Tuesday, October 13, 2015

SLEEP WITH THE DEVIL - SANTHY AGATHA - BAB 15



BAB 15

“Tidak!,” Lana berseru. Seketika wajahnya pucat pasi, tangannya langsung melindungi perutnya. Lana tidak tahu bagaimana perempuan hamil, dia tidak punya pengalaman. Tetapi begitu sadar bahwa ada bayi yang tumbuh dan berkembang di dalam tubuhnya, Lana langsung tahu bahwa ada ikatan di antara mereka, bahwa seorang ibu secara alami akan melindungi anaknya. “Kau harus membunuhku dulu kalau kau berniat melaksanakan niatmu itu Mikail Raveno! Aku tidak tahu kegilaan apa yang ada di dalam otakmu, tapi kau seharusnya malu. Anak ini adalah darah dagingmu sendiri, dan kau berniat membunuhnya bahkan sebelum dia tumbuh!”
Mikail menatap Lana dengan pandangan kesakitan, “Aku tidak bisa Lana, aku tidak bisa kalau kau hamil!,” lelaki itu mengacak rambutnya dan berdiri menyeberangi ruangan, menuangkan brandy untuknya dan meneguk cairan keras itu sekali teguk. Ketika membanting gelasnya dan menatap Lana, matanya menyala-nyala, “Natasha….. dia sempat hamil kau tahu… kemudian keguguran…”
Lana tercekat ketika akhirnya topik itu dilepaskan oleh Mikail. Nama Natasha seakan tabu untuk diucapkan ketika Lana masuk ke rumah ini sebagai Nyonya Raveno. Dan sekarang Mikail sendiriah yang mengangkat topik itu ke permukaan.
“Tetapi kondisiku dan Natasha berbeda, aku sehat-sehat saja…”
“Yang tidak orang lain ketahui adalah Natasha hamil lagi setelah keguguran itu,” Mata Mikail nyalang, ingatannya kembali ke masa lalu, seakan tidak menyadari ada Lana di ruangan itu, “Aku tidak tahu bagaimana caranya dia membuatku lengah dan hamil lagi. Demi Tuhan aku sudah berusaha agar dia tidak hamil lagi, aku bahkan sudah membuat janji temu dengan dokter untuk operasi vasektomi. Tapi Natasha berhasil hamil lagi dan dengan keras kepala dia menyimpan rahasia itu dariku dan semua orang. Takut kalau kami mengetahuinya dia akan meminta kami menggugurkannya,” Nafas Mikail tercekat, “Ketika dia meninggal seperti tidur di atas ranjang, dokter baru mengetahui dan mengatakan padaku bahwa Natasha sudah hamil tiga bulan. Kehamilannya itulah yang memperburuk  kondisinya dan membuatnya semakin lemah….. kehamilan itu yang membunuhnya!”
“Tapi aku tidak sama dengan Natasha, Mikail,” Lana menyela, berusaha mengembalikan Mikail ke masa kini, “Aku sehat dan kuat dan bayi ini tidak akan membebaniku”
“Aku tidak mau kau sakit karena kehamilanmu!,” Mikail menyela marah, dan ketika menyadari wajah Lana memucat karena suaranya yang meninggi, MIkail memperlembut uaranya, tatapannya memohon, “Aku minta padamu Lana, gugurkan bayi itu. Tidak akan pernah ada bayi di rumah ini, tidak akan pernah ada bayi di pernikahan kita. Aku tidak menginginkan bayi”

