Sunday, October 11, 2015

YOU'VE GOT ME FROM HELLO - SANTHY AGATHA - BAB 9


“Pengorbanan adalah memberi, di dalamnya ada cinta yang menguasai.
9
Azka meninggalkan  rumah Celia dengan marah. Marah besar. Berani-beraninya Celia mengancamnya seperti itu, padahal Celia sendiri telah mengkhianatinya bersama Eric. Apakah  Celia pikir  Azka tidaakan  tahu? Apakah  Celia pikir Azka begitu bodohnya?
Dengan  kencang dia mengendarai  mobilnyadia butuh bertemu dengan Sani. Di saat kemarahannya menggelegak seperti ini, hanya Sani yang bisa menenangkannya.
Ketika sampai di depan cafe, Azka memarkimobilnya dengan sembrono. Dia tergesa memasuki cafe itu, hendak mengambil  beberapa  makanan  kecil  untudibawa  ke apartemen Sani, tadi dia sudah berjanji untuk datang jam sembilan malam ke sana.
Tetapi kemudian langkahnya tertegun, melihat ke kursi di bagian sudut, tempat favorit Sani ketika duduk, dan melihat sosok itu di sana.
Sani? Kenapa dia ada disini? Bukankah dia masih sakit?
Azka melangkah mendekat, kerinduannya meluap. Dia ingin memeluk gadis itu ke dalam pelukannya, untuk menenangkan hatinya dari kemarahannya terhadap Celia.
Sani,  kenapa  kau  ada  di  sini Bukanka kita   janji bertemu di apartemenmu?
Sani mendongak  dan Azka tercekattatapan mata Sani kepadanya penuh kemarahan... kemarahan yang dibalut dengan luka.
Seketika itu juga Azka menyadari bahwa Sani sudah tahu mengenai pertunangannya dengan Celia.
Kau membohongiku.” Suara Sani bergetar meskipun dia tampak berusaha tergar, Azka melirik ke anggur merah yang dibawa     Sani,     dan     mengernyit.     Perempuan     itu     sudah menghabiskan lebih dari satu gelas.
“Aku bisa menjelaskannya kepadamu, Sani.”
Tidak! Sani menyela dengan keras, lalu tertawa ironis, “Ironis bukan? Aku meninggalkan tunanganku karena dia berselingku dengan   perempua lain tetapi  sekaran aku malah menjadi selingkuhan dari seorang lelaki yang sudah bertunangan.”   Matany menyala   penuh   kemaraha kepada Azka, Kau sangat kejam, Azka melakukan ini semua kepadaku.”
“Aku bisa menjelaskannya Sani, semua ini tidak seperti yang kau kira....”
“Apaka perempua bernama   Celi it benar-benar tunanganmu?
Azka tertegun, lalu memejamkan matanya dengan pedih,


Ya.”
Air mata mengalir di mata Sani, menuruni pipinya. Dia


tampak amat sangat terluka,
“Apakah... apakah... kau mencintainya?
Mata Azka menajam. Apakah aku mencintainya? Tidak. Kau pasti bisa merasakan itu, aku jatuh cinta setengah mati kepadamu, tidak mungkin aku mencintainya.”
“Apakapertunangan  yankau  lakukan  dengan  Celia dulu itu berlangsung atas nama cinta? Sani bertanya lagi, berusaha menghapus air matanya dengan usapan tangannya.
Azk memandan Sani  denga pedih tidak  mampu berbohong, Pada mulanya semua atas nama cinta... lalu.
Hati Sani teriris perih, Azka sama saja dengan Jeremy, lelaki itu dulu menjalin pertunangan mereka atas nama cinta, kemudian mengkhianatinya begitu saja karena perempuan lain. Oh ya ampun! Teganya Azka melakukan ini semua kepadanya. Sani tidak mau mendengar apapun dari Azka, semua ini terlalu menyakitkan untuk dia tanggung,
“Cukup! Sani menutup telinganya dengan tangan, tidak mau mendengar apapun yang diucapkan oleh Azka. Sudah cukup, kau memang penjahat! Semua lelaki sama saja! Mereka semua ahat! beberapa mata tampak melirik ke arah mereka, tetapi  Sani  tidak  peduli.  Dia  terlalu  maradan  sakiuntuk peduli, dia beranjak pergi.
