Tuesday, October 13, 2015

SLEEP WITH THE DEVIL - SANTHY AGATHA - BAB 5

BAB 5

Sudah hampir dua minggu Lana dikurung di dalam kamar putih ini, tidak boleh keluar sama sekali. Hari-hari Lana dilalui dengan menatap ke luar dari jendela lantai dua ke pekarangan rumah Mikail.
Lana sudah merasa begitu muak dan frustrasi karena bosan. Setelah memaksakan kehendaknya malam itu, Mikail tidak pernah mengunjungi Lana lagi.
Mungkin dia sedang bersenang-senang dengan kekasih barunya. Lana mencibir, mencoba mengabaikan perasaan seperti tercubit di dadanya. Tetapi kalau memang benar begitu, kenapa Mikail tidak melepaskannya?
Apakah karena lelaki itu tahu bahwa Lana berniat membunuhnya, jadi dia menawan Lana di sini karena menganggap Lana ancaman yang berbahaya? Kalau begitu kenapa Mikail tidak membunuhnya sekalian?
Beberapa lama terpaku di jendela, Lana menyadari bahwa ada kesibukan yang tidak biasa di luar sana. Beberapa mobil tampak lalu lalang keluar masuk rumah Mikail yang biasanya lengang. Sehari-hari pemandangan yang didapat Lana hanyalah pemandangan pengawal-pengawal Mikali dan beberapa pelayan yang lewat di halaman depan rumah.
Kali ini Lana melihat ada mobil bunga dan mobil katering. Apakah Mikail akan mengadakan pesta? Kalau iya, mungkin saja kesempatan Lana untuk melarikan diri bisa muncul kembali.
Sedang larut dalam lamunannya, tiba-tiba pintu kamar putih membuka. Lana bahkan tidak menolehkan kepalanya sedikitpun. Karena yang masuk ke kamar ini selalu hanya Norman yang mengantarkan makanan, dan pelayan yang membersihkan ruangan dan membawakan pakaian ganti untuknya – tentu saja di bawah pengawasan Norman.
Lana tidak pernah berinteraksi dengan Norman lagi setelah kejadian kemarin, dan sepertinya lelaki itu juga tidak berniat untuk mengajaknya berbicara. Lagipula rasa bersalah yang ditanggung Lana terlalu besar. Karena dialah Norman dihajar oleh Mikail, bekas-bekas hajaran itu masih ada dari memarmemar di wajah Norman dan hidungnya yang patah.
Setiap melihat Norman, Lana disergap perasaan ngeri dan rasa bersalah yang luar biasa. Mikail mengancam akan membunuh siapapun yang lengah dan membiarkan Lana lolos. Apakah sepadan mengorbankan satu nyawa demi meloloskan diri?
Lana memang tidak kenal dengan Norman, tetapi kalau mendapatkan kebebasan dengan mengorbankan nyawa orang lain, tetap saja terasa tidak benar baginya…. “Lana.”
Itu suara Mikail. Lana terlonjak saking kagetnya. Dia menolehkan kepalanya, dan Mikail-lah yang berdiri di tengah ruangan, lelaki itu tadi sepertinya terdiam, mengamati Lana yang sedang melamun sambil memandang Lana yang sedang menatap ke luar jendela.
Otomatis Lana mengepalkan tangannya, reaksi impulsifnya ketika menyadari aura Mikail yang berkuasa memenuhi ruangan. Mikail melirik tangan Lana yang terkepal, dan senyum sinis muncul di bibirnya. Lelaki itu menolehkan kepalanya ke belakang dan Lana baru menyadari ada orang lain di belakang Mikail, seorang laki-laki berbadan kecil dan sedikit gemulai,
“Ini Theo,” gumam Mikail tenang, “Dia akan mempersiapkanmu untuk nanti malam,” Setelah berkata begitu, Mikail melangkah mundur, membalikkan tubuhnya dan meninggalkan kamar itu.
Mempersiapkannya untuk apa?

