Tuesday, October 13, 2015

SLEEP WITH THE DEVIL - SANTHY AGATHA - BAB 12



BAB 12

Hari pertamanya dalam kebebasan dan Lana luar biasa menikmatinya. Rumah mungil yang dikontraknya masih tertata rapi seolah-olah tidak pernah ditinggalkan sebelumnya. Mungkinkah Mikail mengirimkan orangorangnya untuk membersihkan rumah ini? Lana menggelengkan kepalanya dan mencoba menghapus bayangan MIkail dari pikirannya. Dia harus melupakan lelaki itu dan melangkah maju.
Pagi itu yang dilakukan oleh Lana pertama kali adalah memeriksa kulkasnya dan mengerutkan kening ketika menemukan kulkasnya penuh bahan makanan. Ini pasti pekerjaan lelaki itu, gumam Lana, menolak menyebut nama Mikail demi usahanya melupakannya. Tetapi Lana tidak mau membiarkan gangguan ini merusak hari pertama kebebasannya.
Diambilnya sayuran, daging sapi, dan telur. Lalu dia membuat tumis daging dengan sayuran dan telur yang berbau harum, setelah menuang masakan harum itu dari wajan, Lana menuang teh hangat yang sudah diseduhnya tadi pagi ke cangkir berwarna putih, dan meletakkan semuanya di meja. Sambil menyantap makanannya Lana menyalakan komputernya. Hal pertama yang harus dilakukannya adalah mencari pekerjaan, karena Lana harus bertahan hidup. Seperti semula.
Seingat Lana, dirinya masih punya tabungan di rekeningnya, tidak banyak memang hanya cukup untuk bertahan hidup selama satu sampai dengan dua bulan setelah dikurangi pembayaran kontrak rumah kecil ini secara bulanan. Setelah itu Lana harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri sekaligus membayar tempat tinggalnya, kalau Lana tidak bisa melakukannya, dia akan menjadi gelandangan. Jadi, waktunya untuk mencari pekerjaan sangatlah sempit.
Oh ya, hal kedua yang harus dilakukannya adalah mengambil uang tabungannya, mungkin nanti siang dia akan ke bank. Lana menghirup tehnya yang terasa harum dan meneguknya dengan tegukan panas yang nikmat. Lalu mulai menyantap sarapannya sambil membuka situs pencari pekerjaan di komputernya.
Lowongan kerja… lowongan kerja yang cepat dan sesuai kualifikasinya… mata Lana bergerak cepat dan mencatat beberapa perkerjaan yang sesuai. Dia mengirimkan email surat lamaran ke beberapa perusahaan tersebut sambil menghabiskan sarapannya.
Ketika Lana selesai melakukan kegiatannya, waktu sudah hampir jam dua belas siang. Lana teringat bahwa dia harus ke Bank, dengan bergegas Lana mengambil tas kecilnya dan hendak keluar rumah ketika ada yang mengetuk pintunya.
Seketika Lana waspada. Dia tidak pernah punya teman sebelumnya. Jadi, itu tidaklah mungkin teman yang bertamu. Lagipula, dalam penyamarannya waktu itu karena berencana membalas dendam kepada Mikail, tidak banyak yang tahu kalau Lana tinggal di rumah mungil ini.
