tidak ada pilihan lain. Mereka harus berbicara, panjang lebar. Dan mereka tidak mungkin berbicara di ambang pintu seperti ini.
Lana memiringkan tubuhnya mempersilahkan Mikail masuk ke rumahnya yang mungil tetapi indah itu. Mikail langsung duduk di sofa cokelat itu, tampak nyaman, kemudian melepaskan kacamata hitamnya dan meletakkan di meja,
“Apa yang kau rencanakan di hari ulang tahunmu?,” Mikail mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
“Tidak ada,” Lana punya cheese cake strawberry di kulkasnya. Tapi itu untuk dia makan sendiri nanti malam.
Tanpa gangguan Mikail.
Mikail menatap Lana seolah mengukur-ukur, “Aku bisa mengadakan pesta untukmu”
“Aku tidak butuh pesta darimu”
“Hmm,” Lelaki itu mendesah, lalu ketika menatap Lana, tatapannya berubah serius, “Kau tahu kan kenapa aku kemari?”
Lana mengangguk, “Dan sebelum kau katakan maksudmu, aku ingin membuat penawaran baru untukmu”
“Penawaran?,” Mikail mengangkat alisnya, “Oke jelaskan”
“Aku akan mengembalikan semua uang yang pernah kau berikan kepada ayahku”
“Lana,” Mikail terkekeh, “Utang itu begitu besar hingga kau mungkin hanya bisa menggantinya dengan tubuhmu. Tidak.
Aku menolak penawaranmu. Dan kau…,” mata Mikail berubah sensual, “Kau akan menjadi isteriku sebentar lagi sesuai perjanjian”

***

“Aku bukan barang yang bisa dibeli seenaknya, dan kenapa kau begitu santai?? Ini masalah pernikahan bukan jual beli perusahaan”
“Aku hanya ingin kau menjadi isteriku,” Mikail bersedekap, menatap Lana yang mulai emosi, “Itu sudah kutetapkan sejak awal mula”
“Kenapa?,” Lana tidak bisa menahan suara tajam di lidahnya, “Karena kau ingin menjadikanku boneka pengganti Natasha?”
Wajah Mikail mengeras ketika Lana menyebut nama Natasha, bibirnya mengetat, “Jangan hubung-hubungkan dia dengan ini semua”
“Bagaimana aku bisa tidak menghubungkan?,” Lana sudah menahan diri, tetapi suaranya meninggi, “Semua ini karena  wajah ini, karena wajah yang sama dengan almarhumah isterimu! Kau tidak bisa menganggapku sebagai penggantinya Mikail! Kami orang yang berbeda, dan aku menolak diperlakukan seperti itu!”
“Aku tahu kalian orang yang berbeda,” Mikail berdiri di depan Lana, siap berkonfrontasi, “Percayalah, aku benar-benar tahu, karena gairah semacam ini, tidak pernah kurasakan dengan siapapun!”
Lelaki itu meraih Lana ke pelukannya dan langsung mencium bibirnya. Dengan lembut. Tidak memaksa seperti biasa, dengan pelan dia menguak bibir Lana, mencicipinya pelan pelan kemudian melumatnya lembut. Lidahnya menelusuri seluruh bibir Lana dan kemudian bermain-main dengan lidah Lana, mencecapnya habis-habisan. Ketika akhirnya ciuman itu selesai mereka sama-sama terengah-engah, 
“Apakah pada akhirnya kau mengakui kalau kau merindukanku?”
“Dalam mimpimu, Mikail Raveno,” Lana menjawab dengan ketus, membuat Mikail terkekeh geli.
“Kita adalah pasangan yang sangat cocok,” Mikail mendekatkan tubuh Lana ke tubuhnya, dalam rangkuman dadanya, “Kaitkan kakimu di kakiku”
Lana menatap Mikail dengan cemas, “Apa yang sedang kau coba lakukan Mikail?”
“Lakukan saja sayang,” jemari Mikail menyentuh paha Lana. Mungkin sudah waktunya mereka berhenti berkata-kata dan berkomunikasi dengan bahasa nonverbal yang sudah sangat mereka kuasai.
Jemari Mikail membimbing agar paha Lana melingkarinya, “Aku ingin menunjukkan padamu, bahwa kau tidak akan diperlakukan sebagai boneka. Kau bukan boneka, boneka hanya untuk dipajang di dalam rak. Aku ingin kau berada di tanganku, untuk disentuh, dipuaskan dan dimiliki dengan cara yang kusuka.
Lana terkesiap, merasakan jemari Mikail menyelusup ke balik roknya dan menyentuh bagian tubuhnya yang paling sensitif.
“Ya sayang… seperti ini… “, Mikail mendesah di telinga
Lana, ia menyelipkan satu jari dan mencumbu Lana, berusaha sepelan mungkin meski hasratnya sudah hampir menggelegak,
Lana terpekik dan mencengkram pundak Mikail dengan erat. Mikail menunduk, tangannya yang bebas meraih tali atasan Lana dan menurunkannya, untuk membuka jalannya ke payudara Lana. Saat tangan Mikail menangkup payudaranya, Lana mengigit bibir Mikail,
“Menggigit, Lana?,” Mikail menyeringai, “Ck…ck…ck,” jari Mikail bergerak lebih dalam lagi.
Gairah bercampur penentangan berkelebat di mata Lana ketika menatap Mikail, “Kau akan membayar untuk semua ini, Mikail Raveno”
Mikail mulai mencium leher Lana, bertanya-tanya apakah Lana tahu betapa menggairahkannya dirinya dengan bagian atas kemejanya yang terbuka, menampilkan sebagian payudaranya yang begitu indah. Rambutnya tergerai berantakan di bahu dan sebelah kakinya melingkari pinggul Mikail dengan lembut. Mendadak Mikail tidak sanggup menahan diri lagi.
Dan ia pun bercinta dengan Lana-nya yang cantik. Saat itu juga hingga mereka berdua sama-sama dibutakan oleh hasrat yang membara.