***

Dada Lana bergemuruh oleh perasaan yang bercampur aduk, teganya Mikail dan betapa egoisnya dia! Betapapun
Mikail merasakan trauma dan ketidaksukaan yang mendalam atas kehamilan Lana, seharusnya lelaki itu sadar kalau yang ada di perut Lana ini adalah darah dagingnya, anaknya! Sebegitu tidak berharganyakah Lana di mata Mikail sehingga dia harus mengorbankan janin yang dikandungnya atas nama kenangan Mikail kepada Natasha?
“Tidak Mikail,” Lana menegakkan dagu, menahankan sakit hatinya yang meluap-luap. “Aku tidak akan pernah mengugurkan bayi ini apapapun alasannya, meskipun kau hanya menganggapnya sampah…,” Lana menatap Mikail dengan tatapan terluka yang dalam, “Meskipun kau melupakan fakta bahwa dia ada karena dirimu juga…dia adalah anakku, dan sekarang dia bertumbuh di dalam diriku. Seperti yang kubilang kepadamu tadi, kalau kau memaksakan kehendakmu kepadaku, kalau aku sampai kehilangan anak ini karena kesengajaanmu, maka yang kau dapatkan adalah kematianku”
Mikail tertegun mendengar ancaman Lana itu, dia menatap Lana dan menyadari perempuan itu terluka. Mikail terlalu terburu-buru mengucapkan isi hatinya, dan itu melukai Lana. Dengan frustrasi diacaknya rambutnya setengah marah,
“Dengar Lana, jangan kekanak-kanakan, kalau kau hanya ingin menentangku…”
“Aku tidak ingin menentangmu!,” Lana setengah berteriak, kali ini emosinya pecah dan berderai, “Aku tidak peduli perasaanmu atas masa lalumu dengan Natasha, tetapi aku sekarang ada di sini, hidup dan bernafas saat ini. Dan kau memaksaku untuk menggugurkan anakku! Menurutmu apa yang harus kulakukan selain melindungi anakku sekuat tenaga? Anakmu juga!!”
Anakmu juga. Kata-kata itu terasa menusuk dada Mikail hingga membuatnya mengernyit. Anaknya juga…. Tetapi anak itu bisa menjadi pembunuh, Mikail pernah mengalaminya sekali. Dan jika dia harus mengalaminya
lagi…
“Mungkin nanti kau akan berubah pikiran”
“Tidak akan Mikail.” Lana menyentuh kepalanya yang mulai berdenyut-denyut lagi. Dan Mikail menatapnya dengan cemas, “Apakah kau pusing lagi?”
“Ya,” Lana mengerang dan memijit kepalanya.
“Aku akan mengambilkanmu air,” Mikail menuang air itu ke dalam gelas dan duduk ditepi ranjang, lalu menyerahkan gelas itu kepada Lana, “Ini… minumlah”
Lana menerima gelas itu dan meneguknya. Setelah selesai Mikail meletakkan gelas itu kembali di tepi ranjang.
Mereka diam di sana dalam keheningan, saling bertatapan. Biasanya suasana tidak secanggung ini. Biasanya setiap malam Mikail langsung mengajaknya masuk kamar dengan bergairah yang berlanjut dengan percintaan yang luar biasa dan mereka langsung tertidur sampai pagi. Tetapi sekarang keadaan berbeda. Mikail tidak bisa memecahkan keheningan dengan bercinta. Dan pembicaraan tadi ternyata telah menguras emosi mereka berdua.
Lana-lah yang pertama kali memecah keheningan, “Kau ingin tidur?”
Mikail menatap ke sisi tempat tidur yang kosong. Sisi miliknya. Dan tiba-tiba merasa lelah. Lana menggeser tubuhnya memudahkan MIkail untuk berbaring. Lelaki itu berbaring di sebelahnya dengan tenang tanpa suara, hanya suara berdesir kain yang bergesekan.
Lama mereka berdua berbaring dengan mata yang nyalang, sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Sampai akhirnya mereka lelap tertelan tidur.

