Tuesday, October 27, 2015

UNFORGIVEN HERO - BAB 11

11

“Tamu untuk anda Mr. Alex.” Ibu Grace masih memanggilnya dengan nama Mr. Alex. Tidak masalah untuknya, Rafael tersenyum, ternyata namanya bukan masalah buat Elena.
“Aku dengar kau pulang dari bulan madumu, jadi aku mengajak Mikail kemari.” Damian melangkah masuk, seperti biasanya   tanpa   permisi   langsung   duduk   di   sofa   besar   di ruangan itu. Seorang laki-laki berbadan ramping, berpakaian serba hitam mengikuti masuk, pandangannya mengawasi seluruh ruangan dengan tajam, sampai kemudian bertatapan dengan Rafael.
Mikail Raveno. Rafael membatin. Ini adalah pertemuan kedua  mereka  setelah  pertemuan  singkat  di  sebuah  pesta waktu  itu.  Rafael  memilih  datang  sendirian  ke  pesta  Mikail waktu itu dan membuat Damian sibuk mencemoohnya. Damian sempat  mengenalkannya  dengan  Mikail,  tetapi  mereka  tidak bisa  berbicara  lebih,  karena  Rafael  buru-buru  pergi  untuk urusan lain.
“Mikail juga baru pulang dari bulan madunya.” Damian bergumam   ketika   Rafael   dan   Mikail   hanya   berpandangan dengan kaku, saling mengawasi.
“Bulan madu? Bukankah kau sudah menikah lama, Mikail?” Dan sepengetahuan Rafael, Mikail sudah memperoleh satu putera dari isterinya. Dia melangkah mendekati sofa dan duduk di sana, mempersilahkan Mikail untuk duduk.
“Bulan  madu  kedua.”  Mikail  menyahut  dengan suaranya yang dalam. Entah kenapa kata ‘bulan madu’ itu membuat ekspresi dingin dan kejam di wajahnya melembut. Mungkin benar kata Damian, lelaki ini benar-benar mencintai isterinya. Kalau begitu, lelaki ini tidak sejahat yang dikatakan orang. Seorang lelaki yang bisa mencintai seorang perempuan sepenuh  hati,  adalah lelaki yang  baik,  jauh di dalam  hatinya. Rafael merasa prasangka buruknya terhadap Mikail memudar.
“Bagaimana bulan madumu?” Damian bergumam lagi, menatap Rafael sambil tersenyum, “Semua berjalan sesuai rencana?”
“Sesuai rencana.” Senyum Rafael melebar, lupa kalaudi depannya ada Mikail Raveno, sosok yang tidak dikenalnya seakrab Damian, “Dia mengatakan mencintaiku.”
Damian terkekeh, “Dasar bajingan yang beruntung.” Diliriknya Mikail, “Rafael lebih beruntung dari kita, dia bisa dengan  cepat  mendapatkan   cinta  isterinya.  Sementara  kita harus jungkir balik mencoba segala cara.”
Mikail ikut tersenyum mendengar kata-kata Damian itu. Dan suasana kaku di antara mereka menjadi cair. Mereka lalu membicarakan masalah pekerjaan dan proyek kerjasama mereka, dan pembicaraan mengalir lancar seolah mereka sudah sering berkumpul dan bercakap-cakap dengan akrab sebelumnya.
“Aku harus pulang.” Mikail melirik jam tangannya, “Aku sudah berjanji mengantarkan Lana ke dokter.”
“Lana sakit?” Damian  yang sedari  tadi sibuk membaca berkas catatan pengajuan proyek yang mereka bahas mengangkat kepalanya,
Mikail  menggelengkan  kepalanya,  senyumnya melebar, tak tertahankan. “Bukan. Dia mual dan muntah di pagi hari. Sepertinya kami membawa oleh-oleh hasil bulan madu kedua kami.”
“Wah.  Kau  mengejarku  rupanya.”  Mata  Damian melembut  ketika mengingat  kedua malaikat  kecilnya  dan ibu mereka yang sangat dicintainya, “Sampaikan salamku untuk Lana. Aku akan mempelajari berkas ini dulu, nanti aku diskusikan hasilnya denganmu.”
“Oke.” Mikail beranjak berdiri, dan Rafael mengikutinya. Lelaki   itu   tersenyum   dan   mengulurkan   tangannya   kepada Rafael yang segera disambut Rafael, mereka bersalaman,
“Semoga kerjasama kita baik ke depannya.”
Setelah itu  Mikail  berpamitan  dan pergi meninggalkan ruangan.
“Dia baik kan. Tidak sekejam yang dikatakan orang. Apakah kau masih tidak menyukainya?” Damian bergumam, matanya tidak lepas dari berkas-berkas di tangannya.
Rafael  menatap  ke  arah  kepergian  Mikail  dan mengangkat bahu. “Well, aku tidak salah kalau dulu aku tidak menyukainya.  Rumor  yang  beredar  begitu  kental  kalau  dia sangat kejam dan pemarah. Semua orang takut kepadanya. Tapi dia berubah setelah menikah ya?”
“Yah dia berubah setelah menemukan Lana isterinya. Kekejamannya memang tiada tara, sampai mambuat Serena isteriku mencemaskan Lana. Kau tahu, mereka bersahabat. Tetapi  lelaki itu sungguh-sungguh  memperjuangkan  cintanya. Dan ketika dia mendapatkannya  dia menghargainya.”  Damian tersenyum  ke arah Rafael  dan  meletakkan  berkas-berkasnya, “Dan dari kata-katamu tadi, aku pikir pernikahanmu juga berjalan  semakin  baik.  Kau  bisa sesegera  mungkin  membuat isterimu  hamil, lalu membangun  keluarga kecil yang bahagia, seperti aku dan Mikail.”
Rafael  menghela  napas.  Bayangan  akan  perut    Elena yang membuncit mengandung anaknya, ataupun bayangan dia akan menggendong buah cintanya dengan Elena membuat dadanya hangat. Tetapi ketakutan itu tetap ada, ketakutan yang membuatnya bermimpi buruk akhir-akhir ini. Ketakutan akan terkuaknya sebuah rahasia yang akan menyakiti Elena.
“Aku   belum   pernah   bercerita   kepadamu   tentang isteriku ini, dan kenapa aku sangat mencintainya.”


