13.
CEMBURU
KETIKA
HP-ku berbunyi tepat tujuh jam kemudian, aku sedang bermimpi bahwa
Baron
dan aku berada di tengah-tengah taman Suria KLCC di Kuala Lumpur. Ada
banyak
orang di sekitarku yang menghitung mundur, seven,
six, five, four, three, two,
one... Happy New Year. Aku mendengar bunyi terompet yang ekstra keras. Anehnya
bunyi
terompet itu tidak berhenti, tapi justru bertambah keras. Saat itu aku pun
terbangun,
dan sadar bahwa itu bukanlah bunyi terompet, tapi bunyi HP-ku.
Dengan
malas aku mencoba membuka mata. Kubiarkan panggilan itu masuk ke
voicemail sembari
melirik beker yang terletak di samping tempat tidur. Jam sudah
menunjukkan
pukul sebelas siang. Aku merasa itu masih terlalu pagi untukku. Aku
berniat
untuk tidur hingga tengah hari. Tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu, dan
buru-buru
meloncat dari tempat tidurku, berlari mengambil handuk dan masuk ke
kamar
mandi.
Perjalanan
menuju Pondok Indah yang ditemani lagu-lagu yang dilantunkan
My
Chemical Romance membantuku menjernihkan pikiranku yang sedang campur
aduk.
Aku memikirkan tentang Baron dan Oli. Baron mengatakan bahwa dia mau
meninggalkan
Oli untuk aku. Tapi apa mungkin? Senekat-nekatnya Baron, tidak
mungkin
dia senekat itu. Beberapa bulan yang lalu memang aku sempat berpikir
bahwa
aku mau melakukan apa saja untuk mendapatkan Baron, termasuk sampai
harus
menyakiti Olivia. Tapi sekarang, setelah ada tawaran itu dari Baron, aku tidak
berani
dan tidak tega. Aku bukan hanya takut terkena karma, tapi karena aku suka
pada
Olivia, orang baik yang lembut dan penuh kasing sayang. Aku tidak mau
menyakiti
hatinya. Olivia tidak pernah berbuat apa pun yang menyakiti hatiku. Dia
berhak
mendapatkan lebih baik dari itu.
Tapi
Baron juga mengatakan bahwa dia mencintaiku. Is
that true? Jujur saja,
secara
fisik mungkin aku masih tertarik dengannya, karena oh my God, he is such a
good kisser. Aku
tidak akan berkeberatan kalau setiap pagi dicium olehnya. Tapi
ketertarikan
fisik saja tidak cukup untuk membangun hubungan serius.
Tepat
pukul satu siang aku memasuki pelataran parkir PIM. Karena hari itu
adalah
hari Minggu, hampir seluruh penghuni Jakarta sepertinya sedang ada di
PIM.
Tiba-tiba aku melihat ada tempat parkir kosong, buru-buru aku melaju menuju
tempat
parkir itu. Ketika aku sedang mencari tasku setelah parkir, seseorang
mengetuk
kaca mobilku. Orang itu ternyata Sarah. Dia melambaikan tangannya
kepadaku.
Aku buru-buru keluar dari mobil dan memeluknya.
“Sori,
telat ya,” ucapku buru-buru.
“Nggak
apa-apa, aku juga baru sampai. Jalanan macet banget,” balas Sarah.
“Kamu
parkir di mana?”
“Oh,
tuh di sana.” Sarah kemudian menunjuk ke arah sebuah sedan berwarna
hitam.
Ketika melihat mobil itu otomatis tubuhku langsung jadi kaku.
Itu
kan mobil Ervin, dalam hati aku berkata.
Melihat
reaksiku yang tiba-tiba terdiam, Sarah membalas. “Tenang, Mbak, itu
bukan
mobil Ervin kok, itu mobil Mama.”
“Hah?
Apa?” balasku terbata-bata.
Sarah
hanya memandangiku sambil mengulum senyum.
Ketika
aku perhatikan lebih saksama, mobil itu berwarna maroon bukan
hitam.
