Tuesday, September 1, 2015

Ayat - Ayat Cinta - Bab 1



1. Gadis Mesir Itu Bernama Maria

Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala
langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir
menguapkan bau neraka. Hembusan angin sahara disertai debu yang
bergulung-gulung menambah panas udara semakin tinggi dari detik ke detik.
Penduduknya, banyak yang berlindung dalam flat yang ada dalam apartemen-apartemen
berbentuk kubus dengan pintu, jendela dan tirai tertutup rapat.
Memang, istirahat di dalam flat sambil menghidupkan pendingin ruangan jauh
lebih nyaman daripada berjalan ke luar rumah, meski sekadar untuk shalat berjamaah
di masjid. Panggilan azan zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero
kota hanya mampu menggugah dan menggerakkan hati mereka yang benar-benar
tebal imannya. Mereka yang memiliki tekad beribadah sesempurna mungkin dalam
segala musim dan cuaca, seperti karang yang tegak berdiri dalam deburan ombak,
terpaan badai, dan sengatan matahari. Ia tetap teguh berdiri seperti yang dititahkan
Tuhan sambil bertasbih tak kenal kesah. Atau, seperti matahari yang telah jutaan
tahun membakar tubuhnya untuk memberikan penerangan ke bumi dan seantero
mayapada. Ia tiada pernah mengeluh, tiada pernah mengerang sedetik pun
menjalankan titah Tuhan.
Awal-awal Agustus memang puncak musim panas.
Dalam kondisi sangat tidak nyaman seperti ini, aku sendiri sebenarnya sangat
malas keluar. Ramalan cuaca mengumumkan: empat puluh satu derajat celcius! Apa
tidak gila!? Mahasiswa Asia Tenggara yang tidak tahan panas, biasanya sudah
mimisan, hidungnya mengeluarkan darah. Teman satu flat yang langganan mimisan
di puncak musim panas adalah Saiful. Tiga hari ini, memasuki pukul sebelas siang
sampai pukul tujuh petang, darah selalu merembes dari hidungnya. Padahal ia tidak
keluar flat sama sekali. Ia hanya diam di dalam kamarnya sambil terus menyalakan
kipas angin. Sesekali ia kungkum, mendinginkan badan di kamar mandi.
Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen1 aku bersiap
untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar
Ash-Shidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi2 pada
1 Rasa malas melakukan sesuatu.
2 Belajar langsung face to face dengan seorang syaikh atau ulama.
2
Syaikh Utsman Abdul Fattah. Pada ulama besar ini aku belajar qiraah sab’ah3
dan
ushul tafsir4. Beliau adalah murid Syaikh Mahmoud Khushari, ulama legendaris yang
mendapat julukan Syaikhul Maqari’ Wal Huffadh Fi Mashr atau Guru Besarnya Para
Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an di Mesir.
Jadwalku mengaji pada Syaikh yang terkenal sangat disiplin itu seminggu dua
kali. Setiap Ahad dan Rabu. Beliau selalu datang tepat waktu. Tak kenal kata absen.
Tak kenal cuaca dan musim. Selama tidak sakit dan tidak ada uzur yang teramat
penting, beliau pasti datang. Sangat tidak enak jika aku absen hanya karena alasan
panasnya suhu udara. Sebab beliau tidak sembarang menerima murid untuk talaqqi
qiraah sab’ah. Siapa saja yang ingin belajar qiraah sab’ah terlebih dahulu akan beliau
uji hafalan Al-Qur’an tiga puluh juz dengan qiraah bebas. Boleh Imam Warasy. Boleh
Imam Hafsh. Atau lainnya. Tahun ini beliau hanya menerima sepuluh orang murid.
Aku termasuk sepuluh orang yang beruntung itu. Lebih beruntung lagi, beliau sangat
mengenalku. Itu karena, di samping sejak tahun pertama kuliah aku sudah
menyetorkan hafalan Al-Qur’an pada beliau di serambi masjid Al Azhar, juga karena di
antara sepuluh orang yang terpilih itu ternyata hanya diriku seorang yang bukan orang
Mesir. Aku satusatunya orang asing, sekaligus satu-satunya yang dari Indonesia. Tak
heran jika beliau meng-anakemas-kan diriku. Dan teman-teman dari Mesir tidak ada
yang merasa iri dalam masalah ini. Mereka semua simpati padaku. Itulah sebabnya,
jika aku absen pasti akan langsung ditelpon oleh Syaikh Utsman dan teman-teman.
