Tuesday, October 27, 2015

UNFORGIVEN HERO - BAB 7


7

“Selamat pagi.” Rafael menyapa lembut ketika Elena membuka   matanya,   sudah  hampir   setengah   jam  yang  lalu Rafael bangun, tetapi tidak bergerak dari ranjang. Dia berbaring miring di sana,   bertumpu pada sikunya dan memandang isterinya yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Rafael suka memandangi  Elena, dia bisa melakukannya  berjam-jam  tanpa bosan. Dan kesadaran bahwa sekarang dia bisa melakukan itu sebagai suami Elena, membuatnya bahagia.
Elena mengerjapkan matanya. Butuh beberapa lama sampai  dia menyadari  berada  di mana dan  apa yang  terjadi. Ingatan tentang malam pertama kemarin membanjirinya,  dan membuatnya merona malu. Rafael sendiri tampak tidak peduli, lelaki itu menelusurkan jemarinya ke sepanjang pinggul Elena dengan menggoda.
“Apakah   tidurmu   nyenyak?”   Rafael   menatap   Elena dengan mesra, membuat Elena kehabisan kata dan hanya bisa menganggukkan kepalanya. Jemari Rafael menelusuri makin berani, dan menyentuh kewanitaan Elena. “Di sini masih sakit?” Rafael mengusapnya lembut.
“Ah, Elenaku yang lugu… maafkan aku karena harus menyakitimu.” Napas Rafael agak terengah dan karena mereka berdua telanjang  bulat, Elena bisa melihat betapa kejantanan Rafael telah menegang keras lagi.   Tetapi lelaki itu tampak menahan diri, dia mengikuti arah pandangan Elena dan tersenyum.
“Seperti yang selalu kubilang, aku selalu mengeras kalau bersamamu, karena kau membuatku begitu bergairah…” Rafael mengelus  pipi Elena dengan  lembut,  “Tapi  hari ini  kita  akan menghormati hilangnya keperawananmu dengan tidak menyentuhmu dulu.”
Elena tersenyum, hatinya terasa hangat menerima kelembutan Rafael ini.  Lelaki ini tampak bersungguh-sungguh dengan perkataannya, dan sejak pernikahan mereka, dia selalu diperlakukan dengan hormat dan penuh kasih.
“Terima kasih, Rafael.”
“Sama-sama isteriku.” Rafael mengecup ujung hidung Elena  dengan  lembut,  “Oh  ya…  mengenai  pulau  yang diceritakan Veronica pada saat acara makan setelah pernikahan kemarin…. Maafkan aku tidak membicarakan sebelumnya denganmu, sebenarnya itu akan menjadi kejutan bulan madu kita.”
“Kejutan lagi.” Elena menggumam tanpa sadar menatap
Rafael dengan pandangan menuduh.
Rafael terkekeh, menarik Elena ke dalam pelukannya. Tubuh   mereka   telanjang,   hangat,   bahagia   dan   terpuaskan karena  percintaan  mereka  semalam.  Rafael  memang  ereksi tetapi dia tidak peduli. Yang utama bukanlah memuaskan hasratnya  kepada  Elena,  yang  utama  adalah  berada  di dekat Elena, berdua dan bahagia.
“Pulau itu sangat indah, aku mewarisinya dari ayahku, penduduknya sebagian besar nelayan dan beberapa bekerja kepadaku…  kita bisa menikmati waktu berdua di sana, saling mengenal lebih dalam.” Tatapan Rafael menjadi intens, “Aku yakin, kalau kita saling mengenal lebih dalam, kita akan menyadari bahwa kita adalah pasangan yang cocok.”
Pasangan   yang   cocok.   Mungkinkah?   Dia   perempuan biasa yang hidupnya serba biasa-biasa saja, dengan Rafael yang semua ada pada dirinya begitu luar biasa. Elena melirik ke arah kejantanan Rafael, bahkan ‘itu’nya pun luar biasa. Pipi Elena menjadi memerah karena pemikiran spontannya itu.
Ҩ