“Kupikir  kau  ingin  menyimpannya  untuk  dirimu sendiri.”  Damian  tersenyum,  “Kau  tampak  letih  Rafael, bukankah pernikahan ini seharusnya membuatmu bahagia?”
“Aku bahagia.” Rafael menggumam pelan, “Tetapi aku lelah menyimpan rahasia.”
“Rahasia apa?”
“Rahasia  masa  laluku  yang  terkait  dengan  Elena isteriku.” Rafael menghela napas  di masa lalu. Dan Elena tidak menyadari bahwa aku adalah orang yang sama. Dia mencintai aku  yang  sekarang...  tetapi  kalau  dia  tahu  siapa  aku sebenarnya...”
Damian menumpukan tangannya di dagu, “Apa maksudmu  Rafael? Coba ceritakan  kepadaku supaya aku bisa mengerti.”
Dan cerita itupun mengalir. Tentang masa lalu Rafael, tentang kecelakaan itu dan pengusiran yang dilakukan Elena dengan  penuh  kemarahan,  yang  menyadarkan  Rafael setelahnya. Tentang semua usaha Rafael untuk menebus dosanya. Semua yang dia lakukan untuk membuat hidup Elena mudah, hanya untuk menyadari bahwa dia sebenarnya amat sangat mencintai Elena dan ingin memilikinya. Akhirnya Rafael mengambil resiko memiliki Elena, menikahinya. Dengan tetap merahasiakan masa lalu itu. Rafael menceritakan ketakutan- ketakutannya. Mimpi-mimpi buruknya akhir-akhir ini yang sangat mengganggu kepada Damian.
Sahabatnya itu hanya menatapnya tajam beberapa lama, lalu  menarik  napas  panjang.  “Wow.”  Gumamnya  kemudian, “Aku pikir kisah cintaku adalah kisah paling rumit di antara semua pasangan. Punyamu lebih rumit dan penuh rahasia.” Damian menyandarkan tubuhnya di sofa. “Tetapi sebuah pernikahan harus didasarkan pada kejujuran utuh kedua pasangan, Rafael. Kalau tidak pernikahan itu tidak punya landasan.”
Damian   menatap   Rafael   yang   hanya   terdiam,   “Aku menikahi     Serena    waktu     itu    setelah     kami    sama-sama menyatakan cinta, setelah tidak ada ganjalan dan rahasia di antara kami berdua. Karena itulah kami bisa melalui semuanya dengan  baik  sampai  sekarang.  Saling  mendukung  dan mencintai.”   Damian   mengangkat   bahu,   “Kalau   mengambil contoh pernikahan Mikail, hampir sama dengan yang kau lakukan, dia dan pasangannya sama-sama keras kepada dan tidak mau mengakui kalau mereka saling mencintai. Awal pernikahan  mereka dipenuhi gejolak dan salah paham, tetapi itu akhirnya mendorong mereka untuk mengungkapkan isi hati masing-masing dan pada akhirnya mengakui kalau saling mencintai.”
“Aku  dan  Elena  sudah  mengakui  saling  mencintai  .”
Rafael bergumam, tetapi hatiku tetap tidak tenang.

