The First Conflict
Bukannya
menuju Menteng dan masuk ke studio untuk rekaman, Revel justru memilih
mengunjungi
mamanya di Tebet. Stelah alamat rumah Menteng dijadikan kantor MRAM,
mama
memilih tinggal di rumah yg ia warisi dari orangtuanya. Revel tahu betul jadwal
mamanya
sehingga dia merasa tdk perlu menelepon untuk memberitahu kedatangannya.
Dia tdk
tahu apa yg baru saja terjadi diantara dirinya dan Ina. Satu detik mereka
having a
good
time ngobrolin tentang keluarga dan phobia mereka dan detik selanjutnya dai
salah
ngomong
dan langsung mendapat sikap dingin dari Ina.
Seperti
yg dia duga, mama sedang minum the di teras belakang ketika Revel sampai.
Beliau
bahkan
tdk kelihatan terkejut ketika melihat anaknya.
"Gimana
acara ultah papa Ina? Apa kalian sudah ngedrop bomnya ke mereka?" Tanya
ibu
Davina
sambil meletakkan cangkir tehnya.
Revel
mencium pipi mamanya sbelum duduk di kursi rotan yg tersedia. "Acara
ultahnya
lancar.
Aku sudah mengumumkan kepada keluarganya klo aku mau menikahi Ina, sekarang tinggal
mama telpon orangtuanya untuk ngomongin masalah tanggal lamaran. Ina bilang awal
April dia free sehingga acara lamaran bisa dilaksanakan dan dia mau
pernikahannya bulan
Juni."
Ibu
Davina memerhatikan anaknya dgn lebih seksama. Dia tahu betul kepribadian Revel
yg
sgt
tertutup dan pendiam sehingga terkesan moody kepada kebanyakan orang, tp beliau
sudah
belajar untuk membedakan antara moody karena dia sedang kesal atau karena dia
sedang
banyak pikiran. Namun wajah Revel hari ini tdk kelihatan kesal ataupun pusing,
melainkan
bingung. Revel tdk pernah bingung, dia adalah jenis orang yg slalu tahu apa yg
harus
dia lakukan dalam situasi apapun. Ibu Davina bertanya2 apakah atau lebih
tepatnya
siapakah
yg membuat anaknya jadi begini?
"Klo
misalnya semuanya lancar, knapa kmu kelihatan marah begini?" Tanya ibu
Davina.
"Aku
nggak marah," balas Revel terlalu cepat dan terlalu tajam, membuat ibu
Davina
tersenyum.
Revel mendengus sbelum berkata, "Mam, apa menurut mama aku ini orangnya
sombong
dan suka pamer?"
"Humph..."
Ibu Davina sedikit terkejut mendengar pertanyaan ini, sehingga dia harus
berpikir
sejenak. "Mungkin nggak sombong atau pamer specifically, tp kmu tipe orang
yg
karena
sudah terbiasa hidup dgn segala sesuatu yg nomor satu, kmu jadi kelihatan
kurang
menghargai
benda2 yg orang pikir sebagai barang mewah karena itu sudah jadi bagian
kehidupan
harian kmu. Tapi nggak ada salahnya dgn itu."
Revel
terdiam. Perlahan2 dia mencoba mencerna kata2 mamanya. Sebagai anak tunggal
seorang
pengusaha sukses, dia memang sudah dibesarkan dgn segala kemewahan, sehingga
sebagai
manusia dewasa, segala kemewahan yg dia miliki dianggapnya sebagai suatu hak
daripada
suatu keistimewaan. Wow, Ina benar, dia memang sombong. Knapa tdk pernah
ada
orang yg mengatakan hal ini kepadanya sebelumnya? Semenjak perceraian
orangtuanya,
dia slalu berusaha sebisa mungkin membebaskan diri dari cetakan anak2 dgn
latar
belakangnya, yaitu anak2 orang kaya yg sombong dan berpikiran dangkal. Dia
lebih
memilih
sekolah negeri daripada swasta, bergaya punk daripada preppy, berkarier di
dunia
musik
dan membangun kariernya di dunia itu, terpisah dari bisnis papa. Dia bahkan
menolak
mengambil
alih manajemen perusahaan papa ketika beliau meninggal, dan memilih menjadi
pemegang
saham pasif dan menyerahkan tanggung jawab manajemen kepada Board of
Directors
yg sudah ada. Siapa yg sangka bahwa dia tetap menjadi orang yg dia coba
hindari.
