Saturday, September 5, 2015

Crash Into You - AliaZalea - Prolog



PROLOG

“Nadia pipis di celana, Nadia pipis di celana,” Kafka menyanyikan kata-kata itu dengan nada mengejek sebelum kemudian tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh Kris dan Gempur. Mereka adalah anak-anak kelas lima paling bandel di sekolah ini, dengan Kafka Ananta sebagai ujung tombaknya. “Aku nggak pipis di celana,” bantahku sekeras-kerasnya. Kafka terdiam sambil menatap rok merahku yang basah di bagian depannya, kemudian sekali lagi dia tertawa dan mulai menyanyikan lagu ciptaannya berjudul “Nadia Pipis di Celana” dengan lebih kencang. Aku sudah siap menangis mendengar lagu yang penuh ejekan ini. Rokku memang basah di bagian depannya, tetapi bukan karena air kencing melainkan karena Ayu, teman sekelasku tidak sengaja mengarahkan selang yang sedang mengucurkan air dengan cukup deras ke arahku. Kami sedang melakukan piket pagi itu aku dan Ayu kebagian mencuci ember yang ada di dalam kelas, yang biasanya digunakan para guru untuk mencuci serbuk kapur yang mengenai tangan mereka. Ayu sudah mengatakan maaf berpuluh-puluh kali selama lima belas menit ini dan meskipun kesal padanya, aku tidak bisa marah karena dia memang tidak sengaja. Hari itu hari senin, anak-anak lain sudah berada di lapangan untuk upacara yang akan di mulai sebentar lagi, sehingga kelasku kosong melompong. Aku dan Ayu sedang memikirkan cara untuk mengeringkan rokku ketika Kafka dan pasukannya lewat di depan kelasku sebelum kemudian melangkah masuk untuk mengetahui kenapa aku, anak kesayangan guru-guru, belum turun ke lapangan. “Kafka ini Cuma air,” omel Ayu yang sedang mencoba mengeringkan rokku dengan tisu. Aku sedang berdiri dan Ayu sedang berlutut di hadapanku. “Hahaha… kalau Cuma air kok baunya aneh?” Gempur bertanya yang langsung didukung anggukan konco-konconya. “Memang ada baunya?” tanyaku sambil berbisik pada Ayu. Tanpa ragu-ragu Ayu langsung mencium rokku. “Aku nggak nyium bau apa-apa,” ucapnya. Bel pun berbunyi yang menandakan bahwa upacara akan segera dimulai. Aku mulai panas-dingin karena takut dihukum oleh Ibu Endang, wali kelasku, gara-gara belum berada di lapangan seperti seharusnya. Tiba-tiba kudengar gelegar suara Pak Jack, kepala sekolah kami “Kalian masih di sini? Upacara sudah mau dimulai.” Ayu langsung bangun dari hadapanku dan menatap Pak Jack dengan mata terbelalak. Pak Jack memang dikenal sebagai guru paling galak, semua anak takut padanya, termasuk aku. Ketiga anak laki-laki itu langsung kabur, tetapi sebelumnya Kafka sempat mengatakan dengan suara rendah sehingga Pak Jack yang berdiri di depan pintu tidak bisa mendengar. “Kamu turun saja ke bawah, roknya nggak terlalu basah kok,” ucapnya dengan senyuman khasnya yang penuh keisengan. “Nggak terlalu basah gimana, aku sudah seperti tikus kecebur got,” balasku. “Nggak kok, kamu nggak kayak tikus kecebur got. Itu terlalu dangkal, kalau sumur, naaahhh… itu lebih mungkin.” Setelah mengatakan ini Kafka langsung tertawa terbahak-bahak sambil berjalan santai ke arah pintu.
“Kafka, kamu nggak lucu,” omelku, tapi Kafka hanya melangkah mundur sambil nyengir dan menghilang dari hadapanku, mengikuti kedua temannya yang sudah ngacir terlebih dahulu. Aku tidak tahu kenapa Kafka yang aku kenal semenjak kami kelas satu SD dan selama ini tidak pernah ada masalah denganku tiba-tiba mulai suka menggangguku ketika kami menginjak kelas lima. Selama ini aku tidak pernah peduli padanya karena meskipun dia bandel, tetapi dia tidak pernah memilihku sebagai korbannya, hingga beberapa bulan yang lalu. Dan semenjak itu pula hari-hariku jadi mulai berantakan. Awalnya aku tidak menghiraukannya dengan harapan bahwa dia akan berhenti dengan sendirinya. Tetapi semakin aku tidak menghiraukannya, keisengannya semakin hari justru semakin menjadi. Pak Jack bertolak pinggang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ketiga anak itu. Aku menggeram kesal. “Nadia, kamu nggak turun?” suara Pak Jack langsung terdengar ramah ketika menanyakan hal itu. Aku akui bahwa aku memang anak emas guru-guru di sekolahku. Selain karena hampir selalu juara kelas, aku juga selalu menurut dan tidak pernah membuat masalah dengan siapa pun. “Sebentar lagi, Pak,” balasku yang disambut anggukan Pak Jack sebelum beliau pun menghilang dari hadapanku. Aku bisa saja meminta bantuan Pak Jack, tetapi aku terlalu malu untuk berbicara dengan guru laki-laki. “Aduh, gimana dong, Yu, bel kedua sudah mau bunyi bentar lagi.” Aku mulai panik. Kulirik rokku dan berteriak terkejut ketika menyadari keadaannya yang lebih parah daripada setengah jam yang lalu sebelum Ayu mencoba mengeringkannya dengan tisu. Rok itu masih tetap basah dan sekarang ada beberapa serpihan putih yang menempel. “Ini sih lebih parah dari yang tadi,” geramku. “Sori ya, Nad, aku nggak sengaja,” Nada Ayu yang penuh dengan penyesalan membuatku merasa bersalah karena telah menyuarakan kefrustasianku. Aku menutup mataku untuk berpikir. Aku tidak mungkin turun ke lapangan dengan keadaan seperti ini. Aku harus meminta Ayu agar mencari Ibu Endang secepatnya. Aku rasa sekolahku pasti punya rok cadangan yang bisa kupinjam selama menunggu rokku kering. Ketika aku mengemukakan pendapat itu, Ayu langsung setuju dan menghilang juga dari hadapanku. Aku tiba-tiba merasa pusing dan harus duduk. Aku pun duduk