‘Karena kau seperti berjalan di atas bom yang akan meledak entah kapan. Itu membuatmu selalu waspada dan mengalami   mimpi  buruk.”   Damian   menatap  Rafael  dengan serius, “Kau harus menceritakan semuanya kepada Elena.”
Wajah   Rafael   dipenuhi   kesakitan,   “Aku   tidak   bisa, Bagaimana kalau dia meninggalkanku?”
“Katamu dia mencintaimu. Dia mungkin akan mengamuk dan marah besar kepadamu. Tetapi aku yakin dia akan menghargai kejujuranmu. Pada akhirnya dia akan kembali kepadamu.” Damian menghela napas panjang, “Kau harus melakukannya kawan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti,    sebuah rahasia tidak akan pernah bisa disimpan selamanya,   kau  bisa  membayangkan   kan  betapa  buruknya kalau sampai Elena tahu dari orang lain?”
Rafael tercenung. Menyadari kebenaran dari kata-kata Damian. Betul juga. Dia tidak boleh menyimpan rahasia ini terlalu lama dari Elena. Dia harus menjelaskan semuanya. Elena mencintainya, dan Rafael yakin semarah apapun Elena. Perempuan itu pasti akan memaafkannya pada akhirnya nanti, dan menghargai kejujuran Rafael
Ya...   Rafael   akan   mengungkapkan   semuanya   kepada Elena.