Papa yg
sudah meninggal hampir 10tahun akan bangun dari kubur dan muncul di
hadapannya
sambil geleng2 kepala klo dia sampai tahu laki2 sperti apa Revel kini.
Ketika
orangtuanya bercerai, dia masih di bawah umur dan hakim memutuskan hak asuh
anak
jatuh kepada mama karena papa terlalu sibuk dgn pekerjaan dan jarang ada di
rumah.
Setidak2nya,
itulah yg dikatakan oleh kedua orangtuanya sewaktu dia bertanya knapa dia
tdk
bisa tinggal dgn papa. Sejujurnya, klo diberi kesempatan mengemukakan
pendapatnya,
Revel
akan memilih untuk tinggal dgn papa. Pada saat itu Revel merasa penjelasan
mereka
agak
sedikit janggal, karena meskipun papa sibuk, tp beliau slalu menyempatkan diri
untuk
menghabiskan
waktu dgn anak satu2nya itu. Selama setahun setelah perceraian
orangtuanya,
Revel hanya diperbolehkan bertemu dgn papa sebulan sekali, dan meskipun
mama
bilang bahwa itu adalah keputusan pengadilan, tp Revel menaruh kecurigaan bahwa
itu
adalah keputusan mama yg mencoba menjauhkan dirinya dari papa. Dan selama
setahun
itu dia
betul2 membenci mamanya.
Seperti
teori psikologi mengenai fase yg dilalui oleh seseorang dalam menghadapi
kematian,
Revel
melalui beberapa fase saat menghadapi perceraian orangtuanya. Mulai dari
menolak
menerima
keadaan, mencoba tawar-menawar dgn mama agar diperbolehkan lebih sering
bertemu
dgn papa, marah karena mama tetap bersikeras dgn larangannya, hingga akhirnya
Revel
tdk peduli dgn kata2 mamanya lagi yg menurutnya tdk akan pernah bisa mengerti
dirinya.
Betapa dia merindukan papa, satu2nya orang yg betul2 mengerti dirinya. Papa
adalah
laki2 yg pendiam dan lembut, yg membiarkan mama menginjak2nya karena beliau
mencintai
wanita itu, sampai akhirnya beliau sadar bahwa cintanya tdk cukup bagi istrinya
sehingga
mampu menyelamatkan perkawinan tersebut dan mengatur segala sesuatu di
dalam
kehidupan papa. Mulai dari pakaian yg harus dikenakan, sampai keputusan bisnis
di
perusahaan
papa, seakan2 papa tdk mampu mengambil keputusan sendiri.
Mama
slalu mencoba mengekang papa dan Revel mengerti knapa papa menceraikan mama.
Laki2
mana yg akan tahan diperlakukan sperti itu oleh istri mereka? Setahun setelah
perceraian,
Revel melihat bahwa papa mencoba sebisa mungkin memperbaiki hubungannya
dgn
mama. Revel tahu bahwa papa masih mencintai mama, tdk peduli apa yg mama sudah
lakukan
kepadanya. Tapi hingga penyakit kanker akhirnya menghabiskan hidup papa
sekembalinya
Revel dari Amerika, mama tetap bersikeras bersikap dingin kepada papa.
Dari
perkawinan orangtuanya inilah Revel tahu bahwa dia tdk akan pernah membiarkan
dirinya
mencintai seorang wanita sedalam papa mencintai mama, tak akan dia membiarkan
seorang
wanita menginjak2 harga dirinya. Tidak, dia tdk akan menjadi sperti itu.
Papa
adalah orang yg sederhana, sikapnya pun sederhana. Revel tahu beliau berasal
dari
keluarga
biasa2 saja, tp dgn otaknya yg encer dan kerja keras, papa mampu membangun
bisnis
hingga sukses. Tentu saja Revel juga sangat tahu bahwa papa sangat mengharapkan
putranya
akan mengambil alih perusahaan itu ketika dia sudah dewasa. Tetapi ketika Revel
lebih
memilih menekuni dunia musik, papa tdk menunjukkan wajah kecewa. Beliau malah
memberikan
dukungan penuhnya.
Revel
memandangi langit yg sudah berubah warna dari merah menjadi abu2 sbelum berdiri
dan
berkata, "Aku pulang dulu, mam." Stelah mencium mamanya, dia langsung
menghilang.
***
Setelah
pertengkaran mereka , Revel tdk bertemu muka lagi dgn Ina selama 2minggu karena
Ina
bilang dia sibuk dgn pekerjaannya, tp Revel tahu bahwa Ins mencoba sebisa
mungkin
menghindarinya.
