Tuesday, October 13, 2015

SLEEP WITH THE DEVIL - SANTHY AGATHA - BAB 7



BAB 7

Mikail menggandeng tangan Lana dengan formal ketika memasuki restaurant. Sang kepala restaurant sendiri yang menyapa mereka dan mengantarkan mereka berdua ke meja yang sudah disiapkan.
Mikail tampak akrab dengan kepala restaurant itu, dan Lana melihat kepala restaurant, seorang lelaki Perancis dengan logat Perancis yang kental. Sesekali Mikail berbicara dalam bahasa Perancis yang lancar dan tersenyum menanggapi perkataan kepala restaurant itu.
Dari informasi yang pernah didapat Lana, ayah Mikail adalah orang Italia dan ibunya keturunan Perancis. Mungkin ini sebabnya Mikail lancar berbahasa Perancis, meskipun itu bukan urusannya. Lana cepat-cepat mengalihkan pikirannya dari Mikail.
Ketika kepala restaurant itu pergi, Mikail menarikkan kursi untuk Lana dan duduk di depan Lana,
“Restaurant ini milik ibuku,” Mikail menatap kepergian kepala restaurant itu, “Francoise adalah asisten ibuku sejak lama, dia mencintai restaurant ini seperti mencintai hidupnya”
Lana terdiam menatap Mikail. Orangtua Mikail juga telah meninggal, itu yang dia tahu, tetapi entah kenapa, informasi tentang orang tua Mikail itu tersimpan rapat, jauh sekali hingga tidak ada seorangpun yang bisa menggalinya.
Seorang pelayan datang dan Mikail memesan lagi dalam bahasa Perancis yang fasih. Ketika hidangan pembuka datang, Lana terpesona dengan tampilannya, Mikail menjelaskan bahwa makanan itu adalah L'imperial de saumon marine yang ternyata adalah filet salmon asap. Ditemani dengan Creme, potongan jeruk citrus, dan Roti Baggue. Penyajiannya begitu indah, seperti hamparan padang pasir di atas piring lengkap dengan suasana eksotisnya.
Lana menyuap untuk pertama kalinya dan mendesah, merasakan crème itu meleleh di mulutnya dan menciptakan cita rasa yang bercampur baur antara rasa manis dan kelembutan yang nikmat.
Tak disadarinya bahwa Mikail menatap ekspresinya itu dengan tatapan kelaparan. Suasana hati Mikail luar biasa buruknya, hasratnya yang tidak terlampiaskan membuatnya frustrasi luar biasa. Dia amat sangat ingin meledak… di dalam tubuh Lana.
Mikail memesan anggur Chardonnay sebagai teman makan mereka, sambil berharap malam ini Lana sedikit mabuk sehingga mengendorkan pertahanannya. Tetapi pikiran bercinta dengan Lana dalam kondisi perempuan itu mabuk sama sekali tidak menyenangkannya. Dia ingin perempuan itu sukarela, melingkarkan pahanya di tubuhnya, ketika tubuh mereka bersatu. Saat itu akan datang pada akhirnya, kalau Mikail mau bersabar dan menundukkan perempuan keras ini pelan-pelan.
Hidangan utama datang, yakni Parmentier de canard et son bouquet de verdure, hidangan daging bebek yang dipanggang hingga cokelat muda dan berminyak bersama dengan kentang lembut yang dihancurkan, dan disajikan bersama semangkuk salad. Rasanya luar biasa lezat dengan paduan bumbu-bumbu yang tidak biasa dan khas, membuat Lana terpesona akan citarasa masakan khas perancis ini. Pantas saja restaurant ini dianugerahi lima bintang.
“Kau menyukainya?,” dalam cahaya lampu yang temaram, Mikail tampak lebih lembut. Garis kejam di bibirnya tampak memudar dan itu membuatnya tampak lebih santai.
Lana ingin membantah, tetapi tidak ingin merusak suasana indah ini. Terkurung selama berminggu-minggu di dalam kamar terkutuk itu dan sekarang entah kenapa Mikail berbaik hati membawanya keluar – meskipun dengan pengawalan ketat – Lana sempat melirik ke arah pengawal-pengawal
Mikail yang berdiri seperti biasa di akses pintu keluar.