***

“Kau sebenarnya cantik sekali Nona, hanya saja kau tidak pandai berdandan,” Theo bergumam dengan suara gemulainya, memoles wajah Lana yang masih memejamkan matanya di depan cermin,
Sementara Lana masih memejamkan matanya, diam karena didandani oleh Theo…. Kalau Mikail menyuruhnya didandani, maka dia pasti akan diperbolehkan untuk turun ke pesta yang diadakan Mikail. Hal itu berarti ada kesempatan baginya untuk melarikan diri dari rumah ini.
“Nah, sudah selesai, coba buka matamu,” gumam Theo. Ada nada puas dalam suaranya, Lana membuka matanya pelan-pelan karena bulu mata palsu terasa memberati matanya. Dan dia terpana menatap sosok yang balas menatapnya di depan cermin itu.
Yang menatapnya bukannya Lana, perempuan yang seumur hidupnya sangat jarang berdandan, yang ada di depannya adalah perempuan yang sangat cantik. Luar biasa cantiknya dengan riasan yang tidak terlalu tebal tapi sangat pas di semua sisi.
Theo memang perias yang sangat berbakat, dan sangat terkenal tentunya dengan tarif sekali riasnya yang amat sangat mahal. Lana sering sekali mendengar nama perias ini di media sebelumnya, tapi tidak pernah berfikir bahwa dia akan merasakan tangan dingin sang perias berbakat ini.
Matanya tampak begitu lebar, kuat, sekaligus rapuh dengan polesan warna cokelat keemasan, dan Theo sedemikian rupa menonjolkan struktur tulang pipinya yang tinggi sehingga tampak menarik dan aristrokat…. Dan bibirnya dipoles dengan lipstik warna peach dengan nuansa yang membuat bibirnya seolah-olah selalu basah.
Lana menyentuh pipinya ragu, dan bayangan cantik di depannya juga menyentuh pipinya. Mata Lana terpaku, masih terpana akan bayangan di depannya.
Theo mendecak kagum melihat hasil karyanya sendiri, kemudian bergumam, mengalihkan perhatian Lana,
“Kau paling berbeda dari kekasih-kekasih Tuan Mikail sebelumnya,” Theo meringis, “Bukan berarti kau kurang cantik, tapi kau kurang glamour, kurang mempesona. Kekasih-kekasih Mikail sebelum-sebelumnya selalu cantik luar biasa, bagaikan dewi”
Lana mendengus sinis, apakah Mikail juga menyuruh perias ini untuk mendandani kekasih-kekasihnya?
Theo sibuk merapikan peralatannya di belakang Lana sambil terus bergumam,  “Tapi kau istimewa, harusnya kau bersyukur, Tuan Mikail tidak pernah menyuruhku mendandani kekasih-kekasihnya yang lain,” gumaman Theo itu telah menjawab pertanyaan Lana sebelumnnya, “Dan yang paling sensasional adalah gaun ini, Tuan Mikail menyuruhku memesannya langsung dari perancangnya di Paris. Pesanan khusus karena diselesaikan hanya dalam waktu 1 minggu, gaun ini khusus dibuat untukmu, tiada duanya di dunia ini. Theo berseru kecil dengan feminim, tampak terpesona dengan sesuatu di tangannya, “Kau harusnya bersyukur karena Tuan Mikail memperlakukanmu dengan istimewa”
Lana menoleh, ingin tahu apa yang begitu menarik perhatian Theo, dan sekali lagi dia terpesona. Di tangan Theo, digantung di gantungan baju yang elegan, ada sebuah gaun yang luar biasa indahnya.
Gaun itu dibuat dari bahan sutera hijau berkilau dengan kristal kecil menyebar di sepanjang gaun, memberikan efek kilauan yang menakjubkan. Kaki gaun itu melebar ke samping dan menjuntai dengan indahnya. Gaun itu adalah gaun terindah yang pernah dilihat oleh Lana, dan gaun itu untuknya?
“Pakailah gaun ini, kau harus siap dalam setengah jam. Tuan Mikail ingin melihatmu sebelum ke pesta,” gumam Theo, menghamparkan gaun hijau itu di ranjang lalu melangkah keluar dari kamar.
Kata-kata terakhir Theo sebelum pergi itu menyadarkan Lana dari keterpesonaannya akan keindahan gaun itu.
Mikail telah memperlakukannya sama seperti kekasihkekasihnya, yang bisa diperintah sesuka hati seperti boneka!
Kali ini dia tidak akan membuat Mikail puas. Lana bukan kekasih Mikail dan dia bukan boneka yang bisa diatur-atur sesukanya, Mikail harus menyadari itu

