Wednesday, September 2, 2015

Pudarnya Pesona Cleopatra - Bab 1



SATU 
INI nikmat ataukah azab?
“harus dengan dia, tak ada pilihan lain!”tegas ibu.
Beliau memaksaku untuk menikah dengan gadis itu. gadis yang sama sekali tak kukenal. Sedihya, aku tiada berdaya sama sekali untuk melawanya. Aku tak punya kekuatan apa-apa untuk memberontaknya. Sebab setelah ayah tiada, bagiku ibu adalah segalanya.
Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada didalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal itu. kok bisa-bisanya ibunya berbuat begitu. Pikiran orang dulu terkadang memang aneh.
“Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di Mankuyudan Solo dulu,” kata ibu.
“ kami pernah berjanji,jika dikaruniai anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu Anakku,ibu yang telah hadir jauh sebelum kau lahir!” ucap beliau dengan nada mengiba.
“dan percayalah pada ibu, Anakku. Ibu selalu memilihkan yang terbaik untukmu. Ibu tahu persis garis keturunan Raihana. Ibu tahu persis kesalehan kedua orang tuanya,” tambahanya untuk menyakinkan diriku.
“Mbak Raihana itu orangnya baik kok, kak. Dia ramah halus budi, sarjana pendidikan, penyabar, berjilbab dan hafal Al-Quran lagi. Pokoknya cocok deh buat kakak,” komentar adikku,si Aida tentang calon istriku.
“Orangnya cantik nggak?”selidikku.
“Lumayan, delapan koma limalah,” jawab adikku enteng.
“Tapi lebih tua dari kakak ya?” tanyaku mencari kepastian.
“Ala Cuma dua tahun kak, lagian sekarang’ kan lagi nge-trend lho, laki-laki menikah dengan wanita yang lebih tua. Nggak masalah itu kak. Apalagi Mbak Raihana itu baby face, selalu tampak lebih muda enam tahun dari aslinya. Orang-orang banyak yang mengira dia itu baru sweet seventeenth lho kak. Bener nih, serius!” propaganda adikku berapi-api. Adikku satu-satunya ini memang pendukung setia ibu. Duh pusing aku, pusing!
ΩΩΩ
Dalam pergaulatan jiwa yang sulit berhari-hari,akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.
Ibu
Durhakalah aku
Jika dalam diriku,
Tak kau temui inginmu
Ibu
Durhakalah aku
Jika dalam diriku,
Tak kau temui legamu
Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku ada kecemasan-kecemasan yang mengintai. Kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan aku tidak tahu alasanya, yang jelas, sebenarnya aku sudah punya criteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai itu. saat khitbah sekalis kutatap wajah Raihana, dan benar kata si Aida, ia memang baby face dan lumayan anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuimpikan tak kutemukan sama sekali. Adikku, ibuku, sanak saudaraku semuanya mengakui Raihana cantik. Bahkan tante Lia, pemilik salon kosmetik terkemuka di Bandung yang seleranya terkenal tinggi dalam masalah kecantikan mengacungkan jempol tatkala menatap foto Raihana. “ cantiknya benar-benar alami. Bisa jadi iklan sabun Lux lho, asli!” komentarnya tanya ragu.
Tapi seleraku lain. Entah mengapa. Apakah mungkin karena aku telah begitu hanyut citra gadis-gadis Mesir Titisan Cleopatra yang tinggi semampai? Yang berwajah putih jelita dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas Arab, dan bibir merah halus menawan. Dalam balutan jilbab sutra putih wajah gadis Mesir itu bersinar-sinar, seperti permata Zabarjad yang bersih, indah berkilau tertempa sinar purnama. Sejuk dan mempesona. Jika tersenyum, lesung pipinya akan menyihir siapa saja yang melihatnya. Aura pesona kecantikan gadis-gadis Mesir Titisan Cleopatra sedimikian kuat mengakar dalam otak, perasaan dan hatiku, sedimikian kuat menjajahkan cita- cita dan mimpiku. Aku heran, kenapa aku jadi begini? Dimanakah petuah-petuah suci kenabian itu kusimpan? Apakah hati ini telah sepenuhnya diduduki oleh mata bening dan wajah kemialu gadis Mesir? Dimanakah hidayah itu? apakah aku telah gila? Mana ada kecantikan Cleopatra di jawa!?
