Tuesday, October 13, 2015

SLEEP WITH THE DEVIL - SANTHY AGATHA - BAB 6



BAB 6

Kopi sudah dihidangkan, pertanda meeting santai itu sudah usai. Beberapa lelaki memilih keluar untuk merokok, sedang Damian duduk diam di ujung sofa, mengamati Mikail yang masih sibuk mempelajari berkas-berkas di tangannya.
Mikail bukanlah lelaki yang bisa membaur, lelaki ini penyendiri, dan wataknya yang terkenal membuat orang- orang segan mendekatinya. Damian tidak akrab dengan
Mikail, mereka hanya berbicara tentang bisnis. Dan apabila menyangkut bisnis, Mikail cukup kooperatif. Kerja sama mereka telah membuahkan banyak keuntungan bagi perusahaan masing-masing.
Damian ragu untuk menanyakan perihal Lana kepada Mikail. Rasanya terlalu aneh untuk membahas masalah itu di sini. Tetapi isterinya – Serena yang cantik – telah berhasil membuatnya berjanji untuk melakukannya.
Damian berdehem, menarik perhatian Mikail dari berkas berkas yang ditelusurinya dengan serius,
“Kami, aku dan isteriku bertemu dengan kekasihmu semalam”
Kepala Mikail langsung terangkat seperti disentakkan, ia menatap Damian dengan waspada,
“Oh ya?,” nada suaranya santai, tetapi ketegangan dalam suara Mikail tidak bisa menipu Damian, ada sesuatu di sini, batin Damian dalam hatinya, ada sesuatu yang dirahasiakan
Mikail…
“Yah, dia berkenalan dengan isteriku kemarin, dan berbicara panjang lebar dengannya,” Damian berusaha memancing Mikail dan sepertinya pancingannya kena karena mata Mikail menyipit dan menatapnya curiga.
“Apakah dia mengatakan sesuatu kepada isterimu?” Damian menatap Mikail lurus-lurus,
“Dia meminta tolong kepada isteriku untuk diselamatkan, supaya dia bisa keluar dari rumahmu”
Bibir Mikail mengetat membentuk garis tipis, lalu dia segera berdiri, “Bilang pada isterimu untuk tidak melakukan apa-apa. Perempuan itu milikku, dan siapapun tidak akan bisa melepaskannya dari rumahku, kecuali atas seizinku,” Mikail menatap Damian lurus, menimbang-nimbang, “Aku menghormatimu Damian, kau adalah salah satu dari sedikit orang yang aku hormati dan aku tidak ingin hubungan saling menghargai ini rusak. Maaf aku permisi dulu karena ada janji
pertemuan dengan pihak lain setelah ini”
Setelah mengangguk kaku, Mikail melangkah pergi meninggalkan ruangan meeting besar itu.
Damian duduk diam dan menyesap kopinya, matanya masih menatap pintu di mana Mikail menghilang di baliknya.
Tingkah Mikail mengingatkannya pada dirinya dulu. Senyum muncul di bibir Damian. Mikail mungkin akan mengalami hal yang sama seperti dirinya, kalau dia tidak hati-hati kepada Lana