Mereka akan bertanya kenapa tidak datang? Apa sakit? Apa ada halangan dan lain
sebagainya. Maka aku harus tetap berusaha datang selama masih mampu
menempuh perjalanan sampai ke Shubra, meskipun panas membara dan badai debu
bergulung-gulung di luar sana. Meskipun jarak yang ditempuh sekitar lima puluh kilo
meter lebih jauhnya.
Kuambil mushaf tercinta.
Kucium penuh takzim. Lalu kumasukkan ke dalam saku depan tas cangklong
hijau tua. Meskipun butut, ini adalah tas bersejarah yang setia menemani diriku
menuntut ilmu sejak di Madrasah Aliyah sampai saat ini, saat menempuh S.2. di
universitas tertua di dunia, di delta Nil ini. Aku mengambil satu botol kecil berisi air
putih di kulkas. Kumasukkan dalam plastik hitam lalu kumasukkan dalam tas. Aku
selalu membiasakan diri membawa air putih jika bepergian, selain sangat berguna
3 Membaca Al-Qur’an dengan riwayat tujuh Imam
4 Ilmu tafsir paling pokok.
3
juga merupakan salah satu bentuk penghematan yang sangat terasa. Apalagi selama
menempuh perjalanan jauh dari Hadayek Helwan sampai Shubra El-Khaima dengan
metro5, tidak akan ada yang menjual minuman.
Aku sedikit ragu mau membuka pintu. Hatiku ketar-ketir. Angin sahara
terdengar mendesau-desau. Keras dan kacau. Tak bisa dibayangkan betapa
kacaunya di luar sana. Panas disertai gulungan debu yang berterbangan. Suasana
yang jauh dari nyaman. Namun niat harus dibulatkan. Bismillah tawakkaltu ‘ala Allah6,
pelan-pelan kubuka pintu apartemen. Dan...
Wuss!
Angin sahara menampar mukaku dengan kasar. Debu bergumpal-gumpal
bercampur pasir menari-nari di mana-mana. Kututup kembali pintu apartemen.
Rasanya aku melupakan sesuatu.
“Mas Fahri, udaranya terlalu panas. Cuacanya buruk. Apa tidak sebaiknya
istirahat saja di rumah?” saran Saiful yang baru keluar dari kamar mandi. Darah yang
merembes dari hidungnya telah ia bersihkan.
Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Aku sangat tidak enak pada Syaikh
Utsman jika tidak datang. Beliau saja yang sudah berumur tujuh puluh lima tahun
selalu datang. Tepat waktu lagi. Tak kenal cuaca panas atau dingin. Padahal rumah
beliau dari masjid tak kurang dari dua kilo,” tukasku sambil bergegas masuk kamar
kembali, mengambil topi dan kaca mata hitam.
Allah yubarik fik7, Mas,” ujarnya serak. Tangan kanannya mengusapkan sapu
tangan pada hidungnya. Mungkin darahnya merembes lagi.
Wa iyyakum!8” balasku sambil memakai kaca mata hitam dan memakai topi
menutupi kopiah putih yang telah menempel di kepalaku.
“Sudah bawa air putih, Mas?”
Aku mengangguk.
“Saif, Rudi minta dibangunkan pukul setengah dua. Tadi malam dia lembur
bikin makalah. Kelihatannya dia baru tidur jam setengah sepuluh tadi. Terus tolong
nanti bilang sama dia untuk beli gula, dan minyak goreng. Hari ini dia yang piket
5 Kereta listrik, disebut juga trem
6 Dengan menyebut nama Allah, aku berserah diri kepada Allah
7 Semoga Allah melimpahkan berkah padamu.
8 Dan semoga melimpahkan (berkah-Nya) pada kalian semua.
4
belanja. Oh ya, hampir lupa, nanti sore yang piket masak Hamdi. Dia paling suka
masak oseng-oseng wortel campur kofta9. Kebetulan wortel dan koftanya habis.
Bilang sama Rudi sekalian.”