Ҩ

“Bayi Donita sangat lucu dan cantik.” Elena bercerita sambil menyiapkan air mandi di bathup besar di kamar mandi mereka untuk Rafael yang baru pulang dari kerja.
“Oh ya? Kau sudah menyampaikan salamku untuknya?” Rafael melepaskan dasinya dan menyampirkan jasnya di kursi. Lalu melangkah menuju kamar mandi besar itu dan bersandar di pintu. Elena sedang memeriksa suhu air di kamar mandi itu, kemudian  mengambil  handuk-handuk  putih  dan  melipatnya lalu meletakkannya di rak handuk di dekat bathup.
“Sudah   kusampaikan.   Donita   mengucapkan   selamat untuk pernikahan kita.” Elena berdiri dan menatap Rafael, “Aku berpikir untuk mengunjungi ibu Rahma.... kita kemarin hanya sempat  mengabarkan   pernikahan   kita  melalui  telepon,   dia sudah seperti ibuku jadi rasanya tidak sopan kalau kita tidak segera menemuinya.”
“Akhir pekan nanti aku akan mengantarmu  ke Asrama untuk bertemu Ibu Rahma.” Rafael tersenyum, mengagumi kecantikan isterinya di bawah sinar lampu kamar mandi yang temaram.
Kamar  mandi  itu  luas,  dengan  bathupnya  yang sangat besar, muat untuk dua orang. Tetapi Rafael dan Elena belum pernah mencoba melakukannya, berendam berdua karena mereka terlalu sibuk setelah kepulangan mereka. Nuansanya hitam dan putih. Di dominasi oleh marmer hitam dengan semburat  abstark  keputihan  di  seluruh  ruangan,  selain  itu semua perabotnya berwarna putih bersih, menciptakan kekontrasan sendiri yang sangat indah.   Tetapi Rafael tidak peduli dengan suasana kamar mandinya, baginya yang paling indah  adalah  isterinya.  Isterinya  yang  cantik,  Elenanya  yang luar biasa. Yang sekarang berdiri dengan gaun putih sederhana yang melambai di betisnya, membuatnya tampak seperti dewi yang turun dari langit dan mempunyai kekuatan untuk menghilangkan semua kelelahan Rafael.
“Kemarilah” Rafael mengulurkan tangannya, “Aku merindukanmu.”
Elena tersenyum dan menerima uluran tangan Rafael, membiarkan dirinya dihela masuk ke dalam pelukan lelaki itu. Rafael memeluknya dengan erat kemudian mengangkat dagu Elena dan mengecupnya lembut.,
“Apakah kau merindukanku Elena?”
“Sangat.” Elena tersenyum, “Aku terbiasa melihatmu setiap saat.” Jemarinya menelusuri wajah Rafael yang tampan dengan lembut. “Rasanya berbeda kalau kau tidak ada.”
Rafael meraih jemari Elena dan mengecupnya lembut, “Mungkin   kau   bisa   masuk   ke   kantor   lagi   dan   menjadi asistenku.”
Elena tersenyum, “Ide bagus.”
“Dan   perusahaanku    akan   bangkrut   dalam   sekejap, karena sang pemiliknya terlalu sibuk menyetubuhi asistennya di kantor.”
Rafael.” Elena berseru, mencela  kata-kata  Rafaeyang vulgar. Membuat Rafael terkekeh, dikecupnya pucuk hidung Elena dan dihelanya masuk ke kamar mandi. Lelaki itu menatap bathup dengan air hangat yang tampak menggoda,
“Ayo, ikut mandi bersamaku,.” “Tetapi aku sudah mandi.”
Tatapan    Rafael    kepada    Elena    sangatlah    sensual, melumerkan Elena sampai meleleh,
“Mandi  bersamaku  akan  lebih  bersih,  Aku  akan membantu  menggosok  punggungmu,  dan  membersihkan tempat  manapun  yang  susah kau jangkau  sendirian.”  Dengan menggoda lelaki itu melepaskan kemejanya, membuangnya ke lantai kamar mandi, celananya menyusul kemudian. Membuatnya telanjang bulat dengan tubuh kokoh dan otot yang keras di tempat-tempat yang pas, dibalut warna kulit perunggu kecoklatan yang indah.
Elena menelan ludahnya, terpesona oleh sihir sensual yang dipancarkan suaminya.
”Ikut?” Rafael mengulurkan tangannya lagi dan Elena menerimanya, membiarkan Rafael menelanjanginya dan mengajaknya masuk ke bathup.
Lelaki itu bersandar di kepala bathup dan menarik Elena ke  pangkuannya.  Elena  bersandar  dengan  nyaman  di  dada Rafael yang bidang. Seluruh punggung dan bagian belakang tubuhnya   menempel   dengan   seluruh   bagian   depan   tubuh Rafael, mereka berendam dengan nyaman, aroma minyak aromaterapi mawar mulai memenuhi ruangan, bercampur dengan air hangat yang merendam tubuh mereka.
Jemari Rafael bergerak nakal dan mengusap buah dada Elena. Buah dada itu licin terkena minyak mawar yang bercampur air hangat dengan puting yang tegak karena terkena angin, Rafael memainkannya dengan lembut membuat Elena mengerang  dan  menggerakkan  pinggulnya.  Merasakan kerasnya kejantanan Rafael yang menekan-nekannya dari belakang.
“Angkat sedikit pinggulmu sayang.” Rafael membantu Elena  bergerak,  dan  dengan  mudah  memasukkan kejantanannya yang sudah begitu keras, menyatukan dirinya dengan kewanitaan Elena yang sudah begitu siap menerimanya. Mereka mengerang bersama-sama, menikmati penyatuan yang begitu erotis itu. Kemudian Rafael menggerakkan pinggulnya pelan, menggoda Elena, membuat isterinya menggeliat penuh gairah, jemarinya menyentuh titik sensitif di antara kedua paha isterinya dan memainkannya sambil terus bergerak dengan ritme   yang   teratur,   menciptakan   riak   pelan  di   air   mandi mereka.
“Aku mencintaimu Elena.” Suara Rafael parau, lelaki itu menunduk dan melumat telinga Elena dengan sensual, bibirnya lalu   menjelajahi   leher   dan   pundak   Elena   dari   belakang, menjilatnya  dengan  erotis,  sementara  di  bawah  sana, pinggulnya bergerak dengan  teratur bersama dengan pinggul Elena, membawa mereka berdua bersama-sama mendekati puncak kenikmatan.
Gerakan Rafael makin cepat dan makin bergairah dan air di sekitar mereka beriak, mengikuti gerakan mereka.
“Terimalah cintaku sayang, terimalah aku.” Rafael mengangkat pinggulnya, menekankan dirinya dengan begitu kuat, menyatu jauh di kedalaman pusat diri Elena, dan menyemburkan ledakan kenikmatannya di dalam sana. Membawa  Elenbersama-sama  mencapai  orgasme bersamanya.
Mereka lalu terengah bersama dalam diam yang syahdu. Elena  menyandarkan   kepalanya  di  dada  Rafael,  menikmati debar jantung Rafael yang berpacu cepat setelah orgasmenya dan gerakan naik turun dadanya yang tersengal. Setelah tubuh mereka tenang, Elena merasa mengantuk, tetapi Rafael menegakkan tubuhnya,
“Hei cantik,  kau  tidaboleh tertidur di bathup. Berbahaya, kau bisa tenggelam. Dengan lembut dia mengajak Elena berdiri melangkah keluar dari bathup dan mengarahkannya ke pancuran, “Ayo, aku akan menggosok punggungmu.” Lelaki itu menyalakan pancuran air panas yang langsung menyiram mereka dari atas.
Dan mereka bercinta sekali lagi di bawah pancuran.