Aduh,
sepertinya aku mulai berhalusinasi lagi.
*
* *
Kami
lalu menuju ke arah food court dan memesan makanan masing-masing. Aku
memilih
spageti dan segelas Pepsi sedangkan Sarah dengan teppanyaki dan ice lemon
tea. Setelah kami
menemukan meja kosong. Sarah pun meluncurkan rudalnya.
“Mbak,
Mbak kenapa sih sama Ervin?”
“Kenapa?
Maksud kamu?” aku bertanya balik, pura-pura tidak tahu sambil
mencoba
untuk mencampur spagetiku dengan dua garpu.
“Nggak,
soalnya Ervin kok jadi gampang marah akhir-akhir ini,” jawab Sarah
sambil
memisahkan sumpit kayu untuk teppanyaki-nya.
“Masalah
kerjaan, kali,” balasku sok tenang.
“Kalau
masalah kerjaan dia nggak akan segini cranky-nya. Cuma kalau sudah
urusan
perempuan dia biasanya langsung kayak gini.” Sarah memberikan
pandangannya
yang menuduh.
Setelah
dipikir-pikir, selama ini aku selalu bingung kenapa kok Ervin bisa
kakak-beradik
sama Sarah, mereka berdua benar-benar tidak mirip. Tapi setelah
melihat
tatapan Sarah, aku bisa melihat persamaan reaksi wajah Ervin pada Sarah.
“Ya
mana aku tahu, Sar? Kamu nggak tanya langsung saja ke orangnya?”
jawabku
akhirnya sambil memasukkan segulung besar spageti ke mulutku dan
mulai
mengunyah.
“Aku
sudah tanya, terus dia bilang soalnya ini gara-gara Mbak,” Sarah berkata
dengan
polos.
Aku
langsung tersedak. Buru-buru aku minum Pepsi-ku. Sarah mencoba
membantu
dengan menepuk-nepuk punggungku.
“Gara-gara
aku? Enak saja dia nuduh, memangnya aku ngapain?” kataku,
berusaha
menangkis tuduhan Sarah setelah batukku reda.
“Apa
gara-gara kejadian di rumah Mbak itu jadinya Mbak nggak mau terima
teleponnya?”
lanjut Sarah.
Kini
aku benar-benar kaget dan tidak mampu berkata apa-apa.
“Yep,
dia cerita ke aku. Mbak kenapa mesti kaget gitu? Mbak kan tahu si Jabrik
satu
tuh selalu cerita semua ke aku. Lagian juga memang sudah seharusnya dari
dulu
dia ngelakuin itu. Dia sama Mbak kan selalu dekat.”
“Gila,
kamu berdua honest banget, ya? Bukannya gitu, Sar, aku...” Aku mencoba
menjelaskan
situasi yang sebenarnya, tapi entah kenapa aku tidak bisa. Yang ada
aku
malahan mengingat kejadian tadi pagi. Masih kuingat jelas sentuhan bibir Baron
di
bibirku.
“Memangnya
kenapa Mbak kok kayaknya nggak comfortable
sama Ervin? Ada
cowok
lain yang lebih ganteng dari dia, ya?”
Ketika
Sarah selesai mengatakan kalimatnya yang kedua, kami pun saling
pandang
dan mulai cekikikan. Alhasil Sarah menyenggol gelas ice lemon tea-nya
dan
tumpahlah
semua ke meja dan mengalir ke lantai.
Aku
buru-buru mengeluarkan tisu dari tasku, sementara bertugas mas-mas
yang
membersihkan meja langsung datang untuk membantu kami membersihkan
tumpahan
teh itu.
“Aduh,
Mas, sori ya, nggak sengaja,” kata Sarah sambil masih mengulum
senyum
dan mencoba membersihkan tumpuahan itu. Setelah meja kami kembali
bersih
dan Sarah memesan satu gelas ice
lemon tea lagi, percakapan kami pun
bersambung.