***
Ketika pintu kamarnya dibuka dari luar, Lana tidak menyangka kalau Mikail-lah yang masuk. Lelaki itu telah sepenuhnya mengabaikannya akhir-akhir ini. Lana bahkan hampir tidak pernah melihat lelaki itu, kecuali dari pemandangan ketika Mikail memasuki mobilnya di teras bawah yang kelihatan dari jendela lantai dua tempat Lana dikurung.
Dan seperti biasanya, lelaki itu tampak marah. Lana mengerutkan alisnya, kenapa lelaki itu tidak pernah sedikitpun tampak ceria dan tersenyum? Kalaupun tersenyum, senyumnya hanyalah senyum jahat dan sinis.
Apakah lelaki itu tidak pernah merasakan bahagia sedikitpun di dalam hatinya?
Tanpa basa basi, Mikail melempar jasnya ke kursi dan melonggarkan dasinya, lalu menatap Lana tajam,
“Apa yang kau katakan kepada Isteri Damian?”
Lana langsung mengkerut takut. Serena mungkin telah menyampaikan permintaan tolongnya kepada Damian, dan Damian mengatakannya kepada Mikail.
Ketika rasa ketakutan menggelayutinya, Lana langsung menggelengkan kepalanya mencoba mengembalikan keberaniannya. Diingatnya wajah ayah dan ibunya yang bahagia, lalu tergantikan dengan wajah pucat mereka yang terbaring di peti mati. Kebencian dan kemarahan adalah senjatanya untuk menghadapi Mikail,
“Aku memang meminta tolong kepada Serena untuk menyelamatkanku,” Lana mengangkat dagunya angkuh, menantang Mikail. Mikail menggeram marah, matanya menyala,
“Coba saja kalau kau berani. Minta Serena untuk membebaskanmu, dan kalau perempuan itu berani melakukan sesuatu, aku akan melenyapkan nyawanya,” Mikail mendesis geram, “Dan aku tidak pernah main-main dengan perkataanku Lana, kebebasanmu akan diganti dengan nyawa orang-orang yang lengah atau orang-orang yang mencoba menyelamatkanmu”
Wajah Lana memucat. Apakah Mikail benar-benar akan melukai Serena? Diingatnya senyum lembut di wajah cantik Serena dan kebaikan hati perempuan itu. Ah ya Tuhan, Serena adalah satu-satunya kesempatannya untuk melepaskan diri. Tetapi jika gantinya Mikail akan melukai Serena, maka Lana tidak punya kesempatan apa-apa lagi.
“Kenapa kau tidak melepaskanku? Aku muak menjadi tawananmu”
Mikail menyipitkan matanya, mengamati Lana dari ujung kepala sampai kaki,
“Terlalu mudah jika aku melepaskanmu, kau pasti akan mencari cara untuk membalaskan dendammu lagi… dan terlalu mudah pula kalau aku membunuhmu, tubuhmu terlalu nikmat untuk mati sia-sia…,” Mikail melangkah mendekat, dan otomatis Lana langsung melangkah mundur.
“Jangan… jangan mendekat!,” Lana tanpa sadar mencengkeram dadanya dengan gerakan melindungi diri.
Mikail sudah pernah memaksakan kehendak kepadanya, memar di tangannya masih terasa nyeri, bekas ikatan dasi yang kejam di pergelangannya. Mikail hanya tersenyum meremehkan melihat gerakan Lana itu,
“Kau tahu kau tidak bisa menolak kalau aku ingin memaksamu. Apakah kau tidak belajar dari pengalaman bercinta kita kemarin?,” dengan tenang lelaki itu melemparkan dasinya yang sudah dilonggarkan ke lantai, lalu melepas kancing kemejanya, satu demi satu.
Lana menatap pemandangan di depannya itu dengan panik, “Kau… kau mau apa??”
“Menurutmu aku mau apa?.” Mikail melemparkan kemejanya dan berdiri dengan dada telanjang di depan Lana. Tubuh lelaki itu luar biasa indah, ramping tapi kuat dengan otot ototnya yang menyembul, terlihat begitu keras.
“Aku mau mandi,” Mikail tampak geli melihat keterkejutan Lana, “Dan kau ikut denganku”
Wajah Lana memucat dan menatap Mikail dengan marah. “Apa-apaan? Kenapa kau mandi disini? Kau… kau kan punya kamar mandi sendiri di kamarmu… ini… ini adalah…”
“Ini adalah kamar kekasihku,” Mikail menyelesaikan kalimat Lana dengan tenang, “Ya. Kau kekasihku Lana, kau harus terima itu. Kau ada di sini untuk memuaskan nafsuku”
“Kurang ajar!,” Lana menyembur marah, dan didorong akan rasa tersinggungnya atas hinaan Mikail, Lana maju dan mencoba mencakar wajah Mikail. Tetapi Mikail cukup gesit, digenggamnya lengan Lana, dan dengan gerakan cepat di telikungnya tangan Lana di belakang punggungnya,
“Tidak semudah itu Lana, ingat itu, aku laki-laki yang cukup kuat, kalau kau bersikap baik, aku akan bersikap baik kepadamu, tetapi kalau kau menantangku, aku mungkin akan menyakitimu,” Dengan satu tangan masih menelikung Lana, Lelaki itu meraih dagu Lana dan memaksa mengecup bibirnya dengan panas, “Ketika aku bilang kau harus mandi denganku, maka kau akan melakukannya”
Mikail mendorong Lana masuk ke kamar mandi dengan nuansa marmer putih itu