Meskipun Ina menyempatkan diri untuk mengkonfirmasi tanggal lamaran
dengannya
seperti yg dia janjikan. Tp ternyata ketakutannya tdk memiliki dasar karena
meskipun
Ina jarang berbicara dengannya, rupanya dia sering berhubungan dgn mama
untuk
membicarakan tentang acara lamaran. Dan itu betul2 membuatnya jengkel.
Revel
mencoba menghabiskan waktunya di dalam studio dan menulis lagu untuk mengusir
kejengkelannya.
Suatu kegiatan yg biasanya bisa memberikannya ketenangan. Tapi stelah
3hari
dia bahkan tdk bisa menyelesaikan satu bait lagu yg sedang ditulisnya, dan
kejengkelannya
berubah menjadi kedongkolan. Dalam keadaan penuh kedongkolan yg
sudah
dipendam selama 3minggu inilah Revel, Mama. Om John, adiknya papa dan istrinya,
dan
pakde Ray, kakaknya mama dan istrinya, datang ke rumah orantua Ina untuk acara
lamaran.
Kedatangan mereka disambut oleh keluarga dekat Ina saja, yaitu kedua orangtua
dan
ketiga kakak Ina bersama dgn suami dan anak2 mereka. Saat itulah untuk pertama
kali
Revel
bertemu dgn kak Sofia yg bertampang supersangar dan memperhatikan gerakgeriknya
seakan2
dia siap menerkamnya kapan saja. Gggrrr.... untung saja dia tdk ada di
acara
ultah papa Ina, karena klo saja dia melihat wanita ini sebelumnya, Revel
mungkin akan
berpikir
2X sbelum mengumumkan pertunangannya dgn Ina.
Lain
dgn kak Sofia, Ina dan anggota keluarganya yg lain menyambut keluarga Revel dgn
ramah
dan sepanjang acara itu Ina memperlakukan Revel sebagaimana seseorang
memperlakukan
tunangannya. Dan itu membuat Revel ingin mencekiknya. Dia ingin
berbicara
dgn Ina berdua saja untuk membicarakan... yah, apapun yg harus mereka
bicarakan,
tp tentunya tdk bisa karena terlalu banyak pasang mata yg memperhatikan stiap
gerak-gerik
mereka.
Akhirnya
ketika acara berakhir dan para tetua keluarga sedang membahas tentang tanggal
pernikahan
yg paling pas sambil minum kopi, Revel mengikuti Ina yg sedang membawa
nampan
penuh piring kotor menuju dapur.
"Kmu
knapa sih menghindari saya?"
Ina yg
tdk mendengar langkah Revel di belakangnya hampir saja menjatuhkan nampan itu.
Untung
saja Revel bisa bereaksi dgn cepat menyelamatkan nampan itu dari tangannya.
"Thanks,"
ucap Ina dan terus berjalan menuju dapur yg ternyata berada di area yg cukup
tertutup
dari ruang tamu.
Revel
mengikuti Ina ke dalam dapur dan meletakkan nampan itu diatas meja sbelum
mengulang
pertanyaannya.
"Jawab
saya, knapa kmu menghindari saya?"
"Menghindari
kmu gimana?" Ina kelihatan bingung.
"Saya
ngerti klo kmu masih marah sama saya karena komentar saya beberapa minggu lalu,
tp saya
kan sudah minta maaf sama kmu. Di telpon kmu memang bilang klo kmu sudah
maafin
saya, tp stelah itu klo telpon, kmu nggak pernah angkat, dan klopun kmu angkat,
kmu
slalu terkesan buru2. Kmu nggak pernah datang lagi ke rumah saya stelah
kunjungan
audit,
kmu cuma kirim tim kmu saja habis itu. Beberapa kali saya minta ketemu, kmu
slalu
nolak
dan bilang kmu sibuk, tp kmu slalu menyempatkan diri ketemu dgn mama. Saya tahu
klo
tunangan ini cuma pura2 saja, tp kita masing2 ada tugas yg harus dipenuhi, saya
harap
kmu
masih belum lupa tugas kmu."
Awalnya
Ina menatapnya dgn penuh kebingungan, tetapi ketika dia mendengar separo akhir
dari
omelannya, wajahnya berubah menjadi serius sebelum berkata dgn tenang dan
jelas,
"Saya
memang sudah maafin kmu, Rev. Dan alasan saya knapa slalu terdengar terburu2
klo
kmu
telpon dan nggak bisa ketemu kmu adalah karena saya memang lagi sibuk sekali di
kantor.