“Gila,
jangan bilang ke Ervin bahwa aku bilang dia ganteng, dia bisa-bisa
langsung
superpede dan bikin aku jadi semakin pusing,” ucap Sarah setelah kembali
ke
meja.
Aku
hanya tertawa dan mengangguk untuk meyakinkan dan menenangkan
Sarah.
“So, gimana? Memangnya
ada cowok lain?” Sarah bertanya lagi.
Aku
tidak menjawabnya tapi hanya menaikkan kedua alisku.
“Si
Thomas, ya?”
Sekarang
aku benar-benar kaget, aku tidak menyangka Ervin cerita semuanya
ke
Sarah. Aku selalu tahu Sarah dan Ervin memang dekat, tapi tidak tahu bahwa
sedekat
ini. Apalagi, sampai Ervin tentang love
life-nya.
“Sumpah
mati deh aku nggak tahu kenapa aku nyium Ervin hari itu,” ucapku
akhirnya.
Kini
giliran Sarah yang tersedak mendengar pernyataanku. Aku lalu
melanjutkan,
“Don’t get me wrong ya, Sar, Ervin tuh baik, hot
as hell, tapi dia tipe lakilaki
yang
cuma bisa jadi teman sama aku.”
Aku
melihat senyum terbentuk di bibir Sarah.
“Kenapa
kamu senyum?” tanyaku.
Lalu
barulah Sarah bertanya, “Mbak nyium Ervin?”
Kini
giliranku yang melongo. “Lho, memangnya maksud kamu kejadian yang di
rumahku
tuh yang mana?” balasku.
“Mbak
nyium Ervin?” tanya Sarah lagi. Aku melihat bahwa Sarah berusaha
keras
untuk tidak tertawa terbahak-bahak.
Aku
dapat merasakan mukaku mulai memerah. Aku lalu menuntut Sarah untuk
menceritakan
kejadian di rumahku, versinya Ervin.
“Ervin
cuma cerita Mbak bilang akan ngenalin dia sama kakak Mbak,” jelas
Sarah.
“Oh my God, oh my god, oh my god...,” ucapku berkali-kali sambil menguburkan
mukaku
ke kedua belah tanganku.
“Dia
nggak pernah cerita soal cium-mencium,” lanjut Sarah.
Aku
lalu memandang Sarah, menimbang-nimbang apaakha ku mau
menceritakan
kejadian seluruhnya. Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan
versiku.
“Interesting, tapi
aku rada bingung juga kenapa Ervin nggak cerita ke aku
tentang
itu,” ucap Sarah setelah mendengarkan ceritaku.
“I know.”
“Jadi
itu toh sebabnya Mbak nggak mau ngomong sama dia.”
Aku
mengangguk. “Aku cuma lagi butuh waktu untuk bisa memberikan
penjelasan
yang masuk akal untuk Ervin.”
Kami
kemudian terdiam beberapa saat dan berkonsentrasi pada makanan
masing-masing.
“So, terusnya gimana
soal Thomas?”
“Kenapa
tentang Baron?” jawabku singkat sebelum kemudian aku sadar bahwa
Sarah
sedang memancingku. “Kenapa kamu tiba-tiba tanya tentang Baron?” aku
balik
bertanya dengan penuh curiga.
“Baron?
Itu siapa lagi?” tanya Sarah bingung.
Aku
lalu teringat bahwa Ervin tidak mengenal Baron sebagai Baron, tapi sebagai
Thomas.
“Baron itu Thomas, Sar, tapi aku kenal dia sebagai Baron. Baron tuh nama
tengahnya.
Tapi kebanyakan teman SMP Thomas kenal dia sebagai Baron,” jelasku.
Sarah
lalu membulatkan mulutnya menjadi O, menandakan bahwa dia
mengerti.
“Jadi
Mbak nggak mau nge-date sama Ervin tapi lebih prefer
pining over si Tom,
eh...
Baorn yang sudah tunangan?”
“What?”
teriakku. “Lo dikirim sama Ervin buat nanya-nanya tentang ini?”