Lana menganggukkan kepalanya. Dia memang sangat menikmati semua ini, bukan hanya makanan – meskipun makanan di rumah Mikail tidak kalah nikmatnya – tetapi bisa makan dengan pemandangan bebas, bukan pintu kamar dan ruangan yang selalu terkunci sangat menyenangkannya.
“Bagus,” Mikail bergumam puas, lalu memanggil pelayan untuk menghidangkan hidangan penutup, dan kopi, “Aku ingin gencatan senjata”
Lana mengalihkan pandangan tertariknya pada hidangan penutup yang baru datang itu. Itu adalah crème brûlée, hidangan cantik dari krim yang dibakar di permukaan atasnya sehingga membentuk lapisan karamel renyah tapi lembut di bagian bawahnya.
“Gencatan senjata?,” ketika menyadari arti dari kata-kata Mikail, Lana waspada sepenuhnya.
“Aku akan memperlakukanmu dengan baik, bukan sebagai tawanan, tetapi sebagai kekasihku. Menurutku kita bisa menjalin hubungan kerja sama yang cukup baik”
Lana tergoda. Bukan, bukan tergoda menjadi kekasih Mikail. Tetapi tergoda akan janji itu, bahwa Mikail tidak akan memperlakukannya sebagai tawanan, yang berarti akan melonggarkan keamanan ketat yang selama ini menjaganya.
Itu berarti kesempatannya untuk melarikan diri akan… Mikail sepertinya bisa membaca pikiran Lana dari raut wajahnya, bibirnya mengetat marah dan lelaki itu menggeram,
“Lupakan saja!,” dengan marah Mikail melempar serbetnya, lalu berdiri, “Norman!”
Dengan cepat Norman menyiapkan mobil Mikail, dan Lana mendapati dirinya ditarik pergi meninggalkan rumah makan itu.

***

Dalam kegelapan sosok itu mengawasi, kabel rem mobil itu sudah berhasil dipotongnya. Susah memang, mengingat pengawal-pengawal Mikail selalu siaga. Tetapi jangan panggil dia Jackal , nama samarannya di dunia gelap yang cukup populer sebagai pembunuh bayaran paling ahli.
Potongannya sudah diatur dengan rapi, ketika diperiksa sekarang pun tidak akan ada yang menyadarinya. Tetapi seiring dengan berjalannya mobil, dan kira-kira 10 kilometer dari sini, tepat ketika mereka memasuki area pinggiran kota dengan jalan berliku dan pohon besar di kiri kanannya menuju rumah Mikail…. Kabel itu akan putus. Jackal terus mengawasi sampai mobil itu berjalan dan menghilang di tikungan, lalu tersenyum jahat, sekarang saatnya menagih bayarannya kepada Franky yang menyedihkan.

***

Ketika mereka dalam perjalanan pulang, suasana hati Mikail tampaknya lebih buruk dari sebelumnya. Lana mengernyit menatapnya. Apakah Mikail selalu melalui hari-harinya dengan marah-marah seperti ini? Lelaki itu pasti akan mati muda, pikirnya dengan puas.
Perjalanan itu berlangsung sedikit lama dan Lana mengantuk mungkin karena pengaruh anggur dan makanan tadi, Lana mulai memejamkan mata dan godaan untuk tidur terasa sangat nikmat.
“Lana!!,” teriakan itu mengejutkan Lana membuatnya terperanjat kaget, ketika sadar dia merasakan dirinya ada dalam dekapan Mikail, didekap dengan begitu kuat hingga merasa sakit. Seluruh tubuh Mikail melingkupinya seolah melindunginya. Melindunginya dari apa…..?
Sekejap kemudian, mereka berguling dan benturan keras mengenai kepalanya, membuat semuanya gelap dan Lana tidak ingat apa-apa lagi.