Perahu boat membawa mereka mendarat ke anjungan pulau itu. Beberapa orang tampak sudah menunggu di sana. Rafael membantu Elena turun dari kapal dan menggendongnya ketika mereka harus melalui bagian laut yang dangkal sebelum melangkah ke arah pantai berpasir yang luar biasa indahnya.
Ini benar-benar surga pantai tropis yang luar biasa. Warna pasirnya sedikit gelap, tetapi lembut, membuat Elena tanpa pikir panjang melepas sepatunya dan memilih bertelanjang kaki. Udara pantai yang sejuk meniup rambutnya hingga   melambai-lambai   di   pipinya.   Beberapa   orang   yang sudah menunggu langsung membantu meminggirkan boat dan mengangkat koper-koper mereka.
Seorang  lelaki tua berpakaian  resmi menyalami mereka dan tersenyum lebar,
“Selamat datang Tuan Rafael, senang sekali anda akhirnya bisa berlibur dan pulang kemari.” Disalaminya Rafael dengan bersemangat. Lalu tatapannya beralih ke Elena dan dia tersenyum  memuji,  “Dan ini pasti Nyonya  Rafael yang menawan. Selamat datang di pulau kami. Semoga anda menyukainya, nyonya.”
Rafael tertawa, menepuk pundak lelaki tua itu dan tersenyum  lebar  ke  arah  Elena,  “Ini  Pak  Mizan.  Dia  adalah kepala desa di pulau ini, sekaligus pengurus rumahku.”
“Rumah anda sudah disiapkan. Para pelayan sudah merapikan kamar anda hingga tampak seperti tidak pernah ditinggalkan.   Dan   Alfred   sangat   senang   karena   dia   bisa memasak masakan-masakan luar biasa lagi untuk tuan dan nyonya. Mari, kita ke rumah utama.” Pak Mizan melangkah mendahului  mereka  ke  arah  jalan  setapak  berbatu  dengan pohon kelapa yang ditata eksotis di kiri dan kanannya.
Pemandangan rumah Rafael sangat luar biasa. Rumah itu berdiri tegak menjulang di atas bukit tertinggi di tepi pantai. Bagian belakangnya menyambung khusus ke sisi pantai tersendiri yang dipagari, sebuah pantai pribadi. Cat rumahnya putih bersih, sangat cocok dengan pemandangan birunya laut dan  hijaunya  pohon  kelapa  yang  mendominasi  pulau. Gordennya melambai-lambai di jendela besar bergaya barat di bagian depan rumah.
“Rumah ini peninggalan kolonial belanda jaman penjajahan dulu. Ayah membeli sebagian tanah di pulau ini, hampir 60% tanah di sini adalah milik ayah, dipakai untuk perkebunan  rempah-rempah   dan  area  rumah  ini,     Sisanya adalah perumahan penduduk. Rumah ini sudah direstorasi sepenuhnya oleh ayah. Dia memang suka dengan segala sesuatu yang berbau kuno.” Rafael tersenyum kepada Elena dan mengedipkan matanya, “Tetapi jangan khawatir, meskipun rumah   ini   rumah   kuno,   tidak   akan   ada   hantunya…   yah.. mungkin kalau kau melihat penampakan perempuan- perempuan bergaun lebar jaman pertengahan abaikan saja…
“Rafael.” Elena bergumam mengingatkan agar Rafael jangan menakut-nakuti dirinya dengan cerita-cerita hantu, meskipun kemudian tersenyum karena tahu Rafael sedang berusaha menggodanya. Rafael benar. Suasana rumah ini, pulau ini sangat menyenangkan. Elena tiba-tiba saja merasa begitu ceria dan bahagia. Tidak pernah disangkanya dia akan mengalami ini semua, bersama Rafael pula.
Keharuman  aroma  kue yang     baru  dipanggang langsung menyambut mereka ketika memasuki ruang tamu luas dengan nuansa putih dan cokelat yang berpadu indah. Rafael menghirupnya dan tersenyum,
“Itu pasti kue kelapa panggang buatan Alfred.” Rafael melirik  ke  arah  pintu  besar  yang  sepertinya  mengarah  ke lorong menuju dapur, “Alfred adalah koki tua setia ayah, yang ketika  diajak  ke  sini  oleh  ayah,  jatuh  cinta  dengan  seorang wanita di pulau ini. Jatuh cinta dengan kehidupan di pulau ini, dan memilih menghabiskan masa pensiunnya di sini. Kau akan menyukai  kue kelapa panggang  yang dia buat, dan masakan- masakan lainnya yang spektakuler.”