***

Mikail masuk dan Lana menunggu dengan penuh antisipasi. Mikail mengenakan jas hitam legam yang rapi. Rambutnya yang sedikit panjang hingga menyentuh kerah disisir ke belakang, membuatnya tampak seperti iblis tampan yang begitu menggoda.
Lelaki itu melangkah memasuki ruangan dan Lana merasakan Mikail tertegun sejenak menatap wajah Lana yang sudah dirias sedemikian cantiknya.
Tetapi kemudian mata Mikail menatap ke arah Lana yang masih mengenakan baju biasa yang selalu digunakannya di kamar itu. Mata Mikail menggelap seolah ada badai yang akan menerjang di sana,
“Kenapa tidak kau pakai gaunmu?,” desis Mikail pelan. Lana mundur selangkah, menyadari intensitas kemarahan dalam suara Mikail. Lelaki satu ini mungkin menderita post power sindrome sehingga mudah naik darah kalau keinginannya tidak diikuti, batin Lana dalam hati.
“Aku tidak mau,” Lana menegakkan dagunya menantang, meski batinnya sedikit kecut.
“Gaun itu khusus dipesankan untukmu,” kali ini suara Mikail sedikit menggeram, menahan kesabaran.
Lana melirik gaun indah itu, gaun itu luar biasa indahnya, dan Lana sudah jatuh cinta pada gaun itu sejak pandangan pertama. Tetapi dia tidak boleh mengenakan gaun itu, meskipun batinnya berteriak-teriak ingin merasakan gaun secantik itu sekali saja.
Tidak! Dia tidak boleh mengenakan gaun itu, itu sama saja dengan mengakui penguasaan Mikail atas dirinya.
“Aku tidak mau memakainya,” Lana berhasil mengeraskan suaranya hingga terdengar Lantang, “Aku bukan bonekamu yang bisa kau perintah-perintah semaumu!”
“Boneka katamu?,” Mikail melangkah maju dan otomatis Lana melangkah mundur, “Kau pakai baju itu atau aku akan memperkosamu sekarang juga di lantai. Supaya kau tahu bagaimana aku memperlakukan bonekaku!”
Jantung Lana berdetak sekejap merasa takut akan ancaman Mikail. Apakah Mikail akan melaksanakan ancamannya? Tetapi melihat mata yang menyala karena marah itu, Lana tiba-tiba sadar bahwa Mikail tidak main-main. Lelaki ini menyimpan iblis di dalam dirinya, dan ketika iblis itu keluar, Mikail tidak akan segan-segan berbuat kejam.
Salah sendiri kau menantang Iblis ini, Lana! Lana mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
“Lana, kenakan gaun ini atau aku akan benar-benar membuatmu menyesal,” Mikail mulai mendesis marah.
Tangannya meraih gaun hijau itu dan melemparnya dengan sembarangan ke arah Lana yang langsung menangkapnya dan memegang gaun itu dengan hati-hati.
Mikail memperlakukan gaun semahal dan seindah ini layaknya memperlakukan kain lap. Lelaki iblis ini memang tidak paham keindahan! Tanpa sadar kebencian Lana meluap lagi kepada Mikail, dorongan untuk menantang  Mikail amatlah besar. Meskipun sisi lain dirinya berteriak untuk tidak menantang Mikail lebih jauh lagi.
Mereka berdua berdiri berhadap-hadapan, udara di antara mereka sangatlah tegang. Senyap dan tanpa suara, hanya dua mata yang saling menatap dan saling menantang.
“Pakai gaun itu, Lana,” kali ini Mikail melangkah mendekat, seolah tak sabar.
Lana langsung mundur selangkah lagi, menjauhi Mikail, jantungnya berdegup kencang. Dia mulai merasa takut,
“Baiklah, aku akan memakainya, kau keluar dulu dari sini!’, teriaknya marah karena dipaksa menyerah, air mata hampir menetes dari matanya.
Tetapi Mikail bergeming, lelaki itu menggertakkan gerahamnya menahan marah, “Aku tidak akan pergi. Kesempatanmu sudah habis, tadi aku sudah berbaik hati memberikan kesempatan padamu untuk ikut pesta dan memakai gaun bagus. Sekarang cepat pakai gaun itu,” Mikail tidak menaikkan suara sama sekali, tapi kemarahan di dalam suaranya menjalar ke udara dan memaksa Lana melakukan apa yang diinginkannya.