Ҩ

“Apa    kabarmu?”    Rafael    langsung    bertanya    begitu mendengar suara Victoria menyahut teleponnya.
Suara diseberang sana terdengar mendengus kasar, “Oh. Hai Rafael, tak kusangka kau masih ingat menelepon  adikmu yang kau biarkan terjebak dengan seekor ular di sebuah pulau terpencil.” Rafael   tertawa   mendengar   nada   sarkatis   di   suara Victoria,
“Mendengar   suaramu,   aku   berkesimpulan   kalau   kau baik-baik saja.”
“Aku baik-baik saja, hanya sedang bosan setengah mati.” “Bagaimana  dengan Luna?”
Victoria mendesah, “Luna baik-baik saja. Dia sudah hampir  sembuh  dan  sangat  menyebalkan,  kami  saling membenci satu sama lain dan tidak tahan seruangan, kurasa itu juga yang memberi motiviasi  kepadanya untuk sembuh  lebih cepat. Dia akan pulang lusa. Aku juga.”
Rafael mengerutkan keningnya, “Menurutmu apakah dia punya rencana untuk mengganggu lagi?”
“Siapa yang bisa tahu apa yang ada di balik kepala cantiknya itu.” Victoria tertawa, “Kau harus waspada Rafael. Dia sepertinya menyerah sekarang. Aku berusaha menunjukkan kepadanya bahwa dia sama sekali tidak punya harapan.”
“Yah semoga dia melangkah mundur. Aku sudah terlalu sibuk untuk  direpotkan  dengannya.”  Rafael  mengehela  napas dalam-dalam, “Aku akan mengungkapkan semua kepada Elena.:
“Kau   yakin?”   suara   Victoria   merendah,   “Menurutmu Elena akan mengerti?”
“Aku tidak tahu.” Rafael mendesah, “Tetapi dia mencintaiku. Dan tidak adil kalau aku terus merahasiakan kenyataan  ini  dari  dirinya.  Lagipula  aku  takut  kalau  suatu waktu dia mendengar kenyataan itu dari orang lain. Kepercayaannya padaku akan hancur total kalau itu terjadi.
Victoria terdiam, tidak bisa membantah kebenaran yang ada  di dalam  kata-kata  Rafael.  Memang  benar.  Rahasia  tidak akan  bisa  selamanya  tersimpan.  Lagipula  paling  baik  kalau Elena mendengarnya langsung dari Rafael daripada dia mendengarnya dari orang lain lalu merasa bahwa Rafael telah membohongi dan menipunya selama ini.
“Kapan kau akan mengatakannya?”
“Dalam waktu dekat.” Rafael mengerang dan mengacak rambutnya  frustrasi.  “Kurasa  aku  harus  menyiapkan  diri dan keberanian dulu, dan menunggu waktu yang tepat.”
“Semoga semuanya lancar kak.” Victoria ikut merasakan kegelisahan Rafael, “Kabari aku ya.”
“Pasti. Doakan aku Vicky.”
“Pasti. Aku menyayangimu kak.” “Aku juga Vicky.”
Telepon ditutup. Menyisakan kegelisahan di dalam diri Rafael. Kegelisahan yang mulai melingkupinya, bercampur dengan ketakutannya. Takut Elena akan meninggalkannya.