Sarah
terlihat kaget oleh reaksiku dan menjawab. “Eh, nggak, lagi, aku cuma
bingung...
gimana nature hubungan Mbak, Ervin, sama Baron ini.”
Setelah
menghabiskan suapan terakhir spagetiku, aku pun melayani
keingintahuan
Sarah. “Aku juga masih bingung, Sar. Tanya lagi tahun depan deh.”
Kami
berdua hanya berdiam diri untuk beberapa saat sebelum Sarah kemudian
bertanya,
“Semua orang yang sudah lihat Mbak sama Ervin sudah tahu Mbak sama
Ervin
saling cinta. Yang nggak tahu soal itu cuma Mbak sama Ervin.”
“Ervin
nggak cinta sama aku,” seruku kaget.
“Tuh
kan. Mbak juga cinta, lagi, sama dia,” balas Sarah.
“Aduh,
Sar, untuk orang seumuranku, susah untuk bisa ngomongin cinta.
Terlalu
banyak hal lain yang bersangkutan dengan kata itu. Tapi kalau suka, ya
memang
aku suka.”
Sarah
mencoba berargumentasi tapi aku potong.
“Kamu
mungkin pikir kakak kamu tuh cinta sam aaku, tapi sebenarnya dia
bukannya
cinta, tapi dia cuma... comfortable
sama aku. Tapi so what?
Bantal juga
comfortable kok.”
“Oke,
fine, pertanyaannya aku ganti. Kalau misalnya kakak laki-laki
tercintaku
yang
kadang-kadang suka jadi goblok kalau sudah urusan cinta itu ngomong ke
Mbak
bahwa dia cinta sama Mbak, apa Mbak mau setidak-tidaknya untuk percaya
bahwa
dia betul-betul cinta sama Mbak?”
“Sar,
percaya deh sama aku, dia nggak cinta sama aku. Kamu tahu sendiri kan
berapa
banyak jumlah perempuan yang nge-date
sama dia setahun terakhir ini?
Nggak
satu pun dari mereka yang tampangnya kayak aku. Aku ini terlalu „biasa‟
buat
Ervin.”
“Ooooohhhhh, God, I am wasting my time with this woman,” teriak Sarah frustrasi.
Aku
langsung meminta Sarah untuk menurunkan volume suaranya, karena
orang-orang
mulai melirik ke arah kami.
“Sudahlah,
nggak usah mikirin soal aku sama Ervin. Mendingan ngomongin
soal
lamaran kamu.”
Wajah
Sarah masih kelihatan frustrasi, tapi akhirnya kami mengganti bahan
pembicaraan
ke persiapan pesta lamaran Sarah.
Kami
baru menuju pelataran parkir untuk pulang sekitar pukul delapan malam
itu.
Sebelum pulang Sarah berkata, “Well, setidak-tidaknya Mbak telepon Ervin lah
ya,
plea...se deh. Aku kasihan sama kakakku yang buat pertama kalinya tahu
rasanya
patah
hati.”
“Stop it, dia
nggak patah hati.”
“Ya,
Mbak kan nggak tahu. Terima teleponnya aja nggak mau, gimana bisa
tahu?”
Aku
tadinya mau menyangkal tuduhan itu, tapi kata-kata Sarah memang
mengena
sekali.
“Well, oke,”
akhirnya aku setuju.
*
* *
Semalaman
aku tidak bisa tidur. Ketika bekerku berbunyi tepat pukul 05.30
keesokan
harinya, dengan gondok aku langsung mematikannya dan kembali
bersembunyi
di bawah selimutku. Dalam perjalanan ke kantor aku berjanji pada
diriku
sendiri bahwa aku akan menyelesaikan masalahku dengan Ervin yang sudah
berkelanjutan
ini sampai tuntas. Kalau aku memang mau tahu perasaan Ervin yang
sebenarnya
kepadaku, aku harus memberanikan diri untuk menanyakan hal itu
padanya.
