Sunday, September 6, 2015

Miss Pesimis - AliaZalea - Bab 13

13. CEMBURU

KETIKA HP-ku berbunyi tepat tujuh jam kemudian, aku sedang bermimpi bahwa
Baron dan aku berada di tengah-tengah taman Suria KLCC di Kuala Lumpur. Ada
banyak orang di sekitarku yang menghitung mundur, seven, six, five, four, three, two,
one... Happy New Year. Aku mendengar bunyi terompet yang ekstra keras. Anehnya
bunyi terompet itu tidak berhenti, tapi justru bertambah keras. Saat itu aku pun
terbangun, dan sadar bahwa itu bukanlah bunyi terompet, tapi bunyi HP-ku.
Dengan malas aku mencoba membuka mata. Kubiarkan panggilan itu masuk ke
voicemail sembari melirik beker yang terletak di samping tempat tidur. Jam sudah
menunjukkan pukul sebelas siang. Aku merasa itu masih terlalu pagi untukku. Aku
berniat untuk tidur hingga tengah hari. Tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu, dan
buru-buru meloncat dari tempat tidurku, berlari mengambil handuk dan masuk ke
kamar mandi.
Perjalanan menuju Pondok Indah yang ditemani lagu-lagu yang dilantunkan
My Chemical Romance membantuku menjernihkan pikiranku yang sedang campur
aduk. Aku memikirkan tentang Baron dan Oli. Baron mengatakan bahwa dia mau
meninggalkan Oli untuk aku. Tapi apa mungkin? Senekat-nekatnya Baron, tidak
mungkin dia senekat itu. Beberapa bulan yang lalu memang aku sempat berpikir
bahwa aku mau melakukan apa saja untuk mendapatkan Baron, termasuk sampai
harus menyakiti Olivia. Tapi sekarang, setelah ada tawaran itu dari Baron, aku tidak
berani dan tidak tega. Aku bukan hanya takut terkena karma, tapi karena aku suka
pada Olivia, orang baik yang lembut dan penuh kasing sayang. Aku tidak mau
menyakiti hatinya. Olivia tidak pernah berbuat apa pun yang menyakiti hatiku. Dia
berhak mendapatkan lebih baik dari itu.
Tapi Baron juga mengatakan bahwa dia mencintaiku. Is that true? Jujur saja,
secara fisik mungkin aku masih tertarik dengannya, karena oh my God, he is such a
good kisser. Aku tidak akan berkeberatan kalau setiap pagi dicium olehnya. Tapi
ketertarikan fisik saja tidak cukup untuk membangun hubungan serius.
Tepat pukul satu siang aku memasuki pelataran parkir PIM. Karena hari itu
adalah hari Minggu, hampir seluruh penghuni Jakarta sepertinya sedang ada di
PIM. Tiba-tiba aku melihat ada tempat parkir kosong, buru-buru aku melaju menuju
tempat parkir itu. Ketika aku sedang mencari tasku setelah parkir, seseorang
mengetuk kaca mobilku. Orang itu ternyata Sarah. Dia melambaikan tangannya
kepadaku. Aku buru-buru keluar dari mobil dan memeluknya.
“Sori, telat ya,” ucapku buru-buru.
“Nggak apa-apa, aku juga baru sampai. Jalanan macet banget,” balas Sarah.
“Kamu parkir di mana?”
“Oh, tuh di sana.” Sarah kemudian menunjuk ke arah sebuah sedan berwarna
hitam. Ketika melihat mobil itu otomatis tubuhku langsung jadi kaku.
Itu kan mobil Ervin, dalam hati aku berkata.
Melihat reaksiku yang tiba-tiba terdiam, Sarah membalas. “Tenang, Mbak, itu
bukan mobil Ervin kok, itu mobil Mama.”
“Hah? Apa?” balasku terbata-bata.
Sarah hanya memandangiku sambil mengulum senyum.
Ketika aku perhatikan lebih saksama, mobil itu berwarna maroon bukan hitam.
Aduh, sepertinya aku mulai berhalusinasi lagi.
* * *
Kami lalu menuju ke arah food court dan memesan makanan masing-masing. Aku
memilih spageti dan segelas Pepsi sedangkan Sarah dengan teppanyaki dan ice lemon
tea. Setelah kami menemukan meja kosong. Sarah pun meluncurkan rudalnya.
“Mbak, Mbak kenapa sih sama Ervin?”
“Kenapa? Maksud kamu?” aku bertanya balik, pura-pura tidak tahu sambil
mencoba untuk mencampur spagetiku dengan dua garpu.