Apakah itu musuh Mikail yang ingin mencelakainya? Lana bergidik ngeri. Kemudian menggelengkan kepalanya, berusaha menenangkan diri. Tidak, musuh Mikail pasti sudah mengurus masalah itu sebelum memutuskan melepaskan Lana. Jadi, siapa yang sedang mengetuk pintunya saat ini?
Dengan hati-hati Lana mengintip melalui jendela sebelah dan menemukan seorang lelaki dengan setelan jas mahal dan resmi berdiri di depan pintunya. Dari penampilannya, tampaknya lelaki itu lelaki baik-baik. Tetapi penampilan bisa menipu bukan? Lana masih tidak bisa percaya bahwa Dokter Teddy yang begitu baik dan selalu tersenyum itu ternyata adalah psikopat berjiwa kejam.
Lana meraih pisau dapur dan membuka pintu dengan hatihati, membiarkan rantai tetap menahan pintu itu,
“Siapa?,” Lana menatap pria tampan dalam balutan jas rapi itu sambil mengerutkan keningnya.
“Selamat siang, Anda Nona Lana? Saya Freddy, pengacara yang dikirim kemari”
Pengacara?, “Pengacara untuk apa? Saya tidak berkaitan dengan masalah hukum apapun,” Lana masih mengintip dari pintu, belum mau membukanya, menatap Freddy dengan curiga.
“Saya dikirim untuk menyerahkan dokumen-dokumen kepada Anda,” Freddy tampak berdehem memikirkan sesuatu, “Anda mungkin tidak mengenal saya, tapi saya teman Damian dan Serena”
Lana tertarik, “Apakah Serena yang mengirimmu kemari” “Sayangnya bukan, meski Serena menitip salam dan berharap kalian bisa bertemu di lain kesempatan,” Freddy mengangkat bahu, “Saya dikirim oleh Mikail”
Lana mengernyitkan kening, setelah berpikir sejenak, dia berpendapat bahwa lelaki yang mengaku pengacara ini tampak meyakinkan. Dia meletakkan pisaunya dan masih dengan waspada dia membuka pintunya. “Boleh saya masuk, Anda boleh tenang, saya bukan orang jahat,” Freddy tersenyum dengan gaya profesional.
Lana mempersilahkannya masuk, dan dia duduk menatap lelaki itu mengeluarkan berkas-berkas yang tampak penting dari tas kerjanya.
“Ini adalah surat kepemilikan rumah ini, Mikail telah membelinya atas nama Anda. Dan ini nomor rekening yang dibukakan Mikail atas nama Anda, seluruh kelengkapannya ada di dalam amplop, Anda tinggal menggunakannya,”
Freddy meletakkan berkas-berkas itu dalam map terbuka di meja lalu tersenyum lagi, ‘Saya hanya diperintahkan menyerahkan berkas-berkas ini kepada Anda, kalau semua sudah lengkap, saya akan berpamitan,” Lelaki itu beranjak dari duduknya meninggalkan Lana yang masih menatap kertas-kertas di meja itu dengan kaget.
Surat rumah? Rekening tabungan? Matanya melirik sekilas pada surat-surat itu. Semua atas namanya!
“Tunggu dulu! Saya tidak tahu sebelumnya tentang surat surat ini! Saya tidak bisa menerimanya!’
‘Nona,” Freddy menyela sudah siap pergi dari rumah itu, “Saya hanya menyampaikan apa yang ditugaskan kepada
saya, kalau Anda ada pertanyaan, mungkin Anda bisa menghubungi langsung Mikail”
Dan Freddy pun pergi meninggalkan Lana yang masih tercenung dan bingung menatap berkas-berkas di depannya.