Soal kunjungan ke rumah kmu, selama 6bulan ini saya slalu hanya mengirim tim
saya
ke
rumah kmu, kecuali klo ada masalah besar atau audit. Dan karena audit sudah
selesai dan
saya
nggak menerima laporan bahwa kmu ada masalah, ya saya nggak perlu dateng."
"Oh,"
adalah satu2nya kata yg keluar dari mulut Revel. Dia terlalu terkejut mendengar
penjelasan
Ina sehingga tak bisa berkata2. Semua kejengkelan telah luntur dari tubuhnya,
meninggalkan
rasa bersalah yg mendalam.
"Tapi
kmu benar, saya sudah lalai dalam menjalankan tugas saya. Saya minta P.A. saya
bisa
menghabiskan
lebih banyak waktu dgn kmu. Kapan kmu akan memperkenalkan saya kepada
publik?"
Revel
mencoba memulihkan diri dari kekagetannya dan berkata, "Saya harus
menghadiri
acara
penggalangan dana hari minggu tanggal dua bulan depan. Saya berencana
memperkenalkan
kmu pada saat itu."
"Oke,
saya akan kosongkan jadwal saya," ucap Ina tegas.
"Oke,"
balas Revel sambil mengangguk.
Mereka
kemudian hanya terdiam dan saling pandang selama beberapa detik, tdk ada dari
mereka
yg bergerak meninggalkan dapur. Revel bersusah payah menahan diri agar tdk
menyapukan
jari2nya pada bibir Ina yg kelihatan ekstramerah dan sperti minta dicium
malam
ini. Dia baru saja akan mengangkat tangannya ketika Suti, pembantu rumah Ina
memasuki
dapur dgn membawa satu nampan penuh cangkir kotor.
"Mbak
Ina, dicari Ibu," ucap Suti yg sedikit tersipu2 ketika melihat bahwa Revel
sedang
sedang berada
di dapur bersama Ina. Dia spertinya tdk sadar bahwa kemunculannya yg
tiba2
sudah menggagalkan rencana Revel untuk mencium anak majikannya itu.
Ina
tersenyum kepada Suti, dan dgn satu anggukan pada Revel, Ina keluar dari dapur
meninggalkan
Revel dgn Suti yg sedang memandangi dia seolah dewa. Revel memutuskan
mengikuti
jejak Ina dan segera meninggalkan dapur.
Seminggu
stelah lamaran, desas desus tentang Revel dan "pacar" barunya mulai
menyebar,
tetapi
tdk ada yg bisa mengidentifikasi wanita tersebut. Hal ini membuat Revel
tersenyum.
Dia tdk
tahu dan tdk peduli siapa yg memulai desas desus itu, yg dia mau hanyalah agar
gosip
itu tersebar dan tersebar cepat.
Atas
saran pak Danung, Ina dan Revel mencoba mengenal satu sama lain lebih jauh.
Dimulai
dgn
Revel bertanya kepada Ina apakah dia bisa datang ke apartemennya agar mereka
bisa
sama2
menuliskan nama orang2 yg mereka akan undang pada pernikahan mereka.
Meskipun
Ina datang dari keluarga besar, tp daftar yg dibuatnya berhenti pada angka150,
sedangkan
daftar yg dibuat Revel sudah mencapai angka 500. Ketika Ina menanyakan siapa
saja yg
ingin dia undang ke pernikahan mereka, Revel dgn cueknya menjawab bahwa
mayoritas
dari undangan itu akan jatuh ke kalangan artis, kolega bisnis, dan media.
Ketika
Ina
mengemukakan pendapatnya bahwa Revel tdk perlu mengundang sebegitu banyak
orang
untuk sebuah pernikahan yg akan diakhiri dalam masa kurang dari setahun lagi,
Revel
langsung
kelihatan sangat tersinggung sebelum kemudian menjawab bahwa pernikahan. Ini
adalah
atas biayanya dan dia bisa mengundang siapa saja yg dia mau. Ina yg kesal akan
komentar
itu membalas dgn mengatakan bahwa dia adalah laki2 dgn pikiran dangkal yg
mengukur
semuanya dgn uang.
Selama
beberapa hari Revel tdk menghubungi Ina dan Ina g merasa bahwa Revel perlu
diberi
pelajaran tentang kelakuannya yg mau menang sendiri, menolak meneleponnya
terlebih
dahulu. Akhirnya pada hari keempat, Helen memasuki ruangan bosnya dgn senyum
lebar.