“Aku  mencintaimu  Sani! Azksetengah  berdiri, berusaha  meraih  lengan  Sandan  menahannya.  Tetapi  Sani yang sudah begitu marah, meraih gelas anggur yang tinggal setengah dan menuang isinya ke wajah Azka,
Pergi saja ke laut dan buang cintamu itu. Aku tidak pernah menerima cinta dari seorang pengkhianat! Gumamnya marah, tanpa sadar dia menggenggam gelas itu dan melangkah pergi secepat kilat.
MeninggalkaAzka yang masih terpaku di sana, basah oleh anggur yang dituangnya.
“Aduh! Suara  perempuan  itu  mengagetkannya, begitupun benturan keras yang dirasakannya. Sani mendongak dan terpaku karena merasa bersalah, dia telah menabrak seorang perempuan karena kalutnya, dan gelas anggurnya yang basah, yang dipegang di tangannya menempel di gaun putihnya, menimbulkan noda di sana,
Oh maafkan saya.” Perempuan yang menabraknya berucap dengan menyesal, mendongakkan kepala dan menatap perempuan itu. Perempuan itu sangat cantik, batin Sani dalam hatidia pasti perempuan  bahagiyang  tidak pernah disakiti oleh laki-laki. “Tidak apa-apa.” Gumam Sani lembut, menyadari bahwa Azka masih duduk di sana, menatapnydari kejauhan,  tetapi tidak berusaha mendekatinya Perempuan cantik itu melirik noda di gaun Sani dan menatap  Sani dengatatapabersalah,  Tapi Noda di baju anda..”
Tidak apa-apa. Bisa dibawa ke laundry, jangan dipikirkan.”  Sani  menganggukkan  kepala  kepada  perempuan itu,  lalu mengucap permisi dan melangkah pergi.
Sebelum pergi dia meletakkan gelas kosong anggur itu di sebuah meja dekat pintu. Airmata mengalir di matanya ketika melirik    cafe    itu    untuk    terakhir    kalinya    sebelum        ia menyeberang menuju apartemennya. Hatinya hancur lebur, kali ini jauh lebih sakit daripadketika Jeremy  mengkhianatinya. Jauh lebih pedih dan menyakitkan
Karena  Sani  sadar,  bahwa  dia  sudah  mencintai  Azka dengan sangat dalam.
⧫⧫⧫
Albert  datang  membawakan  handuk  untuk Azka.  Azka menerimanya dengan tatapan kosong, menggunakannya untuk mengelap wajah dan rambutnya yang basah oleh anggur.
Tidak berjalan seperti yang seharusnya ya?” Azka termenung pedih, Tidak.”
Lalu apa yang akan kau lakukan setelahnya?
Pikiran Azka bergejolak. Antara kemarahan yang makin menggelegak  atakata-kata  Celia kepadanya  tadibercampur pada kemarahake dirinya sendiri karena dia terlalu lambat dan membuat Sani mengetahui mengenai pertunangan itu sebelum waktunya,
“Aku akan berbuat sesuatu. Nanti.” Gumamnya dingin.
Malam itu, Azka duduk di cafe semalaman, menatap ke arah jendela, ke arah apartemen Sani.
⧫⧫⧫
Dia masih merenung  di apartemennya  ketika pintunya
diketuk.
“Masuk.” Gumamnya tak bersemangat.
Pintu itu terbuka dan Keenan melangkah masuk dengan gaya santainya, dia mengangkat alis melihat Azka yang tampak begitu murung.“Tidak bekerja hari ini?
Azka melirik Keenan dengan dingin, Tidak.”
Keenan tersenyum dan mengambil tempat duduk di depa Azka Bar kali   in seoran Azka   meninggalkan tanggung jawabnya, karena seorang perempuan.” Gumamnya ringan, membuat Azka melemparkan tatapan membunuh kepadanya.
“Apa yang kau lakukan di sini?
“Aku memang ingin mampir menengokmu, tetapi beberapa pelayan di bawah tampaknya sedang asyik membicarakan  insiden semalam.  Dimanseorang  perempuan menumpahkan anggur dari gelasnya ke sang pemilik cafe.” Keenan terkekeh, Tidak ada perempuan lain yang berani melakukan itu padamu, dan kau membiarkannya, Azka. Kecuali Sani.”
Azka hanya terdiam, meneguk kopinya dengan frustrasi.