***

“Saya ingin bertemu tuan Mikail Raveno.” Lana bergumam gugup kepada resepsionist di lobby kantor yang mewah itu.
Kemewahan lobby itu begitu mengintimidasi dan Lana merasakan semua mata memandangnya, seolah dia orang aneh yang salah tempat. Tangannya memeluk amplop berkas yang diberikan Freddy kepadanya tadi siang dan
berusaha menantang tatapan mata tajam dari resepsionist yang menatapnya curiga.
“Mikail Raveno kata Anda? Anda yakin? Kalau Anda ingin melamar pekerjaan, mungkin bisa Anda titipkan di sini…”
“Saya tidak ingin melamar pekerjaan,” Lana mulai merasa jengkel menerima tatapan meremehkan dari resepsionist itu, “Tolong atur pertemuan saya dengan Mikail Raveno”
“Nona, saya tidak bermaksud menyinggung Anda, tetapi Tuan Mikail Raveno tidak mungkin bisa ditemui semudah itu, Anda harus membuat janji pertemuan yang rumit dengan sekretarisnya dulu…”
“Biarkan dia masuk, dia datang bersamaku. Saya ada janji temu dengan Mikail jam dua,” sebuah suara yang dalam di sebelah Lana mengagetkannya.
Lana menoleh dan menyipitkan matanya. Sedikit silau akan ketampanan lelaki yang berdiri di sebelahnya. Well satu lagi lelaki dengan anugerah kesempurnaan fisik yang luar biasa. Batin Lana sambil menatap Damian yang memakai jas warna hitam dan tersenyum samar di sebelahnya. Tapi untunglah yang satu ini lelaki baik dan menyayangi isterinya. Mau tak mau Lana mengingat kemesraan Damian dan Serena di pesta malam itu, dan merasa kagum melihat besarnya cinta yang terpancar dari Damian dan Serena ketika mereka bertatapan. Resepsionist itu menatap Damian dan sudah pasti mengenalinya,
“Oh, Tuan Damian Marcuss, selamat datang,” sikapnya berubah ramah dan Lana mencibir atas perbedaan perlakuan
yang diterimanya, apalagi resepsionist itu menatap Damian dengan tatapan memuja, “Mohon maaf, tadi siang kami sudah mengirimkan pesan kepada sekretaris Anda bahwa pertemuan hari ini dibatalkan, Tuan Mikail mendadak harus ke luar negeri".
Damian dan Lana sama-sama mengerutkan keningnya. Mikail ke luar negeri?
“Aku tidak menerima pesan itu,” gumam Damian tajam, membuat resepsionist itu menunduk gugup hingga Lana merasa kasihan. Tetapi kemudian Damian mengangkat bahunya, “Baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke kantor dan mengganti waktuku yang tersia-siakan untuk kemari,” Damian menoleh kepada Lana, “Kalau waktuku tersia-siakan aku akan terlambat pulang ke rumah”.
Lana mau tak mau menahan senyum. Damian tampak lebih kesal karena terpaksa terlambat pulang daripada karena batal bertemu Mikail.
“Aku akan kembali ke kantor, oh ya, Serena menitip salam kepadamu,” dengan senyumnya yang mempesona, Damian mengedipkan sebelah matanya ramah, lalu membalikkan tubuh dan melangkah pergi dari lobby itu.
Lana menatap punggung Damian yang menjauh dan akhirnya tersenyum. Betapa beruntungnya Serena memiliki pasangan yang luar biasa seperti Damian…
“Nona Lana?,” kali ini sebuah suara yang familiar menyapanya. Lana menoleh dan mendapati Norman yang berdiri menatapnya, baru saja keluar dari lift, “Apa yang Anda lakukan di sini?”
Lana mengerjapkan matanya, “Aku mencari Mikail,” ditunjukkannya amplop berkas itu kepada Norman, “Ini… aku ingin mengembalikan berkas-berkas ini”
Norman menatap berkas-berkas itu dan mengerti, “Tuan Mikail ingin Anda menerimanya”
“Aku tidak mau menerimanya, aku tidak ingin berhutang budi kepadanya”
“Itu uang anda,” sela Norman tenang, “Itu adalah bagian saham Anda dari perusahaan ayah Anda yang sudah di take over oleh Tuan Mikail”
Lana tertegun. Bagian sahamnya? Dia tidak pernah mendengar ini sebelumnya “Bagian saham ini, sesuai dengan surat perjanjian jual beli akan diberikan kepada Anda begitu usia Anda genap 25 tahun,” Norman menatap sekelilingnya yang ramai dan tampak tidak nyaman, “Mari saya akan jelaskan kepada Anda”