Ҩ

Edo mengawasi rumah Rafael dari kejauhan, dan mengetahui bahwa setiap hari Rafael berangkat kerja dan Elena dirumah bersama para pelayan. Dia tidak bisa bertamu begitu saja  ke  rumah  Rafael.  Para  pelayan  itu  mungkin  ada  yang menjadi mata-mata Rafael yang mengawasi dan langsung melaporkan   kalau   Edo   datang   ke   sana,   dan   Rafael   akan langsung pulang dan menggagalkan semuanya.
Edo  harus  bertindak  hati-hati,  dia  harus  menggiring Elena supaya berada di luar  rumah dan  bertemu  dengannya, ditempat mereka tidak akan diganggu, di tempat di mana dia bisa leluasa membeberkan semua rahasia busuk Rafael. Dan setelah itu Elena pasti akan sangat membenci Rafael.
Edo tersenyum, menikmati saat-saat kemenangannya yang akan segera tiba. Tidak lama lagi.

Ҩ

“Aku akan keluar sebentar  untuk membeli  kue.” Elena berpamitan kepada pelayan di rumahnya, dia hendak membeli kue untuk di bawa ke asrama tempat ibu Rahma berada esok hari. Supir pribadinya sudah menunggu dan Elena masuk ke dalam mobil, menuju ke sebuah cafe bakery yang cukup elegan di pusat kota. Di sana ada kue brownies panggang yang sangat enak, Elena akan membeli beberapa sebagai buah tangan untuk dibawa besok.
Ketika  mobil  mencapai  parkiran  bakery  itu, ponselnya berdering, dia melihat nama Edo di layar ponselnya dan menghela napas. Kebetulan. Pikirnya. Dia sudah berpikir untuk menghubungi Edo dan berbicara, menyelesaikan salah paham di  antara  mereka  dan  berharap  mereka  bisa  berbicara  baik- baik, lalu berpisah tanpa ada ganjalan lagi di antara mereka. Dia meminta supir menunggu dan melangkah keluar, memasuki bakery itu lalu mengangkat teleponnya.
“Halo.” Elena menyapa Edo, dengan suara ramah. “Hai Elena. Apa kabar?”, suara Edo terdengar kaku.
“Kabarku baik Edo, kuharap kau juga sehat-sehat saja.” Elena menjawab. Terbawa oleh suasana kaku dan formal yang dibawa Edo.
Sejenak suara Edo di seberang sana hening, lalu lelaki itu berucap dengan nada datar, “Aku mendengar tentang pernikahanmu.” Napas Edo agak tercekat, “Selamat ya.”
Elena tersenyum, setidaknya Edo mau memberinya selamat, itu pertanda lelaki itu mempunyai niat baik kepadanya, “Terima kasih Edo. Maafkan aku tidak sempat mengabari. Semuanya begitu terburu-buru dan tiba-tiba saja aku sudah menikah.”
Edo   terkekeh   pahit   di  seberang   sana,   “Apakah   kau mencintainya Elena?”
Elena menganggukkan kepalanya tanpa sadar, “Ya Edo, aku mencintai Rafael.”
Hening lagi, Kali ini agak lama.
“Aku ingin bertemu.” Gumam Edo akhirnya. Elena menghela napas, “Kebetulan  aku juga berpikiran sama, kurasa kita harus bercakap-cakap untuk menyelesaikan beberapa hal yang mengganjal di antara kita...”
“Kapan kau bisa?”
“Aku harus menanyakannya kepada Rafael dulu.” Elena tentu  saja tidak  bermaksud  bertemu  diam-diam  dengan  Edo, dia akan meminta izin pada Rafael dulu, dia yakin Rafael akan mengijinkannya    kalau   Elena   bisa   menjelaskan    alasannya dengan tepat.
“Tidak!  Jangan!”  Edo menyela  dengan  cepat,  membuat Elena mengernyitkan keningnya,
“Jangan apa Edo?”
Edo  berdehem  di  seberang  sana,  “Kau  tahu,  aku  kan masih bekerja di perusahaan Mr. Alex..... eh... Rafael...” Suaranya merendah, “Akan sangat tidak mengenakkan bagiku kalau sampai Rafael tahu aku mencoba menemui isterinya, mengingat aku dulu pernah dekat dengan isterinya.”
“Tetapi aku tidak bisa bertemu diam-diam denganmu, kalau Rafael tahu...”
“Rafael  tidak  akan  tahu.  Aku  mohon  Elena...aku  tidak akan menyita lama waktumu, aku Cuma butuh beberapa lama di tempat umum yang kau pilih, sehingga tidak akan memicu salah paham dan fitnah terhadap kita...” Edo menghela napas panjang, “Aku mohon Elena. Hanya satu kali pertemuan untuk menjelaskan semuanya dan setelah itu kalau kau mau, aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi.”
Elena  termenung  memikirkan  kata-kata  Edo,  dia menarik napas panjang, “Baiklah, kapan dan dimana?”
“Hari ini bisa?”
Elena melirik jam tangannya. Masih jam dua siang. Dia punya waktu panjang sebelum pulang ke rumah dan menanti suaminya pulang dari pekerjaannya.
“Aku sedang membeli kue di bakery” Elena menyebut nama Cafe dan Bakery tempat dia berada, “Kalau mau kau bisa datang kemari.”