Dihari-hari menjelang akad nikah aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku pada istriku, tetapi usahaku selalu saja sia-sia. Usahaku justru membuat diriku sangat tersiksa. Bibit cinta yang kuharapkah malah menjelma menjadi pohon-pohon kaktus berduri yang tumbuh yang menganjal didalam hatiku. Terkadang bibit cinta yang kuharapkan itu malah menjelma menjadi tiang gantungan yang mencekam. Aku hidup dalam hari-hari yang mengancam. Aku hidup dalam hari-hari yang mencekam. Aku meratapi nasibku dalam derita yang tertahan. Ingin aku memberontak pada ibu. Tapi teduh wajahnya selalu membuatku luluh.
Ibu, durhakalah aku
Jika dalam maumu tak ada mauku
Tapi durhakakah aku, ibu ?
Jika dalam diri raihana taka ada cintaku
Oh tuhanku, haruskah aku menikah dalam keadaan tersiksa seperti ini? Haruskan aku menikah dengan orang yang tidak aku cintai? Dan lagi-lagi aku hanya bisa pas-pas. Sinar wajah ibu berkilat-kilat, hadir didepan mata duh gusti tabahkan hatiku!
ΩΩΩ
Hari pernikahan itu datang. Aku datang seumpama tawanan yang digiring ketiang gantungan. Lalu duduk di pelaminan bagai mayat hidup, hati hampa, tanpa cinta. Apa mau dikata, cinta adalah anugerah Tuhan yang tak bisa dipaksakan, pesta meriah dengan bunyi empat grup rebana terasa konyol. Lantunan shalawat nabi terasa menusuk-menusuk hati. Inna lillahi wa ilahi rajiun! Perasaan dan nuraniku benar-benar mati.
Kulihat Raihana tersenyum manis, tapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwku meronta-ronta. Aku benar-benar merana. Satu-satunya, harapanku hanyalah berkah dari Tuhan atas baktiku pada ibu yang amat kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya !
Layaknya pengantin baru, tujuh hari pertama kupaksakan hatiku untuk memuliakan Raihana sebisanya. Kupaksakan untuk mesra, bukan karena cinta. Sungguh, bukan karena aku mencintainya. Hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayat nya, oh, alangkah dahsyatnya sambutan cinta Raihana atas kemesraan yang ku merintih menangisi kebohongan dan kepura-puraanku. Apakah aku telah menjadi orang munafik karena memdustai diri sendiri dan banyak orang? Duhai tuhan mohon ampunan. Aku yang terbiasa membaca ayat-ayat-Nya kenapa bisa itu menebas leher kemanusiaanku. Dan aku pasrah tanpa daya.
Tepat dua bulan setelah pernikahan,kubawa Raihana kerumah kontrakan dipinggir kota Malang. Mulailah nyanyian hampa kehidupan mencekam. Aku tak menemukan adanya gairah. Hari-hari indah pengantin baru, mana? Mana hari-hari indah itu? tak pernah kurasakan! Yang kurasakan adalah siksaan-siksaan jiwa yang mendera-dera.