***

Dia dibawa ke sebuah ruangan dengan perabot kayu dan nuansa cokelat dan elegan di lantai dua. Norman duduk di sofa di depannya dan mempersilahkan Lana duduk,
“Mari duduk dulu, Anda ingin kopi?” Lana menggelengkan kepalanya, terlalu tercengang dengan semuanya yang tampak begitu tiba-tiba.
“Tuan Mikail saat ini sedang ada di Italia ada beberapa urusan yang mendesak di sana,” Norman mengubah posisi duduknya supaya nyaman, “Seharusnya dari awal saya menceritakan ini kepada Anda, tetapi Tuan Mikail menahan saya.”
Cerita apalagi? Kejutan apa lagi? Jantung Lana berdegup kencang. “Tuan Mikail tidak pernah menghancurkan perusahaan ayah Anda, apalagi membuat ayah Anda bangkrut,” Norman mengangkat bahunya, “Anda boleh tidak percaya, tetapi Anda bisa mencari informasi di manapun, yang dilakukan Tuan Mikail bukanlah membangkrutkan perusahaanperusahaan, dia menolong perusahaan-perusahaan yang sudah hampir bangkrut dan menghidupkannya lagi. Banyak perusahaan yang sudah dia take over menjadi berlipat-lipat lebih maju berkat kehebatan tuan Mikail”
Lana mengerutkan keningnya membantah, “Tetapi perusahaan ayahku baik-baik saja sebelum ayah membuat perjanjian dengan Mikail, kami sama sekali tidak bangkrut!,” Lana teringat gaun-gaun dan perhiasan mewah yang dibelikan ayahnya untuk ibunya, pelayan-pelayan yang hilir mudik siap sedia memenuhi kebutuhan mereka, rumah mewah mereka yang nyaman, mobil dan segala kemewahan lainnya yang dicukupkan ayahnya waktu itu. Ayahnya tidak mungkin bangkrut!
“Ayah Anda menyembunyikan hal ini dari keluarganya, dia tidak ingin ibu dan Anda merasa cemas,” Norman menghela nafas, “Anda boleh tidak percaya kepada saya, tetapi biarkan saya bercerita dulu, setelah itu Anda boleh memutuskan. Apapun penerimaan Anda nanti, saya tidak akan mempermasalahkan, yang pasti tidak ada sedikitpun kebohongan dari saya kepada Anda”
Mata Norman menerawang ke masa lalu ketika mulai bercerita.
“Ayah Anda datang kepada Tuan Mikail waktu itu, memohon suntikan dana dan perjanjian kerja sama. Tuan Mikail sebenarnya tidak tertarik dan dia sudah siap menolak mentah-mentah. Perusahaan ayah Anda yang sudah benarbenar kolaps akibat manajemen yang kacau balau, akan membutuhkan biaya dan perhatian yang luar biasa besar untuk memperbaiki semuanya. Tetapi kemudian ayah Anda memberikan penawaran kepada tuan Mikail” “Penawaran?”
Norman menatap Lana hati-hati, “Ya… penawaran yang sebenarnya konyol, tapi langsung membuat tuan Mikail berubah pikiran” “Penawaran apa?” “Anda” Lana tertegun, pucat pasi, “Aku?”
Ayah Anda sepertinya sudah sangat putus asa sebelum meminta bantuan kepada tuan Mikail, harap Anda memaklumi,” Norman menghela nafas, “Mungkin Andalah
satu-satunya harta yang dimilikinya yang bisa ditawarkannya kepada tuan Mikail, mengingat waktu itu reputasi tuan Mikail sebagai playboy sangat terkenal. Mungkin ayah Anda berfikir bisa menggunakan Anda untuk menarik hati tuan Mikail.” Lana hampir tidak bisa berkata-kata, lidahnya kelu. Ayahnya menawarkannya kepada iblis jahat itu sebagai ganti suntikan dana untuk perusahaannya?? Tidak mungkin!! Ayahnya tidak mungkin melakukan itu!!
“Saya tahu Anda tidak percaya, tetapi kami memiliki bukti penawaran itu yang nanti akan saya tunjukkan kepada Anda.
Sekarang saya akan melanjutkan cerita saya,” Norman berdehem tampak amat mengerti berbagai emosi yang berkecamuk, silih berganti di wajah Lana, “Segalanya pasti akan berbeda jika yang ditawarkan bukan Anda. Tuan Mikail, saya yakin akan menolak mentah-mentah ayah Anda. Tetapi Tuan Mikail langsung berubah pikiran ketika beliau melihat foto Anda”