Dari aromanya saja sudah begitu  menjanjikan,  Elena tersenyum. Rafael tampak berbeda, tampak begitu lepas dan bahagia di pulau ini. Dia tampak tanpa beban. Dan Elena entah kenapa senang melihat lelaki itu tampak begitu ceria.
Dengan lembut Rafael menggandeng Elena melangkah menuju  dapur.  Mengenalkannya  dengan  Alfred  yang  sedang memanggang  roti  di  sana.  Alfred  lelaki  tinggi  asal  Prancis, berusia   enam   puluh   tahun   tetapi   masih   tampak   bugar, wajahnya  tampak  dingin.  Tapi Elena  melihat  sinar  hangat  di matanya ketika memeluk Rafael dan Elena bersamaan dengan lenganny yan besa dan   mengucapka selama datang kepada mereka.

Ҩ

Ponsel Elena berdering ketika dia sedang menata pakaian-pakaian mereka di lemari di sebuah kamar indah yang terletak di lantai dua rumah ini. Kamar ini memiliki balkon dengan anjungan yang menjorok ke pantai. Kalau kita berdiri di ujung  balkon  itu,  kita  akan  bisa  melihat  pemandangan  luas tanpa batas langit dan laut yang berwarna biru berpadu dipisahkan oleh garis cakrawala yang menakjubkan. Sementara di bawah ombak tampak indah bergulung-gulungseolah-olah memanggil-manggil untuk berenang.
Elena membiarkan pintu kaca besar yang membatasi kamar mereka dengan balkon membuka sehingga udara laut yang sejuk dan kering bisa mengaliri kamar. Dengan setengah melompat, Elena menuju meja di samping tempat tidur besar, tempat ponselnya diletakkan. Ada nama Donita di sana. Diangkatnya panggilan itu.
“Halo Donita aku harap kau sehat-sehat saja.”
“Aku sehat-sehat saja Elena.” Suara Donita tampak ceria dan haru, Aku mau mengabarkan bahwa aku sudah melahirkan putri kecilku semalam, dia sangat sehat dan gemuk.”
“Ah, selamat Donita maafkan aku, aku benar-benar lupa…” Semua peristiwa yang dialaminya dengan Rafael membuatny lup menelepo Donit untuk   menanyakan kondisi   kehamilannya “Ak ingin   sekali   menengo putri kecilmu itu.”
“Aku mengerti Elena sayang,  tidaapa-apkok. Dan aku menelponmu untuk mengucapkan selamat juga.” Elena bisa merasakan  Donita  mengedipkan  matanya  nakal  di  seberang sana.   “Teman-tema kanto datan untuk   menengokk di rumah sakit, dan ternyata gossip bahwa kau dinikahi oleh bos kita dan dibawa kabur ke pulau pribadinya menyebar cepat di sini. Benarkah itu Elena? Wow kau bahkan tidak menunjukkan ketertarikakepada Mr. Alex dan tiba-tiba saja boom’ kalian saling jatuh cinta dan menikah? Lalu bagaimana dengan Edo?Donita langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.
Elena tertawa,  lalu  dengan  singkat  menjelaskan insiden yang dialaminya bersama   Edo. Sejenak dia ragu menjelaskan  alasan  mereka  menikah.  Dan memutuskan  tidak menjelaskannya kepada Donita,
Yah begitu saja. Aku sangat kecewa dengan Edo. Dan kebetulan  Rafael  sangabaik jadi tiba-tiba  saja kami sudah menikah.”
Donita tergelak di seberang sana, Mungkin itulah yang disebut  kemauan  Tuhan.  Kitsudah  berencana  dengan  yang lain, tiba-tiba Tuhan memberikan jalan untuk bersatu dengan orang yang selama ini tidak pernah kita duga. Meskipun kabar ini  masih  membuatku  shock,  tetapi  aku  menyadari  bahwa kalian adalah pasangan yang cocok. Semoga berbahagia Elena, telpon  aku  kalau  kau  kesepian  di  pulau  pribadi  itu.”  Suara Donita yang terdengar ceria membuat Elena tertawa geli,
Pasti,  Donita.  Dan  segera  setelah  aku  pulang  nanti, aku akan langsung menengokmu dan putri kecilmu.”
Janji ya, aku tunggu.” Donita tertawa cerita, Selamat menikmati bulan madumu Elena.”
Elena masih tersenyum ketika menutup ponselnya. Bulan  madu.  Kini  didan  Rafael  pasangan  pengantin  baru. Rafael sedang pergi dengan Pak Mizan untuk menengok perkebunan, katanya dia akan kembali sebentar lagi.