***

“Bagaimana dia?,” Mikail menyeruak di antara kerumunan perawat itu. Para perawat di ruangan lain tampak mengejarnya karena luka di lengannya belum selesai dibalut, Dokter dan perawat yang menangani Lana menoleh serentak dan sedikit terpana ketika menyadari bahwa di pintu ruangan gawat darurat itu, berdiri sosok lelaki yang luar biasa tampan, mengenakan kemeja putih yang penuh darah, dan tampak begitu marah.
“Bagaimana dia?!,” sekali lagi Mikail bertanya, dengan nada sedikit berteriak.
Dokter Teddy, yang bertugas di sana, cukup mengetahui reputasi Mikail yang begitu kejam dan cepat naik darah – lagipula, lelaki itu adalah pemilik rumah sakit ini.
Dia menghampiri Mikail dan mencoba menjelaskan,
“Dia baik-baik saja Tuan Mikail, kami sudah menjahit luka di kepalanya. Tetapi dia kehilangan banyak darah, dan saat ini kami sedang mencari darah dari penyedia terdekat….”
“Cari darah itu…Norman!!,” Mikail berteriak memanggil Norman, yang dari tadi sebenarnya sudah berdiri di belakangnya, “Dia akan membantu mencari darah untuk Lana, apa golongan darahnya?”
“AB,” dokter itu menjawab cepat, tiba-tiba merasa takut akan api yang menyala di mata berwarna cokelat muda itu.
Mikail tertegun sejenak, “Ambil darahku, aku juga AB”
“Tuan Mikail, Anda juga habis terluka karena kecelakaan ini,” Norman menyela cemas.
“Kami tidak bisa mengambil darah Anda, kondisi Anda tidak memungkinkan,” Dokter itu menyela tak kalah cepat hampir bersamaan dengan Norman.
Mikail mengepalkan tangannya marah, “Dengar, ini hanya luka lecet kecil, dan aku ingin semua perkataanku dituruti, ambil darahku dan selamatkan dia! Dan kalau…,” Mikail terengah, matanya melirik ke arah tubuh Lana yang terkulai lemas di sana, “Dan kalau sampai terjadi sesuatu kepadanya, aku akan membuat kalian menerima ganjarannya,”
gumamnya dengan nada mengancam yang menakutkan

***
Mikail duduk di pinggir ranjang dan menatap Lana yang masih tertidur karena pengaruh obat. Transfusi darah sudah dilaksanakan dan kondisi Lana berangsur membaik.
Kali ini barulah Mikail merasakan sedikit pusing dan sakit di lengannya yang tersayat besi mobil yang terguling tiga kali sebelum terhempas ke turunan jalan tadi.
“Kondisinya sudah membaik,” Norman yang berdiri di sana berusaha memecah keheningan, “Kami sudah menyelidiki pelakunya”
“Franky,” Mikail menggeram, dia sudah tahu bahkan sebelum Norman memberitahunya. Bajingan busuk itu beraniberaninya melakukan ini. Dia tidak tahu apa yang menantinya. Mikail pasti akan mencincangnya sampai menjadi bubur. ”Kau sudah menemukannya?”
Norman bergerak sedikit gelisah, “Belum tuan, ketika dia sadar bahwa dia gagal membunuh Anda, dia langsung melarikan diri entah kemana”
“Cari dia, temukan lalu bawa dia ke depanku, hidup-hidup,” suara Mikail terdengar mengerikan dan Norman tahu Mikail sedang sangat marah. Saat ini seharusnya Franky berdoa supaya dia ditangkap dalam kondis sudah mati, karena kalau Mikail sudah menemukannya dalam kondisi hidup… Norman tidak berani membayangkan bagaimana jadinya.
“Ada satu lagi tuan,” Norman tiba-tiba teringat Mikail hanya melirik tidak berminat, “Apalagi?” “Franky tidak melakukan semuanya sendiri, dia menyewa seorang pembunuh bayaran yang sangat terkenal di dunia gelap, Jackal.”
Jackal. Mikail pernah mendengar nama sebutan itu. Jackal adalah pembunuh jenius bermental psikopat yang sangat keji dan maniak. Dia membunuh korbannya dengan perhitungan yang sangat matang dan terkadang bisa sangat kejam. Sampai saat ini, tidak ada yang tahu sosok asli pembunuh itu, mereka semua menyebutnya Jackal karena dia selalu berhasil membunuh korbannya… sampai sekarang.