Fotonya yang sangat mirip dengan almarhumah isteri Mikail. Dada Lana terasa perih menyadari kenyataan itu. “Yah Anda mengerti kan…walau hanya dengan tatapan sekilas saja pasti mudah menyadari kemiripan Anda dengan…,” Norman menghentikan kata-katanya, menyadari wajah Lana yang pucat pasi, “Anda tidak apa-apa nona?”
Lana menganggukkan kepalanya, “Tidak, aku tidak apa-apa,” suaranya terdengar serak, susah payah berusaha dikeluarkannya.
“Tuan Mikail langsung menyetujuinya, tetapi dia tidak mau terburu-buru. Menurut perjanjian itu pada usia 25 tahun Anda akan diserahkan kepada Tuan Mikail, sebagai isteri. Dan mas kawinnya dibayar di muka, Tuan Mikail tidak pernah melakukan take over kepada perusahaan ayah Anda, dia hanya memberikan dana yang luar biasa besar sesuai dengan permintaan ayah Anda….,” Norman menatap Lana miris, “Tetapi ayah Anda rupanya bekerja dengan manajemen yang tidak becus dan mengkhianatinya, uang itu ludes dalam sekejap dan bahkan perusahaan ayah Anda, bukannya terselamatkan malahan makin hancur. Ayah Anda  lalu datang kembali meminta tolong kepada tuan Mikail” Lana hanya termenung berusaha menyerap kata-kata Norman sebaik-baiknya. Apakah Norman berbohong? Tetapi lelaki itu tampak lurus dan jujur….. Lana cuma masih belum bisa menerima bayangannya selama ini terhadap ayahnya hancur lebur begitu saja. Jika apa yang dikatakan oleh Norman adalah kebenaran, maka Lana harus menerima kenyataan bahwa kehidupannya dulu bersama ayahnya yang bagaikan di negeri dongeng, sebagian besar hanyalah kebohongan semata.
Lana sudah dijual menjadi isteri Mikail di ulang tahunnya yang ke 25, itu seminggu lagi. Lana mengernyit, dia sudah dibayar di muka. Rasanya seperti dihina dan dihantam secara bersamaan. Ingin rasanya dia berteriak kalau dia bukan barang, dia manusia dan dia punya kehendak yang bebas.
“Tuan Mikail sangat marah kepada ayah Anda, kesempatan yang diberikannya disia-siakan begitu saja oleh ayah Anda, dan tuan Mikail tidak mau memberikan kesempatan kedua lagi. Perusahaan itu tidak boleh ada di tangan ayah Anda lagi kalau tidak mau lebih hancur. Jadi, Tuan Mikail membelinya, dengan harga yang pantas, bahkan masih memberikan jatah bulanan kepada keluarga Anda setiap bulannya meskipun ayah Anda tidak berhak menerimanya,” Norman menatap Lana dalam-dalam, “itu semua karena Tuan Mikail mengkhawatirkan Anda”
Mikail mengkhawatirkannya? Tidak mungkin! Lelaki itu hanya cemas, karena Lana adalah perempuan yang berwajah sama dengan isteri yang dicintainya, perempuan yang diharapkannya bisa menggantikan isterinya….
“Saya mengerti perasaan Anda, tetapi ada beberapa hal yang belum sempat saya jelaskan kepada Anda waktu itu ketika Tuan MIkail menyela pembicaraan kita,” Norman bekata-kata lagi, “Memang Anda pasti akan melihat bahwa Tuan Mikail hanya menganggap Anda sebagai pengganti Nyonya Natasha. Tetapi tidak. Seiring dengan berjalannya waktu, yang dilihat Tuan Mikail adalah benar-benar Anda, diri anda sendiri”
Seiring berjalannya waktu?
Norman mengangguk, seolah bisa membaca pertanyaan di mata Lana,
“Yah selama ini kami mengawasi Anda. Rumah mungil yang Anda tempati bersama keluarga Anda waktu itu, merupakan salah satu properti milik tuan Mikail…. Semua sudah diatur supaya kehidupan Anda baik-baik saja meskipun ayah Anda bangkrut”
Tiba-tiba Lana menyadarinya. Kemudahan-kemudahan yang dia dapat tanpa sengaja, seperti rumah mungil itu yang bisa didapat ayahnya dengan harga yang sangat murah….