Sebagai yang dipercaya untuk jadi kepala keluarga—meskipun tanpa seorang
ibu rumah tangga—aku harus jeli memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan
anggota. Dalam flat ini kami hidup berlima; aku, Saiful, Rudi, Hamdi dan Mishbah.
Kebetulan aku yang paling tua, dan paling lama di Mesir. Secara akademis aku juga
yang paling tinggi. Aku tinggal menunggu pengumuman untuk menulis tesis master di
Al Azhar. Yang lain masih program
S.1. Saiful dan Rudi baru tingkat tiga, mau masuk tingkat empat. Sedangkan Misbah
dan Hamdi sedang menunggu pengumuman kelulusan untuk memperoleh gelar Lc.
atau Licence. Mereka semua telah menempuh ujian akhir tahun pada akhir Mei
sampai awal Juni yang lalu. Awal-awal Agustus biasanya pengumuman keluar.
Namun sampai hari ini, pengumuman belum juga keluar.
Dan hari ini, kebetulan yang ada di flat hanya tiga orang, yaitu aku, Saiful dan
Rudi. Adapun Hamdi sudah dua hari ini punya kegiatan di Dokki, tepatnya di Masjid
Indonesia Cairo. Ia diminta untuk memberikan pelatihan kepemimpinan pada remaja
masjid yang semuanya adalah putera-puteri para pejabat KBRI. Siang ini katanya
selesai, dan nanti sore dia pulang. Sedangkan Mishbah sedang berada di Rab’ah
El-Adawea, Nasr City. Katanya ia harus menginap di Wisma Nusantara, di tempatnya
Mas Khalid, untuk merancang draft pelatihan ekonomi Islam bersama Profesor
Maulana Husein Shahata, pertengahan September depan. Masing-masing penghuni
flat ini punya kesibukan. Aku sendiri yang sudah tidak aktif di organisasi manapun,
juga mempunyai jadwal dan kesibukan. Membaca bahan untuk tesis, talaqqi qiraah
sab’ah, menerjemah, dan diskusi intern dengan teman-teman mahasiswa Indonesia
yang sedang menempuh S.2. dan S.3. di Cairo.
Urusan-urusan kecil seperti belanja, memasak dan membuang sampah, jika
tidak diatur dengan bijak dan baik akan menjadi masalah. Dan akan mengganggu
keharmonisan. Kami berlima sudah seperti saudara kandung. Saling mencintai,
mengasihi dan mengerti. Semua punya hak dan kewajiban yang sama. Tidak ada
yang diistimewakan. Semboyan kami, baiti jannati. Rumahku adalah surgaku. Tempat
yang kami tinggali ini harus benar-benar menjadi tempat yang menyenangkan. Dan
9 Daging yang telah dicincang halus dengan mesin.
5
sebagai yang paling tua aku bertanggung jawab untuk membawa mereka pada
suasana yang mereka inginkan.
Aku melangkah ke pintu.
“Saif. Jangan lupa pesanku tadi!” kembali aku mengingatkan sebelum
membuka pintu.
Insya Allah, Mas.”
Di luar sana angin terdengar mendesau-desau. Benar kata Saiful, cuaca
sebetulnya kurang baik.
Ah, kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang lebih panas dari hari ini
dan lebih gawat dari hari ini. Hari ketika manusia digiring di padang Mahsyar dengan
matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala. Kalau tidak ingat, bahwa
keberadaanku di kota seribu menara ini adalah amanat. Dan amanat akan
dipertanggungjawabkan dengan pasti. Kalau tak ingat, bahwa masa muda yang
sedang aku jalani ini akan dipertanyakan kelak. Kalau tak ingat, bahwa tidak semua
orang diberi nikmat belajar di bumi para nabi ini. Kalau tidak ingat, bahwa aku belajar
di sini dengan menjual satu-satunya sawah warisan dari kakek. Kalau tidak ingat
bahwa aku dilepas dengan linangan air mata dan selaksa doa dari ibu, ayah dan
sanak saudara. Kalau tak ingat bahwa jadwal adalah janji yang harus ditepati. Kalau
tak ingat itu semua, shalat zhuhur di kamar saja lalu tidur nyantai menyalakan kipas
dan mendengarkan lantunan lagu El-Himl El-Arabi atau El-Hubb El-Haqiqi, atau
untaian shalawatnya Emad Rami dari Syiria itu, tentu rasanya nyaman sekali. Apalagi
jika diselingi minum ashir10
mangga yang sudah didinginkan satu minggu di dalam
kulkas atau makan buah semangka yang sudah dua hari didinginkan. Masya Allah,
alangkah segarnya.