“Jackal terkenal tidak pernah gagal. Dia akan terobsesi kepada korbannya kalau tidak bisa membunuhnya. Dan sekarang, dia pasti akan mengejar Anda. Anda harus berhati hati karena sampai saat ini kita tidak tahu siapa dirinya” Mikail menganggukkan kepalanya. Merasa siap karena marah. Franky dan pembunuh psikopat yang entah siapa itu telah berani-beraninya melukai Lana, miliknya. Kalau mereka memutuskan berhadapan dengannya, berarti mereka telah memilih musuh yang salah.

***

Lana terbangun ketika merasakan lengannya disengat. Dia membuka mata dan bertatapan dengan wajah muda berkacamata yang sangat tampan dan ramah.
“Ups aku membangunkanmu,” lelaki itu tersenyum ramah, “Aku sedang menyuntikkan obat untuk lukamu. Aku sudah berusaha melakukannya selembut mungkin, tetapi sepertinya aku tak selembut yang kukira”
Lana mengamati lelaki itu dari jas putih yang dikenakannya,
dia adalah dokter.
Lelaki itu mengikuti arah pandangan Lana dan tersenyum, “Perkenalkan, aku Dokter Teddy, aku dokter yang merawatmu kemarin ketika kau dibawa ke sini, Kepalamu pasti sakit ya? Kau terbentur cukup keras, aku menjahit 12 jahitan di sana”
“Kecelakaan?,” Lana berusaha mengingat semuanya-tetapi ingatan terakhirnya hanya sampai pada teriakan Mikail dan pelukannya yang begitu erat, sebelum semuanya menjadi gelap.
“Ya kecelakaan, kata polisi mobil kalian di sabotase dan remnya blong. Mobil kalian terguling dan kepalamu membentur, untung kami dapat menyelamatkanmu”
“Bagaimana dengan Mikail?,” Lana bertanya cepat, sabotase itu pasti dilakukan oleh musuh Mikail yang mendendam kepadanya. Apakah Mikail terluka? Ataukah lelaki itu sudah mati? Dan kenapa bukannya senang tetapi Lana malahan merasa cemas?
“Maafkan aku mengecewakanmu,” suara khas itu terdengar dari pintu, “Tetapi aku masih hidup”
Lana menoleh dan melihat Mikail berjalan memasuki ruangannya, dengan kemeja hitam dan penampilan yang luar biasa sehat dan tak kelihatan kalau dia baru saja mengalami kecelakaan. Tanpa sadar Lana mengernyit, menyesal telah mencemaskan Mikail. Lelaki itu mungkin iblis, jadi susah mati, gumam Lana menyumpah dalam hati.
‘Bagaimana kondisinya dokter?,” Mikail mengalihkan tatapan matanya dan menatap Dokter Teddy yang masih berdiri di sana, memeriksa infus Lana.
Senyum di wajah Dokter Teddy tak pernah pudar hingga Lana menyadari dua lelaki di depannya ini begitu kontras, yang satu begitu dingin dengan nuansa muram gelap yang melingkupinya, dan yang satunya tampak begitu cerah, penuh senyum seolah-olah dia membawa Matahari di atas kepalanya.
“Kondisinya sudah membaik, tetapi dia masih harus istirahat dan berbaring beberapa hari di sini. Saya belum bisa merekomendasikan dia dibawa pulang seperti permintaan  anda tuan Mikail,” ekspresi Dokter Teddy berubah serius meskipun masih penuh senyum, “Itu akan berbahaya untuknya, kepalanya terbentur parah dan goncangan sekecil apapun akan membuatnya mual dan muntah dan kesakitan.
Anda tentu tidak ingin hal itu terjadi kepadanya kan?” “Berapa hari sampai dia bisa normal kembali?,” Mikail membicarakan Lana seolah-olah Lana tidak ada di ruangan itu.
Dokter Teddy tampak menghitung,