dikursi terdekat sebelum kemudian meletakkan kepala di antara kedua telapak tanganku dan menutup mata, tetapi sakit di kepalaku justru semakin menjadi. Nyut… nyut… nyut… dan ketika kubuka mataku kembali aku tahu bahwa aku sudah tidak berada di ruangan kelas SD-ku itu. Kuperhatikan sekelilingku untuk mencoba menebak keberadaanku. Ruangan ini terlihat terang karena disirami sinar matahari yang masuk melalui jendela besar yang terbentang di hadapanku. Perlahan-lahan kuangkat kepalaku dari atas bantal, menggeram, dan memaksa tubuhku untuk duduk. Kepalaku rasanya sudah mau pecah dan mulutku terasa kering, efek samping dari terlalu banyak alcohol di dalam darah. Sekali lagi kuperhatikan sekelilingku. Kini dengan keadaan duduk aku bisa lebih memahaminya. Sepertinya aku berada di dalam kamar hotel. Kamar hotel yang mewah kalau di lihat dari set sofa yang ada di sebelah kiri dan TV plasma yang menempel pada dinding di depan tempat tidur. Selain itu kamar hotel ini juga memiliki meja kerja yang sepertinya terbuat dari kayu antic. Sebuah laptop berwarna putih terbuka di atas meja itu. Kusingkapkan selimut yang menutupi tubuhku, bermaksud untuk berdiri, tetapi kemudian kulihat bahwa aku tidak mengenakan apa-apa di bawah selimut itu selain bra dan celana dalamku. Buru-buru kutarik selimut itu hingga ke dagu. Sekali lagi aku mengintip ke dalam selimut untuk memastikan bahwa aku memang hanya mengenakan pakaian dalam. Pemandangan di bawah sana tidak berubah dari sepuluh
detik yang lalu dan untuk kedua kalinya pagi itu, aku menggeram. Tempat tidur yang kutiduri berukuran King dan masih terlihat cukup rapi, meskipun keempat bantal extra besar yang ada di atasnya terlihat sudah ditiduri. Yang dua olehku, sedangkan yang dua lagi oleh seseorang yang bukan aku. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang telah kulakukan semalam. Aku hanya bisa mengingat suara music yang superkeras, lampu yang gemerlapan, suara tawa ketiga sobatku, dan bergelas-gelas Apple Martini. Entah berapa banyak alcohol yang sudah masuk ke dalam tubuhku. Para bartender seharusnya dilarang untuk menyatukan alcohol dengan buah-buahan karena rasa manis atau asam dari buah itu benar-benar bisa menyembunyikan rasa pahit yang seharusnya ada, sehingga seseorang tidak tahu bahwa dia sudah mabuk sampai dia terbangun di kamar hotel yang bukan miliknya. Ya Tuhan… jadi ini kamarnya siapa? Meskipun kamar ini memang mirip sekali dengan kamar hotelku, tetapi aku yakin ini bukan kamarku yang memiliki dua tempat tidur berukuran Queen, bukannya satu berukuran King. Tiba-tiba aku menyadari bahwa ada suara shower yang sedang dihidupkan. Itu berarti bahwa aku tidak sendirian di dalam kamr hotel. Aku mencoba menenangkan rasa panic yang mulai muncul ke permukaan. Nadia… tenang… itu mungkin Cuma salah satu sobat lo yang lagi mandi. Tapi di dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku tahu bahwa orang di dalam kamar mandi itu pasti bukan temanku. Perlahan-lahan aku bangun dari tempat tidur dan tanpa menghiraukan tubuhku yang setengah telanjang aku mulai mengelilingi ruangan untuk mencari bajuku. Kutemukan jinsku tersampir pada lengan sofa, dibawahnya kutemukan kausku. Aku segera mengenakan keduanya sebelum kemudian mulai mencari sepatuku. Kutemukan sepatuku di bawah kursi meja kerja, pada saat itulah aku menyadari bahwa ada satu set sepatu laki-laki persis di sebelah sepatuku. Aku harus menutup mulutku agar tidak meneriakkan keterkejutanku. Sepatu laki-laki?! Panik, buru-buru kutarik sepatuku dari bawah kursi. Selama melakukan ini semua aku berpikir, tadi malam aku nggak bercinta sama laki-laki tidak dikenal, kan? Bukannya itu sesuatu yang baru karena aku sudah bukan perawan lagi semenjak kuliah, tetapi aku tidak mau melakukannya dengan laki-laki yang aku bahkan tidak bisa ingat wajahnya. Tiba-tiba aku menyadari bahwa sudah tidak ada bunyi shower lagi. Kusabet sepatuku, dan tanpa mengenakannya aku langsung berlari menuju pintu keluar. Aku baru saja berhasil membuka pintu itu ketika kudengar pintu kamar mandi di belakangku dibuka, disusul dengan suara berat yang hanya bisa dimiliki oleh laki-laki. “Mau ke mana buru-buru?” Aku terpekik karena terkejut dan langsung memutar tubuhku dan harus menarik napas ketika berhadapan dengan dada paling bidang yang pernah kulihat sepanjang hidupku sebagai wanita dewasa. Kemudian kutarik mataku ke atas untuk menatap pemilik dada itu dan suhu tubuhku langsung naik sepuluh derajat. Kalau saja punggungku tidak bisa menempel pada daun pintu, aku mungkin akan mengambil satu langkah mundur saat itu juga. Ternyata dia tidak hanya memiliki dada yang bidang dan perut yang bisa digunakan sebagai papan untuk membilas baju, tetapi dia juga memiliki wajah yang bisa membuat semua wanita histeris hanya karena melihatnya. Wajah itu memang tidak bisa digolongkan ganteng karena garis-garis rahangnya terlalu kuat untuk disatukan dengan hidung yang berukuran kecil, meskipun mancung. Selain itu alisnya juga terlalu tebal. Tapi ada sesuatu yang membuatku tidak bisa memalingkan tatapanku dari wajah itu. Aku baru menyadari setelah beberapa menit bahwa daya tarik laki-laki ini adalah aura misterius yang ada pada dirinya, seakan-akan dia tahu sesuatu yang kita tidak tahu. “Iya… aku… harus… pergi,” ucapku terbata-bata karena aku baru menyadari bahwa laki-laki ini pada