Oh, bertapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Sudah dua bulan aku hidup bersama seorang istri. Makan, minum, tidur dan shalat bersama mahluk yang bernama Raihana, istriku. Tapi, masya allah, bibit-bibit cintaku tak juga tumbuh. Senym manis Raihana tak juga menembus batinku. Suaranya yang lembut tetap saja terasa hambar. Wajahnya yang teduh tetap saja terasa asing bagiku. Sukmaku merana. “Duhai cintaa hadirlah, hadirlaaaah! Aku ingin merasakan seperti apa indahnya mencintai seorang isteri!” jerit batinku menggedor–gedor jiwa. Cinta yang kudamba bukannya mendekat, tapi malah lari semakin jauh dari dtik ke detik. Pepatah Jawa kuno bilang, Wiwiting tresno jalaran soko kulino! Artinya, hadirnya cinta sebab sering bersama. Tapi pepatah itu agaknya tidak berlaku untukku. Aku setiap hari bersama Raihana. Berada dalam satu rumah. Makan satu meja. Dan tidur satu kamar. Tapi cinta itu kenapa tak juga hadir-hadir juga? Kenapa!? Yang hadir justru perasaan tidak suka yang menyiksa. Aku kuatir, jangan-jangan aku bisa gila! Atau aku sebenarnya tlah gila? Tapi tidak! Tidak ada yang menyebutku gila. Aku masih bisa mengajar di kampus dengan baik. Masih bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mahasiswa dengan baik. Tapi, dalam sejarah kehidupan manusia banyak orang gila yang kelihatannya normal-normal saja. Banyak juga yang kelihatannya aneh tapi sebenarnya dia tidak gila. Cinta yang salah kedaden memang sering menciptakan orang-orang gila. Begitu juga cinta yang tidak kesampaian. Apakah aku akan tecatat dalam daftar orang-orang gila karena salah kedaden dalam menghayati cinta? Embuh !
Memasuki bulan keempat , rasa muak hidup bersama Raihan mulai kurasakan. Aku tak tahu dasar munculnya perasaan ini. Ia muncul begitu saja. Melekat begitu saja dalam dinding-dinding hati. Aku telah mencoba membuang jauh-jauh perasaan tidak baik ini. Aku tidak mau membenci atau muak pada siapa pun juga, apalagi pada isteri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucinta. Tetapi entah kenapa, perasaan tidak baik itu tetap saja bercokol di dalam hati. Sama sekali tidak bisa diusir dan dienyahkan. Bahkan, dari detik ke detik rasa muak itu semakin menjadi-jadi, menggurita dan menjajah diri. Perasaan itu mencengkeram seluruh raga dan sukma. Aku tak berdaya apa-apa.
Sikapku pada Raihana mulai terasa lain. Aku merasakanya tapi aku tiada bisa berbuat apa-apa. Aku lebih banyak diam,acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak diruang kerja atau diruang tamu. Aku sendiri heran dengan keadaan diriku. Aku yang biasanya suka romantis kenapa bisa begini sadis. Aku. Inginku. Galuku. Resahku. Dukaku. Mengumpal jadi satu. Tak tahu aku, apa yang terjadi pada diriku. Pikiran dan hatiku pernah duka yang tidak mengalaminya. Duka yang bergejolak-gejolak tiada bias diredam dengan diam. Duka yang menganga menebarkan perasaan sia-sia. Aku mengutuk keadaan dan mengutuk diriku sendiri dalam diri:
Dukaku dukakau dukarisau dukakalian dukangiau
Resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian
Raguku ragukau raguguru ragutahu ragukalian
Mauku maukau mautahu mausampai maukalian
Maukenal maugapai
Sisaku siasakau siasiasia siarisau siakalian
Sia-sia….!
Aku merasa hidupku adalah sia-sia. Belajarku lima tahun diluar negeri sia-sia. Pernikahanku sia-sia. Keberadaanku sia-sia. Dan usahaku untuk berbakti pada ibu adalah sia-sia. Aku merasa hanya menemui kesia-siaan. Sebab aku telah berusaha menemukan cahaya cinta itu namun tak kutemukan juga, yang datang justru rasa muak dan hampa yang menggelayut dalam relung jiwa. Bacaan Alquran Raihana tak menyentuh hati dan perasaan. Aku bingung sendiri pada diriku. Aku ini siapa? Apa yang sedang aku alami sehingga aku merasa sedemikian balau. Sehingga diriku tak ubahnya patung batu. 


No comments:

Post a Comment