Thursday, October 1, 2015

YOU'VE GOT ME FROM HELLO - SANTHY AGATHA - BAB 2



Ada kesalahan-kesalahan dalam percintaan yang bisa dimaafkan, tetapi pengkhianatan tidak termasuk salah satu di
antaranya.


2

Ponsel Sani berbunyi sore itu, dan dia langsung mengangkatnya ketika mengetahui bahwa yang menelepon adalah mamanya,
Sani?”       mamanya       langsung       berbicara       seperti
kebiasaannya, “Mama harus memperingatkanmu.”
“Memperingatkan apa mama? Dahi Sani mengeryit dan langsung  waspada.  Mamanya  tidapernah  berucap  dengan nada seserius ini sebelumnya.
Jeremy.”   Suara   san mama  setenga berbisik Dia datang kemari pagi ini dan memohon kepada mama untuk memberikan informasi di mana dirimu.”
“Mama tidak memberitahukannya kepadanya kan? Sani langsunpanik.  Percuma dia pindah ke laikota kalau  pada akhirnya Jeremy mengetahui dia ada di mana.
Tentu saja tidak sayang. Sang mama menghela napas panjang, Tetapi sepertinya dia tidak menyerah, dia bilang pada akhirnya kalau mama tidak mau mengatakan di mana dirimu, dia akan tetap tahu karena dia akan menghubungi kantor penerbitmu.”
San mengernyi kesal.   Kala Jeremy   menghubungi kantor penerbitnya, tentu saja Jeremy akan tahu dimana dia berada. Dia mendesah kesal, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, Sani hanya tidak menyangka kenapa Jeremy sekeras kepala ini mengejarnya. Apakah lelaki itu tidak bisa menerima bahwa Sani tidak bisa memaafkannya?


Terima kasih sudah memperingatkanku mama, ada kemungkinan bahwa dia sudah tahu di mana aku berada, aku menginformasikan kepindahanku dan alamat baruku kepada penerbit. Aku akan bersiap kalau Jeremy nekat dan mendatangiku.”
Kau tidak apa-apa Sani? suara mamanya tampak cemas di seberang sana, membuat Sani tersenyum haru.
Tidak  apa-apa,  mama,  aku  bisa  bertahan.”  Jawabnya
mencoba sekuat mungkin meskipun dalam hatinya dia meragu.
⧫⧫⧫
Perempuan  itu  datang  lagi  malam  ini,  dan  memesan
segelas anggur untuk teman menulisnya. Azka mengernyit, dari info yang didapatnya dari Albert, Sani adalah seorang penulis novel romance. Tetapi sepertinya Sani sedang murung karena beberapa  kali  perempuan  itu  hanya  menghela  napasnya  di depan   laptopnya lalu  mengawas laya lapto itu  dengan tatapan mata kosong.
Azka merasa seperti pengintip yang memalukan ketika berdiri di depan kaca balkon atas dan mengamati Sani seperti ini, tetapi dia tidak bisa menahan diri. Sudah beberapa hari ini Sani selalu datang. Setiap pukul sembilan lalu akan menulis sampai dini hari sebelum kemudian pulang ketika terang tanah menyentuh langit. Azka tidak bisa menahan ketertarikannya untuk  mengintip  kbawah,  menanti  kedatangan  SaniDan sejauh ini, perempuan itu tetap datang.
Ada keinginan tertahannya untuk mendekati perempuan itu, tetapi dia menahan diri. Dia takut kalau dia terlalu mengganggu, Sani akan merasa segan dan kemudian tidak akan datang lagi.
Perempuan itu datang lagi.” Albert yang tiba-tiba sudah ada di ambang pintu ruang kerja Azka bergumam sambil tersenyum penuh pengertian, mengamati Azka. Kau sepertinya sangat tertarik kepadanya.”
Kenapa kau bisa berpikiran begitu? Azka mundur dari kaca itu dan melangkah menuju kursi kerjanya. Albert adalah tangan kanannya, orang kepercayaannya. Lelaki itu dulu adalah