“Nggak, soalnya Ervin kok jadi gampang marah akhir-akhir ini,” jawab Sarah
sambil memisahkan sumpit kayu untuk teppanyaki-nya.
“Masalah kerjaan, kali,” balasku sok tenang.
“Kalau masalah kerjaan dia nggak akan segini cranky-nya. Cuma kalau sudah
urusan perempuan dia biasanya langsung kayak gini.” Sarah memberikan
pandangannya yang menuduh.
Setelah dipikir-pikir, selama ini aku selalu bingung kenapa kok Ervin bisa
kakak-beradik sama Sarah, mereka berdua benar-benar tidak mirip. Tapi setelah
melihat tatapan Sarah, aku bisa melihat persamaan reaksi wajah Ervin pada Sarah.
“Ya mana aku tahu, Sar? Kamu nggak tanya langsung saja ke orangnya?”
jawabku akhirnya sambil memasukkan segulung besar spageti ke mulutku dan
mulai mengunyah.
“Aku sudah tanya, terus dia bilang soalnya ini gara-gara Mbak,” Sarah berkata
dengan polos.
Aku langsung tersedak. Buru-buru aku minum Pepsi-ku. Sarah mencoba
membantu dengan menepuk-nepuk punggungku.
“Gara-gara aku? Enak saja dia nuduh, memangnya aku ngapain?” kataku,
berusaha menangkis tuduhan Sarah setelah batukku reda.
“Apa gara-gara kejadian di rumah Mbak itu jadinya Mbak nggak mau terima
teleponnya?” lanjut Sarah.
Kini aku benar-benar kaget dan tidak mampu berkata apa-apa.
“Yep, dia cerita ke aku. Mbak kenapa mesti kaget gitu? Mbak kan tahu si Jabrik
satu tuh selalu cerita semua ke aku. Lagian juga memang sudah seharusnya dari
dulu dia ngelakuin itu. Dia sama Mbak kan selalu dekat.”
“Gila, kamu berdua honest banget, ya? Bukannya gitu, Sar, aku...” Aku mencoba
menjelaskan situasi yang sebenarnya, tapi entah kenapa aku tidak bisa. Yang ada
aku malahan mengingat kejadian tadi pagi. Masih kuingat jelas sentuhan bibir Baron
di bibirku.
“Memangnya kenapa Mbak kok kayaknya nggak comfortable sama Ervin? Ada
cowok lain yang lebih ganteng dari dia, ya?”
Ketika Sarah selesai mengatakan kalimatnya yang kedua, kami pun saling
pandang dan mulai cekikikan. Alhasil Sarah menyenggol gelas ice lemon tea-nya dan
tumpahlah semua ke meja dan mengalir ke lantai.
Aku buru-buru mengeluarkan tisu dari tasku, sementara bertugas mas-mas
yang membersihkan meja langsung datang untuk membantu kami membersihkan
tumpahan teh itu.
“Aduh, Mas, sori ya, nggak sengaja,” kata Sarah sambil masih mengulum
senyum dan mencoba membersihkan tumpuahan itu. Setelah meja kami kembali
bersih dan Sarah memesan satu gelas ice lemon tea lagi, percakapan kami pun
bersambung.
“Gila, jangan bilang ke Ervin bahwa aku bilang dia ganteng, dia bisa-bisa
langsung superpede dan bikin aku jadi semakin pusing,” ucap Sarah setelah kembali
ke meja.
Aku hanya tertawa dan mengangguk untuk meyakinkan dan menenangkan
Sarah.
So, gimana? Memangnya ada cowok lain?” Sarah bertanya lagi.
Aku tidak menjawabnya tapi hanya menaikkan kedua alisku.
“Si Thomas, ya?”
Sekarang aku benar-benar kaget, aku tidak menyangka Ervin cerita semuanya
ke Sarah. Aku selalu tahu Sarah dan Ervin memang dekat, tapi tidak tahu bahwa
sedekat ini. Apalagi, sampai Ervin tentang love life-nya.
“Sumpah mati deh aku nggak tahu kenapa aku nyium Ervin hari itu,” ucapku
akhirnya.
Kini giliran Sarah yang tersedak mendengar pernyataanku. Aku lalu
melanjutkan, “Don’t get me wrong ya, Sar, Ervin tuh baik, hot as hell, tapi dia tipe lakilaki
yang cuma bisa jadi teman sama aku.”
Aku melihat senyum terbentuk di bibir Sarah.