Dengan menahan air mata, dan menahan malu, Lana melepas pakaiannya di depan tatapan Mikail yang berdiri kaku menatapnya, kemudian mengenakan gaun itu. Gaun itu luar biasa bagusnya, meluncur pelan membungkus tubuhnya dan terasa sangat pas. Sejenak Lana melupakan perasaan frustrasi atas pemaksaan Mikail dan larut dalam keterpesonaan atas keindahan gaun itu di tubuhnya. Mikail mengamati Lana sejenak dalam balutan gaun indah itu. Lana tampak seperti dewi hutan yang diturunkan dari khayangan, luar biasa cantiknya.
“Bagus,” geram MIkail, lalu dengan gerakan cepat meraih gaun itu dan merobeknya dari tubuh Lana.
Lana terpana ketika Mikail merobek gaun itu di bagian dada. Gaun seindah dan sebagus itu rusak sudah, dengan robekan kain dan benang yang berjuluran, dan kristal-kristalnya jatuh bertebaran dengan suara dentingan pelan di lantai. Mata Lana berkaca-kaca, tidak menyangka Mikail akan sekejam itu, merobek sebuah gaun yang sedemikian indahnya demi memamerkan arogansi dan kekuasaannya. Sungguh lelaki yang kejam!
“Kenapa kau tampak ingin menangis?,” Kau tidak mau memakai gaun ini bukan?,” gumam Mikail sambil menatap Lana tajam, “Maka kukabulkan permintaanmu”
Dengan gerakan tiba-tiba, Mikail meraih Lana, mencengkeram punggung Lana merapat ke arahnya. Lana mencoba meronta tapi tak berdaya
“Mulai sekarang kau harus berfikir ulang kalau mau menantangku. Aku bukan orang baik dan aku tidak segan segan berbuat kejam,” Bibir Mikail terasa dekat dengan bibir Lana, dan napas lelaki itu sedikit terengah.
Kepala Mikail menunduk dan sejenak Lana merasa pasti bahwa Mikail hendak menciumnya. Tetapi entah kenapa leher lelaki itu menjadi kaku dan mengurungkan niatnya.
Mikail mendorong Lana menjauh. Lalu membalikkan tubuhnya ke arah pintu,
“Theo!,” suara Mikail sedikit keras ketika memanggil perias wajah yang gemulai itu.
Pintu terbuka, dan Theo terburu-buru masuk. Lelaki itu terkesiap mendapati kondisi Lana yang penuh airmata dengan baju itu – baju eksklusif rancangan desainer terkenal, satu-satunya di dunia, yang sangat mahal dan pasti membuat iri semua perempuan itu – sekarang menjuntai sobek di dada Lana dengan kondisi menyedihkan dan tak karuan. Riasan mahal masterpiece untuk wajah Lana juga tak karuan karena bekas air mata di wajah Lana.
“Bereskan dia,” Mikail tidak menatap Lana lagi, lelaki itu langsung keluar dan membanting pintu di belakangnya dengan marah.

***

"Kau benar-benar nekat menantang tuan Mikail seperti itu", Theo bergumam setengah menggerutu. Dari tadi lelaki gemulai itu memang sibuk menggerutu karena harus memulai dari awal mendandani Lana. Apalagi ketika tatapannya terarah pada gaun hijau Lana yang sekarang teronggok seperti sampah di lantai, Theo akan mendesah secara dramatis, lalu menggerutu lagi dengan kata-kata tidak jelas.
Untunglah Theo membawa gaun cadangan. Gaun itu cukup bagus meskipun tidak semewah dan seindah gaun hijau yang sudah dirobek oleh Mikail. Warnanya merah marun dan berpotongan sederhana, membungkus tubuh Lana dengan sempurna. "Nah sudah selesai", Theo meletakkan kuas bibir di meja dan menatap bayangan Lana di cermin, "Lumayan cantik, meskipun tidak semewah tadi."
Lana tanpa dapat ditahan melirik ke gaun hijau di lantai itu dan menghembuskan napas sedih. Tetapi bagaimanapun juga, dibalik kekecewaannya ada kepuasan karena setidaknya dia bisa menunjukkan kalau dia bisa melawan Mikail.
Betapa mengerikannya lelaki itu kalau marah, Lana mengernyit. Sejak usahanya yang terakhir kali untuk melarikan diri, penjagaan atas dirinya diperketat. Ada dua orang laki-laki berjas hitam dan berbadan kekar yang berjaga di depan pintunya.
Malam ini adalah pertama kalinya Lana diberi kelonggaran, untuk turun, keluar dari kamar ini. Kalau Lana cukup waspada, mungkin dia bisa melarikan diri dari rumah ini.
"Nah, pakai sepatu ini", Theo meletakkan sepatu emas yang cantik di karpet, "Lalu aku akan mengantarmu turun, Tuan Mikail menunggu di bawah, karena pesta sudah dimulai".