Memang ada kemungkinan aku akan malu kalau misalnya ternyata dia
mengatakan
bahwa dia tidak ada perasaan apa-apa kepadaku. Tapi bodo amat deh
aku
sudah bertekad.
*
* *
Tepat
pukul 12.00 siang aku memutuskan bahwa sudah tiba saatnya bagiku untuk
menghadapi
Ervin. Aku harus bertemu dengan Ervin minggu ini karena minggu
depan
sudah libur Natal, aku takut dia ada rencana cuti. Aku tidak akan mampu
menunggu
hingga Januari untuk berbicara dengannya. Dengan berat hati aku
melangkah
ke arah ruangannya. Baron masih belum menghubungiku lagi, dan aku
sangat
bersyukur. Mudah-mudahan dia sudah melupakan kejadian hari Sabtu itu.
Pintu
ruangan Ervin tertutup, aku pun bimbang sesaat. Apa aku harus
mengetuk
atau menunggu hingga pintu itu terbuka? Aku melangkah bolak-balik di
depan
ruangannya sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintunya.
Setelah
beberapa ketukan dan tidak ada jawaban, aku kemudian membuka pintu
ruangannya
dan melihat ke dalam. Ternyata kosong. Aku buru-buru menutup pintu
itu
kembali sebelum kemudian berpapasan dengan Wulan, resepsionis kantorku,
yang
sedang terburu-buru melangkah kembali ke mejanya sambil menggenggam
secangkir
kopi di tangan kanannya.
“Eh,
Dri... Dri...,” teriak Wulan dengan keras tepat sebelum dengan tidak
sengaja
tangan kiriku menghantam cangkir yang sedang dipegangnya. Alhasil,
cangkir
itu jatuh dan menumpahkan kopi hitam ke karpet biru yang menutupi lantai
kantor.
“Ya
ampun, sori, Lan, sori... gue nggak lihat,” ucapku buru-buru.
Wulan
hanya memberiku tatapan kesal, sebelum bertanya, “Cari siapa, Dri?
Kalau
lo lagi cari Ervin, dia lagi ke convention
di Manila.”
Aku
berusaha untuk terlihat tenang sebelum menjawab, “Eh, nggak, gue lagi...
nggak
nyari siapa-siapa kok. Omong-omong kayaknya musti telepon maintenance
ya,”
ucapku buru-buru sebelum kembali berjalan kembali ke arah ruanganku.
Seperti
membaca pikiranku Wulan pun berteriak. “Dia baru balik minggu
depan,
Dri.”
*
* *
Selama
satu minggu aku menunggu Ervin kembali dari Manila dengan keresahan
yang
tidak tergambarkan. Memang betul aku bisa menelepon atau mengirimkan email
untuk
menyelesaikan masalah ini, tapi aku merasa lebih sreg kalau bisa
bertemu
langsung dengannya.
Hari
Sabtu sore akhirnya aku menyerah untuk mencemaskan Ervin dan
menemani
ibu dan bapakku pergi menghadiri perkawinan Alya, anak salah satu
teman
baik ibuku, Tante Mega. Perkawinan yang diselenggarakan di Hotel Grand
Hyatt
Jakarta itu betul-betul megah. Aku tentunya hanya datang untuk menemani
orangtuaku
harus banyak duduk diam di sudut ruangan sambil makan karena tidak
kenal
siapa pun. Aku hanya pernah bertemu dengan Alya mungkin lima kali
sepanjang
hidupku. Alya memang leibh seumuran dengan kakakku, tetapi
meskipun
begitu mereka juga tidak pernah dekat.