“Maksimal tujuh hari, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau kurang dari tujuh hari perkembangannya sudah membaik, kami akan merekomendasikannya untuk bisa dirawat di rumah” Mikail tercenung. Tujuh hari, dan Lana berada dalam area publik yang cukup berbahaya. Otaknya berputar memikirkan keamanan seperti apa yang harus diterapkannya untuk menjaga Lana. Franky masih dalam pengejaran dan Jackal berada entah dimana, masih mengincar mereka. Mikail harus menjaga Lana dengan ekstra hati-hati.
Dokter Teddy mengangkat bahunya, dan tersenyum pada Lana,
"Baiklah Lana, saya harus kembali bertugas. Saya yakin Anda akan segera sembuh", senyumnya yang secerah Matahari memancar lagi, membuat Lana terpesona, bahkan setelah Dokter Teddy pergi.
Mikail menatap Lana dan mencibir, "Jangan bermimpi", desahnya kesal. Lana menatap Mikail dan mengernyit, "Apa maksudmu?"
"Kau menatap dokter itu dengan tatapan bodoh dan terpesona seperti perawan yang melihat lelaki pertamanya.....Oh maaf", senyum Mikail benar-benar mengejek, "Aku lupa kalau kau sudah tidak perawan dan akulah lelaki pertamamu"
Lana benar-benar marah kepada Mikail, lelaki itu benarbenar perpaduan dari semua yang dia benci, kurang ajar, tidak sopan, dan menjengkelkan. Mungkin karena itulah Tuhan menciptakannya dengan kesempurnaan fisik yang luar biasa, untuk mengimbangi sifat buruknya.
Mikail duduk di kursi sebelah Lana dan menatap lurus, "Aku ulangi, jangan pernah kau terpesona pada dokter muda itu, dia pasti dari kalangan keluarga konvensional dan aku yakin, pendidikan moral dan keluarganya tidak akan menoleransi kau, perempuan yang sudah dinodai oleh Mikail Raveno"
"Hentikan!!", Lana menggeram, tak tahan akan kata-kata Mikail yang sepertinya sengaja digunakan untuk menyakitinya. Kepalanya terasa berdenyut-denyut, seperti ditusuk dengan tongkat besi. Dia meringis dan memegang kepalanya.
Ekspresi Mikail langsung berubah, lelaki itu berdiri dari kursinya dan setengah duduk di ranjang, memeluk Lana,
"Lana? Kau kenapa? Lana...?"
"Tidak... Aku tidak apa-apa, maafkan aku, kepalaku cuma sedikit sakit"
"Berbaringlah", Mikail membantu merapikan bantal-bantal di belakang Lana, lalu dengan pelan membaringkan Lana di ranjang.
Lana memejamkan matanya, merasakan denyutan itu mulai mereda, dan mendesah.
"Bagaimana?"
Lana menarik napas panjang dan membuka mata, menemukan wajah luar biasa tampan itu menatapnya dengan cemas, benar-benar cemas, bukan sesuatu yang dibuat-buat. Apakah Mikail benar-benar cemas? Tapi bagaimana mungkin? Bukankah lelaki ini adalah lelaki kejam yang menghancurkan keluarga dan orangtuanya?
Tapi ingatan Lana kembali kepada malam kecelakaan itu,
sekarang terpatri jelas dalam ingatannya kalau Mikail benarbenar merengkuhnya malam itu, memeluknya erat-erat dan menahan guncangan-guncangan untuk melindunginya. Mungkin kalau bukan karena dipeluk Mikail, tubuh Lana sudah terlempar, dan bukan hanya kepalanya saja yang terluka. Malam itu, Mikail jelas-jelas melindunginya. Tapi, kenapa? Pertanyaan-pertanyaan itu kembali membuat kepala Lana sakit, dia memejamkan matanya lagi.
Hening sejenak, kemudian Mikail menghela napas, "Istirahatlah, kalau kau perlu apa-apa, kau tinggal menekan
tombol di dekat ranjang."
Dan kemudian Mikail pergi menutup pintu dengan pelan dari luar.