“Kenapa kamu senyum?” tanyaku.
Lalu barulah Sarah bertanya, “Mbak nyium Ervin?”
Kini giliranku yang melongo. “Lho, memangnya maksud kamu kejadian yang di
rumahku tuh yang mana?” balasku.
“Mbak nyium Ervin?” tanya Sarah lagi. Aku melihat bahwa Sarah berusaha
keras untuk tidak tertawa terbahak-bahak.
Aku dapat merasakan mukaku mulai memerah. Aku lalu menuntut Sarah untuk
menceritakan kejadian di rumahku, versinya Ervin.
“Ervin cuma cerita Mbak bilang akan ngenalin dia sama kakak Mbak,” jelas
Sarah.
Oh my God, oh my god, oh my god...,” ucapku berkali-kali sambil menguburkan
mukaku ke kedua belah tanganku.
“Dia nggak pernah cerita soal cium-mencium,” lanjut Sarah.
Aku lalu memandang Sarah, menimbang-nimbang apaakha ku mau
menceritakan kejadian seluruhnya. Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan
versiku.
Interesting, tapi aku rada bingung juga kenapa Ervin nggak cerita ke aku
tentang itu,” ucap Sarah setelah mendengarkan ceritaku.
I know.”
“Jadi itu toh sebabnya Mbak nggak mau ngomong sama dia.”
Aku mengangguk. “Aku cuma lagi butuh waktu untuk bisa memberikan
penjelasan yang masuk akal untuk Ervin.”
Kami kemudian terdiam beberapa saat dan berkonsentrasi pada makanan
masing-masing.
So, terusnya gimana soal Thomas?”
“Kenapa tentang Baron?” jawabku singkat sebelum kemudian aku sadar bahwa
Sarah sedang memancingku. “Kenapa kamu tiba-tiba tanya tentang Baron?” aku
balik bertanya dengan penuh curiga.
“Baron? Itu siapa lagi?” tanya Sarah bingung.
Aku lalu teringat bahwa Ervin tidak mengenal Baron sebagai Baron, tapi sebagai
Thomas. “Baron itu Thomas, Sar, tapi aku kenal dia sebagai Baron. Baron tuh nama
tengahnya. Tapi kebanyakan teman SMP Thomas kenal dia sebagai Baron,” jelasku.
Sarah lalu membulatkan mulutnya menjadi O, menandakan bahwa dia
mengerti.
“Jadi Mbak nggak mau nge-date sama Ervin tapi lebih prefer pining over si Tom,
eh... Baorn yang sudah tunangan?”
What?” teriakku. “Lo dikirim sama Ervin buat nanya-nanya tentang ini?”
Sarah terlihat kaget oleh reaksiku dan menjawab. “Eh, nggak, lagi, aku cuma
bingung... gimana nature hubungan Mbak, Ervin, sama Baron ini.”
Setelah menghabiskan suapan terakhir spagetiku, aku pun melayani
keingintahuan Sarah. “Aku juga masih bingung, Sar. Tanya lagi tahun depan deh.”
Kami berdua hanya berdiam diri untuk beberapa saat sebelum Sarah kemudian
bertanya, “Semua orang yang sudah lihat Mbak sama Ervin sudah tahu Mbak sama
Ervin saling cinta. Yang nggak tahu soal itu cuma Mbak sama Ervin.”
“Ervin nggak cinta sama aku,” seruku kaget.
“Tuh kan. Mbak juga cinta, lagi, sama dia,” balas Sarah.
“Aduh, Sar, untuk orang seumuranku, susah untuk bisa ngomongin cinta.
Terlalu banyak hal lain yang bersangkutan dengan kata itu. Tapi kalau suka, ya
memang aku suka.”
Sarah mencoba berargumentasi tapi aku potong.
“Kamu mungkin pikir kakak kamu tuh cinta sam aaku, tapi sebenarnya dia
bukannya cinta, tapi dia cuma... comfortable sama aku. Tapi so what? Bantal juga
comfortable kok.”
“Oke, fine, pertanyaannya aku ganti. Kalau misalnya kakak laki-laki tercintaku
yang kadang-kadang suka jadi goblok kalau sudah urusan cinta itu ngomong ke
Mbak bahwa dia cinta sama Mbak, apa Mbak mau setidak-tidaknya untuk percaya
bahwa dia betul-betul cinta sama Mbak?”
“Sar, percaya deh sama aku, dia nggak cinta sama aku. Kamu tahu sendiri kan
berapa banyak jumlah perempuan yang nge-date sama dia setahun terakhir ini?