Ketika
aku sedang berjalan menuju gubuk yang menghidangkan pencuci mulut,
tiba-tiba
aku melihatnya... Ervin. Dia yang seharusnya masih ada di Manila ternyata
sekarang
berdiri di hadapanku dan mengantre mengambil kambing guling. Kaget,
aku
mundur selangkah dan bertabrakan dengan seorang ibu dengan anaknya yang
sedang
bergegas menuju toilet. Tetapi tiba-tiba aada secercah keberanian yang
mendorongku
untuk menyapanya. Aku sadar bahwa Ervin belum melihatku dan
setelah
cukup dekat aku baru tahu kenapa. Ternyata dia sedang berdiri di sebelah
seorang
wanita paling cantik yang pernah aku lihat, dan... Tidak salah lagi, wanita
itu
adalah Kinar, mantan pacarnya yang model merangkap bintang film itu.
Kaget
untuk yang kedua kalinya selama kurang dari lima menit, aku berhenti
melangkah
dan hampir tersandung kakiku sendiri. Aku melihat tangan wanita itu
sedang
melingkari tangan kiri Ervin dan mereka seperti sedang terlibat pembicaraan
yang
sangat romantis. Reaksi pertamaku adalah terkesima, lalu aku dapat
merasakan
bahwa apabila aku tetap berdiri di sana, bisa-bisa aku mulai menangis
tersedu-sedu.
Aku sempat mencoba untuk merasionalkan bahasa tubuh mereka, tapi
tidak
ada interpretasi lain selain bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Rasa
cemburu,
marah, dan sedih langsung menyelimutiku. Aku paham bahwa aku bukan
siapa-siapanya
Ervin dan biasanya aku tidak pernah cemburu saat melihatnya
bermesraan
dengan perempuan lain. Kenapa sekarang aku seperti orang kebakaran
jenggot
melihatnya bersama Kinar? Mungkin karena aku sudah menunggunya
selama
satu minggu dengan kecemasan yang tidak tergambarkan dan sekarang,
ketika
aku sudah bertemu dengannya, dia malahan bersama perempuan lain
sehingga
aku tidak bisa meluapkan apa yang ada di hatiku.
Ternyata
Ervin ya tetap Ervin. Dia akan selalu dikerumuni perempuan. Ervin
yang
selalu menjadi penyebab utama kenapa lima puluh persen penghuni Jakarta
yang
perempuan, patah hati. Bagaimana mungkin aku percaya bahwa dia telah
memperlakukanku
berbeda dengan perempuan lainnya? Bagaimana bisa aku
berpikir
bahwa aku spesial di matanya? Ini salahku sendiri. Terselimuti dengan
kemarahan
pada diri sendiri, buru-buru aku berbalik ke arah aku datang, tapi
terlambat,
Erivn sudah melihatku. Dengan tatapan agak kaget dia melambaikan
tangan
ke arahku dengan penuh semangat. Tapi aku tidak memedulikannya.
Aku
harus keluar dari sini, kataku dalam hati dan melangkah cepat ke arah
pintu
keluar. Dalam perjalanan keluar aku mencari HP-ku dan menekan angka dua,
memori
untuk nomor HP bapakku. Takut diikuti oleh Ervin, aku menolehkan
kepalaku
ke belakang, tetapi aku tidak melihatnya di antara kerumunan. Rasa
tenang
juga kesal karena dia tidak mencoba mengejarku semakin meresahkan hatiku
yang
memang sedang galau. Buru-buru aku menyampaikan pesan singkat kepada
bapakku
bahwa aku ada keadaan darurat dan harus segera pulang. Aku meminta
orangtuaku
untuk menemuiku di pintu masuk.
Mengambil
alih posisi seorang petugas valet
parking, aku masuk ke sisi
pengemudi
SUV bapakku. Aku melihat kedua orangtuaku sedang bergegas ke
arahku.
Tetpai kemudian aku lihat di belakang mereka ada Ervin yang sedang
berlari-lari,
mencoba menutup jarak dengan kedua orangtuaku. Kepanikan langsung
muncul
di hatiku. Tetapi sebelum orangtuaku sampai ke pintu mobil dan masuk,
Ervin
telah berhasil menarik perhatian mereka. Orangtuaku yang belum tahu duduk
permasalahan
aku dan Ervin menyambut sapaan hangat dari Ervin dengan terbuka.