***

Mikail menyandarkan tubuhnya di dinding dan memijit dahinya yang berdenyut, dadanya terasa sakit dan nyeri. Jadi, seperti ini rasanya.... Melihat Lana kesakitan hampir membuatnya meledak dalam kecemasan, dan itu semua karena musuh-musuhnya yang hendak mencelakainya,
"Apakah semua baik-baik saja Tuan?", Norman muncul, dia memang sedang bertugas berjaga di sana dan cemas melihat Mikail hanya bersandar di pintu, Mikail menoleh, menatap Norman dan mengernyit, "Ah.. Ya,  dia baik-baik saja, hanya tadi ada serangan di kepalanya, dia kesakitan"
Norman menganggukkan kepalanya dan merenung. Mikail juga tampak sibuk dengan pikirannya sendiri,
"Kenapa tidak Anda katakan saja kepadanya?", gumamnya akhirnya.
Mikail menyentakkan kepalanya, "Apa?"
"Semuanya, seharusnya dia tahu semuanya. Itu akan membebaskannya dan juga membebaskan Anda"
Mikail menggelengkan kepalanya,
"Itu akan menghancurkan hatinya". Dengan cepat Mikail mengalihkan pembicaraan, "Dokter bilang dia harus seminggu lagi di sini, kau atur penjagaan di sini, jangan sampai ada yang lengah. Hanya dokter dan perawat khusus Lana yang boleh masuk ke ruangan itu, instruksikan pada semuanya" Mikail lalu melangkah pergi, dan Norman tercenung menatap tuannya itu.
Semua orang selalu takut pada Mikail. Lelaki itu setampan malaikat, tetapi hatinya sehitam iblis, begitu kata orang- orang. Semua orang memujanya sekaligus menjaga jarak karena ketakutan. Yang mereka tidak tahu, kadang-kadang, tuannya itu bisa seperti malaikat seutuhnya, baik tampilan fisiknya maupun hatinya

***
"Selamat sore, sepertinya kau sudah lebih sehat". Dokter Teddy menyapa lagi di sore harinya setelah memeriksa Lana, "Dan kulihat makan malammu masih utuh, kenapa kau tak memakannya?"
Lana mengernyit meskipun mencoba tersenyum lemah kepada Dokter Teddy,
"Saya masih mual dan muntah-muntah dokter"
"Tapi kau harus tetap makan, aku akan memesankan menu lain untukmu, mungkin sup panas dan jus buah bisa menggugah seleramu?"
Mau tak mau Lana tersenyum melihat betapa bersemangatnya Dokter Teddy,
"Terima kasih dokter" Dokter Teddy menganggukkan kepalanya,
"Aku cuma tidak menyangka perempuan seperti kau yang menjadi kekasih Tuan Mikail"
Tertegun Lana mendengar perkataan Dokter Teddy itu, "Apa?"
Wajah Dokter Teddy memerah karena malu, dia tampak menyesal telah mengucapkan kata-kata itu,
"Ah maafkan aku Lana, lupakan aku telah mengucapkannya ya?"
Lana menggelengkan kepalanya,
"Tidak apa-apa dokter, semua yang melihat pasti akan menyangka aku adalah kekasih Mikail"
"Apalagi melihat tingkah Tuan Mikail di ruang gawat darurat kemarin", Dokter Teddy terkekeh
Lana mengernyitkan matanya lagi, memangnya apa yang dilakukan Mikail di ruang gawat darurat kemarin?
Dokter Teddy sepertinya tahu bahwa Lana bertanya-tanya, dia mengangkat bahunya,
"Jangan bilang padanya kalau aku membicarakan tentangnya di belakangnya ya, sampai sekarang aku masih merinding mengingat tatapan membunuhnya ketika mengancam akan menghabisi semua dokter dan perawat di sini kalau mereka tidak berhasil menyelamatkanmu", ditatapnya Lana dengan tatapan menyesal, "Sungguh, siapapun yang melihat kelakuannya kemarin pasti akan mengambil kesimpulan yang sama, bahwa Tuan Mikail adalah kekasih yang amat sangat mencintai dan mencemaskanmu"