Kubuka pintu apartemen perlahan.
Wuss!
Angin sahara kembali menerpa wajahku. Aku melangkah keluar lalu menuruni
tangga satu per satu. Flat kami ada di tingkat tiga. Gedung apartemen ini hanya enam
tingkat dan tidak punya lift. Sampai di halaman apartemen, jilatan panas matahari
seakan menembus topi hitam dan kopiah putih yang menempel di kepalaku.
Seandainya tidak memakai kaca mata hitam, sinarnya yang benderang akan terasa
10 Juice
6
perih menyilaukan mata.
Kulangkahkan kaki ke jalan.
“Psst..psst...Fahri! Fahri!”
Kuhentikan langkah. Telingaku menangkap ada suara memanggil-manggil
namaku dari atas. Suara yang sudah kukenal. Kupicingkan mataku mencari asal
suara. Di tingkat empat. Tepat di atas kamarku. Seorang gadis Mesir berwajah bersih
membuka jendela kamarnya sambil tersenyum. Matanya yang bening menatapku
penuh binar.
“Hei Fahri, panas-panas begini keluar, mau ke mana?”
“Shubra.”
Talaqqi Al-Qur’an ya?”
Aku mengangguk.
“Pulangnya kapan?”
“Jam lima, insya Allah.”
“Bisa nitip?”
“Nitip apa?”
“Belikan disket. Dua. Aku malas sekali keluar.”
“Baik, insya Allah.”
Aku membalikkan badan dan melangkah.
“Fahri, istanna suwayya!11
Fi eh kaman?12
Aku urung melangkah.
“Uangnya.”
“Sudah, nanti saja, gampang.”
Syukran Fahri.”13
Afwan.”
11 Tunggu sebentar.
12 Ada apa lagi?
13 Terima kasih.
7
Aku cepat-cepat melangkah ke jalan menuju masjid untuk shalat zhuhur.
Panasnya bukan main.
Gadis Mesir itu, namanya Maria. Ia juga senang dipanggil Maryam. Dua nama
yang menurutnya sama saja. Dia puteri sulung Tuan Boutros Rafael Girgis. Berasal
dari keluarga besar Girgis. Sebuah keluarga Kristen Koptik yang sangat taat. Bisa
dikatakan, keluarga Maria adalah tetangga kami paling akrab. Ya, paling akrab. Flat
atau rumah mereka berada tepat di atas flat kami. Indahnya, mereka sangat sopan
dan menghormati kami mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Al Azhar.
Maria gadis yang unik.
Ia seorang Kristen Koptik atau dalam bahasa asli Mesirnya qibthi, namun ia
suka pada Al-Qur’an. Ia bahkan hafal beberapa surat Al-Qur’an. Di antaranya surat
Maryam. Sebuah surat yang membuat dirinya merasa bangga. Aku mengetahui hal itu
pada suatu kesempatan berbincang dengannya di dalam metro. Kami tak sengaja
berjumpa. Ia pulang kuliah dari Cairo University, sedangkan aku juga pulang kuliah
dari Al Azhar University. Kami duduk satu bangku. Suatu kebetulan.
“Hei namamu Fahri, iya ‘kan?”
“Benar.”
“Kau pasti tahu namaku, iya ‘kan?”
“Iya. Aku tahu. Namamu Maria. Puteri Tuan Boutros Girgis.”
“Kau benar.”
“Apa bedanya Maria dengan Maryam?”
“Maria atau Maryam sama saja. Seperti David dengan Daud. Yang jelas
namaku tertulis dalam kitab sucimu. Kitab yang paling banyak dibaca umat manusia di
dunia sepanjang sejarah. Bahkan jadi nama sebuah surat. Surat kesembilan belas,
yaitu surat Maryam. Hebat bukan?”