***
Mikail merasa dirinya hampir gila. Dia tidak berhubungan seks dengan wanita manapun akhir-akhir ini. Karena dia tidak tertarik. Gairahnya terpusat kepada Lana, perempuan ini membuatnya ingin menundukkannya, menaklukkannya, dan mendominasinya dengan posesif. Mikail ingin Lana tunduk di kakinya, memujanya seperti yang dilakukan banyak orang kepadanya.
Well itu mungkin butuh waktu lama, Mikail mengernyit melihat ekspresi Lana. Perempuan ini harus selalu dipaksa, harus selalu diikat, dan Mikail sebenarnya tidak suka menyakiti perempuan yang akan ditidurinya.
Bukti gairahnya terlihat jelas, dan Lana menolak untuk melihatnya, Mikail mendorong tubuh Lana ke pancuran, membiarkan air hangat membasahi mereka berdua. Ketika Lana sekali lagi mencoba memberontak, Mikail mencengkeram kedua tangannya erat-erat ke dinding dan merapatkan tubuhnya, menempelkan bukti gairahnya ke pusat tubuh Lana, membuat muka Lana merah padam,
“Hati-hati Lana, aku tidak ingin menyakitimu, aku cuma ingin mandi”
Lana mengerjap, “Mandi?” Ada sinar geli di mata Mikail,
“Ya, mandi, kau pikir aku mau apa?”
Pipi Lana makin memerah, apalagi ketika matanya tersapu pada kejantanan Mikail yang mengeras, terlihat jelas laki-laki itu sudah amat sangat terangsang.
Mikail mengikuti arah tatapan Lana dan tersenyum,
“Aku cuma ingin mandi, tetapi sepertinya kau lebih tertarik ke yang lain”
Lana menatap marah ke mata Mikail, tetapi lelaki itu hanya terkekeh,
“Terserah kau, kau mandi di sini bersamaku. Atau kalau kau lebih memilih menantangku, kita bisa berakhir dengan hubungan seks yang hebat di kamar mandi. Sekarang tolong gosok punggungku dengan sabun,” Mikail melepaskan celananya, terkekeh lagi ketika Lana langsung memalingkan mukanya, tak mau melihat.
“Ayo, gosok punggungku,” Mikail membalikkan tubuhnya, membiarkan pundak dan bahunya diterpa air hangat dari shower, yang mengalir menuruni punggung berototnya dan turun ke pantatnya yang kencang…
Lana terpana dan mengerjapkan matanya ketika menyadari bahwa matanya terpaku pada keindahan tubuh Mikail yang berotot dan keras. Ramping tapi jantan, dan semua begitu proposional pada tempatnya, seolah Tuhan menciptakan laki-laki ini sambil tersenyum.
Mikail menolehkan kepalanya dan menangkap basah Lana yang sedang mengamati tubuhnya. Tatapan sensualnya memancar, panas, dan bergairah. Tetapi kemudian dia mendapati mata Lana yang berputar ke seluruh penjuru kamar mandi. Perempuan ini masih belum menyerah dalam usahanya untuk melukai Mikail. Mikail berani bertaruh bahwa Lana sedang mencari-cari senjata, sesuatu – mungkin untuk dipukulkan ke kepala Mikail yang sedang lengah,
“Lana,” suara Mikail terdengar rendah dan mengancam, meskipun sebenarnya lelaki itu sangat menikmati mengucapkan nama Lana lambat-lambat di mulutnya, “Kalau kau tidak melakukan perintahku dan sibuk mencari cara untuk melakukan – entah rencana apa yang ada di dalam kepalamu yang cantik itu, maka mungkin saja aku akan berubah pikiran dan langsung menyetubuhimu saja”
Lana terlonjak, dan langsung meraih sabun cair, lalu mengusapkannya ke punggung Mikail yang keras dan berotot itu. Sentuhan itu membuat keduanya sama-sama terkesiap. Mikail bahkan tidak bisa menahan erangannya, kejantanannya sudah begitu keras. Seperti batu di bawah sana hingga terasa menyakitkan, memprotes untuk dipuaskan. Sentuhan tangan lembut Lana di punggungnya semakin memperburuk keadaan, membuatnya terangsang sampai di tingkat dia tak dapat menanggungnya. Lana mengernyit mendengar suara erangan Mikail. Dia tidak dapat melihat ekspresi Mikail, hanya bisa melihat rambut belakang Mikail yang kecoklatan dan sekarang basah, menempel di tengkuknya.
“Kenapa?,” Lana bertanya, pada akhirnya ketika Mikail mengerang lagi. Jemarinya menggosok lembut bahu dan punggung Mikail yang sekarang licin karena sabun. Guyuran air hangat membasahi mereka berdua, membuat kaca-kaca kamar mandi itu berembun karena uapnya.
Mikail menggertakkan giginya, mencoba menahan gairahnya. “Tidak apa-apa,” suaranya berupa erangan yang dalam, mencoba menahan dirinya ketika tangan lembut Lana yang berlumuran sabun itu menyentuh pinggangnya. Dia ingin merenggut tangan Lana itu, menyentuhkan ke kejantanannya yang sangat menginginkannya, dan kemudian memuaskan dirinya di dalam tubuh Lana.
Tetapi dia tidak bisa. Mikail ingin membuat Lana menyerah dengan sukarela. Dua percintaan mereka yang terakhir tidak dilakukan dengan sukarela. Meskipun pada akhirnya Mikail bisa membuat Lana merasakan kenikmatan. Mikail Raveno tidak pernah memaksa perempuan jatuh ke dalam pelukannya. Para perempuanlah yang berebut untuk dipeluk olehnya. Dan itu harus terjadi pada Lana. Lana-lah yang harus menyerah dalam pelukannya.
Mikail memejamkan matanya, membayangkan bagaimana nikmatnya nanti ketika Lana pada akhirnya menyerah ke dalam pelukannya dan memohon kepadanya. Mikail melirik kepada Lana, dan …. Astaga ! Demi para dewa yang ada di semesta alam ini…. Lana masih memakai pakaian lengkap, dan yang membuat semuanya lebih buruk, pakaian Lana adalah rok panjang tipis berwarna putih. Dan ketika baju itu basah kuyup, malahan membuat tubuh Lana begitu seksi, tercermin samar-samar di balik pakaian putih yang membuatnya tampak misterius.
Mikail menggertakkan giginya. Dia tidak tahan lagi bermainmain seperti ini. Ada di dekat Lana, telanjang, dan siap seperti ini membuatnya merasa hampir gila. Perempuan ini harus menyerah padanya. Harus!
***