Lana memalingkan muka, tidak tahu harus berkata apa, masih tidak dipercayainya kata-kata Dokter Teddy kepadanya,
"Ah ya, dan sebenarnya dia turut andil dalam menyelamatkan nyawamu"
Ketika Lana menatap Dokter Teddy dengan bingung, Dokter Teddy mendesah, "hmm. Dia tidak bilang padamu ya, jangan bilang kalau kau tahu dari aku ya"
"Tahu tentang apa?"
"Malam itu kau kehabisan banyak darah, dan Tuan Mikail yang kebetulan golongan darahnya sama denganmu, memaksa kami mengambil darahnya untukmu. Sebenarnya kami tidak boleh melakukannya, Tuan Mikail juga baru selamat dari kecelakaan yang sama, tetapi dia memaksa, dan mengancam. Dan benar apa kata orang, tidak akan ada seorangpun yang berani melawan apa yang dikatakan oleh Mikail Raveno. Lagipula dia adalah pemilik rumah sakit ini, perintahnya harus kami laksanakan"
Kejutan lagi. Lana tidak suka dia harus berhutang nyawa kepada lelaki iblis itu... Tetapi entah kenapa, perasaan bahwa darah lelaki itu mengalir di pembuluh nadinya membuat dadanya berdesir oleh suatu perasaan aneh, seolah-olah bagian diri Mikail sekarang ada di dalam tubuhnya, di dalam dirinya.
Dokter Teddy menghela napas melihat Lana termenung,
"Ah seharusnya aku tidak terlalu banyak bicara, kau harus segera beristirahat"
Ketika Dokter Teddy sudah sampai di pintu, Lana memanggilnya,
"Dokter..."
Langkah Dokter Teddy berhenti seketika, dia menoleh dan menatap Lana bertanya-tanya,
"Ada apa Lana? Ada yang bisa kubantu? Apakah kau kesakitan?"
Lana menggelengkan kepalanya,
"Ah tidak apa-apa dokter, lupakan saja, terimakasih sudah merawat saya"

Dokter Teddy tersenyum,
"Aku hanya melakukan tugasku, tapi sekaligus aku senang kalau pasienku makin membaik".
Ketika Dokter Teddy pergi, Lana tercenung. Cerita Dokter Teddy tadi membuatnya bingung. Benarkah itu semua? Bahwa Mikail sangat mencemaskan keselamatannya?
Pikiran Lana teralihkan oleh kesadarannya bahwa dia saat ini tidak sedang dikurung di rumah Mikail yang berpenjagaan ketat, dia ada di area publik. Sebuah rumah sakit, dan itu berarti kesempatannya untuk melarikan diri semakin besar.
Dia harus melepaskan diri dari cengkeraman Mikail karena dia merasa takut. Ya... Lana takut semakin lama dia berada di bawah Mikail, pada akhirya dia akan bertekuk lutut di bawah kaki Mikail, jatuh ke dalam pesonanya. Lana hanya perlu seseorang untuk menolongnya,,,,bisakah Dokter Teddy menolongnya? Jika Lana meminta tolong padanya, akankah Dokter Teddy mengerti? Dari perkataannya tadi, tampak jelas kalau Dokter Teddy menganggap Lana adalah kekasih
Mikail, Bagaimana jika dia menceritakan yang sebenarnya? Mungkinkah Dokter Teddy jatuh simpati dan menolongnya? Atau mungkin Dokter Teddy malah melaporkannya pada Mikail, mengingat rumah sakit ini adalah milik Mikail. Malam itu Lana tertidur dengan mimpi buruk, di mana Mikail terus menerus mengucapkan ancaman itu di telinganya, bahwa dia akan membunuh siapapun yang menolong Lana dan siapapun yang lengah hingga Lana bisa melarikan diri. Kalimat itu terngiang jelas sepanjang malam : "Kebebasanmu akan digantikan dengan nyawa seseorang, Lana....


***

Norman melapor pagi-pagi sekali kepada Mikail, "Kami berhasil menangkap Franky"
Mikail yang sedang menyesap kopinya langsung membanting gelasnya ke meja, "Hidup-hidup?", tanyanya sambil menyipitkan matanya. Norman mengangguk,
"Hidup-hidup"
"Bagaimana kondisinya?"
"Kakinya sedikit luka, tetapi tidak parah. Dia berusaha melarikan diri dari kami, tetapi kami berhasil menggagalkannya"
"Bagus, bawa dia padaku"

***

Sosok yang selalu berada dalam bayangan gelap itu mengawasi semuanya dari mobil yang diparkir secara tidak kentara dekat dengan gerbang Mikail.
Bagus. Mereka sudah menangkap Franky, itu akan mengalihkan perhatian mereka untuk sementara. Dan dia bisa berbuat apapun yang dia mau untuk menyusun rencana menghabisi Mikail.... Dan pelacurnya. Jackal tidak pernah gagal membunuh targetnya. Ketika targetnya terlepas, Jackal akan memburunya sampai mati, dan kali keduanya, dia tak akan pernah gagal.

***



No comments:

Post a Comment