“Hei, bagaimana kau mengatakan Al-Qur’an adalah kitab suci paling banyak
dibaca umat manusia sepanjang sejarah? Dari mana kamu tahu itu?” selidikku penuh
rasa kaget dan penasaran.
“Jangan kaget kalau aku berkata begitu. Ini namanya objektif. Memang
kenyataannya demikian. Charles Francis Potter mengatakan seperti itu. Bahkan jujur
kukatakan, ‘Al-Qur’an jauh lebih dimuliakan dan dihargai daripada kitab suci lainnya.
8
Ia lebih dihargai daripada Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Pendeta J. Shillidy
dalam bukunya The Lord Jesus in The Koran memberikan kesaksian seperti itu. Dan
pada kenyataannya tak ada buku atau kitab di dunia ini yang dibaca dan dihafal oleh
jutaan manusia setiap detik melebihi Al-Qur’an. Di Mesir saja ada sekitar sepuluh ribu
Ma’had Al Azhar. Siswanya ratusan ribu bahkan jutaan anak. Mereka semua sedang
menghafalkan Al-Qur’an. Karena mereka tak akan lulus dari Ma’had Al Azhar kecuali
harus hafal Al-Qur’an. Aku saja, yang seorang Koptik suka kok menghafal Al-Qur’an.
Bahasanya indah dan enak dilantunkan,” cerocosnya santai tanpa ada keraguan.
“Kau juga suka menghafal Al-Qur’an? Apa aku tidak salah dengar?” heranku.
“Ada yang aneh?”
Aku diam tidak menjawab.
“Aku hafal surat Maryam dan surat Al-Maidah di luar kepala.”
“Benarkah?”
“Kau tidak percaya? Coba kau simak baik-baik!”
Maria lalu melantunkan surat Maryam yang ia hafal. Anehnya ia terlebih dahulu
membaca ta’awudz14 dan basmalah. Ia tahu adab dan tata cara membaca Al-Qur’an.
Jadilah perjalanan dari Mahattah 15 Anwar Sadat Tahrir sampai Tura El-Esmen
kuhabiskan untuk menyimak seorang Maria membaca surat Maryam dari awal sampai
akhir. Nyaris tak ada satu huruf pun yang ia lupa. Bacaannya cukup baik meskipun
tidak sebaik mahasiswi Al Azhar. Dari Tura El-Esmen hingga Hadayek Helwan Maria
mengajak berbincang ke mana-mana. Aku tak menghiraukan tatapan orang-orang
Mesir yang heran aku akrab dengan Maria.
Itulah Maria, gadis paling aneh yang pernah kukenal. Meskipun aku sudah
cukup banyak tahu tentang dirinya, baik melalui ceritanya sendiri saat tak sengaja
bertemu di metro, atau melalui cerita ayahnya yang ramah. Tapi aku masih
menganggapnya aneh. Bahkan misterius. Ia gadis yang sangat cerdas. Nilai ujian
akhir Sekolah Lanjutan Atasnya adalah terbaik kedua tingkat nasional Mesir. Ia masuk
Fakultas Komunikasi, Universitas Cairo. Dan tiap tingkat selalu meraih predikat
mumtaz atau cumlaude. Ia selalu terbaik di fakultasnya. Ia pernah ditawari jadi
reporter Ahram, koran terkemuka di Mesir. Tapi ia tolak. Ia lebih memilih jadi penulis
bebas. Ia memang gadis Koptik yang aneh. Menurut pengakuannya sendiri, ia paling
14 Yaitu membaca A’udzubillahi minasy syaithaanir rajiim.
15 Stasiun, terminal.
9
suka dengar suara azan, tapi pergi ke gereja tidak pernah ia tinggalkan. Sekali lagi, ia
memang gadis Koptik yang aneh. Aku tidak tahu jalan pikirannya.