***

Pagi harinya suasana begitu dingin, Mikail seolah tidak mau membahas percakapan mereka semalam, tetapi walaupun begitu, Lana tetap waspada. Mengingat sifat Mikail, tidak menutup kemungkinan lelaki itu akan melakukan segala cara untuk melaksanakan keinginannya. Dengan memasukkan obat penggugur di minumannya misalnya, siapa yang tahu?
Mengingat lelaki itu pernah membiarkan minumannya dicampuri obat oleh Norman. Lana mengelus perutnya dan mengernyit sedih, meskipun bayi ini tidak diinginkan oleh ayahnya, meskipun perasaannya sekarang terluka karena Mikail lebih mementingkan kenangannya akan Natasha daripada dirinya yang sekarang ada dan hidup di depannya, Lana harus berusaha tegar dan kuat, demi anak ini.
“Anda akan mempertahankan anak itu kan?,” suara Norman menyentakkan Lana dari lamunannya. Lelaki itu sedang memasuki ruangan yang sama dengan Lana.
Lana menatap Norman dan mencoba tersenyum, Norman sangat baik dan sopan padanya ketika dia memasuki rumah ini. Norman pulalah yang menjelaskan kepadanya kebenaran dan merubah semua pandangannya akan Mikail.
“Aku akan menjaganya dengan nyawaku. Kau harus berhadapan denganku dulu kalau kau ingin mencelakai anak ini”
Senyum terukir di bibir Norman, “Tidak nyonya, Tuan Mikail tidak pernah menyuruh saya mencelakai anak itu. Bahkan jika tuan Mikail menyuruhpun, saya akan menolak, anak itu adalah keturunan Raveno yang harus saya hormati pula” Kelegaan meliputi hati Lana, setidaknya ada orang yang mau membela anaknya. Kemudian Lana menatap Norman dengan ragu,
“Apakah kau tahu bahwa Natasha meninggal karena dia mencoba mengandung untuk kedua kalinya?”
Noman menatap Lana hati-hati dan menganggukkan kepalanya, “Saya tahu, setelah kematian nyonya Natasha. Hal itulah yang menghancurkan Tuan Mikail, bahwa dia sebenarnya berkontribusi dalam kematian Nyonya Natasha. Nyonya Natasha bisa hidup lebih lama seandainya tidak hamil….,” Norman menghela nafas panjang dan menatap Lana lembut, “Saya harap Anda memahami perasaan Tuan Mikail”
“Dia selalu menganggapku sebagai pengganti Natasha, dia menganggapku sama seperti Natasha,” Lana memejamkan matanya pedih, “Anak ini anaknya, tetapi dia menyuruhku mengugurkannya,”
Norman menatap perut Lana dan tatapannya melembut di sana, “Saya yakin Tuan Mikail tidak pernah menganggap Anda sebagai pengganti Nyonya Natasha. Jika dia hanya menganggap Anda sebagai boneka pengganti, dia tidak akan menunjukkan emosinya kepada Anda. Anda tidak akan diperlakukan olehnya dengan begitu hormat, yang bisa saya katakan, apa yang dilakukan Tuan Mikail adalah karena dia peduli kepada Anda?
Peduli kepadanya?? Bagaimana bisa?? Mikail menyuruhnya menggugurkan anaknya. Bagaimana bisa itu disebut kepedulian?
“Tuan Mikail menginginkan anak itu digugurkan karena dia mencemaskan keselamatan Anda. Dia takut Anda akan celaka dan meninggal seperti Natasha, dia takut kehilangan Anda”
Lana menatap Norman dengan tak percaya, “Dia tak mungkin takut kehilanganku”
“Percayalah kepada saya,” Norman tersenyum lembut. “Tuan Mikail memang tidak pernah pandai menunjukkan perasaannya, tetapi kalau memperhatikan Anda akan tahu,”
Norman membungkukkan tubuhnya, lalu berpamitan dan meninggalkan Lana dalam keheningan.