***

Mikail mengetatkan pelukannya ke punggung Lana yang setengah tertidur, dipeluknya Lana yang masih lemas setelah orgasme yang mereka lalui. Lana akan menjadi isterinya. Bahkan ketika Lana menolak Mikail dengan kata-kata, Mikail tahu bahwa tubuh Lana tidak akan mampu menolaknya.
“Setelah ini apakah kau akan menerima lamaranku?”
Lana terdiam, memejamkan matanya dalam pelukan Mikail. Masih bertanya-tanya mengapa bercinta dengan seorang pria berbaju lengkap sementara dirinya sendiri telanjang bisa terasa begitu erotis. Walaupun sekarang ia tidak tahu bagaimana mereka bisa berakhir di ranjang ini, di tempat tidur ini. Dia sekarang telanjang bulat, tanpa sehelai benangpun. Pakaiannya bertebaran dari ruang tamu sampai ke lantai di sebelah.
Mikail benar-benar serius dengan apa yang dikatakannya. Ini akan menjadi pernikahan tanpa cinta. Lana memejamkan matanya, setidaknya bukan dari dirinya.
Ketika mengetahui bahwa Mikail bukanlah penyebab kematian kedua orangtuanya, perasaan Lana langsung terjun bebas, jatuh ke dalam pesona Mikail yang begitu deras.
Lelaki ini luar biasa pandai bercinta, dan dia sudah memiliki tubuh Lana. Kalaupun Lana menolak lamarannya, Lana yakin Mikail tidak akan pernah melepaskannya, apalagi membiarkannya menjalin hubungan dengan lelaki lain.
“Apakah kalau aku menolak kau akan memaksaku?,” Lana menyuarakan pertanyaan di dalam pikirannya.
Hening sejenak, lalu Mikail mengusap punggung Lana dengan lembut,
“Mungkin,” lelaki itu menghela nafas panjang, “Lana. Aku bukan lelaki baik, mungkin kita akan menghabiskan hari-hari kita dengan penuh pertengkaran dan meledak-ledak. Tapi kau harus tahu satu hal, aku akan menjaga isteriku”
Ucapan itu bagaikan janji, yang diungkapkan di kegelapan kamar itu. Tetapi pertanyaan-pertanyaan masih berkecamuk di benak Lana. Kalau kau tidak mencintaiku kenapa kau ingin menikahiku? Bahkan Lana sudah tahu jawabannya. Karena wajahnya, karena dia begitu mirip dengan kekasih sejati Mikail.
Kalau Lana mengambil resiko dengan menikahi Mikail, akankah suatu saat nanti Mikail akan benar-benar memandang wajahnya dan mengakui bahwa itu Lana? Bukan Natasha? Akankah suatu saat nanti Lana diakui sebagai suatu pribadi yang asli, bukan pengganti dari siapapun? Resikonya terlalu besar. Tetapi godaan untuk jatuh ke dalam pelukan iblis ini terlalu menarik untuk dilepaskan.
“Ya Mikail. Aku bersedia menjadi isterimu”
Mikail memejamkan matanya dan memeluk Lana erat, “Dan aku berjanji padamu, kau akan dijaga sebaik-baiknya.
Begitu saja lamaran itu, tanpa pernyataan cinta yang romantis, tanpa perasaan menggebu-gebu yang biasanya dimiliki oleh pasangan yang terlibat romansa. Lana tidak pernah membayangkan bahwa dia akan dilamar dengan cara seperti itu.