***

Ketika Lana menuruni tangga, seketika itu juga hatinya terasa kecut. Semua orang yang hadir di pesta ini berpakaian spektakuler, semuanya pasti gaun rancangan terbaru dari desainer terkenal.
Para laki-laki berjas tampak berkumpul dan mengobrol di satu sudut dekat perapian, dan para perempuan tampak berkelompok dengan sahabat-sahabatnya menyebar di semua sisi ballroom itu. Sebuah meja sajian besar di sudut menyajikan berbagai jenis makanan mewah. Bartender di satu sudut sibuk melayani permintaan tamu dan para pelayan berpakaian hitam putih hilir mudik, menawarkan nampan-nampan hidangan dan sampanye yang mengalir tak ada habisnya.
Ketika Lana menuruni tangga, semua pandangan tertuju padanya, hingga Lana merasakan tangannya berkeringat. Lana mencari-cari Mikail, tetapi lelaki itu sepertinya tidak ada. Dengan gugup, merasa terasing di keramaian, Lana berdiri diam, di sudut dekat jendela, memilih untuk mengamati daripada membaur. Dia mengernyit ketika menyadari bahwa di setiap akses pintu keluar, semuanya berdiri dua atau tiga orang pengawal Mikail dengan jas hitam yang serupa dan tampak selalu waspada. Lana harus melewati mereka kalau ingin keluar dari tempat ini.
"Itu kekasih Mikail yang terbaru?", sebuah suara sinis terdengar, rupanya pemilik suara sengaja supaya Lana mendengarnya.
Lana menoleh dan mendapati segerombolan perempuan perempuan cantik tengah berbisik-bisik dan menatapnya dengan tatapan benci. Salah seorang perempuan, yang paling cantik dengan gaun hitamnya yang sangat seksi terang-terangan mengamati Lana dengan pandangan meremehkan dari atas ke bawah,
"Aku mendengar Mikail mengajaknya tinggal bersama bayangkan! Tidak ada satupun perempuan yang pernah diajak Mikail tinggal bersama.... Kupikir dia perempuan yang sangat cantik! Ternyata dia biasa saja, mungkin Mikail sedang mabuk saat membawanya tinggal bersama"
"Aku pikir juga begitu", perempuan di kelompok itu, yang bergaun merah muda menyahut dengan suara yang tak kalah sinis "Mengingat sejarah kekasih-kekasih Mikail selalu luar biasa cantiknya... Tapi lihat dia, dia tampak tak cocok berada di sini, dia pasti bukan perempuan berkelas!"
"Gaunnya gaun lama, rancangan keluaran bulan lalu, dia pasti gadis miskin", suara perempuan lain berambut kemerahan dengan gaun biru muda, berbisik jahat, ikut memanaskan suasana, "Dia mempermalukan Mikail dengan penampilannya"
"Dia tak pantas bersanding dengan Mikail, berani bertaruh, sebentar lagi Mikail pasti muak dan mencampakkannya", perempuan seksi berbaju hitam itu mengibaskan rambutnya angkuh, "Begitu melihatku, Mikail pasti akan menyukaiku dan membuangnya"
Pipi Lana memerah mendengar hinaan-hinaan yang dilemparkan terang-terangan kepadanya, Sabar Lana, desisnya dalam hati. Perempuan-perempuan jalang itu terbiasa hidup kaya sehingga kadang tak punya sopan santun. "Menungguku, sayang?" suara Mikail terdengar dekat sekali di belakang Lana hingga ia terlonjak kaget. Lana menoleh dan mendapati Mikail berdiri santai, sedikit bersandar di jendela di dekatnya. Lelaki itu tampaknya sudah lama berdiri di sana, dia pasti mendengar jelas semua hinaan-hinaan yang dilontarkan kepadanya tadi. Pipi Lana makin merona, merasa malu sekaligus terhina. Mikail mendekat, dan perempuan-perempuan di gerombolan itu tampak terkesiap dengan ketampanannya. Lelaki itu memang tampan, Lana menggumam dalam hati. Merasa kesal karena mau tak mau dia harus mengakui kebenaran yang terpampang di depannya.