Ҩ

Ketika kembali, Rafael langsung menggandeng Elena mengajaknya ke pantai pribadinya.
Kau akan senang melihat bagian pantai yang ini.” Rafael mengajak Elena menuruni tangga putih melingkar yang ternyata ada di bawah balkon mereka, dan merekapun turun di sebuah anjungan pantai pribadi yang dikelilingi tembok dan tanaman untuk menjaga privasi.
“Aku sering berbaring di pantai, dan merenung di sini sendirian, tidak ada yang bisa melihat kita dari sini. Satu- satunya  akses  adalah  dari  tangga  di  balkon  kamar  kita.  Dan tidak  adyang  berani  kemari  kalau  tidak  kuperintahkan.” Rafael mengedipkan matanya pada Elena, Di sini benar-benar privasi untuk kita.”
Pipi Elena memerah menyadari arti di balik kata-kata Rafael itu. Privasi untuk mereka.. apakah privasi untuk bercinta? Elena menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran aneh di benaknya. Rafael dan aura sensualnya sepertinya telah mempengaruhi Elena sedemikian rupa.
Lelaki itu menggandeng Elena ke sisi pantai yang sejuk di bawah tanaman palem dan kelapa. Tempat mereka rupanya telah disiapkan, ada sebuah gazebo kecil yang nyaman di sana, beralaskan karpet lembut berwarna cokelat muda dan bantal- bantal hitam eksotis yang berserakan di sana. Gazebo itu berhiaska tirai-tirai   putih  yang  menjuntai tampak   begitu inda tertiu angi pantai Sat sis gazebo   it terbuka, langsung mengarah ke pemandangan pantai nan luas dan indah dengan warna langit yang mulai jingga, pertanda matahari hampir tenggelam. Lampu kecil di pilar gazebo menyala dengan sinar  kuning  yang  hangatseakan  disiapkan  untuk  pasangan yang akan melalui malam sambil menatabintang-bintang  di langit.
Rafael mengajak Elena ke gazebo dan duduk di karpetnya yang empuk, bahkan makananpun sudah disiapkan di sana, seperti magic. Kue-kue kecil yang menggiurkan tersaji di nampan perak yang berkilauan. Dan dua botol anggur disiapkan di ember perak kecil yang berisi es, serta dua gelas minuma dingi berwarn orang segar.   Ini   benar-benar tempat yang menyenangkan untuk duduk sambil memandang matahari tenggelam. Rafael merangkul Elena, dan mereka termenung menatap ke arah matahari tenggelam dalam keheningan. Menyaksikan cakrawala perlahan menelan bulatan yang  bersinaorangkemerahan  itu. Hingga akhirnya  hanya tersisa seberkas cahaya jingga di batas cakrawala.
Suasananya begitu sakral dan intim hingga Elena takut merusaknya.  Dia  melirik  ke  arah  Rafael,  dan  melihat  siluet lelaki itu. Rafael benar-benar tampan, dan lelaki itu adalah suaminya.  Elena  merasakan  perasaan  hangat  membanjirinya. Dia merasa begitu dekat dengan Rafael, seakan sudah mengenal lama seaka Rafae mengert apapu yang   di inginkan. Mungkin mereka memang ditakdirkan bersama.
Elena. Suara Rafael terdengar serak, dan dari jarak dekat, di bawah sorot lampu temaram, Elena bisa melihat mata Rafael memancarkan gairah, Kau sudah bisa?
Ah. Lelaki ini begitu sopan, begitu baik dan perhatian. Bahkan dalam gairahnya Rafael sempat menanyakan kesiapan tubuh  Elenuntuk  bercinta.  Elena  sungguh  tersenyum.  Dia tidak berkata apa-apa, hanya menatap Rafael penuh arti.
Rafael membalas senyum itu, lalu dengan lembut menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Elena lembut. Elena membalas kecupan itu. Membiarkan Rafael merasakan kelembutan bibirnya. Lelaki itu lalu melepas ciumannya dan merek bertatapan Senyu Rafae mala itu   tidak   akan pernah Elena lupakan, senyum itu begitu lembut, begitu penuh haru, dan entah kenapa membuat dada Elena sesak oleh suatu perasaan yang tidak dapat digambarkannya.