Nggak satu pun dari mereka yang tampangnya kayak aku. Aku ini terlalu „biasa
buat Ervin.”
Ooooohhhhh, God, I am wasting my time with this woman,” teriak Sarah frustrasi.
Aku langsung meminta Sarah untuk menurunkan volume suaranya, karena
orang-orang mulai melirik ke arah kami.
“Sudahlah, nggak usah mikirin soal aku sama Ervin. Mendingan ngomongin
soal lamaran kamu.”
Wajah Sarah masih kelihatan frustrasi, tapi akhirnya kami mengganti bahan
pembicaraan ke persiapan pesta lamaran Sarah.
Kami baru menuju pelataran parkir untuk pulang sekitar pukul delapan malam
itu. Sebelum pulang Sarah berkata, “Well, setidak-tidaknya Mbak telepon Ervin lah
ya, plea...se deh. Aku kasihan sama kakakku yang buat pertama kalinya tahu rasanya
patah hati.”
Stop it, dia nggak patah hati.”
“Ya, Mbak kan nggak tahu. Terima teleponnya aja nggak mau, gimana bisa
tahu?”
Aku tadinya mau menyangkal tuduhan itu, tapi kata-kata Sarah memang
mengena sekali.
Well, oke,” akhirnya aku setuju.
* * *
Semalaman aku tidak bisa tidur. Ketika bekerku berbunyi tepat pukul 05.30
keesokan harinya, dengan gondok aku langsung mematikannya dan kembali
bersembunyi di bawah selimutku. Dalam perjalanan ke kantor aku berjanji pada
diriku sendiri bahwa aku akan menyelesaikan masalahku dengan Ervin yang sudah
berkelanjutan ini sampai tuntas. Kalau aku memang mau tahu perasaan Ervin yang
sebenarnya kepadaku, aku harus memberanikan diri untuk menanyakan hal itu
padanya. Memang ada kemungkinan aku akan malu kalau misalnya ternyata dia
mengatakan bahwa dia tidak ada perasaan apa-apa kepadaku. Tapi bodo amat deh
aku sudah bertekad.
* * *
Tepat pukul 12.00 siang aku memutuskan bahwa sudah tiba saatnya bagiku untuk
menghadapi Ervin. Aku harus bertemu dengan Ervin minggu ini karena minggu
depan sudah libur Natal, aku takut dia ada rencana cuti. Aku tidak akan mampu
menunggu hingga Januari untuk berbicara dengannya. Dengan berat hati aku
melangkah ke arah ruangannya. Baron masih belum menghubungiku lagi, dan aku
sangat bersyukur. Mudah-mudahan dia sudah melupakan kejadian hari Sabtu itu.
Pintu ruangan Ervin tertutup, aku pun bimbang sesaat. Apa aku harus
mengetuk atau menunggu hingga pintu itu terbuka? Aku melangkah bolak-balik di
depan ruangannya sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintunya.
Setelah beberapa ketukan dan tidak ada jawaban, aku kemudian membuka pintu
ruangannya dan melihat ke dalam. Ternyata kosong. Aku buru-buru menutup pintu
itu kembali sebelum kemudian berpapasan dengan Wulan, resepsionis kantorku,
yang sedang terburu-buru melangkah kembali ke mejanya sambil menggenggam
secangkir kopi di tangan kanannya.
“Eh, Dri... Dri...,” teriak Wulan dengan keras tepat sebelum dengan tidak
sengaja tangan kiriku menghantam cangkir yang sedang dipegangnya. Alhasil,
cangkir itu jatuh dan menumpahkan kopi hitam ke karpet biru yang menutupi lantai
kantor.
“Ya ampun, sori, Lan, sori... gue nggak lihat,” ucapku buru-buru.
Wulan hanya memberiku tatapan kesal, sebelum bertanya, “Cari siapa, Dri?
Kalau lo lagi cari Ervin, dia lagi ke convention di Manila.”
Aku berusaha untuk terlihat tenang sebelum menjawab, “Eh, nggak, gue lagi...
nggak nyari siapa-siapa kok. Omong-omong kayaknya musti telepon maintenance
ya,” ucapku buru-buru sebelum kembali berjalan kembali ke arah ruanganku.
Seperti membaca pikiranku Wulan pun berteriak. “Dia baru balik minggu
depan, Dri.”