Selama ini, aku hanya mendengar dari bibirnya yang tipis itu hal-hal yang
positif tentang Islam. Dalam hal etika berbicara dan bergaul ia terkadang lebih Islami
daripada gadis-gadis Mesir yang mengaku muslimah. Jarang sekali kudengar ia
tertawa cekikikan. Ia lebih suka tersenyum saja. Pakaiannya longgar, sopan dan
rapat. Selalu berlengan panjang dengan bawahan panjang sampai tumit. Hanya saja,
ia tidak memakai jilbab. Tapi itu jauh lebih sopan ketimbang gadisgadis Mesir
seusianya yang berpakaian ketat dan bercelana ketat, dan tidak jarang bagian
perutnya sedikit terbuka. Padahal mereka banyak yang mengaku muslimah. Maria
suka pada Al-Qur’an. Ia sangat mengaguminya, meskipun ia tidak pernah mengaku
muslimah. Penghormatannya pada Al-Qur’an bahkan melebihi beberapa intelektual
muslim.
Ia pernah cerita, suatu kali ia ikut diskusi tentang aspek kebahasaan AlQur’an
di Fakultas Sastra Universitas Cairo. Pemakalahnya adalah seorang doktor filsafat
jebolan Sorbonne Perancis. Maria merasa risih sekali dengan kepongahan doktor itu
yang mengatakan Al-Qur’an tidak sakral karena dilihat dari aspek kebahasaan ada
ketidakberesan. Doktor itu mencontohkan dalam Al-Qur’an ada rangkaian huruf yang
tidak diketahui maknanya. Yaitu, alif laam miim, alif laam ra, haa miim, yaa siin,
thaaha nuun, kaf ha ya ‘ain shaad, dan sejenisnya.
Maria berkata padaku,
“Fahri, aku geli sekali mendengar perkataan doktor dari Sorbonne itu. Dia itu
orang Arab, juga muslim, tapi bagaimana bisa mengatakan hal yang stupid begitu.
Aku saja yang Koptik bisa merasakan betapa indahnya Al-Qur’an dengan alif laam
miim-nya. Kurasa rangkaian huruf-huruf seperti alif laam miim, alif laam ra, haa miim,
yaa siin, nuun, kaf ha ya ‘ain shaad adalah rumus-rumus Tuhan yang dahsyat
maknanya. Susah diungkapkan maknanya, tapi keagungannya bisa ditangkap oleh
mereka yang memiliki cita rasa bahasa Arab yang tinggi. Jika susunan itu dianggap
sebagai suatu ketidakberesan, orang-orang kafir Quraisy yang sangat tidak suka
pada Al-Qur’an dan memusuhinya sejak dahulu tentu akan mengambil kesempatan
adanya ketidakberesan itu untuk menghancurkan Al-Qur’an. Dan tentu mereka sudah
mencela bahasa Al-Qur’an habis-habisan sepanjang sejarah. Namun kenyataannya,
justru sebaliknya. Mereka mengakui keindahan bahasanya yang luar biasa. Mereka
menganggap bahasa AlQur’an bukan bahasa manusia biasa tapi bahasa yang datang
10
dari langit. Jadi kukira doktor itu benar-benar stupid. Tidak semestinya seorang doktor
sekelas dia mengatakan hal seperti itu.”
Aku lalu menjelaskan kepada Maria segala hal berkaitan dengan alim laam
miim dalam Al-Qur’an. Lengkap dengan segala rahasia yang digali oleh para ulama
dan ahli tafsir. Maknanya, hikmahnya, dan pengaruhnya dalam jiwa. Juga
kuterangkan bahwa pendapat Maria yang mengatakan huruf-huruf itu tak lain adalah
rumus-rumus Tuhan yang maha dahsyat maknanya, dan hanya Tuhan yang tahu
persis maknanya, ternyata merupakan pendapat yang dicenderungi mayoritas ulama
tafsir. Maria girang sekali mendengarnya.
“Wah pendapat yang terlintas begitu saja dalam benak kok bisa sama dengan
pendapat mayoritas ulama tafsir ya?” komentarnya sambil tersenyum bangga.
Aku ikut tersenyum.