Mikail memasang jasnya dan menoleh pada Norman yang berdiri menungguinya di dekat pintu.
“Bagaimana dengan kasus terakhir itu? Sudah kau bereskan?”
Norman mengangkat bahunya,
“Tuan Franky memendam kemarahan kepada tuan. Apalagi karena tindakan tuan sudah menggilas habis seluruh perencanaan proyeknya”
Mikail tersenyum, membayangkan muka Franky Alfredo saat ini pasti sedang merah padam karena marah.
“Dia selalu marah kepadaku, sejak awal. Tetapi sampai sekarang dia tidak akan bisa berbuat apa-apa kepadaku. Dia tahu dia akan mati kalau sekali saja dia mencoba membunuhku, lalu gagal.”
“Bagaimana kalau dia mencoba dan berhasil?,” Norman menyela dengan cepat, “Tuan Franky sangat licik dan bertangan kotor. Dia menggunakan banyak orang untuk mencapai tujuannya, kita tidak boleh meremehkannya dan harus selalu berhati-hati.” Norman menatap Mikail dengan tatapan mata serius. “Seharusnya tuan menyuruh saya untuk membereskan orang itu dari dulu, supaya dia tidak berani berbuat macam-macam”
Mikail menggelengkan kepalanya tak peduli,
“Dia tidak akan berani, dan kalaupun dia berani melakukan apapun… aku sendiri yang akan menghabisinya”
Franky Alfredo adalah salah satu musuh bisnis Mikail. Lelaki itu bersikap munafik karena di depan Mikail dia selalu bersikap baik dan bersahabat. Tetapi Mikail tahu kalau lelaki itu menyimpan kebencian yang amat mendalam kepadanya
karena bisnisnya semakin terpuruk akibat gilasan ekspansi yang dilakukan Mikail.