Dengan rambut coklat yang sedikit acak-acakan, mata coklat muda yang dalam tapi tajam, bibir tipis yang melengkung jantan, dan tulang pipi tinggi yang membentuk sudut wajahnya sedemikian rupa, diimbangi dengan jas hitam legam yang membungkus tubuh ramping berototnya dengan pas, membuatnya tampak seperti malaikat tampan dengan nuansa jahat yang mempesona.
Mikail tampaknya tahu sedang diperhatikan dengan terkesima oleh gerombolan perempuan-perempuan muda itu, tetapi dia sama sekali tidak menatap mereka. Matanya terpaku menatap Lana, dan senyum miring muncul di bibirnya, "Kau cantik sekali sayang", Mikail meraih Lana, merangkul pinggang Lana dengan lembut, lalu mengecup hidung Lana mesra, "Dari semua perempuan di ruangan ini, kau yang paling cantik. Yang lainnya cuma sampah", Mikail mengucapkan kata-kata itu dengan lantang, yang terdengar langsung oleh gerombolan perempuan itu. Suara terkesiap terdengar dari sana, dan ketika Lana menoleh, perempuan perempuan itu tampak berdiri dengan wajah merah padam, malu luar biasa atas hinaan Mikail. Lalu dengan berbagai alasan, mereka membubarkan diri dan berpindah tempat.
Mikail terkekeh, melihat tingkah mereka. Lalu menunduk dan menatap Lana, senyumnya langsung hilang,
"Jangan coba-coba melarikan diri -dan jangan mencoba meminta tolong pada siapapun di sini, mereka tidak akan bisa menolongmu, dan kalau sampai aku tahu kau melakukannya, kau akan dihukum", bisiknya dingin. Sikapnya berubah kaku dan dia melepaskan pelukannya dari Lana dan tanpa kata-kata lagi meninggalkan Lana.
Lana termangu, masih terpesona oleh pertunjukan sandiwara kasih sayang yang diperagakan Mikail tadi. Apakah lelaki itu sengaja melakukannya untuk membelanya dari gerombolan perempuan-perempuan jahat itu?
"Sungguh kekasih yang baik", sebuah suara lembut terdengar di belakangnya. Lana menoleh dan berhadapan dengan perempuan cantik berbaju putih yang tersenyum lembut kepadanya. Mungkin perempuan inilah satu-satunya tamu pesta ini yang mau menyapanya.
"Siapa?", Lana mengernyit ketika menyadari komentar perempuan itu barusan, Perempuan itu tertawa kecil, bahkan tawanya pun terdengar merdu, Lana membatin dalam hatinya.
"Mikail Raveno, kekasihmu", Perempuan itu mengedikkan bahunya ke arah kepergian Mikail, "Dia membelamu dengan gagah berani dihadapan perempuan-perempuan menjengkelkan itu..ups", perempuan itu menutup bibirnya dengan jemarinya yang lentik, "Aku tidak boleh mengatakannya, tapi mereka memang menjengkelkan bukan? Kalau bukan karena suamiku, aku tidak akan mau menghadiri pesta ini dan berbaur dengan mereka", perempuan itu tertawa lagi.
Dia perempuan yang bahagia, Lana membatin dalam hati. Perempuan cantik yang bahagia, ralat Lana. Dengan gaun putih keemasannya yang indah, tatanan rambut sempurna, make up sederhana, dan tatapan matanya yang berbinarbinar penuh cinta. Perempuan di depannya ini tampak
memancarkan kebahagiaan. Suaminya pasti sangat mencintainya, Lana mengambil kesimpulan dalam hati.