“Apakah pada akhirnya Sani tahu tentang Celia?
Azka  mengganggukkan  kepalanya,  Dia  tahu  sebelum saatnya.”
Sebelum rencanamu untuk menyingkirkan Celia eh?Keenan melemparkan tatapan mata penuh tanya, ingin tahu apa sebenarnya  rencana  Azka  untuk  Celia.  Tetapkemudian  dia sada bahw Azk tida ingin   menjawa pertanyaannya, “Sudah kubilang kau sangat terkenal, dan sangat sulit menyembunyikan informasi semacam itu.”
“Aku tahu, aku pikir aku akan punya waktu lebih lama.” Azka meringis  pedih,  Sani dikhianati  oletunangannya,  dan dia sekarang menganggap aku sama brengseknya dengan tunangannyitu. Aku sudah berusaha menjelaskan  tetapi dia tidak mau mendengarkan aku.”
Tunggu sampai dia tidak marah lagi.”
“Aku takut dia pergi Keenan, aku takut.... aku... aku tidak akan bisa hidup tanpanya.” Azka membungkuk, meremas rambutnya dengan frustrasi
Dan Keenan duduk di sana, mengamati dengan sedih, merasakan hatinya teriris. Baru kali ini Azka bersedia meninggalkan seluruh tanggung jawabnya, demi mengejar perempuan yang dicintainya. Dan saudara kembarnya itu sekarang harus menghadapi kemungkinan untuk patah hati.
⧫⧫
Keenan berdiri di depan pintu rumah Celia, menunggu.Celia muncul beberapa saat kemudian dan mengernyiketika mendongak dan melihat bahwa Keenan yang muncul di sana.
Ada apa? Celia tentu saja bingung, tidak pernah sekejappun dia menyangka bahwa Keenan akan datang menemuinya. Dia pernah berusaha mengejar Keenan dan ternyat lelak itu   tidak   perna seriu kepadanya Pada akhirnya Celia memutuskauntuk mengalihkan perhatiannya kepada Azka, toh wajah mereka sama... Meskipun jauh di dalam hatinya... dia lebih mencintai Keenan, Keenan yang mudah tertawa, Keenan dengan pakaian santai dan gaya menggodanya yang  selalu  membuat  Celia  berdebar,  dasemua  hal  yang sangat bertolak belakang dari Azka. Azka terlalu serius, terlalu formal, dan terlalu datar.
Tetapi Keenan sepertinya tidak menyimpan perasaan yang sama. Sehingga Celia harus puas memiliki saudara kembarnya yang sangat mirip dengannya.
Keenan menatap Celia dengan serius, tatapan yang tidak pernah dilihat Celia sebelumnya karena Keenan selalu penuh canda.
“Akselalu  tahu  bahwa  kau  tidak  pernah  mencintai Azka.”   Keena bergumam,   membuk percakapan menatap Celia dalam-dalam, membuat Celia mengernyit. Ketika Celia bertunangan dengan Azka, Keenan hanya mengangkat  alisnya waktu  itu, tidak  menolak  tapi juga tidak menyetujui Padahal   wakt itu  Celia  mengharapka setitik reaksi kecemburuan dari Keenan, sayangnya ternyata dia tidak tersimpan sedikitpun  di hati Keenan. Lalu setelah kecelakaan itu, tatapan tidak peduli Keenan kepadanya berubah menjadi tatapan   marah...   Ah  dia  tahu  tentang   pengkhianata Celia kepada Azka tentu saja, dan lelaki itu tampak jijik kepadanya serta berusaha menentang ketika Azka bersikeras melanjutkan pertunangan itu. Tentu saja Keenan tidak bisa berbuat apapun untuk menghalangi Celia dan Azka, sebentar lagi Celia akan menikah dengan Azka.
Kau tidak pernah tahu apa yang kurasakan. Celia bergumam,  mendongak  mentaap  Keenan  yang  masih  berdiri dan menunduk ke arahnya,


“Aku tahu. Tiba-tiba saja Keenan berjongkok di depannya, membuat matanya sejajar dengan mata Celia, “Aku tahu persis bahwa akulah yang kau cintai.”
Pipi  Celia  memerah  dan  jantungnya  berdebar mendengar kata-kata Keenan itu. Apa maksud Keenan sebenarnya?