dasarnya sedang telanjang kecuali handuk putih yang tergantung rendah pada pinggulnya. Entah apa yang bisa kulihat kalau berani menarik handuk itu ke bawah. Aku segera memerintahkan bagian diriku yang sepertinya ingin bercentil-centil ria pagi ini untuk membuang jauh-jauh segala pikiran kotor yang direncanakannya. “Kamu harus pergi ke mana hari Sabtu pagi begini?” Tanya laki-laki itu sambil melangkah keluar dari kamar mandi dan masuk ke kamar dan dengan begitu berada lebih dekat denganku. Aku hanya bisa menatap wajah laki-laki itu sambil memeluk kedua sepatuku seolah benda itu adalah benda paling berharga yang pernah kumiliki. Otakku beku sehingga tidak ada satu kata pun yang terlintas di dalam pikiranku. Tanpa kusangka-sangka laki-laki itu kemudian tersenyum sambil menyisir rambut basahnya dengan jari-jari. “Kamu nggak ingat aku, ya?” tanyanya. Aku menatapnya terkejut. Apa aku seharusnya mengenal dia? Aku yakin kalau aku sampai kenal dengan laki-laki berwajah seperti ini aku tidak akan lupa. Apa dia artis? Kusipitkan mataku mencoba untuk memastikan. Nggak, dia bukan artis, tetapi ada sesuatu yang familier dengan matanya yang sekarang sepertinya sedang menelanjangiku. Mata itu sekarang lebih gelap, mungkin karena telah melihat hal-hal yang mengejutkannya selama dua puluh tahun ini, tetapi aku masih bisa melihat kebandelan yang dulu juga. “Kafka?” ucapku pelan. “Hei, Nad-Nad,” ucap Kafka, sambil menyeringai. 


Crash Into You - AliaZalea - Part 1

No comments:

Post a Comment