"Ah ya maaf, aku mengoceh ke sana kemari, tetapi lupa memperkenalkan diri", perempuan itu mengulurkan tangannya dan tersenyum, "Aku Serena"
Senyum ramah perempuan itu menular, Lana membalas uluran tangan Serena dan ikut tersenyum lebar,
"Lana", gumamnya memperkenalkan dirinya, "Terima kasih sudah mau menyapaku"
Serena tersenyum lagi, dan menatap ke arah gerombolan perempuan-perempuan tadi yang sekarang sudah saling berpencar dan asyik bergosip satu sama lain,
"Jangan pedulikan mereka, mereka hanya iri padamu" Lana mengernyit,
"Iri padaku? Kenapa?"
"Ah kau pasti tak pernah mendengar dunia luar", Serena tertawa lagi, "Gosip menyebar dengan cepat di dunia elit ini. Kau adalah perempuan yang paling hangat dibicarakan akhir-akhir ini"
"Kenapa?", Lana menatap Serena penuh ingin tahu.
"Karena Mikail Raveno, taipan paling dingin di sini, mengajakmu tinggal bersamanya di rumahnya", Serena mengedikkan dagunya, "Meskipun memiliki banyak kekasih, Mikail dikenal berprinsip mensterilkan rumahnya dari kehadiran perempuan. Tidak pernah ada satu perempuanpun -selain pelayan -yang bisa tinggal di rumah ini. Bahkan katanya, kekasih-kekasihnya yang dulu belum pernah ada yang menginap di rumah ini, Mikail lebih memilih menemui kekasih-kekasihnya di hotel miliknya", Serena menatap Lana dan tersenyum, "Kaulah satu-satunya perempuan yang diajaknya tinggal dirumahnya, dan bahkan tak keluar-keluar sampai sekarang. Mereka semua merasa iri, karena apa yang kau alami adalah impian mereka semua, tinggal bersama dengan bujangan paling diminati di sini"
Lana tercenung. Mereka semua tak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Lana bukan kekasih Mikail, dia tinggal di rumah ini bukan sebagai kekasih Mikail, tetapi lebih seperti tawanan. Dia disekap dan dilecehkan semau Mikail.

"Apakah kau juga salah satu dari mereka? Mengagumi ketampanan Mikail?"
Spontan Serena tertawa mendengar pertanyaan Lana.
"Tidak, menurutku suamiku yang paling tampan di dunia ini. Aku tidak sempat mengagumi lelaki lain", Serena tersenyum dan matanya berbinar penuh cinta ketika membayangkan suaminya.
Lana memalingkan muka, tiba-tiba merasa sedih menyadari betapa beruntungnya Serena dibandingkan dirinya. Perempuan itu tampak begitu bahagia dan tanpa beban, sedang dirinya, bahkan dia tidak tahu akan dijadikan apa dirinya oleh Mikail. Mata Lana berkaca-kaca ketika membayangkan kegagalan rencananya untuk melukai Mikail yang malah membuatnya terjebak dalam cengkeraman lelaki iblis itu.
Serena memperhatikan raut kesedihan di wajah Lana, dan dahinya berkerut,
"Kenapa Lana? Kau sakit?"
Lana menatap Serena lagi, perempuan ini baik hati, mungkin saja Serena bisa menolongnya...
"Tolong aku...", Lana berbisik lemah, takut suaranya ketahuan, oleh Mikail ataupun para pengawalnya yang bertebaran di mana-mana, "Tolong aku keluar dari sini"
Serena mengernyit, jelas-jelas merasa kaget mendengar permintaan Lana, matanya menatap penuh tanda tanya,
"Apa Lana? Tapi... Bukankah.."
"Disini kau rupanya, aku mencarimu kemana-mana sayang", suara yang dalam itu mengalihkan perhatian Serena dari Lana.
Lana menoleh dan terpesona menatap Lelaki yang melingkarkan lengannya di pinggang Serena dengan posesif. Lelaki itu luar biasa tampan, dengan rambut cokelat yang berpadu nuansa keemasan dan mata sebiru langit. Serena rupanya tidak main-main ketika mengatakan bahwa suaminya luar biasa tampan. Lana pun, kalau memiliki suami setampan itu, pasti tidak akan mau melirik lelaki lain.
"Damian", Serena bergumam lembut, pipinya memerah, tampak malu-malu atas kemesraan terang-terangan yang dilakukan Damian. Suami Serena tampak amat sangat mencintai isterinya, Lana berkesimpulan dalam hati. Lelaki itu menatap Serena seolaholah akan melahapnya.
"Kita harus segera pulang. Mari kita berpamitan dulu pada tuan rumah"
"Tapi Damian, kita baru sebentar di sini... Apakah sopan kalau..."
"Ssshh", Damian menghentikan protes Serena dan menyentuh bibir Serena dengan jemarinya lembut, "Aku lebih ingin berada di rumah, bersama isteriku", gumamnya penuh arti.
Siapapun mengerti apa maksud kata-kata Damian. Bukan hanya Serena, pipi Lana pun memerah mendengar nada kepemilikan penuh gairah Damian kepada isterinya. Serena menyentuh lengan Damian lembut, mengalihkan perhatian Damian yang tampaknya tidak bisa lepas dari isterinya kepada Lana,
"Ini, kenalkan, Lana", gumam Serena lembut.
Lana mengulurkan tangannya dengan sopan, dan Damian menjabat tangannya, lalu menatapnya dengan tajam. Membuat Lana merasa nyalinya sedikit menciut di bawah hujaman tatapan tajam dari mata sebiru langit itu.
"Lana yang itu?", ada tanya dalam suara Damian, Serena menyentuh lengan Damian lagi, mengingatkannya, lalu menatap Lana penuh permintaan maaf, "Gosip cepat menyebar, bahkan di kalangan laki-laki", gumamnya pada Lana, meminta pengertian.
Lana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ada sedikit kekecewaan terbersit di hatinya. Damian sepertinya rekan bisnis Mikail. Kalau begitu, pupus sudah harapannya meminta bantuan kepada Serena.
"Ayo sayang, kita berpamitan", Damian mengangguk pada Lana, lalu menarik pinggang isterinya untuk mengikutinya.