Keenan   mengeluarka sesuatu  dari  sakunya,  sebuah kotak kecil berwarna hitam dari beludru, dibukanya kotak itu. Isinya sebuah cincin berlian yang begitu indah dan berkilauan,
“Aku mencintaimu Celia, sudah sedari lama aku memendam  perasaan  ini. Tapi kau  lalu  memilibertunangan dengan Azka. Aku menunggu lama dan pada akhirnya sadar bahwa kalian berdua tidak pernah saling mencintai. Aku yang mencintaimu,  bukan  AzkaDan  aku  yakin  kau  juga mencintaiku.”
“Apa? Celia benar-benar terkejut, bibirnya menganga, matanya berganti-ganti menatap cincin berlian itu dan beralih ke wajah Keenan. Tetapi yang ditemukannya di wajah Keenan adalah keseriusan yang dalam.
Kalau kau bersedia, aku akan menghadap Azka dan mengungkapkan    semuanya,    bahw kit salin mencintai, bahwa kita ditakdirkan bersama. Azka akan mengerti, apalagi aku sangat yakin bahwa dia tidak mencintaimu. Dia pasti akan memberikan restu kepada kita untuk bahagia bersama.”
Mata Celia tampak berkaca-kaca. Oh astaga. Keenannya! Lelaki yang dicintainya dari awal. Bagaimana mungkin dia bisa menolaknya Batinnya   sendiri  sudah  mengaku bahwa  dia hanya menggunakan Azka sebagai pelarian, dia mencintai Azka karena lelaki itu bagaikan perwakilan dari saudara kembarnya, dan yang dicintai oleh Celia sesungguhnya adalah Keenan.
Kau...  kau  tidak  sedang  mempermainkanku   bukan?” Celia  masih  meragu  meskipun  hatinya  langsung  berbunga- bunga melihat senyum lembut Keenan kepadanya,
“Aku? Bercanda? Percayalah padaku, Celia, aku tidak pernah melakukan ini kepada perempuan manapun, tidak pernah sebelumnya. Hanya kau satu-satunya perempuan yang bisa  membuatku  berlutut  dan  menawarkan  cincin.  Dan  aku akan  mati karena patah hati kalau  kau  menolaknya.”  Keenan menunjukkan cincin itu lagi dan berubah serius, Nah, Celia, maukah kau memutuskapertunanganmu  bersama Azka dan kemudian bersumpah setia untuk menikah denganku?
Air mata bahagia membanjiri mata Celia, Ya!serunya bersemangat, dia memajukan tubuhnya, memeluk Keenan erat- erat dan merasa begitu melayang ketika Keenan membalas pelukannya, Ya. Keenan, aku bersedia! Aku akan menikah denganmu!
Celitidak  melihat  wajah  Keenan  yang  begitu  pedih ketika memeluknya. Keenan sudah terlalu sering berbuat egois, memanfaatkakebaikan hati Azka, membiarkan kakaknya itu bertanggung  jawab  atasemua  hal  yang  seharusnya  mereka bagi bersama. Kini giliran Keenan membalas budi, setidaknya dia bisa mengambil salah satu tanggung jawab Azka yang paling berat. Pemandangan Azka yang begitu menderita telah mendorongnya  untuk  berbuat  iniDia  bisa  dan  dia  mampu untuk menolong kakaknya.
Biarla dia   yan mengambi ali tanggun jawab terhadap Celia, dan membiarkan Azka bisa mengejar cinta sejatinya.
⧫⧫⧫
“Aku harus berbicara denganmu.” Keenan bergumam di pintu menyadari   San di  dala san meras rag untuk membukanya.
Keenan berhasil naik ke atas karena resepsionis apartemen mengira bahwa dia adalah Azka, jadi dia membiarkannya masuk. Dan sekarang lelaki itu sudah berdiri di depan apartemen Sani, ingin memberikan penjelasan.
“Apakah  Azka  yang  mengirimmu  kemari? Tanya  Sani dari balik pintu.
Tidak. Saudaraku itu terlalu menderita untuk berpikir apapun, yang dia lakukan hanyalah mengurung diri di apartemennya dan merenung. Tidak makan, tidur ataupun bekerja, kalau terus-menerus begitu aku cemas dia akan mati.”


Keenan  mendesah,  Kumohon,  biarkan  aku  bicara  denganmu sekali saja, setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi.