pegawai setia ayahnya, dan orang yang paling dipercaya oleh ayahnya. Setelah ayah Azka meninggal dan dia mewarisinya jaringan kerajaan bisnis hotel dan restoran ini, Albertlah yang selalu membantunya, memberinya pendapat dari sisi pengalaman, melengkapi apa yang tidak dimiliki oleh Azka.
Karena itulah Azka menghadiahi  Albert cafe ini, tetapi lelaki setengah baya itu menolaknya. Dia hanya ingin tinggal di sebuah apartemen mini di bagian atas cafe dan tetap ingin bekerja  menjadi  pelayan  meskipun  Azka sudah melarangnya. Tetapi Albert bilang bahwa menjadi pelayan cafe ini bisa membantunya  tetap  hidup.  Dia kesepian  dabercakap-cakap dengan  para pelanggan  bisa  menyembuhkan  sepinya,  karena itulah Azka mengizinkan Albert menjadi pelayan di Garden Cafe ini.
Albert  meletakkan  koppanas  untuk  Azka  dan tersenyum, Kau menyapanya malam itu, kau bahkan tidak pernah menyapa pelanggan lain sebelumnya.”
Azk tersenyu kecut,   rupany dia   terlal mudah terbaca oleh Albert, Tetapi bukan berarti aku tertarik kepadanya.
Oh ya? Albert mengangkat alisnya, Sebelumnya kau tidak pernah menginap di cafe ini. Seperti halnya Albert, Azka mempunyai apartemen sendiri di sisi lain di bagian atas cafe ini. Tetapi  dia  memang   jarang  memakainya karena  dia  selalu pulang  ke rumahnya,  kawasan  hijau  dan sejudi perbukitan pinggiran kota, dekat dengan area resor hotelnya. Dan aku hitung,  sejakau menyapa  perempuan  itu, kau selalu datang kemari setiap malam, tanpa absen.”
Azk terkeke mendenga perkataan    Albert,   “Aku
memang tidak bisa membohongimu ya.”
“Aku  sudah  mengenalmu  sejak  kecil.”  Albert  tertawa, “Kau  tidak pernah bertingkah  seperti  ini sebelumnydengan perempuan manapun. Albert berdehem, Begitu juga ketika dengan Celia.”
Azka tertegun ketika nama Celia disebut. Wajahnya sedikit memucat, dia lalu memalingkan muka dengan murung.