“Di,
kok nggak bilang halo sama Ervin?” tanya Ibuku polos.
Aku
agak kaget kok ibuku mengenali Ervin sampai ingat namanya segala. Tapi
aku
menepikan pikiran itu. Karena tidak mau bikin kerusuhan di depan banyak
orang
yang sedang menunggu jemputan, aku pun turun dari sisi pengemudi dan
bergegas
menghampiri ibuku.
“Halo,
Dri, tadi gue lihat lo di dalam, gue sudah panggil-panggil beberapa kali,
tapi
kayaknya lo nggak dengar,” ucap Ervin padaku sambil mendekat untuk
memberikan
ciuman di pipiku seperti biasanya. Ervin memegang lenganku ketika
melakukannya,
tetapi dia tidak melepaskan pegangannya setelah itu.
Dari
tatapannya aku tidak menemukan adanya rasa bersalah ataupun
pandangan
bahwa dia mau memberikan penjelasan padaku tentang Kinar.
Bukannya
aku merasa bahwa Ervin harus menjelaskan apa-apa kepadaku, karena
dia
tidak harus. Lagi-lagi aku mengingatkan diriku siapa aku, pacar bukan, saudara
bukan,
jadi apa urusanku untuk tahu dengan siapa dia datang ke acara resepsi ini.
Menyadari
hal itu ternyata justru membuatku semakin kesal.
“Eh
iya, nggak, soalnya orangtua gue sudah mau pulang, jadi gue mesti buruburu
ngambil
mobil,” balasku dengan cepat sambil memberikan kode kepada ibu
dan
bapakku.
Tentunya
ibuku yang memang suka agak lemot kalau sudah urusan kodekodean
hanya
memandangiku dengan tatapan bingung, untungnya bapakku segera
tanggap
atas dilema yang sedang kuhadapi.
Aku
dapat merasakan bahwa genggaman tangan Ervin semakin mengerat.
“Iya,
harus buru-buru, sampai ketemu lagi ya,” ucap bapakku kepada Ervin.
“Iya,
Pak, Bu,” balas Ervin sopan.
Pak,
Bu? Enak saja dia memanggil orangtuaku Bapak sama Ibu. Bapak-Ibu
mbahmu,
omelku dalam hati.
Lalu
orangtuaku pun beranjak mendekati mobil. Tapi ketika aku akan masuk ke
mobil,
Ervin tetap tidak melepaskan lenganku. Aku memandangnya, memberikan
tatapan
memohon, kemudian perlahan-lahan dia melepaskan cengkeramannya.
Aku
buru-buru masuk ke mobil. Ervin kemudian membukakan pintu belakang
agar
ibuku bisa naik ke mobil dan menutupnya dengan rapat. Lalu bapakku masuk
ke
kursi penumpang di sampingku. Aku baru sadar kemudian bahwa Ervin sedang
berdiri
di samping jendela pengemudi. Aku tidak ada pilihan selain menurunkan
jendela.
“Hati-hati, Dri,” ucapnya pelan.
Aku
pun berlalu meninggalkan Ervin dengan muka bingungnya.
*
* *
Malam
itu, setelah satu hari berusaha menahan rasa sedih karena kebodohanku
sendiri,
aku masih duduk terdiam di kamarku dan mulai menangis ditemani oleh
Nick
Lachey yang sedang meneriakkan “What’s
left of me” untuk Jessica Simpson.
Terakhir
kali aku menangis seperti ini adalah lebih dari sepuluh tahun yang lalu,
ketika
aku memikirkan nasibku yang tidak bisa menghapuskan Baron dari
pikiranku.
Tapi sekarang... aku menangis karena perasaanku yang tidak keruan.
Bagaimana
mungkin aku mencintai Baron tapi tidak mau menerima pernyataan
cintanya?
Bagaimana mungkin kalau aku mencintai Baron, aku bisa cemburu ketika
melihat
Ervin dengan perempuan lain?
Miss Pesimis - AliaZalea - Bab 14
No comments:
Post a Comment