Mikail sadar dia memang tidak boleh meremehkan Franky, karena Franky punya teman-teman penting di balik bisnis kotornya. Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan anak buahnya, lelaki itu berhubungan dengan sindikat senjata gelap dan kelompok-kelompok bawah tanah. Tidak menutup kemungkinan Franky pada akhirnya akan menyewa salah seorang dari mereka untuk membunuhnya. Mikail, meskipun dibekali dengan kemampuan bela diri dan sangat ahli dalam berbagai jenis senjata serta dikelilingi oleh pasukan pengawalnya yang kompeten, harus selalu waspada.
Suatu saat, ketika Franky sudah terasa sangat mengganggu seperti hama penyakit yang harus dibasmi, Mikail sendiri yang akan membereskannya. Tetapi tidak sekarang, mungkin reputasi Mikail yang kejam membuat Franky sangat berhati-hati dalam bertindak, Mikail ingin melihat sejauh mana gerakan Franky, baru setelah itu dia memutuskan akan dibagaimanakan sampah itu.
Nanti. Gumam Mikail dalam hati, Sekarang dia harus makan malam dengan perempuannya.
Setelah merasa puas dengan penampilannya, MIkail memutar tubuhnya dan mengedikkan bahunya kepada Norman,
“Dia sudah siap?”
Norman menganggukkan kepalanya,
“Theo sudah menyiapkannya dari satu jam yang lalu,” Norman membungkukkan badannya, lalu membukakan pintu untuk Mikail.

***

Ketika didandani oleh Theo, Lana sudah terlalu lelah untuk melakukan pemberontakan sekecil apapun. Dia bahkan tadi tidak bertanya apapun ketika Norman mengantar Theo ke kamarnya dan laki-laki itu tiba-tiba mendandaninya,
“Sepertinya kau berubah menjadi pendiam, kau tidak ingin tahu mengapa kau didandani?,” Theo bertanya setelah dia selesai mengoleskan eye shadow warna keemasan di kelopak mata Lana.
Lana hanya menggelengkan kepalanya, tidak mampu menjawab. Ingatan akan kejadian di kamar mandi tadi membuat perasaannya campur aduk. Oh ya, sesuai janjinya, Mikail hanya mandi. Setelah Lana selesai menyabuni punggungnya, Mikail meneruskan mandi dan kemudian dengan tatapan lancang, menawarkan diri untuk memandikan Lana – yang tentu saja langsung ditolaknya mentah-mentah dengan berbagai sumpah serapah yang menyembur dari bibirnya. Mikail hanya tersenyum, mengambil handuk putih, mengikatkannya di pinggangnya dan melangkah pergi dengan santai. Meninggalkan Lana yang masih terpaku dalam guyuran air shower kamar mandi itu.
Mikail benar-benar terangsang. Lana tidak perlu memegang untuk mengetahui itu, bukti kejantanan Mikail sudah menonjol tanpa tahu malu. Tetapi kenapa lelaki itu tidak melakukan apa-apa kepadanya? Bukannya Lana ingin Mikail melakukan apapun kepadanya. Tetapi bayangan itu, bayangan MIkail yang bergitu bergairah tidak bisa hilang dari pikirannya.
Entah kenapa perasaan malu dan terhina merambati pikiriannya, Sungguh memalukan! Mungkinkah sebenarnya di dalam dirinya tersembunyi sosok perempuan jalang yang siap meledak? Atau jangan-jangan Mikail memang begitu ahli merayu perempuan sehingga membuat Lana hampir-hampir bertekuk lutut di kakinya?
“Sudah selesai,” suara Theo terdengar puas, mengembalikan Lana dari lamunannya.
Lana sedikit melirik ke cermin, pada mulanya tidak begitu tertarik akan hasil dandanan Theo, tetapi mau tak mau pandangan matanya tertahan lebih lama di sana.
Gaun hitamnya tampak menjuntai di belakang, dengan potongan sederhana, tetapi elegan. Rambutnya diangkat ke atas, memamerkan telinganya yang dihiasi anting rubi dengan ukiran emas. Secara keseluruhan, penampilannya tampak begitu elegan dan berkelas. Theo memang hebat bisa membuat penampilannya berubah drastis seperti ini.
“Tuan Mikail akan mengajakmu makan di Atmosphere,” Theo mengernyit ketika melihat Lana tampak biasa saja mendengar nama restaurant itu, “Hei itu restaurant bintang lima paling berkelas di sini, di sana akan ada banyak mata yang melihat dan menilamu, tapi jangan pedulikan mereka,”
Theo memutar matanya genit, “Mereka hanya iri karena kau bersama bujangan yang paling diminati.”
Bujangan paling diminati? Tanpa sadar Lana memutar matanya, mungkin orang-orang itu terlalu silau akan ketampanan Mikail hingga buta akan semua sifat buruknya.
Pintu terbuka dan Norman masuk, “Sudah siap?,” pengawal berwajah dingin itu sedikit mengangkat alisnya melihat penampilan Lana, tetapi wajahnya tetap datar, “ Tuan Mikail sudah menunggu di bawah.”