Tetapi pada akhirnya semua akan tetap sama bukan?gumamnya sedih, Seberapa besarpun aku tertarik kepada perempuan itu, aku tidak akan pernah bisa memilikinya.”
Kau  bisa  memilikinya  kalau  kau  mampu  mengambil
keputusan tegas.”
Tidak.”  Azka  mengernyit  seolah  kesakitan,  “Aku memang bukan orang baik. Tetapi aku masih punya hati.”
Tuhan  tahdia  sudah  tidak  mencintai  Celia, tunangannya. Tetapi dia masih punya hati. Kesalahannya harus dibayar, meskipun perasaannya yang dikorbankan.
⧫⧫⧫
“Azka?”   Suara   lembu Celi mengguga Azk dari
lamunannya, membuat Azka menoleh dan langsung tersenyum
lembut,
Iya sayang?
Celia menyelipkan rambut panjangnya yang indah di belakang telinganya, dan tersenyum lembut,
“Ada apa? Kau tampak begitu murung.”
Azka  mendesah,  Ah..iya...  mungkin  aku  sedikit  tidak enak badan.” Itu yang sesungguhnya. Dia sungguh merasa tidak enak  badan,  ditidak  suka  berada  dsini,  tetapi  diharus. Setiap akhir pekan setelah kesibukan kantornya berakhir, dia harus berada di sini, menghabiskawaktunya bersama Celia, tunangannya Tetap pikiranny mengembara ke   caf itu, tempat perempuan bernama Sani itu selalu datang dan menulis di sana sampai dini hari.
Azka tidak sabar untuk segera pergi dari sini dan menuju
Garden Cafe, mengamati Sani dari kejauhan.
Pulanglah.” Bisik Celia lembut, penuh pengertian, “Mungkin kau kelelahan dan butuh istirahat.”
Celia selalu seperti itu, begitu lembut dan penuh pengertianApapun yang dilakukan Azka dia selalu mengerti. Apalagi yang sebenarnya Azka cari?
Ditatapnya  Celidengan  senyuman  lembut,  kemudian dia menarik Celia mendekat dan mengecup keningnya, “Kau mau kuantar masuk?
Tidak Azka, pulanglah, aku bisa masuk sendiri.” Jawab
Celia tanpa kehilangan senyumnya.
Azka menghela napas, lalu menyentuhkan jemarinya di rambut   Celi denga lembut Terimakasi Celia sampai ketemu lagi besok ya.”
Celia mengangguk, memundurkan kursi rodanya dan memutarnya memasuki rumah. Azka menunggu sampai pintu rumah itu tertutup, lalu melangkah pergi, tanpa menoleh lagi.
⧫⧫⧫
Dalam  perjalanannya  pulang  dari  rumah  Celia,  Azka
merenung. Dulu semuanya baik-baik saja. Azka melabuhkan cintanya kepada Celia, dan memutuskan untuk melamarnya. Tetapi kemudian dia larut, sibuk dalam pekerjaannya dan lupa untuk memberikan perhatiannya kepada perempuan itu.
Celia yang kehilangan cintanya, akhirnya memutuskan untuk mencari perhatian dari lelaki lain. Dan dia mendapatkannya dari sosok lelaki bernama Edo, yang ternyata adalah seorang bajingan.
Bajingan itu merenggut kegadisan Celia yang sedang rapuh karena diabaikan oleh Azka. Lalu kemudian meninggalkannya begitu saja dalam kondisi hamil.
Masa-masa  itsangat  menyakitkan  bagi  Azka,  ketika Celia  datang  kepadanya  dan  mengakui  semuanya,  tentu  saja Azka  marah  besar.  Mereka  sedang  berkendara  di  mobil,  di tengah hujan deras ketika Celia mengakui semuanya kepada AzkaAzka yang  marah menginjak  gas begitu  kencang untuk meluapkan emosinya hingga kehilangan kewaspadaannya. Mereka lalu mengalami kecelakaan fatal, kecelakaan yang membuat Celiakeguguran anak hasil hubungannya dengan Edo, dan tidak bisa berjalan lagi selamanya.
Azka  sendiri  hanya  mengalami  lecet-lecet,  dia mendengar  kenyataan  bahwa  Celia  akan  lumpuh  dan merasakan penyesalan yang luar biasa. Dialah penyebab semua ini, Celia menjadi lumpuh seumur hidup karena dirinya, karena diala merek mengalami   kecelakaa para itu Padahal perselingkuhan  Celikaladitelaah  adalah  karena kesalahannya, Azka terlalu sibuk dengan bisnisnya sehingga melupakan Celia. Bahkan dia hampir tidak punya waktu untuk tunanganny itu jad waja kala Celia   sampa mengais perhatian dari lelaki lain.
Lalu Azka memutuskan bahwa dia harus bertanggungjawabDan pagi itu pula ketika Celia tersadarkan diri dari  kecelakaan,  menangis  ketika  mengetahui  bahwa  dia tidak bisa berjalan lagi, Azka memeluknya dan mengatakan bahwa dia akan selalu mendampingi Celia selamanya. Dia memaafkan kekhilafan Celia dan bertekad untuk melangkah ke depan, meninggalkan yang lalu.
Azka mengira itu akan mudah. Toh dia mencintai Celia sebelum  kejadian  itu, dipikirnya  dihanya perlu  memaafkan dan kemudian menjalani keadaan mereka seperti sebelumnya. Tetapi  kemudian  dia  merasakan  perasaannya  mulai  terkikis dan musnah, setiap menatap perempuan cantik itu. Lalu menyadari kenyataan bahwa Celia telah mengkhianatinya dan membiarkan  dirinya  disentuh  oleh  lelaki  lain  sampai sedemikian jauhnya.
Hari demi hari berlalu, sampai di titik cintanya musnah begitu saja. Dia menjalani harinya dengan Celia hanya karena dia merasa harus melakukannya. Azka yakin dia bisa melakukannya, toh hatinya sudah mati rasa.
Sampai kemudian dia melihat Sani, dan terpesona lalu tertarik kepadanya.
Albert   meman benar Azk tidak   perna tertarik kepada perempuan lain sebelumnya. Begitu kuat, begitu memabukkan, membuatnya tak bisa memikirkan yang lain. Membuatnya ingin mencoba mendekat bahkan meskipun dia sadar bahwa dia tidak bisa memiliki perempuan itu.
Sejenak  Azka  ragu,  dia  berada  dpersimpangan  jalan, satu menuju ke arah rumahnya dan yang lain menuju ke arah Garden  Cafe.  Padakhirnya  Azka  mengarahkan  mobilnya  ke arah Garden Cafe. Dia ingin melihat Sani.
⧫⧫⧫
Ketika dia memasuki pintu cafe itu, matanya mencari di sudut yang biasa, dan menemukan Sani. Perempuan itu sedang mengetik seperti biasa ditemani segelas anggur merah yang tinggal tersisa setengahnya.
Sejenak Azka ragu, tetapi kemudian dia mendekat, “Aku heran anggur itu tidak membuatmu mengantuk.” Sani  langsung  mendongak  mendengar  sapaannya,  ada
tatapa terkeju d san ketik meliha Azk berdiri   di
depannya. Tetapi kemudian dia tersenyum lembut.
“Aku  punya  penyakit  susah  tidur  akhir-akhir  ini.  Kata
Albert anggur ini bisa membantu, tetapi sepertinya aku kebal.” Azka  tersenyum,  Kalau  kau  ingin  mengantuk  jangan
ikuti nasehat Albert, minumlah susu putih.”
Susu  putih? Sani  mengeryit,  “Aku  tidak  suka  susu putih, rasanya terlalu gurih dan menguarkan aroma yang aneh di hidung, membuatku mual.”
Kali ini Azka benar-benar terkekeh geli, “Aku baru kali ini mendengarkan deskripsi yang begitu menarik tentang susu putih.” Godanya, Apa yang sedang kau tulis?Tanpa sadar Azka menarik kursi dan duduk di depan Sani.
Roman percintaan.” Pipi Sani memerah, menyadari bahwa dia ditatap oleh lelaki yang begitu tampan, dengan mata cokelat muda dan rambut berantakan yang tampak sangat menggoda. Tetapi kemudian dia mengeraskan hati.
Semakin  tampan  seoranlelaki  berarti  semakin berbahaya dirinya. Gumamnya dalam hati.
Roman percintaan? Dan sepertinya kau sedang kehabisan ide?
Bagaimana lelaki ini tahu?
Sani mengangkat bahunya, Tokoh utama di ceritaku saling membenci, dan aku merasakan dorongan kuat untuk membiarkannya seperti itu.”
Azka terkekeh, Tetapi kau tidak bisa membiarkannya seperti itu?
Tidak bisa.” Gumam Sani penuh penyesalan, Karena ini cerita roman, dan cerita roman karanganku harus berujung Happy Ending.”
Kenapa?” “Apanya?
Kenapa  harus  Happy  Ending? Azka menatap  ke arah
Sani dengan tajam, membuat Sani sedikit salah tingkah.
Karendi kehidupan  nyata kadangkala  HappEnding bukanlah milik kita.” Ingatan Sani langsung  melayang  kepada Jeremy dan dia tersenyum pahit, Karena itulah setidaknya novelku bisa menjadi pengobat luka hati.”
Kau benar-benar penulis novel yang baik dan memikirkan perasaan pembacanya.” Gumam Azka sambil tersenyum, yang ditanggapi Sani dengan mengangkat bahunya.
“Aku hanya ingin menyajikan kisah yang indah untuk pembacaku.”
“Misi yang luar biasa baik, dan aku yakin itu bisa membantu semua orang, karena kadang di dunia nyata ini kita tidak selalu berakhir indah.” Azka bangkit dari duduknya dan menganggukkan   kepala  sopan,  Silahkan  lanjutkan  menulis, maaf atas gangguanku.”
⧫⧫⧫
Azka sedang  mengenakan  dasinyuntuk  berangkat  ke
kantor pusatnya di area resor hotelnya ketika pintu apartemen pribadinya  di lantai dua cafe  itdiketuk.  Dia mengernyitkan keningnya, hari masih pagi. Cafe di bawah memang buka duapuluh empat jam, tetapi yang pasti tidak akan ada yang berani mengetuk pintunya sepagi ini. Bahkan Albertpun tidak akan melakukannya.
Dengan  jengkel  sekaligus  ingin  tahu,  Azka  membuka pintu ruang kerjanya dan menemukan Keenan berdiri di sana. Saudara kembarnya.
Kenapa kau kemari pagi sekali? Azka mengernyit, menatap adiknya ingin tahu. Azka dilahirkan lebih dulu 3 menit sebelum Keenan. Karena itulah dia selalu menganggap dirinya sebagai kakak. Lagipula, secara kepribadian, dia memang lebih dewasa dibandingkan Keenan. Keenan terlalu berpikiran bebas, dia bahkan tidak mau memegang perusahaan warisan ayah mereka dan memilih mengejar impiannya menjadi seorang pelukis. Kadang Azka merasa iri kepada Keenan karena kemampuannya untuk merasa bebas dan lepas dari tanggung jawab.
Azka sendiri tidak bisa. Perusahaan ayahnya harus dikendalikan. Dan karena Keenan tidak bisa diandalkan, maka dia mengambil alih seluruh tanggung jawab itu di pundaknya.
Mungkin dia memang ditakdirkan untuk selalu memikul tanggung jawab terhadap orang lain di pundaknya, pikirnya pahit.
Sementara  itu  Keenan  tampak  tidapeduli,  dia melangkah masuk ke apartemen Azka dan membanting tubuhnya di sofa,
“Aku sedang menerima proyek melukis untuk desain kantor di dekat resor kita. Pekerjaan itu baru selesai tadi pagi dan aku memutuskan untuk berkunjung ke rumahmu pagi ini sekaligus menumpang tidur. Tetapi kata pelayan sudah berhari- hari kau tidak ada di sana dan tidur di Garden Cafe.”  Keenan merengut, Jadi aku terpaksa menyusul kemari.
Azka meraih jasnya dan melirik adiknya tanpa ekspresi, “Kau bisa menumpang tidur di kamar.” Gumamnya tenang, Aku harus bekerja.
Kau tampak tidak sehat.” Gumam Keenan ketika mengamatinya, Dan kurus. Apakah memimpin perusahaan ini membuatmu begitu sibuk sampai lupa mengurus dirimu?
Mereka berdua memang sudah lama tidak bertemu, hampir enam bulan lebih. Itu karena Keenan memutuskan ke Belanda, untuk mengunjungi guru melukisnya di sana. Adik kembarnya itu baru pulang sebulan yang lalu, tetapi mereka sama-sama sibuk hingga sekaranglah pertemuan mereka yang pertama setelah enam bulan berlalu.
Azka sendiri mengamati adiknya yang tampak begitu segar dan tanpa beban, lalu mengernyit,