"Tunggu sebentar", Serena mengeluarkan kartu emas kecil dari tasnya, "ini kartu namaku", digenggamkannya kartu nama itu di jemari Lana, "Hubungi aku kapan saja kau mau. Aku pikir kita bisa bersahabat"
Dan kemudian, pasangan sempurna itu menjauh dan tenggelam di keramaian pesta. Meninggalkan Lana yang masih berdiri terpaku di sana, menggenggam kartu nama itu erat-erat seolah hanya itulah tiket penyelamatannya.

***

"Dia meminta tolong kepadaku", Serena mengernyit sambil merebahkan kepalanya di dada Damian. Lelaki itu masih berbaring santai dengan mata terpejam, menikmati saat-saat tenang setelah percintaan mereka yang panas,
Mata Damian terbuka, menatap Serena penuh ingin tahu, "Siapa sayang?"
"Lana, kekasih Mikail"
Damian tercenung, lalu mengangkat bahunya, "Kurasa kita tidak usah ikut campur dalam urusan Mikail Raveno. Dia rekan bisnis yang luar biasa, dan aku senang perusahaanku menjalin kerjasama dengan perusahaannya, Tetapi dari segi pribadi...", Damian mengusap-usapkan jemarinya di
punggung telanjang Serena, "Aku tidak terlalu menyukainya"
"Kenapa?", Serena menatap Damian ingin tahu,
"Yah... Mikail terkenal sangat....kejam. Dia berpenampilan dingin dan kaku, tetapi ketika terusik, dia tak punya ampun. Kadang-kadang aku sedikit tak simpati atas sikap tak berbelas-kasihannya"
"Kalau begitu aku semakin mencemaskan Lana", Serena mengingat permohonan Lana tadi kepadanya, "Dia minta tolong kepadaku untuk membantunya melepaskan diri dari rumah itu. Pandangannya begitu tersiksa, apakah mungkin Mikail menyanderanya di rumah itu dengan paksa?"
"Mungkin saja", Damian mengecup dahi Serena lembut, "Tetapi seperti kataku tadi, itu bukan urusan kita"
"Setidaknya maukah kau mencoba berbicara dengan Mikail? Kau ada pertemuan besok pagi dengannya kan?", Serena menatap Damian penuh permohonan. Ada kecemasan di suaranya, apalagi ketika mengingat betapa Lana tampak sangat tersiksa ketika memohon kepadanya tadi.
Damian terkekeh, lalu menggulingkan tubuhnya menindih tubuh Serena, "Baiklah tuan puteri, akan kucoba", didekatkannya wajahnya ke wajah Serena, menggoda bibir Serena dengan usapan bibirnya yang panas, "Sekarang bisakah kita menghentikan pembicaraan kita tentang orang lain dan bercinta lagi?"
Serena tidak menolak, bercinta dengan Damian selalu menjadi kegiatan yang luar biasa menyenangkan

***

No comments:

Post a Comment