* * *
Selama satu minggu aku menunggu Ervin kembali dari Manila dengan keresahan
yang tidak tergambarkan. Memang betul aku bisa menelepon atau mengirimkan email
untuk menyelesaikan masalah ini, tapi aku merasa lebih sreg kalau bisa
bertemu langsung dengannya.
Hari Sabtu sore akhirnya aku menyerah untuk mencemaskan Ervin dan
menemani ibu dan bapakku pergi menghadiri perkawinan Alya, anak salah satu
teman baik ibuku, Tante Mega. Perkawinan yang diselenggarakan di Hotel Grand
Hyatt Jakarta itu betul-betul megah. Aku tentunya hanya datang untuk menemani
orangtuaku harus banyak duduk diam di sudut ruangan sambil makan karena tidak
kenal siapa pun. Aku hanya pernah bertemu dengan Alya mungkin lima kali
sepanjang hidupku. Alya memang leibh seumuran dengan kakakku, tetapi
meskipun begitu mereka juga tidak pernah dekat.
Ketika aku sedang berjalan menuju gubuk yang menghidangkan pencuci mulut,
tiba-tiba aku melihatnya... Ervin. Dia yang seharusnya masih ada di Manila ternyata
sekarang berdiri di hadapanku dan mengantre mengambil kambing guling. Kaget,
aku mundur selangkah dan bertabrakan dengan seorang ibu dengan anaknya yang
sedang bergegas menuju toilet. Tetapi tiba-tiba aada secercah keberanian yang
mendorongku untuk menyapanya. Aku sadar bahwa Ervin belum melihatku dan
setelah cukup dekat aku baru tahu kenapa. Ternyata dia sedang berdiri di sebelah
seorang wanita paling cantik yang pernah aku lihat, dan... Tidak salah lagi, wanita
itu adalah Kinar, mantan pacarnya yang model merangkap bintang film itu.
Kaget untuk yang kedua kalinya selama kurang dari lima menit, aku berhenti
melangkah dan hampir tersandung kakiku sendiri. Aku melihat tangan wanita itu
sedang melingkari tangan kiri Ervin dan mereka seperti sedang terlibat pembicaraan
yang sangat romantis. Reaksi pertamaku adalah terkesima, lalu aku dapat
merasakan bahwa apabila aku tetap berdiri di sana, bisa-bisa aku mulai menangis
tersedu-sedu. Aku sempat mencoba untuk merasionalkan bahasa tubuh mereka, tapi
tidak ada interpretasi lain selain bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Rasa
cemburu, marah, dan sedih langsung menyelimutiku. Aku paham bahwa aku bukan
siapa-siapanya Ervin dan biasanya aku tidak pernah cemburu saat melihatnya
bermesraan dengan perempuan lain. Kenapa sekarang aku seperti orang kebakaran
jenggot melihatnya bersama Kinar? Mungkin karena aku sudah menunggunya
selama satu minggu dengan kecemasan yang tidak tergambarkan dan sekarang,
ketika aku sudah bertemu dengannya, dia malahan bersama perempuan lain
sehingga aku tidak bisa meluapkan apa yang ada di hatiku.
Ternyata Ervin ya tetap Ervin. Dia akan selalu dikerumuni perempuan. Ervin
yang selalu menjadi penyebab utama kenapa lima puluh persen penghuni Jakarta
yang perempuan, patah hati. Bagaimana mungkin aku percaya bahwa dia telah
memperlakukanku berbeda dengan perempuan lainnya? Bagaimana bisa aku
berpikir bahwa aku spesial di matanya? Ini salahku sendiri. Terselimuti dengan
kemarahan pada diri sendiri, buru-buru aku berbalik ke arah aku datang, tapi
terlambat, Erivn sudah melihatku. Dengan tatapan agak kaget dia melambaikan
tangan ke arahku dengan penuh semangat. Tapi aku tidak memedulikannya.
Aku harus keluar dari sini, kataku dalam hati dan melangkah cepat ke arah
pintu keluar. Dalam perjalanan keluar aku mencari HP-ku dan menekan angka dua,
memori untuk nomor HP bapakku. Takut diikuti oleh Ervin, aku menolehkan
kepalaku ke belakang, tetapi aku tidak melihatnya di antara kerumunan. Rasa
tenang juga kesal karena dia tidak mencoba mengejarku semakin meresahkan hatiku
yang memang sedang galau. Buru-buru aku menyampaikan pesan singkat kepada
bapakku bahwa aku ada keadaan darurat dan harus segera pulang. Aku meminta
orangtuaku untuk menemuiku di pintu masuk.