Salah satu dari kita harus menjalankan perusahaan ini.” “Kau  tidak perlu melakukannya,  kau tahu itu.” Keenan
memundurkan  tubuhnya  dan  menyandarkan  dirinya  di  sofa,
Perusahaan itu bisa saja kau serahkan kepada para tangan kanan ayah, selama ini bukankah mereka juga yang menjalankannya?
Tetapi perusahaan ini tetap butuh seseorang yang mengendalikannya Keenan.”   Azka   berguma tajam “Aku bukan  orang  bebas  yang  bisa  melepaskan  tanggung  jawab seperti dirmu.” Sindirnya.
Keenan  malahan  tertawa,  Dakaupun  memikul tanggung jawab itu, ciri khas seorang Azka.” Wajahnya berubah serius, Sama halnya seperti yang kaulakukan kepada Celia.”
“Aku tidak mau membicarakannya.” Azka langsung memalingkan muka, berusaha memutus percakapan. Mereka pasti akan berakhir dengan adu argumentasi ketika membicarakan Celia.
Keenan adalah salah satu orang yang menentang keras ketika  Azka  melanjutkan  pertunangannya  dengan  Celia.  Dia tentu saja tahu tentang pengkhianatan  Celia dan menganggap Azkbodoh  karena memikul  tanggung  jawab terhadap  Celia. Padahal kecelakaan yang dialami Celia seharusnya bukanlah kesalahan Azka.
Tidakkah kau bertanya-tanya bahwa sebenarnya ada jodohmu  di  luasana? Keenan  terus  mengejar,  tidak  peduli akan ekspresi membunuh yang dilemparkan Azka kepadanya, “Tidakkah kau ingin tahu bahwa pasangan jiwamu sedang menunggu  jauh di sana? Menanti  untukatemukan?  Kalau kau terus terpaku pada Celia, yang jelas-jelas tidak kau cintai, kau  akan  kehilangan  kesempatanmu  untuk  menemukan jodohmu yang sesungguhnya.”
“Aku tidak menyangka kau bisa begitu puitis. Azka berusaha menghindadari bahasan tentang Celia. Dia sedang tidak mau memikirkannya.
“Aku seorang seniman, meskipun aku pelukis, tetap saja
aku bisa puitis.” Keenan tertawa, Berbeda dengan dirimu yang