***

Pernikahan itu, karena dilaksanakan dengan gaya Mikail Raveno, menjadi sebuah pesta pernikahan yang luar biasa mewah. Segalanya yang terbaik. Gaun Lana didatangkan langsung dari Perancis, makanannya yang paling enak, langsung dari restaurant milik Mikail. Perempuan-perempuan menatapnya iri dan para lelaki memujinya karena pada akhirnya bisa membuat Mikail Raveno berlabuh. Semua perempuan pasti memimpikan pesta pernikahan yang seperti ini, pesta pernikahan yang bagaikan mimpi untuk puteri di negeri dongeng.
Tetapi tidak dengan Lana. Tiba-tiba dia dihinggapi ketakutan yang diam-diam melandanya. Dia sekarang sudah menjadi isteri Mikail Raveno. Tetapi bayang-bayang isteri Mikail Raveno yang terdahulu, Natasha yang cantik, yang sebenar benarnya ada di hati Mikail terasa menyesakkan dadanya.
Dan malam ini, di malam pernikahannya. Lana duduk di tepi ranjang Mikail. Merasakan perasaan resah yang begitu mengganggu. Apakah aku menyesali ini? Kenapa aku mau saja dinikahi oleh lelaki arogan ini? Sebegitu besarkah pesona lelaki ini hingga membuatku rela hanya menjadi boneka pengganti?
Pintu terbuka dan Mikail masuk, lelaki itu masih memakai jas yang dipakainya untuk pesta meski dasinya sudah dilepas dan kancing kemeja di bagian atasnya sudah dibuka.
“Kenapa dahimu berkerut?,” Mikail melepaskan jasnya hanya mengenakan kemeja putih, lalu berdiri di depan Lana, ‘Kau sudah berganti baju, hmm,” dengan lembut Mikail menghela pundak Lana supaya berdiri menghadapnya, “Kau tampak lelah, apakah kau ingin tidur atau..,” tatapan Mikail tampak sensual.
Lana menatap Mikail dalam-dalam. Apakah hanya gairah yang ada di dalam benak lelaki ini. Bahkan sampai sekarangpun Lana masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya ada di dalam hati Mikail.
“Aku ingin membuat pengaturan,” Lana bergumam cepat, sebelum dia kehilangan keberaniannya, “Tentang pernikahan kita”
“Pengaturan?,” Mikail mengerutkan kening, tampak tidak senang, “Apa maksudmu?”
“Pengaturan tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam pernikahan kita”
Mata cokelat Mikail membara, “Kau isteriku Lana, dan aku berhak atasmu”.

“Kau bilang kau akan menghormatiku dalam pernikahan ini,” Lana menatap Mikail tajam, “Kalau kau tidak mau berkompromi atas pengaturanku ini aku ….”
“Apa? Kau akan melarikan diri lagi? Akan mogok makan lagi?,” Mikail melepaskan pegangannya dari Lana dengan pahit.
Pipi Lana merona malu, tetapi dia menegarkan diri, “Aku hanya ingin menetapkan beberapa hal yang membuatku merasa aman”
“Oke,” desis Mikail, “Cepat katakan apa maumu dan aku akan memilah mana yang bisa kuterima dan mana yang tidak”
“Pertama, aku tidak mau dipaksa untuk bercinta denganmu kalau aku tidak mau… apalagi memakai obat itu” Mikail mengangkat alisnya dan menatap Lana dengan sensual,
“Diterima. Lagipula sepertinya aku tidak membutuhkan obat itu lagi,” tambahnya penuh arti, membuat pipi Lana makin merona.
“Kedua aku ingin hubungan yang saling menghormati, aku akan menjaga kesetiaanku karena aku isterimu, dan aku mau kau juga”
Mikail terkekeh, “Diterima,” jemarinya menyentuh pipi Lana lembut, “Kau menjadi posesif kepadaku, eh?,” godanya.
Lana berusaha mengabaikan kalimat-kalimat Mikail yang menjurus itu,
“Ketiga, aku tidak mau dibelikan apapun tanpa persetujuanku,” masih teringat di pikiran Lana betapa banyaknya baju-baju yang dibelikan Mikail untuknya, belum lagi aksesoris dan perhiasan-perhiasan mahal yang dibeli Mikail seolah membeli sesuatu yang tidak berharga. Mikail harus belajar bahwa memperlakukan perempuan dengan baik bukan berarti melimpahinya dengan harta dan benda.
“Ditolak,” tatapan Mikail menajam lagi, “Kau isteriku Lana, aku berhak membelikanmu apapun yang aku mau”
Lana mengernyit dan menantang mata Mikail, mereka saling bertatapan tajam sampai akhirnya Lana menyerah,
“Oke…kau boleh membelikan asal tidak berlebihan” Mikail mengangkat bahunya. “Apakah ini sudah selesai?
Atau aku harus menunggu lebih lama untu berlanjut ke babak selanjutnya?”
Pipi Lana merona dan menatap Mikail dengan waspada, babak selanjutnya?
“Malam pertama kita,” Mikail mengucapkannya lambat lambat dengan nada yang sangat sensual hingga membuat seluruh tubuh Lana menggelenyar, “Kau tidak berpikir aku akan melewatkannya

No comments:

Post a Comment