***

Lana diantar ke ballroom bawah dan Mikail berdiri di sana. Lelaki itu sekilas melemparkan pandangan memuji, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Di dalam mobilpun dilalui dalam keheningan. Lelaki itu rupanya berniat mempertahankan keheningan sampai ke tujuan. Tetapi Lana tidak tahan, satu-satunya senjata agar dia tidak jatuh dalam pesona Mikail adalah dengan terus menerus melawannya.
“Kenapa kau ajak aku makan malam di luar?,” akhirnya Lana memecah keheningan itu dengan pertanyaannya. Mikail menoleh sedikit dan menatap Lana dengan pandangan malas,
“Aku lapar”
Lana mendengus jengkel mendengar jawaban itu,
“Kau punya 3 koki hidangan internasional di rumahmu,” begitu yang sempat Lana dengar dari obrolan para pelayan. “Aku sedang ingin makan di luar, dan kau….,” Mikail menatap Lana dengan tatapan – awas kalau kau berani membantah-, “Kau adalah kekasihku, jadi kau harus mendampingiku”
Tentu saja Lana membantah, “Aku bukan kekasihmu”
“Ya, kau adalah kekasihku. Perempuan yang kutiduri lebih dari satu kali otomatis menjadi kekasihku”
“Bukan!,” Lana menyela keras kepala, mukanya memerah mendengar omongan Mikail yang vulgar itu.
“Lana,” Mikail mengeluarkan suara mengancamnya yang khas, “Jangan menantangku. Kau tahu aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, suasana hatiku sedang buruk dan aku muak dengan semua perlawananmu. Jadi jangan cobacoba memancing kesabaranku”
“Kalau kau muak denganku seharusnya kau lepaskan aku” “Tidak,” Mikail menjawab cepat, hanya sepersekian detik setelah Lana menutup mulutnya, “Hentikan Lana, kau tidak akan kulepaskan.”
“Kenapa?’
“Kau tahu kenapa.,” Mikail jelas tampak jengkel. “Tidak, aku tidak tahu,” jawab Lana keras kepala. “Karena,” suara Mikail sedikit menggeram, dan dalam sekejap lelaki itu mencengkeram rahang Lana dengan jemarinya, lembut tetapi mengancam, “Karena aku sangat suka memasukimu, merasakan kewanitaanmu membungkusku dengan panas, lalu mendengarmu merintih karena orgasmemu. Jelas??”
Sangat Jelas. Dan Mikail berhasil membuat Lana terdiam. Sepanjang perjalanan mereka tidak berucap sepatah katapun lagi.

***

Di suatu sudut yang gelap sebuah telephone terangkat, Franky Alfredo sedang duduk di kursi besarnya sambil merokok. Segelas brandy dengan botolnya yang setengah penuh tampak di sampingnya, tampangnya yang jelek dengan hidung memerah karena mabuk tampak waspada,
“Sudah berhasil?,” lelaki itu bertanya cepat.
Jeda sejenak, lalu suara dalam di sana menjawab dengan tenang,
“Mereka sudah keluar dari rumah itu. Rencana akan dijalankan nanti ketika mereka pulang.”
“Bagus, kabari aku kalau sudah beres.”
“Baiklah. Anda tidak akan kecewa karena telah menyewa saya untuk membunuh Mikail Raveno.”
Telephone ditutup, dan Franky terkekeh dalam kegelapan. Menenggak minumannya, untuk perayaan awal.
Mikail Raveno, musuh besarnya. Lelaki itu sudah menghancurkan bisnisnya dengan ekspansi yang dilakukannya. Dan bukan hanya itu, Franky didera oleh perasaan iri dan benci yang luar biasa kepada Mikail. Entah kenapa Mikail diciptakan begitu sempurna, dari segi fisik. Sehingga semua wanita berhamburan untuk berlutut di kakinya.
Franky dengan wajah jeleknya sudah terlalu sakit hati karena ditolak perempuan, semua perempuan yang mau tidur dengannya hanyalah pelacur-pelacur yang harus dibayar.
Mikail Raveno harus dienyahkan, lelaki seperti itu tidak boleh hidup di dunia ini. Dan malam ini mungkin adalah malam terakhir lelaki itu hidup.

***

No comments:

Post a Comment