***

“Apakah kau sudah berubah pikiran tentang usulanmu semalam?,” Lana menatap Mikail yang baru saja memasuki kamar, tidak biasanya Mikail memasuki kamar sedemikian larut, dan lelaki itu tampak lelah.
Mikail menatap Lana sekilas, lalu melepas pakaiannya dan masuk ke kamar mandi, ketika keluar dari sana, lelaki itu tampak segar dengan piyama hitamnya,
“Aku tidak mau membahasnya lalu membuatmu marahmarah sepanjang malam,” dengan kasar Mikail menggosokkan handuk ke rambutnya yang basah, kemudian melempar handuk itu dan menatap Lana, “Kau pasti akan keras kepala dan tetap pada pendirianmu, mempertahankan anak itu”
“Tentu saja, aku tidak akan menerima kemauan konyolmu untuk menggugurkan anak ini karena anak ini tidak bersalah”
“Kita akan berdebat lagi malam ini ya,” Mikail mendesah lelah, “Aku lelah Lana, yang aku tahu, anak ini akan melukaimu lalu membunuhmu”
“Mikail,” seru Lana setengah marah, “Dia hanya janin kecil yang tidak berdaya!”
“Oke!,” lelaki itu membentak, tampak tak tahan dengan semua perdebatan mereka, “Silahkan, lanjutkan kehamilanmu itu… tetapi..,” mata Mikail menajam, “Kalau sampai kau kenapa-kenapa gara-gara kehamilan ini, aku tidak akan berkompromi”
Mikail mengalah. Lana terpana, sebelumnya MIkail tidak pernah mengalah secepat itu. Lana tadi sudah mempersiapkan argumen yang panjang, pembelaan mati matian, bahkan ancaman putus asa menyangkut kehamilannya ini. Dan Mikail semudah itu mengalah kepadanya.
“Kenapa?,” Mikail menatap Lana marah, tampak tak nyaman dengan tatapan takjub Lana,
Lana langsung mengalihkan pandangannya dengan pipi merona, “Tidak-tidak ada apa-apa”
“Tetapi aku punya satu syarat,” gumam Mikail tenang, seolah-olah baru mengingatnya.
Lana terkesiap dan menatap Mikail waspada, dan reaksi itu membuat Mikail menahan tawanya.
“Tenang Lana, kau tegang seperti senar yang akan putus, aku tidak sedang akan menjatuhkan bom ke kepalamu”
 “Apa syaratmu?”
Pandangan Mikail berubah sensual, “Aku tidak mau kehamilan itu menggangguku jika aku menginginkanmu”
Pipi Lana memerah, tersipu sekaligus marah atas kata-kata egois Mikail. Jangan-jangan itu adalah salah satu usaha
Mikail mengganggu kehamilannya…
“Baik,” Lana mendongakkan kepalanya, mencoba terlihat menantang, “Asalkan kau melakukannya dengan lembut dan tidak melukai bayiku”
Mikail hanya menganggukkan kepalanya, ketika dia akhirnya menatap Lana, matanya menyala dengan sensual, “Apakah kau masih pusing seperti semalam?”
Lana tidak pusing lagi. Tetapi kearoganan Mikail yang tersirat itu membuatnya ingin menantangnya. Mikail pasti akan bercinta dengannya ketika Lana sudah tidak pusing. Dan Lana tidak akan bisa. Tidak akan mampu menolak pesona gairah Mikail.
Dengan berpura-pura dia memegang kepalanya, mengernyit, “Sebenarnya aku masih pusing”
“Benarkah?,” Mikail menatapnya tajam bercampur kecemasan, “Kau sudah minum obat penambah darah dari dokter? Mereka bilang kau kurang darah”
“Sudah…,” sedikit geli Lana melirik Mikail, tetap berusaha berakting kesakitan.
Lelaki itu menatap Lana lama dan intens, tampak menggertakkan gigi. Semula Lana bingung kenapa, tetapi ketika dia melirik ke bawah, dia menyadari bahwa Mikail sudah siap, keras, dan bergairah di sana. Lelaki itu sudah begitu bergairah, dan Lana tinggal bilang ya, lalu mereka akan bercinta di ranjang dengan penuh gairah seperti biasa… tetapi tidak! Lana tidak akan membuat itu
begitu mudah bagi Mikail, Lana ingin menghukum Mikail karena hatinya masih sakit atas usulan Mikail untuk menggugurkan kandungannya.
“Aku pusing sekali,” Lana sengaja membuat suaranya terdengar lemah, “Aku mau tidur,” Dengan gerakan sakit dibuat-buat Lana mengangkat selimut ke bahunya dan membuat posisi tidur yang nyaman.
Mikail hanya berdiri sejenak di tengah ruangan itu dan menatap Lana. Dia sudah dua hari tak bercinta dengan isterinya itu. Biasanya setiap hari. Dan itu semua karena kehamilan itu. Tapi mau bagaimana? Dia tidak mungkin memaksa Lana yang sedang sakit kan?
Sedikit mendesah, merasakan kejantanannya yang begitu keras sampai terasa nyeri. Mikail melangkah ke ranjang dan membaringkan diri, tetapi Sialan! Dia tidak bisa tidur, gairah terlalu menggelegak di dalam dirinya, meminta dipuaskan. “Mikail,” suara Lana menggugah penyiksaan yang dialaminya.
“Apa Lana?,” Mikail menjawab kasar.
Diam-diam Lana tersenyum mendengar nada tersiksa dalam suara Mikail. Rasakan kau, Tuan Mikail Raveno yang arogan, soraknya dalam hati,
“Aku… aku pusing…, maukah kau memijit kepala dan pundakku?”
***

No comments:

Post a Comment