begit kaku.”   Wajahny melembut “Aku   hany ingi kau berhenti menyiksa dirimu, kak.”
Apakah sejelas itu?
Azka berusaha memasang wajah datar, Kalau kau ingin
aku sedikit lebih baik, bantulah aku di perusahaan.”
Tidak.” Keenan langsung menjawab cepat, Berkemeja rapi,  memakai  jas  dadasi  bukanlah  gayaku.  Aku  bisa  mati bosan kalau bekerja di kantor.” Dengan santai dia melangkah berdiri dan menuju kamar Azka, Selamat menikmati harimu.Gumamnya santai lalu menghilang ke dalam kamar.
⧫⧫⧫
Sani    sedang    melangkah    keluar    dari    pintu    putar
apartemennya, hendak menuju ke supermarket terdekat untuk
membeli  bahan  makanan  sebagai  pengisi  kulkasnya  ketika langkahnya membeku di trotoar.
Mobil warna biru itu dengan pelat nomor yang sangat dikenalnya.
Itu mobil Jeremy...
Da bena saja,   lelak it melangka kelua dari mobilnya dan berdiri tepat di depan Sani,
“Hai Sani.” Sapanya seolah-olah tidak pernah terjadi apa- apa di antara mereka, Apa kabarmu? Aku kemari untuk mengunjungimu, aku merindukanmu.” Bisiknya lembut.
Bisikan  itu  dulu  pernah  membuat  hatSanhangat. Tetapi sekarang tidak lagi, dia menggertakkan giginya dengan marah,
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Jeremy  mengangkat   bahunya,  “Mengunjungim tentu saja, kau pikir apa? Aku harap setelah kau puas dengan tingkah kekanak-kanakanmu kita bisa bercakap-cakap dengan kepala dingin.”
Tingkah kekanak-kanakannya, katanya?
San menaha dirinya   untuk   maj da menampar Jeremy. Berani-beraninya lelaki itu muncul di depannya seolah tidak bersalah dan mengganggu ketenangan hidupnya lagi.