“Kami bahkan tahu bahwa Anda berencana membalas dendam atas kematian orang tua Anda,” wajah Norman melembut melihat pipi Lana merona merah, lalu menatap Lana dengan menyesal, “Kematian orang tua Anda juga mengejutkan kami, Lana. Percayalah, tuan Mikail terkejut atas hal itu. Dia memang terkenal kejam dan jahat tapi yang pasti dia tidak pernah bermaksud melukai orang yang lemah. Dia sudah berusaha membantu ayah Anda – demi Anda,” Norman menekankan kata-katanya, “Semua yang terjadi bukan kesalahan Tuan Mikail”
Lana merasa malu. Bagaimana lagi? Perasaan itulah yang sekarang menyergapnya. Jika kata-kata Norman ini benar… dan sepertinya memang semua adalah kebenaran.. maka
Lana harus merasa malu, Semua dendamnya selama ini, pemikirannya selama ini, kemarahannya selama ini, dan kebenciannya semua ini, semuanya dibangun atas persepsi yang benar-benar salah. Dan Mikail bahkan tidak pernah membela diri dengan segala cacian, makian, dan tuduhannya. Kenapa Mikail tidak pernah membela diri dan membiarkannya makin liar dengan emosi dan kemarahan membabi butanya?
“Sebentar lagi ulang tahun Anda… sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani oleh ayah Anda… Mikail akan memperisteri Anda”
Lana membelalakkan matanya. Apakah Mikail masih menganggap perjanjian bertahun-tahun lalu itu dengan serius? Tetapi perjanjian itu melibatkan uang yang tidak sedikit, yang diberikan MIkail kepada ayahnya dan kemudian disia-siakan begitu saja. Kalaupun Lana menolak Mikail, maka dia menanggung hutang yang sangat besar kepada lelaki itu.
“Apakah… apakah Mikail menyuruh Anda mengatakan semua ini kepada saya…?”
Norman langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Lana itu,  “Tidak. Tidak ada satupun perintah dari Tuan Mikail kepada saya untuk menceritakan ini semua, bahkan Tuan Mikail berkesan merahasiakan semua ini dari Anda,” Norman tersenyum, “Saya hanya memikirkan cara-cara Tuan Mikail, mengingat wataknya, beliau tidak akan menjelaskan apapun kepada Anda. Mungkin beliau akan menculik Anda lagi dan memaksakan pernikahannya dengan Anda, saya hanya menyiapkan Anda kalau itu benar-benar terjadi”
Lana mengernyit, “Mengingat selama ini dia selalu memaksakan kehendaknya, aku yakin dia akan melakukannya… jadi dia membebaskanku hanya sementara?”
Norman mengangguk, minta permakluman, “Semoga Anda bisa menghilangkan semua dendam yang tidak perlu. Yang pasti -saya bisa menjamin itu-Tuan Mikail benar-benar peduli kepada Anda. Perlu Anda tahu, Tuan Mikail benarbenar serius ingin menikahi anda, beliau saat ini berada di Italia, mengunjungi makam nyonya Natasha.
Meminta izin kepada isterinya. Lana memejamkan matanya pedih. Setelah dendam itu menghilang, yang ada di dadanya hanyalah kekosongan yang perih… kekosongan yang menyesakkan dadanya…. Hampir seperti… patah hati.

***

Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Lana sudah tahu hari ini akan tiba. Entah kenapa dia tahu, bahwa Mikail akan datang menjemputnya dan merenggutnya kembali, dan jantungnya berdegup kencang.
Ketukan di pintu rumahnya membuatnya terlonjak, meskipun Lana sudah mengantisipasinya. Dan ketika membuka pintu, Lana bertatapan wajah dengan Mikail. Lelaki itu tampak luar biasa tampan, bahkan lebih tampan dari terakhir mereka bertemu. Mengenakan kaca mata hitam dan kemeja biru berlapis jacket khaki dan celana yang senada, dengan rambut cokelatnya yang acak-acakan. Dia seperti malaikat yang diturunkan di depan pintu Lana.
“Aku sudah tahu apa yang akan kau katakan,” Lana berkata, mencoba mencari-cari mata Mikail, tetapi kesulitan karena kacamata hitam itu menghalanginya.
Mikail terdiam, “Aku tahu kalau kamu tahu, Norman menceritakan pertemuan kalian,” Lelaki itu menoleh ke belakang Lana, “Bolehkah aku masuk?”

***

No comments:

Post a Comment