“Oke kedengarannya bagus. Aku akan kesana beberapa saat lagi. Saat ini aku masih di kantor, aku akan mencari alasan untuk keluar.”
Setelah itu Edo menutup teleponnya.
Elena lalu memilih beberapa kue dan membayarnya, dia menuju ke mobil dan meminta supir membawa kue-kue itu pulang  dulu,  dan  menjemput  Elena  nanti.  Elena  akan menelepon ke rumah minta dijemput. Karena dia akan bertemu dengan seorang teman dulu selama mungkin satu atau dua jam,
Supir itu mengikuti instruksinya dan membawa mobil pulang ke rumah. Dengan langkah pelan Elena memasuki cafe dan bakery yang cukup ramai itu lalu memilih tempat duduk dan memesan cokelat panas untuk dirinya, dan menunggu.

Ҩ

Edo datang hampir satu jam kemudian. Lelaki itu masih tampan  dengan  senyumnya  yang  luar  biasa  menawan. Meskipun  senyuman  itu  tidak  bisa  menggetarkan  hati  Elena lagi, dia telah tertawan oleh suaminya, Rafael Alexander yang tiada duanya, dan tidak ada laki-laki manapun yang bisa mengalahkannya.
Edo menyalami Elena dan tersenyum meminta maaf lalu duduk di depan Elena,
“Maafkan aku terlambat, aku tadi melarikan dari kantor.” Lelaki itu tersenyum dan mengamati Elena, “Kau tampak makin cantik Elena, makin bersinar.”
Seperti  biasa  Edo  sangat  pandai  merayu,  Elena membatin sambil tersenyum, “Terimakasih Edo.”
Edo menghela napas panjang, seolah bingung ingin berkata apa, kemudian setelah lama, dia mengangkat kepalanya dan   menatap   Elena   dalam-dalam,   “Elena,   kau   tahu   aku mencintai dan menyayangimu, dan aku ingin kau bahagia.” Suaranya   lembut,   “Tetapi   kemudian   aku   mencemaskanmu ketika mengetahui bahwa kau ditipu.”
“Ditipu?” Elena mengerutkan keningnya bingung.
“Ya ditipu. Pernikahanmu ini terjadi atas dasar kebohongan,  kau ditipu  mentah-mentah  Elena, dan  aku  tidak rela kau diperlakukan seperti itu.”
“Apa   maksudmu   Edo?”   suara   Elena   berubah   tajam, apakah Edo bermaksud memfitnah Rafael lagi?
“Jangan marah dulu, dengarkan aku dulu baru kau boleh memutuskan akan berbuat apa.” Edo menatap Elena dengan kejam ketika melemparkan bom itu,
“Selama   ini   kau   dibohongi   Elena.   Rafael   Alexander, adalah orang yang membunuh ayahmu dalam kecelakaan sepuluh tahun yang lalu.”




UNFORGIVEN HERO - BAB 12

No comments:

Post a Comment