Sani tertegun, hatinya terasa pedih mendengar kata-kata Keenan tentang Azka, tetapi dia menguatkan hatinya, bukankah dijuga  mengalami  kepedihan  yang  sama?  Ditidak  bisa makan, tidak bisa tidur dan terus-terusan menangis?
Setelah  menghela  napas  panjang,  Sani membuka  pintu dan menatap Keenan dengan dingin, Katakan apapun yang kau mau, lalu pergilah.”
Keenan meringis menerima sikap dingin Sani, Bolehkah aku masuk? Ini akan sangat panjang.”
Sani menatap Keenan, lalu pada akhirnya dia memundurkan diri dan membiarkan mereka masuk.
Mereka duduk di sofa, dalam keheningan,
Well?   tanya  Sani  setelah  beberapa  lama  tampaknya Keenan belum ingin mengatakan apapun.
Keenan mendesah, “Aku masih bingung harus memulai dari  mana...  kita  muladari  Celia,  tunangan  Azka.”  Keenan melirik dan menemukan luka di mata Sani ketika nama Celia disebut, “Celia dulu mengejarku dan ingin memilikikuTetapi tentu saja aku hanya main-main dengannya. Dan setelah sadar dia tidak bisa memilikiku, dia mengejar Azka. Azka waktu itu masih begitu rapuh sepeninggal orang tua kami, dan Celia menghujaninya dengan perhatian-perhatian hingga akhirnya Azka menerima Celia. Aku bilang menerima karena aku yakin bahwa dari awal, Azka tidak pernah mencintai Celia. Dia hanya merasa  dia  bisa   menerima   Celi di  sisinya it saja Dan kemudian merekapun bertunangan.” Keenan mengangkat bahunya, “Aku sedikit terkejut ketika Azka mengambil langkah serius itu bersama Celia, tetapi kemudian aku sadar, Celia tahu betul  kelemahan  Azka,  ditahu  Azka  mudah  merasa bertanggung  jawab  kepada  seseorang  dadia memanfaatkannya.  Merekberduapun  bertunangan.  Dan semua tampak baik-baik saja. Sampai kemudian pengkhianatan itu terjadi.”
Pengkhianatan? Jantung Sani berdegup kencang, Apakah sebelumnya Azka juga pernah mengkhianati Celia?
“Celia yang mengkhianati Azka.” Keenan bergumam, memahami pertanyaan yang ada di mata Sani, “Azka sangat sibuk waktu itu, mengambil alih perusahaan yang diwariskan oleh ayah sehingga dia tidak punya waktu untuk memberikan perhatian kepada Celia yang manja. Celia yang manja dan haus kasi sayan akhirny mencari   pelaria kepad pria   lain, seorang pria brengsek bernama Edo. Lelaki itu merusaknya dan meninggalkannya dalam kondisi hamil.”
“Apa? Sani terkesiap, menutup mulutnya dengan jemarinya, tidak menyangka akan informasi itu.
Ya. Dia hamil, dan dia ditinggalkan. Celia menangis, datang kepada Azka, berharap bisa memanfaatkan sikap tanggung jawab Azka. Tetapi dia memperoleh yang sebaliknya, dia marah besar, semua itu sudah berada di luar batas toleransi Azka. Sayangnya Celia memilih waktu yang salah ketika mengaku, dia sedang berada di dalam mobil bersama Azka, dan kemudian mereka mengalami kecelakaan.
Sani teringat berita yang dibacanya, bahwa Celia adalah seorang model yang kemudian berhenti setelah sebuah kecelakaan...
“Celia keguguran. Dan kakinya dinyatakan lumpuh, tidak bisa  berjalan   lagi  selamanya Azka  seperti  yang  kau  tahu merasa sangat bersalah dan kemudian mengambil seluruh tanggunjawab terhadap  Celia, dia melanjutkan pertunangan itu. Melanjutkan rencana pernikahan itu meskipun hatinya luar biasa pedihnya. Seluruh perasaan yang pernah dimilikinya bersama   Celi tent saja   suda musnah tetap di tetap berusaha menjalani apa yang sudah dijanjikannya, dan dia berusaha tetap setia.”
Oh Ya ampun. Kasihan Azka. Itulah hal yang pertama terlintas di benak Sani. Kasihan Azka... lelaki itu sekali lagi memikul tanggung jawab yang bertentangan dengan hati nuraninya.