Jemari   Elena   bergera rag da menyentu pipi Rafael,  lelaki  itu  menempelkan  pipinydsana  dan memejamkan matanya, jarinya meraih jari Elena dan mengarahkannya ke bibirnya. Rafael lalu mengecup telapak tanga Elena   denga lembut Merek bertatapa dengan tatapan yang hanya bisa dimengerti oleh satu sama lain, dan kemudian bibir mereka menyatu dalam sebuah ciuman lembut. Kali  ini  adyang  berbeda.  Kali  inada  rasa  sayang dalam ciuman ini. Ada perasaan lembut yang mengembang dalam pagutan bibir mereka. Rafael melumat bibir Elena, mencecap seluruh rasa bibirnya, seakan tidak pernah puas. Tangannya menyentuh pinggul Elena dan dengan gerakan ahli melepaskan  celana  dalam  Elena  dbalik  roknya, menurunkannya,  dan  membiarkannya  menggantung  dsalah satu paha Elena. Lelaki itu lalu membuka kancing celananya dan menurunkan ristletingnya, kejantanannya sudah tegak, menunjukkan betapa bergairahnya dia kepada Elena.
Naik ke atasku, sayang.” Suara Rafael bagaikan perintah mistis yang membuat tubuh Elena dibanjiri oleh dorongan  sensual  yang  anehDengan  hati-hati  Elena naik  ke pangkuan Rafael. Lelaki itu membimbingnya untuk menyatukan tubuh mereka perlahan, karena hal ini masih baru bagi Elena. Ketika tubuh mereka menyatu sepenuhnya, Rafael menghela napas pendek-pendek, begitupun Elena, yang masih tidak percaya dia melakukan hal seberani ini bersama seorang lelaki.
Tangan Rafael yang kuat merangkum pinggulnya dengan lembut dan membimbingnya untuk bergerak, “Bergeraklah sayang, puaskan dirimu dengan tubuhku…” bisik Rafael parau.
Dan Elena bergerak, senang mendapati bahwa setiap gerakannya membuat Rafael menggeram penuh gairah. Dia bergera denga sensual,   didoron oleh   gaira alaminya sebagai seorang perempuan, dengan bantuan Rafael.
Mereka becinta sambil berhadapan, dengan posisi setengah  duduk.  Percintaan  itbegitu  intens  karena  mereka bisa menatap mata masing-masing.  Melihat betapa nikmatnya gerakan mereka bagi satu sama lain. Ketika tubuh Elena lelah, Rafael  menopangnya,  meletakkan  kepala Elena di pundaknya dan mengelus punggungnya dengan lembut.
Dengan gerakan mulus, Rafael mendorong tubuh Elena berbaring di karpet yang lembut tanpa melepaskan tubuh mereka yang bertaut penuh gairah. Ditindihnya Elena dengan pelan tetapi sensual, diciumnya bibir Elena lembut. Tubuhnya bergerak  dan  menggoda  Elena untuk  mengikutinya  terjun  ke jurang kenikmatan yang dalam.
Lingkarkan kakimu di pinggangku. Bisik Rafael serak, “Rasakan aku lebih dalam… ah sayang, kau mencengkeramku dengan begitu kuat….”
Lelakitu  mendorong  masuk  semakin  dalam, menggoda Elena ketika melakukan gerakan seakan ingin melepaskan diri, tetapi kemudian mendorong lagi makin dalam. Mereka larut dalam pusaran gairah, sampai kemudian Elena melambung tinggi ketika mencapai orgasmenya. Orgasme yang luar biasa, sambil mendongakkan kepala menatap langit penuh bintangdalam  pelukan  suaminya  yang  luar  biastampan. Rafael menyusul orgasmenya, dengan erangan tertahan dan semburan hangat di dalam sana.
Dengan lembut Rafael menarik diri, lalu menempatkan dirinya dengan  nyaman  di sebelaElena dan  menarik  tubuh Elena terbarindi lengannya,  memeluknya  lembudari belakang. Kepala Elena ada di lekukan lengan dan lehernya. Rafael menundukkan kepalanya, dan membisikkan napas panasnya pelan, di telinga Elena “Aku mencintaimu Elena.Suara Rafael serak dan penuh perasaan. Aku mencintaimu.
Elena memejamkan matanya. Mengira dia sedang berada di sebuah mimpi eksotis bersama pangeran tampan di sebuah pulau terpencil.