Dia membawa serangkaian bunga aster dgn kartu yg bertuliskan "I'm
sorry" dan
dibawah
kata2 itu ada inisial huruf "R". Pertama2 Ina merasakan kemenangan
karena Revel
akhirnya
menyadari kesalahannya, kemudian perlahan2 disusul dgn rasa berbunga2. Dia
baru
saja akan menelpon Revel untuk mengucapkan terimakasih atas bunganya ketika dia
sadar
akan satu hal, yaitu bahwa Revel sedang bertingkah laku sebagai laki2 pengecut
yg
memilih
jalan pintas untuk meminta maaf. Dgn menggunakan bunga dan kartu, Revel sudah
meminta
maaf, tanpa kehilangan harga dirinya. Dasar egois, geram Ina yg kemudian
meminta
Helen untuk mengembalikan bunga itu kepada pengirimnya. Tp karena pengirim
bunga
sudah pergi stelah menyerahkan paketnya, Ina akhirnya meminta Helen meletakkan
bunga
itu sejauh mungkin dari kantornya agar dia tdk perlu melihatnya lagi.
Dua
hari berlalu dan Ina masih kesal dgn perlakuan Revel ketika orang yg membuatnya
kesal
itu
menelponnya. Ina berdebat apakah dia mau mengangkatnya atau tdk, tp
keingintahuan
akan
apa yg akan dikatakan cowok itu padanya menang dan Ina menjawab panggilan itu.
"Ina?"
Terdengar suara Revel di ujung saluran telpon.
"Ya,
ada apa Rev?" jawab Ina dgn suara setenang mungkin.
"Kmu
sudah terima bunga yg saya kirim?"
"Sudah."
"Terus?"
"Ya
nggak terus," tandas Ina.
Stelah
mengucapkan 3kata itu Ina berusaha sebisa mungkin menahan tawanya, dia berhasil
melakukannya
selama 5detik sebelum dia mulai tertawa terbahak2. Dia tdk tahu knapa dia
mulai
tertawa dan tdk bisa berhenti, mungkin karna 2bungkus M&Ms kacang yg baru
dihabiskannya,
yg kadar gulanya bisa membuat orang jadi hiper, atau mungkin karena
mendengar
suara Revel yg terdengar sperti layaknya laki2 yg tahu bahwa mereka salah dan
sedang
mencoba meminta maaf, tetapi tdk tahu apakah permintaan maafnya akan diterima.
Revel
kemudian sadar bahwa Ina sedang tertawa juga ikut tertawa. Alhasil, selama
5menit
ke
depan mereka tertawa bersama2.
"Saya
minta maaf soal kejadian tempo hari," ucap Revel stelah tawa mereka reda.
"Boleh
saya ke
rumak kmu nanti malam? Kita perlu finalize daftar kmu supaya kita bisa mulai
mikirin
soal venue," lanjutnya dgn penuh harap.
Bersama
dgn tawa itu, entah bagaimana, kemarahan Ina pun surut. "Oke asal kmu
berhenti
menyinggung2
soal uang kmu lagi," balas Ina.
Revel
terdiam beberapa detik, seakan2 dia mempertimbangkan apakah dia mau protes atas
tuduhan
ini, tp akhirnya Ina mendengarnya berkata, "Iya, saya janji."
"Oke,
saya tunggu kmu nanti malam," balas Ina.
***
Malam
itu mereka menyelesaikan daftar tamu dgn damai dan mulai membicarakan tentang
gedung.
Stelah diskusi panjang lebar akhirnya diputuskan acara akan diadakan di rumah
Revel,
dan dgn begitu, tema garden party pun tercipta.
"Apa
lagi yg kita perlu bicarakan?" tanya Revel sambil menyandarkan kepalanya
pada bantal
sofa.
Dia mendesah panjang sbelum kemudian melepaskan kacamatanya dan menutup
matanya.
Percakapan
tentang pernikahan mereka ini sudah melelahkan mereka berdua. Ina tahu
bahwa
Revel tdk akan membantah klo dia meminta wedding planner untuk membantunya
merancang
pernikahan ini, tp Ina adalah control freak, yaitu seseorang yg harus slalu
memiliki
kontrol dalam situasi apapun, yg membuatnyatdk mudah percaya pada orang lain.
Alhasil,
dia tdk berani menyerahkan perancangan pernikahan sebesar ini ke tangan wedding
planner,
tdk peduli seberapa profesionalnya mereka, mereka tetap orang asing yg dia tdk
kenal.