Keenan tersenyum kecut melihat ekspresi Sani, Kau merasa kasihan kepadanya bukan? Begitupun aku? Azka hidup dengan menanggung  beban karena kebaikahatinya dan aku selalu  menentang  pertunangannya  dengan  Celikarena  aku tida ma dia   menderita... Apalag ketik kemudia dia bertemu kau, Sani.”
Keenan memajukan tubuhnya, Kau pasti tahu dan merasakan bahwa Azka benar-benar mencintaimu, dia tidak pernah selembut itu dengan perempuan manapun. Dulu dia begitu dingin, tenang dan pandai menutupi perasaannya, tetapi kepadamu dia sepertinya tidak bisa menahan diri.” Keenan mengamati Sani, Kau pasti tidak tahu bahwa Azka mempunyai rumah  sendiri,  sebuah  rumah  mewah  di  daerah  elite  yang sangat sejuk dekat dengan kantor pusat perusahaannya. Tetapi sejak bertemu denganmu, dia memilih untuk selalu pulang ke aparteme d ata caf yan sederhan yan jauh   dari kantornya, selarut apapapun dia pulang dia selalu berusaha ke sana. Hanya supaya dia bisa berdekatan denganmu.”
Mata Sani terasa panas ketika dia mengingat kebaikan dan kelembutan hati Azka kepadanya, melihat betapa sedihnya lelaki  itu  ketika pertengkaran  merekdcafe.  Oastaga,  dia tidak tahu kalau seperti ini kisahnya. Kalau saja dia tahu...
Kalau saja dia tahu dia akan berbuat apa? Tidak mungkin kan dia menerima cinta Azka dan membuat Azka meninggalkan Celia? Batin mereka berdua pasti akan sama-sama tersiksa, berbahagia di atas penderitaan perempuan lain.
Keena menghela   napas   panjang Sekaran kalian sudah tidak perlu bingung lagi. Aku sudah mengatasi Celia.”
Sani menatap bingung ke arah Keenan, “Mengatasi Celia?
Apa maksudmu?
Keenan menatap Sani dengan pedih, “Aku sadar bahwa selama ini aku egois, membiarkan Azka menanggung semuanya, aku hampir sama jahatnya seperti Celia, mengetahui kelemahan Azka adalah kebaikan hatinya, dan aku memanfaatkannya... Tetapi ketika hari itu aku melihat betapa menderitanya Azka, aku tidak tahan. Aku ini adiknya dan adik macam apa yang bisa membiarkan kakaknya menderita padahal tahu bahwa dia bisa berbuat sesuatu?
“Maksudmu....? Sani bertanya-tanya, akan kemana arah dari kata-kata Keenan itu.
Yang dicintai Celia sebenarnya adalah aku. Aku tahu persis itu sejak awal mula.” Keenan terkekeh, “Aku mendatangi Celia pagi ini dan menawarkan pertunangan, berpura-pura mencintainya dan memintanya meninggalkan Azka. Perempuan itu langsung menyambarnya bagaikan ikan hiu yang kelaparan.”
“Astaga Keenan? Kenapa kau melakukan itu?
Karena aku menyayangi Azka, sejak kecil dia selalu menjaga  dan  melindungiku,  bahkan  sampai  dewasapun  dia selalu melakukannya. Sekarang giliranku untuk membuatnya bahagia.”
“Tetapi kau tidak benar-benar mencintai Celia..”
Tidak apa-apa.” Keenan tersenyum, “Aku sudah mengambil seluruh jatah kebahagiaanku di muka, sekarang giliran Azka yang mendapatkannya.”
⧫⧫
Sepeninggal  Azka,  Sani  masih  merenung  kebingungan.
Pada akhirnya dia memberanikan diri, menelepon nomor Azka. “Halo Sani? pada deringan pertama telepon itu langsung diangkat,  seolah-olah  Azka  memang  sedari  tadduduk merenung menatap ponselnya.

“Azka.” Sani memejamkan matanya, meras bersalah ketika mendengar nada letih di suara Azka, lelaki itu menanggung  beban  berakarenanya,  Aku...  bisakah  aku  ke cafe? Aku ingin bicara.” 



YOU'VE GOT ME FROM HELLO - SANTHY AGATHA - BAB 10

No comments:

Post a Comment