Di dunia ini memang banyak sekali rahasia Tuhan yang tidak bisa dimengerti
oleh manusia lemah seperti diriku. Termasuk kenapa ada gadis seperti Maria. Dan
aku pun tidak merasa perlu untuk bertanya padanya kenapa tidak mengikuti ajaran
Al-Qur’an. Pertanyaan itu kurasa sangat tidak tepat ditujukan pada gadis cerdas
seperti Maria. Dia pasti punya alasan atas pilihannya. Inilah yang membuatku
menganggap Maria adalah gadis aneh dan misterius. Di dunia ini banyak sekali
hal-hal misterius. Masalah hidayah dan iman adalah masalah misterius. Sebab hanya
Allah saja yang berhak menentukan siapa-siapa yang patut diberi hidayah. Abu Thalib
adalah paman nabi yang mati-matian membela dakwah nabi. Cinta nabi pada beliau
sama dengan cinta nabi pada ayah kandungnya sendiri. Tapi masalah hidayah hanya
Allah yang berhak menentukan. Nabi tidak bisa berbuat apa-apa atas nasib sang
paman yang amat dicintainya itu. Juga hidayah untuk Maria. Hanya Allah yang berhak
memberikannya.
Mungkin, sejak azan berkumandang Maria telah membuka daun jendela
kayunya. Dari balik kaca ia melihat ke bawah, menunggu aku keluar. Begitu aku
tampak keluar menuju halaman apartemen, ia membuka jendela kacanya, dan
memanggil dengan suara setengah berbisik. Ia tahu persis bahwa aku dua kali tiap
dalam satu minggu keluar untuk talaqqi Al-Qur’an. Tiap hari Ahad dan Rabu.
Berangkat setelah azan zhuhur berkumandang dan pulang habis Ashar. Dan ini hari
Rabu. Seringkali ia titip sesuatu padaku. Biasanya tidak terlalu merepotkan. Seperti
titip membelikan disket, memfotocopykan sesuatu, membelikan tinta print, dan
11
sejenisnya yang mudah kutunaikan. Banyak toko alat tulis, tempat foto copy dan toko
perlengkapan komputer di Hadayek Helwan. Jika tidak ada di sana, biasanya di
Shubra El-Khaima ada.
Suhu udara benar-benar panas. Wajar saja Maria malas keluar. Toko alat tulis
yang juga menjual disket hanya berjarak lima puluh meter dari apartemen. Namun ia
lebih memilih titip dan menunggu sampai aku pulang nanti. Ini memang puncak musim
panas. Laporan cuaca meramalkan akan berlangsung sampai minggu depan,
rata-rata 39 sampai 41 derajat celcius. Ini baru di Cairo. Di Mesir bagian selatan dan
Sudan entah berapa suhunya. Tentu lebih menggila. Ubun-ubunku terasa mendidih.
Panggilan iqamat16
terdengar bersahut-sahutan. Panggilan mulia itu sangat
menentramkan hati. Pintu-pintu meraih kebahagiaan dan kesejahteraan masih
terbuka lebar-lebar. Kupercepat langkah. Tiga puluh meter di depan adalah Masjid
Al-Fath Al-Islami. Masjid kesayangan. Masjid penuh kenangan tak terlupakan. Masjid
tempat aku mencurahkan suka dan deritaku selama belajar di sini. Tempat aku
menitipkan rahasia kerinduanku yang memuncak, tujuh tahun sudah aku berpisah
dengan ayah ibu. Tempat aku mengadu pada Yang Maha Pemberi rizki saat berada
dalam keadaan kritis kehabisan uang. Saat hutang pada teman-teman menumpuk
dan belum terbayarkan. Saat uang honor terjemahan terlambat datang.
Tempat aku menata hati, merancang strategi, mempertebal azam dan keteguhan
jiwa dalam perjuangan panjang.
Begitu masuk masjid...
Wusss!
Hembusan udara sejuk yang dipancarkan lima AC dalam masjid menyambut
ramah. Alhamdulillah. Nikmat rasanya jika sudah berada di dalam masjid. Puluhan
orang sudah berjajar rapi dalam shaf shalat jamaah. Kuletakkan topi dan tas
cangklongku di bawah tiang dekat aku berdiri di barisan shaf kedua. Kedamaian
menjalari seluruh syaraf dan gelegak jiwa begitu kuangkat takbir. Udara sejuk yang
berhembus terasa mengelus-elus leher dan mukaku. Juga mengusap keringat yang
tadi mengalir deras. Aku merasa tenteram dalam elusan kasih sayang Tuhan Yang
Mahapenyayang. Dia terasa begitu dekat, lebih dekat dari urat leher, lebih dekat dari
jantung yang berdetak.
16 Tanda bahwa shalat berjamaah segera didirikan.
12


No comments:

Post a Comment