Ina
melirik jam dinding dan berkata, "Kmu sebaiknya pulang, sekarang sudah jam
sembilan
lewat.
Kita bicarakan hal lainnya besok saja." Dia kemudian berdiri dan
mengangkat cangkir
kotor
yg tadinya berisi kopi, ke dapur. Menyadari apa yg sedang dilakukan Ina, Revel
langsung
berdiri dan menjulurkan tangannya untuk mengambil cangkir itu dari tangan Ina,
tetapi
Ina menolak bantuannya.
Sambil
berjalan ke dapur Ina mendengar Revel membalas, "Saya biasa kok pulang
malam.
Nggak
ada yg nyariin juga di rumah."
Ina
menggeleng sambil tersenyum, rupanya Revel sudah salah paham dgn kata2nya. Dia
berjalan
kembali ke ruang tamu dan sambil bertolak pinggang di depan Revel dia berkata,
"Saya
yakin kmu memang biasa pulang malam, tp saya nggak biasa ada laki2 yg bukan
keluarga
bertamu di rumah saya selepas jam sembilan malam dan sebelum jam sepuluh
pagi."
"Tapi
saya ini tunangan kmu, I'm practically family," bantah Revel. Dia
kelihatan sangat
tersinggung
karena Ina pada dasarnya sudah mengusirnya.
Ina
mengembuskan napas putus asa. Masih ada banyak hal yg harus dipelajari Revel
tentang
dirinya,
dan dia tentang Revel. Mereka harus lebih mengenal satu sama lain agar tdk ada
lagi
kesalahpahaman
tentang hal remeh sperti ini.
"Rev,
ada suatu hal pribadi yg saya mesti bicarakan sama kmu, dan saya minta kmu
nggak
merasa
tersinggung stelah mendengar ini. Bisa?" tanya Ina dgn sedikit ragu.
"Oke,"
ucap Revel sedikit curiga.
Sebelum
dia kehilangan keberaniannya, Ina berkata, "Saya ada masalah sama uang
kmu."
"Uang
saya?"
"Uang
adalah isu yg sedikit sensitif untuk saya," Ina mencoba menjelaskan.
"Oke..."
"Saya
adalah wanita mandiri yg mampu membiayai segala sesuatunya sendiri." Ina
mencoba
mengukur
reaksi Revel. Ketika dia melihat bahwa Revel hanya menatapnya tanpa ekspresi,
dia
melanjutkan, "Oleh karena itu saya merasa tersinggung setiap kali kmu
menyebut2
betapa
banyaknya uang kmu. Saya mau kmu mengerti bahwa saya setuju dgn perjanjian
kita,
bukan karena uang kmu, tp karena kita bisa membantu satu sama lain. So, klo kmu
pernikahan
kita ini kelihatan tulus dan bisa dipercaya di mata masyarakat, kmu jangan
bikin
saya
kesal dgn menyinggung2 masalah uang kmu lagi. Setuju?"
Revel
kelihatan mempertimbangkannya dgn saksama sebelum mengangguk. Dia teringat
betapa
marahnya Ina stiap kali dia menyebut2 tentang uangnya, kini dia mengerti
alasannya.
"Klo
kita benar2 mau menolong satu sama lain dgn membuat hubungan kita ini kelihatan
tulus
dan bisa dipercaya di mata masyarakat..." Revel sengaja mengulang kata2
Ina
sebelumnya
dan mendelik jenaka kepada Ina yg sedang mencoba menahan senyum, "saya
nggak
mau dengar kmu nyebut2 hubungan kita sebagai kawin kontrak. Mulai sekarang kita
adalah
Ina dan Revel, dua orang yg akan menikah bulan Juni nanti. Setuju?"
Ina
kelihatan berpikir sejenak sbelum kemudian menjulurkan tangannya menyalami
Revel.
Ketika
Revel menyambut tangan itu, ina berkata, "Setuju."
Dan dgn
jabat tangan itu, Revel merasa sperti ada kekuatan gaib yg mengikat perjanjian
itu.
Tapi
kata2 Ina selanjutnya menghapuskan rasa gaib itu selamanya.
"Oke,
sekarang saya mau kmu keluar dari apartemen saya."
Revel
berusaha tdk menggeram ketika bangun dari sofa dan dgn satu anggukan, dia
permisi pulang.
Celebrity Wedding - Bab 12
No comments:
Post a Comment