Mengambil alih posisi seorang petugas valet parking, aku masuk ke sisi
pengemudi SUV bapakku. Aku melihat kedua orangtuaku sedang bergegas ke
arahku. Tetpai kemudian aku lihat di belakang mereka ada Ervin yang sedang
berlari-lari, mencoba menutup jarak dengan kedua orangtuaku. Kepanikan langsung
muncul di hatiku. Tetapi sebelum orangtuaku sampai ke pintu mobil dan masuk,
Ervin telah berhasil menarik perhatian mereka. Orangtuaku yang belum tahu duduk
permasalahan aku dan Ervin menyambut sapaan hangat dari Ervin dengan terbuka.
“Di, kok nggak bilang halo sama Ervin?” tanya Ibuku polos.
Aku agak kaget kok ibuku mengenali Ervin sampai ingat namanya segala. Tapi
aku menepikan pikiran itu. Karena tidak mau bikin kerusuhan di depan banyak
orang yang sedang menunggu jemputan, aku pun turun dari sisi pengemudi dan
bergegas menghampiri ibuku.
“Halo, Dri, tadi gue lihat lo di dalam, gue sudah panggil-panggil beberapa kali,
tapi kayaknya lo nggak dengar,” ucap Ervin padaku sambil mendekat untuk
memberikan ciuman di pipiku seperti biasanya. Ervin memegang lenganku ketika
melakukannya, tetapi dia tidak melepaskan pegangannya setelah itu.
Dari tatapannya aku tidak menemukan adanya rasa bersalah ataupun
pandangan bahwa dia mau memberikan penjelasan padaku tentang Kinar.
Bukannya aku merasa bahwa Ervin harus menjelaskan apa-apa kepadaku, karena
dia tidak harus. Lagi-lagi aku mengingatkan diriku siapa aku, pacar bukan, saudara
bukan, jadi apa urusanku untuk tahu dengan siapa dia datang ke acara resepsi ini.
Menyadari hal itu ternyata justru membuatku semakin kesal.
“Eh iya, nggak, soalnya orangtua gue sudah mau pulang, jadi gue mesti buruburu
ngambil mobil,” balasku dengan cepat sambil memberikan kode kepada ibu
dan bapakku.
Tentunya ibuku yang memang suka agak lemot kalau sudah urusan kodekodean
hanya memandangiku dengan tatapan bingung, untungnya bapakku segera
tanggap atas dilema yang sedang kuhadapi.
Aku dapat merasakan bahwa genggaman tangan Ervin semakin mengerat.
“Iya, harus buru-buru, sampai ketemu lagi ya,” ucap bapakku kepada Ervin.
“Iya, Pak, Bu,” balas Ervin sopan.
Pak, Bu? Enak saja dia memanggil orangtuaku Bapak sama Ibu. Bapak-Ibu
mbahmu, omelku dalam hati.
Lalu orangtuaku pun beranjak mendekati mobil. Tapi ketika aku akan masuk ke
mobil, Ervin tetap tidak melepaskan lenganku. Aku memandangnya, memberikan
tatapan memohon, kemudian perlahan-lahan dia melepaskan cengkeramannya.
Aku buru-buru masuk ke mobil. Ervin kemudian membukakan pintu belakang
agar ibuku bisa naik ke mobil dan menutupnya dengan rapat. Lalu bapakku masuk
ke kursi penumpang di sampingku. Aku baru sadar kemudian bahwa Ervin sedang
berdiri di samping jendela pengemudi. Aku tidak ada pilihan selain menurunkan
jendela. “Hati-hati, Dri,” ucapnya pelan.
Aku pun berlalu meninggalkan Ervin dengan muka bingungnya.
* * *
Malam itu, setelah satu hari berusaha menahan rasa sedih karena kebodohanku
sendiri, aku masih duduk terdiam di kamarku dan mulai menangis ditemani oleh
Nick Lachey yang sedang meneriakkan “What’s left of me” untuk Jessica Simpson.
Terakhir kali aku menangis seperti ini adalah lebih dari sepuluh tahun yang lalu,
ketika aku memikirkan nasibku yang tidak bisa menghapuskan Baron dari
pikiranku. Tapi sekarang... aku menangis karena perasaanku yang tidak keruan.
Bagaimana mungkin aku mencintai Baron tapi tidak mau menerima pernyataan
cintanya? Bagaimana mungkin kalau aku mencintai Baron, aku bisa cemburu ketika

melihat Ervin dengan perempuan lain?


Miss Pesimis - AliaZalea - Bab 14

No comments:

Post a Comment