Ҩ

Mereka terbangun dari tidur mereka, dan Rafael mengajak  Elena masuk  karena udara mulai dingin  daangin malam bertiup kencang.
“Aku ingin semalaman di sana menatap bintang. Tetapi kita akan terbangun dengan kepala pusing.” Rafael tersenyum lembut pada Elena, dan menggandeng jemarinya, melangkah menaiki tangga putih itu. Mereka sampai di kamar, dan tiba-tiba Rafael memeluk Elena erat-erat di tengah-tengah kamar,
“Apakah  kau  mendengar  pernyataan  cintaku  tadi?” bisiknya lembut.
Elena menganggukkan kepalanya, dalam diam. Rafael mendesah dan mengecup puncak kepala Elena, lalu  melingkarkan   lengannya  makin  erat  di  seluruh  tubuh Elena,
“Aku  bersungguh-sungguh  Elena,  Pernyataan  cintaku itu bukan euphoria dari orgasme yang begitu nikmatnya. Meskipun  harus  kuakui  orgasme  yang  tadi  luar  biasa nikmatnya.” Rafael tersenyum lembut, “Semoga nanti kau bisa membalas perasaanku.”
Elena pasti bisa. Kalau Rafael terus menyerangnya dengan sifat lembut dan penuh perhatiannya seperti ini. Bagaimana Elena bisa bertahan? Dia pasti akan dengan segera jatuh ke dalam pesona Rafael Alexander.
“Dan apapun yang terjadi nanti. Apapun yang akan terpapar di hadapanmu nanti, bagaimanapun  buruknya nanti. Ingatlah malam ini, malam di saat aku mengatakan bahwa aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku.”
Apa maksud kata-kata Rafael? Elena merenung ketika lelaki itu memeluknya erat.

Ҩ

Perempuan itu sangat cantik bagaikan boneka Barbie. Kakinya begitu panjang dan jenjang, dipamerkan dengan indahnya karena dia mengenakan rok hitam sutra yang elegan membungkus pinggulnya yang bergoyang indah ketika dia sedang   berjalan.   Bagian   atas   tubuhnya   lebih   bagus   lagi. Dadanya menggantung indah, membuat semua lelaki yang berpapasan dengannya pasti menoleh dua kali. Kalau bukan karena dadanya, pasti karena kecantikan wajahnya. Rambutnya yang berwarna cokelat kemerahan panjang dan tebal, hasil dari penata rambut terkenal.