“Aku tidak mau bercakap-cakap denganmu. Minggir.Gumam Sani marah, ketika Jeremy dengan sengaja menghalangi jalannya di trotoar yang sempit itu.
Tetapi Jeremy tidak bergeming, dia malahan semakin sengaja menghalangi Sani lewat.
Kita harus bicara Sani, ayolah hentikan sikap kekanak-
kanakanmu itu dan berbicaralah dengan dewasa.”
“Aku rasa aku sudah mengambil keputusan dewasa dengan  mengakhiri  pertunangan  kita.  Menyingkirlah  Jeremy dan biarkan aku lewat.”
Sani berusaha mencari jalan melewati Jeremy, tetapi karena lelaki itu menghalangi  jalannyadia merengut  kepada Jeremy dengan tatapan menghina,  “Ah sudahlah!”  Gumamnya marah lalu membalikkan tubuhnya, hendak berbalik dan meninggalkan Jeremy.
Sayangnya gerakannya kurang cepat, Jeremy sudah meraih lengannya dan mencekalnya,
Dengarkan  akdulu  Sanikaharus  mendengarkan aku!seru Jeremy mulai emosi. Lelaki itu bahkan tidak peduli akan lirikan orang-orang di sekitar mereka.
San malu sungguh-sungguh    malu Denga sekuat tenaga dia berusaha melepaskan cekalan tangan Jeremy di lengannya, berusaha melepaskan diri dari Jeremy. Dia jijik, dia benci, dan dia sangat muak kepada laki-laki ini.
Di tengah usahanya melepaskan diri, sebuah mobil berwarna merah menyala menepi ke trotoar di dekat mereka. Azka turun dari mobil dan mengernyit, dari kejauhan dia sudah melihat lelaki itu mencengkeram lengan Sani dan Sani yang berusah melepaska diri.   Pad akhirny dia   tida bisa menahan diri untuk mendekat,
Bisakah kau lepaskan perempuan itu? Tampaknya dia
tidak mau berurusan denganmu.” Gumamnya dingin.
Membuat Sani dan Jeremy menoleh bersamaan.




YOU'VE GOT ME FROM HELLO - SANTHY AGATHA - BAB 3

No comments:

Post a Comment