Jemari lentiknya dengan kuku yang di cat warna peach menjepit batang rokok di bibirnya, mengarahkan ke bibir ranumnya dengan warna peach yang sama. Bibirnya menghembuskan asap dengan elegan.
Perempuan yang sedang duduk sendirian di balkon rumahnya itu adalah Aluna. Seorang wanita pengusaha mandiri, dengan  beberapa  anak  perusahaan  di  bidang  desain  interior yang   sangat   sukses.   Aluna   adalah   perempuan   bebas   dan mandiri  dengan  aura  yang  sangat  menggoda.  Dan  sekarang Aluna sedang gundah. Ditatapnya Sarah, asisten pribadinya dengan tatapan tajam.
“Kau yakin informasi yang kau dapatkan itu benar?”
Sarah menganggukkan kepalanya gugup. Dia telah bekerja bertahun-tahun dengan Luna, tetapi entah kenapa aura mengintimidasi Luna selalu membuatnya gugup. Perempuan itu mengingatkannya  akan  medusa,  perempuan  cantik  yang dengan tatapannya bisa mengubah siapapun yang berani membalas tatapannya menjadi batu.
“Itu  info  yang  saya  dapat  dari  orang  di  perusahaan Tuan Rafael. Mereka mengatakan Tuan Rafael menikahi asistennya,   Elena,   dalam   pernikahan   buru-buru   di   Pulau Dewata, dan sekarang sedang menghabiskan bulan madunya di pulau pribadinya.”
Luna menghembuskan asap rokoknya dengan kesal. “Pernikahan  buru-buru  dan  rahasia  eh?”  Senyumnya  sangat sinis. “Aku ragu kalau Rafael mengingat untuk memberikan undangan kepadaku. Harus diakui aku sedikit sakit hati mengetahui dia dengan mudahnya melupakanku dan menikahi perempuan itu. Kau dapat fotonya?”
Sarah menyerahkan foto yang dia dapat kepada Luna. Luna menerima foto itu, dan meletakkannya di meja.
“Baiklah, kau boleh pergi Sarah.” Sepeninggal Sarah, Luna mengambil foto itu. Sebuah foto entah darimana yang bergambarkan Rafael sedang berjalan dengan perempuan yang kata Sarah tadi bernama Elena.
Elena, betapa bencinya Luna dengan nama itu. Itu adalah nama perempuan yang membuat Luna merasa muak. Diingatnya malam-malam menyakitkan ketika dia bercinta dengan Rafael, dan Rafael memanfaatkannya dengan memanggilnya sebagai ‘Elena’, membayangkan sedang bercinta dengan ‘Elena’ meskipun saat itu dia sedang bercinta dengan Luna.
Rafael tidak bersalah, Luna memang sengaja membuat dirinya tampak tidak terlalu ingin menjalin hubungan yang mengikat. Karena dia tahu, kalau dia kelihatan ingin mengikat Rafael,  kalau kelihatan  setitik saja perasaannya  kepada lelaki itu, maka Rafael akan langsung meninggalkannya. Lelaki itu menutup hatinya, dan akan langsung menjauhi siapapun yang memiliki   perasaan   lebih   kepadanya.   Karena   itulah   Luna berpura-pura.  Dan  membiarkan  Rafael  berpikir  bahwa hubungan mereka adalah hubungan tanpa status, saling memanfaatkan, tanpa ikatan apapun satu sama lain.
Padahal Luna mencintai Rafael, sangat mencintai lelaki itu dari lubuk hatinya yang paling dalam. Dan ketika Rafael memanggilnya sebagai Elena, memandangnya sebagai Elena, bercinta dengannya sambil membayangkan Elena, perasaannya hancur lebur. Hancur, marah, dan terhina. Bukan kepada Rafael, dia terlalu mencintai lelaki itu. Tetapi kepada perempuan yang entah siapa dan di mana yang bernama Elena.
Berani-beraninya perempuan itu mengambil hati Rafaelnya? Membuat Rafael menutup hatinya untuk semua perempuan? Luna ingin namanyalah yang dipanggil Rafael dengan   penuh  kerinduan,   seperti  ketika  Rafael  memanggil nama   ‘Elena’ dengan begitu lembut. Luna sangat membenci perempuan bernama Elena itu. Ingin membunuhnya jika perlu. Tetapi bahkan dia tak tahu perempuan itu ada. Dan dia sempat mengira bahwa perempuan itu hanyalah sosok khayalan Rafael. Sampai kemudian kabar bahwa Rafael menikahi perempuan bernama Elena muncul. Semula Luna tidak percaya. Tetapi ketika Sarah menjelaskan bahwa itu benar adanya, kemarahannya  menggelegak,  luar  biasa  hingga  nyaris membakar hatinya.
Luna mengamati wajah Elena di foto itu. Gadis itu terlalu sederhana. Apa sih yang dilihat Rafael di sana? Dia merasa dirinya seribu  kali  lebih  baik dari perempuan  kecil  yang  tak bisa berdandan macam Elena. Benarkah ini Elena yang selalu dipanggil oleh Rafael itu? Atau dia hanyalah perempuan beruntung  yang  dinikahi  Rafael  secara  impulsif  karena kebetulan dia bernama Elena?
Dengan   gemas,   dicolokkannya   rokoknya   ke   wajah Elena di foto itu. Menghancurkan wajah Elena di foto itu dengan kejam. Siapapun perempuan itu, dia membencinya. Dan setiap orang yang dibencinya akan hancur!
Dia harus menyadarkan Rafael akan kesalahannya, sebelum terlambat. DIa harus membuat Rafael menyesal karena telah berani-beraninya meninggalkannya dan memilih perempuan yang sangat jauh di bawah levelnya.
Jemarinya meraih  ponsel  keemasan  di mejanya, sebuah suara menyahut di sana, dan Luna bergumam dengan suara serak dan seksinya.
“Aku perlu pergi ke sebuah tempat. Kau bisa mengatur perjalananku ke sana?


No comments:

Post a Comment